cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Articles 473 Documents
PEMIKIRAN K.H. AHMAD DAHLAN TENTANG PENDIDIKAN DAN IMPLEMENTASINYA DI SMP MUHAMMADIYAH 6 YOGYAKARTA TAHUN 2014/2015 Fandi Ahmad
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 16, No. 2, Desember 2015
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v16i2.1854

Abstract

The objective of this research is to describes K.H. Ahmad Dahlan’s thought of Muhammadiyah education and related to evaluating implementation about K.H. Ahmad Dahlan's thought in SMP Muhammadiyah 6 Yogyakarta. The concept of Muhammadiyah education whose pioneered by K.H. Ahmad Dahlan apply holistic education. The education which combines general and religious education in the curriculum. This education will generate student who not only excellent in general knowledge but also in religious knowledge. By means of this research, researchers wanted to knowing the concept of Muhammadiyah education and that implementation in SMP Muhammadiyah 6 Yogyakarta. The data collected though interview to information resources, observation, and documentation study will be analyzed by qualitatively and descriptive served. Based on the results of descriptive analyzed revealed that the K.H. Ahmad Dahlan’s thought of Muhammadiyah education denote combines general education with religious education into a single unit are inseparable from one each other. Hence, this concept of Muhammadiyah education whose pioneered by K.H. Ahmad Dahlan not yet implementation in SMP Muhammadiyah 6 Yogyakarta because of the teachers still understand about the concept of Muhammadiyah education.Keywords: education; implementation;  Muhammadiyah 
PANDANGAN ISLAM TENTANG WANITA KARIR DAN IBU RUMAH TANGGA DALAM BINGKAI KELUARGA DAN MASYARAKAT Syifa Aulia Widya Ananda; Widad Alfiyah Zayyan; Imamul Arifin
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 22, No. 2, Desember 2021
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v22i2.16700

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesuksesan dan menjalani seorang ibu dari 2 belah pihak seperti pada wanita karir dan pada ibu rumah tangga yang memilih untuk berdiam di rumah, dan bagaimana Islam memandang hal itu. Permasalahan yang ada di dalam penelitian ini adalah apa yang menyebabkan para istri bekerja membantu perekonomian keluarga Bagaimana aktivitas para istri dalam menjalankan perannya sebagai ibu rumah tangga dan mengetahui konstribusi peran istri dalam membantu perekonomian keluarga. Metode penelitian ini adalah penelitian menggunakan teknik kualitatif dengan menggunakan pendekatan antropologis dan pendekatan sosiologis. Adapun metode yang digunakan dalam mengumpulkan data ialah dengan cara observasi, dan wawancara. Hasil penelitian bahwa dalam kitab al-Mawsu’at al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah dituliskan tugas utama seorang perempuan adalah mengurus rumah tangga. Rasullullah SAW dalam HR Bukhari bersabda : Perempuan itu mengatur dan bertanggung jawab atas urusan rumah suaminya”. Dan perempuan yang memilih untuk berdiam diri dirumah dipuji oleh Allah sebagaimana disebutkan dalam surah QS Al Ahzab:33 yang memiliki arti “ Dan tinggallah kalian di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berdandan sebagaimana dandan ala jahiliah terdahulu” Tetapi, Islam tidak pernah memposisikan perempuan hanya di rumah saja dan berdiam diri. Nabi Muhammad SAW bersabda “Sebaik-baik canda seorang Muslimah dirumahnya adalah bertenun.” 
ḤIKMAH DALAM AL-QUR’AN: STUDI TEMATIK TERHADAP TAFSIR AL-MIZĀN Ahmad Nurrohim; Ihsan Nur Sidik
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 20, No. 2, Desember 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v20i2.9954

Abstract

Ḥikmah adalah lafazh yang terdapat di dalam Al-Qur’an, disebutkan sebanyak 18 kali di dalam 12 surahnya. Ḥikmah merupakan kata yang di dalamnya terkandung makna yang mendalam. Hikmah sebagai lafazh Al-Qur’an memiliki implikasi teologis terhadap struktur makna kata, yang secara konseptual menjadikan definisi ḥikmah bersifat transendental. Tabāṭabā’i adalah seorang mufassir sekaligus filosof yang memiliki minat dan perhatian tinggi  kepada persoalan-persoalan mistik dan filsafat. Tulisan ini bermaksud menggali makna ḥikmah perspektif Tabāṭabā’i, dalam kitab tafsirnya al-Mizān fi Tafsir al-Qur’an. Tulisan ini berbasis penelitian kualitatif, dengan pendekatan filosofis, yang data penelitian dikumpulkan dengan metode dokumentasi dan dianalisa dengan analisa isi (content analysis). Hasil penelitian adalah kata ḥikmah memiliki dimensi arti berbeda-beda dalam setiap ayat-ayatnya. makna itu dapat dikategorikan menjadi tiga  dimensi, yaitu: (a) secara ontologis, hikmah adalah anikmat Allah;(b) pemahaman mendalam agama adalah makna epistimologis hikmah; dan (c) hikmah sebagai ajaran kebaikan sebagai makna aksiologis.
SIGI LAMO DAN TINGGALAN SEJARAH ISLAM DI TERNATE Masmedia Pinem
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 14, No. 2, Desember 2013
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v14i2.2017

Abstract

This study seeks to reveal the history ofthe ancient mosques in the city of Ternate.Through historical-archaeological-approaches, ancient mosques are described comprehensively.From the research of Sigi Lamo (Great Mosque) of the Ternate Sultanates, there are severalpoints found, first, Ternate Sultanates Sigi Lamo I sthe oldest mosque inTernate were builtaround the year 1606A Dat the time of Sultan Hamzah (1628-1648). Second, in terms oflayout Ternate Sultanate Sigi Lamo is very different with the mosques in Java—where themosqueis always adjacent to the palace, the square, and the market—. However, from thearchitecture aspects it’s showed the Javanese influences such as in the mosque polesor supportingpillars of the pyramidal roof, with asharps slope similar to the construction of Javanese house,wide of the porchis same to the main prayer hall. On eachsides ofthe Sultanates mosques, onthe top roof there is a window. In the west of mosque there isalso the sultanate family cemetery.Third, worshipat Ternate Sultanate Sigi Lamo arranged by a hereafter representative whichrepresented each ethnic orregional in Ternate. The here after representative (bobato akhirat)consists of Jiko Imam, Imam Java, Imam Sangaji, and Imam Moti. The four priests were onduty by turn seach week to organize worships at the mosque of Sultanates.Key words: history, archaeology, Ternate Sultanates mosque, hereafter bobatoPenelitian ini berupaya mengungkap sejarah masjid kuno di kota Ternate. Lewatpendekatan historis-arkeologis, masjid kuno dideskripsikan secara komprehensif. Dari hasilpenelitian terhadap Sigi Lamo (Masjid Agung) Kesultanan Ternate, beberapa poin yangdiungkapkan yaitu, pertama, Sigi Lamo Kesultanan Ternate merupakan masjid tertua diTernate yang didirikan sekitar tahun 1606 M pada masa Sultan Hamzah (1628-1648).Kedua, dari segi letak Sigi Lamo Kesultanan Ternate sangat berbeda dengan masjid yangada di Jawa—di mana masjid selalu berdekatan dengan kraton, alun-alun, dan pasar—.Namun, dari aspek arsitektur terlihat ada pengaruh Jawa seperti adanya tiang penyanggadi dalam masjid atau saka guru sebagai penyangga atap yang piramidal, dengan kemiringantajam mirip dengan konstruksi tajug, lebar serambi selebar unit ruang utama salat. Padasetiap sisi masjid Sultan, atap puncaknya dibuat jendela atap. Di barat masjid terdapatjuga komplek pemakaman keluarga sultan. Ketiga, peribadatan di Sigi Lamo KesultananTernate, diatur berdasarkan bobato akhirat yang mewakili dari masing-masing etnis ataudaerah yang ada di Ternate. Bobato akhirat tersebut terdiri dari Imam Jiko, Imam Jawa,Imam Sangaji, dan Imam Moti.Keempat imam inilah bertugas secara bergantian setiapminggunya untuk mengatur peribadatan di Masjid Sultan.Kata kunci: sejarah, arkeologi, masjid Kesultanan Ternate, bobato akhirat
PEMBERIAN MUT’AH DAN NAFKAH IDDAH DALAM PERKARA CERAI GUGAT Heniyatun Heniyatun; puji Sulistyaningsih; Siti Anisah
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 21, No. 1, Special Issue 2020
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v21i1.11647

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pertimbangan hukum hakim dalam pemberian mut’ah dan nafkah iddah dalam perkara cerai gugat dan bagaimana pelaksanaan isi putusan atas pemberian mut’ah dan nafkah iddah dalam perkara cerai gugat. Metode penelitian pustaka (library research) dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan yuridis normatif yaitu penelitian hukum yang dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka atau data sekunder. Teknik pengelolahan data yang digunakan yaitu teknik analisis data deskriptif normatif, dan penarikan kesimpulan dilakukan secara deduktif. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa: 1) Pertimbangan hukum hakim dalam pemberian mut’ah dan nafkah iddah dalam perkara cerai gugat nomor 0076/Pdt.G/2017/PA.Mgl yaitu mendasarkan pada Pasal 41 huruf (c) UU Nomor 1 Tahun 1974 jo Pasal 149 huruf (a) dan (b) KHI serta Yurisprudensi Mahkamah Nomor 137 K/AG/2007 tanggal 6 Februari 2008 dan Nomor 02 K/AG/2002 tanggal 6 Desember 2003. Putusan tersebut menyimpangi ketentuan Pasal 149 KHI, namun demikian pertimbangan hukum hakim dalam perkara tersebut mengandung terobosan hukum dengan metode penemuan hukum dan berpedoman pada Pasal 10 ayat (1) dan Pasal 5 ayat (1) UU Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman dalam memberikan putusan berkaitan dengan nusyuz, sehingga meskipun perceraian diajukan oleh isteri (cerai gugat) tetapi isteri tidak terbukti nusyuz maka secara ex officio suami dapat dihukum untuk memberikan nafkah iddah kepada bekas isterinya. Putusan hakim tersebut mengakodomasi pendapat madzhab Hanafi. Penerapan hak ex officio hakim tersebut juga menyimpangi ketentuan Pasal 178 ayat (3) HIR/ Pasal 189 ayat (3) RBG yang menyatakan bahwa hakim dilarang menjatuhkan keputusan atas perkara yang tidak dituntut, atau memberikan  lebih daripada yang dituntut, namun demikian putusan tersebut tidak melanggar asas ultra petita.  2) Pelaksanaan isi putusan perkara nomor 0076/Pdt.G/2017/PA.Mgl adalah secara sukarela di luar persidangan, apabila tergugat tidak melaksanakan isi putusan secara sukarela maka penggugat dapat mengajukan permohonan eksekusi terhadap putusan tersebut dengan mengajukan permohonan eksekusi sejumlah uang. Kelemahan putusan ini yaitu tidak ada instrumen yang dapat memaksa tergugat untuk membayar mut’ah dan nafkah iddah yang telah diputuskan sebagaimana pada perkara cerai talak, instrumen pelaksanaan putusan dalam cerai talak dapat dilaksanakan melalui sidang ikrar talak.
SEJARAH DAN PERKEMBANGAN LEMBAGA PENDIDIKAN MUHAMMADIYAH DI KABUPATEN SUMBAWA NUSA TENGGARA BARAT TAHUN 1940-2014 Abdul Alimun Utama
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol, 18. No, 1 Juni 2017
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v18i1.6297

Abstract

Muhammadiyah organization in Sumbawa regency was established on 6 May 1940. The movement and the development of educational institutions Muhammadiyah Sumbawa has been felt by the community. The development of educational institutions Muhammadiyah Sumbawa able to set up education through three lines of education, namely: formal education, non-formal and informal. formal education has been established since the year 1941-2013, thenumber of 23 educational institutions, including; 4 (four) kindergarten Ortom(Autonomous organizations)Aisyiah, 6 (six) elementary and MI (madrasah ibtidaiyah) , 6 (six) SMP (junior high school)and MTS (madrasah tsanawiyah), 6 (six) SMA (Senior High School) and MA (madrasah aliyah), 1 (one) colleges. While informal pathways, include; orphanage, cottage tahfizulquran and manage mosques. As developed through informal education through a variety of program areas stewardship activities Muhammadiyah Sumbawa.Based on the above background, the formulation of the problem in this research is How the History and Development of Institutions of Muhammadiyah in Sumbawa and what are the factors supporting and inhibiting the development of Muhammadiyah Education Institute in Sumbawa. While the purpose of this study was to describe the history and development of educational institutions Muhammadiyah in Sumbawa as well as factors supporting and inhibiting. Based on the research results, indicate that during the struggle for the developmentof educational institutions Muhammadiyahof the year 1952-2014, Muhammadiyah Sumbawa able to give an important role in developingthe educational institutions of Muhammadiyah Sumbawaby providing of islamic guidance,which is realized by three educational paths, is education formal, non-formal and informal. As for enabling and inhibiting factors that influencesuccess of the organization Muhammadiyah Sumbawa in developing educationalinstitutions Muhammadiyah can be seen from several internal and external factors are schools, human resources and educational tools. While the factors that most basic is a factor that is an asset fund the passage of a education, While the inhibiting factors that most basic is a factor that is an asset fund the passage of a education, and unmatched strictly by the state education agency Berdirinya organisasi Muhammadiyah di Kabupaten Sumbawa pada tanggal 6 Mei 1940. Gerakan dan perkembangan lembaga penddikan Muhammadiyah Sumbawa telah dapat dirasakan oleh masyarakat. Perkembangan lembaga penddikan Muhammadiyah Sumbawa mampu mendirikan pendidikan melalui 3 jalur pendidikan, yaitu: pendidikan formal, nonformal dan informal. melalui jalur pendidikan formal telah didirikan dari semnjak tahun 1941-2013, dengan jumlah 23 lembaga pendidikan, meliputi; 4 (empat) jenjang TK Ortom Aisyiah, 6 (enam) jenjang SD dan MI, 6 (enam) jenjang SMP dan MTS, 6 (enam) jenjang SMA dan MA, 1 (satu) jenjang perguruan tinggi. Melalui jalur nonformal, meliputi; panti asuhan, pondok tahfizul qur’an dan mengelola masjid. Adapun melalui pendidikan informal yaitu dikembangkan melaui berbagai program kegiatan bidang-bidang kepengurusan Muhammadiyah Sumbawa. Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimanakah Sejarah dan Perkembangan Lembaga Pendidikan Muhammadiyah di Kabupaten Sumbawa dan apa saja yang menjadi faktor pendukung dan penghambat perkembangan Lembaga Pendidikan Muhammadiyah di Kabupaten Sumbawa. Sedangkan tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan sejarah dan perkembangan lembaga pendidikan Muhammadiyah di Kabupaten Sumbawa serta faktor pendudukung dan penghambatnya. Berdasarkan hasil penelitian, menunjukkan bahwa sepanjang masa perjuangan pengembangan lembaga pendidikan Muhammadiyah dari tahun 1952-2014, Muhammadiyah Sumbawa mampu memberi peranan penting dalam mengembangan lembaga pendidikan Muhammadiyah Sumbawa dengan memberi pedoman keislaman, yang mana diwujudkan melalui tiga jalur pendidikan, yaitu pendidikan formal, nonformal dan informal. Adapun faktor pendukung dan penghambat yang sangat mempengaruhi keberhasilan organisasi Muhammadiyah Sumbawa dalam mengembangkan lembaga pendidikan Muhammadiyah dapat dilihat dari beberapa faktor internal dan eksternal adalah sekolah, SDM, dan alat pendidikan. Sedangkan faktor penghambat yang paling pokok adalah faktor dana yang merupakan aset berjalannya suatu pendidikan, dan tersaingi ketat oleh lembaga pendidikan negeri.
PRAKTIK PERNIKAHAN POLIGAMI DALAM PANDANGAN HUKUM ISLAM DAN HUKUM NEGARA Nurul Faizatur Rohmah; Budihardjo Budihardjo
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 22, No. 2, Desember 2021
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v22i2.16669

Abstract

This article discusses how the law of polygamy is in Islam and in the state law. Seeing the current situation and condition of Indonesian society, the practice of polygamy is often found in various regions with different backgrounds of religious, social and economic understanding. In this article, we will also correlate Nas al-Quran surah an-Nisa verse 43 concerning polygamy with the reality that exists in society. Of course, the mercy of Islamic law will govern the whole life and perspective of society. Therefore, it will create justice for polygamous families and be able to ward off bad perceptions of someone regarding the practice of polygamy.Artikel ini membahas tentang bagaimana hukum poligami dalam Islam dan dalam hulum negara. Melihat situasi dan kondisi masyarakat Indonesia sekarang ini, praktik poligami acap kali dijumpai di berbagai daerah dengan bermacam-macam latar pemahaman agama,sosial serta ekonomi masing-masing. Dalam artikel ini juga akan mengkorelasikan Nas al-Qur’an surat an-Nisa’ ayat 43 tentang poligami dengan realita yang ada di masyarakat. Tentu saja hukum Islam yang rahmah akan mengatur seluruh kehidupan dan cara pandang masyarakat. Oleh karena itu, akan terciptalah suatu keadilan bagi keluarga poligami dan mampu menepis anggapan buruk seseorang terkait praktik poligami.
قانون جنائي رقم 6 سنة 2014م بأتشيه في منظور الفقه الإسلامي (دراسة مقارنة في جريمة اللواط والمساحقة) Khairuddin Hamsen; Sirajuddin Sirajuddin
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 20, No. 1, Juni 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v20i1.8952

Abstract

the obligation to apply Islamic law is an inseparable part of the obligation to carry out other Islamic Sharia, such as prayer, fasting, zakat and hajj, as has been applied by the Prophet, khulafaurrasyidin, Islamic daulah afterwards and in some Islamic countries nowadays. Aceh is one of the province that attempts to implement Islamic law after obtaining district autonomy, the Aceh governor has approved several Sharia laws, including Qonun jinayat of Aceh No. 6 of 2014 which regulates ten jarimah, including Jarimah liwath and musahaqoh which are both categorized as jarimah ta'ziriyah. This thesis aims to analyze the Qonun specifically about the essence and punishment for the perpetrators of jarimah liwath and musahaqoh and then compare it with Islamic fiqhi point of view. This type of research is literature study using a qualitative approach. Analytic method that is used here is deductive method, inductive and comparative descriptive. The results of the study, the author found a similarity between Aceh qonun jinayat regarding jarimah liwath and musahaqoh as jarimah ta’ziriyah and the punishment are 100 whips at most, or being jailed for 100 months at most, or 1000 gold bar as amercement at most. There are many similarity between Aceh qonun jinayat on jarimah liwath and musahaqoh with the Islamic fiqhi point of view in terms of the essence of liwaht and musahaqoh. Both of them define liwath as, “An act of a man by inserting his testicle into the anal of another man voluntarily by both parties” and also define musahaqoh as, “An act of two or more women by rubbing each other's limbs or vaginal to get sexual pleasure voluntarily by both parties” and  the punishment for perpetrators of musahaqoh, even though there are differences between types of punishment established for perpetrators of jarimah liwath in Aceh of qonun jinayat compared with opinion of jumhur ulama (Islamic scholars).Abstrak: Kewajiban menerapkan hukum Islam adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kewajiban menjalankan syariat Islam yang lain,  seperti sholat, puasa, zakat dan haji, sebagaimana yang telah diterapkan pada zaman Rasulullah, khulafaurrasyidin, daulah Islamiyah setelahnya dan di beberapa negara Islam saat ini. Aceh adalah salah satu daerah yang berusaha mejalankan hukum Islam setelah mendapatkan otonomi daerah, gubernur Aceh telah mengesahkan beberapa undang undang syariat, diantaranya adalah Qonun jinayat Aceh No 6 tahun 2014 yang mengatur sepuluh jarimah, diantaranya adalah Jarimah liwath dan musahaqoh yang keduanya dikategorikan sebagai jarimah ta’ziriyah. Tesis ini bertujuan untuk menganalisa Qonun tersebut khususnya tentang hakekat dan hukuman bagi pelaku jarimah liwath dan musahaqoh lalu membandingkannya dengan pandangan fiqhi Islam. Jenis penelitian ini adalah  penelitian kepustakaan  dengan menggunakan pendekatan kualitatif, adapun metode analisis data penulis menggunakan metode deduktif, Induktif dan Deskripsi Komparatif. Hasil dari penelitian ini adalah:  Qonun  jinayat Aceh menetapkan jarimah liwath dan musahaqoh sebagai jarimah ta’ziriyah dan menentukan kadar hukumannya maksimal cambuk 100  (seratus) kali atau penjara paling lama 100 (seratus) bulan atau denda maksimal 1000 (seribu) gram emas murni,  penulis menemukan adanya kesamaan antara qonun jinayat Aceh tentang jarimah liwath dan musahaqoh dengan pandangan fiqhi Islam dalam hal hakikat liwaht  dan musahaqoh yang keduanya mendefenisikan liwath yaitu “perbuatan seorang laki laki dengan cara memasukkan zakarnya kedalam dubur laki-laki lain dengan kerelaan kedua belah pihak”  dan mendefenisikan musahaqoh “ perbuatan dua orang wanita atau lebih dengan cara saling menggosok-gosokkan anggota tubuh atau faraj untuk mendapatkan kenikmatan seksual dengan kerelaan kedua belah pihak” serta jenis  jarimah musahaqoh yaitu jarimah ta’ziriyah, meskipun terdapat berbedaan antara jenis hukuman yang ditetapkan dalam qonun jinayat Aceh untuk pelaku jarimah liwath dengan pendapat jumhur ulama yang menetapkan liwath sebagai jarimah hudud.   الملخص: إن تطبيق وإقامة حدود الله في الدول الإسلامية قضية مهمة لا يتفرع عن سائر الواجبات كالصلاة والصيام والزكاة والحج، كما طبقه الرسول والخلفاء الراشدين والدول الإسلامية بعده. وكانت أتشيه هي إحدى الأقاليم التي حاولت في تطبيق الشريعة الإسلامية وإقامة حدود الله، فبعد حصولها على استقلال داخلي (OTONOMI DAERAH  ) ولها حرية في تطبيق شريعة الإسلام أصدر محافظ أتشيه جملة من قانون المدَني، ومن قوانين التي وضعها هي قانون جنائي رقم 6 سنة 2014م  ويشمل على عشرة جرائم، ومنها جريمة اللواط وجريمة المساحقة وجعل عقوبتهما عقوبة التعزيرية. تهدف هذه الرسالة لبحث حقيقة جريمة اللواط والمساحقة وعقوبتيها في القانون المذكورة  ومن ثم مقارنتها بالفقه الإسلامي. هذا البحث تعتبر البحث المكتبي وأما من حيث فراديقما (طريقة التفكير) فإنه البحث الكيفي  واستخدمها الباحث طريقة الاستقرائية والاستدلالية والمقارنة في تحليل المعلومات. ومن خلال البحث، توصّل الباحث إلى أن قانون الجنائي أتشيه رقم 6 سنة 2014م  كتب الجريمة اللواط والمساحقة من جريمة التعزيرية، وقدّر عقوبتها الجلد على الحد الأقصى 100(مائة) جلدة أو غرامة على الحد الأقصى 1000 (ألف) جراما ذهبا، أو اليسجن على الحد الأقصى100 (مائة) شهر. كما وجد الباحث وجه الاتفاق بين قانون جنائي أتشيه رقم 6 سنة 2014م والفقه الإسلامي، وذلك في حقيقة اللواط والمساحقة فاللواط هو "إيلاج رجل ذكره في دبر رجل آخر برضى طرفين" وأما المساحقة هو فعل اثنين أو أكثر من النساء عن طريق فرك الجسم الآخر أو الفرج للحصول على التحفيز الجنسي (المتعة) برضى كلا الطرفين.  وفي نوع جريمة المساحقة فهي جريمة التعزيرية، وإن حصل اختلاف بين قانون جنائي أتشيه وجمهور العلماء في نوع جريمة اللواط فالجمهور يرونه أنها من جريمة الحدود.
MERAJUT KERUKUNAN DALAM KERAGAMAN AGAMA DI INDONESIA (Perspektif Nilai-Nilai Al-Quran) M. Abdul Khaliq Hasan
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 14, No. 1, Juni 2013
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v14i1.2008

Abstract

Religious diversity is sunnatullah, something that is given. As well as thediversity in language, culture and the like. It is recognized by al-Quran clearly. Forthat al-Quran has given instructions to his people in addressing religious diversity inform two clear and unequivocal manner. That is the attitude Exclusive (al-inghilaq) inthings that are aqidah (belief) and ‘ubudiah (worship) and inclusive attitude (alinfitah)in the realm of socially interactive. In the applicative level, the teachings ofIslam which is sourced to al-Quran and Sunnah has taught his people how to live sideby side with members of different communities faith. Medina Charter is among thehistorical evidence of how Islam since the beginning wantrealization inter-religiousharmony. In the context on Indonesia, noble values al-Quran can be developed inorder uphold various pillars that need to be agreed together and actualized to buildinter-religious harmony. Among these pillars is to improve the correct tolerance, mutualrespect with full religious attitudes in certain maturity, increased cooperation in mattersof religion become destination together, without having to mutual suspicion andstrengthen the three pillars of state (Pancasila, UUD 45 and Unity in Diversity).Keywords: harmony, religious diversity,Keragaman beragama merupakan sunnatullah, sesuatu yang sifatnya given.Sebagai halnya keragaman dalam bahasa, suka dan budaya.Hal ini diakui oleh Al-Quran secara jelas.Untuk itu,Al-Quran telah memberikan petunjuk kepada umatnyadalam menyikapi keragaman beragama dalam wujud dua sikap yang jelas dantegas.Yaitu sikapeksklusif (al-inghilaq) dalam hal-hal yang bersifat aqidah dan ‘ubudiahdan sikap Inklusif (al-infitah) dalam ranah sosial interaktif.Dalam tataran aplikatif,ajaran Islam yang bersumber kepada Al-Quran dan as-Sunnah telah mengajarkankepada umatnya bagaimana hidup berdampingan dengan anggota masyarakat yangberbeda kenyakinan. PiagamMadinah adalah diantara bukti sejarah bagaimana Islamsejak awal menginginkan terwujutnya kerukunan antarumat beragama.Dalam kontekske-Indonesia-an, nilai-nilai luhur Al-Quran tersebut dapat dikembangkan dalam rangkamengakkan berbagai pilar yang perlu disepakati bersamadan diaktualisasikan untukmembangun kerukunan antarumat beragama.Diantara pilar-pilar tersebut adalahdengan meningkatkan sikap toleran yang benar, saling menghormati dengan penuhsikap kedewasan dalam beragama, meningkatkan kerjasama dalam hal-hal yang menjaditujuaan bersama dalam beragama, tanpa harus saling mencurigai dan memperkokohtiga pilar kenegaraan (Pancasila, UUD 45 dan Bineka Tunggal Ika).Kata Kunci: kerukunan, keberagaman agama, eksklusif, inklusif.
METODE PEMBELAJARAN TAḤFĪẒ AL-QUR’AN DI MADRASAH ALIYAH TAḤFĪẒ NURUL IMAN KARANGANYAR DAN MADRASAH ALIYAH AL-KAHFI SURAKARTA Suryono Suryono; Ari Anshori; Muthoifin Muthoifin
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 17, No. 2, Desember 2016
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v17i02.5295

Abstract

Madrasah Aliyah (MA) is an educational institution under the ministry of religion affair that have special features to deliver next-generation learners become knowledgeable, proficient in science and morality. MA Taḥfīẓ Nurul Iman Karanganyar and MA al-Kahfi Surakarta, both these madrassas have a role in educating students, families and the nation by organizing educational programs with the national curiiculum, ministry of religion affairs and the flagship program in the form of taḥfīẓ al-Qur'an. This study was a qualitative research to describe the data collected as the scope of its research and field as a place of research (field research). The nature of this research more towards research comparative studies, since the object of research comparing the learning method taḥfīẓ al-Qur'an in MA Taḥfīẓ Nurul Iman Karanganyar and MA al-Kahfi Surakarta. Analyzed is done by way of organizing data. The data collected by using documentation, observation and interviews. All data that has been collected by a variety of techniques organized, sorted, grouped and categorized so you can find an appropriate theme taḥfīẓ method of learning the al-Qur'an at MA Taḥfīẓ Nurul Iman Karanganyar and MA al-Kahfi Surakarta. Researchers concluded that the method applied in teaching taḥfīẓ al-Qur'an in MA Taḥfīẓ Nurul Iman there are seven methods, namely: juz’i, simā’i, tasmī’, murāja’ah, jama’, linking verses with meaning and kitābah, and its implementation has been effective and efficient. Whereas in MA al-Kahfi Surakarta there are five methods, namely: juz'i, jama’, simā’i, tasmī’, and muraja'ah. The operation has been effective but not efficient. Then bring up a comparison that in target taḥfīẓ al-Qur’an  in MA Taḥfīẓ Nurul Iman are more than the target MA al-Kahfi, MA Taḥfīẓ Nurul Iman methods applied more than in MA al-Kahfi and the views of the value produced both have been equally effective, MA Nurul Iman has been efficient while MA al-Kahfi has not been efficient. Madrasah Aliyah (MA) merupakan sebuah lembaga pendidikan di bawah kementerian agama yang memiliki ciri khusus untuk mengantarkan peserta didik menjadi generasi yang berwawasan luas, cakap dalam keilmuan dan berakhlak mulia. MA Taḥfīẓ Nurul Iman Karanganyar dan MA al-Kahfi Surakarta, kedua madrasah ini memiliki peran dalam mencerdaskan peserta didik, keluarga dan kehidupan bangsa dengan menyelenggarakan program pendidikan dengan kurikulum pendidikan nasional (diknas), kementerian agama (kemenag) dan program unggulan berupa Taḥfīẓ al-Qur’an. Penelitian ini termasuk dalam penelitian kualitatif dengan menjabarkan data-data yang terkumpul sebagai ruang lingkup penelitiannya dan lapangan sebagai tempat penelitiannya (field research). Sifat dari penelitian ini lebih ke arah pada penelitian studi komparasi, karena objek penelitian membandingkan metode pembelajaran taḥfīẓ al-Qur’an di MA Taḥfīẓ Nurul Iman Karanganyar dan MA al-Kahfi Surakarta. Data-data dikumpulkan dengan menggunakan teknik dokumentasi, observasi dan wawancara. Semua data yang telah dikumpulkan dengan berbagai teknik diatur, diurutkan, dikelompokkan dan dikategorikan sehingga dapat ditemukan tema yang sesuai dengan metode pembelajaran taḥfīẓ al-Qur’an di MA Taḥfīẓ Nurul Iman Karanganyar dan MA al-Kahfi Surakarta. Peneliti menyimpulkan bahwa Metode yang diterapkan dalam pembelajaran taḥfīẓ al-Qur’an di MA Taḥfīẓ Nurul Iman terdapat tujuh metode yaitu: juz’i, simā’i, tasmī’, murāja’ah, jama’, mengaitkan ayat dengan maknanya dan kitābah, serta pelaksanaannya sudah efektif dan efisien. Sedangan di MA al-Kahfi Surakarta terdapat lima metode yaitu: juz’i, jama,’simā’i, tasmī’, dan  murāja’ah. Adapun pelaksanaannya sudah efektif akan tetapi belum efisien. Kemudian memunculkan perbandingan bahwa target hafalan al-Qur’an di MA Taḥfīẓ Nurul Iman lebih banyak dari pada target di MA al-Kahfi, metode yang diterapkan di MA Taḥfīẓ Nurul Iman lebih banyak dari pada di MA al-Kahfi dan dilihat dari nilai yang dihasilkan keduanya sudah sama-sama efektif, MA Nurul Iman sudah efisien sedangkan MA al-Kahfi belum efisien.