cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. ogan ilir,
Sumatera selatan
INDONESIA
LINGUA: Jurnal Bahasa dan Sastra
Published by Universitas Sriwijaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 74 Documents
The Learning Leverage of Teacher Professional Training in Indonesia Umar Abdullah
Jurnal Bahasa dan Sastra Vol 20, No 1 (2019)
Publisher : LINGUA: Jurnal Bahasa dan Sastra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Drawing upon Hunzicker’s (2008a, 2011) interpretive tool of learning leverage, the study aimed to find out the influence of teacher professional training, known as PLPG, on teacher learning. This study was conducted under the qualitative approach involving six high school English-language teachers. Data were collected through semi-structured interviews. The study found that the majority of the participants agreed that the rigor, reward, and risk of PLPG had boosted their motivation to learn, and thus perceived PLPG as a powerful learning experience. In particular, two teachers considered rigor (high standards and expectations) of PLPG as the most influential factor. One teacher was very much concerned about the risk of not earning certification. Three teachers counted reward as most important in their PLPG experience. This study therefore suggests that teacher professional development through teacher certification could be a powerful learning experience for teachers when it incorporates an appropriate balance of rigor, reward, and risk. Keywords: learning leverage, teacher learning, teacher professional training, teacher education Abstrak: Mengacu pada Learning Leverage Interpretive Tool yang dikembangkan oleh (Hunzicker’s (2008a, 2011), penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) terhadap pembelajaran guru. Penelitian kualitatif ini melibatkan enam orang guru Bahasa Inggris sekolah menengah. Data penelitian diperoleh melalui wawancara bebas terpimpin. Riset ini menemukan bahwa sebagian besar peserta setuju bahwa rigor, reward, dan risk PLPG memotivasi mereka untuk belajar dan mereka menganggap PLPG sebagai pengalaman belajar yang efektif. Khususnya, dua orang guru menganggap rigor sebagai faktor yang paling berpengaruh. Satu orang peserta sangat mengkhawatirkan resiko (risk) tidak lulus sertifikasi. Tiga orang peserta lainnya melihat reward sebagi faktor paling penting dalam pengalaman pembelajaran PLPG. Karena itu, riset ini merekomendasikan bahwa pengembangan profesi guru melalui program sertifikasi dapat menjadi wahana pembelajaran yang efektif bagi guru manakala program tersebut mengintegrasikan keseimbangan yang tepat antara rigor, reward, dan risk. Kata-kata kunci: learning leverage, pembelajaran guru, pengembangan profesi guru, pendidikan guru 
Evaluasi Seleksi Calon Kepala Sekolah pada Program Pendidikan dan Pelatihan Pengembangan Profesi Tenaga Kependidikan di LPMP Provinsi Sumatera Selatan Karwan Sugiarto; Bambang A. Loeneto
Jurnal Bahasa dan Sastra Vol 20, No 1 (2019)
Publisher : LINGUA: Jurnal Bahasa dan Sastra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis mekanisme seleksi calon kepala sekolah/ madrasah dalam program  ProDEP  (Professional  Development  for  Education  Personnel)  di LPMP Provinsi Sumatera Selatan. Penelitian dilaksanakan di LPMP Provinsi Sumatera Selatan dengan narasumber sebanyak 10 orang. Pengambilan data menggunakan panduan wawancara dan data sekunder laporan Program ProDEP LPMP Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2015. Analisis data menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif. Dari analisis tersebut diperoleh hasil sebagai berikut; 1) materi seleksi calon kepala sekolah belum mengacu kepada standar kompetensi kepala sekolah/madrasah sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah, dan 2) materi seleksi akademik yang diterapkan dalam seleksi ini tidak menggambarkan substansi akademik yang seharusnya. Berdasarkan hasil penelitian di atas maka direkomendasikan sebagai berikut: 1) untuk memenuhi persyaratan kompetensi yang ingin diraih/diketahui oleh masing-masing calon kepala sekolah, maka materi seleksi diklat calon kepala sekolah ini sebaiknya berisi materi-materi yang mengungkap potensi akademik, kepribadian, manajerial, kewirausahaan, supervisi, dan sosial peserta, 2) Materi seleksi akademik sebaiknya berisi materi yang benar-benar mengukur potensi/kemampuan akademik peserta seperti Tes Potensi Akademik (TPA) yang lazim digunakan untuk mengetahui dan mengukur sejauhmana kemampuan akademik seseorang.Kata-kata kunci: seleksi, pendidikan dan latihan, ProDEPAbstract: This study aimed to evaluate the selection mechanism of prospective principals / madrasah in the ProDEP program (Professional Development for Education Personnel) in LPMP South Sumatra Province. The research was conducted in LPMP of South Sumatera Province with 10 informants. Data collection using interview guides and secondary data report ProDEP LPMP Program of South Sumatera Province Year 2015. The collected data were analyzed using descriptive qualitative analysis method. The results from the analysis were: 1) the selection   of candidates for headmaster is not referring to the principal / madrasah competency standard as referred to in the Regulation of the Minister of National Education of the Republic of Indonesia Number 13 Year 2007 regarding Principal Standards/Madrasah, and 2) the academic selection material applied in this selection does not describe the substance academic should be. Based on the results of the above research, it is recommended as follows: 1) to meet the competency requirements to be achieved by each candidate headmaster, the selection material of the headmaster training should contain materials that reveal the academic, personality, managerial potential, entrepreneurship, supervision, and social participants, and 2) Academic selection materials should contain material that really measures the potential/academic ability of participants such as the Academic Potential Test (TPA) commonly used to know and measure the extent of one’s academic ability.Keywords: Selection, education and training, ProDEP
Reading Assessment: Higher-Order Thinking Skills (Hots) through ICT Aisyah Turidho; Dwi Oktalidiasari; Nety Wahyu Saputri
Jurnal Bahasa dan Sastra Vol 20, No 1 (2019)
Publisher : LINGUA: Jurnal Bahasa dan Sastra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Assessment in English language learning commonly addresses four broad topics; listening, reading, writing and speaking. Reading assessment in learning is very important because it give us information on how students understand the reading and utilize their ability to use the reading. Assessment includes three level namely: low level, medium level and high level. High level reading encompases higher order thinking skills (HOTS). This article aims to examine the relationship between higher order thinking skills (HOTS) in reading assessment and ICT (Information, Communication and Technology). ICT can be used as the media to develop the skills that students must have in HOTS in reading assessment. 21st-century skills require the learning of HOTS which consists of C4 (analyze), C5 (evaluate) and C6 (create). The C4 and C5 are considered critical thinking while C6 is creative thinking. Beside HOTS, ICT is also required in the era of education 4.0 which includes 21st-century skills. Thus, HOTS in reading assessment can be developed using ICT.Keywords: Reading Assessment, HOTS, ICTAbstrak: Assessment dalam pembelajaran bahasa Inggris terdapat empat topik yaitu listening, reading, writing dan speaking. Reading assessment dalam pembelajaran  sangat  penting  untuk memberikan informasi bagaimana siswa memahami suatu bacaan dan memanfaatkan kemampuan mereka dalam menggunakan bacaan. Assessmentterdiri dari tiga level yaitu low level, medium level dan high leveldimana high level inilah yang merupakan higher order thinking skill (HOTS). Artikel kali ini bertujuan untuk mengkaji keterkaitan antara higher order thinking skill (HOTS) dan reading assessment dengan ICT (Information, Communication and Technology). ICT dapat digunakan sebagai media sekaligus kemampuan yang harus dimiliki oleh siswa dalamassesment HOTS matematika. Keterampilan abad-21 mengharuskan pembelajaran dengan pengembangan HOTS didalamnya yaitu critical thinking dan creativity thinking. Ranah kognitif taksonomi bloom dalam HOTS yaitu C4 (analyze), C5 (evaluate) dan C6 (create) dimana C4 dan C5 merupakan critical thinking dan C6 adalah creativity thinking. Selain HOTS, ICT juga merupakan tuntutan dunia pada era pendidikan 4.0 yang termasuk keterampilan abad-21. Sehingga, HOTS dalam reading assesment dapat dikembangkan dengan menggunakan ICT.Kata-kata kunci: Reading Assessment, HOTS, ICT 
Intensive and Extensive Speaking: Approaches to Systematizing The Speaking Skills Courses for Undergraduate ELE Students Chairil Anwar Korompot; Baso Jabu
Jurnal Bahasa dan Sastra Vol 20, No 1 (2019)
Publisher : LINGUA: Jurnal Bahasa dan Sastra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: This article presents a proposal to implement intensive speaking (IS) and extensive speaking (ES) approaches to teaching English speaking courses to student teachers of English in Indonesia. The courses are taught at PBI, an undergraduate English language teacher education program at a university in eastern Indonesia. Speaking courses have been taught at PBI since its first establishment over 58 years ago. However, the lack of effort to make each speaking course a part of speaking course ecology has caused problems such as unclear objectives, competency standards, materials, instructional activities, and assessment. Therefore, systematization of the speaking courses is in order. The authors’ own self-initiated reviews, previous research outcomes, a review of literature indicate that the speaking courses should ideally be systematized using IS and ES. That is, IS is used to teaching the first two beginning speaking courses, and ES to teaching the other two upper-level speaking courses, and/or an additional course on teaching speaking. PBI has never considered adopting such a proposal in its own curricular revision and course development. The adoption and its justification will inform similar institutions both in Indonesia and in the other parts of the world.Keywords: Intensive and extensive approaches, speaking skills, students teachers of EnglishAbstrak: Artikel ini menyajikan usulan bagi penerapan pendekatan intensive speaking (IS) dan extensive speaking (ES) untuk mengajarkan beberapa matakuliah (MK) keterampilan berbicara bahasa Inggris (speaking) bagi mahasiswa calon guru bahasa Inggris di Indonesia. MK-MK tersebut diajarkan di PBI, program studi sarjana pendidikan bahasa Inggris di sebuah universitas di Indonesia bagian timur. MK-MK speaking telah diajarkan di PBI sejak didirikan pertama kali lebih dari 58 tahun yang lalu. Namun, kurangnya upaya untuk membuat setiap MK speaking menjadi bagian dari ekologi MK speaking telah menyebabkan masalah seperti tujuan, standar kompetensi, bahan ajar, kegiatan instruksional, dan penilaian hasil belajar yang tidak jelas. Karena itu perlu ada sistematisasi MK-MK speaking. Hasil tinjauan mandiri, data dari penelitian sebelumnya, and kajian kepustakaan oleh kedua penulis menunjukkan bahwa dua MK speaking tersebut seyogyanya disistematisasi menggunakan IS dan ES. Artinya, IS untuk mengajarkan dua MK speaking pertama, dan ES untuk dua MK speaking yang lain pada tingkat menengah, dan/atau MK keterampilan mengajarkan speaking sebagai tambahan. PBI belum pernah mempertimbangkan usulan seperti ini dalam proses revisi kurikulum dan pengembangan MK. Penerapan dan penjelasan gagasan ini akan menambah perspektif LPTK pendidikan bahasa Inggris baik di Indonesia maupun di belahan dunia yang lain. Kata-kata kunci: Pendekatan intensif and ektensif, keterampilan berbicara, mahasiswa calon guru bahasa Inggris
Teacher’s Perspectives and Challenges towards English as a Medium of Instruction (EMI) Ulfah Oktaviani
Jurnal Bahasa dan Sastra Vol 20, No 1 (2019)
Publisher : LINGUA: Jurnal Bahasa dan Sastra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Globalization has triggered the use of English in all aspects of life among others communication, technology, media, business, and academia. This leads to the increasing number of institutions around the world to use English as a Medium of Instruction (EMI)      in their classroom practices. However, there are many controversies among teachers in the implementation of EMI in teaching content subject. These pros and cons are caused by the challenges that teachers faced such as their quality, guidelines, resources, and student’s English proficiency. This paper aims to describe teacher’s perspectives and challenges towards the implementation of English as a Medium of instruction. Keywords: English as a Medium of instruction (EMI), controversies, perspectives, and challenges. Abstrak: Globalisasi telah memicu pengunaan Bahasa Inggris di segala aspek kehidupan seperti komunikasi, teknologi, media, bisnis, dan dunia akademik. Hal ini juga menyebabkan peningkatan jumlah institusi di dunia yang mengunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar dalam proses belajar mengajar. Akan tetapi ada banyak kontroversi di antara guru dalam penerapan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar dalam mengajar di kelas. pro dan kontra ini disebabkan oleh tantangan yang di hadapi guru seperti kualitas guru bimbingan kelas, pedoman, sumber daya, dan kesulitan bahasa. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan perspektif guru dan tantangan yang di hadapi guru dalam penerapan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar di kelas. Kata-kata kunci: Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar, kontroversi, perspektif, dan tantangan 
The Correlations between Language Learning Strategies and English Achievement of the Undergraduate Students of English Education Study Programs Nurul Fitriyah Almunawaroh
Jurnal Bahasa dan Sastra Vol 20, No 1 (2019)
Publisher : LINGUA: Jurnal Bahasa dan Sastra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Language learning strategies (LLS) is one of important factors in learning process. The aim of this study is to investigate the correlation between students’ LLS and students’ English achievement (EA) and to find the influence of students’ LLS to students’ EA. Strategy Inventory for Language Learning (SILL) was administered to 103 student at Sriwijaya, Muhammadiyah, and Tamansiswa universities. Students’ EA was gained from their grade point average (GPA). Metacognitive strategy, affective strategy and EA had negative significant correlations. Furthermore, compensation strategy positively and significantly correlated with EA of the students in Sriwijaya-Muhammadiyah Universities. Meanwhile, affective strategy and EA of the students in Sriwijaya-Muhammadiyah, Sriwijaya, and Taman Siswa Universities were negatively and significantly correlated. Additionaly, metacognitive, affective and EA of the students in Sriwijaya-Muhammadiyah Universities negatively and significantly correlated. The influence of each of the six on EA was 8.6%, 9.4%, 35.3%, 15.1%, 13%, 3.5% for affective, and 7.8% for compensation.Keywords: Language learning strategies, English achievement, undergraduate studentsAbstrak: Strategi Pembelajaran Bahasa (SPB) merupakan salah satu faktor penting dalam proses pembelajaran. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyelediki hubungan korelasi antara SPB mahasiswa dan prestasi Bahasa Inggris (PBI), dan untuk mengetahui pengaruh SPB mahasiswa terhadap PBI mahasiswa. Angket Strategy Inventory for Language Learning (SILL) didistribusikan ke 103 mahasiswa di Universitas Sriwijaya, Muhammadiyah, dan Tamansiswa. PBI mahasiswa diperoleh dari indeks prestasi kumulatif (IPK). Startegi metakognitif, afektif, dan PBI memiliki korelasi negatif dan signifikan. Selanjutnya, strategi kompensasi berkorelasi positif dan signifikan dengan PBI mahasiswa di Universitas Sriwijaya-Muhammadiyah. Sementara itu, strategi afektif dan PBI mahasiswa di Universitas Sriwijaya-Muhammadiyah, Sriwijaya, dan Taman Siswa berkorelasi negatif dan signifikan. Selain itu, metakognitif, afektif dan PBI mahasiswa di Universitas Sriwijaya-Muhammadiyah berkorelasi negatif dan signifikan. Pengaruh masing-masing dari keenam strategi terhadap PBI mahasiswa adalah 8,6%, 9,4%, 35,3%, 15,1%, 13%, 3,5% untuk afektif, dan 7,8% untuk kompensasi.Kata-kata kunci: Strategi pembelajaran bahasa, prestasi bahasa Inggris, mahasiswa sarjana.
Cultural Content Analysis of English Textbooks Used by Tenth Graders in Bengkulu Utara Zelvia Liska Afriani; Soni Mirizon; Margaretha Dinar Sitinjak
Jurnal Bahasa dan Sastra Vol 20, No 1 (2019)
Publisher : LINGUA: Jurnal Bahasa dan Sastra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: This study aims at investigating cultural content in the textbooks in terms of four frameworks namely cultural types, cultural themes, cultural dimensions, and cultural senses. A content analysis under the paradigm of qualitative study was employed. Three English textbooks published by the government and Erlangga were chosen as the objects in this study. Additionally, teachers’ voice was needed in order to support and enrich the analysis. Results of the study showed that the textbook published by the government was heavily loaded with cultural aspects dealing with Indonesian culture, followed by target culture and international target culture whereas two textbooks published by Erlangga presented target culture as the highest percentage, which then followed by source culture and international target culture. In terms of cultural themes, those three textbooks contained bigger portion of big ‘C’ than little ‘c’. For cultural dimensions, the appearance of persons dominates all forms of the textbooks while semantic sense has the highest rank for cultural senses. In relation to teachers’ opinion of the textbooks, they felt unsatisfied on the distribution of the cultural content and hoped that the textbooks could provide more materials regarding Indonesian culture instead of target culture. These results lead to the conclusion that textbook writers should revise and reconsider the cultural content that should be introduced in the textbooks.Keywords: Cultural content, content analysis, English textbooksAbstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menginvesitgasi muatan budaya yang ada dalam buku teks dari empat sisi yaitu dari jenis budaya, tema budaya, dimensi budaya, dan indra budaya. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan metode analisis isi. Terdapat tiga buku teks bahasa Inggris yang diterbitkan oleh pemerintah dan Erlangga yang dipilih menjadi objek dalam kajian ini. Selain itu, pendapat dari para guru juga diperlukan dalam rangka mendukung dan memperkaya analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya buku teks yang diterbitkan oleh pemerintah sangat sarat dengan aspek budaya yang berhubungan dengan budaya Indonesia, diikuti dengan budaya target dan budaya target internasional sedangkan dua buku yang diterbitkan oleh Erlangga menargetkan budaya target sebagai persentase tertinggi, yang kemudian diikuti oleh budaya sumber dan budaya target internasional. Dalam hal tema budaya, tiga buku teks tersebut berisi porsi budaya yang terlihat (‘C’) lebih banyak daripada budaya yang tidak terlihat (‘c’). Untuk dimensi budaya, aspek ‘orang’ mendominasi semua bentuk buku pelajaran. Dari sisi indra budaya, aspek semantik memiliki peringkat tertinggi. Hasil dari wawancara dengan para guru menunjukan ada rasa ketidakpuasan terhadap distribusi konten budaya yang ada, Pemerintah dan penerbit buku diharapkan dapat menyediakan buku pelajaran bahasa Inggris yang lebih banyak berisi materi tentang budaya Indonesia, bukan budaya target. Hasil ini mengarah pada kesimpulan bahwa penulis buku teks harus merevisi dan mempertimbangkan kembali konten budaya yang harus diperkenalkan dalam buku pelajaran bahasa Inggris.Kata-kata kunci: Analisis isi, konten budaya, buku teks bahasa Inggris 
Self Development of Novice Teacher of English: Challenges and Opportunities Fenisya Anggraini
Jurnal Bahasa dan Sastra Vol 20, No 1 (2019)
Publisher : LINGUA: Jurnal Bahasa dan Sastra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: To compete in the 21st century, it is very important for novice teachers to have self- development in developing their professional development. Lack of experiences in teaching and adapting in a new environment makes them know the ways to face the challenges and the opportunities to support their future carrier. Self development is taking steps to be better in your- self such as by learning new skills or overcoming bad habits. It takes bigger portion than other aspects in developing their professional development. This paper highlights self-development as one of the components in developing the professional development of the teachers. This covers the challenges of self development, coping with the challenges and opportunities of developing self development.Keywords: Self development, novice teachers and professional developmentAbstrak: Agar dapat bersaing dalam abad ke-21, sangat penting bagi guru pemula untuk memiliki pengembangan diri dalam mengembangkan profesionalnya. Kurangnya pengalaman dalam mengajar dan beradaptasi di lingkungan baru membuat guru tahu cara menghadapi tantangan dan peluang untuk mendukung karier masa depan. Pengembangan diri berarti mengambil langkah- langkah untuk menjadikan kualitas diri lebih baik seperti dengan mempelajari keterampilan baru atau mengatasi kebiasaan buruk. Dibutuhkan porsi yang lebih besar daripada aspek lain bagi guru pemula dalam mengembangkan pengembangan profesional. Makalah ini akan menyoroti pengembangan diri sebagai salah satu komponen dalam mengembangkan profesional para guru. Ini mencakup tantangan pengembangan diri, mengatasi tantangan dan mengembangkan kemampuan diri.Kata-kata kunci: Pengembangan diri, guru baru dan pengembangan profesional 
Assessment Practices: Challenges and Opportunities Faced by EFL Teachers Dian Fitriani
Jurnal Bahasa dan Sastra Vol 20, No 1 (2019)
Publisher : LINGUA: Jurnal Bahasa dan Sastra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

     Abstract: Assessment is vital to education and plays important role in teaching and learning process. The Indonesian  2013  curriculum  mandates  the  teachers  to  have  a  competence  in assessing students’ learning either formative (assessment-for-learning) or summative assessment (assessment-of-learning) to enable students to develop themselves and have learning improvement as well. However, teachers of English, especially in Indonesia are facing challenges in carrying out assessment. This paper aims to review the challenges as well as the opportunities faced by teachers of English in classroom assessment practices. The challenges and problems coming from pedagogical competence include teachers’ knowledge of implementing assessment practices, the curriculum mandate, and tools in supporting teaching and assessment activity. Meanwhile, a good understanding of classroom assessment to decide the follow up actions is a trigger to make learning activities successful and meaningful for students.Keywords: Classroom assessment, challenges, opportunitiesAbstrak: Penilaian sangat penting untuk pendidikan dan berperan penting dalam proses belajar mengajar. Kurikulum 2013 di Indonesia mengamanatkan guru untuk memiliki kompetensi dalam menilai pembelajaran siswa baik formatif (penilaian-untuk-pembelajaran) atau penilaian sumatif (penilaian-pembelajaran) untuk memungkinkan siswa mengembangkan diri dan memiliki peningkatan pembelajaran. Namun, banyak guru Bahasa Inggris di dunia, termasuk di Indonesia menghadapi tantangan dalam melaksanakan praktik penilaian. Makalah ini bertujuan untuk meninjau tantangan serta peluang yang dihadapi oleh guru bahasa Inggris dalam praktik penilaian kelas. Tantangan dan masalah tersebut disebabkan kompetensi pedagogis termasuk pengetahuan guru tentang penerapan praktik penilaian, mandat kurikulum, dan alat dalam mendukung kegiatan pengajaran dan penilaian yang juga menjadi peluang dan tantangan bagi guru. Sementara itu, pemahaman yang baik tentang penilaian kelas untuk memutuskan tindakan tindak lanjut dapat menjadi pendorong untuk membuat kegiatan pembelajaran berhasil dan bermakna bagi siswa.Kata-kata kunci: Penilaian kelas, tantangan, peluang 
PAVE Strategy to Improve Students’ Vocabulary Achievement D Dita Rizki Anggraini
Jurnal Bahasa dan Sastra Vol 20, No 1 (2019)
Publisher : LINGUA: Jurnal Bahasa dan Sastra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The objectives of this study were to find out whether or not: (1) there was a significant difference in students’ vocabulary achievement between before and after they were taught by using Prediction, Association, Verification, and Evaluation (PAVE) strategy and (2) there was a significant difference in vocabulary achievement between the students who were taught by using PAVE strategy and those who were not. The samples of this study were 68 eleventh graders of SMA Negeri 6 Palembang divided into two groups (i.e. an experimental group and a control group) chosen through a purposive sampling method. To collect the data, each group was given a pre-test and a post-test. The data were analyzed by using Paired Samples t-Test and Independent Samples t-Test. The results from Paired Samples t-Test showed that there was a significant difference in students’ vocabulary achievement between before and after they were taught by using PAVE strategy. Likewise, the results from Independent Samples t-Test showed that there was a significant difference in vocabulary achievement between the students who were taught by using P VE strategy and those who were not. In conclusion, PAVE strategy was effective to be applied.Keywords: Teaching vocabulary, vocabulary achievement, PAVE strategyAbstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuai apakah: (1) ada perbedaan signifikan pada pencapaian kosakata siswa sebelum dan sesudah diajar menggunakan strategi PAVE (Prediction, Association, Verification, and Evaluation) dan (2) terdapat perbedaan signifikan pada pencapaian kosakata diantara siswa yang diajar menggunakan strategi PAVE dan yang diajar dengan strategi konvensional. Sampel pada penilitian ini adalah 68 orang siswa kelas XI SMA Negeri 6 Palembang yang dibagi dalam dua kelompok, kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, yang dipilih menggunakan metode purposive sampling. Untuk mengumpulkan data, kedua kelompok diberikan pretes dan postes. Data kemudian dianalisis menggunakan Paired Samples t-Test dan Independent Samples t-Test. Hasil dari Paired Samples t-Test menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada pencapaian kosakata siswa sebelum dan sesudah diajar menggunakan strategi PAVE. Serupa, hasil dari Independent Samples t-Test menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan pada pencapaian kosakata diantara siswa yang diajar menggunakan strategi PAVE dan yang tidak. Dapat disimpulkan bahwa strategi PAVE efektif untuk diterapkan pada pengajaran kosakata Bahasa Inggris untuk siswa kelas XI SMA Negeri 6 Palembang.Kata-kata kunci: Pengajaran kosakata, pencapaian kosakata, strategi PAVE