cover
Contact Name
Gede Arda
Contact Email
ardagede@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.beta.tep@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian)
Published by Universitas Udayana
ISSN : 25023012     EISSN : 25023012     DOI : -
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) memuat hasil penelitian di bidang teknik biosistem (biosystem engineering). Cakupan dari jurnal ini merentang dari aplikasi ilmu keteknikan untuk pertanian. Diantara bidang ilmu tersebut, yang menjadi fokus adalah Bidang Manajemen Keteknikan Pertanian, Teknologi Pascapanen khususnya produk Hortikultura, Rekayasa dan Ergonomika, Konservasi Sumber Daya Alam, serta khusus tentang aplikasi Instrumentasi dan Sistem kontrol dalam bidang pertanian.
Arjuna Subject : -
Articles 344 Documents
Rancang Bangun Fertigasi Tetes dan Kontrol Lingkungan Mikro Berbasis IoT Terhadap Pertumbuhan Tanaman Selada (Lactuca sativa L.) Suhartono Suhartono; Choirul Umam; Slamet Supriyadi; Estu Saputro
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 11 No 1 (2023): April
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2023.v11.i01.p08

Abstract

Abstrak Sistem pertanian dengan produksi yang maksimal dan optimal diperlukan untuk dapat diadopsi pada pertanian di Indonesia mengingat semakin meningkatnya populasi penduduk Indonesia. Salah satu teknologi pertanian untuk meningkatkan produksi adalah pemupukan otomatis dengan sistem irigasi tetes (fertigasi). Penerapan sistem fertigasi ini mengacu pada pemberian nutrisi tepat sasaran sesuai dengan kebutuhan tanaman sehingga dapat menghemat input sumberdaya. Selada memiliki potensi cukup menjanjikan untuk dikembangkan sebagai komoditas ekspor. Penelitian ini dilaksanakan untuk merancang alat fertigasi otomatis dengan sistem irigasi tetes dan kontrol lingkungan dan mengetahui pengujian alat fertigasi otomatis terhadap tanaman selada hijau (Lactuca sativa L.). Hasil penelitian diharapkan dapat diimplementasikan dan dikembangkan di masyarakat. Penelitian dilakukan mulai dari perancangan, persiapan alat dan bahan; pengujian setiap komponen alat; perakitan dan pemrograman; pengujian sistem alat; dan pengujian terhadap tanaman selada. Alat ini menggunakan komponen sensor, mikrokontroler dan aktuator serta berbasis IoT (Internet of Things). Hasil menunjukkan alat dapat bekerja dengan baik sesuai dengan ketentuan program yang diberikan dan hasil pengujian sensor alat mendapatkan nilai akurasi baik. Kinerja alat juga dapat dimonitoring melalui Smartphone Android. Hasil pengujian alat terhadap tanaman selada mendapat hasil lebih baik pada tinggi, bobot segar dan bobot ekonomis tanaman. Namun tidak menunjukkan perbedaan jauh pada jumlah daun. Abstract Indonesia needs to adopt the agricultural technique that gives high production to fulfill the need of its population. Automatic fertilizing with a drip irrigation system is one of the agricultural technologies to boost yield. Using this fertigation technology involves giving specific nutrients to plants based on their demands to conserve resource inputs. The potential for developing lettuce as an export commodity is highly encouraging. This study was to build an automatic fertigation device that includes a drip irrigation system, environmental management and to decide whether to test the device on green lettuce (Lactuca sativa L.). The research results are anticipated to be adopted and expanded in the community. The research began with designing and preparing instruments and materials; testing each instrument element; construction and programming; system testing tools; and evaluating lettuce plants. This instrument employs sensor components, microcontrollers, and actuators and is based on the IoT (Internet of Things). The results showed that the apparatus could function effectively following the program's specifications. However, the sensor could perform the tool's performance with high accuracy and be tracked by an Android smartphone. Testing the apparatus on lettuce plants showed that the plant tended to improve its height and yield in terms of fresh weight and economic weight compared to the plant watered manually. Moreover, there was less variation in the number of leaves of the plant.
Kerawanan Bencana Banjir di Kabupaten Gunungkidul Yogyakarta, Indonesia Dewi, Ni Luh Trisna Candra; Sulastri, Ni Nyoman; Ngadisih, Ngadisih; Arthawan, I Gusti Ketut Arya
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 12 No 1 (2024): April
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2024.v12.i01.p02

Abstract

Gunungkidul merupakan salah satu kabupaten yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta. Tahun 2020 Kabupaten Gunungkidul memiliki intensitas curah hujan yang tinggi yang dapat berpotensi untuk terjadinya banjir. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan membuat peta tingkat potensi kerawanan banjir di Kabupaten Gunungkidul. Proses identifikasi daerah rawan ini, menggunakan metode skoring dan pembobotan. Metode ini dilakukan dengan memberikan nilai skor dan bobot pada masing-masing parameter curah hujan, kemiringan lereng, ketinggian, jenis tanah, penggunaan lahan sehingga sehingga menghasilkan Peta Kerawanan Banjir di Kabupaten Gunungkidul. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kabupaten Gunungkidul memiliki curah hujan yang berkategori sedang 2161-2287 mm/th dengan luas wilayah 67.862,24 ha sekitar 45,69%, kemiringan lereng datar dengan luas wilayah 50.037 ha sekitar 33,69 %, ketinggian <100 m dengan luas wilayah 67.939,4 ha sekitar 53,48 %, Jenis tanah didominasi mediteran dengan luas 79.254,82 ha sekitar 53,37% dan penggunaan lahan didominasi tegalan dengan luas 56.228,93 ha sekitar 37,86%, sehingga mendapatkan hasil berupa 3 kelas tingkat kerawanan banjir yaitu tingkat rawan banjir rendah dengan luas 93.930,19 ha sekitar 62,58% dari luas wilayah, tingkat rawan sedang dengan luas 53.509,45 ha sekitar 35,51% dari luas wilayah, tingkat kerawanan banjir tinggi dengan luas 1.091,81 ha sekitar 0,71% luas wilayah Kabupaten Gunungkidul. ABSTRACT Gunungkidul is one of the regencies in the Special Region of Yogyakarta. In 2020 Gunungkidul Regency had a high intensity of rainfall which has the potential for flooding. This study aims to determine the potential level of flood vulnerability in Gunungkidul Regency and to create a map. The process of identifying these vulnerable areas used a scoring and weighting method. This method is carried out by assigning a score and weight to each rainfall parameter, slope, height, soil type, and land use to produce a Flood Vulnerability Map in Gunungkidul Regency. The results show Gunungkidul Regency has a moderate rainfall category (2161-2287 mm/year) with an area of 67.862.24 ha (45.69%), a flat slope with an area of 50.037 ha (3.69%), a height of <100 m with an area of 67.939.4 ha (53.48%). The Mediterranean dominates soil type with an area of 79.254.82 ha (53.37%). Land use is dominated by moor with an area of 56.228.93 ha (37.86%). The level of vulnerability was categorized into three groups. About 62.58% of the area is classified as low flood vulnerability. Approximately 35.51% of the area is at a medium flood vulnerability level. About 0.71% is the area with a high flood vulnerability.
Kajian Kerawanan Bencana Kekeringan di Kabupaten Gunungkidul di Yogyakarta, Indonesia Dewi, Luh Wiwin Pradnya; Sulastri, Ni Nyoman; Ngadisih, Ngadisih; Sucipta, I Nyoman
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 12 No 1 (2024): April
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2024.v12.i01.p01

Abstract

Gunungkidul merupakan salah satu kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta yang wilayahnya didominasi oleh perbukitan karst. Gunungkidul memiliki curah hujan rata-rata 1.881,94 mm/tahun yang menjadikan daerah ini berpotensi mengalami kekeringan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan membuat peta kerawanan kekeringan di wilayah Gunungkidul. Metode yang akan digunakan dalam menganalisis data yakni dengan pemberian skor dan bobot pada masing-masing parameter curah hujan, jenis tanah, penggunaan lahan, kemiringan lereng dan suhu permukaan untuk menghasilkan peta kerawanan kekeringan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Gunungkidul memiliki curah hujan sedang dengan intensitas berkisar 2100-2385 mm/tahun dengan jenis tanah yang didominasi oleh jenis tanah mediteranian dengan luasan 79.254,8 ha atau sekitar 54% dari seluruh wilayah penelitian. Penggunaan lahan didominasi oleh tegalan dengan 56.229 ha atau sekitar 38% dari seluruh wilayah penelitian dengan kemiringan lereng datar yang luas wilayahnya 50.037 sekitar 33,69% dari seluruh wilayah penelitian dan suhu permukaan yang homogen yakni 26,74oC. Data tersebut kemudian di overlay dengan penentuan indeks bahaya kekeringan yang diklasifikasikan menjadi 4 kelas yakni aman, agak rawan, rawan, dan sangat rawan. Dari hasil analisis dapat disimpulkan bahwa Gunungkidul secara umum sangat rentan terhadap bencana kekeringan dengan kekeringan yang terjadi adalah kekeringan geometeorologis dimana tingkat kerawanan kekeringan paling besar dipengaruhi oleh curah hujan, jenis tanah dan penggunaan lahan. ABSTRACT Gunungkidul is a district in the Special Region of Yogyakarta whose territory is dominated by karst hills. Gunungkidul has an average rainfall of 1.881,94 mm/year which makes this area potentially experience drought. This study aims to determine and create a drought vulnerability map in the Gunungkidul region. The method that will be used in analyzing the data is by giving scores and weights to each parameter of rainfall, soil type, land use, slope, and surface temperature to produce a drought vulnerability map. The results of this study indicate that Gunungkidul has moderate rainfall with intensities ranging from 2100-2385 mm/year with soil types dominated by Mediterranean soil types with an area of ??79.254,8 ha or around 54% of the entire study area. Land use is dominated by moor areas with 56.229 ha or around 38% of the entire study area with flat slopes with an area of ??50.037 or about 33.69% of the entire study area and a homogeneous surface temperature of 26.74 oC. The data is then overlaid by determining the drought hazard index which is classified into 4 classes namely safe, somewhat vulnerable, vulnerable, and very vulnerable. From the results of the analysis, it can be concluded that Gunungkidul, in general, is very vulnerable to drought the drought that occurs is a geometeorological drought where the level of drought vulnerability is most influenced by rainfall, soil type, and land use.
Rancang Bangun Sistem Informasi Ketersediaan Air Irigasi Subak Berbasis JavaScript Putra, I Putu Arya Patrama Khrisna; Sulastri, Ni Nyoman; Wijaya, I Made Anom Sutrisna; Budisanjaya, I Putu Gede; Harimurti, Gusti Bagus Dwi Anugrah
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 12 No 2 (2024): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2024.v12.i02.p10

Abstract

Sistem irigasi subak masih memiliki keterbatasan dalam pencatatan dan pengelolaan data debit irigasi. Sehingga, dibutuhkan sistem informasi yang mampu menampilkan data digital debit air irigasi serta dapat diakses melalui website. Tujuan dari penelitian adalah merancang sistem informasi yang responsif, fleksibel, dan mudah diakses, membangun pelayanan data debit secara live dalam bentuk diagram batang, serta menguji fitur dan aksesibilitas. Perancangan sistem pada penelitian ini dilakukan dengan tahapan sebagai berikut, mengidentifikasi masalah dari sisi pengguna, merancang algoritma sistem, mengintegrasikan framework dan API, melakukan hosting, serta melakukan pengujian dengan black-box testing. Seluruh perancangan sistem tersebut mengikuti metode air terjun (waterfall model). Sistem yang berhasil dirancang memiliki tujuh fitur yaitu, informasi website, data debit secara otomatis dari alat IM-Logger, data debit dengan pengukuran manual, berita subak, galeri subak, login, dan fitur informasi berbasis WhatsApp. Pada penelitian dilakukan pengujian terhadap responsivitas fitur, fleksibilitas sistem, dan aksesibilitas sistem terhadap berbagai perangkat. Hasil pengujian menunjukkan seluruh fitur yang diuji memiliki responsivilitas dan kecepatan yang baik. Pada fitur data digital debit irigasi dapat ter-update secara konsisten dan berhasil dikonversi menjadi diagram batang. Pengujian fleksibilitas sistem mendapatkan nilai sangat baik dengan hasil persentase kesesuaian sebesar 100% pada perangkat berlayar lebar dan 93.8% pada perangkat berlayar sempit. Pengujian aksesibilitas, sebanyak 59.66% persen responden menyatakan aksesibilitas sistem ini baik, 39.98% sangat baik, dan 0.6% kurang baik. Berdasarkan keseluruhan hasil pengujian sistem informasi, dapat disimpulkan bahwa sistem sudah berfungsi dengan responsif, fleksibel dan mudah diakses. ABSTRACT The subak irrigation system still needs to be improved in recording and managing irrigation discharge data. Thus, an information system is required to display digital data on irrigation water discharge, which can be accessed via the website. The research aimed to design a responsive, flexible, and easily accessible information system, to build a live discharge data service in the form of a bar chart, and to test the features and accessibility of the information system. System design in this study was carried out in the following stages, identifying problems from the user side, designing system algorithms, integrating frameworks and API, hosting, and conducting black-box testing. The entire system design followed the waterfall model. The system has seven features: website information, automatic discharge data from the IM-Logger tool, discharge data with manual measurements, subak news, subak gallery, login, and WhatsApp-based information features. This study tested features responsiveness, flexibility, and system accessibility for various devices. The test results showed that all the features tested had good responsiveness and speed. In the digital data feature, irrigation discharge could be updated consistently and successfully converted into a bar chart. The system flexibility test obtained a very good score, with 100% and 93.8 % conformity percentages for wide and narrow screen devices, respectively. In the accessibility test, 59.66% of respondents stated that the accessibility of this system was good, 39.98% was very good, and 0.6% was not good. Based on the overall results, it can be concluded that the information system functions responsively, and flexibly, and is easily accessible.
Variasi Ukuran dan Durasi Aktivasi Zeolite dengan KMnO4 terhadap Karakteristik Pepaya California Selama Penyimpanan Setiadi, Ni Made Thari; Yulianti, Ni Luh; Tika, I Wayan
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 12 No 1 (2024): April
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2024.v12.i01.p03

Abstract

Zeolite merupakan media yang memiliki kemampuan untuk menyerap larutan dalam bentuk cairan dengan sejumlah senyawa yang berperan sebagai oksidator etilen yaitu senyawa KMnO4, sehingga dapat menunda kematangan buah. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan interaksi adsorben terbaik dalam menunda kematangan buah pepaya california; mendapatkan pengaruh ukuran zeolite dan durasi aktivasi zeolite serta menentukan interaksi perlakuan yang dapat menghasilkan buah pepaya yang masih layak dikonsumsi selama 10 hari masa simpan. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dua faktor. Faktor pertama yaitu ukuran zeolite yang terdiri dari 3 taraf, yaitu 60 mesh dan 80 mesh. Faktor kedua adalah durasi aktivasi zeolite secara kimia yang terdiri dari 3 taraf, yaitu 25 mening, 30 menit, dan 35 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan adsorben zeolite KMnO4 mampu memberikan respon terhadap penunda kematangan buah pepaya california berupa perubahan yang terjadi pada buah dan warna adsorben zeolite KMnO4. Interaksi antar perlakuan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap parameter tekstur buah, total padatan terlarut, susut bobot buah, warna buah, dan masa simpan buah. Interaksi perlakuan terbaik diperoleh pada ukuran zeolite 80 mesh dan durasi aktivasi selama 25 menit dengan KMnO4 menghasilkan nilai tekstur buah sebesar 49.4325 N, total padatan terlarut sebesar 10.7933 Brix, susut bobot buah sebesar 1.26 %, Warna nilai L sebesar 36.58, warna nilai a sebesar 10.41, warna nilai b sebesar 31.09. ABSTRACT Zeolite is a medium that has the ability to absorb solutions in liquid form with a number of compounds that act as ethylene oxidizers, namely KMnO4 compounds, so as to delay fruit ripeness. This study aims to obtain the best adsorbent interaction in delaying the maturity of California papaya fruit; to obtain the effect of zeolite size and duration of zeolite activation as well as determine the interaction of treatments that can produce papaya fruit that is still suitable for consumption during the 10 day shelf life. This study used a two-factor Randomized Block Design (RBD). The first factor is the size of the zeolite which consists of 3 levels, namely 60 mesh and 80 mesh. The second factor was the duration of chemical activation of the zeolite which consisted of 3 levels, namely 25 minutes, 30 minutes and 35 minutes. The results showed that the use of zeolite KMnO4 adsorbent was able to provide a response to delaying the maturity of the California papaya fruit in the form of changes that occur in the fruit and color of the KMnO4 zeolite adsorbent. The interaction between treatments has a significant effect on the parameters of fruit texture, total dissolved solids, fruit weight loss, fruit color, and fruit shelf life. The best treatment interaction was obtained at a zeolite size of 80 mesh and an activation duration of 25 minutes with KMnO4 resulted in a fruit texture value of 49.4325 N, total dissolved solids of 10.7933° Brix, fruit weight loss of 1.26 %, Color L value of 36.58, color value of a of 10.41, the color value of b is 31.09.
Pengaruh Lama Penyinaran Led Merah Biru terhadap Pertumbuhan Pakcoy (Brassica Rapa L) Samur, Gregorius Adelbertus; Wijaya, I Made Anom Sutrisna; Sulastri, Ni Nyoman
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 12 No 1 (2024): April
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2024.v12.i01.p04

Abstract

Pakcoy (Brassica rapa L.) merupakan salah satu sayuran penting di Asia. Light emitting diode (LED) merupakan salah satu cara untuk memanipulasi cahaya matahari dengan menyediakan warna LED merah dan biru. Warna cahaya LED merah biru sangat baik digunakan untuk mempercepat fotosintesis. Penelitian ini dilakukan untuk memperoleh pengaruh berapa lama penyinaran LED merah biru yang menghasilkan pertumbuhan pakcoy terbaik. Penelitian menggunakan rancangan percobaan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan lama penyinaran, mulai dari 18, 16, 14, 12, dan 10 jam. Variable yang diamati meliputi tinggi tanaman, luas kanopi, jumlah helai daun, jumlah kandungan klorofil (SPAD value), berat basah panen, biomassa dan panjang akar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan lama penyinaran 18 jam penyinaran LED merah biru menunjukkan hasil paling baik dibandingkan perlakuan lainya, meliputi hasil dengan rata-rata tinggi tanaman 17,4 cm, jumlah helai daun 11,5 helai, jumlah kandungan klorofil 43,7 unit, panjang akar 28 cm, berat basah tajuk dan akar 18,25 dan 0,95 gram, serta biomassa tajuk dan akar 1,21 dan 0,250 gram. Dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan dengan lama penyinaran LED merah biru berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan pakcoy. Abstract Pakcoy (Brassica rapa L.) is one of the essential vegetables in Asia. Light emitting diode (LED) can manipulate sunlight by providing red and blue LED colors. The red-blue LED light color is used to accelerate photosynthesis. This research was conducted to determine the irradiation of red-blue LEDs duration to produce the best pakcoy growth. The study used a completely randomized design (CRD) with 5 (five) irradiation treatments, ranging from 18, 16, 14, 12, and 10 hours. Parameters observed include plant height, canopy area, number of leaf blades, amount of chlorophyll content (SPAD value), fresh weight of harvest, biomass, and root length. The results showed that 18 hours of red and blue LED irradiation was the best result compared to other treatments. Eighteen hours of red-blue LED irradiation duration showed the best results compared to other treatments. This treatment had an average plant height of 17.4 cm, a number of leaf blades of 11.5 strands, an amount of chlorophyll content of 43.7 units, a root length of 28 cm, fresh weight of canopies and roots of 18.25 and 0.95 grams, and trunk and root biomass were 1.21 and 0.250 grams. In summary, the growth with prolonged irradiation of red-blue LEDs has a significant effect on the growth of pakcoy.
Pengaruh Lama Penyimpanan terhadap Karakteristik Kimia Kombinasi Teh Daun Bambu Tabah (Gigantochloa nigrociliata Buse-Kurz) dan Daun Stevia (Stevia rebaudiana B.) Sihombing, Mistiyeni P Sihombing; Kencana, Pande Ketut Diah; Wirawan, I Putu Surya
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 13 No 1 (2025): IN PRESS
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Teh merupakan minuman populer yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat baik di Indonesia maupun di negara lainnya. Pengolahan daun bambu tabah (Gigantochloa nigrociliata BUSEKURZ) menjadi teh merupakan upaya untuk memanfaatkan senyawa yang ada di dalamnya yang mampu memberikan karakter tersendiri untuk hasil produk teh nantinya. Penambahan kombinasi pemanis alami seperti daun stevia (Stevia rebaudiana B.) pada daun bambu tabah menjadi salah satu contoh teh herbal yang baik untu kesehatan karena menggunakan pemanis alami. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengevaluasi karakteristik kimia dari kombinasi teh daun bambu tabah dan daun stevia dan lama penyimpanan selama 6 minggu. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari dua faktor, faktor pertama yaitu kombinasi daun stevia dalam bentuk gram dengan daun bambu tabah (A), dan faktor kedua yaitu lama penyimpanan mulai dari minggu ke 1 sampai minggu ke 6 (t). Parameter yang diamati meliputi kadar air, kadar gula, nilai pH, total asam, total fenol serta uji organoleptik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan parameter terjadi pada kadar air, pengukuran pH, dan organoleptik berupa rasa dan hedonik, sedangkan penurunan parameter terjadi pada kadar gula, total asam, total fenol dan uji organoleptik pada warna dan aroma. Penurunan perubahan paling rendah terdapat pada uji parameter total fenol, dan peningkatan perubahan paling besar terdapat pada uji kadar air.
Pengaruh Emulsi Minyak Wijen dan Minyak Sereh sebagai Bahan Pelapis Jambu Biji Merah (Psidium Guajava L.) terhadap Mutu Selama Penyimpanan Zafansyah, Muhamad Ragil; Kencana, Pande Ketut Diah; Wirawan, I Putu Surya
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 13 No 1 (2025): IN PRESS
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jambu biji merah (Psidium guajava L.) merupakan salah satu buah yang cukup dikenal. Jambu biji merah merupakan buah yang dagingnya lunak, mudah rusak serta cepat membusuk. Salah satu upaya untuk mengurangi kerusakan dan juga memperpanjang masa simpan buah adalah menggunakan edible coating dengan bahan pelapis minyak wijen dan minyak sereh. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh emulsi serta mencari konsentrasi terbaik pada bahan pelapis campuran minyak wijen dan minyak sereh. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua faktorial. Faktor pertama adalah minyak wijen dengan taraf (W) terdiri dari 3 level konsentrasi, yaitu : 0%, 0,5%, 1% serta faktor kedua adalah minyak sereh (S) yang terdiri dari 3 level konsentrasi, yaitu : 0%, 0,5%, 1% dengan 3 kali ulangan sehingga menghasilkan 27 unit percobaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh pemberian emulsi minyak wijen dan sereh berpengaruh terhadap nilai susut bobot, total padatan terlarut, intensitas kerusakan, kekerasan buah, dan uji organoleptik selama penyimpanan. Perlakuan konsentrasi minyak wijen 0,5% dan minyak sereh 0,5% (W1S1) merupakan perlakuan yang menghasilkan nilai terbaik yaitu nilai susut bobot 19,15%, total padatan terlarut 6,63 ºBrix, intensitas kerusakan 41,66%, kekerasan buah 20,88%, dan perlakuan konsentrasi minyak wijen 1% dan minyak sereh 0% (W2S0) memiliki nilai organoleptik tertinggi terhadap warna kulit, rasa buah, aroma buah, dan tekstur buah.
Pengaruh Variasi Jumlah Perforasi Kemasan Terhadap Mutu Kentang Konsumsi (Solanum tuberosum L) Guna, Kadek Mahendra Adhi; Pudja, Ida Ayu Rina Pratiwi; Setiyo, Yohanes
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 12 No 2 (2024): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2024.v12.i02.p14

Abstract

Abstrak Tingginya produksi kentang di Indonesia tidak diimbangi dengan penanganan pascapanen yang tepat, sehingga banyak kentang yang mengalami kerusakan selama masa penyimpanan. Kemasan dengan perforasi dapat mempertahankan umur simpan umbi kentang. Tujuan dari penelitian ini yaitu mendapatkan pengaruh perforasi kemasan terhadap mutu kentang konsumsi selama penyimpanan serta menentukan perlakuan yang dapat mempertahankan mutu kentang konsumsi selama penyimpanan. Penelitian dengan rancangan acak lengkap (RAL) dengan perlakuan perforasi kemasan (0,42%, 0,63%, dan 0,84%). Setiap unit percobaan diulang 3 kali. Parameter yang diukur adalah susut bobot, kelembaban udara, suhu udara, color difference, dan tekstur umbi kentang. Laju peningkatan susut bobot untuk perlakuan kontrol, kemasan tanpa perforasi, kemasan perforasi 0,42%, kemasan perforasi 0,36%, dan kemasan perforasi 0,84% masing-masing adalah: 0,09 g/hari, 0,025 g/hari, 0,036 g/hari, 0,051 g/hari, 0,058 g/hari. Laju perubahan kelembaban udara untuk masing-masing perlakuan adalah: 0,10 %, 0,36 %, 0,30 %, 0,23 %, 0,16 %, dan laju perubahan suhu kemasan adalah: 0,03oC/hari, 0,056oC/hari, 0,020oC/hari, 0,026oC/hari, dan 0,033oC/hari. Laju perubahan color difference untuk masing-masing perlakuan adalah: 0,24 /hari, 0,36 /hari, 0,26 /hari, 0,27 /hari, dan 0,23 /hari. Laju perubahan tekstur dari masing-masing perlakuan adalah: 0,13 /hari, dan 0,53 N/hari, 0,65 N/hari, 0,53 N/hari, 0,56 N/hari, dan 0,63 N/hari. Kecukupan oksigen merupakan parameter penentu kualitas umbi kentang yang disimpan, maka perlakuan terbaik adalah perlakuan kemasan perforasi 0,84% dengan nilai penurunan susut bobot 8,77%, kelembaban 69,8%, perubahan suhu 28,8oC, color difference 6,95, tekstur 63,4 N. Abstract The high production of potatoes in Indonesia is not balanced with proper post-harvest handling, so many potatoes are damaged during storage. Packaging with perforations can maintain the shelf life of potato tubers. The aim of this research is to determine the effect of packaging perforation on the quality of consumption potatoes during storage and determine treatments that can maintain the quality of consumption potatoes during storage. Research with a completely randomized design (CRD) with packaging perforation treatment (0.42%, 0.63%, and 0.84%). Each experimental unit was repeated 3 times. The parameters measured were weight loss, air humidity, air temperature, color difference, and texture of potato tubers. The rate of increase in weight loss for the control treatment, packaging without perforation, 0.42% perforated packaging, 0.36% perforated packaging, and 0.84% perforated packaging were respectively: 0.09 g/day, 0.025 g/day, 0.036 g/day, 0.051 g/day, 0.058 g/day. The rate of change in air humidity for each treatment was: 0.10%, 0.36%, 0.30%, 0.23%, 0.16%, and the rate of change in packaging temperature was: 0.03oC/day, 0.056oC/day, 0.020oC/day, 0.026oC/day and 0.033oC/day. The color difference change rates for each treatment were: 0.24/day, 0.36/day, 0.26/day, 0.27/day, and 0.23/day. The rates of change in texture of each treatment were: 0.13 /day, and 0.53 N/day, 0.65 N/day, 0.53 N/day, 0.56 N/day and 0.63 N /day. Oxygen adequacy is a parameter determining the quality of stored potato tubers, so the best treatment is 0,84% perforated packaging with a weight loss value of 8,77%, humidity 69.8%, temperature change 28.8oC, color difference 6.95, texture 63,4 N.
Analisis Tingkat Akurasi Pendugaan Serangan Penyakit Blas Menggunakan Pendekatan Citra Multispektral pada Berbagai Ketinggian Akuisisi Nirmalayani, Komang Puspha; Wijaya, I Made Anom Sutrisna; Sumiyati, Sumiyati
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 12 No 2 (2024): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2024.v12.i02.p13

Abstract

Abstrak Pengukuran intesitas serangan penyakit blas biasanya dilakukan secara manual, sehingga diperlukan waktu lama dan ketelitian dalam mengidentifikasi. Hal tersebut dapat menghambat penanganan yang menyebabkan penyebaran semakin meluas sehingga beresiko terhadap penurunan produktivitas padi, maka diperlukan pengembangan mengenai pendugaan intesitas serangan melalui teknologi dengan menggunakan citra multispektral. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan hubungan antara indeks vegetasi dengan intensitas serangan penyakit padi pada berbagai ketinggian akuisisi citra dan mendapatkan akurasi pendugaan intensitas serangan penyakit padi pada berbagai ketinggian. Sampel intesitas serangan penyakit diambil sebanyak 3 petak dimana perpetaknya diambil 5 titik secara diagonal, setiap titik terdapat 9 rumpun. Akuisisi citra pada ketinggian 15 meter, 30 meter, dan 45 meter menggunakan drone Phantom 4 yang dilengkapi dengan kamera multispektral. Mosaiking menggunakan software Agisoft dan normalisasi menggunakan photoshop. Analisis indeks vegetasi NDVI, SAVI, CIG menggunakan QGIS 2.28. Hasil penelitian menunjukkan hubungan indeks vegetasi dengan intesitas serangan penyakit blas pada berbagai ketinggian berkorelasi linier. Indeks vegetasi NDVI 15meter, SAVI 15meter dan 30meter, CIG 15meter, 30meter, dan 45meter berkorelasi sangat kuat. Indeks vegetasi NDVI 30meter, SAVI 45meter berkorelasi kuat dengan intesitas serangan penyakit, sedangkan NDVI ketinggian 45meter berkorelasi cukup kuat dengan intesitas serangan. NDVI 15meter memiliki akurasi paling tinggi sebesar 97,96%. Citra multispektral dengan ketinggian 15meter dapat digunakan untuk menduga penyakit blas karena memiliki korelasi sangat kuat dan akurasi untuk pendugaan yang tinggi. Abstract Measurement of the intensity of blast disease attack is usually done manually, so it takes a long time and accuracy in identifying. This can hamper the handling which causes the spread to be more widespread so that it risks a decrease in rice productivity, so it is necessary to develop the estimation of attack intensity through technology using multispectral imagery. This study aims to determine the relationship between vegetation index and the intensity of rice disease attack at various heights of image acquisition and get the accuracy of estimating the intensity of rice disease attack at various heights. Samples of disease attack intensity were taken as many as 3 plots where each plot was taken 5 points diagonally with per point taken 9 clumps. Followed by acquiring images of heights of 15 meters, 30 meters, and 45 meters using a Phantom 4 drone equipped with a multispectral camera, after the image is obtained, continued mosaicing using Agisoft software, then normalization using Photoshop. NDVI, SAVI, CIG vegetation index analysis is carried out using QGIS 2.28. The results showed that correlation was made to obtain the equation used for validation, and accuracy. The relationship between vegetation index and blast disease intensity at various altitudes was linearly correlated. Vegetation index NDVI 15 meters, SAVI 15 meters and 30 meters, CIG 15 meters, 30 meters, and 45 meters were strongly correlated. Vegetation indices NDVI at 30 meters, SAVI at 45 meters were strongly correlated with disease intensity, while NDVI at 45 meters was moderately strongly correlated with disease intensity. The 15-meter NDVI had the highest accuracy of 97.96%. Multispectral imagery with a height of 15 meters can be used to predict blast disease because it has a very strong correlation and high accuracy for estimation.