cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin | Universitas Ialam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung. Jl. AH Nasution No 105, Cibiru Bandung.
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jaqfi : Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam
ISSN : 27149420     EISSN : 2541352X     DOI : -
Core Subject : Religion, Education,
Jurnal Ilmiah JAQFI: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam adalah jurnal yang mempublikasikan hasil-hasil kajian dan penelitian orisinal terbaru dalam ilmu murni Filsafat Islam dan Aqidah (Teologi Islam), serta cakupannya meliputi kajian filsafat kontemporer, pendidikan, sosial, dan keagamaan dari perspektif filsafat maupun aqidah. Tujuan Jurnal berkala ini adalah untuk upaya meningkatkan intensitas kajian Filsafat Islam dan Aqidah, mengupayakan teori baru serta kontekstualisasinya bagi perkembangan intelektualitas.
Arjuna Subject : -
Articles 220 Documents
TRANSFORMASI MAHABBAH MENJADI CINTA ABADI DALAM KONSEP TASAWUF BADIUZZAMAN SAID NURSI Ihsan, Nur Hadi; Permana, Ridani Faulika; Rizaka, Muhamad Fawwaz
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol. 6 No. 2 (2021)
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jaqfi.v6i2.13962

Abstract

Abstract Mahabbah or mahabbah Allah (the love of Allah) is the highest spiritual attaintment that Sufis aim for in their spiritual journey. This mahabbah is a form of human love for The Creator which then manifests into love for every beauty and whatever they love. This study will expose Nursi's view of love and how to make human love for everything become eternal. This paper is a library research applying a Sufism approach. The documentary techniques is used to collect the data of this study and the collected data will be analyzed utilizing descriptive-analysis method. This study identifies that according to Nursi, true love is human love for the Creator. This kind of love can only be obtained with ma'rifatullah. If this love for Allah underlies human love for all other than Allah, then he will make all his love eternal. Love for friends, love for wife and children, love for delicious food, love for beauty, and all human love for other than Allah will be eternal if all of them are based and for the sake of Allah.AbstrakMaḥabbah atau lebih tepatnya mahabbah Allah (cinta Allah), merupakan puncak pencapaian spiritual yang hendak dituju  oleh para sufi dalam perjalanan spiritual mereka. Mahabbah ini adalah suatu bentuk kecintaan manusia kepada Sang Pencipta yang kemudian manifestasinya menjadi cinta kepada setiap keindahan dan apa saja yang mereka cintai. Kajian ini akan mengungkap pandangan Nursi terhadap cinta dan bagaimana menjadikan cinta manusia kepada segala sesuatu itu menjadi cinta yang abadi. Tulisan ini kajian kepustakaan dengan menggunakan pendekatan tasawuf. Data dalam penelitian ini dikumpulkan menggunakan teknik dokumenter dan data yuang terkumpul akan dianalisis menggunakan metode analisis-deskriptif. Kajian ini mendapati bahwa menurut Nursi, cinta sejati itu adalah cinta manusia kepada Sang Pencipta. Cinta semacam ini hanya dapat dicapai dengan ma'rifatullah. Jika cinta kepada Allah ini mendasari cinta manusia kepada semua selain Allah, maka ia akan menjadikan semua cinta itu abadi. Cinta kepada sahabat, cinta kepada istri dan anak, cinta kepada makanan lezat, cinta kepada keindahan, dan semua cinta manusia kepada selain Allah itu akan menjadi abadi jika semua itu didasari oleh karena cinta kepada, untuk, dan demi Allah.
MENGURAI DISRUPSI PAHAM KEISLAMAN INDONESIA DALAM PERSPEKTIF TIPOLOGI EPISTIMOLOGI ABID AL-JABIRI Muslih, Mohammad; Kusuma, Amir Reza; Rahman, Ryan Arief; Rohman, Abdul; Suntoro, Adib Fattah
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol. 6 No. 2 (2021)
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jaqfi.v6i2.14028

Abstract

Diskursus pemahaman keagamaan masyarakat Indonesia masa kini menjadi perhatian sebagian tokoh dan cendekiawan belahan dunia. Pemahaman dan perbuatan yang dilakukan oleh sebagian umat Muslim tidak mencerminkan universalitas dan “rahmatan” ajaran Islam. Ada sebagian kaum muslimin yang sangat tekstualis dalam memahami dan mengamalkan Islam, ada pula yang liberal sekuler dalam pemahaman dan pengamalan ajaran Islam. Oleh karena itu dalam menghadapi problem tersebut. Peneliti ingin mengurainya berdasarkan tipologi epistimologi Abid al-Jabiri yaitu epistimologi bayani, burhani dan irfani. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-analisis. Ketiga tipologi epistimologi tersebut dapat dijadikan sebagai metode dan dasar dalam menjaga kemurnian ajaran Islam dan menjaga nilai Rahmatan dan Univeralitasnya. Penggunaan tipologi epistimologi Abid al-Jabiri dalam memahami dan mengamalkan Islam juga dapat menjadikan umat Islam sebagai umat yang berpegang teguh terhadap nushus (teks), antusias mencari kemaslahatan segala realitas, dan responsif terhadap segala tantangan/perubahan zaman. AbstractDiscourse of religious understanding in Indonesia today is a concern of some Indonesian figures and scholars and a wide part of the world. The understanding and deeds of some Muslims do not reflect the universality and "rahmatan" of Islamic teachings. There are some Muslims who are very textual and radical in understanding and practicing Islam, some are secular liberals in understanding and practicing the teachings of Islam. Therefore, in the face of this problem. Researchers wanted to parse it based on abid al-Jabiri's epistimology, namely epistimology bayani, burhani and irfani. This study uses the descriptive-analysis method. The three Epistimological Typologies can be used as a method and basis in maintaining the purity of Islamic teachings and maintaining the value of Rahmatan and its Univerality.The use of Abid al-Jabiri epistimology typology in understanding and practicing Islam can also make Muslims as a ummah who hold on to nusush (text), enthusiastically seek the benefit of all reality and responsive to all challenges/changes of the times. 
Politik Kemanusiaan dalam Ensiklik Fratelli Tutti Satrio, Anthonius Panji; Viktorahadi, R.F. Bhanu
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol. 6 No. 2 (2021)
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jaqfi.v6i2.14072

Abstract

Menindaklanjuti perjumpaannya dengan Sultan Malik al-Kamil di Abu Dhabi awal 2019 sekaligus mengajak semua saudara membangun tata kelola dunia yang lebih baik pasca Pandemi Covid-19, Paus Fransiskus menerbitkan Ensiklik ‘Fratelli Tutti’ on Fraternity and Social Friendship pada Oktober 2020. Secara khusus, dengan ensiklik ini Paus Fransiskus juga mengajukan proposal tentang ‘Politik Kemanusiaan’. Menurutnya, ‘Politik Kemanusiaan’ adalah politik berbasiskan amal kasih. Politik ini merangkul semua pihak untuk mempromosikan kemanusiaan. Penelitian ini memiliki dua tujuan. Pertama, mendeskripsikan politik kemanusiaan dalam Ensiklik Fratelli Tutti. Kedua, mendeskripsikan relevansi politik kemanusiaan tersebut. Untuk sampai pada tujuan itu, penelitian ini menggunakan metode kajian pustaka dan analisis teks. Penelitian menyimpulan bahwa politik kemanusiaan ini relevan untuk diterapkan pada zaman ini. Akan tetapi, Gereja Katolik Indonesia masih harus berjuang untuk benar-benar mewujudkan politik kemanusiaan ini.
TINJAUAN TEOLOGI ISLAM ATAS KOMUNIKASI PEMIMPIN LEMBAGA PENDIDIKAN (Signifikansi sifat Nabi Muhammad saw., atas kepemimpinan dan komunikasi) Sudarma, Unang; Mulyana, Asep; Sauri, Sofyan; Fatkhullah, Faiz Karim; Rusliana, Iu
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol. 6 No. 2 (2021)
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jaqfi.v6i2.15077

Abstract

AbstrakDalam suatu struktur lembaga pendidikan, fungsi komunikasi sangat vital. Fungsi komunikasi harus berjalan dengan baik karena di dalam lembaga yang diisi oleh pelbagai pos dengan posisi berbeda, harus terjadi kesepahaman. Selama ini, dalam sistem komunikasi, banyak terjadi disrupsi kesepahaman antara pelbagai posisi yang ada di dalam struktur pendidikan, terutama disebabkan oleh komunikasi dari pemimpin sebagai ketua kepada anggota yang bersifat asimetris. Sejumlah penelitian menunjukkan pentingnya peran komunikasi pemimpin kepada anggota. Penelitian ini akan meninjau sejauh mana pengaruh teologi Islam dalam menentukan karakter dan pada gilirannya penyampaian komunikasi dari ketua ke anggota, sebagai bagian yang bersifat a priori secara filosofis dan teologis. Melalui pendekatan literatur—teologi Islam, komunikasi, dan pendidikan—dengan deskripsi analitik, penelitian ini akan melihat keterkaitan langsung antara teologi Islam dengan sifat komunikasi dari ketua ke anggota. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa pengaruh sejumlah poin ajaran teologi Islam sangat mempengaruhi komunikasi; terutama bagi pemimpin pada anggota dalam lembaga pendidikan. Penekanan paling mencolok muncul dari pemahaman sifat Amanah (jujur) dan tabligh (menyampaikan) melalui imitasi sifat Nabi agung Muhammad saw. Kata Kunci: kepemimpinan, komunikasi, pendidikan, teologi Islam,  AbstractIn an educational institution structure, the function of communication is very vital. The communication function must work well because within the institution, which is filled by various posts with different positions, there must be an understanding. So far, in the communication system, there has been a lot of disruption of understanding between various positions in the educational structure, mainly due to asymmetrical communication from the leader as chairman to members. A number of studies show the important role of leader-to-member communication. This study will review the extent of the influence of Islamic theology in determining the character and in turn the delivery of communication from the chairman to members, as part of a philosophical and theological a priori. Through a literature approach—Islamic theology, communication, and education—with analytic descriptions, this study will look at the direct relationship between Islamic theology and the nature of communication from chairman to members. In this study it was found that the influence of a number of points of Islamic theological teachings greatly affects communication; especially for leaders in members in educational institutions. The most striking emphasis comes from understanding the nature of Amanah (honest) and tabligh (delivering) through imitation of the nature of the great Prophet Muhammad. Keywords: leadership, communication, education, Islamic theology,
HEIDEGGER DAN BAHAYA TEKNOLOGI Wibowo, A. Setyo
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol. 6 No. 2 (2021)
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jaqfi.v6i2.15841

Abstract

AbstrakTeknologi adalah keniscayaan. Kita membutuhkan teknologi untuk hidup, namun teknologi juga menunjukkan wajahnya yang seram: krisis ekologi, perang nuklir dan disrupsi. Bagi Heidegger, teknologi bukan sekedar pengetahuan teknis dan kumpulan perangkat (instrumentum) untuk mempermudah kerja. Inti teknologi adalah Gestell yang membingkai segala sesuatu, termasuk manusia, sebagai sumber daya untuk dieksploitasi. Heidegger menengarai bahwa inti teknologi berasal dari Metafisika Barat yang berciri ontoteologis. Manusia mesti berpikir secara lain, bukan lagi kalkulatif melainkan meditatif supaya ia memiliki relasi lebih baik dengan physis (alam). Kata Kunci: teknologi, ontoteologi, Gestell (Enframing), pikiran kalkulatif dan meditatif AbstractIn this age, technology is an imperative. Though we need it, technology has its own dangers: ecological crisis, nuclear war and technological disruption. Heidegger thought that technology was not merely a technical knowledge, nor a set of instruments to make work easier. The essence of technology is Gestell, Enframing, a stand point to consider everything, including man, as a standing reserve ready to be exploited. For Heidegger, the essence of technology comes from Western Metaphysics, characterized by its ontotheological structure. Man should look for another kind of thinking, meditative one, to have a better relationship with nature. Key words: technology, ontotheology, Gestell (Enframing), calculative and meditative thinking.
TAHAPAN-TAHAPAN EKSISTENSI MANUSIA DALAM MISTIK SERAT SASTRA GENDING khumaidi, Mohamad arief
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol. 7 No. 2 (2022): JAQFI VOL.7 NO. 2, 2022
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jaqfi.v7i2.16234

Abstract

Abstrak:Anggapan terhadap manusia hanyalah seonggok mesin menimbulkan pertanyaan sehubungan dengan bahwa fakta keberadaan dan gerak-gerik manusia yang komplek. Sultan Agung seorang pemikir Jawa dalam serat Sastra Gending berpendapat bahwa keberadaan manusia di bumi memiliki tujuan bertujuan, yaitu kembali kepada awal mula penciptaanya yaitu menuju Tuhan Sang Maha Kodrati. Untuk kembali menuju Tuhan melalui tahapan-tahapan yang diterangkan dalam serat Sastra Gending, yang dalam penulisan ini dikaji dengan menggunakan pemikiran tingkatan-tingkatan ekskitensi manusia dari pemikiran EF Schumacher. Tema penelitian ini menarik dikaji mengingat saat ini ada gejala kecendrungan dalam keberagamaan yang ditandai dengan cara pandang radikal dan absolut dalam pemahaman keagamaan. Pemahaman yang radikal sering berujung kekerasan ini melupakan dimensi subtansi dari ajaran agama, termasuk kurang menyentuh dimensi spiritual agama. Dalam sejarah khasanah pustaka Islam di Jawa, pemahaman keislaman yang konstekstual yang telah terintgrasi dengan budaya local dan menyentuh aspek spiritual terdapat dalam serat sastra gending. Kegunaan hasil peneltian ini berguna untuk pembelajaran dalam menangkap makna ajaran agama yang universal dan spiritual untuk tujuan kemaslahatan manusia. Pemahaman ysng berorientasi makna dan spiritual ini akan membantu dalam beragama yang moderat, sebagai basis nilai bagi hidup berdampingan dengan sesama yang berbeda, baik  dari sisi agama, paham keagamaan, ras, suku, golongan, dan perbedaan yang sifatnya individual lainnya. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, dengan menggunakan metode penafsiran dan metode perbandingan, yaitu melakukan penafsiran dan membandingkan pemikiran EF Schumarcher dan serat sastra gendhing karya Sultan Agung, terutama yang berhubungan dengan sosok manusia ideal, peranan batin dan perbuatan baik. 
Manusia, Alam dan Tuhan dalam Ekosufisme Al-Ghazali Gufron, Uup; A. Hambali, Radea Yuli
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol. 7 No. 1 (2022): JAQFI VOL.7 NO. 1, 2022
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jaqfi.v7i1.16275

Abstract

Artikel ini dimaksudkan untuk menggali pemikiran Al-Ghazali tentang relasi manusia, alam dan Tuhan. Dari sini dibangun suatu problem utama bahwa kerusakan alam disebabkan karena ketidakharmonisan antara manusia, alam dan Tuhan, sehingga menghadirkan berbagai bencana seperti kebakaran, banjir, longsor, gempa bumi, tsunami, kekeringan, erosi, dan lain sebagainya. Pandangan manusia modern yang menjadikan alam sebagai objek menjadi problem yang hendak digali dalam artikel ini. Dari problem ini diharapkan dapat ditemukan formulasi primer tentang gagasan Al-Ghazali tentang ekosufisme sebagai solusi alternatif atas krisis lingkungan. Data riset bersumber dari karya-karya Al-Ghazali yang berisi tentang etika manusia kepada Tuhan dan etika manusia kepada alam, serta relasi timbal balik antara keduanya. Artikel ini termasuk penelitian kualitatif dengan pendekatan metode analisis konten dari beberapa karya Al-Ghazali yang berbicara tentang alam dan lingkungan hidup. Dari berbagai karya Al-Ghazali yang telah digali diketahui bahwa sumber ketidakharmonisan hubungan antara alam, manusia dan Tuhan disebabkan karena faktor konsumtif manusia atas kebutuhan hidupnya sehingga memacu manusia untuk berbuat serakah sehingga menjadikan alam sebagai objek pemenuhan kebutuhan hidupnya. Padahal alam adalah manifestasi cinta Tuhan di bumi, sehingga untuk mencintai Tuhan harus melalui cintanya kepada alam. Untuk itu diperlukan etika uzlah, mahabbah, wara’, zuhud, dan syukur agar terbentuk relasi etis antara manusia, alam dan Tuhan.
JALAN MENUJU METAFISIKA YANG INTEGRAL: Syarah Al-Isyarat wa at-Tanbihat: Al-Ilahiyah Furqon, Syihabul; Rachman, Budhy Munawar; Haq, Mochamad Ziaul
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol. 7 No. 1 (2022): JAQFI VOL.7 NO. 1, 2022
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jaqfi.v7i1.16277

Abstract

Abstrak:Metafisika, sebagai filsafat pertama dicetuskan Aristoteles untuk menerangkan serangkaian genealogi realitas dari Yang Niscaya ke yang mungkin, dari Yang Universal ke yang partikular. Sehingga metafisika dalam duduk ini dipahami sebagai bagian penting dari filsafat spekulatif. Perspektif ini berubah saat peripatetisme memasuki dunia Islam. Perubahan ini ditandai dengan orientasi ulang isi metafisika dan pensejajarannya sebagai doktrin. Dalam perspektif filsafat perennial (philosophia perennis/al-hikmah al-khalidah) metafisika pada gilirannya dibaca berbeda dari filsafat sendiri. Bahkan ia dibedakan dari filsafat sejak dari isinya. Dalam telaah ini kami menemukan bahwa corak ini muncul semakin intens dalam filsafat Ibn Sina. Bahkan metafisikannya dalam Isyarat wa At-Tanbihat: Fi Al-Ilahiyyat (Isyarat dan Perhatian: Metafisika) menunjukkan tendensi atas metafisika yang integral. Bahkan pada doktrin mistisisme filosofis. Dalam batas-batas metode analisis isi (dengan interpretasi fenomenologi teks) melalui perspektif perennialisme inilah penelitian bertolak. Konklusinya bersifat afirmatif sejauh interpretasi dimungkinkan.
Gen Zers’ Stances on The Religion Role in Human Salvation Sugiarto, Bernardus Ario Tejo; Kahmad, Dadang; Huriani, Yeni
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol. 7 No. 1 (2022): JAQFI VOL.7 NO. 1, 2022
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jaqfi.v7i1.16819

Abstract

Each generation has its character because of the differences in era context. The Z Generation (Gen Zers) also has distinctive features that are different from the previous generation. Gen Zers is a generation that lives in the context of the world that is strongly influenced by scientific and digital technological advances in all fields, especially in communication and information fields. In Western countries, there are serious symptoms of a decline in the number of Gen Zers who are affiliated with a religion or who attended Church. They think that being affiliated with a religion or attending Church isn’t something very important. Yet, it doesn’t mean that they disregard the values of spirituality and morality. On the contrary, they are deeply concerned with universal spiritual and moral values. For them, spirituality and morality are “yes”, but religion is “no”. The study’s purpose is to investigate the role of religion according to Gen Zers’ opinions in Bandung. The study method is a quantitative method that makes use of an e-questionnaire as a data collection tool. All respondents are students who are studying at a certain private university in Bandung. The main finding is almost all respondents opine that affiliating with religion isn’t determining factor for human salvation even though they are affiliated with a religion. The conclusion is that there are at least five ambiguous stances of Gen Zers on the role of religion in human salvation. They are religious formalism, agnosticism, religious indifferentism, practical atheism, and religionism.
MEMAHAMI HAKIKAT CINTA PADA HUBUNGAN MANUSIA: BERDASARKAN PERBANDINGAN SUDUT PANDANG FILSAFAT CINTA DAN PSIKOLOGI ROBERT STERNBERG Laksono, Alfian Tri
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol. 7 No. 1 (2022): JAQFI VOL.7 NO. 1, 2022
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jaqfi.v7i1.17332

Abstract

AbstrakCinta menjadi instrumen kehidupan yang sangat penting untuk selalu dimaknai kehadirannya. Bahkan cinta merupakan hal yang identik dengan eksistensi sejak penciptaan umat manusia, Adam dan Hawa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tinjauan ilmu psikologi dan filsafat terhadap paradigma cinta yang umumnya terjadi pada manusia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan sumber data yang didapatkan dari laporan tertulis yang bersifat ilmiah dan sumber-sumber pustaka yang berkaitan dengan penelitian ini. Pada penelitian ini didapati bahwa secara psikologi, cinta diartikan sebagai bentuk tanggung jawab seseorang yang telah memasuki masa dewasa awal untuk dapat menentukan calon pendamping hidupnya. Baik yang berkenaan dengan hubungan nikah maupun pranikah atau biasa disebut sebagai bentuk perkenalan secara lebih mendalam dengan sang pasangan. Selain itu, psikologi menemukan sedikit kemungkinan kecil bahwa cinta pada dasarnya bisa dipahami secara ilmiah dengan melakukan riset-riset yang objektif. Sementara itu, Plato mewakili bagian filsafat menjelaskan bahwa cinta merupakan sebuah entitas maha dahsyat yang darinya sumber kekuatan dan energi tercipta. Sifat cinta adalah mulia dan cinta pada dasarnya merupakan sebuah penghapus alami dari sebuah kebencian dan kejahatan. Plato pun mengungkapkan penjelasan mengenai hakikat cinta yang diterimanya dari Socrates, bahwasannya cinta akan sangat indah ketika cinta tersebut belum ditemukan dan didapatkan beriringan dengannya proses pencarian dan penilaian akan terus berlangsung hingga pada titik akhir dimana ruang hampalah yang didapatkan. Oleh karena itu, golongan filosof menyepakati secara general bahwa kemustahilan adalah hal yang akan didapat ketika cinta mulai dimengerti. Kata Kunci: Cinta, Filsafat, Psikologi AbstractLove is a living instrument that is very important to always be interpreted by its presence. Even love is identical to existence since the creation of mankind, Adam and Hawa. This study aims to determine the review of psychology and philosophy on the love paradigm that generally occurs in humans. This study uses qualitative methods with data sources obtained from scientific written reports and literature resources related to this study. In this study, it was found that psychologically, love was interpreted as a form of responsibility of a person who had entered the initial adulthood to be able to determine the prospective companion of his life. Good relating to marriage and premarital relationships or commonly referred to as dating. In addition, psychology finds it a little less likely that love can be understood scientifically by conducting objective research. Meanwhile, Plato represents the philosophical section explaining that love is a great awesome entity from the source of strength and energy is created. The nature of love is noble and love is a natural eraser of hatred and crime. Plato also decreased the explanation of the nature of the love he received from Socrates, the love would be very beautiful when love had not been found and obtained together with him the search and assessment process would continue until at the end of where the room was obtained. Therefore, the philosophical group agreed in general that impossibility is something that will be obtained when love starts to understand.Keywords: Love, Philosophy, Psychology