cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 1,519 Documents
Abses Hati pada Anak Yuridyah Prianti M; Julfina Bisanto; Kemas Firman
Sari Pediatri Vol 7, No 1 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp7.1.2005.50-6

Abstract

Diagnosis abses hati pada seorang anak laki-laki berusia 7 tahun ditegakkan berdasarkan nyeri perut kanan atas yang semakin hebat, demam, nafsu makan yang menurun, riwayat diare, hepatomegali. Pada pemeriksaan fisik teraba masa di daerah perut kanan atas yang makin membesar serta terasa nyeri; pemeriksaan ultrasonografi hati tampak gambaran sesuai dengan abses hati. Jenis abses hati pasien ini kemungkinan adalah abses hati piogenik pada pasien ini didukung ditemukannya bakteri batang gram negatif pada pemeriksaan sediaan langsung pus abses, namun biakan bakteri terhadap pus negatif. Kemungkinan abses hati amuba masih perlu dipikirkan karena di negara sedang berkembang seperti Indonesia lebih sering ditemukan abses hati amuba. Terapi dengan obat golongan sefalosforin (sefotaksim) dan metronidazol memberi respon yang baik, terlihat dari berkurangnya gejala demam dan nyeri perut dalam dua hari, mengecilnya hati serta tidak terlihat lagi adanya gambaran abses setelah lima hari pemberian antibiotik. Adanya kekambuhan (gambaran abses pada ultrasonografi) setelah pengobatan metronidazol dihentikan, menguatkan dugaan diagnosis abses hati amuba
Perbandingan Efektifitas Sefepim dan Seftazidim dalam Pengobatan Sepsis Neonatorum RM Indra; Julniar M Tasli; Herman Bermawi
Sari Pediatri Vol 9, No 3 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp9.3.2007.213-9

Abstract

Latar belakang. Kuman penyebab sepsis neonatorum makin banyak resisten terhadap seftazidim, yangmerupakan monoterapi pilihan. Sefepim dapat menjadi alternatif atau lini kedua karena spektrum lebihluas dan potensi resistensi lebih rendah.Tujuan. Membandingkan efektifitas sefepim dan seftazidim dalam pengobatan sepsis neonatorum.Metode. Dilakukan uji klinis acak tersamar tunggal terhadap 53 neonatus dengan kemungkinanbesar sepsis. Dibandingkan kesembuhan klinis antara neonatus yang mendapat sefepim dan seftazidimserta sensitivitas in-vitro obat. Analisis terpisah dilakukan terhadap 36 subkelompok subjek biakanpositif.Hasil. Angka kesembuhan kelompok sefepim adalah 84% (21/25), sedangkan pada kelompok seftazidim78,6% (22/28) (p=0,441). Pada subkelompok biakan positif ditemukan proporsi kesembuhan sama,yaitu masing-masing 14 dari 18 (77,8%; p=0,655). Pada uji sensitivitas in-vitro terhadap 36 isolat, yangsensitif terhadap sefepim dan seftazidim masing-masing 69,4% dan 50% (p=0,016).Kesimpulan. Meski pola sensitivitas kuman terhadap sefepim lebih baik, angka kesembuhan klinis tidakberbeda. Sefepim belum dapat direkomendasikan di atas seftazidim dalam pengobatan sepsis neonatorum.
Pernikahan Usia Dini dan Permasalahannya Eddy Fadlyana; Shinta Larasaty
Sari Pediatri Vol 11, No 2 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp11.2.2009.136-41

Abstract

Kasus pernikahan usia dini banyak terjadi di berbagai penjuru dunia dengan berbagai latarbelakang. Telah menjadi perhatian komunitas internasional mengingat risiko yang timbul akibat pernikahan yang dipaksakan, hubungan seksual pada usia dini, kehamilan pada usia muda, dan infeksi penyakit menular seksual. Kemiskinan bukanlah satu-satunya faktor penting yang berperan dalam pernikahan usia dini. Hal lain yang perlu diperhatikan yaitu risiko komplikasi yang terjadi di saat kehamilan dan saat persalinan pada usia muda, sehingga berperan meningkatkan angka kematian ibu dan bayi. Selain itu, pernikahan di usia dini juga dapat menyebabkan gangguan perkembangan kepribadian dan menempatkan anak yang dilahirkan berisiko terhadap kejadian kekerasan dan keterlantaran. Masalah pernikahan usia dini ini merupakan kegagalan dalam perlindungan hak anak. Dengan demikian diharapkan semua pihak termasuk dokter anak, akan meningkatkan kepedulian dalam menghentikan praktek pernikahan usia dini
Patofisiologi Infeksi Bakteri pada Kulit Herry Garna
Sari Pediatri Vol 2, No 4 (2001)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp2.4.2001.205-9

Abstract

Kulit merupakan barier penting untuk mencegah mikroorganisme dan agen perusaklain masuk ke dalam jaringan yang lebih dalam. Kelainan kulit yang terjadi dapat langsungdisebabkan mikroorganisme pada kulit, penyebaran toksin spesifik yang dihasilkanmikroorganisme, atau penyakit sistemik berdasarkan proses imunologik. Sistem imunberkembang dengan fungsi yang khusus dan bekerja di kulit. Sel Langerhans, keratinosit,sel endotel, dendrosit dan sel lainnya semua ikut berperan dalam skin associated lymphoidtissue (SALT). Mediator yang berperan antara lain IL-1, IL-2, IL-3, produk sel mast,limfokin dan sitokin lain yang sebagian besar dihasilkan oleh keratinosit.
Studi Sero epidemiologi pada Antibodi Mumps Anak Sekolah Dasar di Jakarta Hindra Irawan Satari; Nia Kuniati; Corry S Matondang; Zakiudin Munasir; Jose RL Batubara; Mulyadi Mulyadi
Sari Pediatri Vol 6, No 3 (2004)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp6.3.2004.134-7

Abstract

Parotitis merupakan penyakit sistemik pada anak yang sampai saat ini masih seringdijumpai. Mumps merupakan salah satu virus penyebab parotitis yang tersering. Saat inisudah tersedia vaksin yang dapat mencegah parotitis yang disebabkan oleh mumps.Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui sampai sejauh mana vaksinasi mumps diperlukanpada masa kanak-kanak, dengan mengetahui berapa tinggi tingkat perlindungan kekebalanalamiah. Penelitian seksi silang ini dilakukan di salah satu SD di Jakarta Pusat pada muridmuridyang duduk di kelas I dan VI. Setelah dilakukan anamnesis dan pemeriksaan fisis,dilakukan pengambilan sampel darah untuk uji ELISA terhadap IgG spesifik mumps.Data diolah dengan mengunakan program SPSS versi 6. Terkumpul 127 sampel darahdari 69 anak laki-laki dan 58 anak perempuan. Kelompok ini dibagi dua menjadi kelompokI umur 5- 7 tahun, serta kelompok II umur diatas 5-7 tahun. Berdasarkan anamnesisdidapatkan 24 anak dari 2 kelompok pernah menderita parotitis, yang mana terbagi ataskelompok I sebanyak 15 anak (62,5 %) dan 9 anak (37,5%) dari kelompok II. Meskipunsudah diimunisasi MMR masih ada 3 orang dari kelompok I yang dikatakan oleh orangtua tetap menderita parotitis, sehingga diperkirakan daya lindung vaksinasi mumps terhadapanak-anak ini sekitar 85 %. Dari penelitian ini didapatkan pula data anak yang memilikikekebalan alamiah sebanyak 25,6%. Sebagai kesimpulan, vaksinasi mumps memangdiperlukan pada masa kanak-kanak. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menentukansaat yang tepat untuk pemberian suntikan ulangan.
Pola Penyakit dan Karakteristik Pasien Hemato- Onkologi Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Udayana/RS Sanglah Denpasar Periode 2000-2005 Ida Bagus Mudita
Sari Pediatri Vol 9, No 1 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (83.699 KB) | DOI: 10.14238/sp9.1.2007.13-6

Abstract

Latar belakang. Data epidemiologi kasus hematologi onkologi anak di Indonesia belum ada, hal inikarena sistem registrasi dilakukan secara nasional. Data tersebut penting karena selain memberikan gambaransituasi kesehatan juga dapat digunakan bagi peningkatan pelayanan dan penelitian.Tujuan Penelitian. Mengetahui pola penyakit dan karakteristik pasien hemato-onkologi di Bagian/SMFIlmu Kesehatan Anak RS Sanglah.Metode. Penelitian deskriptif, restropektif dari Januari 2000 sampai Desember 2005.Hasil. Didapatkan 215 kasus yang terdiri dari 39 jenis penyakit. Leukemia limfoblastik akut (LLA)merupakan kasus hemato-onkologi terbanyak (23,7%) yang juga merupakan kasus hematologi terbanyak(29,8%), sedangkan retinoblastoma merupakan kasus onkologi terbanyak (38,6%). Terbanyak kasus (48,4%)berusia 1-5 tahun. Didapatkan 8,4% kasus meninggal terutama kasus LLA.Kesimpulan. Leukemia limfoblastik akut dan retinoblastoma merupakan kasus hematologi dan onkologiterbanyak. Usia terbanyak adalah usia 1-5 tahun. Angka kematian sebesar 8,4% terbanyak kasus LLA
Pengetahuan Orangtua Mengenai Obat Puyer di Poliklinik Umum Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM Soepardi Soedibyo; Effie Koesnandar
Sari Pediatri Vol 10, No 6 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp10.6.2009.397-403

Abstract

Latar belakang. Obat puyer telah lazim diterima oleh masyarakat, hal ini tidak terlepas dari kebiasaan dokter yang sering meresepkannya. Peresepan obat puyer mulai banyak dikritisi, bahkan menjadi topik menarik saat diseminarkan. Dalam era evidence based medicine (EBM) saat ini, peresepan obat puyer perlu dikaji kembali sehingga sesuai dengan kaidah praktik peresepan dan pembuatan obat yang baik.Tujuan. Mengetahui bagaimana pengetahuan, sikap dan perilaku orangtua yang datang ke Poliklinik Umum Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM mengenai peresepan obat puyer.Metode. Desain studi deskriptif cross sectional, pengambilan sampel secara konsekutif dilakukan selama bulan Juni 2008, dengan menggunakan kuesioner sederhana yang berisi 10 pertanyaan. Subjek penelitian adalah orangtua pasien yang datang pada periode penelitian dan bersedia mengisi kuesioner penelitian.Hasil. Dari 119 responden, 111 responden (93,3%) diantaranya pernah mendapatkan obat puyer. Sebaran umur, pendidikan, dan pekerjaan responden, berturut-turut didapatkan responden berusia >30-40 tahun (57,1%), pendidikan kategori sedang (59,7%), dan mempunyai status bekerja (65,5%). Sebaran responden lebih banyak pada umur anak antara 1-5 tahun (47,1%), jumlah anak 1-3 orang (85,0%), jumlah obat dalam satu puyer lebih dari satu macam (64,9%), dan obat diperoleh di apotik (59,5%). Responden yang tidak menyukai obat puyer (58,6%), terutama responden, berturut-turut (57,7%), (56,8%), dan (62,2%) menyatakan harga obat, kemanjuran, dan ketepatan dosis obat puyer sama saja dengan obat sirup.Kesimpulan. Hampir semua responden pernah mendapatkan obat puyer. Responden lebih banyak yang menyatakan tidak menyukai obat puyer, serta menilai harga, kemanjuran dan ketepatan dosis obat puyer sama saja dengan obat sirup.
Perkembangan Normal Tidur pada Anak dan Kelainannya Dwi Putro Widodo; Taslim S. Soetomenggolo
Sari Pediatri Vol 2, No 3 (2000)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp2.3.2000.139-45

Abstract

Tidur adalah keadaan fisiologis, merupakan kondisi istirahat reguler dengan karakteristikberkurangnya gerakan tubuh dan penurunan tingkat kesadaran terhadap sekelilingnya.Tidur tidak hanya merupakan sebuah keadaan tidak sadar yang berkepanjangan, adapelbagai tahap yang dilalui sepanjang malam itu, yang masing-masing dapat diidentifikasimelalui aktivitas gelombang listrik otak. Tahapan tidur pada bayi dan anak dapatdikelompokkan menjadi, tidur aktif atau REM (rapid eye movement) dan tidur tenangatau non-REM. Tidur memegang peran yang sangat besar bagi perkembangan bayi.Pada saat inilah terjadi perbaikan sel-sel otak dan kurang lebih 75% hormon tubuhdiproduksi. Tidak ada bayi atau anak yang melewati masa kecilnya tanpa pernahmengalami gangguan tidur sama sekali. Gangguan tidur tidak hanya mempengaruhibayi atau anak tersebut, tetapi juga dapat mempengaruhi seluruh keluarga, bahkanmembawa dampak pada kehidupan bertetangga di sekitarnya.
Terapi Diet pada Autisme Sri Alemina Ginting; Ani Ariani; Tiangsa Sembiring
Sari Pediatri Vol 6, No 1 (2004)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (136.173 KB) | DOI: 10.14238/sp6.1.2004.47-51

Abstract

Autisme merupakan suatu jenis gangguan perkembangan anak yang kompleks dan berat,yang tampak sebelum usia 3 tahun. Insiden kelainan ini akhir - akhir ini meningkat.Penyebab pasti belum diketahui, diduga multifaktor. Terungkap adanya hubungan antaragangguan pencernaan dan gejala autisme. Sekitar 60% penyandang autisme mempunyaisistem pencernaan yang tidak sempurna. Beberapa waktu yang lalu autisme dikatakanmerupakan penyakit yang tidak dapat “disembuhkan”, tetapi saat ini ada beberapa kasusmengalami perbaikan dramatis dengan melakukan terapi diet bebas kasein dan glutein.
Clinical Pathways Kesehatan Anak Dody Firmanda
Sari Pediatri Vol 8, No 3 (2006)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp8.3.2006.195-208

Abstract

Clinical Pathways (CP) sebagai kunci utama untuk masuk ke dalam sistem pembiayaanyang dinamakan DRG-Casemix. Merupakan suatu konsep perencanaan pelayananterpadu yang merangkum setiap langkah yang diberikan kepada pasien berdasarkanstandar pelayanan medis dan asuhan keperawatan yang berbasis bukti dengan hasil yangterukur dan dalam jangka waktu tertentu selama di rumah sakit. Clinical Pathwaysmerupakan salah satu komponen dari Sistem DRG-Casemix yang terdiri dari kodefikasipenyakit dan prosedur tindakan (ICD 10 dan ICD 9-CM) dan perhitungan biaya (baiksecara top down costing atau activity based costing maupun kombinasi keduanya).Implementasi CP sangat erat berhubungan dan berkaitan dengan Clinical Governancedalam rangka menjaga dan meningkatkan mutu pelayanan dengan biaya yang dapatdiestimasikan dan terjangkau. Dalam menyusun Format Clinical Pathways harusdiperhatikan komponen yang harus dicakup sebagaimana definisi dari Clinical Pathways.Manfaatkan data yang telah ada di lapangan rumah sakit dan kondisi setempat sepertidata Laporan RL1 sampai dengan RL6 dan sensus harian.Variabel varians dalam CPdapat digunakan sebagai alat (entry point) untuk melakukan audit medis dan manajemenbaik untuk tingkat pertama maupun kedua (1st party and 2nd party audits) dalam rangkamenjaga dan meningkatkan mutu pelayanan. Variabel tindakan dalam CP dapatdigunakan sebagai alat (entry point) untuk melakukan surveilans Tim PengendalianInfeksi Nosokomial dan selanjutnya untuk menilai Health Impact Intervention. Variabelobat obatan dalam CP dapat digunakan sebagai alat (entry point) untuk melakukankegiatan evaluasi dan monitoring dari 5 Langkah 12 Kegiatan Tim Farmasi dan TerapiKomite Medik RS. Sekaligus secara tidak langsung menggalakkan penggunanan obatsecara rasional dan dapat melihat cermin dari penggunaan obat generik. CP dapatdigunakan sebagai salah satu alat mekanisme evaluasi penilaian risiko untuk mendeteksikesalahan aktif (active errors) dan laten (latent / system errors) maupun nyaris terjadi(near miss) dalam Manajemen Risiko Klinis (Clinical Risk Management) dalam rangkamenjaga dan meningkatkan keamanan dan keselamatan pasien (patient safety). Hasildan revisi CP dapat digunakan juga sebagai alat (entry point) untuk melakukan perbaikandan revisi Standar Pelayanan Medis dan asuhan Keperawatan yang bersifat dinamis danberdasarkan pendekatan Evidence-based Medicine (EBM) dan Evidence-based Nurse(EBN). Partisipasi aktif, komitmen dan konsistensi dari seluruh jajaran direksi,manajemen dan profesi harus dijaga dan dipertahankan demi terlaksana dan suksesnyaprogram Casemix di rumah sakit. Bila Sistem Casemix Rumah Sakit telah berjalan,maka untuk selanjutnya akan lebih mudah untuk masuk ke dalam sistem pembiayaanlebih lanjut yakni Health Resources Group (HRG). Peran profesi organisasi IDAI sangatstrategis dan penting dalam mengembangkan SPM dan Clinical Pathways sebagai acuanpedoman bagi setiap anggota profesi dalam melaksanakan praktik keprofesiannya.

Page 63 of 152 | Total Record : 1519


Filter by Year

2000 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue