cover
Contact Name
Auliya Ridwan
Contact Email
aridwan@uinsby.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jpai@uinsby.ac.id
Editorial Address
Program Studi S1 Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Ampel Surabaya Jl. A. Yani 117 Surabaya Jatim 60237
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies)
ISSN : -     EISSN : 25274511     DOI : https://doi.org/10.15642/jpai.xxxx.xx.x.xx-xx
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) (print-ISSN: 2089-1946 & Electronic-ISSN: 2527-4511) is a peer-reviewed journal published by Islamic Education Teacher Training Program of UIN Sunan Ampel Surabaya. The journal issues academic manuscripts on Islamic Education Teaching and Islamic Education Studies in either Indonesian or international contexts with multidisciplinary perspective: particularly within scholarly tradition of classical Islam, Educational Studies, and other social sciences. The manuscripts are published in Bahasa Indonesia, English, and Arabic with abstract in both Bahasa Indonesia and in English. This is an open-access journal so that all parties are allowed to read, to download, to copy, to distribute, to print, or to link some or all parts of articles without any charge and without prior permission from either authors or journal editorial team. All articles in this journal have Document Object Identifier (DOI) number.
Articles 144 Documents
HUMANISME DALAM PENDIDIKAN ISLAM: KONSEPSI PENDIDIKAN RAMAH ANAK Abd. Azis
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 5 No. 1 (2017)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1205.773 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2017.5.1.94-115

Abstract

Bahasa Indonesia:Tulisan ini mendeskripsikan humanisme dalam pendidikan Islam melalui model pembelajaran ramah anak. Melalui kajian literatur diperoleh hasil bahwa konsep pembelajaran ramah anak menjadi penting seiring masih maraknya kekerasan terhadap anak baik di dalam ataupun di luar institusi pendidikan. Dalam model pendidikan ini, pendidikan Islam menjadi katalis untuk mewujudkan humanisasi dalam pendidikan. Konsep ramah anak berupaya menciptakan pembelajaran yang menyenangkan dan membuat siswa merasa betah dan nyaman di sekolah. Hal tersebut dapat dilihat dari sikap guru yang ramah terhadap siswa, proses pembelajaran efektif, pengelolaan kelas efektif dan lingkungan belajar kondusif, serta motivasi belajar siswa. Dalam hal internalisasi nilai-nilai keislaman, guru menanamkan sikap sabar dan mampu menjadi teladan bagi siswa, menggunakan metode yang bervariatif, menerapkan pengelolaan kelas yang menyenangkan dan didukung lingkungan belajar yang kondusif. English:This paper describes humanism in Islamic education through child-friendly education model. Literary study results in the importance of such education model along with the increase of violence towards children either in educational institutions or in outside the area. In the child-friendly education, Islamic education is a catalyst to achieve humanism in education.  The education model focuses on creating fun interaction and makes students feeling at home and safe at school. This can be seen from friendly teachers’ attitudes, effective learning processes, effective classroom management, conducive learning environment, and students’ motivation. In terms of Islamic values internalization, teacher cultivates patient attitudes and becomes model for students, implementing variety of learing methods, implementing positive classroom management within conducive learning environment.
KURIKULUM PESANTREN DALAM PERSPEKTIF GUS DUR; SUATU KAJIAN EPISTEMOLOGIS Abdullah Abdullah
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 4 No. 2 (2016)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (916.724 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2016.4.2.227-248

Abstract

Bahasa Indonesia:Penelitian ini bertujuan untuk mendekripsikan tentang sepak terjang pemikiran KH. Abdurrahan Wahid (Gus Dur) tentang pesantren terkhusus kajian epistimologis tentang kurikulum pesantren. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan pendekatan dan jenis penelitian kajian literatur, melalui literatur-literatur yang menjelaskan sejarah dan pemikiran Gus Dur. Hasil dari penelitian ini adalah, secara geneaolgi, struktur keilmuan pesantren yang sekarang ini merupakan hasil dialektika antara dua kelompok besar dalam arus intelektualitas Islam di masa awal,  yaitu hasil kombinasi sikap humanisme dan hasil serapan dari nalar berfikir filosofi Yunani yang sudah mengakar di Timur Tengah sejak agresi Sultan Iskandaria. Menurut Gus Dur, pesantren adalah lembaga yang berani mengambil lompatan pemikiran ala filosofi Yunani, namun di sisi yang lain mereka tetap mengedepankan al-Qur’an dan Hadith. Berdasarkan kajian epistemologisnya, kitab kuning difungsikan oleh kalangan pesantren sebagai referensi nilai universal dalam menyikapi segala tantangan kehidupan. Kitab kuning dipahami sebagai mata rantai keilmuan Islam yang dapat bersambung hingga pemahaman keilmuan Islam masa tabi’in dan sahabat hingga sampai pada Nabi Muhammad. Dalam pandangan Gus Dur, pesantren harus menjadikan ilmu agama sebagai dasar, tanpa meninggalkan pengetahuan yang lain agar santri lebih dapat mengembangkan potensi dirinya English:This research is proposed to describe the thought of KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) regarding Pesantren, especially the epistemological discourse on its curriculum. In this research, the author uses library research dealing with literature on history and thought of Gus Dur. The result of the study shows that contemporary Pesantren’s structure of knowledge is a dialectical result of two mainstreams in the early Islamic periods, involving humanism and adoption of helenestical tradition in the Middle East after the aggression of Alexandrian Sultanate. According to Gus Dur, pesantren is an institution taking a giant leap in thought a la Helenistic periods without putting aside the Qur’an and Hadits. Epistemologically, the yellow scripture takes a role as universal values in human life for pesantren disciples. The scripture is understood as a chain of Islamic knowledge from the Prophet and the companions. Gus Dur strongly agree with putting religion as the foundation of Pesantren, but secular knowledge must be taken as well in order to develop the pesantren disciples’ self potential.
PENDIDIKAN ISLAM DAN KESETARAAN GENDER (Konsepsi Sosial tentang Keadilan Berpendidikan dalam Keluarga) Evi Fatimatur Rusydiyah
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 4 No. 1 (2016)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.659 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2016.4.1.20-43

Abstract

Bahasa Indonesia:Dalam pendidikan gender, orang tua memiliki peran yang sangat penting dalam mendidik dan mengarahkan anak. Apabila dalam satu keluarga atau masyarakat terjadi bias gender, maka akan berpengaruh pada pola pikir anak di masa yang akan datang. Penelitian ini bermaksud mendeskripsikan tentang pendidikan Islam dan gender, yang selama ini masih dianggap tabu oleh beberapa kalangan. Di sisi lain, kewajiban mendidik anak bagi orang tua adalah suatu hal yang wajib untuk dilaksanakan karena mereka menganggap bahwa anak adalah tanggung jawab yang diamanahkan oleh Allah untuk diberi pendidikan dan pengajaran. Dalam Islam, pendidikan yang utama adalah lingkungan keluarga. Orang tua berkewajiban memberikan arahan, bimbingan dan teladan bagi anak. Mereka adalah sosok yang akan selalu ditiru dan dijadikan rujukan bagi anak dalam menghadapi lingkungan sosial. Keadilan orang tua terhadap anak dalam memberikan pendidikan, menjadi fondasi dasar penerapan kesetaraan gender. Demikian pula dalam bidang pendidikan, setiap anak berhak untuk mendapatkan pendidikan yang sama dalam sebuah keluarga dan lingkungan masyarakat. Maka keadilan dalam memberikan pendidikan kepada anak adalah suatu keharusan.English:In gender education, parents have significant roles in educating and directing their children. Gender bias in a family would influence children’s way of thinking in the future. This research paper is aimed to describe the relationship between Islam and gender, in which the gender study itself still doesn’t have enough place in public discussion. On the other hand, child’s education is religiously mandated by Allah. Islam puts family education as the primary education for children. Parents are obligated to direct, to guide, and to be a role model for their children. Hence, parents are going to be children’s reference in dealing with social issues. The parents’ fairness in educating children is the foundation of gender education. In addition, from educational perspective, each child deserves the same quality of education either in family or in society. Therefore, the fairness in giving education for children is a must.
Implementasi Metode STIFIn dalam Meningkatkan Kemampuan Menghafal Al-Qur’an di Rumah Qur’an STIFIn Paiton Probolinggo Akmal Mundiri; Irma Zahra
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 5 No. 2 (2017)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1216.28 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2017.5.2.201-223

Abstract

Bahasa Indonesia:Al-Qur’an sebagai salah satu pedoman yang mewartakan prinsip dan doktrin ajaran Islam mempunyai apa yang disebut dengan kepastian teks (qat’i al-wurud). Dalam proses menjaga kepastian teks tersebut, terdapat peran serta manusia yang salah satu caranya dengan menghafalkan al-Qur’an.  Namun, menghafal al-Qur’an tidak semudah yang dibayangkan sebagaimana menghafal suatu lagu atau syair. Problem yang dihadapi oleh seseorang yang sedang menghafal al-Qur’an memang banyak dan bermacam-macam. Mulai dari faktor minat, bakat, lingkungan, waktu, sampai pada metode menghafal itu sendiri. Metode STIFIn sebagai salah satu metode menghafal al-Qur’an dalam implementasinya menawarkan solusi menghafal cepat yang dilakukan mulai sebelum proses menghafal. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam implementasinya, dengan cara memetakan penghafal berbasis pada teori hereditas, sehingga berimplikasi pada rekayasa pembelajaran yang berbeda antar masing-masing potensi. Demikian pula dengan tes kemampuan hafalan guna mengetahui kekuatan dan kemampuan masing-masing dalam menghafal al-Qur’an. Hal tersebut kemudian diikuti dengan klasifikasi penghafal al-Qur’an berdasarkan teori sirkulasi STIFIn ketika melaksanakan kegiatan setoran kepada pembina, sehingga dalam pelaksanaan metode STIFIn sangat membantu santri untuk bisa menghafal al-Qur’an dengan lebih mudah dan nyaman, karena menyesuaikan metode dengan potensi genetik masing-masing. English:Al-Qur'an as one of the guidelines that proclaim the principles and doctrines of Islamic teachings has what is called the certainty of the text (qat'i al-wurud). In the process of maintaining the certainty of the text, there is the human role that as memorizer of the holy Qur’an. However, memorizing the Qur'an is not easy as imagined as memorizing a song or poem. The problem faced by someone who is memorizing the Qur'an is many and varied. Starting from the interest factor, talent, environment, time, until the method of memorizing itself. The STIFIn method as one of the methods of memorizing the Qur'an in its implementation offers a solution to memorize quickly that began before the memorization process. The results of this study indicate that in its implementation, by mapping the memorizers based on the theory of heredity, so that it implies different learning engineering between each potential. Similarly, the tests of the ability of memorizing to know the strength and ability each person in memorizing the Holy Qur'an. It is then followed by the classification of the who memorized the Qur'an based on the STIFIn circulation theory when carrying out the deposit activities to each coach, so in the implementation of STIFIn method is very helpful for santri to be able to memorize the Qur'an more easily and comfortably, because have adjusted the method with their respective genetic potential.
REDESAIN PARADIGMA PENDIDIKAN ISLAM TOLERAN DAN PLURALIS DI PONDOK PESANTREN (Studi Konstruktivisme Sikap Kiai dan Sistem Nilai di Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo) S. Mahmudah Noorhayati
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 5 No. 1 (2017)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (974.422 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2017.5.1.1-20

Abstract

 Bahasa Indonesia:Sebagaimana telah jamak diketahui bahwa salah satu bagian dari pesantren adalah nilai-nilai atau sikap pendirian dari seorang kiai yang sangat dominan dalam membentuk identitas santrinya. Nilai-nilai tersebut tidaklah cukup disampaikan secara jalur penyampaian pengajaran lisan, tetapi juga harus diaktualisasikan, didesain ulang, dan diimplementasikan dalam ruang proses yang lebih luas. Artikel ini membahas tentang pencapaian dibalik penanaman nilai, pemodelan dan indoktrinasi dalam pesantren, utamanya dalam hal pendirian kiai dalam sikap toleransi dan keberagaman budaya. Pondok Pesantren Nurul Jadid menjadi subjek dalam penelitian ini. Dengan menggunakan pendekatan fenomenologi di lapangan, data yang didapatkan dianalisa dalam bingkai kerja teori konstruktivisme Peter L. Berger. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Pondok Pesantren Nurul Jadid membangun nilai-nilai toleransi dan penghargaan keberagaman budaya melalui pandangan sufisme dan disampaikan melalui pemodelan pandangan kiai dalam aktifitas sehari-hari dan kejadian-kejadian yang tidak direncanakan.English:It is the fact that one of ubiquitous element of pesantren is kiai’s dominant values or stance in developing santri’s identity. Those values is not enough merely delivered in oral transmission, but those have to be actualized, redesigned, and reimplemented in wider social contexts. This article deals with the achievement beyond the cultivation of values, modelling, and indoctrination inside pesantren, specifically in terms of kiai’s stances towards tolerance and multiculturalism. Pondok Pesantren Nurul Jadid becomes the subject of this research. Approached by phenomenological field work, collected data is analized within Peter L. Berger constructivism framework. This study shows that Pondok Pesantren Nurul Jadid constructs values of tolerance and multiculturalism through sufism views which is delivered through modelling by kiai in daily routines and accidental cases.
ATTACHMENT PLACE: STUDI FENOMENOLOGI SPECIAL PLACE ANAK USIA DINI DI PAUD ISLAM DAN TK ISLAM DI KABUPATEN MALANG Akhmad Mukhlis
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 4 No. 1 (2016)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1100.653 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2016.4.1.134-156

Abstract

Bahasa Indonesia:Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelekatan tempat (attachment place) pada anak usia dini. Berbeda dengan penelitian-penelitian sebelumnya, penelitian ini memfokuskan kajiannya pada tempat-tempat yang dianggap spesial (special place) oleh anak di lingkungan rumah mereka. Metodologi fenomenologi dipilih untuk mengeksplorasi tujuan penelitian dalam dua tahap. Tahap pertama dilkaukan di sekolah dengan mendiskusikan buku dengan 13 peserta didik. Tiga anak yang paling aktif dan mampu berkomunikasi dengan baik diminta untuk menjadi partisipan pada tahap kedua yaitu kunjungan rumah. Dua tahapan penggalian data menemukan bahwa anak-anak memiliki banyak tempat yang dianggap spesial. Keberadaan tempat-tempat tersebut biasa digunakan untuk bersembunyi, meredakan emosi, bermain dan mengembangkan rasa otonomi diri. English:-
Membangun Etika dan Kepribadian di Lembaga Pendidikan Islam: Sebuah Perspektif Psikologi Qur’ani Ah. Zakki Fuad; Jauharoti Alfin; Ahmad Munjin Nasih
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 5 No. 2 (2017)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1084.066 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2017.5.2.309-338

Abstract

Bahasa Indonesia:Lembaga pendidikan Islam mempunyai tanggung jawab yang besar dalam membangun etika dan kepribadian peserta didiknya. Tantangan pendidikan Islam sekarang ini adalah munculnya  pergeseran tata nilai etika dan kepribadian di masyarakat karena pengaruh globalisasi, kemajuan teknologi, problematika sosial serta disparitas kemampuan ekonomi yang berbeda yang secara tidak langsung memunculkan konflik sosial, disharmonisasi hubungan orang tua dengan anak, guru dengan murid dan lain sebagainya. Al-Qur’an sebagai sumber penggalian keilmuan telah menawarkan konsep pembangunan etika dan kepribadian (ethics and personality development) bagi manusia, khususnya peserta didik di lembaga pendidikan  melalui psikologi qur’ani. Konseptualisasi dan teorisasi psikologi qur’ani dalam tulisan ini menggunakan content analisis dengan langkah-langkah; Unitizing, Sampling, Recording, Reducing, Inferring, Anayzing and Narrating. Langkah-langkah metodologis ini akan menghasilkan konsep psikologi yang bersumber dari al-Qur’an dan dikombinasikan dengan beberapa teori psikologi; Connectionism theory, Classical Conditioning, Operant Coditioning, Contiguous Conditioning, Cogitive theory, Social Learning Theory.  Hasilnya membangun rumusan bagaimana membangun etika dan kepribadian  Qur’ani bagi peserta didik di Lembaga Pendidikan Islam. English:Islamic educational institutions have a great responsibility in building learners’ ethics and personality. The challenge of Islamic education today is the emergence of a shift in ethical and personality values in society due to the influence of globalization, technological advancement, social problems, and economic disparities, which indirectly bring about social conflicts, parents-children slack relationships, as well as teachers-students weak engagement. Al-Qur'an as a source of scientific exploration has offered the concept of ethical and personality development (human ethics and personality development), especially for learners in educational institutions through Quranic psychology. The conceptualization and theorization of Quranic psychology in this paper makes use of content analysis with the following step: Unitizing, Sampling, Recording, Reducing, Inferring, Analyzing, and Narrating. These methodological steps results in the psychological concept rooted in the Qur’an to combine with some modern psycological theories, including Connectionism theory, Classical Conditioning, Operant Coditioning, Contiguous Conditioning, Cogitive theory, and Social Learning Theory. The results construct a mechanism of how to build Quranic ethics and personality for learners in Islamic educational  institutions.
METODE HYPNOSIS LEARNING DALAM MENGATASI KESULITAN BELAJAR SANTRI; STUDI KASUS DI TPA SABILILLAH KETINTANG SURABAYA Muhammad Imron
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 5 No. 1 (2017)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (940.81 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2017.5.1.116-137

Abstract

Bahasa Indonesia:Metode Hypnosis Learning merupakan sebuah pembelajaran yang dirancang dengan menciptakan situasi yang nyaman dan menyenangkan dalam lingkungan terkendali untuk dapat masuk ke pikiran bawah sadar. Metode tersebut mengatasi berbagai problem belajar yang dialami oleh anak didik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kesulitan belajar santri di TPA Sabilillah, berikut konsep dan implementasi metode Hypnosis Learning dalam mengatasi kesulitan belajar santri. Temuan penelitian ini menunjukkan, pertama, proses belajar santri di TPA Sabilillah tidak selalu berjalan seperti apa yang diharapkan. Ada beberapa kesulitan belajar yang dialami, yaitu kesulitan dalam bahasa, kesulitan belajar membaca (disleksia) dan kesulitan dalam menulis (disgrafia). Kedua, penerapan metode Hypnosis Learning menggunakan teknik afirmasi, sugesti dan visualisasi. Ketiga, penerapan Hypnosis Learning mengikuti tahapan-tahapan dan alokasi waktu berikut: persiapan (5 - 10%), presentasi (60%), praktik (30%) dan evaluasi. English:Hypnosis learning method is a learning activities with creating comfort and fun atmosphere in controlled environment in order to approach sub-conscious mind. The learning method solve various learning issues by students. This research is aimed to identify learning issues in Sabilillah Quranic School as well as concept and implementation of Hypnosis learning to solve the problem. Findings shows that, first of all, learnig process in the Quranic School was not as expected. Several issues found were language difficulties, reading difficulties, and writing difficulties. Second, the Hypnosis Learning was implemented through affirmation, suggestion, and visualization techniques. Third, in its implementation, the Hypnosis Learning follow steps and allocated time such as preparation (5-10%), presentation  (60%), practices (30%), and evaluation.
LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM SEBAGAI WAHANA IMPLEMENTASI PENDIDIKAN ANTI KORUPSI Much. Arif Saiful Anam
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 3 No. 2 (2015)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (998.179 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2015.3.2.368-392

Abstract

Bahasa Indonesia:Korupsi tidak lagi sebagai suatu fenomena tetapi sudah mengakar ke seluruh lapisan masyarakat. Oleh karenanya, pada saat ini diperlukan kesadaran dari semua pihak untuk ikut serta berupaya memberantas, menghapus, atau minimalisir agar perilaku korupsi tidak semakin meluas dan mengakarnya. Upaya pencegahan budaya korupsi di masyarakat terlebih dahulu dapat dilakukan dengan mencegah berkembangnya mental korupsi pada anak bangsa Indonesia melalui pendidikan. Semangat antikorupsi yang patut menjadi kajian adalah penanaman pola pikir, sikap, dan perilaku antikorupsi melalui sekolah, karena sekolah adalah proses pembudayaan. Sektor pendidikan formal di Indonesia dapat berperan dalam memenuhi kebutuhan pencegahan korupsi. Langkah preventif (pencegahan) tersebut secara tidak langsung bisa melalui dua pendekatan (approach), pertama: menjadikan peserta didik sebagai target, dan kedua: menggunakan pemberdayaan peserta didik untuk menekan lingkungan agar tidak permissive to corruption. Implementasi pendidikan anti korupsi di madrasah harus mampu menciptakan situasi dan kondisi yang kondusif guna tercapainya lingkungan yang bebas korupsi dan terbentuknya generasi yang anti korupsi. Dengan ini, tindak korupsi yang sudah membudaya tersebut dapat diminimalisirkan. Adapun strategi pendidikan anti korupsi di madrasah dapat dijalankan melalui pembiasaan perilaku yaitu melalui implementasi budaya anti korupsi di madrasah.English: It has widely spread among either central or local government officials. Hence, it is crucial to build the awareness of all parties to combat, eliminate, and fight any kinds of corruption The spirit of anti-corruption that should be studied are building a mindset, an attitude, and anti-corruption behavior through school where a civilizing prosess occurs. Thus, formal education sector in Indonesia can play a role in meeting the needs of the prevention of corruption. There are two indirect preventive approaches. Firstly, set the learners as a target, and secondly empower learners to influence the society against corruption. Implementation of anti-corruption education in Madrasah should be able to create a conducive situation to reach a free of corruption environment and build generations of anti corruption. It can break the corruption chain. The main strategy of anti-corruption education in Indonesia can be run through implenting anti-corruption action in Madrasah.
PERGESERAN ORIENTASI KELEMBAGAAN PESANTREN DI MADURA DALAM PERSPEKTIF KIAI BANGKALAN Zainal Alim
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 4 No. 2 (2016)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1170.201 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2016.4.2.249-270

Abstract

Bahasa Indonesia:Pada mulanya Kiai di Bangkalan Madura tidak terlalu menerima pendidikan formal. Namun kini realitas itu mengalami pergeseran pemikiran dan prilaku yang sangat berefek pada pembaruan pendidikan Islam di Bangkalan Madura. Tulisan ini memuat tentang keterbukaan para Kiai di Bangkalan pada pendidikan umum dengan semakin banyaknya pesantren yang mempunyai kategori salafiyah mempunyai pendidikan formal mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendekripsikan pergeseran orientasi kelembagaan dalam perspektif Kiai di pesantren Syaichona Kholil dan pesantren Al-Hidayah Bangkalan Madura. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode penelitian dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Sementara, sumber data primer diperoleh dari Kiai Pengasuh Pondok Pesantren Syaichona Kholil Bangkalan, pengasuh pesantren Al-Hidayah, Ketua Pondok dan sumber sekunder yang relevan. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa terjadi pergeseran orientasi kelembagaan di pesantren dengan banyaknya lembaga pendidikan formal seperti MTs, MA, bahkan Perguruan Tinggi di beberapa pesantren yang ada di Bangkalan. Pergeseran ini tidak lepas dari berubahnya pola pikir Kiai yang disebabkan oleh globalisasi, teknologi yang semakin canggih, dan sulitnya para alumni santri mendapatkan peluang pekerjaan di instansi-instansi umum. English:In the beginning, Kiai in Madura didn’t accept formal schooling. However, the reality today shows thought and attitude shifts which takes effect on the renewal of Islamic Education in Bangkalan, Madura. This paper examines the openness of Kiai in Bangkalan towards formal education as it is indicated by the emerging more Salafi Pesantren with formal education ranging from elementary schooling up to higher education. This research is aimed to describe institutional orientation in Syaichona Kholil Pesantren and Al-Hidayah Pesantren in Bangkalan, Madura. Within the framework of descriptive and qualitative research, the field work involves primary data from Kiais in the two institutions as well as secondary data from relevan resources. The finding shows that there are more and more Pesantren to adopt formal shooling in the Madrasah format and Islamic higher education due to the shift of thought in the Kiai leadership as a negotiation results of globalization, technological advancement, and the high competition for Pesantren alumni in workforce within non-religious institutions.

Page 7 of 15 | Total Record : 144