cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Indonesia Medicus Veterinus
Published by Universitas Udayana
ISSN : 24776637     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Menerima artikel ilmiah yang berhubungan dengan bidang kedokteran dan kesehatan hewan. Naskah yang berkaitan dengan hewan dan segala aspeknya juga kami terima untuk dipublikasikan. Penulis naskah minimal terdiri dari dua orang. Naskah yang ditulis seorang diri belum bisa diterima oleh redaksi, karena kami berpandangan suatu penelitian merupakan suatu kerja sama untuk menghasilkan sesuatu karya. Artikel yang diterima adalah naskah asli, belum pernah dipublikasikan pada majalah ilmiah atau media masa. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa inggris. Panjang artikel sekitar 3000 kata. Artikel harap dilengkapi dengan abstrak dalam bahasa Indonesia dan bahasa inggris. Artikel harus telah disetujui untuk dipublikasikan oleh seluruh penulis yang tercantum dalam artikel yang ditandai dengan bubuhan tanda tangan pada hard copy yang dikirim ke redaksi.
Arjuna Subject : -
Articles 843 Documents
Penambahan Alfa Tokoferol dalam Pengencerterhadap Motilitas dan Daya Hidup Spermatozoa Ayam Pelung Pada Suhu 4?c Hendiyani, Melia; Bebas, Wayan; Budiasa, Made Kota
Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 (2) 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (345.17 KB) | DOI: 10.19087/imv.2018.7.2.168

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan berbagai konsentrasi ?-tocopherol pada pengencer fosfat kuning telur terhadap motilitas dan daya hidup spermatozoa ayam pelung yang disimpan pada suhu 4ºC selama 24 jam. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan. Masing-masing T0 (semen yang diencerkan dengan fosfat kuning telur tanpa ditambah ?-tocopherol sebagai kontrol), T1 (semen yang diencerkan dengan fosfat kuning telur ditambah dengan ?-tocopherol 300 µg/mL), T2 (semen yang diencerkan dengan fosfat kuning telur ditambah dengan ?-tocopherol 400 µg/mL), T3 (semen yang diencerkan dengan fosfat kuning telur ditambah dengan ?-tocopherol 500 µg/mL). Masing-masing perlakuan terdiri dari 6 ulangan sehingga jumlah sampel yang digunakan sebanyak 24. Variabel yang diamati adalah motilitas dan daya hidup spermatozoa. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan General Linear Model (Multivariate). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan ?-tocopherol dalam pengencer fosfat kuning telur berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap daya hidup dan motilitas spermatozoa ayam pelung. Konsentrasi ?-tocopherol 400 µg/mL merupakan konsentrasi terbaik dalam mempertahankan motilitas dan daya hidup spermatozoa ayam pelung yang disimpan pada suhu 4oC selama 24 jam.
Pemanfaatan Dedak Padi Terfermentasi untuk Meningkatkan Laju Pertumbuhan Dimensi Panjang Itik Bali Fauzi, Achmad Ali; Sampurna, I Putu; Suharsono, Hamong
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (2) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (325.997 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh penggunaan kultur EM4 dan BeKa Dekomposer sebagai inokulan fermentasi dedak padi terhadap laju pertumbuhan dimensi panjang itik bali. Rancangan yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 2 macam perlakuan selama 8 minggu. Kedua perlakuan yang dicobakan, yaitu dedak padi dengan fermentasi EM4 sebagai P1 dan dedak padi dengan fermentasi BeKa Dekomposer sebagai P2. Pada persamaan regresi model power, terdapat korelasi sangat nyata antara berat badan dengan ukuran dimensi panjang, sehingga menghasilkan koefisien korelasi 0,700 sampai dengan 0,964. Hasil analisis laju pertumbuhan dimensi panjang itik bali menunjukkan koefisien korelasi yang sangat nyata antara berat badan itik bali secara keseluruhan. Pakan terfermentasi dengan jenis fermentor yang berbeda berpengaruh terhadap laju pertumbuhan dimensi pajang itik bali umur 4 - 10 minggu.
Deteksi Antibodi terhadap Virus Classical Swine Fever dengan Teknik Enzyme-Linked Immunosorbent Assay RATUNDIMA, EKA MAHARDHIKA; SUARTHA, I NYOMAN; NGURAH KADE MAHARDHIKA, I GUSTI
Indonesia Medicus Veterinus Vol 1 (2) 2012
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (290.34 KB)

Abstract

Classical swine fever (CSF) adalah penyakit viral yang sangat menular pada babi disebabkan oleh virus CSF dari genus Pestivirus, famili Flaviviridae. Penyakit CSF tersebar hampir di seluruh kabupaten dan kecamatan di Nusa Tenggara Timur (NTT). Pencegahan yang efektif untuk mengatasi penyakit CSF adalah vaksinasi dan stamping out. Upaya pencegahan dengan vaksinasi telah dilakukan di NTT. Efektivitas vaksinasi dikaji dan dievaluasi melalui pemeriksaan titer antibodi dari babi yang telah divaksin. Kajian tersebut juga dilakukan pengambilan serum dari babi yang tidak divaksin untuk mengetahui kemungkinan terjadinya infeksi alami.Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 358, yang terdiri atas 223 sampel yang berasal dari babi yang tidak divaksinasi dan 135 sampel berasal dari babi yang divaksinasi. Penelitian dilakukan dengan teknik Enzyme-linked Immunosorbent Assay (ELISA) untuk mendeteksi antibodi terhadap virus CSF pada babi yang divaksinasi dan tidak divaksinasi. Data hasil uji ELISA akan dihitung nilai Persentase Inhibisi (PI) dan dianalisis dengan uji chi-square dan uji t tidak berpasangan.Uji ELISA menunjukkan adanya antibodi CSF sebanyak 63 sampel (28,3 %) pada babi yang tidak divaksinasi dan 69 sampel (51,1 %) pada babi yang divaksinasi. Kesimpulan penelitian ini adalah seroprevalensi antibodi terhadap virus CSF pada babi yang divaksinasi lebih tinggi dibandingkan dengan pada babi yang tidak divaksinasi.
Ekstrak Metanol Daun Pepaya Efektif sebagai Vermisidal dan Ovisidal terhadap Cacing Ascaris Suum secara In Vitro Malelak, Ayu Murni Desrini; Oka, Ida Bagus Made; Sudira, I Wayan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 4 (3) 2015
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (317.132 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui vermisidal dan ovisidal dari ekstrak metanol daun pepaya dengan konsentrasi ekstrak 0,25% - 1% terhadap cacing Ascaris suum. Penelitian ini menggunakan  Rancangan  Acak  Lengkap (RAL), dengan perlakuan beberapa konsentrasi ekstrak daun pepaya 0,25%, 0,5%, 0,75%, dan 1%. Kontrol negatif menggunakan NaCl fisiologis dan kontrol positif menggunakan Albendazole 0,12%. Dilakukan uji vermisidal dan uji  ovisidal, uji ovisidal dibagi  menjadi  dua  uji,  yaitu kontak langsung dan kontak tidak  langsung. Untuk uji vermisidal data dianalisis dengan Analisis Probit untuk mengetahui LC100 (Lethal concentration) dan LT100 (Lethal  time), sedangkan  untuk  uji  ovisidal  data dianalisis dengan Sidik Ragam dan  jika terdapat perbedaan, dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan. Hasil  penelitian  vermisidal  didapatkan  LC100 ekstrak  daun  pepaya adalah  13,378%  dan  LT100 54,706  jam.  Untuk  uji  ovisidal  kontak  langsung didapatkan ekstrak daun pepaya berpengaruh sangat nyata (P<0,01) dan kontak tidak langsung didapatkan ekstrak daun papaya tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap daya berembrio telur Ascaris suum. Dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa ekstrak daun pepaya efektif sebagai vermisidal dan ovisidal kontak langsung terhadap cacing Ascaris suum secara in-vitro.
Penggunaan Serbuk Biji Kelor untuk Penanganan Limbah Peternakan Sapi Ditinjau dari Total Coliform dan Total Suspended Solid Gea, Octo Berkat; Suada, I Ketut; Merdana, I Made
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (3) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (178.625 KB)

Abstract

Pencemaran limbah peternakan sapi sangat berdampak buruk terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat termasuk masyarakat veteriner. Pemakaian bahan alami yang dapat digunakan untuk mengolah air limbah sangat diperlukan, salah satunya yaitu biji kelor (Moringa oleifera). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari serbuk biji kelor terhadap penurunan TSS (Total Suspended Solid) dan total coliform limbah peternakan sapi. Limbah peternakan sapi diperoleh dari kandang anggota kelompok tani Walung Mekar, Gianyar. Penelitian dilakukan di Laboratorium Kesehatan Masyarakat Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana. Perlakuan konsentrasi biji kelor (0 mg/L, 50 mg/L, 100 mg/L dan 150 mg/L)/500 ml limbah sapi dilakukan pengadukan cepat (200 rpm) dan pengadukan lambat (60 rpm) dengan lama pengendapan (0 menit, 20 menit, 40 menit dan 60 menit). Analisis uji sidik ragam konsentrasi biji kelor dan lama pengendapan berpengaruh sangat nyata terhadap penurunan total coliform dan TSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengamatan yang dilakukan pada parameter total coliform dan TSS, konsentrasi serbuk biji kelor optimum terbaik hingga 150 mg/L dan lama pengendapan optimum 60 menit mampu menurunkan total bakteri coliform dan TSS. Namun pada penurunan TSS efesien pada lama pengendapan 20 menit.
Prevalensi Kasus Rabies dan Jumlah Gigitan Anjing pada Manusia di Kabupaten Badung, Bali Tahun 2015 Prabandari, Anak Agung Istri Vera; Kardena, I Made; Gunata, I Ketut
Indonesia Medicus Veterinus Vol 6 (5) 2017
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (290.701 KB)

Abstract

Rabies merupakan penyakit zoonosis yang menyerang sistem saraf pusat dan dapat berakibat fatal. Penyakit ini disebabkan oleh virus dari genus Lyssavirus dari famili Rhabdovirus. Rabies menyerang semua spesies mamalia termasuk manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi kasus rabies, jumlah gigitan anjing pada manusia serta pemetaan sebaran kasus rabies di Kabupaten Badung tahun 2015. Tingkat prevalensi rabies dianalisis secara deskriptif kuantitatif dengan menggunakan program Microsoft Excel 2007. Pemetaan kasus dilakukan berbasis desa menggunakan program Quantum-GIS. Dalam penelitian ini data jumlah kasus anjing positif rabies diperoleh di Balai Besar Veteriner Denpasar (BBVet), jumlah gigitan anjing pada manusia diperoleh dari Dinas Kesehatan Kabupaten Badung, estimasi populasi anjing dan jumlah anjing yang tervaksinasi anti rabies di Kabupaten Badung diperoleh dari Dinas Peternakan Perikanan dan Kelautan Kabupaten Badung serta Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Bali. Prevalensi kasus rabies di Kabupaten Badung pada tahun 2015 sebesar 0,02%, dan jumlah gigitan anjing pada manusia sebanyak 5.948 kasus gigitan, dengan rata-rata jumlah proporsi gigitan anjing pada manusia yang memperoleh VAR sebanyak 70% dan yang tidak sebanyak 30%. Pemetaan sebaran kasus rabies terjadi di 11 desa, yaitu di Desa Abianbase, Desa Kapal, Desa Mengwi, Desa Mengwitani, Desa Munggu, Desa Pererenan, Desa Werdi Bhuwana, Desa Benoa, Desa Kuta, Desa Tuban, dan Desa Blahkiuh.
Studi Kasus: Pneumonia Karena Migrasi Larva Toxocara Sp. pada Anjing Basset Hound Widiastuti, Wayan Arni; Soma, I Gede; Arjentinia, I Putu Gede Yudhi
Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 (6) 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (349.712 KB)

Abstract

Seekor anjing basset hound bernama Roxy berumur 3 bulan, mengalami masalah pernapasan yaitu batuk dan hidung mengeluarkan eksudat serous. Selain itu anjing kurus dan perut membesar. Pada pemeriksaan fisik saat faring dipalpasi muncul refleks batuk dan hendak mengeluarkan sesuatu dari tenggorokannya serta pada pemeriksaan feses ditemukan telur cacing Toxocara sp. Pemeriksaan hematologi rutin menunjukkan hewan mengalami anemia mikrositik normokromik, leukositosis, limfositosis, dan eosinofilia. Anjing kasus didiagnosis mengalami pneumonia karena migrasi larva cacing Toxocara sp. Pengobatan dengan pemberian Pyrantel pamoat (Combantrin®) 25 mg/ml dengan dosis 5 ml per oral 1 bulan sekali, pengulangan tergantung derajat keparahan, antibiotik Amoxicillin 500 mg dan Chlorpeniramine maleat 4 mg dengan dosis masing-masing 50 mg dan 2 mg,diberikan secara oral 2 kali sehari selama 5 hari. Evaluasi pada hari ke-7 (tujuh) kondisi hewan menunjukkan adanya perbaikan.
Tingkat Kejadian Rabies Dan Pemetaan Status Desa Tertular di Kecamatan Mengwi, Badung, Bali Tahun 2015 Putri, Raden Roro Chandra Gita Soetarmono; Kardena, I Made; Gunata, I Ketut
Indonesia Medicus Veterinus Vol 6 (2) 2017
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (325.379 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kejadian rabies dan titik koordinat kejadian rabies di Kecamatan Mengwi periode 2015. Tingkat insiden rabies dianalisis secara deskriptif kuantitatif dengan menggunakan program Microsoft Excel dan untuk keperluan pemetaan kasus digunakan software Quantum-GIS. Dalam penelitian ini digunakan 2 jenis data yaitu data primer yang didapatkan dengan cara menentukan titik koordinat dimana ditemukannya lokasi kasus positif rabies pada anjing yang telah terkonfirmasi rabies di laboratorium dan data sekunder berupa data kasus anjing rabies dan jumlah populasi anjing di Kecamatan Mengwi Kabupaten Badung. Tingkat kejadian rabies di Kecamatan Mengwi periode Januari hingga Agustus 2015 sebesar 0,17%. Dari 20 desa yang ada di Kecamatan Mengwi enam desa di antaranya ditemukan kejadian rabies, yaitu pada April 2015 ditemukan di koordinat 115o 16’ 85” BT dan 8o 54’ 58” LS yang berada di Desa Mengwi, pada Mei 2015 ditemukan di titik 115o 16’ 15” BT dan 8o 56’ 71” LS yang berada di Desa Mengwitani, pada Juli 2015 ditemukan di tiga titik berbeda yaitu di koordinat 115o 17’ 66” BT dan 8o 57’ 78” LS yang berada di Desa Kapal, 115o 17’ 50” BT dan 8o 59’ 26” LS yang berada di Desa Abianbase, koordinat 115o 12’ 46” BT dan 8o 62’ 25” LS yang berada di Desa Munggu, sedangkan pada Agustus 2015 kejadian rabies ditemukan di dua titik yang berbeda yaitu di koordinat 115o 15’ BT dan 8o 59’ LS yang berada di Desa Abianbase, koordinat kedua ditemukan di 115o 17’ 75” BT dan 8o 52’ 30” LS yang berada di Desa Werdi Bhuwana.
Sinergi Bioaktivitas Daun Tapakdara (Chatarantus Roseus) dan Pegagan (Centella Asiatica) terhadap Proses Penyembuhan Luka Insisi pada Anjing Kintamani Dada, Ketut Anom; Jayawardhita, Anak Agung Gde
Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 (3) 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (235.733 KB) | DOI: 10.19087/imv.2018.7.3.305

Abstract

Obat herbal masih banyak digunakan masyarakat untuk mengobati beberapa penyakit terutama di negara-negara berkembang. Hal ini karena secara budaya mudah diterima dan rendahnya efek samping yang ditimbulkan. Tanaman tapakdara (Cantharantus roseus) dan pegagan (Centella asiatica) merupakan tanaman obat yang terbukti secara empiris dapat digunakan sebagai obat gangguan pada kulit seperti dermatitis, eksim, jerawat, luka. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi sinergi bioaktivitas ekstrak daun tapakdara dan pegagan dalam proses kesembuhan luka. Hewan coba yang digunakan adalah tikus Wistar sebagai model pengganti anjing kintamani yang dibagi menjadi empat perlakuan yang masing-masing terdiri dari 6 ekor. Masing-masing tikus dibuat luka insisi. Perlakuan I sebagai kontrol normal diberikan salep oxytetrasiklin 3% secara topical sebagai plasebo; Perlakuan II diberikan secara topikal ekstrak daun tapakdara konsentrasi 15% dalam vaselin; Perlakuan III diberikan secara topikal ekstrak daun pegagan konsentrasi 15% dalam vaselin; dan Perlakuan IV merupakan perlakuan kombinasi yang diberikan secara topikal ekstrak daun tapakdara dan pegagan. Sebagai tolak ukur proses penyembuhan luka adalah waktu epitelisasi, angiogenesis, perkembangan kolagen pada jaringan serta ephitelisasi. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan metode Kruskal Wallis, untuk mengetahui perbedaan yang signifikan diuji dengan Mann-Whitney U test. Hasil penelitian berdasarkan pengamatan secara makroskopis menunjukkan bahwa pemberian salep oxytetrasiklin 3% memberikan kesembuhan paling cepat disusul tapakdara, kombinasi tapakdara dengan pegagan, terakhir pegagan. Tetapi secara mikroskopis pengobatan dengan pemberian kombinasi pegagan dan tapakdara memberikan kesembuhan yang hampir sama dengan oxytetrasiklin 3%. Hal ini menujukkan kombinasi ektrak tapakdara dan pegagan dengan konsentrasi 15% dalam vaselin terjadi sinergi dalam proses penyembuhan luka pada tikus Wistar
Seroprevalensi Penyakit Tetelo (Newcastle Disease) pada Ayam Buras di Kecamatan Kerambitan, Kabupaten Tabanan, Bali Kencana, Gusti Ayu Yuniati; Nirhayu, Nirhayu; Suartini, I Gusti Ayu Agung
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (4) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (177.852 KB)

Abstract

Penyakit tetelo atau Newcastle Disease (ND) merupakan salah satu penyakit virus yang penting dalam dunia perunggasan dan merupakan penyakit endemik di Indonesia. Inang yang diserang semua unggas meliputi ayam ras maupun ayam bukan ras (buras). Penyakit ND menginfeksi saluran pernapasan, saluran pencernaan maupun pada sistem saraf. Gejala klinis ND dapat bersifat akut maupun kronis, mudah menular dan menginfeksi unggas disekitarnya. Newcastle Disease disebabkan oleh Avian Paramyxovirus type-1 (APMV-1), genus Paramyxovirus famili Paramyxoviridae. Avian Paramyxovirus type-1 termasuk kelompok virus RNA dengan genom serat tunggal (single stranded/ss) dan berpolaritas negatif. Penelitian bertujuan untuk mengetahui seroprevalensi ND pada ayam buras di Kecamatan Kerambitan, Tabanan, Bali. Sampel penelitian menggunakan serum dari ayam buras yang tidak divaksinasi ND, tidak dikandangkan, dan yang berumur lebih dari tiga bulan. Sampel darah diambil dari delapan desa di Kecamatan Kerambitan. Setiap desa diambil sampel darah ayam dari tiga banjar, masing-masing banjar diambil delapan sampel dari penduduk yang memiliki ayam 3-10 ekor. Total sampel yang diambil sebanyak 192 serum ayam buras. Serum diuji dengan uji hambatan hemaglutinasi (HI) di Laboratorium Virologi Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 23 serum (11,9%) positif memiliki titer antibodi ND. Hal tersebut menunjukkan bahwa ayam buras di Kecamatan Kerambitan pernah terpapar oleh virus ND.