cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Sport and Fitness Journal
Published by Universitas Udayana
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 286 Documents
PERBANDINGAN KOMBINASI ABDOMINAL STRETCHING DAN CORE STRENGTHENING EXERCISE DENGAN KOMBINASI ABDOMINAL STRETCHING DAN PILATES EXERCISE DALAM MENURUNKAN INTENSITAS DISMENORE PRIMER I A Md Dwi Purwitasari; Luh Putu Ratna Sundari; Indra Lesmana; I Wayan Weta; Desak Made Wihandani; Ni Made Swasti Wulanyani
Sport and Fitness Journal Vol 9 No 1 (2021): Volume 9, No. 1, Januari 2021
Publisher : Program Studi Magister Fisiologi Keolahragaan, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/spj.2021.v09.i01.p03

Abstract

Setiap remaja putri akan melewati masa pubertas yang ditandai dengan terjadinya menstruasi. Pada saat fase menstruasi biasanya disertai rasa nyeri, keluhan ini disebut dengan dismenore. Nyeri yang dirasakan dapat menggangu aktivitas sehari-hari. Ada beberapa metode yang dapat diberikan untuk menurunkan nyeri yang dirasakan saat haid. Diantaranya adalah metode abdominal stretching, core strengthening, dan pilates exercise yang bertujuan untuk menurunkan nyeri dan meningkatkan kekuatan otot disekitar perut hingga panggul. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mana yang lebih efektif antara metode abdominal stretching dan core strengthening excercise dibandingkan metode abdominal stretching dan pilates exercises dalam menurunkan intensitas dismenore primer. Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimental dengan pre test and post test contol group design. Lokasi penelitian dilakukan di SMA Dwijendra Denpasar,Bali dengan jumlah sampel 28 orang yang memiliki kategori dismenore primer dengan derajat nyeri sedang hingga berat, dibagi menjadi 2 kelompok perlakuan. Kelompok I diberikan abdominal stretching dan core strengthening exercise, kelompok II diberikan abdominal stretching dan pilates exercises. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah Visual Analouge Scale (VAS). Sebaran data dalam penelitian ini menggunakan analisi Wilcoxon dan Man Whitney karena data tidak berdistribusi normal. Hasil dalam penelitian ini yaitu metode abdominal stretching dengan core strengthening exercise dapat menurunkan intensitas dismenore primer dengan nilai signifikan p = 0,001 dengan nilai median VAS 6 menjadi 4 metode abdominal stretching dengan pilates excercise dapat menurunkan intensitas dismenore primer dengan nilai signifikan p = 0,001 dengan nilai median VAS 6 menjadi 4. Antara kelompok I dan kelompok II, tidak didapat perbedaan pre test (P=0,178), post tes (P=0,173), dan perubahan (P=0,561) Kesimpulan dari penelitian ini adalah tidak ada perbedaan efektivitas antara metode abdominal stretching dengan core strengthening dan abdominal stretching dengan pilates exercises dalam menurunkan intensitas dismenore primer.
HUBUNGAN ANTARA SENAM LANSIA DAN KUALITAS TIDUR LANSIA DI KABUPATEN BADUNG Ni Wayan Nirmala Putri Miasa; Ari Wibawa; M. Widnyana; Ni Nyoman Ayu Dewi
Sport and Fitness Journal Vol 8 No 3 (2020): Volume 8, No. 3, September 2020
Publisher : Program Studi Magister Fisiologi Keolahragaan, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/spj.2020.v08.i03.p08

Abstract

Pendahuluan: setiap manusia yang sudah lansia atau lanjut usia secara alami akan mengalami penurunan fungsi secara bertahap terkait dengan kondisi fisik dan psikologisnya. Salah satu kondisi yang menjadi permasalahan dari lansia pada umumnya berkaitan dengan kualitas tidur yang menurun akibat pengaruh penurunan dari kondisi fisik. Namun diketahui bahwa senam lansia dapat menjadi salah satu aktivitas fisik bagi kaum lansia dalam membantu memperbaiki kualitas tidurnya. Tujuan Penelitian: menganalisis dan membuktikan adanya hubungan yang berasal dari aktivitas senam lansia kepada kualitas tidur dari lansia pada Kabupaten Badung. Metode: pada pelaksanaan kegiatan dari penelitian dilakukan observasional analitik dan pendekatan secara cross sectional dengan penggunaan kuesioner PSQI yang diberikan kepada 36 orang yang menjadi sampel dari penelitian. Hasil: uji dari chi square menunjukkan nilai (p= 0,005) dan uji korelasi menunjukkan nilai (r= 0,625) maka melalui nilai tersebut diketahui terdapat atau adanya hubungan yang berasal dari aktivitas senam lansia kepada kualitas tidur dari lansia pada kabupaten Badung dengan cukup besar. Simpulan: adanya hubungan yang signifikan antara senam lansia dan kualitas tidur lansia di Kabupaten Badung. Hubungan signifikannya yaitu semakin rutin lansia melakukan senam lansia semakin baik kualitas tidurnya. Kata Kunci: Kualitas tidur, senam lansia, kuesioner PSQI
TERAPI LATIHAN FUNGSIONAL DI AIR MENINGKATKAN KEKUATAN KONTRAKSI ISOMETRIK OTOT PAHA PASIEN POST REKONSTRUKSI CEDERA ANTERIOR LIGAMENTUM CRUCIATUM PHASE 2 DI RSPAD GATOT SOEBROTO JAKARTA Bertha Melyana; Susy Purnawati; S Indra Lesmana; Tjokorda Gde Bagus Mahadewa; I Made Muliarta; I Putu Adiartha Griadhi
Sport and Fitness Journal Vol 9 No 1 (2021): Volume 9, No. 1, Januari 2021
Publisher : Program Studi Magister Fisiologi Keolahragaan, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/spj.2021.v09.i01.p08

Abstract

Pendahuluan: Penurunan kekuatan kontraksi otot paha merupakan komplikasi yang sering terjadi pada pasien post operasi rekontruksi cedera Anterior Cruciatum Ligament (ACL) yang dapat menimbulkan penurunan fungsi gerak bahkan sampai kepada kecacatan. Pemberian terapi latihan fungsional di air terbukti efektif meningkatkan kekuatan kontraksi otot paha yang sangat menentukan perbaikan range of motion dan fungsi sendi lutut. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan bahwa latihan fungsional di air lebih efektif dalam meningkatkan kekuatan kontraksi isometrik otot paha dibandingkan dengan latihan di darat (klinik fisioterapi rumah sakit). Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimental (the randomized pre-posttest control group design), melibatkan semua pasien post rekontruksi cedera ACL yang berjumlah 38 orang sebagai subjek penelitian. Ditentukan usia responden pada rentang 20-50 tahun, yang dibagi menjadi dua Kelompok perlakuan berbeda dengan random alokasi. Kelompok I diberikan latihan fungsional di darat (dan berperan sebagai Kelompok kontrol), sedangkan Kelompok II diberikan latihan fungsional di air. Frekuensi latihan 2 kali seminggu selama 6 minggu, selama 60 menit pada setiap sesi latihan. Kekuatan kontraksi isometrik otot paha di ukur menggunakan Spygmomanometer. Hasil: Data awal rerata kekuatan kontraksi isometrik otot paha pada Kelompok 1 adalah sebesar 117,37±7,14 dan setelah diberikan latihan fungsional di darat meningkat menjadi sebesar 133,42±12,47. Sedangkan pada Kelompok 2 didapatkan kekuatan kontraksi isometrik otot paha sebelum intervensi sebesar 121,32±6,83 dan setelah diberi latihan fungsional di air meningkat menjadi 140,79±14,55. Uji beda kekuatan kontraksi isometrik otot paha antara sebelum dan sesudah intervensi pada Kelompok 1 dan 2 menunjukan perbedaan yang bermakna, yaitu p = 0,000. Akan tetapi pada uji beda kekuatan kontraksi isometrik otot paha setelah intervensi antar Kelompok I dan II tidak ditemukan perbedaan yang signifikan secara uji statistic (nilai p = 0,158. Simpulan: Latihan fungsional di air maupun di darat dapat meningkatkkan kekuatan kontraksi isometrik otot paha yang signifikan. Akan tetapi tidak ditemukan perbedaan kekuatan kontraksi yang signifikan post intervensi antara Kelompok pasien post operasi rekonstruksi cedera ACL yang diberikan latihan fungsional di air maupun di darat. Kata kunci : Cedera Anterior Cruciatum Ligament, latihan fungsional di air, kekuatan kontraksi isometrik otot paha
HUBUNGAN AKTIVITAS FISIK TERHADAP KEKUATAN GENGGAMAN DAN KECEPATAN BERJALAN PADA LANSIA DI KELURAHAN PANJER Vida Nanda Chattalia; Indira Vidiari Juhanna; Made Hendra Satria Nugraha; Nila Wahyuni
Sport and Fitness Journal Vol 8 No 3 (2020): Volume 8, No. 3, September 2020
Publisher : Program Studi Magister Fisiologi Keolahragaan, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/spj.2020.v08.i03.p13

Abstract

Pendahuluan: Penuaan menyebabkan perubahan struktur dalam tubuh manusia. Salah satunya adalah perubahan struktur otot sehingga menyebabkan penurunan kekuatan otot. Menurunnya kekuatan otot anggota gerak atas maupun bawah dapat mempengaruhi kemampuan fungsional seseorang karena terjadi penurunan kekuatan genggaman dan kecepatan berjalan. Memasuki masa lansia menyebabkan seseorang sulit untuk beradaptasi dengan lingkungan dan terlalu menutup diri dengan dunia luar. Padahal aktivitas fisik penting untuk dilakukan karena aktivitas fisik mampu meningkatkan kekuatan otot. Tujuan Penelitian: Mencari hubungan variabel aktivitas fisik terhadap kekuatan genggaman dan kecepatan berjalan pada lansia di Kelurahan Panjer. Metode: Penelitian menggunakan studi observasi analitik secara cross sectional, dilakukan di Panjer dari Maret 2019 – Mei 2019. Penelitian ini menggunakan subjek sebanyak 100 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan mengukur aktivitas fisik menggunakan kuesioner Baecke Index, kekuatan genggaman menggunakan Hand-Grip Dynamometer dan pengukuran kecepatan berjalan dengan mengukur waktu berjalan pada lintasan sepanjang 4 meter. Hasil: Didapatkan p sebesar (p=0,000) untuk kekuatan genggaman dan (p=0,001) untuk kecepatan berjalan dari hasil uji chi-square. Uji hipotesis selanjutnya adalah korelasi kanonikal untuk menganalisis hubungan untuk semua variabel. Pada perhitungan analisis data, diperoleh hasil canonical loading sebesar 0,98531 untuk kekuatan genggaman, -0,69323 untuk kecepatan berjalan dan 1,00000 untuk aktivitas fisik sehingga semua hasil lebih tinggi dari nilai minimum 0,5. Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian dan uji statistik tersebut maka dapat disimpulkan, (1) ada hubungan antara aktivitas fisik dengan kekuatan genggaman, (2) ada hubungan antara aktivitas fisik dengan kecepatan berjalan, dan (3) ada hubungan terhadap semua variabel. Kata kunci : lansia, kekuatan genggaman, kecepatan berjalan, aktivitas fisik.
FREKUENSI LATIHAN SENAM YOGA MEMPENGARUHI PENINGKATAN FLEKSIBILITAS LUMBAL WANITA DEWASA DI KOTA DENPASAR Cindy Anastasia Okhotan; I Dewa Ayu Inten Dwi Primayanti; Luh Made Indah Sri Handari; I Putu Adiartha Griadhi
Sport and Fitness Journal Vol 8 No 3 (2020): Volume 8, No. 3, September 2020
Publisher : Program Studi Magister Fisiologi Keolahragaan, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/spj.2020.v08.i03.p04

Abstract

Latar Belakang: Penurunan fleksibilitas pada wanita dapat memicu terjadi nya penyakit, terutama keluhan muskuloskeletal yaitu cedera pada lumbal. Wanita dianjurkan untuk melakukan latihan-latihan sehingga dapat mencegah penurunan fleksibilitas. Tujuan: Mengetahui hubungan frekuensi senam yoga dengan fleksibilitas lumbal pada wanita. Metode: Penelitian observational analitik dengan pendekatan potong lintang yang menyertakan 45 wanita usia 20-45 tahun di Kota Denpasar. Sampel dipilah dengan teknik purposive sampling yang dilakukan pada empat studio senam yoga dan satu lapangan di Kota Denpasar selama bulan Juli – Agustus 2019. Data diperoleh dengan lembar pengumpulan data dan pengukuran fleksibilitas lumbal dengan sit and reach test. Data dianalisis dengan uji chi-square dan somers’d untuk mengetahui hubungan frekuensi senam yoga dengan fleksibilitas lumbal pada wanita. Hasil: Berdasarkan hasil uji, didapatkan nilai p=0,0001 (p<0,05) dan r=0,643(0,6? r ?0,8) memperlihatkan hubungan kuat dan bermakna antara frekuensi senam yoga dengan fleksibilitas lumbal pada wanita usia 20-45 tahun di Kota Denpasar. Kesimpulan: Terdapat hubungan signifikan antara frekuensi senam yoga dengan fleksibilitas lumbal ditandai dengan peningkatan nilai ukur fleksibilitas lumbal pada wanita dengan frekuensi senam yoga yang sangat rutin. Kata kunci: Frekuensi senam yoga, Fleksibilitas lumbal, Senam yoga
KOMBINASI STATIC STRETCHING DAN PLYOMETRIC TRAINING LEBIH BAIK DARIPADA KOMBINASI STATIC STRETCHING DAN STRENGTH TRAINING DALAM MENINGKATKAN VERTICAL JUMP PADA PEMAIN VOLI Dyah Esti Pranwengrum; I Dewa Putu Sutjana; Sugijanto Sugijanto; Dewa Putu Gde Purwa Samatra; Tjokorda Gde Bagus Mahadewa; Luh Made Indah Sri Handari Adiputra
Sport and Fitness Journal Vol 9 No 1 (2021): Volume 9, No. 1, Januari 2021
Publisher : Program Studi Magister Fisiologi Keolahragaan, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/spj.2021.v09.i01.p04

Abstract

Pendahuluan: Vertical jump merupakan komponen yang diperlukan dalam melakukan jump smash dan keterampilan melakukan service dalam permainan bola voli. Efisiensi melompat atau daya ledak ekstremitas bawah dapat menunjang pemain untuk mencetak skor. Tujuan penelitian: untuk membuktikan kombinasi static stretching dan plyometric training lebih baik daripada kombinasi static stretching dan strength training dalam meningkatkan vertical jump pada pemain voli. Metode: Penelitian ini menggunakan design experimental randomized pre-test and post-test two group design. Penelitian dilakukan di UKM Bola Voli STIKES Ngudia Husada Madura. Sampel penelitian sebanyak 18 orang yang dibagi menjadi 2 kelompok secara acak, masing-masing kelompok berjumlah 9 orang. Kelompok I diberikan kombinasi static stretching dan strength training sedangkan Kelompok II diberikan dengan kombinasi static stretching dan plyometric training. Perlakuan dilakukan 3 kali seminggu selama 6 minggu dengan evaluasi menggunakan sargent jump test (SJT). Hasil penelitian: Uji statistik menggunakan paired-samples t-test pada Kelompok I dengan rerata skor sebelum intervensi 38,78±3,52 cm dan sesudah intervensi yaitu 48,89±6,09 cm dengan nilai p=0,001 dan Kelompok II dengan rerata skor sebelum intervensi 37,11±4,01 cm dan sesudah intervensi 54,11±2,66 cm dengan nilai p<0,001. Dapat disimpulkan terjadi peningkatan vertical jump yang bermakna padi setiap kelompok. Uji beda hipotesis antara Kelompok I dengan Kelompok II menggunakan uji independent-samples t-test diperoleh nilai p=0,021. Simpulan: Kombinasi static stretching dan plyometric training lebih baik dalam meningkatkan vertical jump pada pemain voli dari pada kombinasi static stretching dan strength training. Kata kunci : Static stretching, strength training, plyometric training, vertical jump
PENAMBAHAN CORE STABILITY PADA STAR EXCURSION BALANCE EXERCISE LEBIH MENINGKATKAN KESEIMBANGAN DINAMIS DAN MENURUNKAN FUNGSIONAL ANKLE INSTABILITAS DARIPADA STAR EXCURSION BALANCE EXERCISE PADA BELA DIRI TAEKWONDO Anak Agung Gede Eka Septian Utama; Putu Astawa; Muh. Ali Imron; Tjokorda Gde Bagus Mahadewa; Bagus Komang Satriyasa; Desak Made Wihandani
Sport and Fitness Journal Vol 8 No 3 (2020): Volume 8, No. 3, September 2020
Publisher : Program Studi Magister Fisiologi Keolahragaan, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/spj.2020.v08.i03.p09

Abstract

Latar belakang: Taekwondo merupakan bela diri yang banyak menggunakan anggota gerak bawah terutama pergelangan kaki sehingga sering terjadi fungsional ankle instabilitas (FAI). FAI terjadi akibat adanya gangguan dari postural kontrol, keseimbangan dinamis dan fungsi otot. Salah satu latihan yang dapat dipergunakan adalah star excursion balance exercise, namun masih ada kekurangan dalam kontrol postural akibat tidak terjadi aktivasi otot core untuk pembentukan postural stabilisasi. Tujuan: Untuk membuktikan penambahan core stability pada star excursion balance exercise lebih meningkatkan keseimbangan dinamis dan menurunkan fungsional ankle instabilitas daripada star excursion balance exercise pada bela diri taekwondo. Metode: Rancangan penelitian ini adalah randomized pretest-postest control group design, Kelompok 1 mendapatkan star excursion balance exercise dan Kelompok 2 mendapatkan core stability dan star excursion balance exercise. Fungsional ankle instabilitas diukur menggunakan cumberland ankle instability tool (CAIT) dan keseimbangan dinamis menggunakan star excursion balance test (SEBT). Dilakukan 3 kali seminggu selama 6 minggu. Hasil: Peningkatan SEBT sebelum pelatihan pada Kelompok 1 sebesar 86,4±6,3 cm, setelah pelatihan sebesar 92,3±6,7cm dan pada Kelompok 2 sebelum sebesar 86,2±6,1 cm, setelah pelatihan sebesar 96,7±7,9 cm. Penurunan fungsional ankle instabilitas dari peningkatan nilai CAIT sebelum pelatihan pada Kelompok 1 sebesar 20,4±1,8, setelah pelatihan sebesar 23,4±2,1 dan pada Kelompok 2 sebelum sebesar 20,3±2,8, setelah pelatihan sebesar 25,0±1,9. Perbedaan peningkatan keseimbangan dinamis pada Kelompok 1 dan 2 bermakna (p<0,05). Perbedaan penurunan FAI pada Kelompok 1 dan 2 bermakna (p<0,05). Kesimpulan: Penambahan core stability pada star excursion balance exercise lebih meningkatkan keseimbangan dinamis dan menurunkan fungsional ankle instabilitas daripada star excursion balance exercise pada bela diri taekwondo. Kata kunci: fungsional ankle instabilitas, keseimbangan dinamis, star excursion balance exercise, core stability.
PELATIHAN REACHING OBLIQUE CRUNCH LEBIH MENINGKATKAN KEKUATAN OTOT PERUT DARI PADA PELATIHAN PILATE TOE TAPS PADA SISWA PUTRA PESERTA EKSTRAKURIKULER PENCAK SILAT SMP NEGERI 2 KUTA Md Ayu Puspita Citra Novelia; Susy Purnawati; Luh Made Indah Sri Handari Adiputra; Ketut Tirtayasa; I Putu Adiartha Griadhi; I Dewa Ayu Inten Dwi Primayanti
Sport and Fitness Journal Vol 9 No 1 (2021): Volume 9, No. 1, Januari 2021
Publisher : Program Studi Magister Fisiologi Keolahragaan, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/spj.2021.v09.i01.p09

Abstract

Dalam pertandingan pencak silat otot perut sangat dilindungi oleh atlet pencak silat, karena perut merupakan daerah seorang atlet pencak silat mencari point serang sehingga atlet pencak silat memerlukan kekuatan otot perut yang baik untuk menunjang serangan dari lawan. Latihan ROC dan PTT merupakan latihan untuk meningkatkan kekuatan otot perut. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan pelatihan ROC lebih efektif dari pelatihan PTT dalam meningkatkan kekuatan otot perut pada atlet putra peserta ekstrakurikuler pencak silat SMP Negeri 2 Kuta. Jenis penelitian true eksperimental dengan rancangan randomized pre-test and post-test with control groups design. Subjek penelitian adalah siswa putra peserta ekstrakulikuler pencak silat SMP Negeri 2 Kuta yang berjumlah 32 orang dan dibagi dalam dua kelompok. Kelompok 1 diberikan pelatihan ROC dan Kelompok 2 diberi pelatihan PTT, frekuensi latihan 3 kali seminggu selama 6 minggu. Pengukuran kekuatan otot perut dapat diukur menggunakan test sit-up selama 30 detik. Hasil penelitian pada ke dua kelompok didapatkan rerata kekuatan otot perut sebelum pelatihan ROC 19,1±3,7 per 30 detik, sedangkan sesudah pelatihan menjadi 24,9±4,4 per 30 detik. Rerata kekuatan otot perut sebelum pelatihan PTT 18,1±3,2 per 30 detik, sedangkan sesudah pelatihan PTT menjadi 20,3±3,5 per 30 detik. Uji beda rerata kekuatan otot perut antara Kelompok 1 dan Kelompok 2 dengan menggunakan independent t-test menunjukan bahwa p = 0,00 (p<0,05). Dapat disimpulkan bahwa intervensi pada Kelompok 1 maupun Kelompok 2 memberikan efek kekuatan otot perut yang signifikan dimana intervensi ROC lebih meningkatkan kekuatan otot perut atlet putra peserta ekstrakurikuler pencak silat SMP Negeri 2 Kuta. Saran pada penelitian ini diharapkan para pelatih dapat memberikan pelatihan dengan tepat dan menggunakan metode monitoring evaluasi untuk meningkatkan pencapaian prestasi atlet. Kata Kunci: Reaching Oblique Crunch, Pilate Toe Taps, Kekuatan Otot Perut, Pencak Silat
TWELVE BALANCE EXERCISE LEBIH EFEKTIF DALAM MENURUNKAN RISIKO JATUH DIBANDING OTAGO HOME EXERCISE PADA LANJUT USIA DI BANJAR TAINSIAT, DESA DANGIN PURI KAJA, DENPASAR, BALI Anak Agung Gede Angga Puspa Negara; RA. Tuty Kuswardhani; Muh. Irfan; I Nyoman Adiputra; Susy Purnawati; I Made Jawi
Sport and Fitness Journal Vol 8 No 3 (2020): Volume 8, No. 3, September 2020
Publisher : Program Studi Magister Fisiologi Keolahragaan, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/spj.2020.v08.i03.p14

Abstract

Pendahuluan: Penuaan diiringi oleh penurunan kemampuan fungsional tubuh sehingga meningkatkan risiko terjadinya jatuh pada lansia. Di Indonesia dilaporkan sekitar 17 % bahwa jatuh terjadi, dan di Bali dilaporkan dari keseluruhan lansia yang datang ke Instalasi Gawat Darurat di salah satu rumah sakit di Bali sebesar, 3% disebabkan oleh karena jatuh. Penilitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah twelve balance exercise lebih efektif dalam menurunkan risiko jatuh dibanding otago home exercise pada lansia. Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan randomized pre and post test group design. Penelitian ini menggunakan 36 orang yang merupakan anggota komunitas lansia di Banjar Tainsiat Denpasar.. Kelompok 1 diberikan twelve balance exercise, sedangkan Kelompok 2 diberikan otago home exercise. Tiap kelompok diberikan pelatihan selama 6 minggu sebanyak 3 kali dalam seminggu. Risiko jatuh diukur menggunakan berg balance scale (BBS). Hasil: Analisis data menunjukan bahwa terdapat peningkatan nilai BBS secara bermakna pada kedua kelompok. Pada Kelompok 1 didapatkan peningkatan nilai BBS sebesar (5,06±1,305) dengan p0,000 (p<0,05) dan pada Kelompok 2 didapatkan peningkatan nilai BBS sebesar (2,78±0,647) dengan p0,000 (p<0,05), dan uji perbandingan peningkatan nilai BBS pada kedua kelompok menghasilkan nilai p0,000 (p<0,05). Simpulan: twelve balance exercise lebih efektif dalam menurunkan risiko jatuh dibanding otago home exercise pada lanjut usia di Banjar Tainsiat, Desa Dangin Puri Kaja, Denpasar, Bali. Kata kunci : twelve balance exercise, otago home exercise, berg balance scale
TERAPI ULTRASOUND DENGAN LATIHAN HOLD RELAX DAN PASSIVE STRETCHING SAMA EFEKTIFNYA DALAM MENINGKATKAN FLEKSIBILITAS OTOT HAMSTRING PADA PASIEN OSTEOARTHRITIS GENU DI RSUP SANGLAH DENPASAR BALI Eka Oktafianti; Luh Putu Ratna Sundari; Muhammad Ali Imron; Ketut Tirtayasa; I Putu Adhiartha Griadhi; Luh Made. Indah Sri Handari Adiputra
Sport and Fitness Journal Vol 8 No 3 (2020): Volume 8, No. 3, September 2020
Publisher : Program Studi Magister Fisiologi Keolahragaan, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/spj.2020.v08.i03.p05

Abstract

Latar Belakang : Osteoarthritis lutut merupakan penyakit degeneratif yang bersifat progresif, dimana menyebabkan perubahan morfologis khususnya pada tulang rawan. Penderita osteoarthritis cenderung bermasalah dengan fleksibilitas otot hamstring dikarenakan lama osteoarthritis yang diderita sehingga mengakibatkan pemendekan otot hamstring. Pemendekan otot hamstring merupakan kondisi otot yang terjadinya penurunan elastisitas dan fleksibilitas otot atau pemendekan otot, dikarenakan pada saat otot bekerja secara terus-menerus, respon otot lebih cepat untuk membuat otot yang berlawanan terjadinya ketegangan dan pemendekan, serta akan menyebabkan otot yang bekerja lebih sedikit menjadi lemah. Tujuan : untuk membuktikan dalam peningkatan fleksibilitas otot hamstring pada pasien osteoarthritis lutut. Metode : two groups pre and post test design, populasi yang diambil adalah penderita osteoarthritis lutut yang mengalami gangguan pada fleksibilitas otot hamstring di RSUP Sanglah Denpasar Bali. Sampel dari penelitian ini telah dikelompokkan menggunakan tehnik purposive sampling. Total sampel 18 orang dibagi 2 kelompok yaitu 9 orang dalam setiap kelompok. Pada Kelompok I diberikan Terapi ultrasound dengan latihan hold relax dan Kelompok II diberikan terapi ultrasound dengan latihan passive stretching selama 6 minggu dengan 3 kali terapi perminggu. Untuk pengukuran tingkat fleksibilitas otot hamstring dengan menggunakan Chair Sit And Reach Test. Hasil : Berdasarkan nilai Chair Sit And Reach Test sebelum intervensi untuk Kelompok I dengan rerata 26,56±1,50cm menurun menjadi 22,89±1,69cm dan pada Kelompok II data awal dengan rerata 25,67±1,22cm menurun menjadi 22,56±1,13cm. Hasil dari analisis kemaknaan uji T - Independent membuktikan bahwa nilai p=0,631 dimana nilai p>0.05. Bahwa di antara kedua kelompok setelah diberi perlakuan tidak berbeda bermakna pada peningkatan fleksibilitas otot hamstring di RSUP Sanglah Denpasar Bali. Kesimpulan : Bahwa terapi ultrasonic dengan latihan hold relax dan passive stretching tidak berbeda bermakna pada peningkatan fleksibilitas otot Hamstring di RSUP Sanglah Denpasar Bali. Kata Kunci: Terapi Ultrasonic, Hold Relax, Passive Stretching. Fleksibilitas otot hamstring, Osteoarthritis Genu.