cover
Contact Name
Isnen Fitri
Contact Email
isnen@usu.ac.id
Phone
+62911-323382
Journal Mail Official
kapata.arkeologi@gmail.com
Editorial Address
Jalan Namalatu-Latuhalat, Kec. Nusaniwe, Kota Ambon, Maluku 97118, Indonesia
Location
Kota ambon,
Maluku
INDONESIA
Kapata Arkeologi
Published by Balai Arkeologi Maluku
Kapata Arkeologi is aims to be a peer-reviewed platform and an authoritative source of information. All papers are peer-reviewed by at least two referees. Kapata Arkeologi is managed to be issued twice in every volume. Kapata Arkeologi publish original research papers, review articles, case studies and conceptual ideas or theories focused on archaeological research and other disciplines related to humans and culture. The Scope of Kapata Arkeologi is: Archaeology Anthropology History Cultural Studies
Articles 316 Documents
Varieties and Origins of Kampai Island Glass Beads Ery Soedewo
Kapata Arkeologi Vol. 14 No. 2 (2018)
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v14i2.532

Abstract

Manik-manik kaca yang ditemukan di berbagai situs arkeologi di Asia Selatan dan Asia Tenggara antara abad 1 dan 13 umumnya disebut sebagai manik-manik kaca Indo-Pasifik. Berbagai bentuk dan warna manik-manik kaca ditemukan di Pulau Kampai, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Data yang dikumpulkan dari manik-manik kaca diperoleh dari penggalian arkeologi di Pulau Kampai. Dalam menganalisis varietas manik-manik kaca, penelitian ini mengkarakterisasi varietas manik-manik kaca Pulau Kampai berdasarkan tipologi dan frekuensi, yaitu manik-manik kaca polos dan manik-manik kaca berlekuk. Sejumlah manik-manik kaca ini dianalisis di laboratorium untuk mengidentifikasi komposisi bahan. Dalam menentukan asal produksi manik-manik kaca, penelitian ini menggunakan metode komparatif pada beberapa penelitian yang terpublikasi. Melalui perbandingan temuan limbah manik-manik kaca dari pusat produksi Arikamedu dan manik-manik kaca di Papanaidupet (India) dan Gudo (Indonesia), hasilnya diketahui bahwa Pulau Kampai adalah tempat produksi manik-manik kaca di wilayah Selat Malaka antara abad ke-11 hingga ke-14. Munculnya pulau Kampai sebagai tempat produksi manik-manik kaca pada abad ke-11 kemungkinan disebabkan oleh kondisi geopolitik. Tradisi pembuatan manik-manik kaca menyebar ke Pulau Kampai karena pengaruh Kerajaan Caka meningkat di wilayah Selat Malaka setelah ekspansinya ke beberapa tempat di wilayah tersebut.The glass beads discovered in various archaeological sites in South Asia and Southeast Asia between the 1st and 13th centuries were generally referred to as Indo-Pacific glass beads. Various shapes and colors of glass beads are found on Kampai Island, Langkat Regency, Sumatera Utara. Collected data of glass beads were obtained from archaeological excavations in Kampai Island. In analyzing varieties of glass beads, this study characterizes the variety of Kampai Island glass beads based on their typology and frequency, i.e., drawn glass beads and wound glass beads. A number of these glass beads were analyzed in the laboratory to identify the composition of the ingredients. In determining the origin of glass beads production, this study used a comparative method on some published research. Through comparison of the findings of glass beads wastes from Arikamedu and glass beads production centers in Papanaidupet (India) and Gudo (Indonesia), the result finds that Kampai Island was a glass beads production site in the Malacca Strait region between 11th–14th centuries. The emergence of Kampai island as a glass beads production site in the 11th century was likely a result of geopolitical conditions. Glass bead making traditions spread to Kampai Island as Cōla Kingdom influences rose in Malacca Strait region after its expansion to several places in that region.
Recent Rock Art Research on East Seram, Maluku: A key site in the rock art of West Papua and South East Maluku Oktaviana, Adhi Agus; Lape, Peter Van; Ririmasse, Marlon NR
Kapata Arkeologi Vol. 14 No. 2 (2018)
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v14i2.534

Abstract

Gambar cadas di Indonesia mulai diteliti sejak sebelum abad 20. Sejumlah publikasi ilmiah sebelumnya mencatat keberadaan situs gambar cadas di Pulau Seram, Provinsi Maluku yaitu di tebing Sawai dan Sungai Tala. Survei arkeologi terkini di kawasan Seram Timur dan Seram Laut yang dilakukan oleh gabungan Tim Peneliti Indonesian-American berhasil menemukan Situs gambar cadas baru di pesisir Seram Timur. gambar cadas ini terlukiskan di permukaan dinding tebing bernama lokal tebing Watu Sika. Gambar cadas di Situs Watu Sika tampak mirip dengan sejumlah situs gambar cadas lainnya di Indonesia Timur yang sebagian besar terlukis di dinding tebing karst sepanjang wilayah pesisir. Penelitian ini menggunakan metode perekaman verbal dan piktorial dibantu aplikasi Dstretch untuk memperjelas gambar-gambar agar mudah diidentifikasi. Penelitian ini menganalisis sejumlah pola figuratif dan non figuratif pada motif-motif gambar cadas di Situs Watu Sika. Hasil identifikasi terhadap sejumlah motif gambar cadas di situs ini diketahui terdapat motif gambar cadas berbentuk figur manusia, hewan, ikan, perahu, hand stencils negatif, dan pola geometris. Penelitian ini juga membahas analisis latar belakang konteks sosial terhadap tradisi gambar cadas di wilayah sekitarnya, yaitu wilayah Laut Banda. Berdasarkan jaringan persebaran temuan gambar cadas di Indonesia Timur, maka menghasilkan pengetahuan baru bahwa analisis data sementara ini menunjukkan Situs Watu Sika merupakan kunci penghubung jalur persebaran gambar cadas yang berasal dari wilayah barat ke dua jalur, pertama jalur ke arah Timur Laut, yaitu wilayah Papua dan Jalur ke Selatan, yaitu ke arah Kepulauan di sekitar Laut Banda.Rock art in Indonesia has been investigated before the 20th century. A number of previous scientific publications noted the existence of rock art sites on Seram Island, Maluku Province, which was on the cliff of Sawai and Tala River. Recent archaeological surveys in the area of East Seram and Seram Laut conducted by a joint Indonesian-American Research Team discovered a new rock art site in the coast of East Seram. The rock art is painted on the cliff wall which is called by the locals as Watu Sika. Rock art on the Watu Sika Site is similar to a number of rock art at other sites in Eastern Indonesia which were mostly painted on karstic cliffs along the coast. This study used verbal and pictorial recording methods using the Dstretch application to clarify images to support identification. This study analyzed a number of figurative and non-figurative patterns of rock art motifs at Watu Sika Site. The results of the identification of a number of rock art motifs on this site show that there are several patterns including figures of human, animal, fish, boats, negative hand stencils, and geometric patterns. This study also discussed an analysis of the social context background of rock art tradition in the surrounding region, particularly at the Banda Sea region. Based on the distribution network of rock art findings in eastern Indonesia, new insights are generated that this interim data analysis show that Watu Sika Site is the key to connecting the distribution path of rock art originating from the western region into two lanes. The first lane to the Northeast, which is the Papua region and South Lane, expanding towards the Islands around the Banda Sea.
A Latest Discovery of Austronesian Rock Art in the North Peninsula of Buano Island, Maluku Muhammad Al Mujabuddawat; Godlief Arsthen Peseletehaha
Kapata Arkeologi Vol. 16 No. 1 (2020)
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v16i1.13-26

Abstract

Gambar cadas merupakan salah satu tradisi yang tertua dan paling banyak tersebar di penjuru dunia. Gambar cadas menjadi bagian dari data penting dalam mempelajari masa lalu, karena gambar cadas kemungkinan mengandung makna pada pemikiran simbolik manusia yang membuatnya. Gambar cadas di Indonesia merupakan budaya yang berlangsung berkesinambungan sejak periode awal gelombang migrasi manusia di Kepulauan Indonesia sekitar puluhan ribu tahun hingga kedatangan penutur budaya Austronesia yang membuka periode Neolitik sekitar ribuan tahun lalu. Gambar cadas di Kawasan Kepulauan Maluku Bagian Tengah pada khususnya secara umum dikenali berciri Tradisi Gambar Austronesia atau lebih dikenal dengan sebutan APT (Austronesian Painting Tradition). Penelitian ini melaporkan temuan baru gambar cadas di di Situs Tanjung Bintang, Pulau Pua, Pesisir Utara Pulau Buano. Penelitian ini menerapkan metode kualitatif dan analitis dalam mendeskripsikan objek motif gambar cadas berdasarkan kajian literatur terkait referensi-referensi yang merujuk pada kajian gambar cadas di Maluku. Penelitian ini mengenali bahwa gambar cadas di Situs Tanjung Bintang berciri Tradisi Gambar Austronesia. Kajian ini merupakan yang pertama kali melaporkan keberadaan Situs Tanjung Bintang, gambar cadas di Pesisir Utara Pulau Buano, Kepulauan Maluku. Rock art is one of the oldest and most widespread traditions around the world. Rock art is part of essential data in studying the past because rock art has the potential to tell us something of the symbolic concerns of the people that created it. Rock art in Indonesia is a culture that has been ongoing since the early period of the wave of human migration in the Indonesian Archipelago for about tens of thousands of years until the arrival of the Austronesian speaker’s culture who opened the Neolithic period around thousands of years ago. Rock art in the Central Maluku Islands Region in particular, is generally recognized as characterized by the Austronesian Painting Tradition. This research reports new rock art findings at Tanjung Bintang Site, Pua Island, North Coast of Buano Island. This research applies qualitative and analytical methods in describing the object of rock art motifs based on a literature review related to references that refer to the study of rock art in Maluku. This research recognizes that the Tanjung Bintang Site is characterized by the Austronesian Painting Tradition. This study is the first record of the Tanjung Bintang Site rock art in the North Coast of Buano Island, Maluku.
Rock Art at Kel Lein Site, Kaimear Island, Maluku Lucas Wattimena; Marlyn J. Salhuteru; Godlief Arsthen Peseletehaha
Kapata Arkeologi Vol. 16 No. 1 (2020)
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v16i1.1-12

Abstract

Situs Kel Lein di Pulau Kaimear, Kepulauan Kei, adalah salah satu situs gambar cadas yang baru ditemukan. Situs ini dilaporkan pada 2018 dan dilanjutkan dengan perekaman data intensif pada tahun berikutnya. Berbagai motif seni cadas yang tersebar di sepanjang teras, dinding, dan atap ceruk gua dibagi menjadi tujuh panel. Pendekatan dalam penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif. Data yang dikumpulkan dari survei lapangan pada tahun 2018, ditambah data terbaru yang diperoleh pada tahun 2019. Analisis gambar cadas dibagi menjadi beberapa panel di dalam ceruk, terdiri dari tujuh panel. Penelitian ini mencatat 488 motif, yang dikelompokkan menjadi motif figur manusia atau antropomorfik, perahu, alat batu, cap tangan (negatif), jejak kaki, geometris, lingkaran, garis vertikal dan horizontal, wajah atau topeng manusia, ayam atau hewan, tempayan (tembikar), jaring ikan, matahari, bulan, dan panah. Penelitian ini menunjukkan bahwa banyak motif gambar cadas di Situs Kel Lein mengandung berbagai makna. Salah satunya adalah aktivitas manusia yang digambarkan dalam bentuk figuratif. Keragaman motif di Situs Kel Lein menempatkan situs ini pada posisi penting dalam kajian jalur migrasi manusia. Diperkirakan situs ini adalah salah satu lokasi yang cukup ramai disinggahi pada masa lalu. The Kel Lein Site in Kaimear Island, Kei Islands, is a recently discovered rock art site. This site was reported in 2018 and continued with intensive data recording the following year. Various rock art motifs scattered along the terrace, walls, and roof of the niche are divided into seven panels. The approach in this research uses descriptive qualitative. The data collected from a field survey in 2018, plus the latest data obtained in 2019. The rock art analysis is divided into several panels inside the niche, comprising seven panels. This research recorded 488 motifs, grouped into human or anthropomorphic figure, boats, stone tools, hand stencils (negative), footprints, geometric, circles, vertical and horizontal lines, human faces or masks, chickens, jars (pottery), fishing nets, sun, moon, and arrowheads. This research shows that many rock art motifs on the Kel Lein Site show various purposes. One of which is human activity depicted in a figurative form. The diversity of motifs at the Kel Lein Site places this site in a vital position in studying human migration pathways. It is estimated that this site is one of the most visited posts in the past.
Archaeological Object as Tourism in Samosir Island Femmy Indriany Dalimunthe; Ketut Wiradnyana
Kapata Arkeologi Vol. 16 No. 1 (2020)
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v16i1.27-40

Abstract

Pulau Samosir berada di tengah-tengah Danau Toba sebagai bagian dari proses geologi terkait dengan erupsi Gunung Toba. Keberadaan danau itu sendiri menjadi daya tarik sebuah objek wisata. Adanya berbagai tinggalan arkeologis berupa objek megalitik terkait dengan tradisi upacara kematian masyarakat Batak Toba yang berlangsung sejak lama. Prosesi kematian dan adat istiadat yang masih berlangsung hingga saat ini disadari menjadi sebuah atraksi wisata yang menarik minat wisatawan jika dikembangkan. Pengelolaan objek tradisi megalitik sebagai objek pariwisata di wilayah ini relatif belum maksimal, sehingga diperlukan upaya mengidentifikasi objek-objek dimaksud disertai dengan uraian informasi yang bersifat ilmiah serta membangun konsep pariwisata yang ideal. Berkenaan dengan itu wadah kubur dan objek arkeologis lainnya menjadi uraian kajian, disertai dengan konsep pengembangan pariwisata berkarakter lokal menjadi bagian dari pembahasannya. Metode dalam penelitian ini adalah deskriptif analisis, dan studi kepustakaan. Objek-objek arkeologi dideskripsikan lalu diinterpretasi secara induktif atas analogi dengan objek sejenis di tempat lainnya. Berdasarkan hasil pembahasan di dalam penelitian ini, dapat diperoleh kesimpulan bahwa tinggalan arkeologi di Pulau Samosir didominasi oleh wadah kubur yang merupakan tradisi megalitik. Tradisi megalitik ini erat berkaitan dengan konsepsi upacara kematian yang masih berlangsung di masyarakat Batak Toba saat ini. Keterkaitan antara objek arkeologi dengan tradisi masyarakat yang masih berlangsung dapat dikemas dalam satu ide pariwisata minat khusus objek sejarah berkarakter lokal. Pengelolaan pariwisata yang melibatkan masyarakat lokal diharapkan dapat memberikan dampak langsung baik secara ekonomi maupun merawat keberlangsungan tradisi dan objek arkeologi itu sendiri, juga memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi atraksi wisata dalam perspektif baru di Pulau Samosir. Samosir Island is in the middle of Lake Toba as part of a geological process related to Mount Toba's eruption. The existence of the lake itself becomes an attraction for a tourist attraction. There are various archaeological remains in the form of megalithic objects related to the Toba Batak community death ceremony tradition, which has lasted a long time. The procession of death and customs, which are still ongoing today, is considered a tourist attraction that will attract tourists if developed. The management of megalithic tradition as tourism objects in this region is relatively inadequate. Efforts to identify these objects are required, accompanied by descriptions of scientific information and building an ideal tourism concept. Therefore, burial container and other archaeological objects are the study's description, accompanied by the concept of developing tourism with local character as part of the discussion. The method in this research is descriptive analysis and literature study. Archaeological objects are described and interpreted inductively. The results of this study concluded that the archaeological remains on Samosir Island are dominated by burial containers, which belong to the megalithic tradition. This megalithic tradition is closely related to the conception of death ceremonies which is still sustained in the Batak Toba community today. The relationship between archaeological objects and community traditions can be packaged into tourism ideas of ​​particular interest of local character. Tourism management that involves local communities is expected to impact economically and maintain both the traditions and archaeological objects themselves. This idea is also considered to have great potential for tourist attractions of a new perspective in Samosir Island.
Subsistence Strategy of Here Sorot Entapa Cave in Kisar Island, Maluku: Dwelling Site in Island with Limited Terrestrial Resources nfn Alifah; nfn Mahirta
Kapata Arkeologi Vol. 17 No. 1 (2021)
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v17i1.1-12

Abstract

Penelitian di wilayah Wallacea selalu menghasilkan informasi yang menarik, salah satunya adalah mengenai peran pulau-pulau yang berada di wilayah ini dalam jalur migrasi manusia. Beberapa pulau kecil yang ada di wilayah ini merupakan pulau dengan sumber daya alam yang terbatas. Gua Here Sorot Entapa merupakan salah satu situs yang terletak di Kawasan Wallacea bagian Tenggara, yaitu di Pulau Kisar. Hasil ekskavasi yang dilakukan telah menemukan akumulasi artefak, ekofak dan fitur. Lalu bagaimana adaptasi yang dilakukan oleh manusia pada masa itu terhadap lingkungan dengan sumberdaya alam yang terbatas, merupakan hal yang akan dibahas dalam tulisan ini. Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah analisis hasil ekskavasi yang dilakukan oleh Tim Penelitian gabungan UGM dan ANU serta Balai Arkeologi Maluku. Untuk mengetahui perubahan lingkungan dan pemanfaatannya akan digunakan data botani yang diperoleh secara langsung maupun studi pustaka. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Gua Here Sorot Entapa dihuni sejak sekitar 16.000 BP. Pemanfaatan sumberdaya laut merupakan subsistensi utama di samping pemanfaatan beberapa jenis tumbuhan yang secara kuantitas berbanding lurus dengan pemanfaatan sumberdaya laut. Research in the Wallacea area always produces exciting information, including the role of the islands in this region in human migration routes. Several small islands in this region are islands with limited terrestrial resources. Here Sorot Entapa cave is one of the sites located on Kisar Island, Southeast Wallacea region. The occupation of small islands presents particular challenges for human communities related to limited terrestrial resources and susceptibility to natural disasters. Then how the adaptation made by humans at that time in an environment with limited terrestrial resources is discussed in this study. This study used excavation methods to obtain data accumulation of artifacts, ecofacts, and features. Literature study and botanical data analysis were used to determine environmental changes and resource utilization. The results of this study indicate that the Here Sorot Entapa Cave has been occupied since around 16,000 BP. Marine resources were the primary subsistence along with several types of plants food in the same quantity. The function of the Here Sorot Entapa Cave may also be related to the existence of rock art that spread on Kisar Island. Eventually, Kisar Island was the main purpose of a prehistoric human in carrying out religious and artistic activities, and the Here Sorot Entapa Cave served as a temporary shelter for these activities.
Moral Dilemma in Education of Baduy Community Mikka Wildha Nurrochsyam
Kapata Arkeologi Vol. 17 No. 2 (2021)
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v17i2.85-96

Abstract

Dewasa ini masyarakat Baduy mengalami dilema moral dalam pendidikan. Dilema moral terlihat dari dua pilihan yaitu di satu sisi sekolah ditolak karena dianggap bertentangan dengan adat atau tradisi. Orang Baduy yang bersekolah terbukti banyak yang meninggalkan tradisi dan adat Baduy. Di sisi lain sekolah diterima karena menjadi sarana untuk mencapai kehidupan yang sejahtera. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dilema moral pendidikan dalam masyarakat Baduy yang terbagi atas masyarakat Baduy Dalam dan Baduy Luar serta merumuskan jenis pendidikan yang sesuai dengan budaya mereka. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, dengan menggunakan metode studi kasus. Data-data diperoleh dari wawancara mendalam dengan para informan sedangkan analisis penelitian menggunakan analisis kritis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Baduy menempati tingkat kesadaran moral konvensional, yaitu moralitas kelompok menjadi ukuran kebaikan, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa terdapat orang-orang yang kritis yang menempati tingkat kesadaran pasca konvensional. Berdasarkan atas tingkat kesadaran moral ini maka jenis pendidikan yang sesuai dengan budaya masyarakat Baduy Dalam adalah pendidikan nonformal yang diorientasikan untuk memperkuat adat dan tradisi; dan bagi masyarakat Baduy Luar jenis pendidikan yang sesuai adalah pendidikan formal yang diorientasikan untuk kesejahteraan hidup komunitas. Baduy community nowadays experiences a moral dilemma in education. The moral dilemma can be seen from two choices, where on one side, the school was rejected because it was considered to be contrary to custom or tradition. Many of the Baduy people who go to school leave the traditions and customs of Baduy. On the other hand, the schools welcomed because they become a means to achieve a prosperous life. This research aims to describe the moral dilemma in the education of the Baduy community, which is divided into Baduy Dalam and Baduy Luar communities, and formulate the types of education following their culture. This is qualitative research using a case research method. The data were obtained by conducting in-depth interviews with informants, while the analysis method used was critical analysis. Results of the research indicated that Baduy people occupied the conventional moral awareness level, namely group morality, as a measure of goodness. The results also indicated that critical people occupied the post-conventional awareness level. Based on this moral awareness level, then the type of education following the culture of the Baduy Dalam community were non-formal education oriented to strengthen the customs and traditions. At the same time, the appropriate type of education for the Baduy Luar community was formal education oriented to the community's welfare.
A Study of the Toponyms of Natural Topography in Siak, Riau Province Imelda Yance
Kapata Arkeologi Vol. 17 No. 1 (2021)
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v17i1.43-54

Abstract

Toponimi bentangan alam wilayah Kabupaten Siak, Provinsi Riau sebagai bekas pusat kerajaan Melayu di Riau sangat menarik karena sangat konkret menggambarkan lanskap lingkungannya. Kekonkretan toponimi itu dapat dilihat dalam relasinya dengan manusia, sejarah, geografis, bahkan budaya. Penelitian ini difokuskan pada toponimi rupabumi alami, antara lain perbukitan, tasik, selat, tanjung, dan sungai di Kabupaten dengan tinjauan linguistik antropologis. Aspek yang diteliti mencakup bentuk dan aspek geografis toponimi, fungsinya, dan sistem kognisi orang Melayu Siak yang tecermin di dalamnya. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif dan metode deskriptif. Dari analisis data, toponimi alami di Kabupaten Siak dinamai dengan bahasa Melayu Riau. Bentuk leksikonnya berupa kata kompleks atau frasa yang selalu diawali dengan nama generik. Pada umumnya, toponimi dilatarbelakangi oleh aspek fisikal. Tidak banyak toponimi yang dilatarbelakangi oleh aspek sosial, kultural, atau oleh aspek fisik-sosial. Toponimi tersebut berfungsi untuk menandai, menjadi identitas formal, mendeskripsikan, dan sebagai pengingat latar belakang sejarah dan/atau sosial budaya suatu bentang alam. Makna leksikonnya mengungkapkan keeratan hubungan masyarakat Melayu Siak dengan lingkungannya. Toponimi alami di Kabupaten Siak mencerminkan kognisi orang Melayu Siak terkait dengan lingkungannya, baik fisik, sosial, maupun kultural dalam hal proses memanfaatkan, menghubungkan, konsep asimilasi, konsep akomodasi, konsep empirik, dan kreativitas. The toponyms of the landscape in Siak Regency as a former center of the Malay Kingdom in Riau is very significant in illustrating the landscape of its environment. The significance of toponym can be seen in its relation to humans, history, geography, and even culture. This research focuses on the natural topographical toponyms, including hills, lakes, straits, capes, and rivers in Siak Regency, Riau Province with anthropological linguistic reviews. This research was conducted with a qualitative approach and descriptive method. From the data analysis, the natural toponyms in Siak Regency are named after Riau Malay language. The lexicon is a compound word or phrase that always starts with a generic name. In general, physical aspects have underlain the toponyms. There are not many toponyms underlain by social, cultural, or physical-social aspects. The toponyms serve to mark, become an identity (formal), describe, and as a reminder of the historical or socio-cultural background of a landscape. The meaning of the lexicon reveals the closeness of the relationship between Siak Malay community and its environment. The natural toponyms in Siak Regency reflect the cognition of Siak Malays related to their environment, both physical, social, and cultural environments, in terms of utilizing and connecting processes, assimilation concept, accommodation concept, empirical concept, and creativity.
Positive Identification on the Skull From Colonial Era in Balai Pemuda, Surabaya nfn Suhendra; Bagaskara Adhinugroho; Yusuf Bilal Abdillah; Biandro Wisnuyana; Ali Akbar Maulana; Bayoghanta Maulana Mahardika; Rizky Nur Andrian; Rizky Sugianto Putri; Delta Bayu Murti; Toetik Koesbardiati
Kapata Arkeologi Vol. 17 No. 1 (2021)
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v17i1.33-42

Abstract

Dua tengkorak manusia ditemukan saat pembangunan ruang bawah tanah pada 30 November 2016 hingga 1 Desember 2016, di Balai Pemuda, Surabaya, salah satu bangunan peninggalan masa kolonial di Indonesia. Penemuan dua tengkorak menimbulkan pertanyaan, seperti identitas dan konteks keberadaannya. Kedua tengkorak tersebut diberi kode identitas tengkorak 160689 dan tengkorak 160690. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap identitas tengkorak 160689 dan tengkorak 160690 berdasarkan prosedur identifikasi positif antropologi forensik. Penelitian ini menggunakan metode prosedur identifikasi antropologi forensik. Metode ini diterapkan secara berurutan, pertama umur, kedua jenis kelamin, ketiga afiliasi populasi, keempat tinggi badan, dan terakhir karakteristik individu. Menariknya, karakteristik individu tengkorak 160690 ditemukan sejumlah bukti berbeda yang menjelaskan identitasnya, yaitu, modifikasi gigi, jejak penyakit, dan bentuk kepala asimetris. Berdasarkan hasil identifikasi positif pada tengkorak 160689 dan tengkorak 160690 menunjukkan bahwa kedua tengkorak tersebut berjenis kelamin perempuan dan berafiliasi dengan populasi ras Mongoloid. Terakhir, karakteristik individu dan deformasi pada daerah oksipital mengindikasikan deformasi yang tidak disengaja yang disebabkan oleh tekanan terus menerus pada sisi kiri daerah oksipital. Plagiocephaly bisa jadi akibat dari posisi tidur yang salah selama masa kanak-kanak. Two human skulls were found during basement construction from November 30th, 2016, to December 1st, 2016, in Balai Pemuda, Surabaya, one of Indonesia's colonial-era buildings. The discovery of two skulls raised questions, such as the identity and its context of existence. Both skulls were coded as skull 160689 and 160690. This research aimed to reveal the identity of skull 160689 and 160690 based on the positive identification procedure of forensic anthropology. This research applies the method of the forensic anthropology identification procedure. This method was used sequentially, firstly age, secondly gender, thirdly population affiliation, fourthly stature, and lastly, individual characteristics. Interestingly, the individual characteristics of skull 160690 have distinct evidence for explaining its identity, for instance, dental modification, disease markers, and asymmetrical head shape. Based on the positive identification results on skull 160689 and 160690 showed both skulls were female and affiliated with Mongoloid population. At last, individual characteristics and deformation on the occipital area were indicated as an unintentional deformation caused by pressure continuously on the left side of the occipital area. Plagiocephaly could be a result of incorrect sleeping position during childhood.
How Indonesian People in the Past Deal with Disaster Mitigation? An archaeological perspective Atina Winaya; Ashar Murdihastomo
Kapata Arkeologi Vol. 17 No. 1 (2021)
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v17i1.13-20

Abstract

Bencana alam adalah bagian dari riwayat bangsa kita sejak masa prasejarah. Meskipun bencana alam merupakan hal yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia, namun disadari masih kurang kesadaran dan kesiapan terhadap kondisi ini. Hal tersebut ditunjukkan dengan tingginya angka kerugian material dan non material dalam setiap kejadian bencana. Keadaan ini disebabkan oleh belum optimalnya pelaksanaan penanggulangan bencana di Indonesia, khususnya dalam mitigasi bencana. Untuk merumuskan konsepsi baru penanggulangan bencana, masyarakat saat ini harus belajar menghadapi bencana alam dari manusia di masa lalu. Nilai dan kearifan lokal masih relevan hingga saat ini karena kita hidup di nusantara yang sama. Sebagai ilmu yang mempelajari budaya manusia yang telah punah, arkeologi dapat membantu menjelaskan sejarah bencana di suatu wilayah dan dampaknya terhadap kehidupan manusia di masa lalu. Dengan menggunakan pendekatan studi kepustakaan, tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan aksi mitigasi bencana yang dilakukan oleh leluhur bangsa Indonesia sebagai acuan mitigasi bencana di zaman modern ini. Setidaknya ada dua sorotan nilai yang masih relevan. Pertama, pembinaan mental dan karakter masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana, dan kedua pembangunan fisik mengenai sifat bencana di masing-masing daerah. A natural disaster is part of our nation’s journey from the prehistoric era. Even though natural disaster is an inseparable matter with Indonesian people’s lives, but there is still a lack of awareness and readiness due to this issue. The high number sees it as material and non-material losses in every disaster event. This situation is caused by non-optimally disaster management implementation in Indonesia, especially in disaster mitigation. To formulate the new conception of disaster management, modern people should learn how to deal with natural disasters from ancient people. Values and local wisdom are still relevant today since we live in the same archipelago. As a science that studies extinct human culture, archaeology can help explain the history of disasters in a region and its impact on human life in the past. Using the literature study approach, this paper aims to describe disaster mitigation actions implemented by Indonesia’s ancestors as a reference to disaster mitigation in modern times. At least there are two highlights of values that are still relevant. First is the mental and character building of people who live in a disaster-prone area, and second is the physical development regarding the nature of disaster in each region.