cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 1,519 Documents
Krisis Adrenal pada Bayi dengan Hiperplasia Adrenal Kongenital Suri Nurharjanti H; Bambang Tridjaja
Sari Pediatri Vol 9, No 3 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (95.044 KB) | DOI: 10.14238/sp9.3.2007.191-5

Abstract

Krisis adrenal adalah suatu kondisi yang terjadi akibat kegagalan kelenjar adrenal memproduksi hormonglukokortikoid dan/atau mineralokortikoid secara normal. Gejala krisis adrenal pada bayi tidak spesifik,namun diagnosis dini dan tata laksana yang tepat akan menentukan prognosis pasien. Kasus adalah By &,19 hari datang dengan keluhan tangan dan kaki dingin, keringat dingin di kepala, tidak menangis dankelihatan lemah sejak 4 jam sebelum masuk rumah sakit. Terdapat riwayat kematian neonatal anaksebelumnya disertai ambigus genitalia. Pada pemeriksaan fisis ditemukan syok, sesak napas dan ambigusgenitalia (klitoromegali, fusi labio-skrotal dan tidak ditemukan testis). Pemeriksaan darah menunjukkanasidosis metabolik berat, hiponatremia dan hiperkalemia. Hasil analisis kromosom menunjukkan 46, XX.Kadar 17-hidroksi-progesteron 84 nmol/L (N: 0,5-6,5 nmol/L).
Hubungan Antara Hipertensi Pulmonal pada Defek Septum Atrium Sekundum dan Mutasi Gen Sri Endah Rahayuningsih
Sari Pediatri Vol 11, No 2 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp11.2.2009.113-7

Abstract

Latar belakang. Defek septum atrium (DSA) adalah defek pada sekat yang memisahkan atrium kiri dankanan, serta merupakan salah satu penyakit jantung bawaan (PJB). Defek septum atrium besar berhubungandengan terjadinya hipertensi pulmonal. Sampai saat ini mekanisme terjadinya DSA dan hipertensi pulmonalmasih belum diketahui dengan pasti. Beberapa gen diketahui berperan terhadap terjadinya DSATujuan. Mengetahui hubungan antara hipertensi pulmonal pada defek septum atrium sekundum denganmutasi gen NKX2.5, TBX5, GATA4, dan MYH6.Metode. Subjek penelitian adalah pasien DSA sekundum yang memenuhi kriteria inklusi untuk penelitianepidemiologi genetika. Deteksi mutasi gen NKX2.5, TBX5, GATA4, dan MYH6 dilakukan denganpemeriksaan sekuensing terhadap isolasi DNA. Diagnosis DSA sekundum dan hipertensi pulmonal dilakukandengan ekokardiografi.Hasil. Tujuh diantara 110 anak dengan DSA sekundum mengalami mutasi gen NKX2.5, GATA4, dan MYH6dan lima anak diantaranya mengalami hipertensi pulmonal. Tidak ditemukan mutasi gen TBX5. Terdapathubungan hipertensi pulmonal pada defek septum atrium sekundum dan mutasi gen NKX2.5, GATA4, danMYH6 (p=0,037). Rata-rata ukuran DSA sekundum pada kelompok dengan mutasi gen dan tanpa mutasigen adalah 20,28 (+5,93) dan 14,29 (+3,96). Terdapat hubungan yang bermakna DSA sekundum sporadikyang mengalami mutasi gen NKX2.5, GATA4, dan MYH6 dengan hipertensi pulmonal (p=0,037).Kesimpulan. DSA sekundum dengan mutasi gen lebih sering mengalami hipertensi pulmonal. Disampingdiameter, maka mutasi gen berperan terhadap terjadinya hipertensi pulmonal pada DSA.
Pengobatan Cefixime pada Demam Tifoid Anak Sri Rezeki S Hadinegoro; Alan R Tumbelaka; Hindra Irawan Satari
Sari Pediatri Vol 2, No 4 (2001)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (209.753 KB) | DOI: 10.14238/sp2.4.2001.182-7

Abstract

Telah dilakukan penelitian uji klinis non-komparatif pengobatan cefixime terhadapdemam tifoid anak di Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM Jakarta, sejak Mei1999 – Januari 2000. Subyek berumur antara 3-15 tahun dengan diagnosis klinis demamtifoid tanpa komplikasi. Di antara 25 orang pasien yang ikut dalam penelitian, terdapat11 laki-laki dan 14 perempuan, 16 (64%) pasien termasuk kelompok 5-9 tahun dan 8(32%) berumur >10 tahun. Delapan belas anak menderita demam di rumah selama 7hari atau lebih. Selain demam, mual, muntah, perasaan tidak enak di perut, deliriumdan hepatomegali merupakan gejala yang terbanyak ditemukan. Lebih dari separuhjumlah kasus menderita demam antara 37,5-38,5oC dan 7 anak lainnya mengalamidemam lebih dari 39oC. Peningkatan LED dan SGOT/SGPT terdapat pada hampirsemua kasus. Semua pasien mendapat pengobatan cefixime 10-15mg/kgbb/hari, dibagi2 dosis selama 10 hari. Penurunan suhu (time of fever defervescence) terjadi setelah 6,0hari (SB 3,1) pengobatan. Cure rate, yang menggambarkan efikasi cefixime terdapatpada 21 (84%) dan gagal 4 (16%) kasus. Penilaian hasil pengobatan hari kelima pada21 kasus menunjukkan 11 pasien sembuh sempurna, 10 pasien lainnya keadaan klinisbaik namun masih demam dan suhu turun pada hari berikutnya. Kegagalan bakteriologisdijumpai pada 1 kasus, termasuk dalam kelompok gagal secara klinis. Secara bakteriologis,3 pasien resisten terhadap salah satu dari ketiga antibiotik konvensional. Satu orangpasien resisten chloramphenicol dan 2 orang resisten ampisilin. Dua puluh satu (84%)di antara 25 pasien tetap sensitif terhadap ketiga antibiotik konvensional. Dalampenelitian ini tidak terdapat satu kasus pun dengan MDRST. Secara umum cefiximemempunyai efikasi yang baik dan dapat ditoleransi oleh semua pasien dengan efeksamping ringan. Untuk mendapatkan hasil yang optimal diperlukan evaluasi lebih lanjutmengenai dosis dan lama pengobatan.
Prevalensi Mikropenis pada Murid Taman Kanak - Kanak Hakimi Hakimi; Charles Darwin Siregar; Melda Deliana
Sari Pediatri Vol 6, No 3 (2004)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (128.715 KB) | DOI: 10.14238/sp6.3.2004.115-8

Abstract

Penis kecil yang sering dikeluhkan orang tua pada umumnya mengenai ukuranpanjangnya. Sebenarnya selain dimensi panjang penis, diameter maupun konsistensipenis perlu diperhatikan juga apakah normal atau tidak. Penelitian ini bertujuan untukmengetahui ukuran penis anak usia 2-6 tahun di Kelompok Bermain dan Taman Kanakkanak.Penelitian ini merupakan studi deskriptif. Data penelitian diperoleh darikunjungan pada empat Taman Kanak-kanak (TK) di Kota Madya Medan yaitu TKHarapan, TK Al-Azhar, TK Al-Ikhsan, dan TK Yayasan Pendidikan ShafiyyatulAmaliyyah (YPSA) pada tanggal 16–19 Oktober 2004. Responden pada penelitian iniberjumlah 107 anak berusia 2- 6 tahun. Diagnosis mikropenis ditegakkan bila ukuranpanjang penis kurang dari -2,5 SD untuk usia tanpa disertai kelainan anatomis penissedangkan small penis adalah bila ukuran panjang penis berada di antara nilai rerata dan-2,5 SD. Dijumpai 9 anak dengan gizi lebih (>NCHS), 2 anak obesitas (IMT>P95) , 7anak gizi baik (P3- NCHS) dan 91 anak gizi kurang (<NCHS). Pengukuran tinggibadan dijumpai 2 anak perawakan tinggi (>NCHS), 3 anak perawakan pendek (<NCHS),dan 102 anak perawakan normal (P3- NCHS). Pada penelitian ini ditemui 20 kasusmikropenis (18,7%), small penis ditemukan 77 kasus (72%) sedangkan yang memilikiukuran penis normal 10 orang (9,4%).
Hubungan Pemberian Enteral Makanan Dini dan Pertambahan Berat Badan pada Bayi Prematur Gustina Lubis; R. Trin Suciati
Sari Pediatri Vol 9, No 2 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp9.2.2007.145-50

Abstract

Latar belakang. Prematuritas berkaitan erat dengan mortalitas dan morbiditas pada masa neonatal.Pemberian enteral feeding dini merupakan salah satu upaya meningkatkan kemampuan adaptasi salurancerna sehingga bayi dapat bertahan hidup dan tumbuh dan kembang dengan baik.Tujuan Penelitian. Mengetahui hubungan pemberian enteral feeding dini dan pertambahan berat badanpada bayi prematur serta faktor yang mempengaruhinya.Metode. Penelitian prospektif observasional dilakukan terhadap bayi prematur yang dirawat di Sub BagianPerinatologi Bagian Anak RS Dr. M. Djamil Padang selama periode 1 April 2005 sampai dengan 31Maret 2006. Enteral feeding segera diberikan setelah bayi stabil. Data dianalisis dengan uji korelasi Pearsondan regresi linear dengan nilai bermakna p<0,05.Hasil. Subjek 75 bayi, rerata usia 17,23±13,88 jam. Rerata pertambahan berat badan adalah 7,82 ± 6,31gram/kgBB/hari. Didapatkan korelasi negatif antara enteral feeding dini dengan rerata pertambahan beratbadan (r=-0,387, p=0,001). Rerata pertambahan berat badan berkurang 0,176 kali setiap jam penundaanpemberian enteral feeding. Hubungan antara enteral feeding dini dengan rerata pertambahan berat badanlebih kuat pada pasien dengan usia gestasi dan berat badan lahir yang sama (r=-0,993 dan r=-0,4076,p=0,001). Hubungan tersebut berkurang pada pasien dengan tingkat pertumbuhan intra uterin yang sama(r=-0,3737, p=0,001) dan bayi yang menderita penyakit penyerta (r=-0,2918, p=0,011).Kesimpulan. Semakin dini enteral feeding diberikan maka pertambahan berat badan semakin besar.Hubungan enteral feeding dini dengan rerata pertambahan berat badan dipengaruhi oleh usia gestasi,berat badan lahir, tingkat pertumbuhan intra uterin serta adanya penyakit penyerta.
Sindrom Klinefelter Samuel Harmin; Bambang Tridjaja A. A. P
Sari Pediatri Vol 10, No 6 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp10.6.2009.373-7

Abstract

Sindrom Klinefelter (SK) merupakan kelainan akibat adanya kromosom seks tambahan (47,XXY) yang menyebabkan hipergonadotropik hipogonadisme, dan infertilitas. Penampilan pasien SK hampir tidak berbeda dengan mereka yang berkariotip normal, tanpa gejala klinis yang khas selama masa anak, sehingga diagnosis ditegakkan setelah usia remaja atau dewasa muda. Keterlambatan dalam penegakkan diagnosis dapat menyebabkan hilangnya kesempatan tata laksana untuk memperbaiki hipogonadisme, gangguan kognitif, dan faktor-faktor psikososial. Dilaporkan kasus anak laki-laki 13 tahun dengan keluhan ginekomastia. Pada pemeriksaan fisis ditemukan bentuk tubuh eunokoid, volume testis yang kecil dan teraba keras. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan peningkatan kadar LH dan FSH, dengan kadar testosteron yang masih dalam rentang normal. Diagnosis SK ditegakkan melalui pemeriksaan analisis kromosom dengan hasil 47, XXY.
Pendekatan Diagnostik Serologik dan Pelacak Antigen Salmonella typhi Sylvia Retnosari; Alan R Tumbelaka
Sari Pediatri Vol 2, No 2 (2000)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp2.2.2000.90-5

Abstract

Biakan empedu merupakan baku emas untuk menegakkan diagnosis demam tifoid namunmemerlukan waktu 5-7 hari untuk mendapatkan hasilnya. Kegunaan pemeriksaan serologiWidal sampai saat ini masih kontroversial. Hal lain yang patut diperhatikan adalahbelum ditetapkannya nilai cut off titer antibodi dalam uji Widal khususnya pada demamtifoid anak. Oleh karena itu perlu adanya suatu teknik pemeriksaan penunjang lain yangideal (cepat, sensitif, spesifik dan murah) sebagai alternatif uji diagnostik demam tifoid.Diagnosis demam tifoid pada anak kadangkala sulit ditegakkan atas dasar gambaranklinis saja, oleh karena gambaran klinis penyakit ini amat bervariasi dan umumnya tidakkhas, oleh karena itu pemeriksaan laboratorium klinik yang dapat diandalkan sangatdiperlukan. Secara garis besar pemeriksaan laboratorium untuk menunjang diagnosisdemam tifoid adalah: (1) isolasi kuman S. typhi dari biakan spesimen pasien, (2) ujiserologi untuk mendeteksi antibodi spesifik terhadap S. typhi dan mendeteksi adanyaantigen spesifik dari S. typhi, dan (3) pemeriksaan melacak adanya DNA S. typhi. Telahbanyak usaha yang dilakukan untuk mendapatkan pemeriksaan laboratorium yang andalsebagai penunjang diagnosis demam tifoid. Beberapa pemeriksaan uji laboratoriumtersebut masing-masing memiliki keunggulan dan kelemahan tersendiri. Di Indonesiasarana penunjang diagnosis demam tifoid yang ideal harus mempunyai sifat andal, dapatmemberikan diagnosis yang cepat, praktis dan tentu tidak mahal. Untuk tujuan ini,perkembangan pemeriksaan laboratorium diagnostik terhadap demam tifoid ke arahtehnik dot enzyme immunoassay, baik untuk keperluan penentuan antigen maupunantibodi terhadap kuman S. typhi kiranya akan dapat memenuhi persyaratan tersebutdi atas.
Purpura Trombositopenik Idiopatika pada Anak (patofisiologi, tata laksana serta kontroversinya) Bagus Setyoboedi; IDG Ugrasena
Sari Pediatri Vol 6, No 1 (2004)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp6.1.2004.16-22

Abstract

Purpura trombositopenik idiopatika (ITP) merupakan kelainan perdarahan didapat padaanak yang paling sering dijumpai, ITP merupakan kelainan otoimun yang menyebabkanmunculnya suatu autoantibodi terhadap trombosit. Diagnosis ITP ditegakkan denganmenyingkirkan kemungkinan penyebab trombositopenia yang lain. Pemeriksaan aspirasisumsum tulang tidak rutin dilakukan pada ITP, hanya untuk kasus yang meragukan.Pada anak umumnya ITP bersifat akut dan dapat sembuh spontan dalam waktu kurangdari 6 bulan. Tata laksana ITP khususnya ITP akut pada anak masih kontroversial.Pengobatan umumnya dilakukan hanya untuk meningkatkan jumlah trombosit, namuntidak menghilangkan risiko terjadinya perdarahan intrakranial dan perjalanan menjadiITP kronis. Pengobatan juga potensial menimbulkan efek samping yang cukup serius.Perlu dilakukan suatu studi prospektif acak yang meneliti manfaat secara klinis berbagaipengobatan ITP pada anak. Pemahaman yang tepat tentang perjalanan alamiah ITPkronis pada anak sangat bermanfaat bagi suatu pengobatan yang rasional.
Penyebaran Spesialis Anak di Indonesia Tahun 2004: Implikasinya Terhadap Kebijakan Kesehatan dan Pendidikan Yati Soenarto; Laksono Trisnantoro; Anis Fuad
Sari Pediatri Vol 8, No 2 (2006)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp8.2.2006.94-9

Abstract

Komposisi penyebaran tenaga dokter spesialis anak (SpA) di tingkat propinsi di Indonesiamasih belum merata. Distribusi penyebaran tenaga spesialis ini hampir 70% berpusat diJawa dan Bali, bahkan tercatat di beberapa propinsi lain yang tidak memiliki satupuntenaga SpA. Tulisan ini menyajikan distribusi penyebaran SpA di setiap di propinsi diIndonesia dan proporsi pertumbuhan SpA berdasarkan jenis kelamin. Dalam tulisan inijuga didiskusikan beberapa implikasi terhadap kebijakan yang mungkin dapat dijadikanpertimbangan dalam pengembangan model distribusi tenaga SpA.
Hubungan Jumlah Limfosit Plasma Biru dengan Spektrum Klinis dan Perannya dalam Memprediksi Perubahan Spektrum Klinis Infeksi Dengue pada Anak Dewi Mulyani Irianti; Lelani Reniarti; Azhali MS
Sari Pediatri Vol 10, No 5 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp10.5.2009.325-30

Abstract

Latar belakang. Infeksi dengue mempunyai spektrum klinis yang luas. Limfosit plasma biru (LPB) sebagairespons imun selular yang khas pada infeksi dengue, berpotensi untuk digunakan sebagai prediktor perjalananklinis infeksi dengue.Tujuan. Untuk mengetahui hubungan jumlah LPB dengan perjalanan klinis infeksi dengue dan mengetahuiperan LPB dalam memprediksi perubahan klinis infeksi dengue pada anak.Metode. Dilakukan penelitian comparative longitudinal study di Bagian Ilmu Kesehatan Anak RS dr. HasanSadikin Bandung pada September-November 2007. Pasien anak umur kurang dari 14 tahun yang memenuhikriteria klinis demam dengue (DD), demam berdarah dengue (DBD), dan sindrom syok dengue (SSD)menurut WHO (1997) disertai bukti infeksi dengue secara serologis dipilih secara konsekutif dan pemeriksaanLPB dilakukan pada saat kedatangan, dilanjutkan pada hari ke-5, ke-6, dan ke-7 sakit. Analisis statistikdilakukan dengan uji ANOVA, ratio correlation 􀁈 (eta), dan penghitungan odds ratio.Hasil. Didapatkan 66 anak dengan diagnosis awal 43 pasien DD, 2 DBD, dan 21 SSD. Selanjutnya 20pasien DD berubah menjadi DBD. Rata-rata jumlah LPB pasien DD, DBD, dan SSD berturut-turut adalah4,3; 9,1; dan 16,4; dengan perbedaan yang bermakna (p=0,000). Pasien yang mengalami perubahan tipeklinis memiliki jumlah LPB saat kedatangan lebih tinggi dari yang tidak mengalami perubahan, dengancut off point 􀁴6 LPB per 100 leukosit(p=0,000 dan OR=2,096).Kesimpulan. Terdapat hubungan antara jumlah LPB dan perjalanan klinis infeksi dengue, semakin beratkeadaan klinis semakin tinggi jumlah LPB. Jumlah LPB saat kedatangan pasien berobat dapat dijadikanprediktor perubahan klinis.

Page 74 of 152 | Total Record : 1519


Filter by Year

2000 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue