cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 1,519 Documents
Pola Menonton Televisi dan Pengaruhnya Terhadap Anak Terapul Tarigan; Nancy Ervani; Syamsidah Lubis
Sari Pediatri Vol 9, No 1 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (131.352 KB) | DOI: 10.14238/sp9.1.2007.44-7

Abstract

Latar belakang. Beberapa penelitian menyatakan bahwa menonton televisi telah menciptakan berbagaipenyakit sosial termasuk membuat pelajar menjadi pasif yang sulit untuk berkonsentrasi dalam belajaryang akan menyebabkan menurunnya nilai ujian serta menyebabkan aktifitas yang kurang yang dapatmenyebabkan obesitas.1,3Tujuan Penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola menonton pada anak dan pengaruhnyaterhadap pendidikan serta pola makan.Metode. Penelitian deskriptif analitik yang bersifat cross-sectional. Penilaian dilakukan dengan pengisiankuesioner pada 100 ibu, yang dilakukan di TK Ahmad Yani, Binjai. Sumatera Utara pada bulan Maret2006.Hasil. Umur ibu yang ikut dalam penelitian terbanyak usia 31-40 tahun (65%). Pendidikan terbanyakdari para ibu responden adalah tamatan SMU(49%), rata-rata ibu tidak bekerja (59%). Usia anak pertamakali menonton televisi 38 (38%) terbanyak pada usia 3-5 tahun, lama menonton televisi perhari 1-2 jamsebanyak 56 (56%) dan acara yang paling disenangi oleh anak adalah kartun 77 (77%). Namun tidakmemperlihatkan hubungan yang signifikan antara lama menonton televisi, usia pertama kali anak menonton,acara yang disenangi terhadap pendidikan, dan pola makan anak.Kesimpulan. Menonton televisi mempunyai pengaruh terhadap belajar anak dan pola makan dari anaktetapi tidak bermakna secara statistik. Diperlukan penelitian lanjutan untuk menilai pengaruh televisiterhadap perilaku anak pada usia berikutnya
Pengalaman Klinik Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Tingkat V di Departemen Ilmu Kesehatan Anak Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta Irene Irene; Soepardi Soedibyo; Hindra I. Satari
Sari Pediatri Vol 10, No 5 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp10.5.2009.285-91

Abstract

Latar belakang. Evaluasi yang berkesinambungan mengenai komponen-komponen dalam proses pembelajarandi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) mutlak dibutuhkan, yang berguna untukmelakukan perbaikan dan pengembangan yang dianggap perlu.Tujuan. Membahas tentang paparan mahasiswa FKUI klinik terhadap kasus dan prosedur inti bidangpediatri selama menjalani rotasi di Departemen Ilmu Kesehatan Anak (IKA), serta mengetahui persepsimereka mengenai peran supervisor.Metode. Penelitian merupakan survei, deskriptif, potong lintang pada mahasiswa FKUI tingkat V tahunajaran 2007–2008, yang telah melalui rotasi kepaniteraan IKA.Hasil. Lebih 50% dari 160 mahasiswa pernah menghadapi 10 dari 55 kasus yang terdapat dalam daftarkasus inti secara mandiri dan atau bersama-sama setidaknya satu kali. Lebih dari 50% mahasiswa pernahmelakukan 7 dari 17 prosedur inti secara mandiri dan atau asistensi setidaknya satu kali. Lebih dari 50%mahasiswa setuju dengan cara mengajar supervisor, dan menilai bahwa hubungan supervisor dengan mahasiswaadalah baik.Kesimpulan. Paparan mahasiswa terhadap kasus dan prosedur inti bidang pediatri masih rendah. Rataratamahasiswa setuju dengan cara mengajar supervisor, dan menilai bahwa hubungan supervisor denganmahasiswa adalah baik.
Demam pada Anak Ismoedijanto Ismoedijanto
Sari Pediatri Vol 2, No 2 (2000)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp2.2.2000.103-8

Abstract

Demam pada anak merupakan salah satu masalah yang masih relevan untuk para praktisipediatri. Demam merupakan tanda adanya kenaikan set-point di hipotalamus akibatinfeksi atau adanya ketidakseimbangan antara produksi dan pengeluaran panas.Sebaliknya tidak semua anak yang terkena infeksi akan menunjukkan gejala demam,semakin muda umurnya, semakin tidak jelas gambaran klinisnya. Tindakan pada anakdengan demam diawali dengan pertimbangan apakah ada kegawatan, apa penyebabnyadan apakah demam perlu segera diturunkan. Agar tindakan tersebut tepat dan terarah,diperlukan suatu pengelompokan / klasifikasi pasien agar dapat digunakan suatu algoritmaumum. Pada tiap kelompok tetap ada kriteria kegawatan, kriteria jenis infeksi yangmengarah kepada tindakan yang diambil, terutama perawatan dan pemberian antibiotiksecara empirik. Tindakan yang dilaksanakan sebaiknya bukan tindakan yang sifatnyasesaat, tetapi merupakan tindakan yang berkesinambungan, sampai pasien lepas darimasalahnya. Keputusan untuk dirawat harus dilanjutkan dengan pemeriksaanlaboratorium dan pemberian antibiotik empirik. Tindakan lanjutan akan disesuaikandengan hasil pemeriksaan penunjang, respons pasien terhadap pengobatan sampaimasalahnya selesai dengan tuntas.
Pemakaian Ventilator Frekuensi Tinggi pada Bayi Asfiksia Berat Isra Firmansyah; Munar Lubis
Sari Pediatri Vol 5, No 4 (2004)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp5.4.2004.155-9

Abstract

Asfiksia berat merupakan keadaan gawat darurat bayi baru lahir yang membutuhkanbantuan ventilasi mekanik segera. Ventilator merupakan alat bantu pernapasan yangdapat digunakan untuk memperbaiki ventilasi alveolar, pembuangan CO2, sertaoksigenasi jaringan yang adekuat. Jenis ventilator mekanik yang sering digunakan, yaituventilator mekanik konvensional dan ventilator frekuensi tinggi. Ventilator mekanikkonvensional mulai ditinggalkan karena efek samping yang ditimbulkannya. Kini telahdikembangkan penggunaan ventilator frekuensi tinggi dengan risiko barotrauma yanglebih rendah karena tekanan, volume dan frekuensi oksigen yang diberikan dapat diatur.Pada makalah ini dibahas pemakaian ventilator frekuensi tinggi pada bayi asfiksia berat.
Insidens dan Faktor Risiko Hipotermia Akibat Memandikan pada Bayi Baru Lahir Cukup Bulan Irma Rochima Puspita; Rulina Suradi; Zakiudin Munasir
Sari Pediatri Vol 8, No 4 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp8.4.2007.258-64

Abstract

Latar belakang. Mandi merupakan salah satu paparan dingin pada bayi baru lahiryang dapat menyebabkan hipotermia. Data mengenai insidens dan faktor risikohipotermia akibat memandikan bayi baru lahir di Puskesmas atau di rumah bersalinsampai saat ini belum ada. Hasil pengamatan awal yang dilakukan di sebuah Puskesmasdan sebuah rumah bersalin swasta didapatkan sebesar 50% bayi baru lahir mengalamihipotermia sesudah mandi.Tujuan Penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui insidens dan faktorrisiko hipotermia akibat memandikan pada bayi baru lahir cukup bulan setelahmendapatkan penyuluhan tentang hipotermia.Metoda. Penelitian ini adalah studi kohort prospektif pada bayi baru lahir cukup bulandan sehat yang dimandikan saat usia lebih dari 6 jam. Bayi dimandikan dengan caraseluruh tubuh bayi dibasahi dengan air hangat dan dibersihkan dengan sabun bayi,kemudian seluruh tubuh bayi dimasukkan ke dalam bak mandi. Suhu aksila tubuh diukurdengan termometer digital. Suhu ruangan diukur dengan termometer digital, suhu airmandi diukur dengan termometer air raksa dan lama mandi diukur dengan stopwatch.Sebelum penelitian berlangsung, kepada petugas kesehatan setempat telah diberikanpenyuluhan mengenai hipotermia dan persiapan mandi yang baik.Hasil. Subyek penelitian adalah 100 bayi terdiri dari 53 bayi lahir di Puskesmas dan 47 bayilahir di RB swasta. Insidens hipotermia di Puskesmas lebih tinggi yaitu sebesar 49%dibandingkan dengan insidens di RB swasta sebesar 25,5% (RR 1,79; IK 95% 1,07; 3,00, p= 0,016). Insidens hipotermia pada bayi yang dimandikan pagi hari lebih sering (44%)dibandingkan dengan yang dimandikan sore hari (28%), namun secara statistik tidakbermakna (RR = 1,57; IK 95% = 0,88;2,79, p = 0,107). Faktor risiko hipotermia adalahsuhu aksila segera sebelum mandi (r = 0,73, p = 0,000) dan suhu air mandi (r = 0,73, p =0,008). Suhu aksila segera sebelum mandi dan suhu air mandi yang aman untuk memandikanbayi baru lahir berusia lebih dari 6 jam adalah berturut-turut 37,25°C dan 35°C.Kesimpulan. Terjadi penurunan insidens hipotermia setelah mendapatkan penyuluhan tentangpersiapan mandi yang baik, dari 50% pada awal pengamatan menjadi sebesar 49% di Puskesmasdan 25,5% di rumah bersalin swasta. Faktor risiko yang berkorelasi dengan hipotermia akibatmemandikan bayi cukup bulan lebih dari 6 jam sesudah lahir adalah suhu aksila segera sebelummandi dan suhu air mandi. Suhu aksila segera sebelum mandi dan suhu air mandi yang amanuntuk mencegah hipotermia adalah berturut-turut masing-masing 37,25°C dan 35°C.
Gambaran Klinis dan Radiologis pada Pasien dengan Uji Mantoux Positif di Bangsal Rawat Inap Anak RSUD Tangerang Haridini Intan S. Mahdi; Darmawan B. Setyanto; Evita B. Ifran
Sari Pediatri Vol 10, No 4 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp10.4.2008.250-4

Abstract

Latar belakang. Tuberkulosis pada anak mempunyai permasalahan yang berbeda dengan orang dewasa karena terdapat berbagai permasalahan dalam diagnosis, pengobatan, dan pencegahan. Pemeriksaan penunjang yang dilakukan untuk menegakkan diagnosis tuberkulosis adalah dengan uji tuberkulin, pemeriksaan radiologis, serologi, darah tepi, dan histopatologik.Tujuan. Mengetahui gambaran klinis dan radiologis anak dengan uji Mantoux positif.Metode. Studi deskriptif di ruang rawat inap anak RSUD Tangerang selama Juni-September 2007.Hasil. Penelitian ini mendapatkan 59 pasien dengan uji Mantoux positif dari 150 pasien yang dilakukan uji Mantoux. Gambaran radiologis dada AP/lateral sebagai berikut: 40 limfadenopati, 25 kelainan parenkim, 14 penebalan pleura, 5 efusi pleura, kavitas dan kalsifikasi masing-masing 1 kasus. Gejala sistemik berupa demam tidak tinggi dan lebih dari 2 minggu didapatkan pada 19 dari 59 anak, malaise (47 dari 59 anak), berat badan turun/sulit naik (53 dari 59 anak), anoreksia (51 dari 59 anak). Batuk lebih dari 2 minggu (20 dari 59 anak) kemungkinan karena tuberkulosis, sedang sesak napas (14 dari 59). Pembesaran kelenjar getah bening merupakan gejala yang tidak khas pada tuberkulosis anak (6 dari 59 anak).Kesimpulan. Indeks tuberkulin pada penelitian ini adalah 59 dari 150 pasien (40%), gambaran radiologis anak dengan uji Mantoux positif bervariasi, sedangkan gejala klinis dapat overlap dengan penyakit primer yang sedang diderita subjek.
Uji Coba Vaksin Dengue Rekombinan pada Hewan Coba Mencit,Tikus, Kelinci dan Monyet Soegeng Soegijanto; Fedik A Rantam; Soetjipto Soetjipto; Ketut Sudiana; Yoes Priyatna
Sari Pediatri Vol 5, No 2 (2003)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1079.895 KB) | DOI: 10.14238/sp5.2.2003.64-71

Abstract

Pencegahan terhadap infeksi dengue dengan cara vaksinasi perlu dikembangkan; olehkarena secara epidemiologi infeksi virus dengue telah menyebar ke daratan Asia, Afrika,Amerika dan Eropa. Pendekatan pencegahan dan pemberantasan dengan melakukanpemberantasan vektor tidaklah cukup untuk menekan angka kesakitan. Pengembanganvaksin dengan menggunakan protein E dapat menginduksi produksi antibodi terhadapsemua strain (galur) virus dengue.Tujuan penelitian menentukan daya proteksi antibodi yang dipacu oleh calon vaksinpada hewan percobaan (mencit, tikus, kelinci dan monyet).Metode penelitian Isolasi virus dari pasien DBD di RS Dr. Sutomo Surabaya dan isolatstandar dari NAMRU-2 Jakarta. Dilakukan purifikasi isolat virus dengue dan purifikasiprotein E rekombinan. Selanjutnya dilakukan imunisasi pada binatang percobaan dandinilai respon imunnya.Hasil penelitian karakterisasi dan identifikasi imunoglobulin dari mencit yang diimunisasidengan protein E selain IgM, IgG ditentukan subklas IgG1a, IgG2a, IgG2b. Protein Epada hewan percobaan dapat menginduksi antibodi humoral dengan berbagai kelasimunoglobulin maupun subkelasnya dan antibodi seluler yang protektif. Analisis hasilrespon imun pada CD 4 dan CD 8 yang di isolasi dari hewan percobaan yang telahdiimunisasi, direuksikan dengan IFN-¶ ternyata menunjukkan adanya perbedaan responimun yang berbeda. Pada challenge test hanya monyet yang memberikan respons patologisyaitu terlihat adanya perdarahan pada hari ke tiga setelah infeksi. Protein E yangdiimunisasikan pada monyet dapat menginduksi antibodi humoral dengan titer cukuptinggi terutama imunoglobulin G.
Tingkat Kepuasan Orangtua Pasien di Pediatri Rawat Jalan Departemen Ilmu Kesehatan Anak Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta James L. Alvin Sinaga; Soepardi Soedibyo; Harry S. Purwanto; Aman B. Pulungan
Sari Pediatri Vol 8, No 2 (2006)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp8.2.2006.135-41

Abstract

Latar belakang. Sejak tahun 2000 hingga kuartal I tahun 2005 angka kunjunganpasien rawat jalan mengalami penurunan secara gradual di Unit Rawat Jalan DepartemenIlmu Kesehatan Anak Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Cipto Mangunkusumo (URJDepartemen IKA RSUP CM) Jakarta. Kecenderungan penurunan angka kunjunganpasien merupakan indikator bagi pengelola untuk meninjau kembali strategi pelayanandi Pediatri Rawat Jalan.Tujuan Penelitian. Meneliti tingkat kepuasan orangtua pasien yang membawa anaknyaberobat jalan di URJ Departemen IKA RSCM.Metoda penelitian. Studi survai deskriptif dengan metode potong lintang (crosssectional) dilakukan di URJ Departemen IKA RSCM dalam kurun waktu Agustus –Nopember 2005. Pengumpulan data primer menggunakan kuesioner yang terstrukturberisi 30 pertanyaan.Hasil penelitian. Dari 144 orang tua pasien, enam puluh dua persen orangtua pasienmerasa puas terhadap kualitas pelayanan, skor kepuasan total terhadap dimensi kualitaspelayanan 3,55 (puas). Bukti fisik (tangibility) memberi skor kepuasan tertinggisedangkan kehandalan pelayanan (reliability) memberi skor kepuasan terendah bagiorangtua pasien.Kesimpulan. Kualitas pelayanan di URJ Departemen IKA RSCM memuaskan (skor3,55) dan persentase orangtua pasien yang puas 62%.
Karakteristik Tumbuh Kembang Anak di Tempat Penitipan Anak Werdhi Kumara 1, Kodya Denpasar I Nyoman Budi Hartawan; I G A Trisna Windiani,; Soetjiningsih Soetjiningsih
Sari Pediatri Vol 10, No 2 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (193.167 KB) | DOI: 10.14238/sp10.2.2008.134-8

Abstract

Latar belakang. Skrining pertumbuhan dan perkembangan terhadap seluruh anak untuk mengidentifikasi gangguan pertumbuhan dan keterlambatan perkembangan harus dilaksanakan secara rutin. Skrining tidak harus dilaksanakan di tempat pelayanan kesehatan, namun dapat dilaksanakan dimana saja seperti di tempat penitipan anak (TPA).Tujuan. Untuk mengetahui angka kejadian gangguan pertumbuhan dan dugaan keterlambatan perkembangan.Metode. Desain penelitian potong lintang di TPA Werdhi Kumara 1 Kodya Denpasar pada September 2007. Subjek penelitian adalah anak sehat yang berusia kurang atau sama dengan 6 tahun. Skrining pertumbuhan dengan menentukan status gizi berdasarkan indek massa tubuh dan berat badan terhadap tinggi badan sedangkan skrining perkembangan menggunakan Denver II.Hasil. Tujuh puluh sembilan subjek ikut dalam penelitian. Karakteristik subjek adalah overweight dan underweight pada anak di atas atau sama dengan 2 tahun masing-masing 14,5% dan 16,1%, sedangkan 29% subjek di bawah usia 2 tahun dikategorikan underweight. Proporsi perawakan pendek 8,9% dan kelompok tersangka keterlambatan perkembangan 13,9%. Pendidikan ayah maupun ibu tidak signifikan mempengaruhi hasil skrining Denver II (p=0,25 dan 0,37), Juga tidak berbeda bermakna antara anak perempuan dibandingkan dengan anak laki-laki (p=0,06).Kesimpulan. Gangguan pertumbuhan dan suspek keterlambatan perkembangan ditemukan di TPA Werdhi Kumara 1, Kodya Denpasar
Faktor yang Memengaruhi Kadar NT-proBNP pada Anak dengan PJB Pirau Kiri ke Kanan yang Mengalami Gagal Jantung Domiko Widyanto; Agus Priyatno; Moedrik Tamam
Sari Pediatri Vol 17, No 3 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp17.3.2015.216-21

Abstract

Latar belakang. Amino terminal pro-brain natriuretic peptide (NT-proBNP) merupakan neurohormon jantung yang dikeluarkansebagai respon terhadap beban tekanan dan volume yang berlebihan pada gagal jantung. Secara teori, faktor yang memengaruhikadar NT-proBNP di antaranya anemia, frekuensi ISPA sering, dan diameter defek besar.Tujuan. Membuktikan bahwa anemia, frekuensi ISPA sering, dan diameter defek besar sebagai faktor yang dapat memengaruhikadar NT-proBNP pada anak dengan PJB pirau kiri ke kanan yang mengalami gagal jantung.Metode. Penelitian kasus kontrol, subjek 50 anak PJB pirau kiri ke kanan yang mengalami gagal jantung di RSUP dr. Kariadi, terdiri atas 25anak dengan kadar NT-proBNP di atas cut off point sebagai kasus dan 25 anak di bawah cut off point sebagai kontrol. Kadar NT-proBNPdianalisis dengan metode ELISA, sedangkan uji Mann-Whitney untuk perbedaan kadar NT-proBNP masing-masing kelompok.Hasil. Kelompok kasus didapatkan rentang usia 2-91 bulan (median 25 bulan), 16 (53,3%) perempuan, 21 (84%) diameter defekbesar, dan 19 (76%) malnutrisi. Pada kelompok kontrol didapatkan rentang usia 2-121 bulan (median 35 bulan), 17 (65,4%)perempuan, 13(52%) diameter defek besar, dan 14(56%) malnutrisi. Frekuensi ISPA sering dan diameter defek merupakan faktorrisiko peningkatan kadar NT-proBNP (OR=3,43; p=0,041; IK95%: 1,26-11,47) dan (OR=4,846; p=0,015; IK95%: 1,287-18,25).Anemia bukan merupakan faktor risiko (OR=1,0; p=1,00; IK95%:0,25-3,99).Kesimpulan. Frekuensi ISPA sering dan diameter defek besar merupakan faktor risiko peningkatan kadar NT-proBNP pada anakdengan PJB pirau kiri ke kanan yang mengalami gagal jantung, sedangkan anemia bukan merupakan suatu faktor risiko.

Page 61 of 152 | Total Record : 1519


Filter by Year

2000 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue