cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 1,519 Documents
Cairan Rehidrasi Oral Osmolaritas Rendah Dibandingkan Oralit untuk Pengobatan Diare Akut pada Anak Yorva Sayoeti; Risnelly S
Sari Pediatri Vol 9, No 5 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp9.5.2008.304-8

Abstract

Latar belakang. Tata laksana diare akut dehidrasi ringan sedang, WHO memilih cairan rehidrasi oral(CRO) yang dikenal dengan Oralit. Namun, formula ini masih mempunyai kekurangan. Pada tanggal 27Maret 2002 WHO merekomendasikan CRO osmolaritas rendah (total osmolaritas 245 mOsm/L)menggantikan Oralit (total osmolaritas 311 mOsm/L).Tujuan. Membandingkan lama penyembuhan dan kejadian hiponatremi pada pemakaian CRO osmolaritasrendah dengan oralit.Metode. Uji klinis acak terkontrol, dilakukan bulan Juli sampai September 2006 di Bagian Ilmu KesehatanAnak RS. M. Djamil Padang. Sampel yang memenuhi kriteria inklusi dilakukan randomisasi sederhanamenjadi 2 kelompok yaitu kelompok yang mendapat CRO osmolaritas rendah dan yang mendapat Oralit.Lama penyembuhan dinilai berdasarkan frekuensi, konsistensi diare dan kadar Natrium yang diperiksapada saat pasien sembuh. Data dinalisis dengan uji statistik t-test dan chi-square dengan tingkat kemaknaanp < 0,05.Hasil. Subjek penelitian 44 bayi dan anak yang memenuhi kriteria inklusi, dua puluh empat orang mendapatCRO osmolaritas rendah dan 20 orang mendapat Oralit. Rerata lama penyembuhan pada kelompok CROosmolaritas rendah 38,25 (SB 22,04) jam dan kelompok Oralit 47,55 (SB 34,50) jam. Rerata kadar Natriumpada pemakaian CRO osmolaritas rendah 141,75 (SB 12,14) mEq/L dan pada pemakaian Oralit 143,05(SB 10,19) mEq/L. Kejadian hiponatremi 12,5% pada kelompok CRO osmolaritas rendah dan 5% padakelompok Oralit. Secara statistik tidak ditemukan perbedaan bermakna lama penyembuhan (p = 0,05) dankejadian hiponatremi (p = 0,13).Kesimpulan. Lama penyembuhan lebih cepat pada pemakaian CRO osmolaritas rendah dibandingkanoralit. Kejadian hiponatremi lebih banyak pada pemakaian CRO osmolaritas rendah walaupun secarastatistik tidak didapatkan perbedaan.
Peran Eritromisin terhadap Toleransi Minum Bayi Prematur Lily Indriasary Harahap; Asril Aminullah; Sudung O Pardede; Badriul Hegar
Sari Pediatri Vol 15, No 3 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (235.316 KB) | DOI: 10.14238/sp15.3.2013.167-73

Abstract

Latar belakang. Eritromisin merupakan salah satu obat prokinetik untuk mengatasi intoleransi minum pada bayi prematur karena imaturitas sistem pencernaan. Beberapa penelitian mengenai efektifitas eritromisin dalam mengatasi intoleransi minum akibat imaturitas saluran cerna masih merupakan kontroversi.Tujuan. Mengetahui peran eritromisin dalam meningkatkan toleransi minum bayi prematur.Metode. Penelitian uji kinis prospektif acak terkontrol tersamar ganda pada bulan September 2011-Februari 2012 dengan subyek bayi prematur usia gestasi (UG) 28-36 minggu. Diagnosis intoleransi minum ditetapkan bila residu lambung lambung ≥25% jumlah pemberian minum 6 jam sebelumnya Hasil. Terdapat 36 subyek bayi prematur dengan intoleransi minum yang dibagi menjadi 2 kelompok yaitu 19 subyek mendapat eritromisin (3 mg/kgbb/dosis, 4x sehari selama 7 hari) dan 17 subyek mendapat plasebo berupa larutan sukrosa. Tidak terdapat perbedaan bermakna jumlah episode terjadinya residu pada kedua kelompok (p=0,271), demikian juga dengan analisis subgrup pada UG ≤32 minggu dan >32 minggu (p=0,25) dan (p=0,39). Median lama hari mencapai nutrisi enteral penuh antara kedua kelompok tidak terbukti bermakna secara statistik (p=0,82). Hasil yang tidak bermakna juga didapatkan pada UG ≤32 minggu dan >32 minggu (p=0,61) dan (p=0,60.)Kesimpulan. Pada penelitian ini pemberian eritromisin dosis rendah (3 mg/kgbb/dosis, setiap 6 jam) per oral selama 7 hari tidak terbukti dapat mengurangi residu lambung maupun mempercepat pencapaian nutrisi enteral penuh pada bayi prematur dengan UG 28-36 minggu yang mengalami intoleransi minum.
Peran Antagonis Reseptor H-2 Dalam Pengobatan Ulkus Peptikum Noval Aziz
Sari Pediatri Vol 3, No 4 (2002)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp3.4.2002.222-6

Abstract

Ulkus peptikum adalah kerusakan pada lapisan mukosa, submukosa sampai lapisan ototsaluran cerna yang disebabkan oleh aktivitas pepsin dan asam lambung yang berlebihan.Ulkus peptikum dapat bersifat primer (akut dan kronis) atau sekunder akibat adanyapenyakit lain. Tujuan utama pengobatan ulkus peptikum adalah untuk mengurangi rasasakit, mempercepat penyembuhan ulkus dan mencegah terjadinya residif ataupunkomplikasi. Antagonis reseptor H2 berperan dalam mengurangi sekresi asam lambungdengan menghambat pengikatan histamin secara selektif pada reseptor H2 danmenurunkan kadar cyclic-AMP dalam darah. Antagonis reseptor H2 yang paling banyakdigunakan pada kelompok anak sebagai pengobatan standar terhadap ulkus peptikumadalah simetidin dan ranitidin. Simetidin dan ranitidin efektif untuk menghilangkangejala nyeri pada episode akut dan mempercepat penyembuhan ulkus dengan toksisitasrelatif ringan. Pada kasus ulkus peptikum kronik yang disertai infeksi oleh Helicobacterpylori, diperlukan pemberian antibiotik amoksisilin dan atau metronidazol.
Trakeomalasia pada Anak I G. A. P. Eka Pratiwi; Putu Siadi Purniti; I. B. Subanada
Sari Pediatri Vol 9, No 4 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (112.704 KB) | DOI: 10.14238/sp9.4.2007.233-8

Abstract

Trakeomalasia merupakan suatu keadaan kelemahan trakea yang disebabkan karena kurang dan atau atrofiserat elastis longitudinal pars membranasea, atau gangguan integritas kartilago sehingga jalan napas menjadilebih lemah dan mudah kolaps. Trakeomalasia pada anak dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitutrakeomalasia primer (penyakit kongenital) dan sekunder (penyakit didapat). Untuk menegakkan diagnosistrakeomalasia dapat dilakukan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan pencitraan.Manifestasi klinis trakeomalasia antara lain riwayat stridor ekspirasi, kesulitan minum, suara parau, afonia,riwayat breath holding, riwayat intubasi berkepanjangan, trakeostomi, trauma dada, trakeobronkitisberulang, penyakit kartilago (polikondritis relaps), dan reseksi paru. Sebagian besar anak dengantrakeomalasia tidak memerlukan intervensi. Terapi bedah diperlukan jika terapi konservatif tidak mencukupiatau jika terjadi refleks apne, mengalami kesulitan peningkatan berat badan dan perkembangan, mengalamipneumonia atau apne berulang, menunjukkan obstruksi jalan napas yang memerlukan dukungan jalannapas kronik. Gejala kinis akan menghilang secara spontan pada usia 18-24 bulan.
Prevalens dan Sebaran Faktor Risiko Mikosis Sistemik pada Neonatus dengan Sepsis Awitan Lambat di RS Dr. Cipto Mangunkusumo Didik Wijayanto; Idham Amir; Retno Wahyuningsih; Endang Windiastuti
Sari Pediatri Vol 11, No 4 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (89.109 KB) | DOI: 10.14238/sp11.4.2009.229-37

Abstract

Latar belakang. Infeksi jamur sistemik merupakan salah satu penyebab morbiditas dan mortalitas padaneonatus dengan gejala klinis yang mirip dengan sepsis. Mengetahui prevalens, pola jamur, faktor risiko,profil klinis, terapi, dan luaran klinis diharapkan dapat mengurangi morbiditas dan mortalitas infeksi jamurpada neonatus.Tujuan. Mengetahui prevalens dan faktor risiko mikosis sistemik pada neonatus dengan sepsis awitanlambat.Metode. Studi potong lintang retrospektif dengan penelusuran rekam medis Departemen Ilmu KesehatanAnak sejak bulan Januari 2005- Desember 2008.Hasil. Seratus empat puluh satu neonatus mengalami sepsis awitan lambat, 10 subjek tidak memenuhikriteria inklusi sehingga terdapat 131 subjek yang dapat dianalisis. Lima puluh lima (42%) subjek terbuktimengalami infeksi mikosis sistemik. Manifestasi klinis yang mencolok adalah infeksi pada sistem respirasidan gastrointestinal. Faktor risiko infeksi jamur yang ditemukan pada studi ini adalah pemasangan kateterintravena, nutrisi parenteral, dan masa rawat lama. Profil laboratorium yang jelas adalah trombositopeni,CRP> 10, dan rasio IT >0,2. Setelah dilakukan analisis multivariat dan regresi logistik maka faktor risikoyang bermakna adalah muntah, tidak diare, dan masa rawat lama.Kesimpulan.Prevalens infeksi jamur sistemik pada sepsis awitan lambat 42% dengan penyebab Candida sp. Faktorrisiko yang bermakna adalah muntah, tidak diare, dan masa rawat lama. 
Faktor-Faktor Risiko untuk Terjadinya Retinopati pada Prematuritas Alfian Nasution
Sari Pediatri Vol 3, No 3 (2001)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.069 KB) | DOI: 10.14238/sp3.3.2001.152-6

Abstract

Retinopati pada prematuritas pertama diidentifikasi oleh Terry tahun 1942, laporansetelah itu mengatakan selama 10 tahun periode tahun 40-an sampai 50-an retinopatipada prematuritas telah menimbulkan kebutaan pada 17.000 anak di Amerika dan dibelahan lain dunia.Perkembangan ICU neonatus pada akhir dekade 60-an dan kemajuan pesat dalamteknologi penunjang kelangsungan hidup bayi-bayi prematur, bukan hanya meningkatkanjumlah bayi dengan berat badan lahir sangat rendah dapat hidup, tapi juga meningkatkanjumlah bayi yang berisiko terhadap retinopati pada prematuritas bertahan hidup. Halini telah membangkitkan kembali minat untuk meneliti dasar-dasar dan perjalananpenyakit ini.Penelitian terhadap faktor risiko retinopati pada prematuritas mencatat berat badanlahir yang sangat rendah, lamanya pemberian oksigen dan konsentrasi oksigen sebagaifactor-faktor yang berperan menentukan munculnya kelainan ini, disamping faktoranemia / transfusi darah, defisiensi vitamin E, paparan cahaya, kadar CO2 tinggi dansepsis. Beberapa keadaan lain juga dilaporkan sebagai faktor risiko, namun karena belumbanyak peneliti lain yang juga menilai faktor yang sama, perannya sebagai faktor risikoatau penolakan peran faktor-faktor tersebut belum begitu jelas, seperti sianosis, apne,ventilasi mekanis, perdarahan intraventrikel, kejang, DAP, preparat xanthine, preparatindometasin, asidosis, hipoksia intrauterin dan distres pernafasan.
Penyakit Alergi Saluran Napas yang Menyertai Asma Lily Irsa
Sari Pediatri Vol 7, No 1 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp7.1.2005.19-25

Abstract

Asma merupakan penyakit yang mempunyai predisposisi genetik, dipengaruhi oleh faktorlingkungan prenatal dan pasca natal. Sebagaimana penyakit atopi lain seperti rinitisalergi dan dermatitis atopi dalam perjalanannya asma dipengaruhi oleh adanya sensitisasiprimer oleh alergen dan pajanan berikutnya yang akan meningkatkan produksi IgEspesifik. Penyakit asma diketahui sering bersamaan dengan penyakit alergi saluran napaslainnya. Hal ini karena saluran napas atas dan saluran napas bawah merupakan saluranyang berhubungan dan bila terjadi gangguan pada saluran napas atas akan mempengaruhisaluran napas bawah.
Pemantauan Tumbuh Kembang Anak dengan Sindrom Down Frieda Handayani Kawanto; Soedjatmiko Soedjatmiko
Sari Pediatri Vol 9, No 3 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp9.3.2007.185-90

Abstract

Sindrom Down (SD) adalah kelainan genetik yang paling sering ditemukan dan berhubungan denganretardasi mental. Kelainan yang terjadi disebabkan oleh adanya kelebihan materi genetik kromosom 21.Karakteristik fisis anak dengan SD cukup jelas sehingga para tenaga kesehatan yang mengadakan kontakawal dengan neonatus, termasuk dokter ahli kebidanan dan kandungan, perawat kamar bersalin, dandokter umum, dapat mengenali kelainan ini dengan relatif mudah. Anak dengan SD memiliki berbagaimasalah kesehatan dan tumbuh kembang yang tak jarang cukup kompleks, maka skrining pra dan pascanatal, intervensi dini, dan pemantauan tumbuh kembang yang terus-menerus perlu dilakukan agar anakdengan SD dapat memiliki kualitas hidup yang lebih baik. Tata laksana medis, dukungan keluarga,pendidikan, dan pelatihan khusus dapat meningkatkan kemampuan anak dengan SD secara bermakna danmenjembatani transisi menuju kedewasaan.
Karakteristik Klinis Lupus Eritematosus Sistemik pada Anak Ni Putu Sudewi; Nia Kurniati; EM Dadi Suyoko; Zakiudin Munasir; Arwin AP Akib
Sari Pediatri Vol 11, No 2 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp11.2.2009.108-12

Abstract

Latar belakang. Manifestasi klinis Lupus Eriternatosus Sistemik (LES) sangat bervariasi sehinggaseringkali menyulitkan penegakan diagnosis. Skor aktivitas penyakit dan kerusakan organ belumditerapkan dalam pemantauan sehari-hari.Tujuan. Mengetahui karakteristik pasien anak dengan LES yang berobat ke Departemen Ilmu KesehatanAnak (IKA) RSCM.Metode. Penelitian retrospektif deskriptif dengan data didapatkan dari rekam medik anak dengan LESperiode 1 Januari 1995-31 Desember 2008.Hasil. Dari 27 rekam medik yang memenuhi kriteria penelitian, tidak ada subjek berusia dibawah 5 tahun dan hampir seluruhnya perempuan. Manifestasi klinis terbanyak adalah ruammalar, artritis, artralgia, fotosensitivitas, dan demam. Kadar anti ds-DNA pada sebagian besarpasien menunjukkan peningkatan bermakna. Seluruh pasien mendapat kortikosteroid oral sebagaiterapi inisial. Skor SLEDAI dan ACR Damage Index meningkat pada subjek dengan perjalananpenyakit yang progresif.Kesimpulan. Karakteristik pasien LES pada penelitian ini sesuai denga kepustakaan. Pemantauanpenyakit dengan skor bermanfaat dalam mencegah kerusakan organ.
Perbedaan Awitan Pubertas pada Anak Perempuan di Perkotaan dan Pedesaan Syamsul Azwar; Rita E. Rusli; Khainir Akbar; Charles D. Siregar; Hakimi Hakimi
Sari Pediatri Vol 3, No 2 (2001)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (164.263 KB) | DOI: 10.14238/sp3.2.2001.115-8

Abstract

Rerata awitan pubertas pada anak perempuan terjadi pada usia 11 tahun dengan rentangusia antara 8-13 tahun. Awitan pubertas didapati berbeda pada anak perempuan yangtinggal di perkotaan dan pedesaan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaanrerata awitan pubertas pada anak perempuan perkotaan dan pedesaan. Penelitian inidilakukan secara cross sectional study pada murid perempuan Sekolah Dasar Al-AzharKotamadya Medan (perkotaan) dan murid Sekolah Dasar Negeri Nomor 050577 Binjai(pedesaan). Dilakukan pemeriksaan tingkat perkembangan payudara pada kedua subyekberdasarkan skala Tanner. Analisis statistik menggunakan Student t-test dengan tingkatkemaknaan p < 0,05. Diantara sampel pada 99 anak, awitan pubertas pada anakperempuan perkotaan pada usia 8, 9, 10, 11, dan 12 tahun berturut turut 12,1%; 23,2%;33,3%; 27,3%; dan 4,0% dengan rentang usia 8-12 tahun. Pada anak perempuanpedesaan pubertas didapatkan pada usia 9, 10, 11, 12, dan 14 tahun berturut-turut1,0%; 13,1%; 30,3%; 29,3%; dan 7,1% dengan rentang usia 9 – 14 tahun. Rerata usiaawitan pubertas pada anak perempuan perkotaan 9,88 + 1,07 dan pada anak perempuanpedesaan 11,74 + 1,16 tahun. Terdapat perbedaan yang bermakna antara rerata awitanpubertas anak perempuan perkotaan dan pedesaan, demikian pula antara status giziantara anak perempuan perkotaan dan pedesaan. Kesimpulan, awitan pubertas lebihcepat dialami anak perkotaan dibanding anak perempuan pedesaan.

Page 65 of 152 | Total Record : 1519


Filter by Year

2000 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue