cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
E-Jurnal Medika Udayana
Published by Universitas Udayana
ISSN : 23031395     EISSN : 25978012     DOI : -
Core Subject : Health,
Majalah ilmiah E-Jurnal Medika Udayana menerima naskah dari mahasiswa PSPD FK UNUD, baik berupa karangan asli atau laporan penelitian, ikhtisar pustaka, laporan kasus, maupun surat-surat untuk redaksi. Naskah yang dikirimkan untuk majalah ilmiah E-Jurnal Medika Udayana adalah naskah belum pernah atau tidak akan dikirim ke majalah lain. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia
Arjuna Subject : -
Articles 1,956 Documents
HUBUNGAN TERAPI OBAT ANTIEPILEPSI TERHADAP FUNGSI KOGNITIF PADA PASIEN EPILEPSI ANAK DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT SANGLAH PERIODE MARET 2016-NOVEMBER 2016 Nanda Putri Chintia; Ida Ayu Sri Wijayanti; Dewi Sutriani Mahalini
E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 7 (2020): Vol 9 No 07(2020): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2020.V09.i7.P13

Abstract

ABSTRAK Epilepsi merupakan penyakit kronis dengan angka insiden yang tinggi pada anak-anak.Epilepsi merupakan masalah kesehatan dan sosial, dimana masalah kesehatan ini dapatberdampak pada gangguan kognitif. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan obatantiepilepsi terhadap fungsi kognitif pada pasien epilepsi anak di Rumah Sakit Umum PusatSanglah Denpasar.Penelitian ini menggunakan desain penelitian analitik potong lintang.Selama 9 bulan periode penelitian, didapatkan 69 sampel yang masuk dalam kriteria inklusi..Data penelitian ini disajikan dalam bentuk tabel. Dari data penelitian ini didapatkan hasilberupa proporsi pasien yang mendapatkan terapi obat antiepilepsi dengan satu macam obatantiepilepsi (monoterapi) yaitu 85,5%, dan 14,5% pasien mendapatkan terapi obatantiepilepsi dengan dua macam obat antiepilepsi (politerapi). Proporsi pasien yang sudahmendapatkan terapi obat antiepilepsi kurang dari dua tahun yaitu 84,1% dan sebanyak 15,9%sudah mendapatkan terapi obat antiepilepsi lebih dari sama atau sama dengan dua tahun.Didapatkan juga proporsi fungsi kognitif kategori average (60,9%) yang lebih tinggidibanding kategori below average (21,7%) dan above average (17,4%). Terdapat hubunganyang signifikan antara jumlah macam obat antiepilepsi dengan fungsi kognitif (p=0,000).Terhadap lama pengobatan obat antiepilepsi didapatkan hubungan yang signifikan terhadapfungsi kognitif (p=0,000). Dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan darijumlah macam obat antiepilepsi dan lama pengobatan terhadap fungsi kognitif.Kata kunci: epilepsi anak, obat antiepilepsi, fungsi kognitif ABSTRACTEpilepsy is a chronic disease with high incidence rates in children. Epilepsy is a health and social problems, those health problems can have an impact on cognitive function. Thepurpose of this study to determine the relationship of antiepileptic drugs on cognition inchildren patients with epilepsy at the General Hospital Sanglah. The purpose of this studywas to determine the association of antiepileptic drugs on cognition in children with epilepsypatients at the General Hospital Center Sanglah. This study used an analytical cross-sectionalstudy design. During 9 months of the study period, obtained 69 samples which are includedin inclusion criteria. The research data were then presented in tabular form. From the studydata, obtained the proportion of patients who have received antiepileptic drug therapy with asingle antiepileptic drug (monotherapy) is 85.5%, and 14.5% patients received antiepilepticdrug therapy with two kinds of antiepileptic drugs (polytherapy). The proportion of patientswho have received an antiepileptic drug therapy less than two years is 84.1% and 15.9% havereceived an antiepileptic drug therapy more or equal to two years. Also obtained the proportion of average category of cognitive function (60.9%) higher than the below average(21.7%) and above average (17.4%). There is a significant association of the number ofantiepileptic drugs with cognitive function (p = 0.000). For the duration of antiepileptic drugtherapy is found a significant association to cognitive function (p = 0.000). It can beconcluded that there is a significant association of the number of antiepileptic drugs andduration of treatment on cognitive function. Keywords: epilepsy, children, antiepilepsy drug, cognitive function
HUBUNGAN KADAR ASAM URAT TERHADAP KEJADIAN STROKE ISKEMIK DI RSUP SANGLAH TAHUN 2016 Claudia Anastasia; AA Ngurah Subawa
E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 7 (2020): Vol 9 No 07(2020): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2020.V09.i7.P04

Abstract

ABSTRAK Stroke adalah kelainan neurologis yang merupakan salah satu penyebab utama kecacatanjangka panjang dan kematian di seluruh dunia. Menurut WHO, pada tahun 2012 diperkirakan terdapat6,7 juta orang meninggal akibat penyakit stroke sehingga penyakit ini menjadi salah satu dari 3penyebab utama hilangnya tahun-tahun kehidupan akibat mortalitas atau kematian dini. Asam uratyang merupakan hasil dari metabolisme putin dalam tubuh manusia ditemukan memiliki hubunganerat dengan beberapa faktor risiko penyakit kardiovaskuler yang juga menjadi faktor risiko penyakitstroke. Namun, hubungan antara keduanya masih kontroversial. Penelitian ini dilakukan denganmetode penelitian potong-lintang analitik menggunakan data sekunder untuk mengetahui hubunganantara kadar asam urat terhadap kejadian stroke iskemik di RSUP Sanglah. Sampel pada penelitian inidiambil dengan menggunakan cara consecutive sampling yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusihingga tercapai jumlah sampel yang diperlukan. Penelitian ini menggunakan data rekam medis daritahun 2016, dengan jumlah sampel sebanyak 25 orang untuk pasien kelompok kasus dan 25 oranguntuk pasien kelompok kontrol. Pada penelitian ini didapatkan bahwa rerata kadar asam uratkelompok kasus adalah 6,12±1,88 mg/dl dan lebih tinggi dibandingkan dengan kadar asam urat padakelompok kontrol (5,23±1,36 mg/dl). Rerata kadar asam urat pada pasien laki-laki (5,98±1,54 mg/dl)lebih tinggi dibandingkan dengan pasien perempuan (5,27±1,84 mg/dl). Namun pada uji chi-square,didapatkan bahwa tidak ada asosiasi yang signifikan antara kadar asam urat dengan kejadian strokeiskemik. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa kadar asam urat tidak memilikihubungan yang signifikan terhadap kejadian stroke iskemik. Kata kunci: Stroke iskemik, kadar asam urat, RSUP Sanglah ABSTRACT Stroke is a neurological deficit that is one of the major causes of long-term disability andmortality all over the world. According to WHO, in 2012 approximately 6.7 million people diedbecause stroke, making this disease as one of the threee major causes of losing years of life because ofmortality and premature death. Uric acid, which is a result from purin metabolism in human’s body, isfound to have a correlation with some of cardiovascular diseases’ risk factors which is also risk factorsof stroke. But, the association between uric acid and stroke itself is remain controversial. This studywas an analytical cross-sectional study, using secondary data to find out the association betweenserum uric acid levels with ischemic stroke events in patients at RSUP Sanglah. Samples that wereused in this study was taken with consecutive sampling method for all the samples that were matchedto the inclusion and exclusion criterias until the minimal amount of the samples needed was reached.This study used medical records data in 2016 with 25 cases of ischemic stroke and 25 controls. In thisstudy, it was found that the mean serum uric acid in cases group was 6.12±1.88 mg/dl and was higherthan controls’ mean serum uric acid (5.23±1.36 mg/dl). Mean serum uric acid in men (5.98±1.54mg/dl) was higher in women (5.27±1.84 mg/dl). However, from Chi-square test, it was found thatthere was no significant association between serum uric acid level and ischemic stroke events. Basedon this study, we can conclude that serum uric acid has no significant association with ischemic strokeevents. Keywords: ischemic stroke, serum uric acid level, RSUP Sanglah
KARAKTERISTIK IBU BERSALIN DENGAN KETUBAN PECAH DINI (ATERM & PRETERM) DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT SANGLAH DENPASAR PERIODE JULI 2015 – JUNI 2016 Torika Anggi Pradana; I Gede Ngurah Harry Wijaya Surya
E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 7 (2020): Vol 9 No 07(2020): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2020.V09.i7.P18

Abstract

ABSTRAKPada banyak kasus penyebab ketuban pecah dini (KPD) tidak diketahui secara pasti. Karakteristikibu bersalin seperti usia kehamilan, usia ibu, tingkat pendidikan, pekerjaan ibu, riwayat KPDsebelumnya, dan gravida dapat mempengaruhi kejadian KPD. Berdasarkan hal tersebut perludilakukan penelitian untuk mengetahui karakteristik ibu bersalin dengan KPD di RSUP SanglahDenpasar periode Juli 2015-Juni 2016. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptifretrospektif dengan sampel penelitian adalah semua data rekam medis ibu bersalin dengan KPDdi ruang VK dan Poli Obstetri dan Ginekologi RSUP Sanglah Denpasar periode Juli 2015-Juni2016. Pemilihan sampel dilakukan dengan cara purposive sampling. Rekam medis pasiendilakukan tabulasi data dan prosedur analisis data deskriptif. Data yang telah terkumpulditampilkan dalam bentuk tabel dan narasi. Hasil penelitian didapatkan 166 ibu bersalin denganKPD yang terdiri dari KPD aterm sebanyak 142 orang (85,5%) dan KPD preterm sebanyak 24orang (14,5%). Sebanyak 80 orang (56,3%) ibu bersalin dengan KPD aterm adalah pada usiakehamilan 37-38 minggu, sedangkan pada KPD preterm mendapat hasil seimbang antara usiakehamilan <34 minggu dan 34-36 minggu yaitu 12 orang (50%). Ibu bersalin dengan KPD baikpada kehamilan aterm maupun preterm terbanyak pada usia 20-35 tahun [aterm = 105 orang(73,9%), preterm = 21 orang (87,5%)]. Banyak ditemukan ibu bersalin dengan KPD baik padakehamilan aterm ataupun preterm dengan faktor risiko pendidikan sedang (SMP-SMA) [aterm =115 orang (81%), preterm = 20 orang (83,3%)]. Pekerjaan ibu rumah tangga memiliki jumlahyang lebih tinggi baik pada kehamilan aterm maupun preterm [aterm = 77 orang (54,2%), preterm= 12 orang (50%)]. Selanjutnya ibu bersalin dengan KPD baik pada kehamilan aterm ataupun preterm tanpa adanya riwayat KPD sebelumnya memiliki jumlah yang tinggi [aterm = 113 orang (93,7%), preterm = 24 orang (100%)]. Untuk gravida, kejadian KPD tertinggi baik padakehamilan aterm maupun preterm adalah gravida 1 [aterm = 54 orang (38%), preterm = 10 orang(41,7%)]. Didapatkan data ibu bersalin yang paling banyak mengalami KPD adalah padakehamilan aterm. Ibu bersalin dengan KPD aterm terbanyak pada usia kehamilan 37-38 minggu,sedangkan pada KPD preterm mendapat hasil seimbang antara usia kehamilan <34 minggu dan34-36 minggu. Ibu bersalin dengan KPD baik pada kehamilan aterm maupun preterm terbanyakpada usia 20-35 tahun, dengan faktor risiko pendidikan sedang (SMP-SMA), pekerjaan sebagaiibu rumah tangga, tanpa adanya riwayat KPD sebelumnya serta gravida 1.Kata kunci: Ketuban pecah dini, aterm, preterm, usia kehamilan, usia ibu, pendidikan, pekerjaan,riwayat KPD, gravida, RSUP Sanglah. ABSTRACT In many cases the cause of premature rupture of membranes (PROM) is unknown. Maternalcharacteristics such as gestational age, maternal age, education level, maternal occupation, historyof previous PROM and gravida can influence the incidents of PROM. Based on this background,it necessary to research to find the characteristics of pregnancy with PROM at Sanglah Hospitalin July 2015-June 2016. A retrospective descriptive design study with sample are all patientmedical records with PROM in VK and Polyclinic of Obstetrics and Gynecology at SanglahHospital in July 2015-June 2016. The sample was selected by purposive sampling, tabulated andanalyzed based on descriptive data analysis procedures. Data results presented in tabular formand narrative. From the results of 166 patints with PROM were devided become term PROM is142 persons (85.5%) and preterm PROM is 24 persons (14.5%). In term PROM, the gestationalage of patient were higher in 37-38 weeks gestation is 80 persons (56.3%), preterm PROM gotbalanced outcome between gestational age <34 weeks and 34-36 weeks is 12 people (50%). Theincidence of PROM in both term and preterm pregnancies were higher in patient age of 20-35years [term = 105 (73.9%), preterm = 21 (87.5%)]. In education level, the incidence of PROMboth term and preterm pregnancies are in moderate level of education (SMP-SMA) [term = 115(81%), preterm = 20 (83.3%)]. The occupation as a housewife has a higher incidence in both termand preterm pregnancies [term = 77 (54.2%), preterm = 12 (50%)]. The incidence of PROM inboth term and preterm pregnancies were higher in cases without any history of previous PROM[term = 113 (93.7%), preterm = 24 (100%)]. The incidence of PROM in both term and pretermpregnancies were higher in gravida 1 [term = 54 (38%), preterm = 10 (41.7%)]. The incidents ofPROM were higher in term pregnancies. In term PROM, the gestational age of patient were higherin 37-38 weeks gestation, whereas the preterm PROM got a balanced outcome betweengestational age <34 weeks and 34-36 weeks. The incidence of PROM in both term and pretermpregnancies were higher in patient age of 20-35 years, with a moderate level of education (SMPSMA),work as a housewife, with no history of previous PROM and occurin gravida 1. Keywords: Premature rupture of membrane, aterm, preterm, gestational age, maternal age,education, occupation, history of PROM, gravida, RSUP Sanglah.
HUBUNGAN ANTARA RUTINITAS OLAHRAGA DENGAN FUNGSI PARU PADA PEROKOK USIA DEWASA MUDA DI DENPASAR Made Pasek Ngurah Bagus; I Dewa Ayu Inten D. P; I Made Krisna Dinata
E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 7 (2020): Vol 9 No 07(2020): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2020.V09.i7.P09

Abstract

ABSTRAKMerokok memberikan dampak yang buruk pada kesehatan tubuh, khususnya pada sistem pernafasan. Olahraga yang cukup dapat meningkatkan kebugaran, kesehatan dan daya tahan tubuhmanusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat rutinitas olahraga denganfungsi paru pada perokok usia dewasa muda di Denpasar. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptifkorelasional dengan rancangan potong-lintang. Pengambilan sampel menggunakan metode nonprobabilitysampling dengan teknik purposive sampling. Jumlah sampel dalam penelitian ini yaitu 100 orang yang memenuhi kriteria inklusi. Proses pengambilan dan pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan instrumen kuesioner Baecke dan Spirometer Chestgraph HI-101. Dari hasil penelitian menggunakan uji statistik non-parametrik Rank Spearman didapatkan nilai p yaitu 0,000.. (<0,05) padamasing-masing % predicted FVC dan % predicted FEV1.0 yang menunjukkan adanya hubungan antara rutinitas olahraga dengan fungsi paru perokok usia dewasa muda. Pada analisa penelitian ini ditemukan Correlation Coefficiet Indeks Olahraga Baecke dengan % predicted FVC r=0,714 dan hubungan IndeksOlahraga Baecke dengan % predicted FEV1.0 r=0,726. Arah hubungan variabel pada penelitian inipositif dan kuat. Kata Kunci: Rutinitas olahraga, Fungsi paru, Perokok, Dewasa muda ABSTRACTSmoking leaves detrimental effect on human body’s health, especially on the respiratory system. Ample physical exercise increases fitness, healthiness, and immunity of the body. This study’s objectivewas to investigate the relationship between the physical exercise routine with the lung function of youngadult smokers in Denpasar. This study was a descriptive correlational with cross-sectional design. Thesampling method used was non-probability sampling with purposive sampling technique. The samplesize of this study was 100 respondents which met the inclusion criteria. The instrument used in theprocess of taking and collecting data was Baecke Questionnaire and Spirometry Chestgraph Hi-101.Using non-parametric Rank Spearman statistical test on the data collected, it was found that the p valuewas 0.000.. (<0.05) for each % predicted FVC and % predicted FEV1.0 which concluded that there wasa correlation between physical exercise routine with the lung function of young adult smokers.Correlation Coefficient found between Baecke sport index with % predicted FVC was r=0.714 andbetween Baecke sport index with % predicted FEV1.0 was r=0.726. The correlation is linearly positiveand strong. Keywords: Exercise routine, Lung function, Smoking, Young adult
PREVALENSI ANEMIA PADA ANAK DENGAN HIV/AIDS DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT SANGLAH TAHUN 2015 Ni Putu Diah Utami Darmayanti; I Nyoman Wande
E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 7 (2020): Vol 9 No 07(2020): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2020.V09.i7.P14

Abstract

ABSTRAK Anemia adalah suatu kondisi jumlah sel darah merah dalam tubuh tidak dapat memenuhikebutuhan. Salah satu penyakit yang mempunyai manifestasi klinis anemia adalah HIV. Anemia padaanak dengan HIV/AIDS dapat meningkatkan tingkat morbiditas apabila tidak ditangani dengan segera.Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui prevalensi anemia pada anak dengan HIV/AIDS di RumahSakit Sanglah bulan Januari sampai Desember 2015. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptifdengan pendekatan cross-sectional. Populasi dari penelitian ini adalah pasien anak di Poliklinik PediatriRumah Sakit Umum Pusat Sanglah di Denpasar, Provinsi Bali bulan Januari sampai Desember 2015.Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Maret-Juni 2016. Instrumen yang digunakan dalam penunjangpenelitian ini adalah formulir ekstraksi rekam medis dan rekam medis. Hasil yang didapatkan daripenelitian ini, sebanyak 120 orang subjek, 41 orang (34%) mengalami anemia dan 79 orang (66%)lainnya tidak menderita anemia, berdasarkan jenis kelamin didapatkan paling banyak pada kelompoklaki-laki sebanyak 31 orang (39%), kelompok usia yang paling banyak menderita anemia adalah usia6-11 tahun sebanyak 22 orang (54%), derajat keparahan yang paling banyak ditemukan adalah sedangsebanyak 18 orang (44%), hiporomik-makrositik adalah tipe anemia yang paling banyak ditemukanyaitu pada 16 orang (39%). Diharapkan penelitian ini dapat menjadi sumber referensi bagi penelitianselanjutnya. Kata kunci : Anemia, HIV/AIDS, prevalensi ABSTACT Anemia is a condition when red blood cell amount can not fulfill body needs. HIV is one of thediseases that have anemia as manifestation. Anemia in children with HIV/AIDS may increase morbidityif not treated immediately. The purpose of this study was to determine the prevalence anemia in childrenwith HIV/AIDS in Sanglah General Hospital on January-December 2015. This research is descriptivestudy with cross-sectional approach. Sample used in this study are patient who comes to pediatricpoliclinic Sanglah General Hospital from January to December 2015. This study conducted from marchto June 2016. Instrument used in this study are medical record extraction form and medical record. Theresult shown from 120 subjects, 41 people (39%) had anemia and the other 79 people (66%) did notsuffer anemia, the age group that suffered the most was the age of 6-11 years found in 22 people (54%),the severity of the most found was moderate found in 18 people (44%), hyporomic-macrocytic is themost common type of anemia found in 16 people (39%). It is hoped that this research can be a referencesource for further research. Keywords : Anemia, HIV/AIDS, prevalence
KARAKTERISTIK PENDERITA OSTEOARTRITIS LUTUT DI RSUP SANGLAH PERIODE JANUARI-JUNI 2018 Grace Claudia; Tjokorda Istri Anom Saturti; Pande Ketut Kurniari
E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 7 (2020): Vol 9 No 07(2020): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2020.V09.i7.P05

Abstract

ABSTRAKOsteoatritis (OA) lutut adalah penyakit radang sendi lutut yang degeneratif dan multifaktorial. OA lututdapat menimbulkan nyeri dan kaku sendi sehingga menganggu aktivitas sehari-hari. Namun informasimengenai karakteristik OA lutut yang ada belum memberikan penjelasan secara lengkap sehingga angkakejadian OA lutut di masyarakat tergolong tinggi. Maka dari itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahuikarakteristik penderita OA lutut di RSUP Sanglah periode Januari-Juni 2018 berdasarkan usia, jeniskelamin, indeks massa tubuh (IMT), diagnosis OA lutut unilateral atau bilateral, jenis terapi, dan pekerjaanpasien. Penelitian ini merupakan penelitian potong lintang deskriptif yang menggunakan rekam medispasien. Subyek penelitian ini berjumlah 61 orang penderita OA lutut di RSUP Sanglah periode Januari-Juni2018 yang dipilih dengan teknik consecutive sampling. OA lutut banyak ditemukan pada pasien denganrentang usia 60-69 tahun (41,7%), dan sebagian besar adalah perempuan (73,33%). Subyek penelitian inisebanyak 23 pasien (38,3%) merupakan penderita obesitas I. Pasien OA lutut bilateral lebih banyakdibandingkan OA unilateral, yakni sebesar 65%. Terapi pilihan yang diberikan kepada pasien adalah terapinon-operasi dan operasi, pada penelitian ini menunjukkan persentase yang sama sebesar 50%. Sebanyak 19orang dari subyek penelitian bekerja sebagai Ibu Rumah Tangga (IRT). Kata Kunci: OA lutut, karakteristik penderita OA lutut. Knee osteoarthritis (OA) is a multifactorial degenerative knee disease. Knee OA could cause pain and stiffness in the joints so that interfere patients’ daily activities. However, information of the characteristics of knee OA that exist have not provided a complete explanation so that the number of knee OA events insociety is high. Therefore this study aimed to know the characteristics of knee OA patients were at Sanglah on January-June 2018 based on age, gender, Body Mass Index (BMI), the diagnosis of knee OA unilateral or bilateral, type of therapy, and occupation. This study was descriptive cross-sectional with consecutivesampling method that used medical record of the patients. The subjects of this study was 61 of knee OA patients at Sanglah Hospital on January-June 2018. Knee OA was found in patients with an age range 60 69 years (41.7%), and most of them were women (73.33%). The subject of this study as many as 23 patients (38.3%) was obesity I. Most of patients had bilateral knee OA, the amount was 65%. The choice of therapy given to patients was non-surgery and surgery, and the result on this study indicated the same percentage of 50%. As many as 19 sample of this study worked as a housewife. Keywords: Knee OA, characteristic of Knee OA patients.
GAMBARAN PENGETAHUAN, SIKAP, DAN PERSEPSI MAHASISWA UNIVERSITAS UDAYANA TERHADAP PICTORIAL HEALTH WARNING PADA BUNGKUS ROKOK DI INDONESIA Ida Bagus Yorky Brahmantya; Kadek Dina Puspitasari; Ni Luh Putu Suariyani
E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 6 (2020): Vol 9 No 06(2020): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2020.V09.i6.P17

Abstract

ABSTRAK Jumlah perokok di Indonesia terdata meningkat dari tahun ke tahun. Fenomena merokok ini tidak jarang dijumpai di kalangan usia muda. Tren usia mulai merokok tertinggi di Indonesia berada pada rentang usia 15-19 tahun yang tergolong usia masuk Perguruan Tinggi. Pemerintah Indonesia berupaya menekan jumlah perokok dengan mengeluarkan peraturan mengenai pencantuman pictorial health warning (PHW) pada bungkus rokok. Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran pengetahuan, sikap, dan persepsi mahasiswa Universitas Udayana terhadap PHW pada bungkus rokok. Penelitian deskriptif cross-sectional ini dilakukan di 13 Fakultas Universitas Udayana, melibatkan seluruh mahasiswa aktif di tahun ajaran 2018/2019, dengan pengambilan sampel dilakukan secara accidental. Karakteristik sampel, pengetahuan, sikap, dan persepsi mahasiswa terhadap PHW diperoleh dengan kuesioner. Data dianalisis dengan statistical package software untuk Windows secara univariat. Responden yang berpartisipasi dalam penelitian ini sebanyak 112 orang dengan mayoritas mahasiswa non-kesehatan (75%). Sebagian besar responden tahu (96,4%) dan berpersepsi paham mengenai makna dari PHW pada bungkus rokok (98,2%). Pencatuman PHW pada bungkus rokok membuat responden peduli terhadap bahaya merokok (87,5%) dan bersikap mendukung pencantuman PHW (98,2%). Pencantuman PHW pada bungkus rokok menciptakan rasa takut untuk mulai merokok (98,2%) dan semakin takut jika ukuran gambar diperbesar (81,3%). Mahasiswa Universitas Udayana memiliki pengetahuan dan sikap yang baik terhadap PHW pada bungkus rokok, serta memiliki persepsi bahwa PHW yang berlaku saat ini telah efektif untuk memberikan rasa takut dan meningkatkan kepedulian terhadap dampak kesehatan akibat merokok. Kata Kunci: Mahasiswa, Pictorial Health Warning, Rokok ABSTRACT The number of smokers in Indonesia has increased from year to year. Smoking among young people is a common phenomenon. Age 15-19 years is the age of most smoking starts, which is classified as starting college age. The Indonesian government is trying to reduce the number of smokers by setting regulations regarding the inclusion of pictorial health warnings (PHW) on cigarette packs. This study aims to determine the knowledge, attitudes, and perceptions of Udayana University students on PHW on cigarette packs descriptively. This cross-sectional study was conducted at 13 Faculties at Udayana University, involving all active students in the 2018/2019 school year, with sampling taken accidentally. Sample characteristics, knowledge, attitudes, and students' perceptions of PHW were obtained by questionnaire. Data were analyzed univariately with a statistical package software for Windows. 112 respondents participated in this study with the majority of non-health students (75%). Most respondents knew (96.4%) and thought they understood the meaning of PHW on cigarette packages (98.2%). The inclusion of PHW on cigarette packs made respondents concerned about the dangers of smoking (87.5%) and was supportive of the inclusion of PHW (98.2%). The inclusion of PHW on cigarette packs creates fear to start smoking (98.2%) and is even more afraid if the image size is enlarged (81.3%). Udayana University students have good knowledge and attitude towards PHW on cigarette packs, as well as having a perception that the current PHW has been effective in giving fear and increasing concern for the health effects of smoking. Keywords: College Students, Pictorial Health Warning, Cigarettes
GAMBARAN KUALITAS HIDUP PADA PASIEN STRABISMUS DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT SANGLAH DENPASAR PERIODE 2016 - 2017 Yovita Govert; Ni Made Ayu Surasmiati; Wayan Gede Jayanegara
E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 4 (2021): Vol 10 No 04(2021): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2021.V10.i4.P05

Abstract

ABSTRAK Strabismus merupakan kondisi dimana terdapat ketidaksejajaran antar kedua mata. Salah satu mata dapat terlihat lurus menuju suatu objek, sedangkan mata yang lain dapat terlihat mengarah ke dalam, ke luar, ke atas, ataupun ke bawah. Kondisi ini dapat mempengaruhi kualitas hidup pasien secara negatif. Namun, hingga saat ini, penelitian terkait strabismus maupun kualitas hidup pasien strabismus di Indonesia, khususnya di Bali masih sangat jarang dilakukan. Oleh karena itu, penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui gambaran kualitas hidup pada pasien strabismus di Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar periode 2016 - 2017. Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif potong lintang. Pengumpulan data menggunakan teknik consecutive sampling dengan menggunakan data sekunder yang didapatkan dari data rekam medis pasien strabismus Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar pada periode 2016 - 2017 serta menggunakan data penelitian sebelumnya yaitu data yang diambil dari kuisioner Amblyopia & Strabismus Questionnaire (A&SQ) yang telah dilakukan sebelumnya. Dari 22 sampel pasien strabismus, ditemukan karakteristik umum sampel. Gambaran kualitas hidup pasien strabismus pada penelitian ini dinilai dari total skor A&SQ yaitu sebesar 63,88 (18,21) yang berarti bahwa kondisi strabismus mempengaruhi kualitas hidup pasien secara negatif. Walau setiap domain pada A&SQ mempengaruhi kualitas hidup, domain ‘kontak sosial serta kosmetik’ merupakan kontributor terbesar terhadap rendahnya kualitas hidup pasien strabismus. Kualitas hidup pasien strabismus juga dapat digambarkan dengan membandingkan total skor A&SQ dan skor domain A&SQ bedasarkan jenis kelamin, jenis deviasi, dan status pekerjaan. Kata kunci : strabismus, kualitas hidup, gambaran, mata juling
GAMBARAN KARAKTERISTIK PASIEN GANGGUAN BIPOLAR DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT SANGLAH DENPASAR, BALI Jourdan Wirasugianto; Cokorda Bagus Jaya Lesmana; Luh Nyoman Alit Aryani; Anak Ayu Sri Wahyuni
E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 1 (2021): Vol 10 No 01(2021): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2021.V10.i1.P06

Abstract

Gangguan bipolar merupakan gangguan kronis berulang ditandai dengan munculnya fluktuasi keadaan mood dan energi. Gangguan bipolar adalah salah satu penyebab kecacatan di kalangan anak muda, yang menyebabkan gangguan kognitif dan fungsional. Berdasarkan data Riskesdas pada tahun 2013, prevalensi gangguan mental emosional yang ditandai dengan adanya gejala depresi serta kecemasan usia 15 tahun ke atas mencapai sekitar 6% dari jumlah penduduk di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran karakteristik pasien gangguan bipolar di RSUP Sanglah Denpasar, Bali. Penelitian dilakukan dengan metode deskriptif studi potong lintang. Sampel dipilih dari populasi berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis data menggunakan software SPSS 25.0 untuk mendapatkan karakteristik gangguan bipolar. Hasil penelitian menunjukkan range usia 57 tahun dengan mean yaitu 32,75 tahun serta didominasi oleh jenis kelamin perempuan (53,5%). Pekerjaan sebagai pegawai swasta terbanyak ditemukan sebesar 56,3%. Sekolah Menengah Atas merupakan pendidikan terakhir yang paling banyak ditemukan dengan persentase 47,9% dan sebagian besar pasien berada dalam status belum menikah (76,1%). Tipe gangguan bipolar F31.2 mayoritas ditemukan yaitu sebanyak 45,1% dan pasien rawat inap dengan kunjungan pertama <7 hari (67,2%) didapatkan paling banyak. Secara keseluruhan, risperidone (17,2%) dan olanzapine (15,3%) merupakan obat yang paling sering digunakan untuk pasien gangguan bipolar. Penelitian ini bermanfaat guna memberikan wawasan mengenai gambaran karakteristik pasien gangguan bipolar. Kata Kunci: Gangguan Bipolar, Karakteristik, Klasifikasi
KARAKTERISTIK PENDERITA KATARAK KONGENITAL DI DIVISI PEDIATRI OFTALMOLOGI POLIKLINIK MATA RSUP SANGLAH DENPASAR PERIODE 1 JANUARI–31 DESEMBER 2015 Melin Eka Khotimah
E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 10 (2020): Vol 9 No 10(2020): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2020.V09.i10.P02

Abstract

Katarak kongenital adalah kekeruhan lensa yang terjadi sebelum usia 2-3 bulan dimana refleks fiksasi belum berkembang. Katarak kongenital bertanggung jawab terhadap sekitar 10% dari seluruh kehilangan penglihatan pada anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik katarak kongenital berdasarkan usia, jenis kelamin, lateralitas, kausa dan pilihan terapi pada pasien katarak kongenital di Divisi Pediatri Oftalmologi RSUP Sanglah periode 1 Januari hingga 31 Desember 2015. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif cross-sectional menggunakan data sekunder berupa rekam medis. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode total sampling dengan total sampel berjumlah 13 orang. Proporsi penderita katarak kongenital pada kelompok usia <6 bulan adalah sebesar 53,8%, kelompok usia 6–24 bulan sebesar 15,4%, kelompok usia 1–3 tahun sebesar 15,4% dan kelompok usia 4–6 tahun sebesar 15,4%. Katarak kongenital lebih banyak diderita oleh laki-laki (61,5%) dibandingkan perempuan (38,5%). Katarak kongenital unilateral (53,8%) lebih banyak ditemukan dibanding katarak kongenital bilateral (48,2%). Penyebab katarak kongenital yang ditemukan pada penelitian adalah infeksi rubela (46,2%), dan penyebab lainnya tidak diketahui atau idiopatik (53,8%). Sebanyak 84,6% subjek mendapat tindakan terapi aspirasi massa lensa dan sebanyak 15,4% tidak menjalani terapi pembedahan. Penelitian ini menunjukkan perlunya dilakukan pengkajian lebih lanjut mengenai prevalensi pasien katarak kongenital sesuai karakteristik umum. Hal tersebut diperlukan dalam upaya mengurangi prevalensi kejadiannya yang tinggi, sehingga mampu menurunkan angka kebutaan pada anak akibat katarak kongenital dan mewujudkan vision WHO 2020. Kata kunci: Katarak kongenital, rubela, aspirasi massa lensa

Filter by Year

2012 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 13 No 07 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 9 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 8 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 6 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 5 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 4 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 3 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 2 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 1 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 12 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 11 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 10 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 9 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 8 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 7 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 6 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 5 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 4 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 3 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 2 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 1 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 6 (2022): Vol 11 No 06(2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 12 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 11 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 10 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 9 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 8 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 7 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 6 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 5 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 4 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 3 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 2 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 1 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 12 (2021): Vol 10 No 12(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 11 (2021): Vol 10 No 11(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 10 (2021): Vol 10 No 10(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 9 (2021): Vol 10 No 09(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 8 (2021): Vol 10 No 08(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 7 (2021): Vol 10 No 07(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 6 (2021): Vol 10 No 06(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 5 (2021): Vol 10 No 05(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 4 (2021): Vol 10 No 04(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 3 (2021): Vol 10 No 03(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 2 (2021): Vol 10 No 02(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 1 (2021): Vol 10 No 01(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 12 (2020): Vol 9 No 12(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 11 (2020): Vol 9 No 11(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 10 (2020): Vol 9 No 10(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 9 (2020): Vol 9 No 09(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 8 (2020): Vol 9 No 08(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 7 (2020): Vol 9 No 07(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 6 (2020): Vol 9 No 06(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 5 (2020): Vol 9 No 05(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 4 (2020): Vol 9 No 04(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 3 (2020): Vol 9 No 03(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 2 (2020): Vol 9 No 02(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 1 (2020): Vol 9 No 01(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 5 (2019): Vol 8 No 5 (2019): Vol 8 No 5 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 4 (2019): Vol 8 No 4 (2019): Vol 8 No 4 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 12 (2019): Vol 8 No 12 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 11 (2019): Vol 8 No 11 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 10 (2019): Vol 8 No 10 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 9 (2019): Vol 8 No 9 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 8 (2019): Vol 8 No 8 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 7 (2019): Vol 8 No 7 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 6 (2019): Vol 8 No 6 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 3 (2019): Vol 8 No 3 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 2 (2019): Vol 8 No 2 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 1 (2019): Vol 8 No 1 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 12 (2018): Vol 7 No 12 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 11 (2018): vol 7 no11 2018 E-jurnal medika udayana Vol 7 No 10 (2018): Vol 7 No 10 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 9 (2018): Vol 7 No 9 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 8 (2018): Vol 7 No 8 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 7 (2018): Vol 7 No 7 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 6 (2018): Vol 7 No 6 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 5 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 4 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 3 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 2 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 1 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 12 (2017): E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 11 (2017): E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 10 (2017): E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 9 (2017): E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 8 (2017): E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 7 (2017): E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 6 (2017): E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 5 (2017): E-jurnal medika udayana Vol 6 No 4 (2017): E-jurnal medika udayana Vol 6 No 3 (2017): E-jurnal medika udayana Vol 6 No 2 (2017): E-jurnal medika udayana Vol 6 No 1 (2017): E-jurnal medika udayana Vol 5, No 12 (2016): E-jurnal medika udayana Vol 5, No 11 (2016): E-jurnal medika udayana Vol 5 No 10 (2016): E-jurnal medika udayana Vol 5 No 9 (2016): E-jurnal medika udayana Vol 5 No 8 (2016): E-jurnal medika udayana Vol 5 No 7 (2016): E-jurnal medika udayana Vol 5 No 6 (2016): E-jurnal medika udayana Vol 5 No 5 (2016): E-jurnal medika udayana Vol 5 No 4 (2016): E-jurnal medika udayana vol 5 no 3(2016):e-jurnal medika udayana vol 5 no 2(2016):e-jurnal medika udayana vol 5 no 1(2016):e-jurnal medika udayana vol 4 no 12(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 11(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 10(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 9(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 8(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 7(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 6(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 5(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 4(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 3 (2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 2 (2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 1 (2015):e-jurnal medika udayana vol 3 no 12(2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 11(2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 10(2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 9 (2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 8 (2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 7 (2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 6 (2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 5 (2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 4 (2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 3 (2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 2 (2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 1 (2014):e-jurnal medika udayana vol 2 no 12 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no 11 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no 10 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no 9 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no 8 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no 7 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no6(2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no5(2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no4 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no3 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no2 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no1 (2013):e-jurnal medika udayana Vol 1 No 1 (2012): e-jurnal Medika Udayana More Issue