cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota cirebon,
Jawa barat
INDONESIA
Holistik: Journal For Islamic Social Sciences
ISSN : 25277588     EISSN : 25279556     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Holistik Journal for Islamic Social Sciences is a publication containing the results of research, development, studies and ideas in the field of Islamic social sciences. Firstly published in 2016 and has been listed on PDII LIPI on May 27, 2016, Holistik Journal published twice a year, in July and December. This Journal is open to the public, researchers, academics, practitioners and observers of mathematics education.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 15, No 2 (2014)" : 10 Documents clear
TRADISI PESNTREN DAN KONSTRUKSI NILAI KEARIFAN LOKAL DI PONDOK PESANTREN NURUL HUDA MUNJUL ASTANAJAPURA CIREBON Wardah Nuroniyah
Holistik Vol 15, No 2 (2014)
Publisher : LP2M IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (415.082 KB) | DOI: 10.24235/holistik.v15i2.335

Abstract

Pesantren Nurul Huda Munjul Astanajapura Cirebon. Secara konseptual, studi ini diorientasikan untuk menemukan konstruksi nilai-nilai kearifan lokal dan dampak pemeliharaan nilai-nilai kearifan lokal terhadap pola pikir dan tingkah laku civitas di pondok pesantren ini. Dengan memanfaatkan metode penelitian kualitatif, studi ini melahirkan beberapa temuan, antara lain: pertama, adanya budaya patron klien dalam hubungan antara kiai dan santri. Budaya ini berdampak pada makin besarnya kharisma seorang kiai di mata santri dan pesantren terkendali oleh kepemimpinan kharismatik sang Kiai. Kedua, sowan dan berkah. Para santri sebagai subyek yang banyak mencari manfaat “berkah” ini akan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan berkah dari sang kiai seperti menjadi sopir atau abdi dalem kiai, tukang suruh atau tukang pijat kiai, meminum dan memakan sisa minuman dan makanan sang kiai, menjaga barang-barang kiai, dan lain sebagainya. Sowan dan berkah berdampak melanggengkan hubungan yang erat antara kiai dan santri. Ketiga, bandongan dan sorogan. Sistem pengajaran menggunakan sorogan dan bandongan berdampak pada rigidnya pengajaran teks klasik dan terhambatnya sistem pengajaran modern berbasis informasi dan teknologi. Keempat, tahlilan dan ziarah kubur. Kedua ritual peribadatan ini berdampak pula pada langgengnya hubungan antara kiai dan santri, walaupun kiai mereka telah wafat, ada kewajiban moral untuk mendoakannya melalui tahlil dan ziarah kubur dan juga berdampak pada peningkatan spriritualitas masyarakat pesantren. Dan kelima, adanya Tarekat Syahadatain, yang menekankan pada Ma’rifat billah (eling Allah). Jenis tarekat ini berdampak pada makin meningkatnya spritualitas dan religiusitas jama’ah Syahadatain.Kata Kunci: Pondok pesantren Nurul Huda Munjul Cirebon, Tradisi Pesantren, Kearifan Lokal, Konstruksi Nilai.
PEMAHAMAN KEAGAMAAN PESANTREN SALAFI (Studi Komparatif Pondok Pesantren As-Sunnah Kalitanjung dan Al-Muttaqin Gronggong Kab. Cirebon) Hajam Hajam
Holistik Vol 15, No 2 (2014)
Publisher : LP2M IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (401.537 KB) | DOI: 10.24235/holistik.v15i2.331

Abstract

Artikel ini bertujuan mendeskripsikan pemahaman keagamaan di pesantren yang berbasiskan salafi. Pondok Pesantren As-Sunnah Kalitanjung dan Al- Muttaqin Gronggong Kab. Cirebon dijadikan sebagai obyek kajian. Dengan metode kualitatif dan pendekatan historis, menemukan beberapa kesimpulan, antara lain: (1) Paham yang diusung as-Sunnah dan Al-Muttaqin masih mempertahankan pendekatan tekstualis dalam memahami Al-Qur’an dan hadis dan jauh dari kontekstualnya serta tanpa ada studi kritik matan atau sanad; (2) Doktrin-doktrin tauhidnya bersifat teosentris. Dari doktrin teologi teosentris tersebut menyebabkan kurang akrabnya terhadap tradisi, dan sering kali mengklaim bid’ah dan syirik terhadap prilaku yang dinilai jauh dari aqidah salafi; (3) Bidang tasawuf di Pondok Pesantren As-Sunnah dan Al-Muttaqin masih sangat terbatas, bahkan, tasawuf hanya identik dengan Zuhud yang dimaknai hidup sederhana. Tasawuf belum sampai pada wilayah Irfani dan falsafi. Gerakan-gerakan keimanan dan peribadatan lebih dimaknai sebagai implementasi dari wilayah syariah.Kata Kunci: Pemahaman Keagamaan, Salafi, Pesantren As-Sunnah, Pesantren Al-Muttaqin
MASA DEPAN IAIN SYEKH NURJATI CIREBON: Strategi Kampus Entrepreuner Berbasis Lokal Aan Jaelani
Holistik Vol 15, No 2 (2014)
Publisher : LP2M IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (540.342 KB) | DOI: 10.24235/holistik.v15i2.337

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan paradigma entrepreuner di IAIN Syekh Nurjati. Paradigma ini dibutuhkan untuk melakukan perbaikan kualitas akademika di IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Hal ini dilandasi bahwa reformasi yang dilakukan tetap harus menciptakan keseimbangan antara kemampuan untuk menghimpun sumber daya dan menghasilkan produk, yang dalam konteks pendidikan tinggi adalah lulusan yang berupa sumber daya manusia, yang berkualitas, berguna, berbekal keahlian yang mumpuni dan ikut membangun masyarakat ke arah yang kehidupan yang lebih baik. Meski demikian, arah globalisasi pendidikan tinggi diharapkan tidak terlalu mementingkan kebutuhan ekonomi melalui komodifikasi institusi. Secara konseptual, tulisan ini menawarkan model pengembangan academic entrepreneurship dalam membentuk jiwa kewirausahaan mahasiswa, antara lain melalui kerjasama program poverty alleviation yang dimiliki lembaga-lembaga yang otoritatif dan memiliki kedekatan dengan pengembangan kewirausahaan.Kata Kunci: Entrepreneurship, academic entrepreneurship, program poverty alleviation, kewirausahaan mahasiswa
INTEGRASI MODAL SOSIAL DAN BUDAYA DALAM PENGEMBANGAN NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DI PONDOK PESANTREN MODERN AS-SAKINAH SLIYEG INDRAMAYU Sopidi Sopidi
Holistik Vol 15, No 2 (2014)
Publisher : LP2M IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (442.992 KB) | DOI: 10.24235/holistik.v15i2.332

Abstract

Artikel ini mendeskripsikan tentang modal sosial dan modal budaya dalam pengembangan pendidikan karakter di pondok pesantren modern As-Sakinah Sliyeg Indramayu. Dengan memanfaatkan metode kualitatif dan pendekatan fenomonologi, kajian ini dalam praktiknya berupaya memahami penyelenggaraan pendidikan di pondok pesantren As-Sakinah Sliyeg Indramayu. Ada beberapa temuan dalam kajian ini, antara lain a) Integrasi antara modal sosial dan budaya dalam penyelenggaraan pendidikan di pondok pesantren As-Sakinah Sliyeg Indramayu berprinsip pada pendidikan yang memanusiakan (humanity education) dengan menempatkan ide, perilaku dan kebiasaan para aktor seperti Kiai, ustadz, dan santri sebagai subyek penentu dalam penyelenggaraan pendidikan di pesantren ini; b) Pengembangan pendidikan karakter menggunakan pendekatan uswah atau tauladan dengan menempatkan para ustadz dan kiai sebagai subyek panutan atau figur yang ditiru oleh para santri di pesantren ini; dan c) Dampak modal sosial dan budaya terhadap pengembangan pendidikan karakter adalah menguatnya budaya patron-klien antara ustadz/kiai -yang lebih tinggi statusnya- dengan para santri -yang lebih rendah statusnya-.Kata Kunci: Integrasi, Modal Sosial, Modal Budaya, Pendidikan Karakter dan Pondok Pesantren
Budaya Organisasi Pesantren dalam Pengembangan Wirausaha Santri di Pesantren Wirausaha Lan Taburo Kota Cirebon Sri Rokhlinasari
Holistik Vol 15, No 2 (2014)
Publisher : LP2M IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (314.936 KB) | DOI: 10.24235/holistik.v15i2.344

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang budaya organisasi pesantren lantaburo dalam pengembangan wirausaha santri. Dengan menggunakan metode kualitatif-interpretif, kajian ini menemukan tiga kesimpulan. Pertama, budaya organisasi membantu dalam mengefektifkan organisasi yang pada gilirannya akan mempercepat pengembangan organisasi ke tingkat yang diinginkan. Budaya organisasi pesantren wirausaha lan taburo terbentuk dimulai dari filsafat pendiri pesantren, kriteria seleksi input, peran pimpinan pesantren dan sosialisasi; kedua, bangunan budaya organisasi pesantren didasarkan pada keyakinan dasar, yaitu setiap diri anggota pesantren wirausaha lantaburo terdapat suatu keyakinan dasar bahwa jika “bergerak” maka akan sukses, dengan mengikuti etos kerja Islam menurut ayat Al-Quran. Nilai-nilai budaya organisasi juga dipengaruhi pendiri/pimpinan yang dapat dirasakan oleh anggota organisasi, nilai-nilai itu disampaikan secara lisan dan melalui perilaku, namun belum tertulis; dan ketiga, karakter budaya organisasi pesantren cukup kuat ditandai adanya loyalitas bersama, organisasi memberi perhatian besar pada pengembangan orang-orangnya serta sangat mementingkan kohesivitas dan semangat kerja, budaya organisasi dengan jiwa entrepreneur dan kreatif.Kata Kunci: Budaya Organisasi, Pesantren Wirausaha, Kewirausahaan dan Interpretif.
MENCARI AKAR RUJUKAN AJARAN MA’RIFAT SYAIKH NURUDDAROIN PESANTREN “MUKASYAFAH ‘ARIFIN BILLAH” DESA KARANGSARI KECAMATAN WERU KABUPATEN CIREBON Suteja Suteja
Holistik Vol 15, No 2 (2014)
Publisher : LP2M IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (358.532 KB) | DOI: 10.24235/holistik.v15i2.328

Abstract

Artikel ini mendeskripsikan tentang akar-akar rujukan ajaran Ma’rifat SyaikhNuruddaroin di Pesantren Mukasyafah Arifin Billah Desa Karangsari Kec.Weru Kab. Cirebon. Dengan memanfaatkan metode kualitatif dan pendekatansosio-historis, kajian ini melahirkan beberapa temuan. Pertama, MuhammadNuruddaroin bertekad kuat ingin mencari Allah Swt. atas dasar kecintaan dankerinduannya yang teramat dalam ingin bertemu Dia. Pada tanggal 26 Rabi’ulAwwal 1338 H./1919 M. seusai shalat Jumat, tepatnya dari mulai jam dua siangsampai menjelang tiba waktu shalat Ashar, dia mengalami kelenger (fanâ`).Dia meyakini telah mengalami empat tingkatan kematian, yaitu mati abang,mati putih, mati ijo, dan mati ireng. Sejak saat itu, ia merasa telah mencapaimaqam inkisyâf. Ia meyakini peristiwa tersebut sebagai ma’rifah. Namundemikian, dia tidak menganut paham kesatuan hamba dengan Tuhannyaataupun bersemayamnya Tuhan dalam diri manusia. Ia tetap konsisten denganajaran ma’rifah al-Ghazali; kedua, Al-Ghazali membatasi ma’rifatullah kepadakemampuan (karunia)untuk mengenali rahaia dari banyak rahasia Allah, bukanmelhat atau bertemu (musyahadah) Alah di dunia. Dan ketiga, Musyahadahyang, diklaim Muhammad Nuruddaroin tidak terdapat dalam tasawuf al-Ghazali dan betentangan dengan konsep ma’rifat al-Ghazali.Kata Kunci: Tasawuf, Ma’rifat Syaikh Nuruddaroin, Pesantren MukasyafahArifin Billah dan Ma’rifah al-Ghazali.Artikel ini mendeskripsikan tentang akar-akar rujukan ajaran Ma’rifat SyaikhNuruddaroin di Pesantren Mukasyafah Arifin Billah Desa Karangsari Kec.Weru Kab. Cirebon. Dengan memanfaatkan metode kualitatif dan pendekatansosio-historis, kajian ini melahirkan beberapa temuan. Pertama, MuhammadNuruddaroin bertekad kuat ingin mencari Allah Swt. atas dasar kecintaan dankerinduannya yang teramat dalam ingin bertemu Dia. Pada tanggal 26 Rabi’ulAwwal 1338 H./1919 M. seusai shalat Jumat, tepatnya dari mulai jam dua siangsampai menjelang tiba waktu shalat Ashar, dia mengalami kelenger (fanâ`).Dia meyakini telah mengalami empat tingkatan kematian, yaitu mati abang,mati putih, mati ijo, dan mati ireng. Sejak saat itu, ia merasa telah mencapaimaqam inkisyâf. Ia meyakini peristiwa tersebut sebagai ma’rifah. Namundemikian, dia tidak menganut paham kesatuan hamba dengan Tuhannyaataupun bersemayamnya Tuhan dalam diri manusia. Ia tetap konsisten denganajaran ma’rifah al-Ghazali; kedua, Al-Ghazali membatasi ma’rifatullah kepadakemampuan (karunia)untuk mengenali rahaia dari banyak rahasia Allah, bukanmelhat atau bertemu (musyahadah) Alah di dunia. Dan ketiga, Musyahadahyang, diklaim Muhammad Nuruddaroin tidak terdapat dalam tasawuf al-Ghazali dan betentangan dengan konsep ma’rifat al-Ghazali.Kata Kunci: Tasawuf, Ma’rifat Syaikh Nuruddaroin, Pesantren MukasyafahArifin Billah dan Ma’rifah al-Ghazali.Kata Kunci: Tasawuf, Ma’rifat Syaikh Nuruddaroin, Pesantren Mukasyafah Arifin Billah dan Ma’rifah al-Ghazali.
LIVING HADITS: FENOMENA BEKAM DI PESANTREN ERETAN INDRAMAYU Umayah Umayah
Holistik Vol 15, No 2 (2014)
Publisher : LP2M IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (396.63 KB) | DOI: 10.24235/holistik.v15i2.333

Abstract

Dengan menggunakan pendekatan kualitatif penulis menemukan data yaitu bahwa bekam menurut masyarakat pesantren Darussalam Eretan Indramayu yaitu; pertama, termasuk sunnah Rasul saw., kedua, khijamah adalah suatu bentuk pengobatan menggunakan benda tajam untuk mengeluarkan darah dengan alat seperti cup, tanduk, gelas dan lain sebagainya. Sedangkan alasan adanya pelatihan bekam di pesantren Darussalam Eretan Indramayu yaitudi antaranya; 1) Menanamkan perbuatan nabi kepada santri, 2) Mempermudah para santri untuk berobat, 3) Tidak perlu ke dokter, 4) Tidak perlu membeli obat-obatan kimia, 5) Memberi keahlian pada diri santri untuk bisa mengobati diri dan orang lain, 6) Membekali santri mengobati ala nabi untuk dirinya, keluarganya dan masyarakatnya, 7) Santri bisa menjadi agen perubahan, 8) Sebagai media dakwah dan 9) Santri sehat secara Islami. Adapun praktek bekam di pesantren Darussalam Eretan di antarnya; 1) Pembekam harus punya wudlu lalu shalat hajat dua raka’at minta sama Allah swt., kemudian dipegang orang yang mau dibekam, ditanya namanya dan bin nya, dibacakan al-Fatikhah serta ayat kursi 3 kali supaya syaitan yang ada di dalam darah keluar/kabur, setelah itu ditiup, 2) Oleskan minyak zaitun pada bagian tubuh yang ingin dibekam, atau minyak apa saja, gunanya supaya ketika keluar darah dari area yang dibekam tidak nempel di kulit dan bisa hilang supaya tidak sakit, 3) Sedot dengan cup yang tersedia, 4) Setelah merah, buka dan lukai dengan jarum yang tersedia, 5)Sedot lagi dengan cup, 6) Darah akan keluar sedikit-sedikit, 7) Kalau darah sudah banyak atau sudah keluar (tidak ada butiran yang keluar), lepas cup dengan dikelilingi tisu agar darah tidak berceceran, bersihkan darah yang keluar serta bersihkan juga cup-nya, 8) Setelah selesai diulangi lagi sampai tidak keluar lagi darahnya, 9) Kalau sudah tidak keluar lepas, dan bersihkan, dan 10) Oles bagian tersebut dengan minyak zaitun. Setelah dibekam pasien merasa ringan tubuhnya. Dan dokter menyarankan sebelum dibekam pasien harus puasa terlebih dahulu sebagaimana sebelum operasi. Kata Kunci: Living Hadis, Bekam dan Pesantren Darussalam Indramayu.
STRATEGI POSITIONING PESANTREN AL-MULTAZAM KUNINGAN JAWA BARAT Diana Djuwita
Holistik Vol 15, No 2 (2014)
Publisher : LP2M IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (362.184 KB) | DOI: 10.24235/holistik.v15i2.329

Abstract

Pesantren Al-Multazam merupakan salah satu pesantren modern yang berlokasi di Kuningan Jawa Barat yang menerapkan kurikulum DIKNAS dan menyelenggarakan sistem sekolah Islam Terpadu. Saat ini jumlah santri telah mencapai seribu orang lebih dari berbagai daerah di Indonesia. Padahal biaya pendidikan di Pesantren Al-Multazam ini cukup mahal. Banyaknya pesantren saat ini mendorong pesantren masuk dalam iklim persaingan sehingga pesantren perlu melakukan diferensiasi agar membedakan dirinya dari pesantren lain, yang dikenal dengan istilah positioning (penentuan posisi pasar). Maka dalam penelitian ini rumusan masalah yang diangkat adalah bagaimana strategi positioning pesantren Al-Multazam Kuningan dan apakah manfaat strategi positioning tersebut bagi Al-Multazam.Metode penelitian yang digunakan menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian ini bersifat desktiptif analitis. Pengumpulan data kualitatif dilakukan melalui wawancara mendalam dan studi kepustakaan. Penelitian dilakukan bertempat di Pesantren Al-Multazam Kuningan Jawa Barat. Proses pelaksanaan penelitian meliputi penentuan fokus masalah, pengembangan kerangka teori, penentuan metode, analisis temuan, dan pengambilan kesimpulan. Penelitian ini memperoleh hasil bahwa pesantren Al-Multazam memposisikan dirinya sebagai pesantren yang bersih, rapi, fasilitasnya lengkap memadai, dan menerapkan kurikulum DIKNAS. Para santri diasramakan dan mengisi kegiatan sehari-hari dengan kegiatan yang bermanfaat dan bernilai ibadah. Pesantren Al-Multazam memberikan program penunjang bagi para santrinya seperti program life skill, program Bahasa Arab dan Inggris serta hafalan Al-Qur’an minimal 5 juz. Dari segi biaya pendidikan, pesantren Al-Multazam mampu bersaing dengan pesantren lain pada kelas jasa yang hampir sama. Pesantren Al-Multazam menyadari adanya persaingan dengan banyaknya pesantren saat ini. Maka pesantren Al-Multazam berusaha untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan masyarakat serta berusaha membedakan produk/jasanya dari pesantren lain dengan menggunakan atribut khusus, seperti manawarkan berbagai keunggulan yang dimilikinya. pesantren Al-Multazam mengenalkan produk/jasa melalui slogan “Membina generasi berakhlaq mulia, berprestasi, dan terampil berbahasa.” Pesantren Al-Multazam didirikan saat masyarakat membutuhkan pesantren modern yang bersih, rapi, intelek, jauh dari image masyarakat selama ini tentang pesantren.Kata Kunci: Strategi Positioning, Pesantren
PERGUMULAN ISLAM DENGAN BUDAYA LOKAL DI CIREBON (Perubahan Sosial Masyarakat dalam Upacara Nadran di Desa Astana, Sirnabaya, Mertasinga, Kecamatan Cirebon Utara) Munir Mubarman
Holistik Vol 15, No 2 (2014)
Publisher : LP2M IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2226.38 KB) | DOI: 10.24235/holistik.v15i2.334

Abstract

Artikel ini mendeskripsikan makna nadran dan faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan sosial dalam upacara ritual nadran di masyarakat pantai utara Cirebon. Dengan memanfaatkan metode kualitatif, riset ini melahirkan beberapa temuan, antara lain: pertama, telah terjadi perubahan sosial masyarakat dalam pelaksanaan upacara ritual Nadran, dari corak Hindu menjadi bernuansa seiring dengan masuknya Islam di daerah Cirebon; kedua, dalam ritualnya, nadran pada masa lampau dilakukan pemotongan seekor kerbau. Dalam perkembangan kekinian ritualnya mengalami pergeseran yakni cukup dengan kepala kerbau dan disertai rujak wuni untuk kemudian dilarungkan di tengah lautan; ketiga, nadran pernah beberapa tahun tidak dilaksanakan mengingat kondisi keamanan yang tidak kondusif. Baru kemudian pada tahun 2005, ritual nadran diselenggarakan kembali dengan alur perjalanan ider-ider (karnaval). Ider-ider sendiri mengalami perubahan, semula berjalan menuju ke arah utara, akan tetapi dalam kurun hampir satu dasawarsa ini, perjalanannya dialihkan menuju arah Selatan. Konon, perubahan ini memiliki makna untuk menghilangkan kultus terhadap upacara Nadran. Bahkan Nadran sekarang hanya sebagai hiburan rakyat nelayan. KataKunci: nadran, perubahan sosial, budaya lokal dan pantai utara Cirebon.
EKOLOGI POLITIK MASYARAKAT PESISIR (Analisis Sosiologis Kehidupan Sosial-ekonomi dan Keagamaan Masyarakat Nelayan Desa Citemu Cirebon) A Syatori
Holistik Vol 15, No 2 (2014)
Publisher : LP2M IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.631 KB) | DOI: 10.24235/holistik.v15i2.330

Abstract

Secara geografis, masyarakat pesisir atau nelayan adalah masyarakat yang hidup, tumbuh dan berkembang di kawasan pesisir, yakni suatu kawasan transisi antara wilayah darat dan laut. Secara sosiologis, mereka memiliki karakteristik sosial yang berbeda dengan masyarakat lainnya, karena perbedaan karakteristik sumberdaya yang dimiliki. Kesejahteraan secara ekonomi masyarakat pesisir sangat bergantung pada sumberdaya perikanan baik perikanan tangkap di laut maupun budidaya, yang hingga saat ini aksesnya masih bersifat terbuka (open access), sehingga kondisi lingkungan wilayah pesisir dan laut menentukan keberlanjutan kondisi sosial ekonomi mereka. Membicarakan masyarakat nelayan hampir pasti isu yang selalu muncul adalah masyarakat yang marjinal, miskin dan menjadi sasaran eksploitasi penguasa baik secara ekonomi maupun politik. Kemiskinan yang selalu menjadi trade mark bagi nelayan dalam beberapa hal dapat dibenarkan dengan beberapa fakta seperti kondisi pemukiman yang kumuh, tingkat pendapatan dan pendidikan yang rendah, rentannya mereka terhadap perubahan-perubahan sosial, politik, dan ekonomi yang melanda, dan ketidakberdayaan mereka terhadap intervensi pemodal, dan penguasa yang datang. Disamping itu, kemiskinan mereka juga diakibatkan oleh masalah kerusakan ekosisitem pesisir-laut yang berdampak serius terhadap menipisnya sumberdaya perikanan. Masalah lain yang tak kalah penting dalam kegiatan ekonomi nelayan, terutama terkait operasional penagkapan ikan adalah persoalan modal usaha untuk menyediakan segala kebutuhan kegiatan penagkapan ikan, seperti bahan bakar kapal, alat-alat penagkap ikan dan sebagainya. Bagi masyarakat nelayan, khusunya nelayan kecil atau nelayan tradisional, kebutuhan akan modal usaha, yang bisa diakses atau yang bisa didayagunakan setiap saat tersebut, sangat tinggi. Kondisi ini merupakan respon atas besarnya biaya investasi di sektor perikanan tangkap, sedangkan perolehan pendapatan tidak pasti dan tingkat penghasilan bervariatif. Dengan kebutuhan konsumsi rumah tangga yang harus dipenuhi setiap hari, nelayan tidak memiliki tabungan dana yang mencukupi jika suatu saat harus berhadapan dengan kenyataan bahwa sarana-prasarana penangkapan yang mereka gunakan mengalami kerusakan dan membutuhkan biaya perbaikan yang cukup besar. Keterbatasan pemilikan dana kontan inilah yang kemudian mendorong nelayan terperangkap dalam jaringan hutang piutang yang kompleks, khususnya kepada para rentenir atau penyedia kredit informal.

Page 1 of 1 | Total Record : 10