cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 1,519 Documents
Telaah Kritis Makalah Uji Klinis Partini Pudjiastuti Trihono
Sari Pediatri Vol 4, No 1 (2002)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (148.444 KB) | DOI: 10.14238/sp4.1.2002.45-8

Abstract

Evidence based medicine (EBM) ialah suatu carapendekatan untuk memanfaatkan buktimutakhir yang sahih dalam tatalaksana pasien.Untuk dapat memanfaatkan bukti mutakhirdiperlukan kemampuan untuk melakukan telaah kritisterhadap makalah atau hasil penelitian orang lainsebelum kita mengadopsi hasil penelitian tersebut. Carapendekatan EBM mengajarkan pokok-pokok untukmelakukan telaah kritis terhadap sebuah makalahdengan 3 patokan yang disingkat sebagai VIA, yaitu:"Validity" atau kesahihan penelitian, "Important" yangberarti pentingnya hasil penelitian, serta "Applicability"penerapan (aplikasi) hasil penelitian tersebut padalingkungan kita
Penanganan Nyeri pada Keganasan Damayani Farastuti; Endang Windiastuti
Sari Pediatri Vol 7, No 3 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (234.876 KB) | DOI: 10.14238/sp7.3.2005.153-9

Abstract

Kasus seorang anak dengan retinoblastoma residif mata kiri stadium IV yang tidakresponsif dengan sitostatika. Dalam perjalanan penyakitnya, masa tumor makinmembesar dan menimbulkan keluhan nyeri. Nyeri pada pasien ini dapat disebabkanoleh aktivitas nosiseptor akibat regangan dan destruksi tulang, dan nyeri neuropatikakibat penekanan pada saraf di sekitar tumor. Penanganan nyeri dimulai denganpemberian preparat AINS (anti inflamasi non steroid) yaitu natrium diklofenak danparasetamol namun tidak dapat mengatasi keluhan pasien. Pasien kemudian diberikantramadol supositoria dan natrium diklofenak gel.Masa tumor yang terus membesar membuat frekuensi dan intensitas nyeri yangdirasakan bertambah hebat, dan tidak dapat lagi diatasi dengan terapi AINS. Pasienmengalami gangguan tidur, nafsu makan, dan juga menjadi sangat rewel. Berdasarkanrekomendasi WHO, maka terapi yang harus diberikan selanjutnya adalah golonganopioid kuat. Pasien diberi morfin oral 2 mg, 3 kali sehari, tramadol supositoria, dannatrium diklofenak gel. Keluhan nyeri teratasi dengan obat-obat tersebut. Tiga minggukemudian, pasien kembali mengalami nyeri hebat. Hal ini disebabkan karena ibutidak memberikan obat sesuai dengan jadwal yang dianjurkan, dengan alasan takutterjadi ketergantungan pada morfin. Dalam hal ini, peran dokter untuk memberikaninformasi sejelas-jelasnya sangat penting, mencakup alasan pemberian morfin, dosis,efek samping, dan kemungkinan toleransi.
Luaran Pengobatan Fase Induksi Pasien Leukemia Limfoblastik Akut pada Anak di Rumah Sakit Umum Dr. Soetomo Surabaya Widiaskara IM; Bambang Permono; Ugrasena IDG; Mia Ratwita
Sari Pediatri Vol 12, No 2 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp12.2.2010.128-34

Abstract

Latar belakang. Kasus baru leukemia limfoblastik akut (LLA) menduduki peringkat pertama keganasanpada anak di RSU Dr. Soetomo – SurabayaTujuan. Mengetahui gambaran klinis, laboratorium, dan melihat hasil aspirasi sumsum tulang pada faseinduksi pada pasien LLAMetode. Penelitian menggunakan rancangan deskritif, secara retrospektif menggunakan catatan medisterhadap pasien LLA selama 1 tahun (1 Januari 2006 s/d 31 Desember 2006). Semua pasien berumur<15 tahun yang pertama kali didiagnosis sebagai LLA dan belum mendapat terapi sitostatik. Pengobatanmenggunakan protokol Indonesia tahun 2006.Hasil. Didapatkan 82 pasien baru, umur 4 bulan – 15 tahun, sebagian besar berumur antara 2 – 5 tahun.Gambaran klinis berupa demam 70,7%, pucat 50%, perdarahan 62,1%, hepatomegali 60,9%, splenomegali52,4%. Pada aspirasi sumsum tulang fase induksi didapatkan remisi 33(48,5%), non remisi 10 (14,7%)dan meninggal 25 (36,8%), sisanya tidak dikerjakan oleh karena menolak sitostatik 6 pasien dan pulangpermintaan keluarga 8 pasien.Kesimpulan. Aspirasi sumsum tulang fase induksi didapatkan remisi 48,5 %, meninggal 36,8% dan nonremisi 14,7%. Pasien LLA dengan risiko tinggi mempunyai angka kematian 2 kali lebih tinggi daripadarisiko standar, dan penyebab kematian tersering adalah infeksi 19 (76%).
Perbandingan Kadar Vitamin D [25 Hidroksivitamin D] Pada Anak Sakit Kritis dan Nonkritis Sri Utami; Alex Chairulfatah; Kusnandi Rusmil
Sari Pediatri Vol 16, No 6 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp16.6.2015.434-40

Abstract

Latar belakang. Vitamin D berperan dalam fungsi pertahanan tubuh sehingga defisiensi vitamin D berhubungan dengan derajat keparahan penyakit.Tujuan. Membandingkan kadar vitamin D pada anak sakit kritis dan nonkritis.Metode. Penelitian potong-lintang dengan subjek terdiri atas 25 anak sakit kritis dan 25 anak sakit nonkritis. Kadar vitamin D dianalisis dengan Uji Mann Whitney, Uji Kolmogorov-Smirnov, dan Uji Korelasi Spearman. Kemaknaan dinyatakan pada p <0,05.Hasil. Kadar vitamin D serum rerata pada kelompok kritis dan non kritis masing-masing 11,46 ng/mL dan 25,98 ng/mL (p<0,001). Pada kelompok kritis ditemukan 22/25 subjek mengalami defisiensi dan 3/25 insufisiensi. Pada kelompok nonkritis ditemukan 6/25 subjek mengalami defisiensi, 7/25 insufisiensi, dan 12/25 pasien dengan kadar normal (p<0,001). Pada uji korelasi didapatkan koefisien korelasi (r) = -0,624 (p<0,001).Kesimpulan. Kadar vitamin D serum rerata pada sakit kritis lebih rendah daripada nonkritis dan terdapat korelasi kuat antara sakit kritis dan vitamin D rendah
Hubungan antara Kadar Seng dalam Serum dengan Fungsi Eksekutif pada Anak dengan Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH) Rivo Mario Warouw Lintuuran; Tjhin Wiguna; Nurmiati Amir; Agung Kusumawardhani
Sari Pediatri Vol 17, No 4 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (220.58 KB) | DOI: 10.14238/sp17.4.2015.285-91

Abstract

Latar belakang. Belum ada hubungan yang jelas antara kadar seng serum dengan gangguan fungsi eksekutif pada anak dengan GPPH.Tujuan. Mengidentifikasi perbedaan rerata kadar seng dalam serum anak GPPH dengan gangguan dan tanpa gangguan fungsi eksekutif, anak non-GPPH, serta mendapatkan korelasi antara kadar seng dalam serum dengan fungsi eksekutif.Metode. Penelitian potong-lintang yang disertai dengan kelompok kontrol. Dari dua sekolah dasar di Jakarta, secara acak diambil 90 anak sebagai subjek penelitian yang terbagi dalam 3 kelompok, yaitu anak GPPH dengan gangguan (n=30) dan tanpa gangguan (n=30) fungsi eksekutif, serta non-GPPH (n=30). Kadar seng serum diperiksa dengan metode ICP-MS di Laboratorium Prodia Jakarta. Fungsi eksekutif didapatkan melalui kuesioner BRIEF versi Bahasa Indonesia. Analisis data menggunakan SPPS for Windows versi 20.Hasil. Dari seluruh subjek penelitian, 75% mengalami defisiensi seng. Kadar seng tidak normal terdapat pada 60% anak GPPH dengan gangguan fungsi eksekutif. Rerata serum seng pada kelompok anak GPPH dengan gangguan dan tanpa gangguan fungsi eksekutif, serta non-GPPH berturut-turut 59,40, 55,36, dan 52,93 μg/dL. Tidak dijumpai perbedaan rerata seng di antara tiga kelompok tersebut (p=0,119). Koefisien korelasi antara kadar seng serum dengan fungsi eksekutif adalah r=0,128.Kesimpulan. Kadar seng serum diduga tidak berhubungan secara langsung dengan gangguan fungsi eksekutif, tetapi lebih berhubungan dengan gejala klinis GPPH yang menyerupai beberapa gejala gangguan fungsi eksekutif
Hubungan Kadar Matriks Metaloproteinase-2 Serum dan Skor Aspartate To Platelet Ratio Index untuk Menilai Fibrosis Hati antara Penyandang Thalassemia yang Mendapat Terapi Kelasi Besi Deferoksamin dan Deferipron Asep Aziz Asopari; Dwi Prasetyo; Budi Setiabudiawan
Sari Pediatri Vol 16, No 1 (2014)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp16.1.2014.57-63

Abstract

Latar belakang. Penyandang thalassemia secara progresif akan mengalami keadaan kelebihan besi yang dapat menyebabkan terbentuknya peroksidase lipid dan merusak sel hati sehingga terbentuk fibrosis hati. Terapi kelasi besi bertujuan untuk mengurangi kelebihan besi.Tujuan. Mengetahui hubungan kadar MMP-2 serum dan peningkatan skor APRI untuk menilai fibrosis hati antara penyandang thalassemia yang mendapat terapi kelasi besi deferoksamin dengan deferipron.Metode. Penelitian potong lintang dilaksanakan dari Juli–Agustus 2013, dilibatkan 42 penyandang thalassemia usia 2,5–14 tahun yang mendapat terapi kelasi besi deferoksamin dan deferipron. Kadar MMP-2 serum diperiksa dengan metode ELISA dan perhitungan skor APRI dengan Rumus Wai. Perbedaan dan korelasi ditentukan antara varibel dengan uji Mann-Whitney dan Rank Spearmann. Analisis kovariat digunakan untuk menghilangkan faktor perancu.Hasil. Terdapat 44 subjek, 22 mendapat terapi kelasi besi deferoksamin dan 22 deferipron. Kadar MMP-2 serum kelompok deferipron lebih rendah (130ng/mL) dibandingkan deferoksamin (314ng/mL). Skor APRI kelompok deferipron rata-rata lebih tinggi (1,584) dibanding deferoksamin (0,575). Perbedaan skor APRI dan kadar MMP-2 serum kedua kelompok sangat bermakna (p<0,001). Terdapat korelasi negatif antara kadar MMP-2 serum dan skor APRI, yaitu semakin tinggi skor APRI maka semakin rendah kadar MMP-2 serum penyandang thalassemia yang mendapat terapi kelasi besi deferipron dan deferoksamin (r=-0,726, p=<0,001).Kesimpulan. Penurunan kadar MMP-2 serum dan peningkatan skor APRI untuk menilai fibrosis hati pada kelompok terapi kelasi besi deferipron lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok deferoksamin serta terdapat korelasi negatif antara kadar MMP-2 serum dan skor APRI
Hubungan Kadar Hepcidin dengan Status Besi pada Inflamasi Akibat Obesitas Nadirah Rasyid Ridha; Dasril Daud
Sari Pediatri Vol 16, No 3 (2014)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp16.3.2014.161-6

Abstract

Latar belakang. Angka kejadian obesitas yang tinggi cenderung mengalami komplikasi jangka panjang, yaitu penyakit kardiovaskular, diabetes mellitus, dan gangguan homeostasis besi.Tujuan. Menilai hubungan kadar hepcidin dengan status besi akibat inflamasi pada anak obesitas.Metode. Telah dilakukan penelitian dengan desain potong lintang mengenai hubungan kadar hepcidin dengan status besi (feritin, sTfR) pada anak obesitas (IL-6, Hs-CRP). Subjek berasal dari siswa SMP Z di Makassar yang memenuhi kriteria inklusi. Penelitian berlangsung dari September sampai November 2012. Analisis statistik menggunakan uji student t dan Mann Whitney U dengan nilai kemaknaan p=0,05.Hasil. Jumlah subjek yang memenuhi kriteria inklusi 20 anak obes, 20 superobes, dan 35 berat badan normal. Hasil analisis statistik menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna rerata kadar hepcidin pada obes dengan berat badan normal (p=0,850), tetapi terdapat perbedaan bermakna rerata kadar hepcidin pada superobes dengan berat normal (p=0,012), rerata IL-6 antara obes dengan berat normal (p=0,01), superobes dengan berat normal (p=0,000), rerata hs-CRP antara obes dengan berat normal (p=0,004), superobes dengan berat normal (p=0,011). Tidak terdapat perbedaan bermakna rerata feritin dan sTfR antara superobes dan obes dengan berat normal (p=0,05).Kesimpulan. Pada anak superobes, terjadi peningkatan kadar hepcidin akibat inflamasi tetapi belum menyebabkan gangguan status besi. Sementara itu, pada obes terjadi inflamasi, tetapi belum menyebabkan peningkatan kadar hepcidin
Penundaan Penjepitan Tali Pusat pada Bayi Baru Lahir Cukup Bulan Sorayah Agustini; Rosalina D Roeslani
Sari Pediatri Vol 17, No 5 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp17.5.2016.384-390

Abstract

Latar belakang. Penundaan penjepitan tali pusat selain dapat meningkatkan cadangan zat besi, juga dapat meningkatkan transfer sel induk (stem cells) ke bayi. Penundaan penjepitan tali pusat pada bayi kurang bulan dapat mengurangi kebutuhan transfusi darah, mencegah intraventricular haemorrage (IVH), dan mencegah hipotensiTujuan. Mengetahui pengaruh penundaan penjepitan tali pusat pada bayi baru lahir cukup bulan untuk mencegah anemia dan meningkatkan cadangan besi.Metode. Penelusuran pustaka database elektronik, yaitu Pubmed, Cochrane, Highwire.Hasil. Terdapat tiga meta-analisis yang relevan dengan permasalahan. Penjepitan tali pusat tunda dilakukan minimal dua menit setelah bayi lahir, sedangkan penjepitan tali pusat dini dilakukan segera setelah lahir. Didapatkan rerata Hb bayi dengan penjepitan tali pusat tunda lebih tinggi dibanding penjepitan dini pada usia tujuh jam (WMD 0,6 g/dL; IK95% 0,11-1,09) dan usia 3 bulan (weighted mean difference=WMD 1,1 g/dL; IK95% 0,66 -1,54). Perbedaan rerata Hb ini tidak bermakna pada usia enam bulan11 (WMD 0 g/dL; IK 95% 0,21- 0,21). Risiko bayi dengan penjepitan tali pusat tunda mengalami anemia lebih rendah dibanding bayi dengan penjepitan dini pada usia 24 sampai 48 jam (relative risk=RR 0,2; IK 95% 0,06 -0,66). Bayi dengan penjepitan tali pusat tunda memiliki peningkatan kadar feritin (MD 17 mcg/L; IK95% 12,15-21,85) dibandingkan penjepitan dini. Penundaan penjepitan tali pusat dapat meningkatkan kadar Hb usia 24 sampai 48 jam dan cadangan besi bayi sampai usia enam bulan.Kesimpulan. Pada bayi cukup bulan penundaan penjepitan tali pusat satu sampai tiga menit setelah lahir dapat mencegah anemia sampai usia dua bulan dan meningkatkan cadangan besi sampai usia enam bulan. Risiko yang dapat terjadi, yaitu hiperbilirubinemia dan polisitemia, walaupun tidak terbukti menimbulkan kondisi yang membahayakan.
Perbandingan Uji Tuberkulin dengan Kadar Interferon Gamma pada Kultur Sel Limfosit Anak Tersangka TB Lita Farlina; Finny Fitry Yani; Darfioes Basir; Hafni Bachtiar
Sari Pediatri Vol 16, No 4 (2014)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp16.4.2014.260-5

Abstract

Latar belakang. Tuberkulosis (TB) pada anak masih merupakan penyakit utama yang menyebabkan kesakitandan kematian. Sampai saat ini, diagnosis TB anak masih menjadi masalah. Uji tuberkulin atau tuberculinskin test (TST) merupakan metode yang masih dijadikan pedoman, tetapi mempunyai sensitivitas yangrendah. Uji interferon-􀁊 (IFN-􀁊) merupakan pemeriksaan yang lebih spesifik untuk mendukung diagnosisinfeksi TB anak.Tujuan. Mengetahui kesesuaian TST dengan IFN-􀁊 pada kultur sel limfosit anak tersangka TB.Metode. Penelitian cross sectional pada anak berusia 3 bulan-14 tahun tersangka TB atau memiliki kontakerat dengan penderita TB paru BTA(+) dewasa yang datang ke poliklinik anak RS dr. M. Djamil Padangpada bulan Februari-November 2012. Semua sampel dilakukan pemeriksaan TST dan IFN-􀁊 kemudiandilakukan uji kesesuaian (kappa=K).Hasil. didapatkan 34 9 (26,5%) sampel memiliki TST positif dan 16 (47,1%) memiliki uji IFN-􀁊 positif.Didapatkan uji kesesuaian 38,2%(􀁎=0,27).Kesimpulan. Pemeriksaan uji IFN-􀁊 memiliki angka kesesuaian cukup dibandingkan TST sehingga belumperlu digunakan sebagai uji diagnostik infeksi TB pada anak tersangka TB.
Perbedaan Kadar IL-6 dan C-Reactive Protein pada Anak Pascabedah Perut dengan Bedah Saraf Albert Daniel Solang; Antonius Pudjiadi; Abdul Latief; Sri Martuti; Yusrina Istanti; Magdalena E Sahetapy; Pudjiastuti Pudjiastuti; Moh. Supriatna
Sari Pediatri Vol 16, No 3 (2014)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp16.3.2014.157-60

Abstract

Latar belakang. Kadar interleukin 6 (IL-6) dan C-reactive protein (CRP) meningkat pascabedah. Peningkatan kadar CRP diinduksi oleh IL-6. Peningkatan kadar keduanya berhubungan dengan lama pembedahan, tetapi penelitian lain mendapatkan luas trauma jaringan yang lebih berpengaruh. Jenis pembedahan bedah perut berhubungan dengan transient endotoksemia. Endotoksemia akan meningkatkan kadar IL-6 secara signifikanTujuan. Mengetahui apakah terdapat perbedaan respon fase akut berupa kadar IL-6 dan CRP pada pascabedah bedah saraf dan bedah perut.Metode. Penelitian analitik observasional dilakukan di tiga rumah sakit, yaitu RS Dr. Cipto Mangunkusumo, RSUP Dr. Kariadi, dan RSUD Dr. Moewardi pada Januari 2014-Juni 2014. Pemeriksaan darah CRP dan IL-6 dilakukan pada hari ke-1 dan ke-5 pascabedah di laboratorium. Dilakukan pencatatan usia, jenis kelamin, lama pembedahan, jumlah perdarahan, dan skor ASA serta penilaian status nutrisi prabedah. Analisis data menggunakan Program SPSS versi 17.0, analisis parametrik menggunakan uji t tidak berpasangan. Apabila syarat tidak terpenuhi digunakan metode uji Mann-Whitney.Hasil. Terdapat 30 subjek selama kurun waktu penelitian, sebagian besar jenis operasi adalah bedah saraf (56%) dan bedah perut (38%). Median kadar IL-6 pada hari ke-1 pascabedah perut 156 pg/mL dan bedah saraf 88 pg/mL (p>0,05), sedangkan median kadar IL-6 hari ke-5 pascabedah berturut-turut 22 pg/mL dan 14 pg/mL (p>0,05). Median kadar CRP hari ke-1 pascabedah didapatkan lebih tinggi pada jenis bedah perut 25 mg/L, sedangkan pada bedah saraf 10 mg/dL. Sementara itu, median kadar CRP pada hari ke-5 pascabedah masing-masing 17 mg/dL dan 9 mg/dL (p>0,05)Kesimpulan. Tidak terdapat perbedaan bermakna respon fase akut bedah saraf dan bedah perut baik berupa peningkatan kadar IL-6 maupun kadar CRP pada hari ke-1 dan ke-5 pascabedah.

Page 76 of 152 | Total Record : 1519


Filter by Year

2000 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue