cover
Contact Name
Muhammad Ikhwan Rizki
Contact Email
ikhwanrizki@unlam.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jps@unlam.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Pharmascience
ISSN : 23555386     EISSN : 24609560     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Pharmascience memuat naskah hasil penelitian dan artikel review bidang kefarmasian. Naskah dapat berasal dari mahasiswa, dosen, peneliti, dan lembaga riset. Setiap naskah yang diterima redaksi Jurnal Pharmascience akan ditelaah oleh Mitra Bebestari dan Anggota Redaksi. Jurnal Pharmascience terbit 2 (dua) kali dalam setahun yaitu Februari dan Oktober. Redaksi menerima pemesanan Jurnal Pharmascience untuk berlangganan atau pembelian setiap terbitan.
Arjuna Subject : -
Articles 340 Documents
Formulasi Mikroemulsi Ekstrak Bawang Hutan dan Uji Aktivitas Antioksidan Evi Sulastri; Cristadeolia Oktaviani; Yusriadi Yusriadi
Jurnal Pharmascience Vol 2, No 2 (2015): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v2i2.5817

Abstract

ABSTRAKBawang hutan mengandung senyawa metabolit sekunder golongan naftokuinon (elecanacin, eleutherin, elutherol, eleutherinon) yang diketahui memiliki aktivitas antioksidan. Beberapa penelitian telah melaporkan tentang aktivitas antioksidan ekstrak yang diformulasi dalam bentuk sediaan tablet dan krim. Penelitian ini bertujuan mengembangkan formula dalam bentuk  mikroemulsi sebagai penghantaran yang efektif untuk mempertahankan aktivitas antioksidan ekstrak bawang hutan.  Mikroemulsi dibuat dengan menggunakan virgin coconut oil (VCO) sebagai fasa minyak, Tween 80 sebagai surfaktan dan gliserin sebagai kosurfaktan. Uji stabilitas fisik yang dilakukan terhadap sediaan meliputi uji organoleptik, pH, viskositas, sentrifugasi dan ukuran globul. Uji aktivitas antioksidan dilakukan secara in-vitro menggunakan metode peredaman DPPH dan menggunakan asam askorbat sebagai kontrol positif. Data hasil pengukuran dianalisis secara statistik menggunakan metode t-student. Hasil penelitian menunjukkan mikroemulsi dengan tampilan visual yang jernih dan ukuran globul < 5 μm. Meskipun sediaan mengalami perubahan pH dan viskositas tapi tidak terjadi pemisahan fase pada penyimpanan selama 28 hari. Hasil uji aktivitas antioksidan mikroemulsi ekstrak secara berturut-turut pada penyimpanan suhu 33°C dan 40°C: pada hari ke-1 menunjukkan nilai IC50 sebesar 101,167 μg/mL dan 89,956 μg/mL  sedangkan hari ke-35 sebesar 127,254 μg/mL dan 101,996 μg/mL. Berdasarkan hasil tersebut, aktivitas antioksidan ekstrak bawang hutan masuk dalam kategori kuat sampai sedang. Kata kunci  : Mikroemulsi, ekstrak bawang hutan (Eleutherine bulbosa (Mill.)Urb.), mutu fisik, antioksidan.  A B S T R A C TBawang hutan have contain secondary metabolite naftokuinon class (elecanacin, eleutherin, elutherol, eleutherinon) which known have antioxidant activities. Some of research reported antioxidant activity of extract which formulated in tablet and cream dosage form. The aim of this study was to developed effectively delivery system of bawang hutan in microemulsion  for maintenance its antioxidant activity. A microemulsion was prepared using an oil phase of  Virgin Coconut Oil (VCO), a surfactant of tween 80 and a  cosurfactant of gliserin. Evaluation of physical stability the microemulsions included analysis of organoleptic, viscosity, centrifugation and globul size. The antioxidant activities was evaluated by in vitro experiments using scavenging asssay of 1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl (DPPH) radicals and using ascorbic acid as positif control. The evaluation result were statistically analyzed using the t-student. The results indicated that a clear microemulsion and the globul size was < 5 μm. Even though, the pH and viscosity were not stable but there are not separated phase after centrifugation on 28 day storage. The antioxidant activity of microemulsion at 33°C dan 40°C storage respectively showed that IC50 values on day 1 is 101.167 μg/mL and 89.956 μg/mL, on day 35 is 127.254 μg/mL and 101.996 μg/mL. According to the result, antioxidant activity of bawang hutan extract is categorized into the powerful to moderate antioxidants. Keywords   :    Microemulsion, Eleutherine bulbosa extract (bawang hutan), Physical stability, Antioxidant.
Profil Penurunan Kadar Glukosa Darah Ekstrak Air Rambut Jagung (Zea Mays L.) Tua dan Muda Pada Mencit Jantan Galur Balb-C Finlinda Hery Ramadani; Difa Intannia; Malikhatun Ni’mah
Jurnal Pharmascience Vol 3, No 1 (2016): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v3i1.5833

Abstract

ABSTRAK Rambut jagung mengandung flavonoid. Kandungan total flavonoid dipengaruhi oleh usia tanaman. Flavonoid memiliki potensi sebagai antihiperglikemia. Penelitian bertujuan untuk melihat profil penurunan kadar glukosa darah ekstrak air rambut jagung tua dan muda pada mencit jantan galur Balb-C yang diinduksi aloksan. Penelitian bersifat eksperimental dengan rancangan posttest only control group design. Ekstrak dibuat dengan merebus rambut jagung menggunakan air selama 30 menit. Total flavonoid ditentukan dengan metode AlCl3. Aktivitas penurunan kadar glukosa darah dilakukan dengan metode tes toleransi glukosa oral terhadap mencit jantan galur Balb-C yang diinduksi aloksan secara intraperitonial (140 mg/kgBB). Sebanyak 20 hewan uji dibagi menjadi kelompok kontrol positif (Akarbose 0,1305 mg/20 gBB), kontrol negatif (NaCMC 1%), ekstrak air rambut jagung tua (200 mg/kgBB) dan ekstrak air rambut jagung muda (200 mg/kgBB) yang diberi perlakuan secara oral. Kadar glukosa darah diukur pada menit ke 0, 30, 60, 90, 120, 150, dan 180 pasca pembebanan glukosa oral. Data persen penurunan kadar glukosa darah dianalisis dengan uji Kruskal Wallis dan dilanjutkan dengan uji Mann Whitney. Persen penurunan kadar glukosa darah ekstrak air rambut jagung tua dan muda tidak berbeda bermakna (p>0,10). Ekstrak air rambut jagung muda menurunkan kadar glukosa darah sejak menit ke-90 pasca pemberian glukosa oral dengan persen penuran sebesar 44,55 ± 4,92%. Sedangkan ekstrak air rambut jagung tua menurunkan kadar glukosa darah sejak menit ke-120 pasca pemberian glukosa oral dengan persen penurunan sebesar 30,15 ± 7,25%. Kata kunci: rambut jagung tua, rambut jagung muda, flavonoid, kadar glukosa darah ABSTRACTCorn silk contained flavonoid. Total flavonoid content could be influenced by ages of the plant. Flavonoid has potential effect as anti-hyperglycemia. The purpose of this study was to observe lowering blood glucose levels profile of mature and immature corn silk extract on male mice Balb-C strain. This is an experimental study with posttest only control group design. Aqueous extract was prepared by boiling corn silk with water for 30 minutes. Total flavonoid content was determined by AlCl3 method. Lowering blood glucose levels activity was determined by oral glucose tolerant test method on alloxan induced male Balb-C mice test animals intraperitonialy (140 mg/kgBB). The 20 test animals were divided into positive control group (Acarbose 50 mg/70kgBB), negative control group (NaCMC 1%), mature aqueous corn silk extract group (200 mg/kgBB), and immature aqueous corn silk extract group (200 mg/kgBB) given orally. Blood glucose levels were measured at 0, 30, 60, 90, 120, 150, and 180 minutes after the glucose load. Percentage of lowering blood glucose levels were analyzed by Kruskal Wallis and continued by Mann Whitney test. Percentage of lowering blood glucose levels of mature and immature aqueous corn silk extract was not significantly different. Immature aqueous corn silk extract was lowering blood glucose since 90 minute after the glucose load by 44,55 ± 4,92%.  Whereas mature aqueous corn silk extract was lowering blood glucose since 120 minute after the glucose load by 30,15 ± 7,25%. Key word: mature corn silk, immature corn silk, flavonoid, blood glucose levels
Analisis Kualitatif Formalin Pada Ikan Tongkol Yang Dijual Di Pasar Lama Banjarmasin Dwi Rizky Febrianti; Reni Maylina Sari
Jurnal Pharmascience Vol 3, No 2 (2016): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v3i2.5740

Abstract

Pembusukan ikan laut merupakan suatu kerugian bagi nelayan sehingga diperlukan suatu pengawetan yang dapat menjaga kualitas ikan. Pengawetan dengan bahan kimia berbahaya seperti formalin sering dilakukan dengan alasan harga formalin yang relatif lebih murah dibandingkan dengan bahan pengawet yang aman. formalin merupakan bahan kimia yang penggunaannya dilarang untuk produk makanan. Bahaya utama formalin bila tertelan dan akibat yang ditimbulkan dapat berupa bahaya kanker pada manusia karena bersifat karsinogenik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ada atau tidaknya kandungan formalin pada ikan tongkol yang dijual di Pasar Lama Banjarmasin. Sampel yang diteliti berjumlah 5 sampel yang diambil secara teknik accidental sampling. Metode konvensional menggunakan pereaksi Ag(NH3)2NO3 dan KMnO4 0,1 N. Hasil penelitian dari 5 sampel ikan tongkol yang berasal dari Pasar Lama Banjarmasin menunjukkan positif dengan pereaksi Ag(NH3)2NO3 dan KMnO4 0,1 N berupa terbentuknya cermin perak dan perubahan warna dari ungu tua menjadi pudar. Kata kunci : ikan, formalin, Ag(NH3)2NO3 dan KMnO4 0,1 N
Persepsi Dokter Terhadap Kolaborasi dengan Apoteker pada Pengobatan Pasien Anak Epilepsi di Klinik Saraf Rumah Sakit “X” Agnes Christie Rinda; Dewi Susanti Atmaja
Jurnal Pharmascience Vol 4, No 1 (2017): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v4i1.5756

Abstract

ABSTRAK Hubungan kolaborasi yang kuat di antara dokter dan apoteker sangat dibutuhkan untuk mengoptimalkan pengobatan pasien, terutama pasien dengan penyakit kronis. Dokter dan apoteker memiliki tanggung jawab untuk saling berkomunikasi dan berinteraksi agar kontinuitas pelayanan dapat tercapai. Pemahaman terhadap persepsi dan hambatan terhadap kolaborasi di antara dokter dan apoteker berguna untuk mewujudkan kolaborasi tersebut. Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi persepsi dokter terhadap kolaborasi dengan apoteker pada pengobatan pasien anak epilepsi. Sebanyak 5 dokter terlibat dalam penelitian kualitatif yang menggunakan metode in-depth, semi-structured interview dan dianalisis melalui transkrip, quotes dan tema. Hasil yang teridentifikasi pada penelitian ini meliputi pengalaman dokter terhadap kolaborasi dengan apoteker, hambatan dalam berkolaborasi dengan apoteker serta media kolaborasi dokter dan apoteker pada pengobatan penyakit kronis. Pengalaman dokter dalam berkolaborasi dengan apoteker masih sangat terbatas sehingga diperlukan peran aktif apoteker dalam membangun komunikasi dengan dokter agar kolaborasi dapat tercapai. Salah satu cara yang mampu meningkatkan kolaborasi dokter dan apoteker adalah melalui suatu catatan pengobatan pasien yang berperan seperti rekam medis yang dapat dibawa oleh pasien ke setiap tempat pelayanan kesehatan yang dikunjunginya. Kata kunci: persepsi dokter, kolaborasi, pasien anak epilepsi ABSTRACT The strong collaboration between physicians and pharmacists are needed to optimize the patient medication, especially for the patient with chronic disease. Physicians and pharmacist have a responsibility to communicate and interact each other in order to reach the continuity of care. Understanding perceptions and barriers to collaboration between physicians and pharmacists may help with delivery of the collaboration. The aim of this research is to identify the perception of the physicians about the collaboration with pharmacists in the medication of the children with epilepsy. 5 physicians is involved in this qualitative research that used in-depth, semi-structured interview method that being analyzed by transcript, quotes and theme. The result that identified in this research are the physician’s experience with collaboration, the barrier to collaboration between physicians and pharmacists and the collaboration media for physicians and pharmacists in the medication of chronic disease. The physician’s experience in the collaboration with pharmacist is still limited so the acttive role of pharmacist is needed to build the communication with the physician to reach the collaboration. One of the way to improve the physician and pharmacist’s collaboration is through the patient medication record that used as the medical record that can be brought by the patient to every healthcare centre they visit. Keywords: physician’s perception, collaboration, children with epilepsy
Formulasi Dan Uji Stabilitas Gel Antijerawat Yang Mengandung Kuersetin Serta Uji Efektivitas Terhadap Staphylococcus epidermidis Rina Apriana; Dina Rahmawanty; Mia Fitriana
Jurnal Pharmascience Vol 4, No 2 (2017): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v4i2.5772

Abstract

Jerawat adalah abnormalitasnya produksi sebum pada kelenjar sebasea yang biasanya disebabkan oleh bakteri Staphylococcus epidermidis. Kuersetin adalah kelompok flavonoid yang memiliki senyawa fenol sehingga dapat menghambatStaphylococcus epidermidis pada konsentrasi 0,05% b/b. Tujuan penelitian ini untuk menetapkan pengaruh penambahan konsentrasi kuersetin terhadap efektifvitas penghambatan Staphylococcus epidermidis dan untuk menentukanpengaruh penambahan kuersetin terhadap sifat fisika kimia dan stabilitas fisika kimia gel kuersetin. Gel yang sudah diformulasi dilakukan evaluasi fisika kimia sediaan dan dilakukan uji efektivitas antibakteri terhadap Staphylococcus epidermidis dengan menggunakan media Mueller Hinton agar. Evaluasi sediaan gel kuersetin meliputi organoleptis seperti bau dan warna, daya sebar, daya lekat, pH, viskositas dan sediaan di uji stabilitas selama 12 minggu dengan suhu 4ºC, 28±2ºC dan 40ºC. Analisa data menggunakan ANOVA Test hasil uji statistik menunjukkan dengan penambahan konsentrasi kuersetin dalam sediaan gel memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan Staphylococcus epidermidisyang ditunjukkan adanya perbedaan bermakna (p0,05). Hasil uji stabilitas fisika kimia gel yang diperoleh dengan penambahan kuersetin dalam sediaan gel tidak memberikan pengaruh yang ditunjukkan tidak adanya perbedaan bermakna (p>0,05). Kesimpulan penelitian ini dengan penambahan konsentrasi kuersetin dalam sediaan gel memberikan pengaruh dalam penghambatan pertumbuhan bakteri Staphylococcus epidermidisyang ditunjukkan adanya perbedaan bermakna (p0,05).Penambahan konsentrasi kuersetin dalam sediaan gel tidak memberikan pengaruh terhadap stabilitas gel kuersetin yang ditunjukkan tidak adanya perbedaan bermakna (p>0,05). kata kunci : Jerawat, Kuersetin, Staphylococcus epidermidis.
Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol Akar Kalakai (Stenochlaena palustris Bedd) Asal Kalimantan Tengah Rabiatul Adawiyah; Muhammad Ikhwan Rizki
Jurnal Pharmascience Vol 5, No 1 (2018): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v5i1.5788

Abstract

ABSTRAK Tanaman khas Kalimantan yang banyak digunakan sebagai tanaman obat adalah kalakai atau sering juga disebut paku haruan (Stenochlaena palustris Bedd) atau pakis. Kalakai mengandung beberapa senyawa bioaktif seperti fenolik, flavonoid, alkaloid dan keluarga terpenoid yang telah terbukti sangat efektif sebagai antioksidan. Kalakai merupakan tumbuhan yang tumbuh subur di tanah gambut dan juga ditemukan tumbuh baik di tanah berpasir. Penelitian ini bertujuan mengetahui aktivitas antioksidan dari akar kalakai (Stenochlaena palustris) yang tumbuh pada tanah gambut dan tanah berpasir berdasarkan parameter Inhibitory Concentration 50 (IC50). Aktivitas antioksidan diuji menggunakan metode DPPH (2,2-difenil-1-pikril-hidrazil) dan kuersetin sebagai pembanding. Nilai IC50 untuk ekstrak akar kalakai pada tanah gambut yaitu sebesar 19,06 ppm dan pada ekstrak akar kalakai pada tanah pasir didapat IC50 sebesar 24,40 ppm. Hasil uji aktivitas antioksidan pada ekstrak etanol akar kalakai yang tumbuh pada tanah pasir dan tanah gambut memiliki aktivitas antioksidan yang sangat kuat. Kata Kunci : Akar, Antioksidan, Kalakai, Stenochlaena palustris Bedd ABSTRACT Borneo plants that are widely used as medicinal plants are kalakai or often also called paku Haruan (Stenochlaena palustris Bedd). Kalakai contains several bioactive compounds such as phenolics, flavonoids, alkaloids and terpenoid that have been shown to be very effective as antioxidants. Kalakai is a plant that thrives on peat soils and is also found to grow well in sandy soils. This study aims to determine the antioxidant activity of kalakai root (Stenochlaena palustris) that grows on peat soil and sandy soil based on Inhibitory Concentration 50 (IC50). Antioxidant activity was tested using DPPH method (2,2-diphenyl-1-picryl-hydrazil) and quercetin as a comparison. IC50 value for kalakai root extract on peat soil that is 19,06 ppm and at kalakai root extract on sand soil obtained IC50 that is 24,40 ppm. The results of antioxidant activity test on kalakai root extract that grow on sand and peat soil have very strong antioxidant activity. Keywords: Antioxidant, Kalakai, Root, Stenochlaena palustris Bedd
Pengaruh Pemberian Simvastatin Terhadap Profil Farmakokinetika Rivaroxaban Yusella Budi Paradina; Destria Indah Sari; Nani Kartinah
Jurnal Pharmascience Vol 2, No 1 (2015): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v2i1.5812

Abstract

Abstrak            Rivaroxaban dan simvastatin merupakan dua obat yang digunakan dalam terapi Fibrillasi atrium (FA) dan keduanya dimetabolisme oleh enzim CYP3A4. Pengunaan dua obat atau lebih pada waktu bersamaan dapat meningkatkan atau menurunkan kadar obat dalam darah. Tujuan dari penelitian yaitu untuk mengetahui pengaruh simvastatin terhadap nilai Cpmaks, t1/2 dan AUC rivaroxaban pada tikus jantan Wistar. Penelitian ini terdiri dari kelompok kontrol (rivaroxaban 10 mg.kgBB-1) dan kelompok perlakuan (ribaroxaban 10 mg.kgBB-1 dan simvastatin 10 mg.kgBB-1). Cuplikan darah diambil pada waktu 0,25; 0,50; 0,75; 1,00; 1,50; 2,00; 3,00; 4,00; 5,00; 6,00 dan 7,00 jam. Analisis kadar rivaroxaban menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis derivatif pertama yang telah divalidasi. Analisis profil farmakokinetika menggunakan SPSS dengan metode  t-test, menunjukkan tidak ada peningkatan yang signifikan pada nilai Cpmaks dan t1/2 rivaroxaban (p>0,05) dari 9,946 mg.mL-1 menjadi 11,799 mg.mL-1 dan dari 3,90 jam menjadi 4,39 jam. Nilai AUC meningkat secara signifikan (p<0,05) dari 37,220 mg.jam.mL-1 menjadi 46,560 mg.jam.mL-1. Dengan demikian, pemberian simvastatin dapat mempengaruhi farmakokinetika rivaroxaban. Kata kunci : Rivaroxaban, Simvastatin, Interaksi Farmakokinetika.  AbstractRivaroxaban and simvastatin are two drugs used in the treatment of atrial fibrillation (AF) and based on research both metabolized by the CYP3A4 enzyme. The use of two or more drugs at the same time may increases or decreases the blood levels of plasma. The purpose of this study was to determine the effect of simvastatin on Cpmax, t1/2 and AUC of rivaroxaban in Wistar male rats. This study consisted of a control group (rivaroxaban 10 mg.kgBB-1) and treatment group (rivaroxaban 10 mg.kgBB-1 and simvastatin 10 mg.kgBB-1). Blood sample were taken at the time of 0.25; 0.50; 0.75; 1.00; 1.50; 2.00; 3.00; 4.00; 5.00; 6.00 and 7.00 hours. Analysis of rivaroxaban in plasma were using a first derivative method of UV-Vis spectrophotometry that has been validated. Pharmacokinetics profile analysis were using SPSS method of t-test, showed no significant increased in the value of Cpmaks and t1/2 of rivaroxaban (p> 0.05) from 9.946 mg.mL-1 to 11.799 mg.mL-1 and 3.90 hours to 4.39 hours. AUC value increased significantly (p <0.05) from 37.220 mg.hour.mL-1  to 46.560 mg.hour.mL-1. Therefore, simvastatin can affect the pharmacokinetics of rivaroxaban. Keywords : Rivaroxaban, Simvastatin, Pharmacokinetics Interaction.
Analisis Residu Endosulfan, Endrin, Dieldrin, Aldrin, P,P-Ddt, dan Heptaklor Pada Beras Varietas Siam Unus di Kalimantan Selatan Lisa Andina
Jurnal Pharmascience Vol 2, No 2 (2015): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v2i2.5828

Abstract

ABSTRAK            Penggunaan pestisida sebagai suatu senyawa yang dapat mengurangi masalah pertanian dalam penanganan hama tanaman semakin meningkat dari tahun ke tahun. Pembasmian hama tanaman menggunakan pestisida dapat meningkatkan produksi hasil pertanian, sehingga mengakibatkan tingginya penggunaan pestisida oleh petani. Penggunaan pestisida dalam rangka proses produksi pertanian dapat mengakibatkan terdapatnya residu pestisida pada hasil pertanian yang dapat menimbulkan bahaya bagi kesehatan masyarakat. Pada penelitian ini dilakukan analisis residu pestisida endosulfan, endrin, dieldrin, aldrin, p,p-DDT, dan heptaklor pada beras Siam Unus. Hasil analisis menggunakan metode Kromatografi Gas menunjukkan tidak terdeteksi adanya residu pestisida endosulfan, endrin, dieldrin, aldrin, p,p-DDT, dan heptaklor pada beras Siam Unus. Berdasarkan Limit Of Detection (LOD) Kromatografi Gas didapatkan hasil analisis residu pestisida endosulfan < 0,0074 mg.Kg-1, endrin < 0,0166 mg.Kg-1, dieldrin < 0,0078 mg.Kg-1, aldrin < 0,0025 mg.Kg-1, p,p-DDT < 0,0094 mg.Kg-1, dan heptaklor < 0,002 mg.Kg-1. Beras Siam Unus dapat dikatakan aman terhadap residu pestisida endosulfan, endrin, dieldrin, aldrin, p,p-DDT, dan heptaklor setelah hasil analisis residu pestisida dibandingkan dengan ketentuan yang ada di dalam Keputusan Bersama Menteri Kesehatan dan Menteri Pertanian No. 881/MENKES/SKB/VIII/1996; 711/Kpts/TP.270/8/1996 tentang Batas maksimum residu pestisida pada hasil pertanian. Untuk menjamin keamanan beras Siam Unus terhadap residu pestisida maka perlu dilakukan analisis lebih lanjut mengenai residu pestisida jenis lain pada beras Siam Unus.Kata Kunci : Beras Siam Unus, Endosulfan, Endrin, Dieldrin, Aldrin, p,p-DDT, Heptaklor, Kromatografi GasABSTRACTThe used of pesticide has increased from year to year. The farmers used pesticides to eradicate the crop pests since the eradication of crop pests using pesticide increased the agricultural production. Pesticide used in the rice cultivation became a concern to consumer health because of their widely spread used may leave a residue in rice. This research was carried out in order to obtain the necessary data and information of endosulfan, endrin, dieldrin, aldrin, p,p-DDT, and heptachlor residues in the Siam Unus rice. According to the Gas Chromatography analysis results, the residues of endosulfan, endrin, dieldrin, aldrin, p,p-DDT, and heptachlor were undetected. Based on the Limit Of Detection (LOD) of Gas Chromatography, the endosulfan residue was < 0,0074 mg.Kg-1, the endrin residue was < 0,0166 mg.Kg-1, the dieldrin residue was < 0,0078 mg.Kg-1, the aldrin residue was < 0,0025 mg.Kg-1, the p,p-DDT residue was < 0,0094 mg.Kg-1, and the heptachlor residue was < 0,002 mg.Kg-1, respectively. Referring to the Joint Decision of the Agriculture Minister and the Forestry Minister of Indonesia (No. 881/MENKES/SKB/VIII/1996; 711/Kpts/TP.270/8/1996) about the maximum limit of pesticide residues in agricultural products, the findings reveal that the Siam Unus rice was safe from the residue of endosulfan, endrin, dieldrin, aldrin, p,p-DDT, and heptachlor. The analysis of other pesticide residues besides the residue of endosulfan, endrin, dieldrin, aldrin, p,p-DDT, and heptachlor should be carried out in order to reassure the safety level of Siam Unus rice from the pesticide residues. Key words : ABSTRAK            Penggunaan pestisida sebagai suatu senyawa yang dapat mengurangi masalah pertanian dalam penanganan hama tanaman semakin meningkat dari tahun ke tahun. Pembasmian hama tanaman menggunakan pestisida dapat meningkatkan produksi hasil pertanian, sehingga mengakibatkan tingginya penggunaan pestisida oleh petani. Penggunaan pestisida dalam rangka proses produksi pertanian dapat mengakibatkan terdapatnya residu pestisida pada hasil pertanian yang dapat menimbulkan bahaya bagi kesehatan masyarakat. Pada penelitian ini dilakukan analisis residu pestisida endosulfan, endrin, dieldrin, aldrin, p,p-DDT, dan heptaklor pada beras Siam Unus. Hasil analisis menggunakan metode Kromatografi Gas menunjukkan tidak terdeteksi adanya residu pestisida endosulfan, endrin, dieldrin, aldrin, p,p-DDT, dan heptaklor pada beras Siam Unus. Berdasarkan Limit Of Detection (LOD) Kromatografi Gas didapatkan hasil analisis residu pestisida endosulfan < 0,0074 mg.Kg-1, endrin < 0,0166 mg.Kg-1, dieldrin < 0,0078 mg.Kg-1, aldrin < 0,0025 mg.Kg-1, p,p-DDT < 0,0094 mg.Kg-1, dan heptaklor < 0,002 mg.Kg-1. Beras Siam Unus dapat dikatakan aman terhadap residu pestisida endosulfan, endrin, dieldrin, aldrin, p,p-DDT, dan heptaklor setelah hasil analisis residu pestisida dibandingkan dengan ketentuan yang ada di dalam Keputusan Bersama Menteri Kesehatan dan Menteri Pertanian No. 881/MENKES/SKB/VIII/1996; 711/Kpts/TP.270/8/1996 tentang Batas maksimum residu pestisida pada hasil pertanian. Untuk menjamin keamanan beras Siam Unus terhadap residu pestisida maka perlu dilakukan analisis lebih lanjut mengenai residu pestisida jenis lain pada beras Siam Unus.Kata Kunci : Beras Siam Unus, Endosulfan, Endrin, Dieldrin, Aldrin, p,p-DDT, Heptaklor, Kromatografi GasABSTRACTThe used of pesticide has increased from year to year. The farmers used pesticides to eradicate the crop pests since the eradication of crop pests using pesticide increased the agricultural production. Pesticide used in the rice cultivation became a concern to consumer health because of their widely spread used may leave a residue in rice. This research was carried out in order to obtain the necessary data and information of endosulfan, endrin, dieldrin, aldrin, p,p-DDT, and heptachlor residues in the Siam Unus rice. According to the Gas Chromatography analysis results, the residues of endosulfan, endrin, dieldrin, aldrin, p,p-DDT, and heptachlor were undetected. Based on the Limit Of Detection (LOD) of Gas Chromatography, the endosulfan residue was < 0,0074 mg.Kg-1, the endrin residue was < 0,0166 mg.Kg-1, the dieldrin residue was < 0,0078 mg.Kg-1, the aldrin residue was < 0,0025 mg.Kg-1, the p,p-DDT residue was < 0,0094 mg.Kg-1, and the heptachlor residue was < 0,002 mg.Kg-1, respectively. Referring to the Joint Decision of the Agriculture Minister and the Forestry Minister of Indonesia (No. 881/MENKES/SKB/VIII/1996; 711/Kpts/TP.270/8/1996) about the maximum limit of pesticide residues in agricultural products, the findings reveal that the Siam Unus rice was safe from the residue of endosulfan, endrin, dieldrin, aldrin, p,p-DDT, and heptachlor. The analysis of other pesticide residues besides the residue of endosulfan, endrin, dieldrin, aldrin, p,p-DDT, and heptachlor should be carried out in order to reassure the safety level of Siam Unus rice from the pesticide residues. Key words : ABSTRAK            Penggunaan pestisida sebagai suatu senyawa yang dapat mengurangi masalah pertanian dalam penanganan hama tanaman semakin meningkat dari tahun ke tahun. Pembasmian hama tanaman menggunakan pestisida dapat meningkatkan produksi hasil pertanian, sehingga mengakibatkan tingginya penggunaan pestisida oleh petani. Penggunaan pestisida dalam rangka proses produksi pertanian dapat mengakibatkan terdapatnya residu pestisida pada hasil pertanian yang dapat menimbulkan bahaya bagi kesehatan masyarakat. Pada penelitian ini dilakukan analisis residu pestisida endosulfan, endrin, dieldrin, aldrin, p,p-DDT, dan heptaklor pada beras Siam Unus. Hasil analisis menggunakan metode Kromatografi Gas menunjukkan tidak terdeteksi adanya residu pestisida endosulfan, endrin, dieldrin, aldrin, p,p-DDT, dan heptaklor pada beras Siam Unus. Berdasarkan Limit Of Detection (LOD) Kromatografi Gas didapatkan hasil analisis residu pestisida endosulfan < 0,0074 mg.Kg-1, endrin < 0,0166 mg.Kg-1, dieldrin < 0,0078 mg.Kg-1, aldrin < 0,0025 mg.Kg-1, p,p-DDT < 0,0094 mg.Kg-1, dan heptaklor < 0,002 mg.Kg-1. Beras Siam Unus dapat dikatakan aman terhadap residu pestisida endosulfan, endrin, dieldrin, aldrin, p,p-DDT, dan heptaklor setelah hasil analisis residu pestisida dibandingkan dengan ketentuan yang ada di dalam Keputusan Bersama Menteri Kesehatan dan Menteri Pertanian No. 881/MENKES/SKB/VIII/1996; 711/Kpts/TP.270/8/1996 tentang Batas maksimum residu pestisida pada hasil pertanian. Untuk menjamin keamanan beras Siam Unus terhadap residu pestisida maka perlu dilakukan analisis lebih lanjut mengenai residu pestisida jenis lain pada beras Siam Unus.Kata Kunci : Beras Siam Unus, Endosulfan, Endrin, Dieldrin, Aldrin, p,p-DDT, Heptaklor, Kromatografi GasABSTRACTThe used of pesticide has increased from year to year. The farmers used pesticides to eradicate the crop pests since the eradication of crop pests using pesticide increased the agricultural production. Pesticide used in the rice cultivation became a concern to consumer health because of their widely spread used may leave a residue in rice. This research was carried out in order to obtain the necessary data and information of endosulfan, endrin, dieldrin, aldrin, p,p-DDT, and heptachlor residues in the Siam Unus rice. According to the Gas Chromatography analysis results, the residues of endosulfan, endrin, dieldrin, aldrin, p,p-DDT, and heptachlor were undetected. Based on the Limit Of Detection (LOD) of Gas Chromatography, the endosulfan residue was < 0,0074 mg.Kg-1, the endrin residue was < 0,0166 mg.Kg-1, the dieldrin residue was < 0,0078 mg.Kg-1, the aldrin residue was < 0,0025 mg.Kg-1, the p,p-DDT residue was < 0,0094 mg.Kg-1, and the heptachlor residue was < 0,002 mg.Kg-1, respectively. Referring to the Joint Decision of the Agriculture Minister and the Forestry Minister of Indonesia (No. 881/MENKES/SKB/VIII/1996; 711/Kpts/TP.270/8/1996) about the maximum limit of pesticide residues in agricultural products, the findings reveal that the Siam Unus rice was safe from the residue of endosulfan, endrin, dieldrin, aldrin, p,p-DDT, and heptachlor. The analysis of other pesticide residues besides the residue of endosulfan, endrin, dieldrin, aldrin, p,p-DDT, and heptachlor should be carried out in order to reassure the safety level of Siam Unus rice from the pesticide residues. Key words :  Siam Unus Rice, Endosulfan, Endrin, Dieldrin, Aldrin, p,p-DDT, Heptachlor, Gas Cromatography
Pengujian Efek Tonikum Sarang Burung Walet Putih (Aerodramus fuchipagus) Pada Mencit Putih Jantan Dengan Metode Ketahanan Lama Waktu Berenang Dita Ayulia Dwi Sandi; Satrio Wibowo Rahmatullah
Jurnal Pharmascience Vol 3, No 2 (2016): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v3i2.5735

Abstract

Sarang walet Putih (SBW) (Aerodramus fuchipagus) merupakan salah satu sumber daya alam hayati asal Indonesia. Sarang walet putih (Aerodramus fuchipagus) tidak hanya banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia sebagai makanan yang bergizi, tetapi juga dipercaya dapat digunakan sebagai obat. Salah satu khasiat yang dipercayai oleh masyarakat adalah efek tonikum (meningkatkan stamina/mengatasi kelelahan). Tujuan penelitian ini adalah membuktikan efek tonikum sarang burung wallet dengan metode ketahanan lama waktu berenang. Kelompok perlakuan dibagi menjadi 5 yaitu kontrol negatif (akuadest), kontrol positif (kafein) dan kelompok SBW Do I 75 mg/40 g BB, Do II 100 mg/40 g BB dan Do III 150 mg/40 g BB. Hewan uji menggunakan mencit putih jantan dan tiap kelompok perlakuan menggunakan 3 mencit. Pada metode ketahanan lama waktu berenang mencit diberikan perlakuan sesuai masing-masing kelompok, 30 menit kemudian dibiarkan berenang didalam baskom berisi air, dan dicatat lama waktu berenang. Hasil penelitian berupa waktu ketahanan berenang paling lama dimiliki oleh kelompok kontorl positif (43.04 menit), SBW Do III (35.46 menit), SBW Do II (24.16 menit), SBW Do I (15.25 menit) dan kontrol negatif (5.49 menit). Hasil analisis dengan kruskal-wallis nilai sig. 0,01 sehingga ada pengaruh kelompok perlakuan terhadap lama waktu berenang yang dihasilkan. Hasil analisis lanjutan dengan mann-whitney menunjukkan tidak ada perbedaan yang bermakna antara kelompok perlakuan kontrol positif (kafein) dengan kelompok perlakuan sarang burung wallet putih (Aerodramus fuchipagus) dosis 150 mg/40 g BB untuk lama waktu berenang yang dihasilkan. Kesimpulan yang dapat diambil adalah sarang burung wallet putih (Aerodramus fuchipagus) dosis 150 mg/40 g BB berpotensi sebagai tonikum. Kata kunci : Sarang burung wallet putih, Aerodramus fuchipagus, tonikum
Uji Aktivitas Antibakteri Salep Ekstrak Etanolik Daun Binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) Dengan Berbagai Variasi Basis Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus Elya Zulfa; Tegar Bagus Prasetyo; Mimiek Murrukmihadi
Jurnal Pharmascience Vol 4, No 1 (2017): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v4i1.5751

Abstract

ABSTRAK Salep ekstrak etanolik daun binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) basis absorpsi memiliki aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus pada konsentrasi 10%. Dalam meningkatkan aktivitas zat aktif ekstrak etanolik daun binahong, maka perlu dilakukan penyesuaian berbagai basis formulasi salep. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri salep ekstrak daun binahong dengan variasi basis hidrokarbon, absorpsi, dan larut air terhadap Staphylococcus aureus.Ekstrak etanolik daun binahong diperoleh dengan metode maserasi menggunakan etanol 70%. Salep dibuat dengan variasi basis pembawanya yaitu hidrokarbon, absorpsi, dan larut air. Salep yang telah dihasilkan selanjutnya diuji aktivitas antibakterinya terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Data hasil uji aktivitas antibakteri dianalisis secara Anova satu jalan dan dilanjutkan Tukey dengan taraf kepercayaan 95%. Hasil uji aktivitas antibakteri salep ekstrak etanolik daun binahong (hidrokarbon, absorpsi, dan larut air) tidak memiliki perbedaan yang bermakna (Sig≥0,05). Kata Kunci : Salep, Daun binahong, Aktivitas antibakteri, Staphylococcus aureus. ABSTRACT The absorbtion-based ointment of ethanolic extract of binahong leaves (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) on 10% concentrate has antibacterial activity towards Staphylococcus aureus. In order to improve the activity of this ethanolic extract of binahong leaves, it is necessarily to adjust the ointment’s base of formulation. The aims of study are to determine the ointment’s physical characteristics as well as the antibacterial activity towards Staphylococcus aureus which various base such as hydrocarbon, absorbtion and water solubility. The ethanolic extract of binahong leaves obtained from maceration method using 70% of ethanol. The ointment was made based on the variation of its base which are hydrocarbon, absorbtion and water solubility. The obtained oinment then was examined on antibacterial activity toward Staphylococcus aureus. Anti-bacterial activity were analyzed using one-way ANOVA and Tukey with the level of confidence up to 95%. the antibacterial activity of ethanolic extract ointment of binahong leaves (hydrocarbon, absorbtion, and watersolubility) also did not have any significant differences (Sig≥0,05). Keywords: Ointment, Binahong leaves, Antibacterial activity, Staphylococcus aureus.

Page 9 of 34 | Total Record : 340