cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 1,519 Documents
Displasia Ektodermal Hipohidrotik Eveline PN; Sri Rezeki Hadinegoro; Siti Aisah Boediardja
Sari Pediatri Vol 5, No 3 (2003)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp5.3.2003.131-6

Abstract

Seorang bayi laki-laki berusia 4 bulan menderita displasia ektodermal hipohidrotik (DEH),merupakan kelainan genetik yang sebagian besar diturunkan secara x-linked recessive.Sindrom ini ditandai dengan tidak ada atau berkurangnya kelenjar keringat,hypotrichosis,dan hypodontia. Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala klinis dan dipastikandengan biopsi kulit yang menunjukkan tidak ada atau hipoplasi kelenjar ekskrin danrambut. Trias gambaran klinis utama DEH adalah hipohidrosis atau anhidrosis, hipotrikosisdan andontia total atau partial. Kelainan ini perlu segera ditegakkan untuk menghindarikomplikasi yang berat pada masa bayi dan diperlukan untuk menentukan penangananselanjutnya. Untuk mengetahui pola penurunan genetik pada pasien ini perlu disusunsilsilah penyakit dalam keluarga serta biopsi kulit atau uji starch-iodine pada kedua orangtua pasien sehingga konseling genetik. Pencegahan dapat diberikan secara multidisiplinsangat diperlukan dalam penanganan kasus seperti ini agar mendapatkan prognosis yanglebih baik. Displasia ektodermal hipohidrotik yang disebut juga Christ-Siemens Tourainesyndrome atau displasia ektodermal anhidrotik digambarkan pertama kali pada tahun 1848oleh Thurnam 1,2 dan diikuti pada abad-19 oleh Darwin.2 Pada tahun 1921, Thadanimenetapkan DEH sebagai suatu kelainan x-linked dan kemudian melaporkan bahwaperempuan pembawa gen mutan menampakkan gejala yang bervariasi dari kondisitersebut.1,2Angka kejadian DEH diperkirakan 1 per 100.000 kelahiran hidup,2,5 lebih 90% terjadi padaanak laki-laki.2 Di Indonesia dilaporkan 2 kasus pada tahun 2000-2002,6 salah satu kasusberobat di Subbagian Kulit Anak Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin FKUI-RSCM.
Gambaran Darah Lengkap dan Profil Lipid pada Anak Sekolah Dasar dengan Obesitas di Denpasar Ida Bagus Mudita
Sari Pediatri Vol 8, No 4 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp8.4.2007.322-6

Abstract

Latar belakang. Prevalensi obesitas meningkat baik di negara maju maupun negaraberkembang. Di Indonesia, prevalensi obesitas menunjukkan peningkatan baik diperkotaan maupun di pedesaan. Keadaan obesitas ini merupakan kondisi tubuh yangakan berdampak buruk pada kesehatan selanjutnya dan keadaan ini meningkatkan risikopenyakit kardiovaskular. Dislipidemi adalah kondisi yang mengikuti keadaan obesitasdengan terjadinya gangguan metabolisme lipid yang ditandai dengan perubahan absorbsilipid plasma.Tujuan. Mengetahui gambaran darah tepi dan profil lipid pada anak sekolah dasardengan obesitas di Denpasar, Bali.Metoda. Penelitian ini menggunakan rancangan potong lintang. Pemilihan sampeldengan menggunakan teknik cluster random sampling yang dilakukan di 6 SekolahDasar yang dipilih secara random di Denpasar mulai Agustus sampai dengan Desember2004. Pengukuran darah dan profil lipid dilakukan satu kali pada anak sekolah dasardengan obesitas. Dikatakan obesitas bila indeks masa tubuh ³ persentil ke-95, dislipidemiabila kadar total kolesterol ³170 mg.dl dan/atau kadar LDL kolesterol ³110 mg/dl dan/atau kadar HDL kolesterol ³200 mg/dl, dan anemia bila kadar haemoglobin < 12 g/dlHasil. Didapatkan 140 (11,7%) anak obes, dari 1200 anak sekolah dasar. Prevalensidislipidemia berdasarkan salah satu dan/atau lebih indikator lipid serum didapatkan84,7%. Dislipidemi oleh karena peningkatan kolesterol total 60,6%, trigliserida 24,5%,LDL-kolesterol 47,9% dan HDL-kolesterol 73,4%. Tidak didapat adanya anemia padasemua subyek.Kesimpulan. Didapatkan prevalensi obesitas 11,7%, dislipidemia 84,7%, dan tidakdidapatkan anemia.
Hubungan Kadar Seng (Zn) dan Memori Jangka Pendek pada Anak Sekolah Dasar Frans J. Huwae; Tjipta Bahtera; Hastaning Sakti
Sari Pediatri Vol 10, No 2 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp10.2.2008.106-9

Abstract

Latar belakang. Seng (Zn) berperan dalam proses regulasi pelepasan neurotransmitter, termasuk mekanisme N- methyl D aspartat (NMDA) yang akan membentuk memori.Tujuan. Untuk mengetahui hubungan kadar seng dengan memori jangka pendek pada anak kelas 1 sekolah dasar.Metode. Penelitian observasional eksploratif analitik terhadap murid kelas satu Sekolah Dasar di Kecamatan Tegowanu, Kabupaten Purwodadi, dipilih secara acak pada bulan Juli 2004. Kriteria eksklusi apabila dijumpai anak dengan riwayat kelainan kongenital, menderita epilepsi, kelainan pada salah satu indra, gangguan fungsi motorik pada ekstremitas atas, mendapat pengobatan fenobarbital dan phenytoin jangka panjang, sedang batuk, pilek, atau panas. Sampel diambil dari rambut untuk pemeriksaan seng (Zn) di Laboratorium Pusat Studi Pangan dan Gizi Universitas Gadjah Mada Jogjakarta, kadar Hb, feritin, dan kalsium plasma diperiksa di Laboratorium GAKY RS Dr. Kariadi, Semarang. Pemeriksaan memori menggunakan digit span forward, digit span backward, dan picture search.Hasil. Subjek penelitian adalah 111 anak kelas satu sekolah dasar terdiri 70 anak laki-laki (63,1%) dan 41 anak perempuan (36,9%). Terdapat hubungan sangat bermakna derajat kuat antara seng rambut dengan skor digit-span forward (p=0,002), backward (p=0,001), dan skor picture search (p=0,003). Kadar seng, Hb, dan ferritin plasma secara bersama-sama mempengaruhi memori jangka pendek sebesar 38–54%.Kesimpulan. Terdapat hubungan bermakna antara kadar seng (Zn) dengan memori jangka pendek pada anak sekolah dasar. 
Risiko Gangguan Perkembangan Neurologis antara Bayi Kurang Bulan Lanjut dan Bayi Cukup Bulan Sesuai Usia Kehamilan Ike Dwi Wahyuni; Nelly Amalia Risan; Dwi Prasetyo
Sari Pediatri Vol 17, No 3 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.316 KB) | DOI: 10.14238/sp17.3.2015.190-4

Abstract

Latar belakang. Bayi kurang bulan lanjut mempunyai fisiologis, metabolik, dan imunologi imatur, serta merupakan periodetercepat pertumbuhan dan perkembangan otak. Pada awal kehidupan, BKBL rentan mengalami komplikasi dan mempunyairisiko gangguan perkembangan neurologis (GPN).Tujuan. Menentukan risiko GPN antara BKBL dan BCB sesuai usia kehamilan pada usia 3–6 bulan.Metode. Penelitian dilaksanakan periode Oktober–Desember 2014 di RS Dr. Hasan Sadikin Bandung. Subjek penelitian adalahbayi BKBL usia 3–6 bulan dengan BCB sebagai kontrol yang memenuhi kriteria inklusi. Risiko GPN diperiksa menggunakanBayley infant neurodevelopmental screener (BINS) dan dianalisis menggunakan uji chi-square dan rasio odds.Hasil. Terdapat 36 BKBL dan 36 BCB, dengan usia rerata 5,58 bulan pada BKBL dan 5,26 pada BCB. Perawakan pendek lebihbanyak pada BKBL dibanding BCB. Sebagian besar subjek pada kedua kelompok tidak mendapatkan ASI eksklusif. Pendidikanterbanyak orangtua adalah SMP dan SMA dengan sebagian besar orangtua bekerja, tetapi mempunyai pendapatan/bulan yangrendah. Risiko GPN pada kelompok BKBL 22 dan BCB 10 bayi (p=0,004) dengan kekuatan hubungan risiko GPN pada BKBL4,086 kali dibanding dengan BCB (RO=4,086; IK95%:1,518–11,000).Kesimpulan. Bayi kurang bulan lanjut sesuai usia kehamilan dan sesuai usia koreksi mempunyai risiko gangguan perkembanganneurologis 4,086 kali lebih besar dibanding dengan bayi cukup bulan.
Diare Akibat Infeksi Parasit Herbowo Herbowo; Agus Firmansyah
Sari Pediatri Vol 4, No 4 (2003)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp4.4.2003.198-203

Abstract

Diare sebagai salah satu penyakit yang masih sering terjadi di Indonesia dapat disebabkanoleh berbagai hal. Salah satu penyebab yang sering luput dari perhatian kita adalah diareakibat infeksi parasit. Indonesia sebagai negara berkembang dan negara tropisdiperkirakan memiliki angka kejadian infeksi parasit yang cukup tinggi. Tidak semuaparasit dapat menyebabkan diare. Pengetahuan mengenai jenis parasit yang dapatmenyebabkan diare beserta gejala klinisnya diperlukan dalam tata laksana optimal diareakibat infeksi parasit.
Hubungan antara Kadar Timbal Udara dengan Kadar Timbal Darah Serta Dampaknya pada Anak Anna F. Wagiu; F. H. Wulur
Sari Pediatri Vol 8, No 3 (2006)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (105.209 KB) | DOI: 10.14238/sp8.3.2006.238-43

Abstract

Latar belakang. Pencemaran timbal (Pb) di udara masih menjadi masalah pediatrisosial. Keracunan kronis pada anak akan berdampak pada gangguan fisik dan mental.Tujuan. Untuk mengetahui tingkat pencemaran timbal di udara serta dampak kesehatanyang ditimbulkan pada anak di Kota manado.Bahan dan cara. Analitik observasional potong lintang dilakukan antara bulan Meisampai Juli 2005. Sampel, anak yang berusia 6-13 tahun bermukim di Pusat Kota Pasar45 dan di Tingkulu sebagai kontrol. Kadar timbal udara diukur menggunakan highvolume sampler dianalisis dengan metode atomic absorption spectrophotometer (AAS),kadar timbal darah dengan metode AAS dan kadar hemoglobin dengan metodeSianmethemoglobin.Hasil. Subyek terdiri 75 orang anak yaitu 40 subyek kelompok Pasar 45 dan 35 subyekkontrol. Terbanyak pada kelompok Pasar 45 perempuan 28(58,3%) dan kontrol 20(41,7%) perempuan. Kadar timbal di udara lokasi Pasar 45 adalah 0,799 ìg/m3 dankontrol 0,237 ìg/m3. Pada lokasi Pasar 45 kadar timbal darah antara 10 – 19 ìg/dLterdapat pada satu anak (2,5%) dan >0-10 ìg/dL pada 39 anak (97,5%) sedangkan kontrol(100%) <0,2 ìg/dL. Tidak terdapat hubungan kadar timbal udara dengan kadar timbaldarah anak di Pasar 45 dan kontrol (p=0,346). Terdapat hubungan yang bermaknaantara kadar Hb dengan kadar timbal darah anak di Pasar 45 (p=0,016). Tidak didapatkanhubungan bermakna antara hitung retikulosit dengan kadar timbal darah anak di Pasar45 (p=0,812).Kesimpulan. Kadar timbal udara di Pasar 45 tidak melebihi ambang baku mutu. Tidakterdapat hubungan kadar timbal udara dengan kadar timbal darah di Pasar 45. Terdapathubungan bermakna antara kadar Hb dengan kadar timbal darah anak di Pasar 45.Walaupun masih dalam derajat ringan telah terjadi peningkatan kadar timbal darahpada anak yang tinggal di pasar 45.
Profil Mikroorganisme Penyebab Sepsis Neonatorum di Departemen Ilmu Kesehatan Anak Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta Anita Juniatiningsih; Asril Aminullah; Agus Firmansyah
Sari Pediatri Vol 10, No 1 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (141.856 KB) | DOI: 10.14238/sp10.1.2008.60-5

Abstract

Latar belakang. Angka morbiditas dan mortalitas sepsis neonatorum (SN) masih tinggi. Pemberian antibiotiksesuai dengan hasil kultur diperlukan untuk mencegah resistensi kuman terhadap antibiotik.Tujuan. Mengetahui profil mikroorganisme penyebab SN serta sensitivitasnya terhadap antibiotik diDepartemen Ilmu Kesehatan Anak Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (IKA-RSCM) JakartaMetode. Studi potong lintang, dilakukan di ruang rawat Divisi Perinatologi Departemen IKA, pada Desember2006 - Juli 2007, pada neonatus tersangka sepsis untuk pertama kalinya, belum pernah mendapat antibiotiksebelumnya, tidak terdapat kelainan kongenital mayor dan mendapat persetujuan dari orang tua.Hasil. Terdapat 334 kasus tersangka SN, 102 kasus di antaranya memenuhi kriteria inklusi dan dapatdianalisis. Empat puluh dua kasus (41,2%) memiliki biakan darah positif. Mikroorganisme penyebab SNterbanyak adalah bakteri gram negatif seperti Acinetobacter calcoaceticus, Enterobacter aerogenes, Pseudomonassp dan Eschericia coli. Bakteri gram negatif mempunyai sensitivitas yang rendah terhadap antibiotik linipertama dan kedua, kecuali Enterobacter aerogenes yang masih sensitif terhadap gentamisin dan Pseudomonasyang masih sensitif terhadap seftazidim. Sensitivitas bakteri gram positif dan negatif umumnya masih sangatbaik terhadap meropenem. Sensitivitas bakteri gram negatif cukup baik terhadap imipenem namun bakterigram positif kurang sensitif terhadap imipenem.Kesimpulan. Etiologi SN umumnya adalah bakteri gram negatif dengan isolat terbanyak Acinetobactercalcoaceticus. Umumnya bakteri gram negatif mempunyai sensitivitas yang rendah terhadap antibiotik linipertama dan kedua, kecuali Enterobacter aerogenes yang masih sensitif terhadap gentamisin dan Pseudomonasterhadap seftazidim.
Hubungan Acute Kidney Injury dan Skor Pelod pada Pasien Penyakit Kritis Risa Vera; Silvia Triratna; Dahler Bahrun; Theodorus Theodorus
Sari Pediatri Vol 15, No 3 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp15.3.2013.181-5

Abstract

Latar belakang. Insiden dan mortalitas acute kidney injury (AKI) pada pasien penyakit kritis cukup tinggi, diperlukan penilaian secara objektif menggunakan skor prognostik dalam menentukan prognosis pasien yang disertai AKI.Tujuan. Mengetahui hubungan antara AKI dan skor PELOD pada pasien penyakit kritis.Metode. Penelitian dilakukan di UPIA RS Moh. Hoesin Palembang selama bulan November 2011-Maret 2012, sampel dipilih secara konsekutif. Hubungan antara AKI dan skor PELOD dianalisis dengan uji Kai Kuadrat, Fisher, dan Mann-Whitney. Kesintasan dianalisis dengan uji Kaplan Meier.Hasil. Subjek penelitian terdiri dari 113 anak, prevalensi AKI sebesar 60,2%, AKI risk 41,2%, injury 25%, dan failure 33,8%. Prevalensi kematian pasien AKI 57,4%, risk 39,3%, injury 47,1%, failure 87%. Skor PELOD lebih tinggi pada pasien AKI (19,7±1,62 vs 6,8±1,31). Analisis korelasi dan regresi antara kadar kreatinin serum dan skor PELOD didapatkan r=0,518 dan r2=0,256.Kesimpulan. Acute kidney injury dan skor PELOD memiliki hubungan positif, dan kontribusi AKI terhadap variasi skor PELOD 25,6% menjelaskan bahwa pasien penyakit kritis dengan skor PELOD rendah akan tetap memiliki prognosis yang buruk jika pasien tersebut mengalami AKI.
Diagnosis, Pengobatan dan Pencegahan Anemia Defisiensi Besi Maria Abdulsalam; Albert Daniel
Sari Pediatri Vol 4, No 2 (2002)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp4.2.2002.74-7

Abstract

Anemia defisiensi besi (ADB) masih merupakan suatu masalah kesehatan di Indonesia.Hasil survai rumah tangga tahun 1995 ditemukan 40,5% anak balita dan 47,2% anakusia sekolah menderita ADB. Anemia defisiensi besi dapat menyebabkan terjadinyaberbagai komplikasi antara lain berupa gangguan fungsi kognitif, penurunan daya tahantubuh, tumbuh kembang yang terlambat, penurunan aktivitas, dan perubahan tingkahlaku. Oleh karena itu masalah ini memerlukan cara penanganan dan pencegahan yangtepat. Diagnosis ditegakkan berdasarkan adanya gejala pucat menahun tanpa disertaiperdarahan maupun organomali. Pemeriksaan darah tepi menunjukkan anemia mikrositerhipokrom, sedangkan jumlah leukosit, trombosit dan hitung jenis normal. Diagnosisdipastikan dengan pemeriksaan kadar besi dalam serum. Pemberian preparat besi secaraselama 3-5 bulan ditujukan untuk mengembalikan kadar hemoglobin dan persediaanbesi di dalam tubuh ke keadaan normal. Mencari dan mengatasi penyebab merupakanhal yang penting untuk mencegah kekambuhan. Antisipasi harus di lakukan sejak pasiendalam stadium I (stadium deplesi besi) dan stadium II (stadium kekurangan besi).Dianjurkan pula untuk memberikan preparat besi pada individu dengan risiko tinggiuntuk terjadinya ADB antara lain untuk individu dari keluarga dengan sosial ekonomirendah.
Profil Parameter Hematologik dan Anemia Defisiensi Zat Besi Bayi Berumur 0-6 Bulan di RSUD Banjarbaru Ringoringo HP; Endang Windiastuti
Sari Pediatri Vol 7, No 4 (2006)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp7.4.2006.214-8

Abstract

Latar belakang. Anemia defisiensi besi (Fe) masih merupakan salah satu masalah utama didunia, terutama di negara-negara berkembang. Prevalensi anemia yang tinggi akan berdampakterhadap tumbuh kembang anak. Diperkirakan 20%-25% bayi di dunia menderita anemiadefisiensi besi, data Survei Kesehatan Rumah Tangga di Indonesia tahun 1995 menunjukkanbahwa 50% wanita hamil dan 40,5% balita menderita anemia defisiensi Fe.Tujuan. Untuk mengetahui profil parameter hematologik dan prevalens anemia defisiensiFe pada bayi berusia 0-6 bulan di RSUD Banjarbaru Kalimantan Selatan.Metoda. Sampel penelitian ini adalah semua bayi yang lahir di RSUD Banjarbaru danbayi datang untuk diimunisasi di Poliklinik Imunisasi RSUD Banjarbaru, berumur 0-6bulan, sejak tanggal Juli 2005 sampai dengan September 2005. Definisi anemia defisiensiFe apabila kadar Hb < 11 g/dl disertai 1 atau 2 kriteria ini terpenuhi, yaitu RDW = 15% atau index Mentzer >13.Hasil. Jumlah bayi yang memenuhi kriteria inklusi terdapat 104 bayi terdiri dari 53 bayilaki-laki (51%) dan 51 bayi perempuan (49%) dengan rentang umur 1 hari sampai dengan6 bulan. Semua bayi lahir cukup bulan dengan berat lahir rata-rata 3150 gram ± 486,7 gram.Profil parameter hematologik menunjukkan nilai normal, kecuali Hb dan MCHC. Prevalensanemia defisiensi Fe terdapat pada 38,5% bayi. Faktor risiko berat lahir dan jenis kelaminuntuk terjadinya anemia defisiensi Fe pada penelitian ini tidak bermakna (p>0,05).Kesimpulan. Profil hematologik menunjukkan nilai normal kecuali Hb dan MCHCdan prevalens anemia defisiensi Fe adalah 38,5%.

Page 64 of 152 | Total Record : 1519


Filter by Year

2000 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue