cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 1,519 Documents
Penggunaan Kortikosteroid Intranasal Dalam Tata Laksana Rinitis Alergi pada Anak Benry P. Simbolon; Sjabaroeddin Sjabaroeddin; Lily Irsa
Sari Pediatri Vol 8, No 1 (2006)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (100.619 KB) | DOI: 10.14238/sp8.1.2006.54-9

Abstract

Akhir-akhir ini terdapat peningkatan prevalensi kasus rinitis alergi pada anak. Penyakitini tidak hanya mengganggu kesehatan fisik dan psikososial, kualitas hidup, kapasitasbelajar dan bekerja anak, tetapi juga berperan terhadap timbulnya penyakit lain sepertiasma, sinusitis, dan otitis media. Tata laksana rinitis alergi meliputi pengendalianlingkungan untuk menghindari alergen, pemberian obat-obatan seperti antihistamin,dekongestan, dan kortikosteroid, serta imunoterapi. Pemberian kortikosteroid intranasalmerupakan indikasi bagi penderita rinitis alergi intermiten sedang-berat dan rinitis alergipersisten. Efek anti inflamasi dari obat ini diperantarai oleh pengaturan ekspresi gentarget spesifik. Kortikosteroid intranasal sangat efektif dalam menghilangkan gejala rinitisalergi. Obat ini dapat diberikan dalam bentuk semprot aqua dan inhaler dengan dosisterukur. Pemberian obat ini jarang menimbulkan efek samping sistemik, namun jikadiberikan bersamaan dengan kortikosteroid topikal lainnya, harus dilakukan titrasi sampaidosis paling rendah yang dapat mengontrol penyakit.
Peran Eritropoetin pada Anemia Prematuritas I Nyoman Sartika; Wayan Retayasa; Made Kardana; Ida Bagus Mudita
Sari Pediatri Vol 9, No 6 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp9.6.2008.375-80

Abstract

Eritropoetin merupakan molekul glikoprotein yang terdiri dari 165 asam amino dan 4 gugus karbohidratdengan berat molekul sekitar 34 k dalton. Peran eritropoetin dalam produksi sel darah merah melaluimeningkatkan survival, proliferasi dan diferensiasi dari progenitor eritroid pada sumsum tulang. Eritropoetinberikatan dengan reseptor selanjutnya terjadi aktivasi ras/mitogen intraselular yang berperan dalam proliferasisel. Regulasi produksi eritropoetin adalah peran dari hypoxia-inducible transcription factor-1 (HIF-1). Padabayi yang lahir prematur terjadi penurunan kadar Hb yang berlebihan dibandingkan dengan bayi cukupbulan. Banyak faktor yang mempengaruhi anemia prematuritas, salah satu di antaranya adalah kurang responeritropoetin terhadap penurunan kadar Hb. Penggunaan eritropoetin rekombinan mengurangi frekuensitransfusi darah dan meningkatkan retikulosit dengan cepat. Eritropoetin rekombinan belum merupakanstandar pengobatan anemia prematuritas secara universal
Tumbuh Kembang Anak Hipotiroid Kongenital yang Diterapi dini dengan Levo-tiroksin dan Dosis Awal Tinggi Adi Wirawan; Sunartini Sunartini; Bikin Suryawan; Soetjiningsih Soetjiningsih
Sari Pediatri Vol 15, No 2 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.295 KB) | DOI: 10.14238/sp15.2.2013.69-74

Abstract

Latar belakang. Hipotiroid kongenital (HK) adalah penyebab disabilitas intelektual yang bisa dicegah dengan diagnosis dini diikuti dengan pemberian terapi pengganti levo-tiroksin (L-T4). Deteksi dini melalui skrining hipotiroid kongenital (SHK) belum menjadi program rutin pemerintah sehingga kasus HK belum banyak dapat dikelola secara tepat dan berkesinambungan. Tujuan.Mengetahuigambaran pencapaian tumbuh kembang anak dengan HK yang mendapat terapi dengan L-T4 pada usia balita. Metode.Penelitian studi kasus (case study). Pasien HK usia balita yang menjalani terapi LT4 di Poliklinik Endokrin Anak RS Sanglah, RSUD Wangaya Denpasar dan RSUD Karangasem sejak tahun 2006 berdasarkan catatan medik, dianalisis perjalanan penyakit dan terapinya. Dilakukan penilaian tumbuh kembang pada usia balita dengan skala mental dan motor dari Bayley II (BSID II), pertumbuhan dinilai parameter antropometrik berdasarkan WHO Anthro-2005, maturitas tulang dengan bone age. Hasil. Duabelas kasus dianalisis, terdiri dari 4 laki-laki dan 8 perempuan, usia diagnosis antara 3-18 bulan. Lima subyek dengan HK berat, 4 tidak berat, dan 3 disertai sindrom Down secara klinis. Saat diagnosis ditegakkan, rerata TSH awal adalah 130,73 (SB 194,89) uIU/mL dan rerata FT4 0,54 (SB 0,54) ng/dL, dan dengan rerata BBL 2862,50 (SB 487,16) gram. Lima kasus mendapatkan terapi dini dan 7 kasus dengan terapi tidak dini.Kesimpulan.Luaran indeks perkembangan psikomotor lebih baik pada HK permanen yang menggunakan dosis awal tinggi dibandingkan dosis standar. Luaran pertumbuhan mengalami perbaikan setelah pemberian terapi L-T4 berdasarkan parameter antropometri. Percepatan pertumbuhan pada usia balita akan tercapai apabila diterapi sejak dini.
Pengaruh Lama Pengobatan Awal Sindrom Nefrotik terhadap Terjadinya Kekambuhan Partini P Trihono; Eva Miranda Marwali; Husein Alatas; Taralan Tambunan; Sudung O Pardede
Sari Pediatri Vol 4, No 1 (2002)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp4.1.2002.2-6

Abstract

Sebagian besar sindrom nefrotik pada anak memberikan respons yang baik padapengobatan awal dengan steroid. Namun sekitar 57% di antaranya menunjukkankekambuhan berulang yang memerlukan pengobatan steroid yang berulang-ulang, hinggasebagian menunjukkan efek toksik. Pemberian steroid awal yang lebih lama dapatmengurangi jumlah pasien yang mengalami kambuh sering. Di Bagian Ilmu KesehatanAnak FKUI-RSCM telah dilakukan penelitian uji klinik terhadap 2 kelompok pasienbaru sindrom nefrotik. Kelompok I mendapat terapi steroid 60mg/m2/hari (FD) selama4 minggu yang dilanjutkan dengan dosis 40mg/m2/hari selang sehari (AD) selama 4minggu, sedang kelompok II mendapat terapi steroid FD dan AD masing-masing selama6 minggu. Terhadap kedua kelompok tersebut diikuti selama 1 tahun untuk melihatkekeraban kekambuhannya. Dalam tahun 1994-1998 terdapat 35 anak yang memenuhikriteria inklusi, namun hanya 18 anak (10 anak kelompok I dan 8 anak kelompok II)yang menyelesaikan terapi dan ikut dalam observasi selama 1 tahun. Tidak didapatkanperbedaan klinis dan laboratoris pada kedua kelompok tersebut. Kekambuhan pertamakali timbul dalam 4 minggu setelah pengobatan pada 2 dari 8 (25%) anak kelompok IIdan 3 dari 10 (30%) anak kelompok I. Kekambuhan lebih dari 2 kali atau lebih dalam 6bulan pertama setelah pengobatan terdapat pada 4 (40%) anak kelompok I dan 2 (25%)anak kelompok II, sedangkan kekambuhan 4 kali atau lebih dalam 1 tahun setelahpengobatan tidak ditemukan pada kelompok II, namun didapatkan pada 2 (20%) anakkelompok I. Terdapat 1 (10%) anak kelompok I dan 2 (25%) anak kelompok II yangtidak pernah kambuh. Disimpulkan bahwa sindrom nefrotik yang mendapat terapi steroidawal lebih lama (12 minggu) mempunyai kecenderungan lebih jarang kambuh biladibandingkan dengan kasus yang mendapat terapi steroid awal lebih pendek (8 minggu).
Sinusitis pada Anak Rinaldi Rinaldi; Helmi M. Lubis; Ridwan M. Daulay; Gabriel Panggabean
Sari Pediatri Vol 7, No 4 (2006)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp7.4.2006.244-8

Abstract

Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) merupakan kasus yang sering ditemukan padaanak. Diperkirakan 0,5%-10% ISPA mengakibatkan komplikasi sinusitis. Sinusitis adalahinfeksi sinus paranasal dengan gejala ISPA yang menetap atau makin berat dalam kurunwaktu tertentu. Tiga faktor yang berperan dalam terjadinya sinusitis adalah ostium yangtertutup, penurunan jumlah atau fungsi silia serta berubahnya viskositas sekret. Dengananamnesis dan pemeriksaan fisik yang teliti dapat ditegakkan diagnosis sinusitis akutpada anak. Pada sinusitis kronis, CT scan merupakan alat bantu diagnosis yang dapatdipercaya. Diagnosis banding antara lain cystic fibrosis dan inverted papilloma. Padaumumnya sinusitis dapat sembuh dengan terapi medikamentosa. Amoksisilin merupakanantibiotik utama disertai dengan pemberian antihistamin, nasal dekongestan dan steroid.Anak yang tidak memberikan respon dengan terapi medikamentosa yang maksimal ataudengan komplikasi dapat dilakukan tindakan pembedahan.
Prevalensi dan Faktor-Faktor Risiko Gangguan Pemusatan Perhatian Anak dan Hiperaktivitas di Klinik Tumbuh Kembang RSUP Sanglah Denpasar SAK Indriyani; Soetjiningsih Soetjiningsih; IGA Endah Ardjana; IGA Trisna Windiani
Sari Pediatri Vol 9, No 5 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (119.811 KB) | DOI: 10.14238/sp9.5.2008.335-41

Abstract

Latar belakang. Gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (GPPH) merupakan gangguan tingkahlaku yang paling banyak terjadi pada anak. Angka prevalensi GPPH cukup bervariasi dan terdapat berbagaifaktor risiko yang berperan. Deteksi dini sangat diperlukan untuk menegakkan diagnosis sehingga dapatdilakukan intervensi lebih dini.Tujuan. Mengetahui prevalensi, karakteristik demografi dan klinis, serta faktor-faktor risiko GPPHMetode. Penelitian bersifat retrospektif dari catatan medik pasien dengan keluhan mengalami masalahtingkah laku, datang ke klinik Tumbuh Kembang RSUP Sanglah periode 2005-2006.Hasil. Seratus sebelas memenuhi kriteria inklusi, prevalensi GPPH 51 (45,9%) yang terdiri dari 43 (38,7%)laki-laki dan 8 (7,2%) perempuan. Jumlah GPPH tipe kombinasi (A1+A2) 39 (76,5%), GPPH tipe A1 7(13,7%), dan GPPH tipe A2 5 (9,8%). Anak pertama (PR: 2,88, 95%CI: 1,33-6,24, p=0,007), tidakmempunyai saudara (PR: 2,69, 95%CI: 1,19-6,09, p=0,015) dan ibu tamat Sekolah Lanjutan TingkatAtas (SLTA) dan sarjana (p=0,02) berperan pada GPPH. Jenis kelamin (p=0,004), umur (p=0,021), danberat badan (p=0,007) berbeda bermakna antara berbagai tipe GPPH.Kesimpulan. Faktor urutan kelahiran, jumlah saudara dan pendidikan ibu berperan pada GPPH. Jeniskelamin, umur, dan berat badan berbeda bermakna pada ketiga tipe GPPH
Stress Oksidatif pada Autisme Ruslan Ruslan; Eko Suhartono
Sari Pediatri Vol 7, No 2 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp7.2.2005.63-7

Abstract

Latar belakang: autisme merupakan gangguan perkembangan berat dalam halberkomunikasi, interaksi sosial, dan perilaku yang tampak sebelum anak berusia 3 tahun.Gangguan perkembangan ini dihubungkan dengan faktor psikologi, kelainanneurobiologi, genetik, gangguan metabolik, pencernaan, keracunan logam berat danbiokimia.Tujuan: mengetahui kelainan biokimia yaitu senyawa oksigen reaktif (SOR) dan nitrogenoksida (NO) pada autisme. Peningkatan SOR dan NO diduga menyebabkan stresoksidatif yang berperan dalam neuropatologi pada autisme.Metoda: penelitian terhadap 39 anak autisme sebagai kelompok risiko dan 10 anaknormal sebagai kontrol, melalui studi observasional analitik dengan metode crosssectional.Akumulasi SOR ditentukan dengan mengukur aktivitas katalase dan kadarsenyawa karbonil secara spektrofotometrik. Aktivitas NO ditentukan secara tidaklangsung, yakni mengukur kadar methemoglobin dalam plasma.Hasil: rerata aktifitas katalase pada autisme 0,0061±0,0013 s-1, sedangkan kontrol adalah0,0086±0,0042 s-1. Rerata hasil pengukuran methemoglobin pada autisme adalah30,38±15,44% sedangkan kelompok kontrol 21,73±9,66%. Kadar senyawa karbonilpada autisme adalah 0,411±337693 ìM ml-1/gr dan kontrol 0,424±265861 ìM ml-1/gr.Uji-t untuk dua rata-rata pada a=5% menyimpulkan aktivitas katalase dan kadarmethemoglobin berbeda secara bermakna dibandingkan kontrol (P<0,05), sedangkankadar senyawa karbonil kelompok risiko dan kontrol tidak berbeda (P>0,05)Kesimpulan: aktivitas katalase pada anak autisme lebih rendah dan kadar methemoglobinlebih tinggi secara bermakna dibandingkan anak normal. Meskipun demikian, keadaantersebut belum sampai mempengaruhi kerusakan oksidatif protein. Perlu dilakukanpenelitian lebih lanjut untuk mengetahui aktivitas antioksidan endogen lainnya sepertisuperoksida dismutase dan glutation peroksidase serta apakah kadar senyawa antioksidanberhubungan dengan derajat gejala klinis anak autisme.
Gangguan Perilaku Pasien Diabetes Melitus tipe-1 di Poliklinik Endokrinologi Anak Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Lily Rahmawati; Soedjatmiko Soedjatmiko; Hartono Gunardi; Rini Sekartini; Jose RL. Batubara; Aman B. Pulungan
Sari Pediatri Vol 9, No 4 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (110.243 KB) | DOI: 10.14238/sp9.4.2007.264-9

Abstract

Latar belakang. Diabetes melitus tipe-1 (DM tipe-1) merupakan penyakit kronis yang dapat mempengaruhiemosi dan perilaku anak dan remaja. Pasien mengalami tekanan yang berhubungan dengan bagaimanamengontrol metabolik dan tumbuh kembang yang sedang berlangsung.Tujuan. Mengetahui gangguan perilaku pasien DM tipe-1 dan faktor-faktor yang berhubungan dengangangguan perilaku.Metode. Penelitian dilakukan secara potong lintang pada bulan Agustus 2006 di poliklinik EndokrinologiDepartemen IKA FKUI RSCM. Subjek penelitian adalah pasien DM tipe-1 umur 4-18 tahun yang diambilsecara purposive sampling. Sumber data diperoleh dari orangtua/ wali responden dengan wawancaraterpimpin, menggunakan Pediatric Symptom Check List-17 (PSC-17) dan Kuesioner Masalah MentalEmosional (KMME).Hasil. Prevalensi gangguan perilaku pasien DM tipe-1 dijumpai kemungkinan gangguan psikososial 45,8%,paling banyak adalah gangguan internalisasi (33,3%). Kemungkinan gangguan mental emosional 41,7%.Lama sakit lebih dari 5 tahun dan pernah mengalami komplikasi memiliki risiko lebih besar mengalamigangguan mental emosional.Kesimpulan. Kemungkinan gangguan perilaku pada diabetes tipe-1 45,8%. Skrining gangguan perilakupada pasien DM tipe-1 perlu dilakukan secara rutin di pusat pelayanan kesehatan sehingga dapat segeradievaluasi lebih lanjut. 
Profil Asidosis Tubulus Renalis pada Anak di RS Cipto Mangunkusumo Jakarta Erwin Lukas Hendrata; Taralan Tambunan; Damayanti Rusli Sjarif; Imral Chair
Sari Pediatri Vol 11, No 4 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp11.4.2009.264-75

Abstract

Latar belakang. Asidosis tubulus renalis (ATR) adalah suatu sindrom klinis yang disebabkan oleh gangguanreabsorpsi bikarbonat (HCO3-) di tubulus proksimal renal atau gangguan pengasaman urin (sekresi ion H+)di tubulus distal. Ditandai oleh asidosis metabolik hiperkloremik, senjang anion plasma normal, dan fungsiglomerulus normal.Sampai saat ini diagnosis ATR masih sulit ditegakkan terutama karena gejala klinis yangtidak spesifik. Tanpa pengobatan dini, adekuat, dan berkesinambungan maka anak dengan ATR berpotensimengalami gangguan pertumbuhan, nefrokalsinosis, nefrolitiasis, osteomalasia, gagal ginjal, hiperkalemia,atau bahkan kematian.Tujuan.Menilai profil anak dengan asidosis tubulus renalis sehingga diagnosis dan pengobatan ATR dapatdilakukan lebih dini.Metode. Penelitian serial kasus dengan sumber data diperoleh dari rekam medis pasien ATR yang berobatdi Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit CiptoMangunkusumo (IKA FKUI-RSCM) sejak Januari 1998 hingga Desember 2008.Hasil. Didapatkan 54 pasien ATR baru yang berarti terjadi peningkatan lebih dari 9 kali lipat dibandingpenelitian terdahulu yang dilakukan pada tahun 1975-1995. Peningkatan tersebut mungkin disebabkanmeningkatnya kewaspadaan petugas kesehatan terhadap gejala gagal tumbuh dan ATR diduga sebagai salahsatu etiologinya. Gejala tersering yang ditemukan adalah gagal tumbuh, perawakan pendek, dan anoreksia.Nefrokalsinosis didapatkan pada 6 (21%) dari 28 subjek penelitian. Setelah pemberian terapi alkali, denganrerata lama pengamatan 20 bulan, peningkatan BB/TB terjadi pada 27/34 subjek. Peningkatan BB/TBterjadi terutama dalam 6 bulan pertama pengobatan.Kesimpulan. Gagal tumbuh, terutama bila disertai perawakan pendek, anoreksia, dan muntah pada seoranganak dapat dipakai sebagai petunjuk untuk kemungkinan diagnosis ATR.
Masalah Kesehatan Remaja Santoso Soeroso
Sari Pediatri Vol 3, No 3 (2001)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp3.3.2001.189-97

Abstract

Masalah Kesehatan Remaja di Indonesia telah dibahas dalam pertemuan pengkajiandan pemanfaatan temuan dari beberapa penelitian kesehatan remaja di Bandung 1996dari penelitian yang diselenggarakan di Lampung, Daerah Istimewa Yogyakarta, Malukudan Jawa Timur dapat diidentifikasikan masalah-masalah sebagai berikut. Masalahkesehatan umum yang ditemukan adalah, anemia dan kebugaran (physical fitness) yangrendah pada remaja Indonesia. Masalah sosial budaya dan sekolah yang ditemukan adalahsulit belajar, membolos, kenakalan remaja (“tawuran”), pergeseran nilai budaya.Sedangkan masalah gangguan emosional yang diidentifikasikan kurang percaya diri,stres di samping terdapat pula masalah penyalahgunaan obat dan merokok. Dalammasalah keluarga telah dicatat bahwa kurangnya fungsi peranan orangtua, konflik peran,perbedaan persepsi kasih saying dan kurangnya serta kesulitan komunikasi telahmenyebabkan disfungsi keluarga.

Page 62 of 152 | Total Record : 1519


Filter by Year

2000 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue