cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota cirebon,
Jawa barat
INDONESIA
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis
ISSN : 23030453     EISSN : 24429872     DOI : -
Core Subject : Education,
Diya al-Afkar adalah jurnal ilmiah yang memfokuskan studi al-Quran dan al-Hadis. Jurnal ini menyajikan karangan ilmiah berupa kajian ilmu-ilmu al-Quran dan al-Hadis, penafsiran/pemahaman al-Quran dan al-Hadis, hasil penelitian baik penelitian pustaka maupun penelitian lapangan yang terkait tentang al-Quran atau al-Hadis, dan/atau tinjauan buku. Jurnal ini diterbitkan secara berkala dua kali dalam setahun.
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol. 10, No. 02 (2022): Desember" : 9 Documents clear
ISLAM SEBAGAI DOKTRIN PROGRESIF: TAFSIR KONTEKSTUAL MAKNA “ISLAM” DALAM Al-QUR’AN Didi Junaedi
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol. 10, No. 02 (2022): Desember
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v10i02.12294

Abstract

This article examines the meaning of Islam in the perspective of contextual interpretation. This research is a literature research using historical and hermeneutic approaches. From the results of the study, it was concluded that Islam, which has been often misunderstood as a religion that is final, standard and allows its adherents to commit acts of violence against different faiths (the others; lian), turns out to have a much more essential meaning and is in accordance with the current context. The meaning that the author is referring to is that Islam is a progressive doctrine. Islam can be interpreted according to the times. Artikel ini mengkaji tentang makna Islam dalam perspektif tafsir kontekstual. Penelitian ini adalah penelitian kepustakaan dengan menggunakan pendekatan sejarah dan hermeneutik. Dari hasil kajian disimpulkan bahwa Islam yang selama ini sering disalahpahami sebagai agama yang bersifat final, baku dan memperkenankan pemeluknya untuk melakukan tindak kekerasan melawan yang berbeda keyakinan (the others; lian), ternyata memiliki makna yang jauh lebih esensial dan sesuai dengan konteks kekinian. Makna yang penulis maksud adalah bahwa Islam adalah sebuah doktrin progresif. Islam bisa dimaknai sesuai dengan perkembangan zaman. 
DERADIKALISASI PEMAHAMAN AL-QUR’AN: Analisis Semantik dan Konteks Historis Surah al-Fath Ayat 29 Afrizal El Adzim Syahputra; Heru Susanto
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol. 10, No. 02 (2022): Desember
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v10i02.11601

Abstract

Misunderstanding several verses of the Qur'an is motivated by the generalization of the understanding of the verses of the Qur'an, especially the verses related to war and jiha>d. Based on this, the writer is interested in studying Surah Al-Fath verse 29 by using semantic analysis and historical context. Based on this study, the term “al-shadid” which is based on the term "ka>fir" is not always interpreted as acts of violence against non-Muslims.This study is expected to be able to provide a moderate understanding, which can eliminate radicalism. This type of research is library research supported by various reference sources, especially from the thoughts of the mufassir. Then based on the historical context, this verse tells about the condition of Muslims who are dealing with the enemy. So, the two terms above are an explanation that Muslims must be firm when dealing with enemies. Firmness here is not directly interpreted with things that smell of violence. Firmness is defined as the potential for courage to prevent injustice. Not in the sense of fighting blindly. This study is expected to provide a moderate understanding, which can eliminate radical values. This type of research is library research which is supported by various reference sources, especially from the thoughts of the mufassir. Kesalahpahaman tersebut dilatarbelakangi oleh generalisasi pemahaman memahami ayat-ayat al-Qur’an, khususnya ayat-ayat yang berhubungan dengan perang dan jihad. Diantaranya adalah surah al-Fath ayat 29. Ayat ini sering dipahami secara dhahir saja sehingga memunculkan pemahaman radikal dalam menyikapi ayat ini. Berdasarkan hal ini, penulis tertarik untuk mengkaji surah Al-Fath ayat 29 dengan menggunakan analisis semantik dan konteks historis. Berdasarkan kajian ini, term al-shadid yang disandarkan kepada term “ka>fir” tidak selalu dimaknai dengan tindakan kekerasan kepada non muslim. Kemudian berdasarkan konteks historis, ayat ini menceritakan tentang kondisi umat Islam yang sedang berhadapan dengan musuh. Maka kedua term diatas merupakan penjelasan bahwa umat Islam harus tegas ketika berhadapan dengan musuh. Tegas di sini tidak langsung dimaknai dengan hal-hal yang berbau kekerasan. Tegas diartikan sebagai potensi keberanian untuk mencegah kedzaliman. Bukan dalam arti memerangi secara membabi buta. Kajian ini diharapkan mampu memberikan pemahaman yang moderat, yang dapat menghilangkan nilai-nilai radikal. Jenis penelitian ini adalah penelitian pustaka yang didukung dengan berbagai sumber rujukan, khususnya dari pemikiran para mufasir. 
Interpretasi Makna Hidayah Dalam al-Quran (Telaah Pemikiran Al-Rāgib al-Aṣfahānī) Wali Ramadhani
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol. 10, No. 02 (2022): Desember
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v10i02.11401

Abstract

This article explains the meaning of hidayah in the Qur’an from the perspective of al-Rāgib al-Aṣfahānī. Verses about hidayah are presented in the Qur'an in various ways. In some places, they seem contradictory. Through of descriptive-analytical, the author tries to explain about hidayah in the Qur’an from al-Rāgib's presentation recorded in his magnum-opus Mufradāt alfaẓ al-Qurān. He was one of the commentators in the 5th century H. The verses about hidayah described in the Qur’an are classified by al-Rāgib into four stages; the first stage is hidayah obtained by all living things on this earth (garizah, natural nature and thinking power), the second stage is hidayah given to humans in the form of preaching from the prophets and apostles, the third stage is hidayah given special by Allah to those who ask and want guidance (taufiq), the fourth stage is hidayah obtained by humans in the hereafter, namely the guidance of Allah in the beauty and pleasures of heaven.
I'jaz Adadi: Keistimewaan dan Fenomena Angka 9 dalam Al-Qur'an Asfira Zakiatun Nisa; Abdussakir Abdussakir; Muhammad Muhammad; Yusiana Rismatika Slawantya; Lisa Lisa
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol. 10, No. 02 (2022): Desember
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v10i02.11649

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji keistimewaan dan fenomena angka 9 di dalam Al-Qur’an. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi literatur. Data diperoleh dengan melakukan kajian pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat keistimewaan dan fenomena angka 9 di dalam Al-Qur’an. Di antara fenomena tersebut adalah pada ayat yang terkait dengan Asma’ul Husna, ketepatan bulan Ramadhan sebagai bulan ke-9 dalam Islam, serta reflexivity sholat. Kehadiran angka 9 tersebut membawa pesan, di antaranya adalah tentang ketauhidan dan banyak sekali konsep maupun perhitungan matematis dalam Al-Qur’an, hanya saja masih banyak yang belum mengkaji hal tersebut secara detil dan menyeluruh. Dengan mempelajari ilmu pengetahuan melalui integrasi matematika Al-Quran, berarti manusia telah mempelajari agama.
Konstruks ilmiah Tafsir Secangkir Tafsir dalam Juz Terakhir Karya Salman Harun umaiyatus syarifah
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol. 10, No. 02 (2022): Desember
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v10i02.11433

Abstract

  Secangkir Tafsir dalam Juz Terakhir  is an interpretation that written by academics as well as professor of UIN Syarif Hidayatullah Jakarta in the field of language and Tafseer.The scientific background, the life view of the mufassir, and the purpose of interpretationare very influential on the epistemology of interpretation. This article seeks to reveal the scientific construction of the interpretation of Salman Harun's work. The method used is descriptive analytical. This interpretation is a contemporary interpretation that combines historical and ra'yi interpretations using thematic methods, as well as a very dominant style of adab ijtima'i, using a contextual approach. This interpretation has a different nuance than the Indonesian interpretations in general. The presentation of language analysis, discussion that swoops in on social problems, plus the breadth of the exegetes' insight gives rise to moral messages related to current social-social problems which are presented briefly and concisely while still using the Quran and hadith as references in interpretation.
KONTEKSTUALISASI AYAT MAYSIR DAN RELEVANSINYA TERHADAP LOOTBOX (PENDEKATAN TAFSIR KONTEKSTUAL ABDULLAH SAEED) Didin Baharuddin
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol. 10, No. 02 (2022): Desember
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v10i02.13886

Abstract

Penelitian ini membahas tentang kontekstualisasi ayat maysir dan relevansinya dengan Loot Box. Adapun Loot Box merupakan fitur dalam game online yang dibeli oleh pemain tanpa mengetahui isi dari Loot Box pembeliannya. Pembelian Loot Box mengandalkan keberuntungan, karena itu dapat menyerupai maysir. Dalam Al-Quran kata maysir ditafsirkan dengan praktek muhkatarah (taruhan). Penafisran ini sebagaimana praktek yang dilakukan pada masa jahiliyah. Adanya perkembangan teknologi membuat praktek maysir turut berkembang, hal ini menuntut kontektualisasi penafsiran terhadap ayat maysir agar Al-Quran solihun li kulli zaman wa makan. Penelitian kualitatif ini menggunakan pendekatan tafsir kontekstual Abdullah Saeed, pendekatan ini dilakukan dengan cara melihat konteks pertama ketika wahyu diturunkan dan konteks masa sekarang dengan menjadikan karya-karya tafsir tiap generasi menjadi penghubung antar konteks. Penelitian ini menunjukkan bahwa makna maysir dapat mencakup Loot Box, hal ini disebabkan Loot Box menggunakan sistem acak, mengandalkan keberuntungan dan membuat kecanduan.
Metode Pemahaman Hadis-Hadis Tentang Hakikat Tâ’ûn Studi Kitab Badzl al-Mâ’ûn Fî Fadhl al- Tâ’ûn Siti Hajar
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol. 10, No. 02 (2022): Desember
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v10i02.11956

Abstract

Badzl al-Mâ’ûn Fî Fadhl al- Tâ’ûn is a thematic hadith book that comprehensively discusses annual hadiths with various perspectives including historical, medical and jurisprudential perspectives. This diversity of perspectives departs from Ibn Hajar's understanding of the hadiths about the meaning of ta'un and its characteristics. This article aims to reveal Ibn Hajar's method when understanding hadiths that talk about the meaning of ta'un and its characteristics. To analyze the data, the researcher use the inductive method, namely by taking an inventory of the products of Ibn Hajar's understanding of the hadiths about the meaning of ta'un and other hadiths related to ta'un, then conclude what methods were used by Ibn Hajar with textual and contextual perspectives. The results of this study are that Ibn Hajar's method of understanding the hadiths about the meaning of ta'un is carried out through two approaches, namely the intratextual and intertextual approaches. In the intratextual approach, he uses the sharh and al-jam' wa al-tawfi>q methods to conclude the history of the beginning of the ta’un. through an intertextual approach, he uses linguistic, scientific, historical and asbab al-wuru>d methods. Through an intertextual approach, he draws conclusions regarding the differences between years and epidemics, as well as the main causes of ta’un and their characteristics.
Larangan Meminum Khamr Perspektif Hadis dan Relevansinya dengan Anjuran H{ifz} Al-‘Aql Bagi Penuntut Ilmu Nurul Atik Hamida; Lau Han Sein
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol. 10, No. 02 (2022): Desember
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v10i02.11208

Abstract

Hadis merupakan sumber kedua setelah Al-Qur’an, sehingga digunakan manusia sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Salah satu contoh hadis tuntunan dari Rasulullah SAW bagi umatnya adalah mengenai diharamkannya meminum khamr. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas hadis larangan meminum khamr riwayat ‘Abdullah ibn Umar yang ditakhrij oleh Bukha>ri dengan dilakukannya penelitian parsial serta mengetahui fiqh al-h}adi>th-nya terkait anjuran h}ifz} al-‘aql bagi penuntut ilmu dengan dilarangnya meminum khamr. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) dan dianalisis menggunakan metode content analysis. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa hadis riwayat ‘Abdullah ibn Umar yang ditakhrij oleh Bukha>ri berkualitas s}ah}i>h} lidha>tih, karena kualitas sanad hadis ini s}ah}i>h} al-isnad dan kualitas matannya s}ah}i>h} al-matni. Adapun mengenai fiqh al-h}adi>th tersebut menjelaskan bahwa khamr hukumnya adalah haram karena bersifat memabukkan yang dapat menghilangkan akal. Seseorang yang di dunia meminum khamr, maka diakhirat ia tidak diperbolehkan untuk meminumnya, karena di akhirat khamr adalah minuman para penghuni surga. Anjuran hifz} al-‘aql dalam Islam mengenai larangan meminum khamr berhubungan dengan penuntut ilmu atau pelajar. Seorang pelajar harus menghindari tertutupnya akal atau hal-hal yang bersifat memabukkan, salah satunya adalah menghindari khamr agar akalnya tetap bisa dikembangkan ke berbagai hal-hal yang bermanfaat. Sehingga dapat tercipta generasi muda yang sehat, cerdas, berakhlak baik, serta dapat berpikir kreatif.
Melacak Tafsir Nusantara: Tafsir Anom ( Tafsir Al-Qur’an Suci Bahasa Jawi Aksara Pegon) Neny Muthi'atul Awwaliyah
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol. 10, No. 02 (2022): Desember
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v10i02.11347

Abstract

This paper discusses one of the interpretations of the Qur'an written by Mohammad Adnan Tafsir using Javanese Arabic script Pegon. In this Tafsir it is unique that each letter, Mohammad Adnan, explains using Javanese language regarding the meaning of the title of the letter, the place where the letter was revealed, and mentions how many verses are in each letter. The method used in the interpretation is the Riwayah method. As for the style of interpretation in the Tafsir of the Holy Qur'an in Jawi, one of them is seen in the nuances of Fiqh. Tafsir al-Qur'an in Javanese, first printed in 1924 using Arabic Pegon

Page 1 of 1 | Total Record : 9