cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. ogan ilir,
Sumatera selatan
INDONESIA
LINGUA: Jurnal Bahasa dan Sastra
Published by Universitas Sriwijaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 74 Documents
Interaksi Guru-Peserta Didik dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia: Analisis Wacana Kritis Nani Handayani; Mulyadi Eko Purnomo; Ernalida Ernalida
Jurnal Bahasa dan Sastra Vol 18, No 1 (2017)
Publisher : LINGUA: Jurnal Bahasa dan Sastra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan 1) interaksi antara guru dan peserta didik, 2) pengelolaan kelas dalam mentransaksikan topik (materi, tujuan, kompetensi dasar) dalam wacana interaksi kelas, dan 3) realisasi peran guru dalam pembelajaran. berbasis Analisis Wacana Kritis (AWK). Sampel penelitian terdiri dari para guru dan peserta didik kelas XI Jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial dari tiga sekolah menengah atas dan madrasah aliyah negeri di wilayah Banyuasin III dan Pangkalan Balai, Banyuasin District. Data didapat dengan menggunakan metode simak bebas libat cakap, teknik rekam, dan teknik catat. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis interaksi kelas (AWK) dan analisis wacana kritis. Hasil analisis data menunjukkan bahwa terdapat berbagai pola satuan interaksi kelas, pola pengelolaan kelas, dan realisasi peran guru yang menunjukkan adanya perubahan paradigma. Perubahan itu menimbulkan adanya pergerseran dominasi guru di dalam kelas menuju hegemoni. Kata-kata kunci: interaksi, transaksi topik, paradigma, dominasi, hegemoni Abstract: This research was aimed to describe 1) interaction between teacher and student, 2) classroom management in transactioning topic (materials/aim/base competence) in classroom interaction, and 3) realization of teacher’s role as an actor in learning based on Critical Discourse Analysis. The sources of the data of this research were teachers and 11th grade students of social science from three senior high schools in the area of Banyuasin III and and Pangkalan Balai sub-districts, in the didtrict of Banyuasin. The data were gained using listening method consisting of tapping and note techniques and analyzed by using spoken interaction and critical discourse analysis. The result of analysis showed that there were some patterns of classroom interaction, various patterns of classroom management, and realization of teacher’s role showing a change in paradigm. The change causes a shift in teacher’s domination in cclassroom towards hegemony. Keywords: interaction, topic transaction, paradigm, domination, hegemony
Maximizing Multimodal Literacies for Listening and Pronunciation Purposes Using YouTube Resources Diah Kristina
Jurnal Bahasa dan Sastra Vol 19, No 2 (2019)
Publisher : LINGUA: Jurnal Bahasa dan Sastra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: YouTube resources have contributed significantly to the language learning especial- ly for multimodal literacies including listening and pronunciation. By using different kinds of mode, learners are exposed to more natural and received pronunciation of audiovisual texts in English. Minimal pairs, word transition, intonation, word stress combined with facial expres- sions, body language, eye contact, pose, pictures, photographs, musical instrument as back- grounding illustration have been a rich multimodal source to activate students’ awareness on how meaning-making efforts are not solely constructed verbally. In a more complex digitalized world, technology has provided a more natural setting of communication that students need to be aware of and make use to substitute the limited availability of native speakers especially in remote areas of extended Indonesian archipelago.Keywords: YouTube, multimodal literacies, minimal pairs, word transition, pose.Abstrak: YouTube telah banyak menyumbangkan materi pembelajaran bahasa bagi proses belajar mengajar terutama aspek literasi multimodal termasuk listening (menyimak) dan pro- nunciation (pengucapan). Dengan menggunakan berbagai mode, pembelajar dihadapkan pada pengucapan ekspresi dalam teks audiovisual berbahasa Inggris yang bersifat lebih alamiah. Minimal pairs (pasangan kata yang memiliki kemiripan bunyi), word transition (bunyi khusus sebagai pelumas dalam merangkai dua kata), intonasi, tekanan kata yang dikombinasikan den- gan ekspresi wajah, bahasa tubuh, kontak mata, posetubuh, gambar, foto, iringanmusik,meru- pakan sumber multimodal yang kaya untuk membuat siswa sadar bahwa pembentukan makna tidak semata-mata dikonstruksi secara verbal. Di era digital yang konpleks ini teknologi telah memungkinkan munculnya komunikasi dengan setting yang lebih alamiah yang mengharuskan siswa memanfaatkan kekayaan sumber pembelajaran tersebut sebagai pengganti keberadaan native speaker terutama di daerah terpencil di kepulauan Nusantara (Indonesia) yang maha luas ini. Kata-kata Kunci: YouTube, literasi multimodal, pasangan kata yang memiliki kemiripan bunyi, transisi kata, pose.  
International Students’ English Language Learning Experiences: Academic Literacy in Graduate School Sary Silvhiany
Jurnal Bahasa dan Sastra Vol 19, No 1 (2018)
Publisher : LINGUA: Jurnal Bahasa dan Sastra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: This case study explores the English language experiences and academic cultural adjustment of international doctoral students in the USA. Participants included three doctoral students from three different countries who are at different stages of their study. Using literacy memoir, interview, and email reponses as data collection methods, the study was aimed to un- derstand the factors affecting the students’ academic cultural adjustment. Thematic analysis re- veals that the students’ academic adjustment was influenced by their prior English language ex- periences which provided limited opportunities to develop language skills through meaningful communicative interactions. The different classroom culture and expectations had also affected the students’ academic literacy performance in their academic programs. Implications of the study highlights the need for university as the host institution of these international students to be more sensitive to different cultural capitals and the need for the sending countries to reform their curriculums to accommodate active English communication in the academic contexts.Keywords: cultural adjustment, academic literacy, international studentsAbstrak: Studi kasus ini mengeksplorasi pengalaman belajar bahasa Inggris dan penyesuaian budaya mahasiswa doktoral internasional di Amerika Serikat. Partisipan penelitian ini terdiri dari tiga mahasiswa doktoral yang berasal dari tiga negara dan yang berada pada tahap studi doktoral yang bervariasi. Menggunakan literacy memoir, interview, dan respon melalui surel sebagai metode pengambilan data, studi ini bertujuan untuk memahami faktor – faktor yang mempengaruhi penyesuaian budaya mahasiswa internasional. Analisis tematik menunjukkan bahwa penyesuain budaya mahasiswa internasioanl dipengaruhi oleh pengalaman belajar ba- hasa Inggris di negara mereka yang kurang memberikan kesempatan dalam membangun ket- erampilan melalui interaksi komunikatif yang bermakna. Implikasi penelitian ini menggaris bawahi pentingnya universitas penerima mahasiswa internasional untuk lebih sensitif terhadap perbedaan cultural capital yang dibawa oleh mahasiswa internasional dan perlunya negara pen- girim untuk mereformasi kurikulum mereka agar dapat mengakomodasi pembelajaran bahasa Inggris yang komunikatif dalam konteks akademik.Kata-kata Kunci: penyesuaian budaya, literasi akademik, siswa internasional  
Teacher Professional Training: Instructional Practices and Classroom Management Umar Abdullah
Jurnal Bahasa dan Sastra Vol 18, No 2 (2018)
Publisher : LINGUA: Jurnal Bahasa dan Sastra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: This study explored teachers’ general perceptions about their learning experiences with instructional practices and classroom management gained from teacher professional training, known as PLPG. 149 English teacher participants attending the 2013 PLPG at a public university in Palembang completed a survey questionnaire. Descriptive statistical measures were used to analyze the survey items. Study findings showed that the majority of the teachers perceived PLPG as a vehicle for learning such pedagogical knowledge as instructional practices and classroom management informed by theory and research. Other empirical evidence showed that the teachers argued that (1) continuous professional development, (2) salary increase and incentive, (3) supportive teaching environment, and (4) adequate teaching and learning facilities would sustain quality teaching. This study provided an evaluative account of program effectiveness in providing teacher professional training. Further studies should be undertaken to probe into how teachers translate their learning experience in their routine teaching practices. Keywords: instructional practices; classroom management; teacher professional training; teacher professional development Abstrak: Penelitian ini mengeksplorasi persepsi umum guru tentang pengalaman belajar mereka terkait praktek pembelajaran dan manajemen kelas yang diperoleh dari pelatihan profesi guru yang lebih dikenal sebagai PLPG. Seratus empat puluh sembilan guru bahasa Inggris sebagai peserta PLPG 2013 di salah satu universitas negeri di Palembang melengkapi pertanyaan survei. Analisa respon survei dilakukan dengan pengukuran statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas guru menganggap PLPG sebagai sarana m berbagai pengetahuan pedagogis seperti praktek pembelajaran dan manajemen kelas yang sesuai dengan teori dan hasil penelitian. Bukti empiris lainnya menunjukkan para guru menganggap bahwa (1) pengembangan profesi berkelanjutan, (2) kenaikan gaji dan insentif, (3) lingkungan pengajaran yang mendukung, dan (4) fasilitas pengajaran dan pembelajaran yang memadai akan mendukung proses pembelajaran yang berkualitas. Penelitian ini memberikan masukan terkait evaluasi efektivitas program pelatihan profesi guru. Studi lebih lanjut perlu dilakukan untuk mengetahui sejauh mana guru peserta pelatihan profesi guru menerjemahkan pengalaman belajar mereka dalam praktik mengajar sehari-hari. Kata-kata kunci: peraktek pengajaran; manajemen kelas; pelatihan profesi guru, pengembangan profesi guru
School Accreditation, Teachers’ Competence, and Students’ English Performance in South Sumatra Retno Indri Yustika; Chuzaimah D. Diem; Ismail Petrus
Jurnal Bahasa dan Sastra Vol 19, No 2 (2019)
Publisher : LINGUA: Jurnal Bahasa dan Sastra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: This study examined school accreditation, English teachers’ competence, and stu- dents’ English performance and the correlations among them. The samples of this study were 101 junior high schools and 280 English teachers in 16 regencies and cities in South Sumatra Province. This study analyzed the school accreditation as measured by 8 National Education Standards, English teachers’ competence by UKG (Teacher Competence Test), and students’ English performance by English National Examination results. The findings revealed that the schools accredited B dominated the results of accreditation (84.55) in which the standard of teachers and educational personnel had the lowest score, English teachers’ competence was barely average (51.96), and the students’ English performance (ENE results) was in the poor level (43.57). In general, there was no significant correlation between students’ English per- formance and the school accreditation as well as between students’ English performance and teachers’ competence in South Sumatra Province. However, a positive significant correlation was found between students’ English performance and school accreditation in Empat Lawang Regency and Palembang City. A positive significant correlation also existed between students’ English performance and teachers’ pedagogical competence in Banyuasin, Musi Banyuasin, and OKU Regencies.Keywords: students’ English performance, school accreditation, teachers’ competenceAbstrak: Studi ini meneliti akreditasi sekolah, kompetensi guru Bahasa Inggris, dan prestasi bahasa Inggris siswa dan korelasi di antara mereka. Sampel penelitian ini adalah 101 sekolah menengah pertama dan 280 guru bahasa Inggris di 16 kabupaten dan kota di Provinsi Sumatera Selatan. Studi ini menganalisis akreditasi sekolah yang diukur dengan 8 Standar Pendidikan Nasional, kompetensi guru bahasa Inggris dengan UKG, dan prestasi bahasa Inggris siswa melalui hasil Ujian Nasional Bahasa Inggris. Hasil studi ini mengungkapkan bahwa sekolah yang terakreditasi B mendominasi hasil akreditasi (84,55) dengan skor terendah untuk standar guru dan tenaga kependidikan, kompetensi guru bahasa Inggris hampir rata-rata (51,96), dan prestasi Bahasa Inggris siswa (UN) di tingkat rendah (43.57). Secara umum, tidak ada korelasi signifikan antara prestasi Bahasa Inggris siswa dan akreditasi sekolah serta antara prestasi Ba- hasa Inggris siswa dan kompetensi guru di Provinsi Sumatera Selatan. Namun, korelasi positif signifikan ditemukan antara prestasi Bahasa Inggris dan akreditasi sekolah di Kabupaten Em- pat Lawang dan Kota Palembang. Korelasi positif signifikan juga ditemukan antara prestasi Ba- hasa Inggris siswa dan kompetensi pedagogik guru di Kabupaten Banyuasin, Musi Banyuasin, dan OKU.Kata-kata Kunci: prestasi Bahasa Inggris siswa, akreditasi sekolah, kompetensi guru
The Challenges Faced by EFL Teachers in Integrating Character Education in English Subject Ira Audina Pratiwi
Jurnal Bahasa dan Sastra Vol 19, No 1 (2018)
Publisher : LINGUA: Jurnal Bahasa dan Sastra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The government regulation states that the goal of national education is to develop educated people with life skills and good character. Developing character in this globalization era is very challenging. However, despite the obvious good will of character educators, there is little training available, particularly on how to integrate the character itselfin any school subject. This paper reviews the challenges faced by the teacher in integrating the character education in English learning process. In Indonesia, the integration of character education should be based on 2013 curriculum which consists of eighteen character values. Based on the reviews done by language educators and researchers about character education, there seems to be some chal- lenges faced by English teachers, particularly in Indonesia, among others are (1) the difficulty of matching the character education values with the materials available, (2) the diverse charac- teristics of learners, and (3) the strategies on integrating various characters into English lessons.Keywords: character education, challenges, English teaching and learning process.Abstrak: Peraturan pemerintah menyatakan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah untuk membina orang-orang yang berpendidikan dan berkarakter baik dengan memiliki berbagai keterampilan hidup. Membina karakter di era globalisasi ini merupakan tantangan tersendi-  ri. Namun, terlepas dari niat baik yang jelas dari pendidik karakter, hanya sedikit pelatihan yang tersedia, terutama tentang bagaimana mengintegrasikan karakter itu sendiri dalam mata pelajaran. Artikel ini mengulas tantangan yang dihadapi oleh guru dalam mengintegrasikan pendidikan karakter dalam proses belajar bahasa Inggris. Di Indonesia, integrasi pendidikan karakter harus didasarkan pada kurikulum 2013 yang terdiri dari delapan belas nilai karak-  ter. Berdasarkan peninjauan para pendidik dan peneliti bahasa terhadap pendidikan karakter, tampaknya terdapat beberapa tantangan yang dihadapi oleh guru bahasa Inggris, khususnya  di Indonesia, di antaranya (1) kesulitan menyesuaikan nilai-nilai pendidikan karakter dengan materi yang tersedia, (2) keragaman karakteristik peserta didik, dan (3) strategi pengintegrasian berbagai karakter ke dalam mata pelajaran bahasa Inggris. Kata-kata Kunci: pendidikan karakter, tantangan yang dihadapi guru, proses belajar mengajar Bahasa Inggris
Challenges in Teaching English to Young Learners Dita Rizki Anggraini
Jurnal Bahasa dan Sastra Vol 18, No 2 (2018)
Publisher : LINGUA: Jurnal Bahasa dan Sastra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The consideration of English to be introduced at the earlier age has been arisen, especially in Indonesia. EF EPI in 2018 shows that Indonesia is in the 51st place out of 88 countries which indicates as having a low English proficiency. Likewise, in Asia, Indonesia is placed in the 13th place out of 21 countries which also categorizes Indonesia of having a low proficiency. Thus, it is crucial to teach English as early as possible. However, teachers of EYL all over the world, including Indonesia are facing some challenges in carrying out their profession. In Indonesia, specifically, the challenges or problems come from the status of English in Indonesia, teachers’ pedagogical competency, and parents’ socio-economic background. Keywords: challenges, English for young learners, teaching English to young learners Abstrak: Pertimbangan akan pentingnya pengenalan bahasa Inggris sejak dini kini semakin meningkat, khususnya di Indonesia. EF EPI pada tahun 2018 menempatkan Indonesia pada posisi ke-51 dari 88 negara yang mengindikasikan rendahnya kemampuan siswa dalam berbahasa Inggris. Bahkan di tingkat Asia, Indonesia juga termasuk salah satu negara dengan kemampuan bahasa Inggris yang rendah (peringkat 13 dari 21 negara). Oleh karenanya, mengajarkan bahasa Inggris sedini mungkin menjadi suatu hal yang krusial. Akan tetapi, guru-guru bahasa Inggris di sekolah dasar maupun sekolah menengah pertama di seluruh dunia, termasuk Indonesia, kerap menghadapi tantangan-tantangan dalam menjalankan profesi mereka. Terkhusus di Indonesia, tantangan-tantangan atau masalah-masalah tersebut berasal dari status (mata pelajaran) bahasa Inggris di Indonesia, kompetensi pedagogik guru, dan latar belakang sosio-ekonomi para orang tua.Kata-kata kunci: tantangan, Bahasa Inggris untuk pembelajar muda, pengajaran Bahasa Inggris pada pembelajar muda
Students’ Literacy Quality in Bahasa Indonesia: Attitude, Interest, and Functional Reading Chuzaimah D. Diem; Mulyadi Eko Purnomo; Sofendi Sofendi
Jurnal Bahasa dan Sastra Vol 18, No 1 (2017)
Publisher : LINGUA: Jurnal Bahasa dan Sastra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The purpose of this research was to find out the literacy quality of junior high school (JHS) students in Palembang. To achieve the goal, a survey on students’ reading literacy achievement in relation to their attitude towards and interest in reading bahasa Indonesia (BI) as National Language was conducted. To collect the data, the Functional Reading Achievement Test (FRAT) and the questionnaire of Attitude Towards and Interest in Reading Literacy (ATIReaL) were distributed to 191 students. Then to know about the perception of the stakeholders on literacy education, a set of Literacy Education Questionnaire (LEQ) was also filled in by 136 parents, 132 teachers, 31 principals, 32 librarians, and 44 superintendants. In addition, some representatives of the stakeholders were also interviewed to see what they have done and would like to do in terms of students’ literacy education enhancement. The results showed that (1) students’ functional reading achievement (FRA) is on average level, 57.20; (2) there are some aspects of ATIReaL correlated significantly with students’ FRA; and (3) most of the stakeholderss agree that literacy education of JHS students need to be developed and enhanced by having appropriate programs and facilities based on national standards of education. Key words: bahasa Indonesia, functional reading, junior high school students, literacy education, reading attitude, reading interest   Abstrak:  Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kwalitas literasi dari peserta didik Sekolah Menegah Pertama (SMP) di Palembang. Untuk menemukan jawabannya, dilakukan survey pada kemampuan literasi membaca para siswa yang berhubungan dengan sikap terhadap membaca dan minat mereka dalam Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Functional Reading Achievement Test (FRAT) dan angket Attitude Towards and Interest in Reading Literacy (ATIReaL) diberikan kepada 191 siswa. Kemudian, untuk mengetahui persepsi para pimpinan mengenai pendidikan literasi, angket Literacy Education Questionnaire (LEQ) diberikan kepada 136 wali murid, 132 guru, 31 kepala sekolah, 32 pustakawan, dan 44 pengawas. Wawancara juga dilakukan kepada perwakilan pimpinan untuk mengetahuai apa yang telah and akan mereka lakukan untuk meningkatkan pendidikan literasi peserta didik. Hasil penelitian menunjukkan bahawa (1) pencapaian membaca fungsional para peserta didik berada pada tingkat menengah, 57.2; (2) ada beberapa aspek dari ATIReaL yang berhubungan secara signifikan terhdap FRA para peserta didik: (3) dan pada umumnya para pemimpin menyetujui bahwa pendidikan literasi siswa SMP perlu dikembangkan dan ditingkatkan melalui program dan fasilitas yang sesuai berdasarkan standar nasional pendidikan.  Kata-kata kunci:  bahasa Indonesia, membaca fungsional, siswa SMP, pendidikan literasi, sikap baca, minat baca
Critical Digital Literacies in Education 4.0: Preparing Students for the Uncertainties of Post-Truth World Sary Silvhiany
Jurnal Bahasa dan Sastra Vol 19, No 2 (2019)
Publisher : LINGUA: Jurnal Bahasa dan Sastra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Industrial revolution 4.0 has brought forth the new drivers of change which include extreme longevity, the rise of smart machine and systems, computational world, new media ecology, super struc- tured organization, and globally connected world. Two of the prominent changes that greatly affect literacy education are the new media ecology and the digitally connected world. This paper focuses on how literacy is redefined by the advancement of digital technologies and the challenges of facing mis- information in the post-truth era. Based on the review of research on students’ ability to evaluate online information and assess the credibility of the sources, I offer recommendations for applying critical dig- ital literacies in all levels of education. Keywords: online information, critical digital literacies, post-truth Abstrak: Revolusi industri 4.0 mendorong pencetus perubahan, yang meliputi tingkat harapan hidup yang lebih panjang, munculnya mesin dan sistem pintar, dunia berbasis data komputasi, ekologi media terbaru, organisasi berbasis struktur super, dan dunia yang terkoneksi secara global. Dua agen peruba- han utama yang sangat berpengaruh pada pendidikan literasi adalah ekologi media terbaru dan dunia yang terkoneksi digital. Artikel ini berfokus bagaimana konsep literasi diredefinisikan oleh kemajuan teknologi digital dantantangan menghadapi informasi yang tidak benar dalam era post-truth. Berdasar- kan tinjauan riset mengenai kemampuan siswa dalam mengevaluasi informasi daring, dan kemampuan siswa dalam menilai sumber informasi, penulis memberikan rekomendasi mengenai aplikasi pembela- jaran digital critical literacies di semua jenjang Pendidikan. Kata-kata Kunci: informasi online, critical digital literacies, post-truth 
Task-Based Language Teaching in Promoting Students’ Speaking Fluency Indri Fitriani; Yanty Wirza
Jurnal Bahasa dan Sastra Vol 19, No 1 (2018)
Publisher : LINGUA: Jurnal Bahasa dan Sastra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: This study is conducted to investigate the use of task-based language teaching in pro- moting students’ speaking fluency. The students are exposed to four different tasks: sequencing task, picture narration task, question and answer task, and problem-solving task. The partici- pants of the study were thirty-six tenth grade students in one of the senior high schools in Band- ung. From thirty-six students, six students were selected as the representatives whose speaking performance were analysed. The students’ speaking performance were audio recorded and were analysed by looking at several linguistic aspects, such as segmental errors, speech rate, and grammatical accuracy. The findings of the study revealed that task-based language teaching promotes students’ speaking fluency. The students’ speech production showed improvement in the rhythm, segmental, speech rate aspect. The students showed positive responses during the task-based implementation in terms of awareness of the different aspect of English pronuncia- tion. In addition, the students’ participation in communicating in English was increased based on the observation result in each meeting and students’ interview. The study recommends that the students need to be exposed and learn the different aspects of pronunciation to further im- prove their speaking performance.Keywords: fluency, speaking skill, task-based language teaching.Abstrak: Penelitian ini meneliti penggunaan pengajaran Bahasa Inggris berbasis tugas (task- based instruction) untuk meningkatkan keterampilan berbicara Bahasa Inggris siswa. Dalam penelitian ini, siswa diberi empat macam tugas (tasks): menyusun, narasi gambar, tanya-jawab, dan pemecahan masalah. Siswa yang terlibat sebagai partisipan dalam penelitian ini berjumlah tiga puluh enam siswa kelas sepuluh dari salah satu SMP di Bandung. Dari tiga puluh enam siswa ini, enam di antaranya diambil contoh ujaran-ujarannya untuk diteliti lebih jauh menge- nai irama, segmental. Data diambil dari observasi, interview, dan penilaian performa berbicara Bahasa Inggris. Penelitian ini menemukan bahwa pengajaran Bahasa Inggris berbasis tugas dapat meningkatkan kemampuan berbicara siswa terutama dalam hal irama, aspeck segmental dan kecepatan berbicara. Siswa juga menunjukan respon positif dari pelaksanaan pembelajaran berbasis tugas ini yang terlihat dari meningkatnya kesadaran akan berbagai aspek dari pen- gucapan Bahasa inggris. Lebih lanjut, motivasi dan partisipansi siswa juga meningkat dalam berbicara berbahasa Inggris berdasarkan observasi dan interview. Penelitian ini merekomen- dasikan supaya siswa terus diberi paparan Bahasa Inggris yang baik dan diberikan pelajaran tentang berbagai aspect dari pengujaran Bahasa Inggris. Kata-kata kunci: kelancaran berbicara, kemampuan berbicara, pengajaran bahasa berbasis tugas.