cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 1,519 Documents
Defisiensi Zinc Sebagai Salah Satu Faktor Risiko Diare Akut Menjadi Diare Melanjut Dede Lia Marlia; Pramita G. Dwipoerwantoro; Najib Advani
Sari Pediatri Vol 16, No 5 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (109.74 KB) | DOI: 10.14238/sp16.5.2015.299-306

Abstract

Latar belakang. Diare masih merupakan penyebab morbiditas dan mortalitas yang cukup tinggi pada anak,dan efeknya akan meningkat pada diare melanjut. Ekskresi yang meningkat dan malnutrisi menimbulkandefisiensi makro dan mikronutrien, defisiensi zinc merupakan salah satu penyebabnya.Tujuan. Mengetahui apakah defisiensi zinc merupakan faktor risiko diare akut menjadi diare melanjut.Metode. Penelitian uji potong lintang dilakukan di RSCM dan tiga rumah sakit umum daerah pada anakusia >1–60 bulan yang mengalami diare akut kurang dari 7 hari. Dilakukan anamnesis, pemeriksaan fisik,dan pemeriksaan kadar zinc serum.Hasil. Analisis dilakukan pada 99 subjek. Usia terbanyak 12-36 bulan, perbandingan laki-laki perempuan1,3:1. Prevalensi defisiensi zinc adalah 20,2%. Insiden diare melanjut 25,3%. Tidak terdapat hubunganantara defisiensi zinc dengan usia, status nutrisi, riwayat diare berulang, pendidikan ibu, dan pendapatanorangtua. Defisiensi zinc bukan merupakan faktor risiko diare akut menjadi diare melanjut RR 1,82 (IK95%0,633-5,260; p=0,261). Riwayat diare berulang merupakan faktor risiko diare akut menjadi diare melanjutRR 3,4 kali (IK95% 1,3-9,5; p=0,013).Kesimpulan. Defisiensi zinc bukan merupakan faktor risiko diare akut menjadi diare melanjut. Riwayat diareberulang berisiko untuk terjadinya diare akut menjadi diare melanjut
Event Free Survival Enam Bulan Kejadian Tumor Cachexia Syndrome pada Anak dengan Keganasan Hesti Kartika Sari; Maria Mexitalia; Yetty M Nency
Sari Pediatri Vol 16, No 6 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp16.6.2015.397-402

Abstract

Latar belakang. Jumlah kasus kanker pada anak dengan komplikasi tumor cachexia syndrome (TCS) terusmeningkat. Penyebab TCS bersifat multifaktorial, yaitu asupan makanan yang kurang, malabsorbsi, dansitokin oleh tumor. Pengelolaan pasien anak dengan keganasan di rumah sakit tidak hanya dari terapi antikanker tetapi juga nutrisi. Nilai event free survival (EFS) terhadap kejadian TCS merupakan salah satuindikator keberhasilan pengelolaan kanker di rumah sakit.Tujuan. Menentukan EFS 6 bulan terhadap kejadian TCS pada pasien anak dengan keganasan.Metode. Desain kohort retrospektif berdasarkan catatan medik pasien anak dengan keganasan yang dirawatdi RSUP Dr. Kariadi Semarang pada bulan Januari 2007 - Desember 2012. Kriteria inklusi adalah pasienusia 0-14 tahun, dengan diagnosis keganasan baik tumor padat maupun hematologi, dan tidak mengalamikakeksia pada saat diagnosis ditegakkan. Dilakukan pengamatan secara klinis dan laboratoris tiap bulanselama 6 bulan untuk menentukan terjadinya TCS. Analisis statistik menggunakan uji Kaplan Meier.Hasil. Didapatkan 83 subjek dengan keganasan, rerata umur pada kelompok tumor padat 61,2 (SD48,37) bulan, dan keganasan hematologi 79,9 (SD 48,37) bulan p=0,032. Empatbelas dari 40 (35%) anaktumor padat dan 10 dari 43(23,3%) anak dengan keganasan hematologi mengalami TCS. Kejadian TCSdidapatkan mulai pengamatan bulan kedua. Rerata terjadi TCS pada tumor padat 4,4 bulan dan padakeganasan hematologi 4,9 bulan. Event free survival 6 bulan kejadian TCS pada tumor padat 65% dankeganasan hematologi 76,7%, p= 0,207.Kesimpulan. Event free survival 6 bulan kejadian TCS pada pasien tumor padat lebih rendah daripadakeganasan hematologi, tetapi tidak berbeda secara statistik
Korelasi Derajat Obesitas dengan Prestasi Belajar Siswa Sekolah Dasar Kadek Hartini; Soetjiningsih Soetjiningsih; Neti Nurani
Sari Pediatri Vol 16, No 1 (2014)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.414 KB) | DOI: 10.14238/sp16.1.2014.41-6

Abstract

Latar belakang. Kejadian obesitas saat ini meningkat di seluruh dunia. Semakin berat derajat obesitas, komorbid yang dialami oleh anak obesitas juga semakin banyak. Obesitas menimbulkan stigma pada masyarakat, bahwa anak obesitas adalah anak yang malas, jelek dan bodoh. Hubungan yang jelas antara obesitas dengan prestasi belajar anak di sekolah belum dapat dibuktikan.Tujuan. Mengetahui hubungan derajat obesitas pada siswa sekolah dasar (SD) dengan prestasi belajar di sekolah.Metode. Potong lintang analitik dan pemilihan sampel penelitian dilakukan dengan acak bertingkat. Penelitian dilakukan pada siswa sekolah dasar yang berusia 6-13 tahun di Denpasar, dari Januari 2011 sampai dengan Juni 2011.Hasil. Penelitian dilakukan pada 1305 siswa SD yang disurvei, didapatkan 211 (16,1%) anak menderita obesitas. Didapatkan 60% berjenis kelamin laki-laki dengan rentangan umur 7 sampai 12 tahun dan rentangan IQ 81 sampai dengan 119. Analisis regresi linier menunjukkan bahwa penurunan nilai rerata bahasa Indonesia 23% dan penurunan nilai rerata matematika 15% berhubungan dengan peningkatan persentase derajat obesitas.Kesimpulan. Derajat obesitas berhubungan dengan prestasi belajar siswa sekolah dasar. Derajat obesitas ditemukan berhubungan lebih kuat dengan penurunan nilai rerata bahasa Indonesia dibandingkan dengan matematika.
Hubungan Kadar Feritin Serum dengan Gangguan Fungsi Paru Pasien Thalassemia Mayor Anak Marte Robiul Sani; Cissy B. Kartasasmita; Lelani Reniarti
Sari Pediatri Vol 16, No 3 (2014)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp16.3.2014.210-4

Abstract

Latar belakang. Gangguan fungsi paru merupakan komplikasi thalassemia yang sering dilupakan. Kelebihan besi yang ditandai peningkatan kadar feritin serum diduga merupakan penyebab terjadinya gangguan fungsi paru pada pasien thalassemia mayor.Tujuan. Menganalisis hubungan kadar feritin serum dengan gangguan fungsi paru pasien thalassemia mayor anak serta menentukan batasan kadar feritin serum yang berhubungan dengan gangguan fungsi paru.Metode. Penelitian cross-sectional dilaksanakan pada bulan April-Mei 2013. Dilibatkan 45 anak thalassemia mayor di Poliklinik Thalassemia RS Dr. Hasan Sadikin, Bandung. Setiap subjek dilakukan anamnesis, pemeriksaan fisis, kadar feritin serum, dan spirometri. Analisis hubungan kadar feritin serum dengan gangguan fungsi paru digunakan uji regresi logistik dengan pertimbangan variabel perancu serta kurva ROC untuk menentukan batasan kadar feritin serum yang berhubungan dengan gangguan fungsi paru.Hasil. Sejumlah 45 anak memenuhi kriteria penelitian. Di antara 45 anak, 16 mengalami gangguan fungsi paru restriktif dengan derajat gangguan bervariasi, 11 anak gangguan ringan, 4 sedang, 1 berat, dan tidak ada yang mengalami gangguan fungsi paru obstruktif atau campuran. Rerata kadar feritin serum � � kelompok gangguan fungsi paru restriktif (7.151,88 μg/L) lebih tinggi dibandingkan kelompok paru normal (3.450,34 μg/L) dan kadar feritin 4.839 μg/L berhubungan dengan gangguan fungsi paru. Pada pasien thalassemia mayor anak didapatkan korelasi kadar feritin serum dengan gangguan fungsi paru (p=0,000, OR=50,754).Kesimpulan. Terdapat hubungan bermakna kadar feritin serum dengan gangguan fungsi paru pasien thalassemia mayor anak dan kadar feritin 4.839 μg/L merupakan batasan kadar feritin yang berhubungan dengan gangguan fungsi paru.
Validitas Stroke Volume Variation dengan Ultrasonic Cardiac Output Monitor (USCOM) untuk Menilai Fluid Responsiveness I Nyoman Budi Hartawan; Antonius H Pudjiadi; Abdul Latief; Rismala Dewi; Irene Yuniar
Sari Pediatri Vol 17, No 5 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (184.003 KB) | DOI: 10.14238/sp17.5.2016.367-372

Abstract

Latar belakang. Stroke volume variation (SVV) adalah parameter hemodinamik untuk menilai fluid responsiveness. Pengukuran SVV dapat dilakukan dengan USCOM yang merupakan alat pemantauan hemodinamik non invasif berbasis ekokardiografi Doppler.Tujuan. Mengetahui nilai cut-off point (titik potong optimal) SVV dengan USCOM sebagai prediktor fluid responsiveness pada pasien dengan ventilasi mekanik.Metode. Penelitan dilaksanakan di Pediatric Intensive Care Unit (PICU) dan Unit Gawat Darurat (UGD) Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta. Penelitian ini merupakan uji diagnostik dengan menggunakan peningkatan stroke volume (SV) setelah challenge cairan ringer laktat 10 mL/kg berat badan selama 15 menit sebagai indek. Subyek penelitian adalah pasien dengan usia ≥1 bulan dan ≤18 tahun yang menggunakan ventilasi mekanik. Peningkatan nilai SV ≥10% disebut responder dan <10% disebut non responder. Pengukuran SV dengan USCOM dilakukan sebelum dan setelah fluid challenge, dan pengukuran SVV dilakukan sebelum challenge cairan.Hasil. Terdapat 32 subyek ikut serta dalam penelitian. Area under curve (AUC) subyek ventilasi mekanik adalah 76,6% (IK95%:60,1%-93,1%), p<0,05. Titik potong optimal SVV adalah 30%, dengan sensitivitas 72,7% dan spesisifitas 70%.Kesimpulan. Ultrasonic cardiac output monitor (USCOM) memiliki validitas yang baik untuk menilai SVV pada pasien dengan ventilasi mekanik. 
Pengukuran Indeks Syok untuk Deteksi Dini Syok Hipovolemik pada Anak dengan Takikardia: telaah terhadap perubahan indeks isi sekuncup Markus M. Danusantoso
Sari Pediatri Vol 15, No 5 (2014)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (262.144 KB) | DOI: 10.14238/sp15.5.2014.319-24

Abstract

Latar belakang. Syok merupakan gawat darurat yang sering terjadi pada anak dengan manifestasi klinis awal takikardia sebagai kompensasi atas penurunan indeks isi sekuncup (IIS). Indeks syok (rasio laju jantung terhadap tekanan darah sistolik) berhubungan erat dengan IIS pada orang dewasa dan dapat digunakan menilai beratnya syok serta keberhasilan resusitasi cairan secara sederhana dan murah. Hal ini belum pernah dicoba untuk diterapkan pada anak.Tujuan. Menilai kemampuan indeks syok sebagai deteksi dini syok hipovolemik pada anak dengan takikardia.Metode. Uji diagnostik dan studi kuasi eksperimental (the one group pretest-posttest design) pada anak dengan takikardia yang dilakukan resusitasi cairan. Indeks isi sekuncup diukur dengan alat USCOM (ultrasound cardiac output monitor). Indeks syok dan IIS diukur sebelum dan setelah resusitasi cairan. Peningkatan IIS ≥10% setelah resusitasi cairan merupakan baku emas keberhasilan resusitasi cairan.Hasil. Duapuluh delapan (70%) di antara 40 subjek penelitian memiliki IIS rendah dan indeks syok sebelum resusitasi cairan berkisar antara 1,12-2,04. Duabelas (30%) subjek dengan IIS normal dan indeks syok sebelum resusitasi cairan berkisar antara 1,00-1,74. Tidak terbukti terdapat korelasi antara indeks syok dengan IIS sebelum (p= 0,845; r 0,32) dan setelah resusitasi cairan (p= 0,112; r 0,256). Penurunan indeks syok optimal setelah resusitasi cairan adalah ≥0,02 (IK 95% 0,504 sampai 0,835) dengan sensitivitas 60,71% dan spesifisitas 66,67%.Kesimpulan. Pengukuran indeks syok tidak terbukti dapat digunakan untuk deteksi dini syok hipovolemik pada anak dengan takikardia. 
Profil Infeksi Plasmodium, Anemia dan Status Nutrisi pada Malaria Anak di RSUD Scholoo Keyen, Kabupaten Sorong Selatan Reza Abdussalam; Rosaline NI Krimadi; Rustam Siregar; Endang Dewi Lestari; Harsono Salimo
Sari Pediatri Vol 17, No 6 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp17.6.2016.446-9

Abstract

Latar belakang. Angka kesakitan malaria di Indonesia masih cukup tinggi. Masalah pada malaria adalah antara lain kejadian anemiapada infeksi plasmodium disebabkan hemolisis sel darah merah dan penurunan eritropoesis, sedangkan hubungan antara infeksiplasmodium dengan malnutrisi masih harus diklarifikasi.Tujuan. Menilai proporsi anemia dan status nutrisi pada malaria anak.Metode. Penelitian potong lintang dilakukan selama 2 bulan (Mei-Juni 2015) pada 45 anak dengan diagnosis malaria yang dirawatinap dan rawat jalan di RSUD Scholoo Keyen. Diagnosis malaria ditegakkan berdasarkan pemeriksaan sediaan darah tebal dan tipis.Hasil. Terdapat 45 anak, 25 laki-laki dan 20 perempuan. Rentang usia terbanyak 1-5 tahun. Ditemukan 30 anak dengan malariatropikana. Didapatkan 25 anak dengan kadar hemoglobin antara (8-10) g/dL. Status nutrisi ditemukan 19 anak wasting dan 16 stunted.Kesimpulan. Malaria yang paling banyak ditemukan adalah malaria tropikana, disertai kejadian penyerta seperti anemia dan gizikurang.
Perbandingan Masalah Psikososial pada Remaja Obes dan Gizi Normal Menggunakan Pediatric Symptom Checklist (PSC)-17 Endah Pujiastuti; Eddy Fadlyana; Herry Garna
Sari Pediatri Vol 15, No 4 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp15.4.2013.201-6

Abstract

Latar belakang. Obesitas pada anak merupakan faktor penting karena cenderung meningkat dan dapat berpotensi sebagai penyebab berbagai konsekuensi medis serta masalah psikososial. Remaja obes cenderung mengalami rasa rendah diri, penghargaan diri yang buruk, depresi, mengalami kesulitan di sekolah, dan kesulitan belajar dibandingkan dengan remaja dengan status gizi normal.Tujuan. Mengetahui perbandingan masalah psikososial antara remaja obes dan remaja status gizi normal dengan menggunakan kuesioner pediatric symptom checklist (PSC)-17, suatu kuesioner yang telah tervalidasi untuk mendeteksi masalah psikososial pada anak.Metode. Rancangan analitik dengan metode potong silang, dilakukan pada bulan Mei–l Juli 2011 di Sekolah Menengah Pertama Negeri 14 Bandung. Subjek penelitian adalah siswa usia 12–16 tahun yang dipilih secara berurutan (consecutive sampling), terdiri atas 31 remaja obes dan gizi normal. Indeks massa tubuh didapat dari pengukuran tinggi badan dan berat badan, kemudian dikelompokkan menjadi status gizi obes (>+3SD) dan gizi normal (-2 sampai +2 SD). Subjek mengisi kuesioner PSC-17 yang berisi beberapa pertanyaan mengenai variabel masalah psikososial, yaitu internalisasi, eksternalisasi, dan masalah perhatian. Uji statistik dengan chi-square test untuk perbandingan kedua kelompok.Hasil. Terdapat 15/31 remaja obes dan 5/31 remaja gizi normal mengalami masalah psikososial (p=0,007). Analisis aspek masalah psikososial kuesioner PSC memperlihatkan perbedaan bermakna mengenai masalah internalisasi antara kedua kelompok (p=0,007).Kesimpulan. Masalah psikososial kelompok remaja obes lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok remaja gizi normal.
Faktor Risiko Sakit Tuberkulosis pada Anak yang Terinfeksi Mycobacterium Tuberculosis Kamalina Yustikarini; Magdalena Sidhartani
Sari Pediatri Vol 17, No 2 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp17.2.2015.136-40

Abstract

Latar belakang. Tuberkulosis (TB) masih merupakan masalah kesehatan dan penyebab utama mortalitas dan morbiditas pada anak.Anak yang terpapar Mycobacterium Tuberculosis mempunyai risiko tinggi menjadi sakit TB. Terdapat beberapa faktor risiko yangberpengaruh terhadap sakit TB pada anakTujuan. Mengetahui faktor risiko yang berpengaruh terhadap sakit TB anakMetode. Rancangan penelitian kasus kontrol, subjek penelitian terdiri atas 40 anak sakit TB sebagai kelompok kasus dan 40 anakinfeksi TB sebagai kelompok kontrol. Diagnosis ditegakkan dengan menggunakan sistem skoring TB. Faktor risiko yang ditelitimeliputi riwayat kontak, usia, imunisasi BCG, kepadatan hunian, sosial ekonomi, dan pengetahuan. Analisis statistik menggunakanuji chi square untuk analisis bivariat dan regresi logistik untuk analisis multivariat.Hasil. Delapan puluh anak diikutsertakan dalam penelitian, median usia 49,5 bulan (12-156 bulan). Hasil uji statistik menunjukkanbahwa tidak terdapat hubungan bermakna antara usia, imunisasi BCG, status sosial ekonomi dan pengetahuan dengan kejadianTB pada anak. Terdapat hubungan yang bermakna riwayat kontak TB dengan sakit TB OR 18,3 (IK95% 5,12-65,89; p<0,05).Kepadatan hunian dengan kejadian sakit TB OR 6,54 (IK95% 1,05-40,73; p<0,05).Kesimpulan. Riwayat kontak TB dan kepadatan hunian merupakan faktor risiko sakit TB pada anak. Usia muda, imunisasi BCG,status sosial-ekonomi dan pengetahuan tidak terbukti sebagai faktor risiko kejadian sakit TB pada anak yang terinfeksi MycobacteriumTuberculosis
Hubungan Penggunaan Media Elektronik dan Gangguan Tidur Shyrien Amalina; Mei Neni Sitaresmi; Indria Laksmi Gamayanti
Sari Pediatri Vol 17, No 4 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp17.4.2015.273-8

Abstract

Latar belakang. Gangguan tidur pada remaja menyebabkan gangguan konsentrasi, gangguan regulasi mood dan perilaku, serta gangguan kognitif. Media elektronik merupakan salah satu faktor risiko terjadinya gangguan tidur di kalangan remaja.Tujuan. Mengetahui hubungan antara penggunaan media elektronik dengan gangguan tidur.Metode. Studi potong lintang dilakukan di Yogyakarta pada bulan Juni 2012. Total 288 pelajar dipilih dengan teknik cluster random sampling. Pengambilan data dengan menggunakan kuesioner sleep disturbance scale for children (SDSC) yang diisi oleh orang tua dan pelajar di rumah.Hasil. Prevalensi gangguan tidur didapatkan 62,24%, dengan gangguan memulai dan mempertahankan tidur yang memiliki persentasi tertinggi (18,75%). Uji kemaknaan menunjukkan hubungan antara kebiasaan 30 menit sebelum tidur dengan gangguan tidur (p<0,001, OR 2,71, IK95% 1,56-4,71). Gangguan tidur juga memiliki hubungan dengan mengantuk berlebihan di siang hari (p<0,001, PR 3,42, IK95% 2,06-5,83). Tidak terdapat hubungan antara gangguan tidur dengan ketersediaan televisi, komputer, video game, dan telepon genggam di dalam kamar. Aktifitas selain tidur di atas tempat tidur dan penggunaan kafein juga tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan gangguan tidur.Kesimpulan. Aktivitas 30 menit sebelum tidur memiliki hubungan yang bermakna dengan gangguan tidur.

Page 88 of 152 | Total Record : 1519


Filter by Year

2000 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue