cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin | Universitas Ialam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung. Jl. AH Nasution No 105, Cibiru Bandung.
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jaqfi : Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam
ISSN : 27149420     EISSN : 2541352X     DOI : -
Core Subject : Religion, Education,
Jurnal Ilmiah JAQFI: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam adalah jurnal yang mempublikasikan hasil-hasil kajian dan penelitian orisinal terbaru dalam ilmu murni Filsafat Islam dan Aqidah (Teologi Islam), serta cakupannya meliputi kajian filsafat kontemporer, pendidikan, sosial, dan keagamaan dari perspektif filsafat maupun aqidah. Tujuan Jurnal berkala ini adalah untuk upaya meningkatkan intensitas kajian Filsafat Islam dan Aqidah, mengupayakan teori baru serta kontekstualisasinya bagi perkembangan intelektualitas.
Arjuna Subject : -
Articles 220 Documents
KONSEP DIRI DALAM EKSISTENSIALISME ROLLO MAY Hermawan, Ucep -
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol. 6 No. 1 (2021)
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jaqfi.v6i1.11669

Abstract

This reaserch focuses on self as a fundamental requirement for the philosophy of existentialism, the first step in trying to understand the self-concept according to Rollo May. Then look for teh root of the philosophical problem that makes man lose himself until finaly unable to exist in the world. Rollo May is one of the psychologist who brought the philosophical tradition of existensialism to America. In this reaserch, the wraiter places Rollo May as an existentialist philosopher, with depart from the problem of self-philosopy.
TAREKAT DAN KEMODERNAN: STUDI ATAS IKHWAN TAREKAT QADIRIYAH WA NAQSYABANDIYAH YOGYAKARTA Abror, Robby Habiba; Arif, Muhammad
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol. 6 No. 1 (2021)
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jaqfi.v6i1.11873

Abstract

AbstractMostly researchers of Muslim society had predicted that tarekat will slowly become extinct in Modern era. Yet, there are still many tarekats that exist in Modern era. In fact, they are always adapting to modernity, like Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN) Yogyakarta. In the midst of modern society, TQN Yogyakarta is still exist and attract a lot of disciple. Examine the reality of the TQN's existence certainly interesting. Why TQN still exist in Modern society? What do tarekat members think about sufism and modernity? This article answers this question by interview TQN members and join some TQN activities and review some relevant literature. The result, TQN Yogyakarta is tarekat that live in the context of civilization. For TQN members, the relationship between sufism and modernity is not contradictory, but symbiotic mutualism, therefore a new religious style was created, that is the modern tarekat whose activities have a modern style.Keywords: TQN Yogyakarta, Tarekat, Modernity, and Sufism course AbstrakSebagian besar pengamat masyarakat Muslim meramalkan bahwa tarekat, akan sedikit demi sedikit punah dalam masyarakat modern. Namun, ternyata masih banyak tarekat-tarekat yang masih tetap eksis di era modern ini. Bahkan senantiasa beradabtasi dengan komodernan, seperti yang dilakukan oleh Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN) di Yogyakarta. Di tengah masyarakat modern, ikhwan tarekat ini masih terus eksis dan cukup banyak menarik peminat. Realitas eksistensi TQN tersebut tentu menarik untuk dikaji lebih lanjut. Mengapa TQN tetap bertahan di tengah masyarakat modern Yogyakarta? Bagaimana pandangan ikhwan tarekat TQN Yogyakarta akan tasawuf dan kemodernan? Pertanyaan inilah yang diulas dalam artikel ini. Dalam menjawab pertanyaan tersebut penulis langsung menggali informasi lewat wawancara, ikut terlibat dalam kegiatan-kegiatan TQN, serta melakukan kajian literatur. Hasilnya, TQN Yogyakarta adalah tarekat yang hidup dalam historisitas kemanusiaan. Bagi para ikhawan TQN kolaborasi antara tarekat dan kemodernan bukanlah bersifat antagonis, melainkan simbiosis-mutualisme, sehingga tercipta suatu corak keagamaan baru, yaitu tarekat modern dengan kegiatan-kegiatan yang sarat nuasan kemodernan.Kata kunci: TQN Yogyakarta, Tarekat, Komedernan, Kursus Tasawuf.
Rekognisi Axel Honneth: Gramatika Moral Bagi Defisit Rasionalitas Beragama Meitikasari, Diah; Drianus, Oktarizal
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol. 6 No. 1 (2021)
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jaqfi.v6i1.11905

Abstract

This paper aims to explore Axel Honneth's thoughts on recognition. This is considered important that today, religious moderation is expected to be a mode of living together that able to reconstructs a just and rational moral grammar, instead of falling into a deficit of rationality. This paper uses a literature study approach with the main source of Honneth's work, The Struggle for Recognition: Moral Grammar for Social Conflict. Several points were learned, namely: 1) recognition for Honneth is a normative basis for recognition and social struggle that eliminates all forms of disrespect; 2) Honneth's Recognition manifests in three domains: love, rights, and solidarity; 3) Mutual relations in three domains which are basic self-confidence, self-respect, and self-esteem; 4) Honneth's recognition can be a moral grammar for religious moderation efforts in Indonesia.
Framework Richard Walzer Terhadap Filsafat Islam Dalam Bukunya; Greek Into Arabic Essay On Islamic Philosophy Latief, Mohamad Mohamad; Ash-Shufi, Cep Gilang fikri; Atstsauri, Sofyan; Kusuma, Amir Reza; Fadhlil, Fajrin Dzul
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol. 7 No. 1 (2022): JAQFI VOL.7 NO. 1, 2022
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jaqfi.v7i1.12095

Abstract

AbstrakTulisan ini bertujuan untuk melihat eksistensi Filsafat Islam dalam pandangan seorang orientalis, Richard Rudolf Walzer. Ia mengemukakan bahwa terlalu dini untuk mengakui keberadaan Filsafat Islam. Banyak fakta dan karya yang masih belum diketahui. Selain itu, ia juga mengatakan bahwa tidak ada kesepakan di antara para sarjana tentang pendekatan terbaik dalam memahami filsafat Islam. Kajian bagaimana melihat framework Walzer terhadap Filsafat Islam ini dilakukan dengan metode pustaka, dengan menganalisis karyanya yaitu, Greek Into Arabic; Essay On Islamic Philosophy. Hasil dari kajian ini yaitu bahwa Walzer memandang Filsafat Islam secara Historis Filologis, dan bukan secara analisis-definitif. Asumsinya, Filsafat Islam hanyalah kelanjutan Yunani yang tidak ada kebaruannya. Karenanya, pendekatan memahami Filsafat Islam menurut Walzer mesti dengan menelusuri sumber-sumber Yunani, Kristen dan Yahudi. Namun hal itu tidak sejalan dengan pandangan Oliver Leaman dan Abdul Raziq bahwa Filsafat Islam, meski menerima Ide-ide Yunani, namun telah diasimilasi dan berwajah Islam.
Ulama methods in understanding verses mutasyabih (Study of the Tafwid and Ta'wil Methods Verses About the Attributes of Allah) jamarudin, ade; ., Nelvawita
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol. 6 No. 1 (2021)
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jaqfi.v6i1.12236

Abstract

In the realm of Islam, there is a recognized group that has a respectable place in the Muslim community. This group is the salaf group. Often every debate about the understanding of Islam is returned and a reference is sought which leads to that group. Knowing the application of the method of tafwid, taslim and ta'wil tafsili of salaf scholars in understanding the mutasyabihat verses about the nature of Allah SWT The understanding of the salaf ulama on the mutasyabihat verses in the future has an urgent relationship in the formation of the understanding of the firqah-firqah mentioned above. The great contradiction between the Musyabbihah and Ahlussunnah,. This research is in the form of literary research, meaning that this research will be directly based on written data in the form of books, especially classical works, as well as related books. From the development of the study of the Qur’an from the salaf period to the present day, it can be concluded that the study of the Qur’an has experienced rapid and dynamic developments and has passed through various eras, places and generations of thought. Although the description of the historical development of the Qur’an above is very limited and specialized in the scope of the early generation of intellectuals and that is not enough for all existing developments, this is sufficient to prove that the study of the Qur’an is never "dead" and obsolete. in the times
Pluralisme Sebagai Basis Kerukunan Beragama Perspektif John Hick Islam, Raja Cahaya; Kuswana, Dadang; Waluyajati, Roro Sri Rejeki
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol. 6 No. 1 (2021)
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jaqfi.v6i1.12719

Abstract

AbstrakPluralitas agama memiliki sebuah potensi konflik yang bisa mengaktual, sehingga pada kondisi tersebut, dibutuhkan sebuah pola agar konflik tersebut setidaknya dapat dicegah atau diminimalisir. John Hick adalah seorang pemikir agama yang menawarkan jalan pada kondisi tersebut dengan konsepnya mengenai pluralisme agama. Berangkat dari situlah penelitian ini ditulis. Metode yang digunakan adalah studi pustaka, yang mana sumber data akan diambil dari buku dan jurnal yang relevan dengan tema ini. Adapun hasil penelitian ini adalah: John Hick menawarkan revolusi Kopernikan dalam agama, yakni mengalihkan keterpustan-diri kepada keterpusatan-Realitas dalam beragama. Lalu Hick mengadopsi distingsi noumena (Yang-Riil) dan fenomena (Yang-Riil sebagaimana dipersepsi) ala Kant yang ditariknya pada ranah agama untuk membangun basis konsepsi pluralisme. Dari pluralisme inilah Hick menegaskan, bahwa pengalaman manusia ketika berkoneksi dengan Yang-Riil bersifat plural, dan karenanya monopoli klaim agama menjadi tidak relevan; dan dari situlah pluralisme sebagai basis kerukunan beragama menjadi mungkin.Kata Kunci:Pluralisme, Revolusi Kopernikan, KeselamatanAbstractReligious plurality has a potential for conflict that can be actualized, so that under these conditions, a pattern is needed so that the conflict can at least be prevented or minimized. John Hick is a religious thinker who offers a way to this condition with his concept of religious pluralism. From there this research was written. The method used is literature study, in which data sources will be taken from books and journals relevant to this theme. The results of this study are: John Hick offers a Copernican revolution in religion, namely shifting self-liberty to Reality-centeredness in religion. Then Hick adopted the Kantian distinction of noumena (Real-Real) and phenomena (The Real as perceived) which he drew on the realm of religion to build a basis for the conception of pluralism. It is from this pluralism that Hick emphasizes that human experience when connecting with the Real is plural, and therefore the monopoly of religious claims is irrelevant; and from there pluralism as a basis for religious harmony becomes possible.Keywords:Copernican Revolution, Pluralism, Salvation
KESADARAN TEOLOGI IRSHAD MANJI : STUDY ANALISA EKSISTENSIALIS JEAN PAUL SARTRE Faridahh, Umi
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol. 6 No. 2 (2021)
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jaqfi.v6i2.12796

Abstract

This research examines the thoughts of Ershad Manji using the analysis knife of a philosophical figure, namely Jean Paul Sartre. The objectives of this study are the issues that are the subject of discussion: 1) Knowing the theological awareness of Ershad Manji; and 2) Knowing Jean Paul Sartre's analysis of the theological awareness of Irshad Manji. This research is a library search research and quantitative research. The findings in this research show that: First ,. Irshad Manji is a staunch muslim, provides constructive criticism, and is very supportive of the progress of Islam. The awareness possessed by Irshad Manji brings the concept of Ijtihad back to Islamic thought and avoids thinking in Islam by implementing wall street and moral change. Second, the theological awareness of Irshad Manji is an existentialist concept, the analysis knife of jean paul satre is used to dissect the thought of Irshad Manji. Examining the whole discussion of Irshad Manji brings existentialist values to life through theological awareness... 
Spiritualitas Agama bagi Bencana Kemanusiaan dalam Filsafat Perenial: Tinjauan Pemikiran Filsafat Seyyed Hossein Nasr Budiman, Arip; Anditasari, Putri
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol. 6 No. 2 (2021)
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jaqfi.v6i2.12890

Abstract

This study aims to discuss the review of Seyyed Hossein Nasr's philosophical thoughts, regarding the spirituality of religion for humanitarian disasters. This research method applies a qualitative method through literature study and content analysis. The results and discussion found that the modern scientific paradigm that puts too much emphasis on the aspect ratio and ignores the spiritual aspect has an impact on human greed in managing natural resources which has an impact on the ecological crisis. The conclusion of this study is Nasr assume the religious spirituality for humanitarian disasters is a spiritual source of Islam. Al-Quran and Hadith become the spiritual basis to love and care to the universe, as a manifestation to get God’s love. Nasr assume that nature is a holy place that can be the manifestation of God’s light. Awareness of knowledge is not separate from Allah, becomes an important point for wise human spirituality.
PERILAKU ANOMALI KOMUNITAS DRIVER GOJEK KELINCI: STUDI ANALISIS TEORI UTILITARISME JOHN STUART MILL Ari, Jamhari Ari
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol. 7 No. 1 (2022): JAQFI VOL.7 NO. 1, 2022
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jaqfi.v7i1.13134

Abstract

Saat ini ojek online ini memang menjadi pekerjaan yang menjanjikan bagi banyak masyarakat, baik pria maupun wanita. Dengan berkembangnya ojek ini menjadi penunjang dari segi ekonomi. Terkadang keadaan di satu sisi mengakibatkan peta persingan yang mendapatkan orderan semakin ketat, otomatis untuk mencapai target bonus. Ada beberapa kalangan driver gojek yang mencari cara lain untuk mempertahankan eksistensinya di dunia driver gojek yaitu dengan cara menggunakan cara aplikasi illegal yang di larang oleh PT.Gojek, sehingga dengan keadan seperti ini membuat untuk mencari jalan pintas dengan memasang fake GPS atau Tuyul. Dari perilaku fake GPS ini ditinjau dari filsafat Utilitarisme fake GPS yang menyimpang dan merugikan banyak pihak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana perilaku anomali komunitas driver gojek kelinci dilihat dari teori utilitarisme John Stuart Mill. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research). Teknik pengumpulan datanya adalah melalui observasi, wawancara dan dokumentasi.  Analisis datanya menggunakan metode deskriptif kualitatif. Artikel ini menghasilkan, bahwa dalam teori Utilitarisme John Stuart Mill perilaku Anomali penyimpangan aplikasi ini disebut perilaku menyimpang, sekalipun driver gojek mendapatkan uang yang ditransfer oleh perusahaan, tetapi perilaku ini justru merugikan perusahaan. Tidak hanya itu saja perilaku-perilaku lainnya yang merugikan konsumen dan warga sekitar pangkalanpun merasa terganggu. Dari perilaku utilitarisme ini John Struart Mill berpendapat ada alternatif dalam setiap tindakan yang akan dilakukan oleh manusia.
PROBLEM GENDER DALAM FEMINISME EKSISTENSIALIS SIMONE DE BEAUVOIR Rohmah, Siti; Ilahi, Restu Prana
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol. 6 No. 2 (2021)
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jaqfi.v6i2.13394

Abstract

Problematika gender di masyarakat masih menjadi pembicaraan yang hangat mengingat banyak factor yang mempengaruhi diantaranya adalah masih terjadinya tumpang tindih gender dan ketimpangan sosial. Problem gender semakin ramai dibicarakan terlebih oleh para aktifis feminisme yang menuntut kesetaraan dan keadilan gender. Gender merupakan jenis kelamin sosial yang direkontruksi oleh masyarakat baik kepada laki-laki maupun kepada perempuan. Akan tetapi akibat stereotype perbedaan gender ini melahirkan ketidakadilan gender yang banyak merugikan kaum perempuan. Kehadiran Simone De Beauvoir menjadi cahaya dalam dunia filsafat eksistensialisme dan feminisme.Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif melalui studi pustaka dengan menggunakan data yang bersumber dari buku, jurnal dan data pendukung lainnya. Adapun hasil dari penelitian ini bahwa dalam pandangan Simone De Beauvoir perempuan yang dianggap lemah, dijadikan objek dan dianggap tidak berdaya tidak bisa disingkirkan atau diabaikan. Dalam bukunya Second Sex( Fakta dan Mitos), Fakta sejarah filsafat dapat mengikuti pemahaman atau mitos klasik yang menganggap laki-laki adalah manusia yang berpikir secara rasional dan perempuan adalah manusia yang mengutamakan perasaan. Mitos tersebut menjadi kutukan kuat yang membuat perempuan kurang mendapat tempat dalam filsafat. Padahal dalam sejarah awal filsafat terdapat tokoh perempuan yang bernama Hypatia yang mana ia telah berkontibusi dalam pemikiran filsafat Neoplatonis.Â