cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 1,519 Documents
Sindrom Kasabach-Merritt Ellya Marliah; Dajajadiman Gatot
Sari Pediatri Vol 6, No 3 (2004)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp6.3.2004.110-4

Abstract

Seorang bayi perempuan berumur 4 bulan, dirawat di departemen Ilmu Kesehatan AnakRS Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) dengan diagnosis sindrom Kasabach-Merrit(SKM). Diagnosis ditegakkan berdasarkan adanya bercak berwarna ungu sejak lahiryang membesar dan melebar dengan cepat. Hasil laboratorium menunjukkan adanyaanemia hemolitik dan trombositopenia sebagai akibat gangguan koagulasi konsumtif.Pemeriksaan MRA (magnetic resonance angiography) menunjukkan adanya hemangiomkavernosa besar di seluruh otot tungkai atas kanan dengan tanda infiltrasi ke dalamrongga pelvis. Tidak tampak tanda organomegali dan hidronefrosis. Pada pasien initidak dilakukan biopsi karena dikhawatirkan terjadinya perdarahan. Terapi yang diberikanialah kombinasi triamsinolon dan bleomisin. Kombinasi kedua obat tersebut memberikanrespons yang baik, terlihat terjadi pengecilan lesi dan perbaikan parameter hematologis.Tindakan operasi tidak dilakukan karena lesi yang terlalu besar, namun ternyata denganterapi konservatif dapat mangatasi menifestasi klinis yang timbul.
Pneumonia Atipikal Budastra I Nyoman; Siadi Purniti Putu; Subanada Ida Bagus
Sari Pediatri Vol 9, No 2 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (111.837 KB) | DOI: 10.14238/sp9.2.2007.138-44

Abstract

Pneumonia atipikal adalah pneumonia yang disebabkan oleh mikroorganisme yang tidak dapat diidentifikasidengan teknik diagnostik standar pneumonia pada umumnya dan tidak menunjukkan respon terhadapantibiotik b-laktam. Mikroorganisme patogen penyebab pneumonia atipikal pada umumnya adalahMycoplasma pneumoniae, Chlamydia pneumoniae, dan Legionella pneumophila. Manifestasi klinik,pemeriksaan laboratorium dan radiologis pneumonia atipikal menunjukkan gambaran tidak spesifik.Manifestasi klinik pneumonia atipikal ditandai oleh perjalanan penyakit yang bersifat gradual, terdapatdemam yang tidak terlalu tinggi, batuk non produktif dan didominasi oleh gejala konstitusi. Satu-satunyacara untuk mengetahui penyebab dari pneumonia atipikal adalah pemeriksaan serologi dan polymerasechain reaction (PCR). Antibiotik golongan makrolid direkomendasikan sebagai terapi pneumonia atipikalpada anak. Prognosis umumnya baik, jarang berkembang menjadi kasus yang fatal
Komplikasi Jangka Pendek dan Jangka Panjang Diabetes Mellitus Tipe 1 Indra W. Himawan; Aman B. Pulungan; Bambang Tridjaja; Jose R.L. Batubara
Sari Pediatri Vol 10, No 6 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp10.6.2009.367-72

Abstract

Latar belakang. Diabetes mellitus tipe 1 (DM tipe-1) adalah kelainan metabolik yang disebabkan oleh reaksi autoimun yang menyebabkan kerusakan sel β pankreas dan terjadi pada hampir semua anak yang menderita diabetes. Dalam perjalanan DM tipe-1, sering timbul komplikasi jangka pendek dan jangka panjang.Tujuan. Mengetahui frekuensi komplikasi jangka pendek yaitu ketoasidosis dan jangka panjang yaitu nefropati dan retinopati berdasarkan kontrol metabolik, lama menderita diabetes, dan biaya pengobatan.Metode. Penelitian deskriptif pada 39 pasien yang terdaftar di IKADAR(Ikatan Keluarga Penyandang Diabetes Anak dan Remaja) selama September – Oktober 2007 di Departemen Ilmu Kesehatan Anak Divisi Endokrin FKUI/ RSCM Jakarta dengan melakukan anamnesis, pemeriksaan laboratorium HbA1c, mikroalbuminuria, dan evaluasi mata di poliklinik mata FKUI RSCM.Hasil. Dari 39 pasien yang diteliti antara umur 5-31 tahun, rerata diagnosis diabetes ditegakkan pada umur (9,8±4,1) tahun, HbA1c (10,1±2,3) % dan menderita diabetes selama (5,6±5,8) tahun, dengan dosis insulin yang dipakai (0,9±0,2) IU/kg/hari. Komplikasi yang ditemukan adalah ketoasidosis diabetik selama sakit pada 30 pasien (76,9 %) dan pada 12 minggu terakhir pada 3 pasien (7,9%), mikroalbuminuria pada 3 pasien (7,9%), sedangkan retinopati tidak ditemukan. Rerata pasien memeriksakan HbA1c 3-4 kali pertahun, memeriksa gula darah secara mandiri 1-2 kali/hari dan sebagian besar berobat dengan biaya sendiri.Kesimpulan. Tidak banyak perubahan karakteristik pasien dibandingkan penelitian yang lalu. Rerata kadar HbA1c masih kurang baik dibandingkan dengan rerata HbA1c di negara maju. Di negara maju sudah banyak perubahan pada cara pemberian insulin dan lebih ditingkatkannya perhatian dan pengetahuan pada pasien dan keluarga pasien diabetes.
Infeksi Helicobacter Pylori pada Anak Badriul Hegar
Sari Pediatri Vol 2, No 2 (2000)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp2.2.2000.82-9

Abstract

Helicobacter pylori (H. pylori) berkolonisasi di dalam lambung manusia, terutama padaanak. Infeksi H. pylori pada umumnya asimtomatis. Vacuolating cytotoxin A (Vac A) dancytotoxic-associated gene A (CagA) merupakan faktor virulensi yang dihubungkan denganmanifestasi klinis yang berbeda. Kejadian infeksi ini sangat tinggi di negara berkembangyang dihubungkan dengan kondisi sosial ekonomi dan kebersihan lingkungan. Biakanbiopsi jaringan lambung merupakan uji diagnostik baku emas terhadap infeksi H. pylori.Uji urea napas sangat berguna untuk mengevaluasi eradikasi. Tingkat sensitivitas danspesifisitas pada uji serologi rendah pada masa anak-anak, sedangkan terapi eradikasiyang direkomendasi saat ini terdiri dari proton pump inhibitors (PPI) yang dikombinasidengan 2 jenis antibiotik (klaritromisin, amoksisilin atau metronidazol).
Konstipasi dan Faktor Risikonya pada Sindrom Down Ina Rosalina; Sjarif Hidayat
Sari Pediatri Vol 6, No 1 (2004)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (359.145 KB) | DOI: 10.14238/sp6.1.2004.10-5

Abstract

Konstipasi adalah keterlambatan atau kesulitan buang air besar yang terjadi 1 sampai 2kali per minggu atau lebih dari 3 hari secara berturut-turut. Angka kejadian konstipasipada anak bervariasi antara 2-20%, pada umumnya merupakan suatu gejala dari penyakit.Kegagalan dalam proses defekasi merupakan penyebab utama dari konstipasi dan hipotonimerupakan salah satu keadaan yang mengakibatkan terjadinya konstipasi tersebut.Sindrom Down merupakan kelainan kromosom yang dapat mengakibatkan terjadinyahipotoni pada seluruh sistem muskuloskeletal termasuk pada saluran cerna. Penelitianini bertujuan untuk mengetahui persentase sindrom Down yang menderita konstipasidan hubungan dengan faktor risikonya. Diagnosis sindrom Down ditegakkan berdasarkanpemeriksaan genetik di rumah sakit Hasan Sadikin, dibagi dalam tipe aberasi penuh dantipe mosaik. Pada subyek diberikan kuesioner terstruktur yang berisi pertanyaan yangberhubungan dengan konstipasi dan faktor risikonya, 50 kuesioner kembali ke peneliti.Subyek berusia 3 - 10 tahun ( 27 wanita dan 23 pria), konstipasi ditemukan pada 32%.Aberasi penuh lebih banyak yang menderita konstipasi (35%) dibanding dengan mosaik(25%). Encopresis ditemukan pada 30% pasien sedangkan soiling pada 26% pasien.Baik encopresis maupun soiling lebih banyak ditemukan pada tipe mosaik ( 58,5%;38%) dibanding aberasi penuh ( 26,7% ; 25%). Nyeri perut dan nyeri saat buang airbesar berhubungan dengan kejadian konstipasi (r:0,5, p:0,002 ; r:0,56, p:0,002). Aktifitasberlebihan dan soiling berhubungan dengan kejadian encopresis (r: 0.49, p:0,001; r:0,44,p:0,005). Gangguan saluran kemih dan pemakaian obat obatan berhubungan dengankejadian soiling (r: 0,38, p: 0,02; r:0,32, p:0,04). Kesimpulan, hampir setengah darisindrom Down mengalami konstipasi, encopresis dan soiling; sedangkan tidak jelas faktorrisiko mempengaruhi terjadinya konstipasi pada anak sindrom Down.
Infeksi Respiratorik Bawah Akut pada Anak Bambang Supriyatno
Sari Pediatri Vol 8, No 2 (2006)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp8.2.2006.100-6

Abstract

Infeksi respiratorik akut dibagi menjadi 2 kelompok besar yaitu infeksi respiratorikatas akut (IRAA) dan infeksi respiratorik bawah akut (IRBA), yang menjadi masalahutama adalah pneumonia dan bronkiolitis. Pneumonia merupakan ancaman baikkesakitan maupun kematian pada bayi khususnya bayi muda. Pengobatan utama adalahpemberian antibiotik yang sesuai dengan penyebabnya. Masalahnya adalah penyebabpneumonia sulit diketahui secara pasti karena tidak dilakukan kultur darah, sehinggapemberian antibiotik hanya berdasarkan empiris. Mengenai manfaat pemberian obatsuportif lain seperti vitamin A, Zn masih memerlukan penelitian lebih jauh. Sementaraitu bronkiolitis yang disebabkan oleh virus terutama RSV (respiratory syncitial virus)masih merupakan kendala bagi kesehatan anak di Indonesia; sehingga pengobatanbronkiolitis masih merupakan perdebatan yang panjang. Penggunaan antibiotik tidakdiperlukan, pemberian anti virus ribavirin, kortikosteroid sistemik, dan pemberianbronkodilator masih memerlukan analisis yang mendalam. Pernah dilaporkanpemberian RSVIG pada kasus yang berat, hasilnya masih belum memuaskan karenatidak berbeda bermakna dengan pemberian albumin disamping pengobatan suportiflainnya.
Pengaruh Konsumsi Beras Indeks Glikemik Rendah Terhadap Pengendalian Metabolik Diabetes Melitus Tipe-1 Vivekenanda Pateda; Lora Sri Nofi
Sari Pediatri Vol 10, No 5 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (149.017 KB) | DOI: 10.14238/sp10.5.2009.320-4

Abstract

Latar belakang. Pengendalian metabolik yang baik dapat mengurangi komplikasi diabetes mellitus tipe-1 (DMT1). Diet dengan indeks glikemik rendah menunjukkan perbaikan pengendalian glikemik secara bermakna. Pemeriksaan fruktosamin merupakan salah satu pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui kontrol metabolik pasien DMT1.Tujuan. Menilai perubahan kadar fruktosamin setelah mengkonsumsi beras herbal ponni dengan indeks glikemik rendah pada pasien DMT1Metode. Studi prospektif di Divisi Endokrinologi Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSUPN Cipto Mangunkusumo dengan sampel pasien DMT1 yang berusia ≥2 tahun. Dilakukan pengukuran berat badan, tinggi badan, analisis dan anjuran diet selama 2 minggu, serta pemeriksaan kadar fruktosamin sebelum dan sesudah pemberian beras herbal ponni. Kriteria eksklusi adalah penderita DMT1 yang sakit berat/dirawat di rumah sakit atau menolak ikut penelitian. Analisis data menggunakan uji t berpasangan atau uji Wilcoxon Signed Ranks.Hasil. Diantara 24 pasien didapatkan 11/24 memiliki riwayat keluarga DM, 19/24 memiliki riwayat ketoasidosis diabetes, 21/24 memakai insulin suntik secara teratur, dan hanya 9/24 anak yang mengawasi kadar gula darahnya secara teratur. Rerata kadar fruktosamin sebelum pemberian beras herbal ponni (506,6±134,2) sedangkan rerata kadar fruktosamin sesudah pemberian beras herbal ponni (458,1±106,7) (p< 0,01)Kesimpulan. Didapatkan penurunan kadar fruktosamin secara bermakna setelah dua minggu mengkonsumsi beras herbal ponni dengan indeks glikemik rendah pada pasien DMT1
Pola Pemberian ASI Tiga Hari Pertama dan Faktor yang Berhubungan dengan Keluarnya ASI Pertama di Rumah Sakit Fatmawati Jakarta 1998 Roostiati Sutrisno Wanda; Lukman Hakim Tarigan
Sari Pediatri Vol 3, No 1 (2001)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (413.696 KB) | DOI: 10.14238/sp3.1.2001.8-13

Abstract

Hampir semua ibu di Indonesia memberikan air susu ibu (ASI) kepada bayinya, namun hanya sebagian kecil saja yang memberikan ASI segera setelah lahir. Beberapa peneliti melaporkan bahwa di Indonesia proporsi ASI eksklusif selama 4 bulan pertama kelahiran sangat rendah. Salah satu penyebabnya adalah pemberian makanan tambahan (pre-lacteal food) yang terlalu cepat. Studi ini bertujuan untuk mengetahui pola menyusui ibu kepada bayinya selama 3 hari pertama di RS Fatmawati Jakarta. Untuk mencapai tujuan penelitian ini, telah dilakukan wawancara kepada 100 orang ibu yang baru melahirkan, pada dua hari pertama setelah melahirkan atau sebelum pulang dari rumah sakit. Hasil wawancara menunjukkan 25,6% responden mulai memberikan ASI pada satu jam setelah melahirkan dan 79,5% memberikan kolostrum kepada bayinya. Saat kapan pertama kali ibu menyusui bayinya tergantung dari perawatan payudara saat hamil dan saat kapan kunjungan pertama dari penyuluh kesehatan
Pertumbuhan Fisik Anak Obesitas Dini Lailani; Hakimi Hakimi
Sari Pediatri Vol 5, No 3 (2003)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp5.3.2003.99-102

Abstract

Anak yang mengalami obesitas pada usia pra pubertas memiliki tinggi badan di atasrata-rata anak seusianya. Penelitian mengenai hal ini menunjukkan bahwa anakmengalami masa pacu tumbuh yang lebih awal namun saat proses pertumbuhan hampirselesai kecepatan tersebut akan berkurang relatif dibandingkan anak normal, sehinggatinggi badan akhir anak saat dewasa tetap sama dengan rata-rata tinggi badan orangtuanya atau bahkan lebih pendek bila dibandingkan dengan anak yang tidak mengalamiobesitas pada masa pertumbuhannya. Dijumpai abnormalitas pada hormon yang berperandalam pertumbuhan linier pada anak yang mengalami obesitas yaitu pada aksis GHIGF,hormon seks steroid, dan glukokortikoid.
Hepatitis Akibat Penyakit Sistemik Dedy Gumilang Daulay; Supriatmo Supriatmo; Atan Baas Sinuhaji
Sari Pediatri Vol 8, No 4 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp8.4.2007.294-8

Abstract

Hati merupakan organ parenkim terbesar yang sering terlibat akibat penyakit sistemik.Pada beberapa penyakit sistemik, hati dapat lebih bertahan dibanding organ tubuhlainnya. Dalam mengevaluasi pasien dengan disfungsi dan penyakit sistemik, klinisiharus dapat membedakan apakah gangguan hati yang terjadi akibat penyakit sistemik,akibat obat yang digunakan dalam terapi penyakit sistemik tersebut ataupun bersamaandengan penyakit hati primer

Page 66 of 152 | Total Record : 1519


Filter by Year

2000 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue