cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 1,519 Documents
Mati Otak pada Anak Muhammad Nur
Sari Pediatri Vol 3, No 1 (2001)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp3.1.2001.14-8

Abstract

Mati otak adalah konsep kematian seorang individu yang paling belakangan dipahami dan digunakan. Sebelum periode tahun 1968, berhentinya fungsi jantung, paru, atau keduanya dijadikan dasar penetapan kematian seseorang. Dengan kemajuan perawatan intensif, seorang yang sudah mengalami penghentian fungsi otak, masih bisa dipertahankan di bawah bantuan alat dan obat-obatan, sehingga penetapan saat kematian yang tepat yang sangat penting. Upaya-upaya keberhasilan donor organ menjadi masalah apabila kematian didasarkan pada fungsi paru atau jantung, di samping juga menjadi masalah dalam aspek legalitas atau perundang-undangan tentang kematian. Berbagai kriteria telah diajukan untuk penetapan mati otak yang didasarkan pada tahapan kegagalan fungsi-fungsi otak. Sebagian besar mendasarkan pada kegagalan menyeluruh fungsi hemisfer serebri dan batang otak. Penelitian-penelitian tentang mati otak menyimpulkan bahwa pasien henti nafas disertai hilangnya respons serebral dan aktifitas listrik otak (mati otak), akan berlanjut menjadi henti jantung dalam periode waktu tertentu (24 jam sampai 3 bulan) walaupun pasien berada dalam dukungan terapi penunjang maksimal. Sejumlah pemeriksaan diketahui dapat memperkuat diagnosis klinis mati otak dengan sejumlah keterbatasannya, mencakup pemeriksaan elektro ensefalografi (EEG), angiografi, scanning kepala, Magnetic Resonancy Imaging (MRI), Brain Evoked Potential (BEP), Ultrasonografi (USG) Doppler dan pemeriksaan beberapa jenis hormon. Penetapan mati otak pada anak berbeda dari orang dewasa dalam hal masa pengamatannya yang lebih lama, kriteria yang disesuaikan dengan usia, EEG menjadi syarat khusus dan untuk kasus kematian perinatal, hanya dapat dinyatakan sebagai mati otak setelah melewati periode waktu tujuh hari.
Poliuria pada Anak Sudung O. Pardede
Sari Pediatri Vol 5, No 3 (2003)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (203.275 KB) | DOI: 10.14238/sp5.3.2003.103-10

Abstract

Poliuria terjadi karena gangguan pengaturan cairan dan solut dengan penyebab danpatofisiologi yang berbeda-beda. Poliuria dapat terjadi karena diuresis solut, diuresis air(water diuresis), atau kombinasi keduanya dan dapat menyebabkan sakit berat. Terdapatberbagai definisi poliuria, tetapi secara umum, poliuria diartikan dengan jumlah urin >2 ml/kgbb/jam. Poliuria biasanya dihubungkan dengan kelainan neurologis, kelainanginjal, atau kelainan metabolik dan dapat menyebabkan berkurangnya volume cairanekstraselular dan intraselular. Meskipun dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik telahdapat diperkirakan penyebab poliuria, tetapi diagnosis definitif memerlukan pemeriksaanlaboratorium. Urin yang isoosmolar atau hiperosmolar terdapat pada diuresis solut atauanak normal, dan urin yang hipoosmolar terdapat pada diuresis air. Uji deprivasi airsangat perlu dilakukan jika evaluasi awal tidak dapat menentukan penyebab poliuria.Tata laksana poliuria dengan melakukan balans cairan, memperbaiki kelainan elektrolit,dan mencari penyebab.
Faktor Risiko Kejadian Asma pada Anak Sekolah Dasar di Kecamatan Wenang Kota Manado Abraham H. Laisina; D. Takumansang-Sondakh; J. M. Wantania
Sari Pediatri Vol 8, No 4 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp8.4.2007.299-304

Abstract

Latar belakang. Asma merupakan salah satu penyebab utama penyakit kronis padaanak. Meningkatnya prevalensi asma menyebabkan para peneliti mengarahkanpenelitiannya kepada faktor-faktor risiko timbulnya asma.Tujuan. Mengetahui hubungan beberapa faktor risiko dengan kejadian asma pada anakSekolah Dasar (SD) di Kecamatan Wenang, Kota Manado.Metoda. Penelitian cross sectional , dilakukan pada Mei – Juni 2005 denganmenggunakan kuesioner pada 11 sekolah dasar dengan prosedur pengambilan sampeldua tahap secara acak sederhana.Hasil. Hasil analisis multivariat dengan uji regresi logistik menunjukkan terdapathubungan yang bermakna antara riwayat asma pada orang tua, penyakit atopi padaanak selain asma, infeksi saluran napas, dan obesitas dengan kejadian asma pada anakSD di Kecamatan Wenang Kota Manado (p < 0,001).Kesimpulan. Riwayat asma pada orang tua, penyakit atopi pada anak selain asma,infeksi saluran napas dan obesitas merupakan faktor risiko utama yang berhubunganbermakna dengan kejadian asma pada anak SD di Kecamatan Wenang Kota Manado.
Etiologi dan Karakteristik Demam Berkepanjangan pada Anak di RS Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta Barry Army Bakry; Alan Roland Tumbelaka; Imral Chair
Sari Pediatri Vol 10, No 2 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (161.139 KB) | DOI: 10.14238/sp10.2.2008.83-88

Abstract

Latar belakang. Kesulitan dalam mencari penyebab demam berkepanjangan disebabkan oleh banyak faktor terutama karena penyebab yang beraneka ragam. Waktu serta tempat timbulnya penyakit juga turut berperan. Pengetahuan tentang etiologi dan karakteristik penyakit sangat diperlukan karena memudahkan para klinisi dalam menegakkan diagnosis demam berkepanjangan.Metode. Penelitian deskriptif retrospektif dilakukan untuk mengetahui etiologi dan karakteristik pasien demam berkepanjangan yang dirawat di RSCM. Populasi anak dengan keluhan demam berkepanjangan saat masuk diambil dari data rekam medis sejak Januari 2004 hingga Maret 2007.Hasil. Angka kejadian pasien demam berkepanjangan di RS Cipto Mangunkusumo 2% (100 pasien), sebagian besar laki-laki 59% dan perempuan 41% kasus. Penyebab terbanyak penyakit infeksi 80%, yaitu infeksi saluran kemih, demam tifoid, bakteremia, tuberkulosis serta otitis media. Sebagian besar pasien berusia di bawah dua tahun 46% kasus, memiliki status gizi kurang (75%). Kuman terbanyak yang ditemukan pada biakan darah, biakan urin dan biakan feses berturut turut Staphylococcus epidermidis, Escherichia coli, dan Escherichia coli patogenKesimpulan. Kelompok penyakit infeksi merupakan penyebab terbanyak demam berkepanjangan pada seluruh kelompok umur. Anamnesis, pemeriksaan fisis serta pemeriksaan penunjang yang terarah merupakan kunci keberhasilan dalam mencari etiologi demam berkepanjangan.
Keterlambatan Pubertas Syamsul Azwar
Sari Pediatri Vol 4, No 4 (2003)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.861 KB) | DOI: 10.14238/sp4.4.2003.176-9

Abstract

Keterlambatan pubertas merupakan masalah penting pada anak karena dapat terjadiketerlambatan pertumbuhan dan maturasi tulang. Diagnosis keterlambatan pubertasditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, laboratorium dan radiologi.Pengobatan utama keterlambatan pubertas pada pria dengan pemberian testoteron danpada wanita pemberian estrogen. Selain pengobatan hormonal pendekatan psikologijuga diperlukan.
Penurunan Penggunaan Antibiotik pada Pasien Anak dengan Demam M.M. Hapsari; Helmia Farida; Monique Keuter; P.J,van den Broek; Usman Hadi; Herawati Y; Anggoro DB Sachro
Sari Pediatri Vol 8, No 1 (2006)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (108.575 KB) | DOI: 10.14238/sp8.1.2006.16-24

Abstract

Latar belakang. Resistensi antibiotik saat ini menjadi problem dunia yang mencemaskan.Penggunaan antibotik secara berlebihan dan tidak rasional merupakan kontributor utamaterjadinya resistensi antibiotik. Upaya mengubah pola peresepan antibiotik menjadi lebihrasional merupakan hal yang tidak mudah.Tujuan. Memperbaiki kuantitas dan kualitas penggunaan antibiotik pada pasien yangdirawat dengan demam, serta mengevaluasi dampak terhadap morbiditas dan mortalitas.Metoda. Penelitian prospektif intervensi di bangsal anak RS Dr Kariadi, Juli 2003 -Desember 2004, dibagi menjadi 4 periode yaitu periode awal, penyusunan pedoman,pelatihan, dan umpan balik. Pada periode awal dilakukan pengambilan data dasar. Padaperiode penyusunan pedoman dilakukan konsensus untuk menyusun pedoman penggunaanantibiotik pada anak dengan demam. Periode pelatihan adalah sosialisasi dan pelatihankepada dokter. Pada periode pascapelatihan dilakukan umpan balik terhadap pesertapelatihan. Subyek penelitian adalah semua pasien usia >1 bulan yang dirawat dengandemam> 38ºC (rektal) dalam 24 jam pertama perawatan, kecuali yang diketahui menderitaHIV/AIDS atau neutropeni karena kemoterapi. Data penggunaan antibiotik diambil daricatatan medik, diamati selama 6 hari pertama perawatan. Data morbiditas dan mortalitasdiamati sampai pasien keluar dari rumah sakit. Uji statistik menggunakan X 2 dan Anova.Hasil. Terdapat penurunan kuantitas penggunaan antibiotik dan peningkatan kualitaspenggunaan antibiotik secara bermakna (p=0.000 dan p=0,000). Penurunan kuantitasantibiotiok terutama disebabkan pengurangan penggunaan antibiotik yang tidakdiperlukan. Tidak terdapat perbedaan lama rawat dan lama demam (p=0.96 dan p=0.32)dan tidak terdapat perbedaan kematian selama periode pengamatan.Kesimpulan. Dengan pedoman yang baik, penggunaan jumlah antibiotik dapatditurunkan tanpa meningkatkan risiko morbiditas dan mortalitas.
Kejang Berulang dan Status Epileptikus pada Ensefalitis sebagai Faktor Risiko Epilepsi Pascaensefalitis Nur Laili Muzayyanah; Sunartini Hapsara; Tunjung Wibowo
Sari Pediatri Vol 15, No 3 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (201.005 KB) | DOI: 10.14238/sp15.3.2013.150-5

Abstract

Latar belakang. Epilepsi pascaensefalitis merupakan salah satu komplikasi ensefalitis yang sering terjadi serta memerlukan tata laksana jangka panjang dan menurunkan kualitas hidup pasien. Kejang berulang dan status epileptikus pada ensefalitis dicurigai dapat meningkatkan risiko terjadi epilepsi pascaensefalitis.Tujuan. Mengetahui apakah risiko epilepsi pascaensefalitis lebih tinggi pada pasien yang mengalami kejang berulang dan status epileptikus pada ensefalitis.Metode. Penelitian kasus kontrol pada pasien pascaensefalitis usia 6 bulan-18 tahun dilakukan di bangsal anak RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta. Kelompok kasus terdiri dari 26 pasien dengan diagnosis epilepsi pascaensefalitis, 27 pasien pascaensefalitis dengan gejala sisa selain epilepsi atau tanpa gejala sisa sebagai kelompok kontrol. Data klinis subyek selama episode ensefalitis akut didapatkan dari rekam medis pasien saat dirawat. Kekuatan hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen diketahui berdasarkan analisis bivariat dan analisis multivariat.Hasil. Kejang berulang ensefalitis akut meningkatkan risiko terjadinya epilepsi pascaensefalitis (OR 3,6;95 % CI 1,0-12,7; p<0,05). Status epileptikus ensefalitis secara klinis meningkatkan risiko terjadinya epilepsi pascaensefalitis, tetapi secara statistik tidak bermakna (OR 2,4;95 % CI 0,7-8,2; p>0,05).Kesimpulan. Kejang berulang ensefalitis meningkatkan risiko terjadinya epilepsi pascaensefalitis. Status epileptikus pada ensefalitis secara klinis meningkatkan risiko terjadinya epilepsi pascaensefalitis, tetapi secara statistik tidak bermakna.
Gangguan Kurang Perhatian dan Hiperaktifitas pada Anak Erman Erman
Sari Pediatri Vol 4, No 2 (2002)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp4.2.2002.54-8

Abstract

Gangguan kurang perhatian dan hiperaktifitas adalah suatu sindrom neuro-psikiatriyang sering dijumpai pada anak usia prasekolah. Gejala kurang perhatian danhiperaktifitas dapat dijumpai bersamaan. Angka kejadian kelainan ini bervariasi di antarabeberapa negara, namun di masing-masing negara menunjukkan kecenderunganmeningkat. Penyebab pasti gangguan ini belum diketahui, oleh karena banyak faktoryang mempengaruhinya. Gejala klinis kadang-kadang sudah mulai tampak sejak bayi,dan berlanjut sampai usia pra sekolah, usia sekolah, dan dapat sampai usia remaja dandewasa. Kriteria diagnosis yang dipakai berdasarkan kriteria DSM IV. Penatalaksanaangangguan kurang perhatian dan hiperaktifitas adalah memadukan farmakoterapi (psikostimulan)dengan psikoterapi dan terapi multimodal lainnya. Prognosis tergantung padadiagnosis dini dan cepatnya intervensi yang dilakukan, serta metode pengobatan yangdigunakan.
Hubungan Tingkat Kelebihan Berat Badan dengan Uji Toleransi Glukosa Oral pada Siswa SMP di Kota Padang Eka Agustia Rini; IGM Afridoni A
Sari Pediatri Vol 9, No 6 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.159 KB) | DOI: 10.14238/sp9.6.2008.417-22

Abstract

Latar belakang. Obesitas pada anak merupakan masalah gizi dan sukar diatasi. Peningkatan obesitaspada anak dan remaja menimbulkan peningkatan insiden diabetes melitus tipe 2. Pemeriksaan uji toleransiglukosa oral dapat digunakan untuk mendeteksi gangguan metabolik.Tujuan. Mengetahui hubungan derajat obesitas dengan uji toleransi glukosa oral (TTGO) pada siswaSMP di kota Padang.Metode. Penelitian dilakukan Juli – September 2006 terhadap 109 siswa SMP kota Padang. Subjek terdiridari 2 kelompok yaitu overweight (indeks massa tubuh (IMT) p=85-95) dan obesitas (IMT p >95). Dilakukanpengukuran berat badan, tinggi badan, gula darah puasa dan gula darah 2 jam posprandial. Data dianalisisdengan uji t-test, chi-square dan korelasi dengan tingkat kemaknaan p <0,05.Hasil. Didapatkan 10,1% siswa kelebihan berat badan, overweight 6,1% dan obesitas 4,0%. Berat badansiswa overweight berkisar (44,0–74,0) kg. IMT 2(1,6–27,8) m2. Berat badan siswa obesitas berkisar (55,5–96,0) kg, IMT (24,6–42,9) %. Tidak terdapat perbedaan rerata gula darah antara kelompok overweightdengan obesitas (p 0,146). Begitu juga rerata gula darah 2 jam posprandial (p=0,26). Pada obesitas 3(2,7%)kasus dengan uji toleransi glukosa (TGT). Terdapat hubungan lemah antara berat badan dengan kadargula darah puasa (p=0,045;r 0,192)Kesimpulan. Tidak didapatkan hubungan antara kelebihan berat badan dengan uji toleransi glukosa
Efektivitas Terapi Infeksi Helicobacter Pylori pada Anak dengan Keluhan Sakit Perut Berulang Setelah Satu Tahun Terapi Eradikasi Tina Ramayanthi; Dwi Prasetyo; Herry Garna
Sari Pediatri Vol 15, No 2 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp15.2.2013.111-5

Abstract

Latar belakang. Infeksi Helicobacter pyloripada anak dapat menyebabkan beberapa penyakit, seperti gastritis, ulkus peptikum, dan kanker gaster. Sakit perut berulang (SPB) merupakan keluhan tersering terinfeksi H. pylori,terutama pada usia sekolah. Pada anak yang telah diberikan terapi eradikasi, respons pengobatan harus dipantau, salah satunya dengan pemeriksaan serologis antibodi IgG. Tujuan.Mengetahui apakah telah terjadi perubahan status serologis IgG H. pylori satu tahun setelah terapi eradikasi pada anak dengan keluhan sakit perut berulang (SPB) pada yang terinfeksi H. pylori. Metode. Penelitian dengan rancangan cross sectionalperiode Juli–September 2011 yang dilakukan pada siswa anak usia 6–18 tahun di beberapa SD, SMP, atau SMA di kota Bandung. Subjek dengan keluhan sakit perut berulang dengan status serologis IgG H. pyloripositif sebelum diberikan terapi dan telah diberikan terapi eradikasi satu tahun yang lalu. Uji ExactFisher digunakan untuk analisis data. Hasil.Tigapuluh empat anak memenuhi kriteria inklusi. Semua anak memperlihatkan perubahan serologis IgG H. pylorimenjadi negatif. Terdapat 4 anak yang masih mengalami gejala SPB, dan 30 anak tidak terdapat gejala SPB setelah terapi eradikasi (Prevalensi 11,8%, IK: 4,7–26,6). Kesimpulan.Status serologis IgG H. pylorisemuanya negatif, setelah satu tahun selesai terapi eradikasi pada anak dengan keluhan sakit perut berulang.

Page 75 of 152 | Total Record : 1519


Filter by Year

2000 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue