cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 1,519 Documents
Sinobronkitis pada Anak Noenoeng Rahajoe
Sari Pediatri Vol 2, No 3 (2000)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp2.3.2000.146-54

Abstract

Batuk kronik berulang (BKB) merupakan masalah yang sering dijumpai dalam prakteksehari-hari di bidang kesehatan anak. Batuk kronik berulang adalah batuk yangberlangsung hampir tiap hari minimal 2 minggu berturut-turut dan atau berulang palingsedikit 3 episode dalam 3 bulan. Seluruh bagian dari sistem respiratorik - mulai darihidung hingga paru - merupakan satu kesatuan fungsional. Gangguan saluran napasatas dapat menyebabkan atau disertai dengan gangguan saluran napas bawah dansebaliknya. Ada hubungan timbal balik antara sinusitis dengan bronkitis, yang disebutsebagai sinobronkitis, bronkosinusitis, atau sindrom sinobronkial. Sinobronkitis dapatmengenai pasien dewasa maupun anak. Sinusitis adalah proses inflamasi pada mukosasinus paranasalis yang disebabkan oleh infeksi maupun non infeksi. Dalam patofisiologisinusitis ada 3 hal yang berperan yaitu (1) patensi ostium, (2) fungsi mukosilier, dan (3)kualitas sekret. Patogenesis sinusitis umumnya berhubungan dengan sumbatan padaostium, yang didahului oleh infeksi (virus, bakteri, atau jamur), alergi, atau kelainananatomi. Berbeda dengan orang dewasa, gejala sinusitis pada anak tidak khas. Kumanpatogen pada anak sama dengan yang didapatkan pada orang dewasa, yaitu Streptococcuspneumoniae, Haemophilus influenzae, dan Moraxella catharrhalis. Sinusitis seringmengikuti infeksi saluran napas atas akut oleh virus. Sinusitis sering didapatkan bersamadengan asma, hal ini dikaitkan dengan adanya postnasal drip, peningkatan blokadeadregenik beta, atau refleks nasobronkial melalui saraf vagus. Kelainan radiologis yangdapat ditemukan pada sinusitis adalah air fluid level, perselubungan, atau penebalanmukosa. Walaupun belum ada penelitian tersamar ganda dengan kelompok kontrol,namun antibiotik yang dapat digunakan untuk mengobati sinusitis adalah amoksisilin,amoksisilin-klavulanat, kotrimoksazol, eritromisin-sulfisoksazol, atau sefalosporin, selamaminimal 3 minggu.
Keputusan Klinik Dalam Penggunaan Antibiotik Taralan Tambunan
Sari Pediatri Vol 6, No 1 (2004)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp6.1.2004.52-6

Abstract

sejak era antibiotik modern dimulai tahun19361 telah banyak penyakit infeksi yangdapat diatasi, sehingga mortalitas menuruntajam. Berbagai penemuan antibiotikgolongan terbaru bermunculan sejalan denganperkembangan ilmu kedokteran. Saat ini lebih dari30% pasien yang dirawat di rumah sakit mendapatsatu atau lebih antibiotik selama perawatan. Data yangdiperoleh satu dekade yang lalu menyebutkan bahwaantibiotik adalah golongan obat yang dikonsumsiterbanyak di Indonesia yaitu sekitar 27% dari semuabiaya obat yang digunakan2. Survei sederhana yangdilakukan di Bagian Ilmu Kesehatan Anak-RSCMJakarta tahun 2001 menunjukkan bahwa 56% resepyang ditulis di poliklinik berisi satu atau lebihantibiotik. Angka tersebut menurun 1 tahunkemudian menjadi 42% setelah dilakukan beberapakali penyuluhan dan seminar penggunaan antibiotikyang rasional3. Di samping manfaat yang diperoleh,pemakaian antibiotik yang tidak terkendali dapatmembawa dampak yang merugikan.Berbagai data penelitian menyebutkan bahwaantibiotik adalah obat yang paling sering digunasalahkan(misused) oleh para dokter1, antara lainpemakaian antibiotik pada infeksi saluran nafas akutyang sebenarnya lebih dari 50% adalah infeksi virusyang tidak perlu pemberian antibiotik.4 Hal yangpaling mengkhawatirkan akhir-akhir ini adalah isuglobal munculnya kuman patogen yang resisten4, olehsebab itu para dokter terutama para klinikusdiharapkan bersikap bijaksana dan selektif dalampenggunaan obat, khususnya antibiotik.
Penyakit Respiratorik pada Anak dengan HIV Finny Fitry Yani; Arwin AP Akib; Bambang Supriyatno; Darmawan B. Setyanto; Nia Kurniati; Nastiti Kaswandani
Sari Pediatri Vol 8, No 3 (2006)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (105.355 KB) | DOI: 10.14238/sp8.3.2006.188-94

Abstract

Latar belakang. Kejadian AIDS pada anak meningkat seiring dengan peningkatan kasusdewasa. Gejala dan manifestasi klinis sering tidak khas, sehingga menyebabkanunderdiagnosis. Anak HIV sering datang dengan keluhan yang berasal dari infeksioportunistik, bahkan infeksi oportunistik banyak ditemukan sebagai penyebab kematian.Salah satu infeksi oportunistik yang sering terjadi adalah infeksi respiratorik.Tujuan penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pola penyakit respiratorikpada anak HIV yang dirawat di Bagian Ilmu Kesehatan RS Dr. Cipto Mangunkusumo(RSCM), Jakarta.Metoda. Data berasal dari rekam medis anak HIV tahun 2002-2005. Penelitiandilakukan dengan desain potong lintang. Kriteria inklusi adalah anak usia 0-13 tahun,dengan HIV positif dan menderita penyakit respiratorik. Data yang dicatat meliputiumur, jenis kelamin, faktor risiko, status gizi, parut BCG, diameter uji tuberkulin, riwayatkontak dengan pasien tuberkolosis, kategori HIV, diagnosis penyakit respiratorik,outcome. Data klinis khusus meliputi batuk kronik berulang, demam lama, sesak nafas,laboratorium rutin, foto torak, dan kadar CD4, PCR.Hasil. Sejak Januari 2002-Desember 2005, telah dirawat 85 anak yang terinfeksi HIV,dengan 13 orang (15,2%) di antaranya meninggal. Tiga belas orang (13/35) didiagnosisHIV berdasarkan serologi dan PCR, 24/35 hanya dengan serologi, dan 1/35 orang denganPCR. Sebanyak 38 (44,7%) orang menderita infeksi respiratorik dengan pola penyakit: TB47,3%, pneumonia 44,7%, pneumocytis corinii pneumonia (PCP) 13,1%. Pada penelitianini, didapatkan bahwa 3/38 (7,8%) anak HIV dengan penyakit paru meninggal karenapneumonia berat, dengan 2/3 di antaranya pada kelompok umur 1-5 tahun. Penyebabkematian lainnya adalah PCP 2/38 pasien (5,2%), dan tersangka sepsis pada 2 pasien (5,2%).Kesimpulan. Pada anak HIV, TB merupakan penyakit respiratorik terbanyak, diikutipneumonia, sedangkan penyebab kematian terbanyak adalah pneumonia. Penyakitrespiratorik pada anak HIV dapat menjadi pembuka jalan untuk diagnosis anak HIV.
Kejadian dan Tata Laksana Mukositis pada Pasien Keganasan di RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta Sri Mulatsih; Sri Astuti; Yuliani Purwantika; Julie Christine
Sari Pediatri Vol 10, No 4 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (104.72 KB) | DOI: 10.14238/sp10.4.2008.230-5

Abstract

Latar belakang. Salah satu penyakit keganasan yang banyak diderita pada anak adalah leukemia, mencapai30%-40% dari seluruh penyakit keganasan. Kemoterapi yang diberikan pada pasien leukemia dapat merusaksel-sel yang mempunyai aktivitas proliferasi berlebih, seperti sumsum tulang dan sel epitel mukosa mulutsehingga menyebabkan depresi sumsum tulang dan mukositis. Prevalensi mukositis yang terjadi pada pasienkeganasan sekitar 30% - 39%.Tujuan. Mengetahui apakah pengobatan mukositis yang telah diberikan di INSKA RSUP dr. Sardjito Yogyakartacukup efektif serta untuk memberikan rekomendasi tata laksana mukositis berdasarkan bukti ilmiah.Metode. Data mukositis diambil secara cross-sectional dengan observasi pada pasien keganasan yang mendapatkemoterapi di INSKA RSUP dr. Sardjito dan sudah mendapatkan perawatan nistatin drop dan triamsinolonorabase. Observasi dilakukan selama enam hari sejak tanggal 14 sampai dengan 20 juni 2007.Hasil. Dari 33 pasien keganasan yang diamati dijumpai 10 anak (30,3%) menderita mukositis dan 4 anak(12,12%) menderita kandidiasis.Kesimpulan. Perawatan mukositis dengan pemberian Candistin drop dan kenalog oral base pada pasienkeganasan di INSKA RS dr. Sardjito belum dapat disimpulkan efektivitasnya karena waktu pengamatanyang singkat. Penelitian akan dilanjutkan dengan pengamatan secara longitudinal dan dilakukan perawatanmukositis sesuai protokol perawatan gigi dan mulut sebelum, selama dan sesudah kemoterapi.
Artritis Idiopatik Juvenil Kesepakatan Baru Klasifikasi dan Kriteria Diagnosis Penyakit Artritis pada Anak Arwin AP Akib
Sari Pediatri Vol 5, No 2 (2003)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (200.239 KB) | DOI: 10.14238/sp5.2.2003.40-8

Abstract

Klasifikasi dan kriteria diagnosis penyakit reumatik anak sudah sering menimbulkankontroversi para peneliti dan ahli reumatologi. Dengan berkembangnya spesialisasireumatologi pediatri dalam ruang lingkup yang luas, maka berbagai ketidaksepahamantersebut sudah selayaknya diselesaikan dalam suatu kesepakatan. Prakarsa ILAR membuatnomenklatur baru AIJ di Santiago (1994) serta revisi Durban (1997) patut mendapatpenghargaan semua pihak karena diharapkan akan dapat menjadi pemersatu untukmempermudah komunikasi antar dokter dan peneliti.Kriteria AIJ diharapkan dapat mengidentifikasi kelompok homogen penderita artritispada anak, untuk mempermudah penatalaksanaan dan penentuan prognosis penderita,serta merancang dan melakukan penelitian di bidang re umatologi pediatri sepertimisalnya penelitian imunogenetik dan ilmu kedokteran dasar lainnya, epidemiologi,prognosis, dan uji terapetik. Walaupun pemakaian kriteria Durban di lapangan belumteruji dengan baik, laporan yang sudah ada menunjukkan bahwa tidak tertutupkemungkinan untuk melakukan revisi ulang kriteria AIJ. Dengan demikian makaterpulang kepada kita, apakah akan memakainya sekarang ataukah menunggu sampaikeluar revisi berikutnya yang sudah tentu lebih tahan uji.
Pengaruh Infeksi Cacing Usus yang Ditularkan Melalui Tanah pada Pertumbuhan Fisik Anak Usia Sekolah Dasar Charles D Siregar
Sari Pediatri Vol 8, No 2 (2006)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp8.2.2006.112-7

Abstract

Infeksi cacing usus yang ditularkan melalui tanah (soil transmitted helminthiasis)merupakan masalah dunia terutama di negara yang sedang berkembang. Diperkirakan 1milyar penduduk dunia menderita infeksi parasit cacing. Prevalensi pada anak usia sekolahdasar di Indonesia antara 60%-80%. Paling sering disebabkan oleh Ascaris lumbricoides,Trichuris trichiura dan cacing tambang. Infeksi cacing selain berpengaruh terhadappemasukan, pencernaan, penyerapan, serta metabolisme makanan, yang dapat berakibathilangnya protein, karbohidrat, lemak, vitamin dan darah dalam jumlah yang besar,juga menimbulkan gangguan respon imun, menurunnya plasma insulin like growthfactor (IGF)-1, meningkatkan kadar serum tumor necrosis factor a (TNF), danmenurunkan konsentrasi hemoglobin rerata. Di samping itu dapat menimbulkan berbagaigejala penyakit seperti anemi, diare, sindrom disentri dan defisiensi besi, sehingga anakyang menderita infeksi cacing usus merupakan kelompok risiko tinggi untuk mengalamimalnutrisi. Keadaan ini secara tidak langsung dapat menyebabkan gangguanpertumbuhan.
Pengukuran Cadangan Fungsi Ginjal Menggunakan Asupan Protein Hewani dan Protein Nabati pada Remaja Sehat Usia 13-18 Tahun di Panti Asuhan Bamadita Rahman, Lubang Buaya, Jakarta Timur Tania Nilamsari; Taralan Tambunan; Bambang Madiyono
Sari Pediatri Vol 10, No 2 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (266.71 KB) | DOI: 10.14238/sp10.2.2008.110-6

Abstract

Latar belakang. Cadangan fungsi ginjal (CFG) adalah salah satu cara mengevaluasi fungsi ginjal yang lebih akurat dibandingkan laju filtrasi glomerulus. Protein hewani sering digunakan sebagai pemicu ginjal pada uji coba CFG, sedangkan protein nabati kurang mampu memicu kerja ginjal.Tujuan. Membandingkan nilai CFG protein hewani dan nabati pada remaja sehat usia 13-18 tahun.Metode. Penelitian uji silang setelah pemberian terhadap 20 remaja sehat usia 13-18 tahun di Panti Asuhan Bamadita Rahman, Lubang Buaya, Jakarta Timur pada bulan mulai Februari-Maret 2007. Subjek akan mengkonsumsi protein hewani dan protein nabati dan kemudian masing-masing kelompok secara silang mengkonsumsi protein nabati dan hewani. Setelah mendapatkan asupan protein akan dipantau selama 4 jam disertai pengambilan darah pada jam ke-2, jam ke-3, dan jam ke-4.Hasil. Rerata CFG sangat berbeda antara kelompok dengan asupan protein hewani dengan nabati (minus vs 12,48%), namun perubahan nilai CFG nabati tidak bermakna (uji Friedman). Asupan protein nabati pada remaja putra lebih memicu kerja ginjal dibandingkan protein hewani (33,18 ml/menit/1,73m2 versus 21,2%) dan diperoleh perbedaan bermakna (p<0,01) nilai CFG antara remaja putra dan putri. Penelitian ini membuktikan asupan protein nabati mampu memicu kerja ginjal saat pengukuran CFG dibandingkan dengan protein hewani yang kurang mampu memicu, namun penyebabnya hingga saat ini masih belum dapat diterangkan.Kesimpulan. Asupan protein nabati mampu memicu kerja ginjal pada pengukuran CFG sedangkan protein hewani tidak. Rerata nilai CFG peserta pasca asupan nabati sebesar 12,3%.
Korelasi Kadar Ion Kalsium Serum dengan Dimensi, Fungsi Sistol dan Diastol Ventrikel Kiri pada Thalassemia Mayor dengan Hemosiderosis Ira Furnia; Dwi Prasetyo; Lelani Reniarti
Sari Pediatri Vol 17, No 3 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp17.3.2015.195-9

Abstract

Latar belakang. Kalsium berperan penting dalam kontraksi miokardium. Besi bebas/non-transferrin bound iron (NTBI) padathalassemia mayor (TM) dengan kelebihan besi (hemosiderosis) masuk ke dalam sel jantung menggunakan L-typ e calcium channel(LTCC) sehingga mengganggu transportasi kalsium.Tujuan. Menganalisis korelasi kadar ion kalsium serum dengan dimensi, fungsi sistol, dan diastol ventrikel kiri pada TM yangsudah mengalami hemosiderosis.Metode. Penelitian potong lintang dilaksanakan dari Desember 2014–Januari 2015 melibatkan 67 kasus TMusia 7–14 tahun yangdisertai hemosiderosis. Pemeriksaan kadar ion kalsium serum menggunakan metode ion selective electrode (ISE) dan pemeriksaandimensi serta fungsi jantung menggunakan ekokardiografi 2 dimensi, M-mode, dan Doppler oleh dokter spesialis kardiologi anak.Analisis korelasi dengan uji Spearman dan Pearson.Hasil. Uji korelasi Spearman menunjukkan korelasi negatif yang signifikan antara kadar ion kalsium serum dan left ventricularposterior wall thickness/LVPWd (r=-0,25; p=0,04). Uji korelasi Pearson menunjukkan korelasi negatif yang signifikan antara kadarion kalsium serum dan ejection fraction/EF (r=-0,294; p=0,016) serta fractional shortening/FS (r=-0,252; p=0,039), tetapi tidakdengan fungsi diastol (p>0,05).Kesimpulan. Semakin rendah kadar ion kalsium serum maka semakin tinggi nilai LVWP, EF, dan FS. Kadar ion kalsium serumtidak berkorelasi dengan fungsi diastol.
Clinical Guidelines (pedoman pelayanan klinis/medis) Alan R Tumbelaka
Sari Pediatri Vol 4, No 4 (2003)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (304.317 KB) | DOI: 10.14238/sp4.4.2003.204-6

Abstract

Dalam sepuluh tahun terakhir, pedomanklinis telah menjadi sesuatu alat yang sangaterat dengan praktek klinis kedokteran.Hampir setiap hari, keputusan klinis dikamar praktek, standar operasi di rumah sakit danklinik, serta kebijakan kesehatan pemerintah danperusahaan asuransi mendapat pengaruh atau asupandari pedoman klinis yang ada.Clinical guidelines didefinisikan sebagai aturan yangdibuat secara sistematis untuk membantu para praktisidalam penanganan pasien, untuk pelayanan kesehatanyang tepat dalam situasi yang spesifik. Pedoman inidapat berisi tentang cara pemilihan prosedur diagnostikmaupun skrining, cara memberikan pelayanan medismaupun bedah, seberapa lama pasien harus dirawat,dan rincian lainnya
Thalassemia Alfa Mayor dengan Mutasi Non-Delesi Heterozigot Ganda Dina Muktiarti; Pustika Amalia Wahidiyat; Ita M. Nainggolan; Iswari Setianingsih
Sari Pediatri Vol 8, No 3 (2006)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (818.812 KB) | DOI: 10.14238/sp8.3.2006.244-50

Abstract

Seorang anak perempuan berusia 3 tahun dengan gejala klinis anemia berat,hepatosplenomegali, dan memerlukan tranfusi darah teratur. Gejala klinis telah timbulsaat pasien berusia 3 bulan. Hapusan darah tepi menunjukkan gambaran hipokrom,mikrositosis, dan anisopoikilositosis. Kadar HbA2 normal, HbF sedikit meningkat, danterdapat HbBart’s. Ayah dan ibu memiliki gambaran hematologis yang mendekati normal.Analisis DNA menunjukkan dua mutasi non-delesi (mutasi titik) pada gen globin a2yaitu pada kodon 59 (GGCglisin→GACaspartat) dan IVS2-nt142 (AG→AA). Kasus ini adalahkasus pertama yang ditemukan di Departemen Ilmu Kesehatan Anak RS. Dr. CiptoMangunkusumo Jakarta yang mempunyai mutasi heterozigot ganda pada kodon 59 danIVS2-nt142. Gejala klinis thalassemia mayor diakibatkan adanya mutasi kodon 59 yangmenghasilkan varian hemoglobin yang tidak stabil (HbAdana) disertai adanya mutasinon-delesi pada IVS2-nt142 yang menyebabkan proses mRNA yang tidak normal.

Page 72 of 152 | Total Record : 1519


Filter by Year

2000 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue