cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 1,519 Documents
Perbedaan Fungsi Tiroid pada Epilepsi yang Mendapat Pengobatan Asam Valproat dan Karbamazepin Aniceto Cardoso Barreto; R.M Ryadi Fadil; Herry Garna
Sari Pediatri Vol 10, No 1 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp10.1.2008.66-70

Abstract

Latar belakang. Obat-obat antiepilepsi seperti asam valproat (AVP) dan karbamazepin (KBZ) mempengaruhifungsi tiroid dengan adanya perubahan kadar TSH (thyroid stimulation hormone) dan fT4 serum(free tetraiodothyroxine). Kadar AVP meningkatkan akumulasi GABA (gama amino-butiric acid) dalamhipofisis, hal ini diduga sebagai penyebab meningkatnya kadar TSH serum karena reseptor GABA-Amempunyai afinitas yang kuat terhadap TRH (thyroid releasing hormone) untuk mengeluarkan TSH.Karbamazepin meningkatkan induksi enzim sitokrom P450 hepar, akibatnya eliminasi hormon tiroiddapat meningkat.Tujuan. Mengetahui perbedaan kadar TSH dan fT4 serum anak epilepsi yang mendapat pengobatan AVPdibandingkan KBZ.Metode. Penelitian cross sectional terhadap 60 anak epilepsi (30 AVP dan 30 KBZ) yang memenuhi kriteriainklusi dan dipilih secara selektif sampling pada bulan Juni-Juli 2007 di Poliklinik Neuropediatrik AnakRSHS, kemudian dilakukan pemeriksaan kadar TSH dan fT4 serum. Perbedaan hasil kedua kelompokdianalisis dengan uji-t untuk data distribusi normal dan uji Mann-Whitney bila uji normalitas data tidakberdistribusi normal.Hasil. Pada kelompok AVP 12 (40%) anak perempuan dan 18 (60%) laki-laki. Tidak didapatkan perbedaankarakteristik antara kedua kelompok. Sembilan subjek mempunyai kadar TSH serum meningkat, satu subjekkadar fT4 serum rendah. Kelompok KBZ, 16 (53%) perempuan dan 14 (47%) laki-laki, dua subjek kadarfT4 serum di bawah normal sedangkan TSH serum normal. Kadar TSH serum kedua kelompok berbedabermakna (p=0,043), sedangkan kadar fT4 serum tidak berbeda (p=0,871).Kesimpulan. Obat asam valproat cenderung menyebabkan subklinik hipotiroid dibanding karbamazepin
Hubungan Antara Hepatotoksisitas dengan Usia, Status Gizi, dan Lama Pemberian Asam Valproat pada Anak Epilepsi Siti Aurelia Nurmalasari; Elisabeth S. Herini; Nenny Sri Mulyani
Sari Pediatri Vol 15, No 3 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (164.349 KB) | DOI: 10.14238/sp15.3.2013.186-9

Abstract

Latar belakang. Epilepsi masih merupakan penyakit yang banyak diderita masyarakat di seluruh dunia. Limapuluh juta orang diperkirakan menderita epilepsi di seluruh dunia dengan angka insiden tahunan berkisar 20–70 kasus per 100 000 penduduk, dan angka prevalensi 0,4%–0,8%. Prevalensi epilepsi yang tinggi secara langsung akan berimbas penggunaan asam valproat tinggi, dan dapat meningkatkan risiko dampak hepatotoksisitas.Tujuan. Mengetahui hubungan antara usia, status gizi, lama terapi dengan kejadian hepatotoksisitas pada anak epilepsi yang mendapatkan terapi asam valproat.Metode. Penelitian desain potong lintang. Data diambil pada bulan September – November 2011 di RSUP DR. Sardjito, Yogyakarta. Kriteria inklusi adalah anak epilepsi usia <18 tahun yang mendapat terapi asam valproat paling sedikit 3 bulan di Poliklinik Rawat Jalan, serta bersedia mengikuti penelitian. Kriteria eksklusi adalah anak yang menderita penyakit hati sebelumnya. Data diolah menggunakan korelasi Pearson dan Spearman.Hasil. Tidak ada hubungan antara usia, status gizi, lama terapi dengan hepatotoksisitas yang ditandai dengan peningkatan kadar ALT pada anak epilepsi yang menggunakan asam valproat (r=-0,009, p= 0,946; r=-0,198, p=0,136 dan r=0,009, p=0,947).Kesimpulan. Usia, status gizi, dan lama terapi tidak berhubungan dengan hepatotoksisitas pada anak epilepsi yang mendapatkan terapi asam valproat.
Asma pada Anak Arwin AP Akib
Sari Pediatri Vol 4, No 2 (2002)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp4.2.2002.78-82

Abstract

Asma pada anak mempunyai berbagai aspek khusus yang umumnya berkaitan denganproses tumbuh dan kembang seorang anak, baik pada masa bayi, balita, maupun anakbesar. Peran atopi pada asma anak sangat besar dan merupakan faktor terpenting yangharus dipertimbangkan dengan baik untuk diagnosis dan upaya penatalaksanaan.Mekanisme sensitisasi terhadap alergen serta perkembangan perjalanan alamiah penyakitalergi dapat memberi peluang untuk mengubah dan mencegah terjadinya asma melaluikontrol lingkungan dan pengobatan pada seorang anak. Pendidikan pada pasien dankeluarga merupakan unsur penting penatalaksanaan asma pada anak yang bertujuanuntuk meminimalkan morbiditas fisis dan psikis serta mencegah disabilitas. Upayapengobatan asma anak tidak dapat dipisahkan dari pemberian kortikosteroid yangmerupakan anti-inflamasi terpilih untuk semua jenis dan tingkatan asma. Pemberiankortikosteroid topikal melalui inhalasi memberikan hasil sangat baik untuk mengontrolasma tanpa pengaruh buruk, walaupun pada anak kecil tidak begitu mudah untukdilakukan sehingga masih memerlukan alat bantu inhalasi.
Nefritis Lupus dengan Perdarahan Intrakranial pada Anak M. Tatang Puspanjono; Sudung O. Pardede; Partini P. Trihono,; Taralan Tambunan
Sari Pediatri Vol 7, No 4 (2006)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp7.4.2006.219-24

Abstract

Lupus eritematosus sistemik (LES) merupakan penyakit imunologik yang mengenaibeberapa organ seperti sendi, kulit, ginjal, otak, dan organ lain. Kelainan susunan sarafpusat dapat berupa penurunan kesadaran, kejang, atau stroke. Perdarahan intrakranialjarang dilaporkan.Dilaporkan seorang anak laki-laki berumur 14 tahun, dirawat di Rumah Sakit Dr. CiptoMangunkusumo (RSCM) dengan nefritis lupus. Pada usia 9 tahun, pasien didiagnosissebagai auto-immune hemolytic anemia dan LES. Pasien diobati dengan metilprednisolonoral, tranfusi packed red cell berkala, dan terapi suportif lainnya, tetapi tidak adekuat.Lima tahun kemudian, badan pasien bengkak dan buang air kemih kemerahan. Pasiensadar, tekanan darah 140/100 mmHg, ruam kupu-kupu (-), hepatosplenomegali, edemapalpebra dan tungkai. Urinalisis: protein +3, leukosit 4-5/LPB, eritrosit 80-100/LPB.Darah: Hb 6,9 g/dl; leukosit 4600/ul, HJ 1/76/22/1, trombosit 294.000/ul; LED 30mm/jam; ureum 66 mg/dl, kreatinin 1,3 mg/dl, albumin 2,4 g/dl, kolesterol 145 mg/dl; sel LE (-), C3 26 mg/dl, C4 6 mg/dl, ANA (+), anti ds-DNA 2459 IU/ml. Biopsiginjal tidak dilakukan karena hepatosplenomegali. Pasien diberi diet nefritis, furosemid,antihipertensi, siklofosfamid puls 500 mg/m2LPB. Pasca pemberian siklofosfamid puls,tekanan darah terkontrol. Satu bulan kemudian, sewaktu hendak pemberian siklofosfamidpuls berikut, pasien menunjukkan gejala hipertensi krisis dengan tekanan darah 180/120 mmHg yang teratasi dengan nifedipin, furosemid, kaptopril, dan suportif lainnya.Ureum dan kreatinin normal. Satu hari kemudian pasien kejang tonik, sopor, tekanandarah 140/100 mmHg, pupil anisokor, paresis nervus III kanan dan nervus VI kiri,hemiparesis kanan. Pada funduskopi tampak edema papil kanan. CT scan kepalamemperlihatkan perdarahan intraserebral kanan, intraventrikuler, dan ventrikulomegali.Tindakan operatif tidak dapat dilakukan dan pasien meninggal. Kesimpulan: perdarahanintrakranial sebagai komplikasi nefritis lupus dapat disebabkan hipertensi atauvaskulopati/vaskulitis.
Penggunaan Cyclophosphamide Pulse pada Sindrom Nefrotik Resisten Steroid di Bagian Ilmu Kesehatan Anak Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Kariadi, Semarang M Herumuryawan; Gondo Purwadi; Rochmanadji Widajat
Sari Pediatri Vol 9, No 5 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (298.81 KB) | DOI: 10.14238/sp9.5.2008.309-13

Abstract

Latar belakang. Sindrom nefrotik resisten steroid (SNRS) adalah Sindrom Nefrotik (SN) yang gagalmencapai remisi dengan prednison full dose selama 4 minggu. Berdasarkan Konsensus tatalaksana SNIdiopatik UKK Nefrologi IDAI 2005, pengelolaan SNRS menggunakan cyclophosphamide pulse dosis500 mg/m2 1 bulan sekali ditambah methylprednisolone alternate dose (AD) selama 6 bulan. Dilaporkanpengelolaan SNRS di RSUP Dr. Kariadi Semarang dengan Cyclophosphamide pulse.Tujuan. Melaporkan pengalaman pengelolaan SNRS menggunakan cyclophosphamide pulse dosis 500mg/m2 1 bulan sekali ditambah methylprednisolone alternate dose, selama 6 bulanMetode. Desain studi retrospektif. Data sekunder diambil dari catatan medik pasien SNRS yang memenuhikriteria dalam kurun waktu antara tahun 2006 – 2007. Data yang dikumpulkan meliputi umur, jeniskelamin, hasil pengobatan, dan efek samping pengobatan. Analisa statistik secara diskriptif.Hasil. Pada periode ini dijumpai 11 kasus SNRS, yang terdiri dari 5 laki-laki dan 6 perempuan, umur 2- 13 tahun (rata-rata 7,5 tahun). Dari 11 kasus, 4 kasus dengan proteinuria tetap positif setelah pengobatan3 bulan. Remisi dicapai pada 7 kasus (63,6%) setelah pengobatan 3 bulan pertama. Pencapaian remisisetelah terapi penuh selama 6 bulan sebanyak 6 kasus ( 54,5% ). Didapatkan efek samping hematurimikroskopik selama pengobatan pada 1 kasus. Terapi pada seri kasus ini sesuai Konsensus Tata laksanaSN Idiopatik UKK Nefrologi IDAI 2005, tetapi berbeda dengan penelitian lain apabila 3 bulan pertamaproteinuria persisten, dosis cyclophosphamide pulse dinaikkan 750 mg/m2 1 bulan sekali selama 3 bulanditambah methylprednisolone dengan dosis sama dengan dosis 3 bulan pertama.Kesimpulan. Pada penelitian ini sebagian besar kasus SNRS yang dikelola dengan cyclophosphamide pulsedi tambah methylprednisolone AD selama 6 bulan dapat mencapai remisi
Hubungan antara Faktor Risiko pada Ibu dan Kondisi Neonatus dengan Jumlah Eritrosit Berinti pada Neonatus Tunggal Cukup Bulan di RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo Ellya Marliah; Rinawati Rohsiswatmo; Djajadiman Gatot
Sari Pediatri Vol 10, No 5 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp10.5.2009.345-50

Abstract

Latar belakang. Jumlah eritrosit berinti (EB) pada neonatus berpotensi menjadi prediktor kondisineonatus, seperti perlunya perawatan intensif. Hal tersebut belum pernah diteliti di RSUPN CiptoMangunkusumo.Tujuan. Mengetahui hubungan antara faktor-faktor risiko pada ibu dan kondisi neonatus dengan jumlahEB pada neonatus tunggal cukup bulan.Metode. Studi potong lintang analitik pada neonatus tunggal cukup bulan dan ibunya antara bulan Maretsampai Juni 2008 di Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI – RSCM. Penghitungan jumlah EB dilakukanpada sediaan apusan darah tepi yang diambil dari vena tali pusat dan dihitung per 100 leukosit.Hasil. Didapatkan 117 pasang ibu melahirkan dan neonatus tunggal cukup bulan antara bulan April -Mei 2008. Rerata usia ibu saat melahirkan adalah (28,9+6,38) tahun (rentang 17-42 tahun). Rerata usiagestasi 38 minggu dan rerata berat lahir 3,051 g dengan rentang (1,900-4,100) g. Peningkatan jumlahEB didapatkan pada 39,3% neonatus. Rerata jumlah EB (4,7+4,29) (0-22 EB) per 100 leukosit. NilaiEB 4 memberikan sensitivitas dan spesifisitas terbaik, yaitu 73,3% dan 65,7% dengan area under thecurve (AUC) 0,771.Kesimpulan. Terdapat hubungan bermakna antara riwayat ibu perokok pasif, nilai Apgar menit pertamayang rendah, terdapat mekonium pada air ketuban, dan perawatan intensif neonatus dengan jumlah EB.Peningkatan jumlah EB dapat dipakai untuk menentukan kemungkinan bayi akan mendapat perawatandi ruang intensif. Penelitian lanjutan perlu dilakukan terhadap masing-masing faktor risiko kehamilandan persalinan terhadap jumlah EB untuk memahami patogenesis hipoksia pada neonatus sehingga dapatdirencanakan upaya-upaya preventif.
Peran Asthma Control Test (ACT) dalam Tata laksana Mutakhir Asma Anak Heda Melinda Nataprawira
Sari Pediatri Vol 9, No 4 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp9.4.2007.239-45

Abstract

Asma adalah penyakit kronik yang sampai saat ini belum dijumpai obat yang bisa menyembuhkannya.Maka tidak ada istilah sembuh untuk asma, namun asma dapat terkontrol. Strategi tata laksana asma saatini lebih menitikberatkan pada mengontrol asma secara klinis daripada menentukan klasifikasi derajatpenyakit serta tata laksana serangan akut. Untuk mengontrol asma diperlukan suatu alat sederhana danpraktis yang dapat digunakan dalam praktek sehari-hari dan salah satunya adalah asthma control test(ACT). Untuk anak usia 4-11 tahun, ACT memuat empat pertanyaan yang dapat diisi oleh anak dan tigapertanyaan yang diisi orangtua apabila skor >20 dinyatakan asma terkontrol. Untuk usia >12 tahun terdapatlima pertanyaan yang diisi oleh anak. Skor 25 berarti asma anak terkontrol total, sedangkan skor 20-24dinyatakan on target yang berarti asma terkontrol baik tetapi belum mencapai terkontrol total. Apabilaskor <20 menunjukkan off target yang berarti asma tidak terkontrol. Setelah asma terkontrol, pengawasansecara berkala tetap diperlukan.
Obesitas Sebagai Faktor Risiko Sindrom Syok Dengue Elmy S; BNP Arhana; IKG Suandi; IGL Sidiartha
Sari Pediatri Vol 11, No 4 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp11.4.2009.238-43

Abstract

Latar belakang. Beberapa peneliti melaporkan bahwa anak obese memiliki risiko mengalami SSD (sindrom syok dengue) lebih tinggi dibandingkan anak non-obese, walaupun hal ini masih kontroversial.Tujuan. Mengetahui risiko SSD pada anak obese dibandingkan dengan anak non-obese.Metode. Rancangan kasus kontrol telah dilakukan terhadap 51 anak SSD sebagai kasus dan 51 anak DBD (demam berdarah dengue) non syok sebagai kontrol. Data diambil dari rekam medik pasien anak berumur kurang dari 12 tahun dengan DBD dan SSD dan dirawat inap di bagian anak, Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar periode tanggal 1 Januari sampai 31 Juli 2008. Obese dan non-obese ditentukan berdasarkan pengukuran berat badan per tinggi badan. Risiko ditentukan dengan menghitung rasio odds dan analisis multivariat dilakukan terhadap faktor-faktor yang berpengaruh terhadap SSD. Tingkat kemaknaan yang diinginkan apabila p<0,05 dan interval kepercayaan 95%.Hasil. Rerata umur subjek pada kasus (7,5±2,5) tahun, kontrol (7,7±2,9) tahun (p=0,767). Jenis kelamin laki-laki 26 (51%), kontrol 27 orang (52,9 %)(p=0,843). Infeksi sekunder 84,3% dan 64,7% pada kontrol (p=0,693). Pasien obese yang mengalami SSD 78,9% pada non-obese 43,4% (p=0,005), rasio odds 4,9 (IK 95% 1,5–16,0). Pada analisis multivariat, didapatkan hanya status gizi yang bermakna berpengaruh terhadap terjadinya SSD dengan p=0,009.Kesimpulan. Obesitas adalah faktor risiko terjadinya syok pada DBD. Risiko SSD pada anak obese 4,9 kali lebih besar dibandingkan dengan anak non-obese.
Pencegahan Penyalahgunaan Narkotika dan Obat Terlarang Hardiono D Pusponegoro
Sari Pediatri Vol 3, No 3 (2001)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp3.3.2001.157-62

Abstract

Pencegahan penyalahgunaan narkotika dan obat terlarang bertujuan untuk mencegah,memperlambat atau mengurangi masalah yang terjadi akibat penyalahgunaan. Programpencegahan dirancang sesuai dengan populasi yang dituju. Program pencegahan universalberlaku untuk seluruh masyarakat, program pencegahan selektif ditujukan pada keluargadan anak risiko tinggi, sedangkan pencegahan terindikasi ditujukan terhadap kasus khususdalam suatu keluarga yang disfungsional. Masing-masing program tersebut dapatdilakukan di berbagai tempat misalnya di rumah, sekolah, komunitas, tempat kerja danlain-lain. Program-program pencegahan terbaik dirancang dan dibuat berdasarkan teoridan data yang memperhatikan faktor risiko dan faktor protektif.
Masalah pada Tata Laksana Anemia Aplastik Didapat Isyanto Isyanto; Maria Abdulsalam
Sari Pediatri Vol 7, No 1 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp7.1.2005.26-33

Abstract

Anemia aplastik adalah kegagalan sumsum tulang baik secara fisiologis maupun anatomis.Penyakit ini ditandai oleh penurunan atau tidak ada faktor pembentuk sel darah dalamsumsum tulang, pansitopenia darah perifer, tanpa disertai hepatosplenomegali ataulimfadenopati. Penanganan anemia aplastik masih merupakan masalah yang penting karenapatofisiologi penyakit ini masih belum pasti. Tata laksana anemia aplastik terdiri dari tatalaksana suportif terhadap keadaan yang disebabkan oleh pansitopenia seperti anemia, infeksidan perdarahan, serta tata laksana serta pengobatan yang bertujuan untuk mengganti selinduk yang gagal dalam memproduksi sel-sel darah dan menekan proses imunologis yangterjadi. Tata laksana kuratif terdiri dan transplantasi sumsum tulang dan penggunaanobat-obat imunosupresan. Namun demikian tata laksana anemia aplastik baik yang bersifatsuportif maupun kuratif, dapat menimbulkan masalah-masalah yang mempengaruhiprognosis pasien. Prognosis pasien anemia aplastik umumnya buruk, sekitar dua pertigapasien meninggal setelah 6 bulan diagnosis ditegakkan sebagai anemia aplastik.

Page 73 of 152 | Total Record : 1519


Filter by Year

2000 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue