cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 1,519 Documents
Studi Observasional Pasca-Pemasaran Formula Isolat Protein Kedelai pada Bayi dengan Gejala Sugestif Alergi Terhadap Protein Susu Sapi Zakiudin Munasir; Dina Muktiarti; Anang Endaryanto; Ketut Dewi Kumarawati; Budi Setiabudiawan; Sumadiono Sumadiono; Johannes Hudyono; Melva Louisa; Arini Setiawati
Sari Pediatri Vol 15, No 4 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp15.4.2013.237-43

Abstract

Latar belakang. Fomula berbasis isolat protein kedelai banyak digunakan untuk anak-anak dengan alergi susu sapi di Indonesia. Namun, diperlukan penelitian untuk mendapatkan gambaran penerimaan orangtua dan toleransi saluran cerna pada penggunaan formula isolat protein kedelai.Tujuan. Pertama, menentukan penerimaan orangtua terhadap pemberian suatu isolat protein kedelai pada bayi yang diduga mengalami alergi terhadap protein susu sapi. Kedua, mengetahui toleransi saluran cerna pada pemberian susu formula tersebut.Metode. Suatu studi pasca-pemasaran, prospektif, multisenter yang dilakukan di Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, Solo, dan Denpasar sejak September 2011 sampai April 2012. Subyek berusia antara 6 bulan hingga 1 tahun dengan gejala dugaan alergi terhadap protein susu sapi yang diberikan formula isolat protein kedelai dan diamati selama 4 minggu. Luaran yang diharapkan adalah penerimaan orangtua terhadap pemberian formula isolat protein kedelai dan toleransi saluran cerna terhadap pemberian isolat protein kedelai.Hasil. Diteliti 534 subyek yang dapat dianalisis selama periode penelitian. Mayoritas orangtua (84%) merasa puas dengan formula isolat protein kedelai, 83% orangtua berencana untuk melanjutkan pemberian susu formula karena berkurang (31,5%) dan hilangnya gejala yang diduga akibat alergi susu sapi (32,4%). Gejala klinis yang diduga akibat alergi terhadap protein susu sapi menurun pada setiap kunjungan berikutnya. Tidak ada efek samping serius yang dilaporkan selama periode penelitian.Kesimpulan. Penelitian ini menemukan tingkat penerimaan orangtua dan toleransi saluran cerna yang baik terhadap pemberian formula isolat protein kedelai kepada bayi dengan gejala sugestif alergi terhadap protein susu sapi. Formula isolat protein kedelai cukup aman dijadikan sebagai formula alternatif pengganti pada anak dengan alergi susu sapi.
Hubungan antara Kadar Leptin Serum dan Manifestasi Penyakit Atopik pada Anak Obes Dita Lasendra; Harry Raspati; Budi Setiabudiawan
Sari Pediatri Vol 17, No 1 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp17.1.2015.35-40

Abstract

Latar belakang. Kadar leptin meningkat pada obesitas sehingga diduga ada peran leptin dalam menimbulkan manifestasi penyakitatopik.Tujuan. Mengetahui hubungan antara kadar leptin serum dan manifestasi penyakit atopik pada anak obesitas.Metode. Penelitian cross sectional yang dilaksanakan pada bulan November 2013, melibatkan siswa beberapa Sekolah Dasar di KotaBandung usia 6-11 tahun, terbagi menjadi kelompok anak obesitas dan gizi normal, masing-masing 34 anak. Dilakukan anamnesisuntuk memperoleh data riwayat penyakit atopi di keluarga dan faktor lingkungan yang memengaruhi atopi, pemeriksaan uji tusukkulit untuk mengetahui adanya atopi, pemeriksaan ELISA untuk kadar leptin serum, dan kuesioner ISAAC untuk manifestasi penyakitatopik. Analisis statistik yang digunakan adalah uji chi kuadrat. Kurva ROC digunakan untuk melihat batas kadar leptin yang dapatmenimbulkan manifestasi penyakit atopik.Hasil. Kadar leptin tinggi lebih banyak didapatkan pada anak obes dengan manifestasi penyakit atopik (n=20) dibandingkan dengantanpa manifestasi penyakit atopik (n=10) dan anak gizi normal dengan manifestasi penyakit atopik (n=10) maupun tanpa manifestasipenyakit atopik (n=13) (p=0,04).Keimpulan. Kadar leptin serum tinggi lebih banyak didapatkan pada anak obes dengan manifestasi penyakit atopik dibandingkandengan anak obesitas tanpa manifestasi penyakit atopik.
Validitas Skoring Hematologi Rodwell Untuk Deteksi Dini Sepsis Neonatorum Awitan Dini Tena Rosmiati Iskandar; Nadjwa Zamalek Dalimoenthe; Tetty Yuniaty; Dewi Kartika Turbawaty
Sari Pediatri Vol 16, No 5 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (76.575 KB) | DOI: 10.14238/sp16.5.2015.330-6

Abstract

Latar belakang. Sepsis neonatorum awitan dini adalah sindrom klinis dengan gejala infeksi sistemik yangmerupakan penyebab utama kesakitan dan kematian pada neonatus. Diagnosis sepsis neonatorum seringkalisulit karena gejala klinisnya tidak khas. Pemeriksaan biakan darah sebagai baku emas, memerlukan waktu48-72 jam. Sistem skoring hematologi (SSH) Rodwell dapat digunakan sebagai alat bantu deteksi dinisepsis neonatorum awitan dini.Tujuan. Menentukan nilai sensitivitas dan spesifisitas SSH Rodwell dalam mendeteksi sepsis neonatorumawitan dini.Metode. Penelitian deskriptif dengan rancangan potong lintang dilakukan di RSUP dr. Hasan SadikinBandung antara bulan September sampai November 2013. Subjek penelitian adalah neonatus berumurkurang atau sama dengan 5 hari dengan faktor risiko sepsis neonatorum.Hasil. Pada neonatus ditemukan hasil biakan darah positif 45 (40,9%) subjek. Sistem skoring hematologiRodwell memiliki sensitivitas 100% dan spesifisitas 66% untuk mendeteksi sepsis neonatorum awitandini.Kesimpulan. Pemeriksaan SSH Rodwell memiliki nilai sensitivitas tinggi dan nilai spesifisitas sedang dalammenegakkan diagnosis sepsis neonatorum awitan dini.
Jumlah Eosinofil pada Anak dengan Soil Transmitted Helminthiasis yang Berusia 6-10 Tahun Reggy Harapan Baringin Silalahi; Wistiani Wistiani; Edi Dharmana
Sari Pediatri Vol 16, No 2 (2014)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (205.471 KB) | DOI: 10.14238/sp16.2.2014.79-85

Abstract

Latar belakang. Kecacingan atau soil transmitted helminthes (STH) dan alergi keduanya merupakan masalah kesehatan dengan morbiditas yang cukup luas di berbagai negara. Kecacingan berkaitan dengan peningkatan eosinofil darah yang juga dipengaruhi oleh berbagai faktor termasuk alergi.Tujuan. Membuktikan jumlah eosinofil darah pada anak usia 6 -10 tahun yang mengalami kecacingan (STH).Metode. Desain studi observasional menggunakan cross sectional pada anak usia 6–10 tahun yang memenuhi kriteria inklusi. Subjek dipilih secara consecutive sampling di empat sekolah dasar di Semarang yang dipilih dengan purposive sampling. Dilakukan pemeriksaan fisik, tinggi badan, berat badan, mengisi kuisinoner International Study of Asthma and Allergies in Childhood (ISAAC), pemeriksaan mikroskopik feses dan jumlah eosinofil darah. Analisis statistik menggunakan uji Mann Whitney dan Pearson chi square.Hasil. Di antara 74 anak, didapatkan 25 (33,8%) dengan kecacingan (STH) dan 49 tidak kecacingan (66,2%). Pada anak yang mengalami kecacingan (STH), nilai median eosinofil adalah 437,0 (123-1021) dan pada anak yang tidak kecacingan adalah 228,0 (72-1095) dengan nilai p=0,019. Pada kecacingan STH, nilai rasio prevalensi kejadian eosinofilia adalah 3,189 (p=0,025; 95% CI 1,136-8,954). Nilai median eosinofil anak dengan alergi didapatkan 312,0 (111-799) dan pada anak yang tidak alergi didapatkan 251,0(72-1095) dengan nilai p=0,974.Kesimpulan. Jumlah eosinofil darah pada anak usia 6-10 tahun yang menderita kecacingan (STH) berbeda secara bermakna dengan anak yang tidak mengalami kecacingan.
Faktor Prognostik Kegagalan Terapi Epilepsi pada Anak dengan Monoterapi Agung Triono; Elisabeth Siti Herini
Sari Pediatri Vol 16, No 4 (2014)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (70.492 KB) | DOI: 10.14238/sp16.4.2014.248-53

Abstract

Latar belakang. Epilepsi merupakan salah satu penyakit neurologi utama pada anak. Banyak faktor yangmemengaruhi kegagalan monoterapi epilepsi pada anak sehingga akan berdampak pada keberhasilan terapiepilepsi secara keseluruhan.Tujuan. Mengetahui faktor prognostik yang dapat digunakan untuk memprediksi kegagalan monoterapiepilepsi pada anakMetode. Penelitian kasus-kontrol pada pasien epilepsi usia 6 bulan sampai dengan 18 tahun yang berobatke Poli Anak RSUP Dr. Sardjito tahun 2009. Kasus adalah pasien epilepsi yang gagal dengan monoterapidan kontrol adalah pasien epilepsi yang berhasil dengan monoterapi.Hasil. Didapat 120 pasien dengan 60 pasien kelompok kontrol dan 60 kelompok kasus. Dilakukan analisisunivariat pada masing-masing faktor prognostik. Berdasarkan analisis univariat didapatkan beberapa faktorprognostik kegagalan monoterapi, yaitu terapi epilepsi yang tidak segera, frekuensi serangan kejang sebelumterapi, status epileptikus, adanya defisit neurologis, dan adanya kelainan neurologi penyerta. Setelah dianalisissecara multivariat, faktor frekuensi serangan kejang sebelum terapi >10 kali (OR 14,196, IK95%:3,576-56,348; p<0,01) dan adanya kelainan neurologi penyerta (OR 18,977, IK95%:3,159-113,994; p<0,01 )merupakan faktor prognostik kegagalan monoterapiKesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa anak epilepsi dengan serangan kejang lebih darisepuluh kali sebelum terapi dan adanya kelainan neurologi penyerta merupakan faktor prognostik kegagalanmonoterapi.
Penilaian Kesadaran pada Anak Sakit Kritis: Glasgow Coma Scale atau Full Outline of UnResponsiveness score? Rismala Dewi
Sari Pediatri Vol 17, No 5 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (827.504 KB) | DOI: 10.14238/sp17.5.2016.401-406

Abstract

Pemeriksaan neurologis tingkat kesadaran sangat penting untuk menilai secara komprehensif pasien anak sakit kritis, dan dapat memberikan informasi prognosis. Skala koma yang ideal seharusnya bersifat linear, reliabel, valid, dan mudah digunakan. Berbagai macam skala koma telah dikembangkan dan di validasi untuk mengevaluasi tingkat kesadaran secara cepat, menilai beratnya penyakit dan prognosis terhadap morbiditas dan mortalitas. Glasgow Coma Scale (GCS) merupakan alat pemeriksaan tingkat kesadaran yang paling sering digunakan dan dijadikan baku emas saat memvalidasi skala koma yang baru. GCS mempunyai keterbatasan karena pasien yang terintubasi tidak dapat dinilai komponen verbal sehingga memengaruhi hasil penilaian. FOUR Score dikembangkan untuk mengatasi berbagai keterbatasan yang dimiliki GCS. FOUR score lebih sederhana dan memberikan informasi yang lebih baik, terutama pada pasien-pasien yang terintubasi.
Faktor Prognosis Terjadinya Perdarahan Gastrointestinal dengan Demam Berdarah Dengue pada Dua Rumah Sakit Rujukan Rinang Mariko; Sri Rezeki S Hadinegoro; Hindra Irawan Satari
Sari Pediatri Vol 15, No 6 (2014)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp15.6.2014.361-8

Abstract

Latar belakang. Infeksi virus dengue masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Angka kematian akibat dengue syok sindrom (DSS) yang disertai dengan perdarahan gastrointestinal hebat dan ensefalopati masih tetap tinggi. Oleh sebab itu, perlu diketahui faktor prognosis terjadinya perdarahan gastrointestinal sehingga diharapkan dapat mengantisipasi dini kejadian perdarahan gastrointestinal pada anak demam berdarah dengue (DBD)Tujuan. Mengetahui faktor prognosis perdarahan gastrointestinal pada pasien demam berdarah dengue anak.Metode. Dilakukan penelitian cross sectional retrospektif di RSUP Dr. Cipto Mangunkusumo dan RSUP Dr. M Djamil dengan mengambil data rekam medik pasien DBD yang dirawat dari Januari 2010 sampai Juni 2011. Diukur parameter klinis (lamanya syok, hepatomegali) dan laboratoris (jumlah trombosit, hemokonsentrasi, pemanjangan sistem koagulasi) pada pasien DBD. Data dianalisis dengan program statistik SPSS versi 17.Hasil. Didapatkan 228 pasien yang menderita DBD. Pasien dengan nilai hematokrit 40,7% mempunyai sensitivitas 58,3% dan spesifisitas 59,8% untuk meramalkan terjadinya perdarahan gastrointestinal. Durasi anak yang mengalami renjatan >1 jam 45 menit mempunyai faktor prognosis untuk terjadinya perdarahan gastrointestinal 14,4 kali dibanding anak yang mengalami renjatan ≤1 jam 45 menit dengan sensitivitas 57,1% dan spesifisitas 91,5%.Kesimpulan. Durasi renjatan dan hematokrit (hemokonsentrasi) merupakan faktor prognosis terjadinya perdarahan gastrointestinal pada pasien DBD
Perbandingan Efektivitas Isoniazid pada Preparat Kombinasi Isoniazid dan Rifampisin pada Anak dengan Infeksi Laten Tuberkulosis Dhyniek Nurul HA; Nastiti Kaswandhani
Sari Pediatri Vol 17, No 6 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp17.6.2016.485-90

Abstract

Latar belakang. Terapi infeksi laten tuberculosis (TB) dengan INH selama 6-12 bulan telah lama digunakan sebagai rejimen standar.Waktu terapi yang lama menyebabkan angka kepatuhan terhadap pengobatan rendah sehingga dicari rejimen terapi lain yangmempunyai durasi lebih singkat.Tujuan. Mengetahui efektivitas terapi kombinasi INH dan rifampisin selama 3 bulan dibandingkan dengan terapi INH 6 bulanpada anak dengan infeksi laten TB.Metode. Penelusuran pustaka database elektronik yaitu Pubmed, Cochrane, dan Highwire.Hasil. Studi uji kontrol acak prospektif selama lebih dari 11 tahun (1995-2005) terhadap 926 anak < 15 tahun yang menderitalaten TB mendapatkan angka ketidakpatuhan lebih tinggi pada kelompok mendapat terapi INH 9 bulan, dibanding kelompok yangmendapat terapi INH dan rifampisin 4 bulan (p=0,011). Pemberian rejimen INH dan rifampisin selama 3 bulan mampu mencegahinfeksi menjadi lebih berat dan efektif bagi keadaan subklinis. Meta-analisis terhadap 5 uji klinis acak terkontrol juga menyokong hasilyang sama. Studi kohort retrospektif terhadap 335 anak < 5 tahun, menunjukkan bahwa kemoprofilaksis kombinasi INH rifampisinyang diberikan selama 3 bulan, lebih baik (69,6%) secara signifikan dibandingkan kepatuhan terhadap kemoprofilaksis INH saja(27,6%) yang diberikan selama 6 bulan (p<0,001; OR 4,9; IK 95% 2,4-10,36).Kesimpulan. Terapi infeksi laten TB dengan INH dan rifampisin selama 3 atau 4 bulan terbukti sama efektifnya dengan terapistandar INH selama 6-12 bulan.
Hubungan antara Tumor Necrosis Factor Alpha dengan Demam Berdarah Dengue Felix Candra Sutanto; Max F.J. Mantik; Vivekenanda Pateda
Sari Pediatri Vol 15, No 4 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (183.073 KB) | DOI: 10.14238/sp15.4.2013.244-8

Abstract

Latar belakang. Sampai saat ini patogenesis demam berdarah dengue (DBD) belum dipahami secara sempurna. Pada kasus DBD didapatkan adanya peningkatan kadar TNF-α, sitokin yang poten dalam meningkatkan permeabilitas pembuluh darah. Penelitian sebelumnya mendapatkan adanya peningkatan kadar TNF-α yang bermakna pada DBD.Tujuan. Mengetahui hubungan antara kadar TNF-α dengan keparahan DBD.Metode. Penelitian analitik observasional dengan pendekatan potong lintang selama bulan Ju li hingga Desember 2011. Pasien didiagnosis DBD berdasarkan kriteria WHO. Data berupa hemoglobin, hematokrit, jumlah leukosit, jumlah trombosit, dan kadar TNF-α dikumpulkan selama penelitian. Analisis statistik menggunakan korelasi Spearman’s Rho dengan tingkat kemaknaan p<0,05.Hasil. Didapatkan tiga puluh delapan anak, 27 di antaranya didiagnosis DBD tanpa syok dan 11 DBD dengan syok. Rerata usia kelompok DBD tanpa syok adalah 7,56 (SB 3,06) tahun (95% IK 6,35-8,76 tahun) dan rerata usia kelompok DBD dengan syok adalah 6,82 (SB 3,25) tahun (95% IK 4,63-9,00 tahun). Rerata kadar TNF-α kelompok DBD tanpa syok adalah 13,13 (SB 7,57) pg/ml (95% IK 10,14-16,13 pg/ml) dan rerata kadar TNF-α kelompok DBD dengan syok adalah 260,52 (SB 239,08) pg/ml (95% IK 99,90-421,13 pg/ml). Didapatkan hubungan positif yang bermakna antara kadar TNFα plasma dengan tingkat keparahan/derajat DBD (rs 0,885; p<0,001).Kesimpulan. Semakin berat derajat DBD yang terjadi semakin tinggi kadar TNF-α
Faktor Risiko Trauma Lahir MM. Tri Widiyati; Setya Wandita Tunjung Wibowo; Ekawaty Lutfia Haksari
Sari Pediatri Vol 15, No 5 (2014)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp15.5.2014.294-300

Abstract

Latar belakang. Kemajuan di bidang pelayanan obstetri berhasil menurunkan kejadian trauma lahir. Namun, trauma lahir masih merupakan salah satu penyebab morbiditas dan mortalitas pada neonatal. Banyak faktor risiko yang berperan dalam trauma lahir.Tujuan. Mengetahui faktor risiko trauma lahir.Metode. Penelitian kasus-kontrol di bangsal Perinatal Rumah Sakit Dr Sardjito, Yogyakarta, mulai Januari 2004 sampai Desember 2008. Kriteria inklusi adalah semua neonatus dengan trauma lahir dan kriteria eksklusi adalah jika ada anomali kongenital dan data medis tidak lengkap. Kontrol adalah neonatus tanpa trauma lahir. Kasus adalah semua neonatus dengan trauma lahir, dan keduanya memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Data dikumpulkan dari rekam medis yang berkaitan dengan data ibu, bayi, dan faktor risiko yang diduga berhubungan dengan trauma lahir.Hasil. Di antara 6678 neonatus, 47 mengalami trauma lahir, yaitu trauma kepala 27 (57%), trauma tulang 13(28%), saraf perifer 10(21,3%), saraf pusat 7(14,8%), dan 3 lainnya (6%). Faktor risiko trauma lahir adalah paritas (OR 1,3;CI95%=0,5-3,4; p=0,625), umur kehamilan (OR 1,5;95%CI=0,2-9,6; p=1,00), berat lahir (OR 1,4;95%CI=0,3-6,5; p=0,100), lingkar kepala (OR 1,5;95%CI=0,4-5,0; p=0,76), malpresentasi (OR 3,6;95%CI=0,4-30,3;p=0,244), presentasi bokong (OR 3,9;95%CI=1,0-14,8; p=0,049), presentasi muka (OR 2,0;95%CI=1,7-2,5; p=1,00), vakum ekstraksi (OR 10,1;95%CI=1,2-88,3; p=0,037), versi ekstraksi (OR 3,1;95%CI=0,3-31,3; p=0,62), penyulit persalinan (OR 11,4;95%CI=2,2-60,2; p=0,004), letak lintang (OR 1,0;95%CI=0,2-5,2; p=1,000), dan seksio kaisaria (OR 0,4;95%CI=0,1-0,8; p=0,017).Kesimpulan. Faktor risiko trauma lahir adalah presentasi bokong, persalinan dengan penyulit dan vakum ekstraksi, sedangkan kelainan presentasi tidak berhubungan dengan trauma lahir. Seksio kaisaria merupakan faktor protektif terhadap terjadinya trauma lahir.

Page 90 of 152 | Total Record : 1519


Filter by Year

2000 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue