cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 15, No 4 (2013)" : 12 Documents clear
Dampak Usia Pertama Pemberian Makanan Pendamping Asi Terhadap Status Gizi Bayi Usia 8-12 Bulan di Kecamatan Seberang Ulu I Palembang Eka Intan Fitriana; Julius Anzar; HM. Nazir HZ; Theodorus Theodorus
Sari Pediatri Vol 15, No 4 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (196.351 KB) | DOI: 10.14238/sp15.4.2013.249-53

Abstract

Latar belakang. Pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) dini sebelum usia enam bulan akan menyebabkan bayi rentan mengalami penyakit infeksi dan alergi, sehingga dapat mengakibatkan malnutrisi dan gangguan pertumbuhan.Tujuan. Menilai hubungan antara usia pertama pemberian MPASI terhadap status gizi bayi usia 8-12 bulan.Metode. Penelitian kasus-kontrol dilakukan pada bulan 1 Februari-30 April 2012 di Puskesmas dan Posyandu di Kecamatan Seberang Ulu I Palembang. Sampel didapatkan secara consecutive sampling, dan dikelompokkan sebagai kelompok kasus dengan gizi kurang dan kelompok kontrol dengan gizi baik yang memenuhi kriteria inklusi. Semua subjek dilakukan penelusuran retrospektif mengenai usia pertamakali diberikan MPASI.Hasil. Telah diteliti 240 subyek terdiri dari 80 subyek dengan gizi kurang dan 160 subyek dengan gizi baik. Hasil analisis chi-square dalam mencari hubungan antara usia pertama pemberian MPASI terhadap status gizi menunjukkan OR 1,42 dengan 95% CI antara 0,8-2,4 (p=0,2).Kesimpulan. Pemberian MPASI dini tidak berhubungan dengan status gizi pada usia 8-12 bulan.
Hubungan Spektrum Klinis Infeksi Dengue dengan Kadar Seng dan Feritin Serum Vindy Ruslianti; Alex Chairulfatah; Dedi Rachmadi
Sari Pediatri Vol 15, No 4 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (224.571 KB) | DOI: 10.14238/sp15.4.2013.213-9

Abstract

Latar belakang. Sindrom syok dengue (SSD) merupakan masalah kesehatan dengan morbiditas dan mortalitas tinggi. Infeksi dengue dapat menyebabkan badai sitokin dan produksi berlebih MMP-2 dan MMP-9, yaitu suatu enzim yang tergantung seng. Sitokin ini akan menyebabkan peningkatan feritin sebagai reaktan fase akut, sedangkan produksi berlebih MMP-2 dan MMP-9 menjadi salah satu penyebab kebocoran plasma.Tujuan. Menganalisis hubungan spektrum klinis infeksi dengue dengan kadar seng dan feritin serum pada anak.Metode. Penelitian cross-sectional dilaksanakan dari Januari 2012 sampai Mei 2012 melibatkan 39 anak laki-laki dan 42 anak perempuan. Dilakukan pemeriksaan kadar seng serum dengan metode atomic absorption spectroscopy (AAS) dan feritin serum dengan metode electrochemiluminescense immunoasssay (ECLIA). Uji statistik dengan ANOVA dan uji korelasi Spearman. Kemaknaan ditentukan berdasarkan nilai p<0,05.Hasil. Kadar seng serum rendah pada 53 (65%) anak. Rerata kadar seng serum pada demam dengue (DD), demam berdarah dengue (DBD) dan SSD adalah 68,2 μg/dL (SB 15,3), 64,8 μg/dL (SB 15,6) dan 59,2 μg/dL (SB 15,0) (p=0,09), sedangkan kadar feritin tinggi pada 79 (98%) anak dengan rerata 1158,9 ng/mL (SB 1766,8), 3048,2 ng/mL (SB 2566,2), 6891 ng/mL (SB 9822) (p<0,001). Terdapat hubungan kuat dan bermakna antara derajat berat penyakit dengan kadar feritin (p<0,001; r=0,635), tetapi tidak terdapat hubungan dengan kadar seng serum (p=0,043; r=-0,225).Kesimpulan. Spektrum klinis infeksi dengue berhubungan kuat dengan kadar feritin yang tinggi dan memiliki hubungan dengan kadar seng serum rendah.
Hubungan antara Leptin dengan Demam Berdarah Dengue James Widjaja; Max F.J. Mantik; Novie H. Rampengan
Sari Pediatri Vol 15, No 4 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp15.4.2013.254-8

Abstract

Latar belakang. Patogenesis demam berdarah dengue (DBD) sampai saat ini masih belum jelas. Status gizi merupakan faktor risiko terjadinya perburukan pada DBD. Leptin, suatu protein hormon yang dihasilkan oleh sel adiposit diduga berperan dalam perburukan perjalanan penyakit DBD.Tujuan. Mencari hubungan antara leptin dengan demam berdarah dengue pada anak.Metode. Penelitian dilakukan secara analitik observasional dengan pendekatan potong lintang. Pasien didiagnosis DBD berdasarkan kriteria WHO dan dikonfirmasi dengan pemeriksaan serologis NS1 dengue IgG dan IgM atau anti dengue rapid test. Data berupa kadar hematokrit, jumlah trombosit, jumlah lekosit, kadar hemoglobin dan kadar leptin dikumpulkan selama penelitian. Analisis statistik menggunakan analisis deskriptif dan regresi logistik.Hasil. Didapatkan tiga puluh delapan anak, 19 (50%) lelaki dan 19 (50%) perempuan. Duapuluh tujuh anak (71,1%) didiagnosis DBD tanpa syok dan 11 anak (28,9%) DBD dengan syok. Rerata kadar hemoglobin anak dengan DBD 13,23 (SB 1,78) g/dL (95% IK 12,64-13,81), rerata kadar hematokrit 39,78 (SB 6,16)% (95% IK 37,75-41,80), rerata jumlah leukosit 5.366 (SB 2,410)/mm3 (95% IK 4,574-6,158), rerata jumlah trombosit 79,342 (SB 47,911)/mm3 (95% IK 63,594-95,090), rerata kadar plasma leptin anak yang menderita DBD 2417,88 (SB 7092,44) pg/mL (95% IK 86,66 – 4749,11). Terdapat hubungan positif yang bermakna antara kadar leptin plasma darah dengan peluang terjadinya syok pada DBD anak (p=0,042).Kesimpulan. Semakin tinggi kadar leptin, semakin besar peluang untuk terjadinya syok pada DBD.
Evaluasi Sensitivitas Antibiotik dengan Demam Neutropenia Sulaiman Hamid; Pudjo Hagung Widjajanto; Ida Safitri Laksono
Sari Pediatri Vol 15, No 4 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (218.714 KB) | DOI: 10.14238/sp15.4.2013.220-4

Abstract

Latar belakang. Pemberian antibiotik sangat penting untuk menurunkan angka kematian pasien demam neutropenia. Di sisi lain, penggunaan antibiotik jangka panjang akan mengubah pola patogen dan uji sensitivitas terhadap antibiotik.Tujuan. Mencari pola patogen, menilai sensitivitas cefotaxime dan gentamicin sebagai antibiotik lini pertama, dan mendapatkan antibiotik alternatif pada demam neutropenia.Metode. Penelitian potong lintang dilakukan pada anak demam neutropenia yang dirawat di Bangsal Onkologi Anak RSUP Dr. Sardjito periode Januari 2004 sampai Desember 2009. Kriteria inklusi adalah demam (didefinisikan sebagai suhu tubuh ≥38,3oC atau ≥38,0oC pada dua kali pengukuran selang 1 jam), neutropenia (absolute neutrophil count/ANC <500 sel/mm3 atau <1000 sel/mm3 yang diperkirakan akan turun menjadi <500 sel/mm3 dalam 48 jam), dan hasil biakan positif. Uji sensitivitas dinilai dengan menggunakan disc diffusion method.Hasil. Terdapat 205 episode neutropenia dari 188 subjek, 135 episode di antaranya mengalami demam neutropenia (rerata ANC 520/mm3). Biakan positif 42 (31%) subjek, 30 (70%) dari biakan yang positif merupakan bakteri Gram negatif. Pseudomonas aeruginosa (19%) dan Escherichia coli (19%) merupakan patogen terbanyak dijumpai pada biakan. Hasil uji sensitivitas antibiotik invitro, gentamicin sensitif pada 45% biakan sedangkan cefotaxime 29%.Kesimpulan. Bakteri Gram negatif merupakan penyebab utama demam neutropenia. Sensitivitas cefotaxime lebih rendah apabila dibandingkan dengan antibiotik yang lain. Cefpirome, cefepime dan ampicillin-sulbactam direkomendasikan untuk menggantikan cefotaxime sebagai obat yang dikombinasikan dengan gentamicin pada pengobatan demam neutropenia.
Hubungan Kadar Serum Metabolit Nitrit Oksida dan Gangguan Fungsi Ginjal pada Sepsis Jose M. Mandei; Ronald Chandra; Rocky Wilar; Ari L. Runtunuwu; Jeanette I. Ch. Manoppo,; Adrian Umboh
Sari Pediatri Vol 15, No 4 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp15.4.2013.259-63

Abstract

Latar belakang. Sepsis adalah respons sistemik terhadap infeksi dengan salah satu komplikasinya berupa gagal organ ginjal. Peran nitrit oksida (NO) sebagai mediator yang terlibat dalam mekanisme gagal organ ginjal kasus sepsis masih bersifat kontroversi.Tujuan. Mengevaluasi hubungan antara kadar serum NO dan gangguan fungsi ginjal pada sepsis anak.Metode. Desain penelitian potong lintang secara konsekutif dilaksanakan sejak bulan Juni sampai November 2012 dengan sampel anak usia satu bulan sampai lima tahun yang didiagnosis sepsis. Pemeriksaan kadar serum kreatinin mencerminkan fungsi ginjal dan kadar serum metabolit NO (nitrat dan nitrit) mencerminkan kadar NO endogen. Uji korelasi menggunakan uji korelasi Spearman, dinyatakan bermakna apabila p<0,05. Data diolah menggunakan piranti lunak SPSS 19.00Hasil. Diperoleh 40 subjek dengan median usia 8,5 bulan (2 sampai 70 bulan) dan 22 di antaranya anak laki-laki. Kadar metabolit NO ditemukan berhubungan dengan kadar serum kreatinin (rs=0,33; p=0,041).Kesimpulan. Terdapat hubungan antara peningkatan kadar serum NO dan terjadinya gangguan fungsi ginjal pada anak dengan sepsis.
Perbandingan Faktor Risiko Gangguan Pemusatan Perhatian/Hiperaktivitas di Daerah Pedesaan dan Perkotaan Yosephine Maria Christina; Elisabeth S. Herini; IL. Gamayanti
Sari Pediatri Vol 15, No 4 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp15.4.2013.225-31

Abstract

Latar belakang. Gangguan Pemusatan Perhatian/Hiperaktifitas (GPP/H) merupakan gangguan neurobehavioural yang menetap dengan gejala berupa ketidakmampuan memusatkan perhatian, hiperaktivitas, dan impulsivitas yang tidak sesuai dengan usia perkembangannya.Tujuan. Mengetahui perbedaan angka prevalensi dan karakteristik faktor risiko yang menimbulkan GPP/H di pedesaan dan perkotaan.Metode. Penelitian potong lintang untuk mengetahui prevalensi GPP/H dan dilanjutkan studi kasus kontrol untuk memperoleh faktor risiko yang memengaruhi terjadinya GPP/H di pedesaan dan perkotaan. Subyek penelitian terdiri dari anak SD kelas I – III.Hasil. Prevalensi GPP/H di kecamatan Cangkringan 7,48% dengan rasio prevalensi GPP/H antara laki-laki dan perempuan 6 : 1. Prevalensi di pedesaan 46% dan perkotaan 54%. Hasil analisis bivariat menunjukkan perbedaan faktor risiko yang berpengaruh di pedesaan dan perkotaan adalah keluarga hiperaktif, komplikasi kehamilan, serta konsumsi makanan berpengawet dan berpewarna lebih tinggi di perkotaan. Sedangkan durasi interaksi dengan orang tua <8 jam, BBLR lebih berpengaruh di pedesaan. Hasil analisis multivariat memperoleh faktor risiko independent yang memengaruhi kejadian GPP/H adalah trauma kepala OR 15,97 (95% CI 2,11–20,96); p=0,007, orang tua tunggal OR 182,47 (95% CI 1,55–2,15); p=0,032, tidak ASI eksklusif OR 11,93 (95% CI 1,84–78,93) p=0,01, dan penggunaan makanan berpengawet OR 0,05 (95% CI 0,003–0,89); p=0,041.Kesimpulan. Prevalensi GPP/H di perkotaan lebih besar daripada di pedesaan. Faktor risiko yang berpengaruh pada masing-masing wilayah berbeda. Durasi interaksi dengan orang tua <8 jam, komplikasi kehamilan ibu, tidak ASI eksklusif merupakan faktor risiko kejadian GPP/H.
Efektifitas Asuhan Nutrisi Pediatrik Per oral untuk Mencegah Malnutrisi Rumah Sakit Rogatianus Bagus Pratignyo; Julius Anzar; H.M. Nazir; Theodorus Theodorus
Sari Pediatri Vol 15, No 4 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp15.4.2013.264-8

Abstract

Latar belakang. Prevalensi malnutrisi rumah sakit (MRS) masih cukup tinggi, yaitu antara 6,1%-51,6% oleh sebab itu dikembangkanlah asuhan nutrisi pediatrik (ANP).Tujuan. Mengetahui efektifitas pemberian asuhan nutrisi pediatrik per oral dalam mencegah MRS pada setiap kelompok risiko nutrisi.Metode. Uji klinik dalam bentuk berpasangan yang dilakukan sejak November 2011 sampai Januari 2012 di bangsal rawat Inap Departemen Kesehatan Anak RSMH Palembang. Sampel dipilih secara consecutive sampling. Sampel yang memenuhi kriteria inklusi dilakukan skoring simple pediatrics nutritional risk score (SPNRS) dan dilakukan intervensi ANP per oral. Data penelitian diolah dengan menggunakan SPSS 16.Hasil. Dari 105 subjek penelitian didapatkan kejadian MRS pada risiko nutrisi tinggi 74,3%, nutrisi sedang 31,4% dan nutrisi rendah 20%. Kecukupan asupan energi risiko nutrisi rendah 82,9%, nutrisi sedang 62,9% dan nutrisi tinggi 31,4%. Kecukupan asupan protein risiko nutrisi rendah 74,3%, nutrisi sedang 71,4%, dan nutrisi tinggi 45,7%. Faktor yang memengaruhi kejadian MRS adalah asupan energi p=0,003 (OR=6,41), asupan protein p=0,009 (OR=5,42), dan SPNRS p=0,090 (OR=2,87).Kesimpulan. Asuhan nutrisi pediatrik per oral efektif untuk kelompok risiko nutrisi ringan, tetapi tidak efektif pada kelompok risiko nutrisi sedang dan risiko nutrisi tinggi untuk mengurangi kejadian MRS.
Hubungan Mengikuti Kelompok Bermain dan Perkembangan Anak Elsa Maimon; Djauhar Ismail; Mei Neni Sitaresmi
Sari Pediatri Vol 15, No 4 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp15.4.2013.232-6

Abstract

Latar belakang. Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk stimuli yang akan memacu perkembangan anak agar berjalan secara optimal sesuai usianya. Salah satu bentuk pendidikan yang banyak ditawarkan saat ini adalah kelompok bermain. Sebagian orang tua ragu tentang manfaat mengikuti kelompok bermain untuk perkembangan anak. Sebuah penelitian kohort menyebutkan bahwa pendidikan usia dini memberikan kehidupan sosial yang lebih baik, tetapi penelitian tersebut tidak mengevaluasi pertkembangan anak.Tujuan. Mengetahui hubungan mengikuti kelompok bermain dengan pencapaian perkembangan anak.Metode. Penelitian dilakukan di kota Yogyakarta secara cross sectional dengan mengambil subyek murid Taman Kanak-kanak yang baru satu bulan bersekolah dan dilakukan penilaian perkembangan dengan metode Denver II. Analisis statistik dilakukan dengan uji X².Hasil. Seratus tujuh puluh dua anak menjalani pemeriksaan perkembangan dan melengkapi data penelitian. Pencapaian perkembangan anak lebih baik pada kelompok anak yang mengikuti kelompok bermain dibandingkan dengan anak yang tidak mengikuti kelompok bermain (p=0,003). Mengikuti kelompok bermain memberikan kontribusi pada perkembangan anak (OR 3,2; IK 95%: 1,558-6,774, p=0,002).Kesimpulan. Mengikuti kelompok bermain berhubungan dengan pencapaian perkembangan anak dan bermanfaat untuk perkembangan anak.
Perbandingan Masalah Psikososial pada Remaja Obes dan Gizi Normal Menggunakan Pediatric Symptom Checklist (PSC)-17 Endah Pujiastuti; Eddy Fadlyana; Herry Garna
Sari Pediatri Vol 15, No 4 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp15.4.2013.201-6

Abstract

Latar belakang. Obesitas pada anak merupakan faktor penting karena cenderung meningkat dan dapat berpotensi sebagai penyebab berbagai konsekuensi medis serta masalah psikososial. Remaja obes cenderung mengalami rasa rendah diri, penghargaan diri yang buruk, depresi, mengalami kesulitan di sekolah, dan kesulitan belajar dibandingkan dengan remaja dengan status gizi normal.Tujuan. Mengetahui perbandingan masalah psikososial antara remaja obes dan remaja status gizi normal dengan menggunakan kuesioner pediatric symptom checklist (PSC)-17, suatu kuesioner yang telah tervalidasi untuk mendeteksi masalah psikososial pada anak.Metode. Rancangan analitik dengan metode potong silang, dilakukan pada bulan Mei–l Juli 2011 di Sekolah Menengah Pertama Negeri 14 Bandung. Subjek penelitian adalah siswa usia 12–16 tahun yang dipilih secara berurutan (consecutive sampling), terdiri atas 31 remaja obes dan gizi normal. Indeks massa tubuh didapat dari pengukuran tinggi badan dan berat badan, kemudian dikelompokkan menjadi status gizi obes (>+3SD) dan gizi normal (-2 sampai +2 SD). Subjek mengisi kuesioner PSC-17 yang berisi beberapa pertanyaan mengenai variabel masalah psikososial, yaitu internalisasi, eksternalisasi, dan masalah perhatian. Uji statistik dengan chi-square test untuk perbandingan kedua kelompok.Hasil. Terdapat 15/31 remaja obes dan 5/31 remaja gizi normal mengalami masalah psikososial (p=0,007). Analisis aspek masalah psikososial kuesioner PSC memperlihatkan perbedaan bermakna mengenai masalah internalisasi antara kedua kelompok (p=0,007).Kesimpulan. Masalah psikososial kelompok remaja obes lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok remaja gizi normal.
Studi Observasional Pasca-Pemasaran Formula Isolat Protein Kedelai pada Bayi dengan Gejala Sugestif Alergi Terhadap Protein Susu Sapi Zakiudin Munasir; Dina Muktiarti; Anang Endaryanto; Ketut Dewi Kumarawati; Budi Setiabudiawan; Sumadiono Sumadiono; Johannes Hudyono; Melva Louisa; Arini Setiawati
Sari Pediatri Vol 15, No 4 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp15.4.2013.237-43

Abstract

Latar belakang. Fomula berbasis isolat protein kedelai banyak digunakan untuk anak-anak dengan alergi susu sapi di Indonesia. Namun, diperlukan penelitian untuk mendapatkan gambaran penerimaan orangtua dan toleransi saluran cerna pada penggunaan formula isolat protein kedelai.Tujuan. Pertama, menentukan penerimaan orangtua terhadap pemberian suatu isolat protein kedelai pada bayi yang diduga mengalami alergi terhadap protein susu sapi. Kedua, mengetahui toleransi saluran cerna pada pemberian susu formula tersebut.Metode. Suatu studi pasca-pemasaran, prospektif, multisenter yang dilakukan di Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, Solo, dan Denpasar sejak September 2011 sampai April 2012. Subyek berusia antara 6 bulan hingga 1 tahun dengan gejala dugaan alergi terhadap protein susu sapi yang diberikan formula isolat protein kedelai dan diamati selama 4 minggu. Luaran yang diharapkan adalah penerimaan orangtua terhadap pemberian formula isolat protein kedelai dan toleransi saluran cerna terhadap pemberian isolat protein kedelai.Hasil. Diteliti 534 subyek yang dapat dianalisis selama periode penelitian. Mayoritas orangtua (84%) merasa puas dengan formula isolat protein kedelai, 83% orangtua berencana untuk melanjutkan pemberian susu formula karena berkurang (31,5%) dan hilangnya gejala yang diduga akibat alergi susu sapi (32,4%). Gejala klinis yang diduga akibat alergi terhadap protein susu sapi menurun pada setiap kunjungan berikutnya. Tidak ada efek samping serius yang dilaporkan selama periode penelitian.Kesimpulan. Penelitian ini menemukan tingkat penerimaan orangtua dan toleransi saluran cerna yang baik terhadap pemberian formula isolat protein kedelai kepada bayi dengan gejala sugestif alergi terhadap protein susu sapi. Formula isolat protein kedelai cukup aman dijadikan sebagai formula alternatif pengganti pada anak dengan alergi susu sapi.

Page 1 of 2 | Total Record : 12


Filter by Year

2013 2013


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue