cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Indonesia Medicus Veterinus
Published by Universitas Udayana
ISSN : 24776637     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Menerima artikel ilmiah yang berhubungan dengan bidang kedokteran dan kesehatan hewan. Naskah yang berkaitan dengan hewan dan segala aspeknya juga kami terima untuk dipublikasikan. Penulis naskah minimal terdiri dari dua orang. Naskah yang ditulis seorang diri belum bisa diterima oleh redaksi, karena kami berpandangan suatu penelitian merupakan suatu kerja sama untuk menghasilkan sesuatu karya. Artikel yang diterima adalah naskah asli, belum pernah dipublikasikan pada majalah ilmiah atau media masa. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa inggris. Panjang artikel sekitar 3000 kata. Artikel harap dilengkapi dengan abstrak dalam bahasa Indonesia dan bahasa inggris. Artikel harus telah disetujui untuk dipublikasikan oleh seluruh penulis yang tercantum dalam artikel yang ditandai dengan bubuhan tanda tangan pada hard copy yang dikirim ke redaksi.
Arjuna Subject : -
Articles 843 Documents
Vermisidal dan Ovisidal Ekstrak Metanol Biji Pepaya Muda Terhadap Ascaridia galli Secara In-Vitro Sonda, Kristina Sartika; Samsuri, Samsuri; Oka, Ida Bagus Made
Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 (3) 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (174.826 KB) | DOI: 10.19087/imv.2018.7.3.295

Abstract

Di dalam biji pepaya muda terkandung beberapa zat aktif seperti glikosida, alkaloid karpain, benzyl-isothiocianate (BITC) dan enzim papain yang telah terbukti dapat membunuh cacing dan menghambat daya berembrio telur cacing Ascaridia galli. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui vermisidal dan ovisidal ekstrak methanol biji pepaya muda terhadap cacing Ascaridia galli. Rancangan Acak Lengkap (RAL) digunakan dalam penelitian ini yakni untuk uji vermisidal terdiri dari 6 perlakuan (P0, P1, P2, P3, P4, P5) dan 5 ulangan, sedangkan untuk uji ovisidal dibagi menjadi dua uji, yaitu kontak langsung dan kontak tidak langsung. Perlakuan yang diberikan; Kontrol Negatif (P0) dengan larutan NaCl Fisiologis, Kontrol Positif (P1) dengan larutan Albendazole (Benzamidazole 0,15 ml/kg berat badan), perlakuan II (P2), ekstrak biji pepaya muda konsentrasi 0,07 %, perlakuan III (P3), ekstrak biji pepaya muda konsentrasi 0,14 %, perlakuan IV (P4), ekstrak biji pepaya muda konsentrasi 0,21 %, perlakuan V (P5), ekstrak biji pepaya muda 0,28 %. Untuk uji vermisidal data dianalisis dengan Analisis Probit untuk mengetahui LC100 (Lethal Concentration) dan LT100 (Lethal Time) dari ekstrak biji pepaya muda sedangkan untuk uji ovisidal data dianalisis dengan Sidik Ragam Hasil penelitian vermisidal didapatkan LC100 ekstrak biji pepaya muda adalah 0,371 % dan LT100 34,614 jam. Untuk uji ovisidal kontak langsung dan kontak tidak langsung didapatkan bahwa ekstrak biji pepaya muda berpengaruh sangat nyata (P<0,05) terhadap daya berembrio telur cacing Ascaridia galli. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ekstrak biji pepaya muda efektif sebagai vermisidal dan ovisidal kontak langsung terhadap cacing Ascaridia galli secara in-vitro.
Pemberian Gel Ekstrak Daun Binahong dalam Proses Angiogenesis Penyembuhan Luka Insisi pada Mencit Hiperglikemia Tanuwijaya, Phebe Amadea; Berata, I Ketut; Jayawardhita, Anak Agung Gde
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (4) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (265.215 KB)

Abstract

Hiperglikemia merupakan keadaan meningkatnya kadar glukosa dalam darah. Keadaan hiperglikemia memperpanjang masa hipoksia yang dapat menghambat proses kesembuhan luka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh gel ekstrak daun binahong (Anredera cordifolia) terhadap percepatan kesembuhan luka insisi pada mencit penderita hiperglikemia melalui pengamatan proses angiogenesis. Penelitian ini menggunakan uji non-parametrik Kruskal Wallis dan uji Mann Whitney. Sebanyak 24 ekor mencit (Mus musculus) jantan yang digunakan sebagai sampel hewan coba dibagi ke dalam empat kelompok perlakuan. Mencit dibuat hiperglikemia menggunakan aloksan (0,05 mg/ekor, intraperitoneal) dan diinsisi pada bagian punggung (15 mm) lalu diberi perlakuan menggunakan gel ekstrak daun binahong secara topikal, kelompok (T0) dengan konsentrasi 0%, (T1) 25%, (T2) 30%, dan (T3) 35%. Proses kesembuhan luka hewan coba diamati pada preparat dengan pewarnaan Hematoksilin-Eosin (HE) dan diamati secara histopatologi menggunakan mikroskop cahaya, dan untuk setiap tahap kesembuhan dilakukan penskoran. Tingkat kesembuhan berdasarkan angiogenesis menggunakan penskoran yaitu 0=tidak ada pembuluh darah. 1=jika ada 1-10, 2= jika ada 11-30, 3=jika ada >31 pembuluh darah. Hasil penelitian menunjukkan adanya jumlah pembuluh darah yang lebih banyak pada perlakuan T3 dibanding dengan T0, T1, dan T2. Uji Kruskal Wallis menunjukkan perbedaan yang sangat nyata. Dapat disimpulkan bahwa pemberian gel ekstrak daun binahong konsentrasi 35% paling baik mempercepat proses kesembuhan luka insisi kulit mencit yang mengalami hiperglikemia, dilihat dari pembentukan pembuluh darah (angiogenesis) dibandingkan konsentrasi 30% dan 25%.
Total Eritrosit, Hemoglobin, Pack Cell Volume, dan Indeks Eritrosit Sapi Bali yang Terinfeksi Cysticercus Bovis Diparayoga, I Made Galih; Dwinata, I Made; Dharmawan, Nyoman Sadra
Indonesia Medicus Veterinus Vol 3 (3) 2014
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (268.845 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengatahui total eritrosit, hemoglobin, PCV dan indeks eritrosit Sapi Bali yang terinfeksi Cysticercus bovis secara eksperimental. Sampel yang digunakan adalah tiga Sapi Bali betina yang berumur 5-7 bulan. Satu ekor digunakan sebagai kontrol dan dua ekor lainnya sebagai perlakuan. Infeksi eksperimental dilakukan dengan cara menginfeksikan 500.000 telur Taenia saginata per oral. Sampel darah diambil sebanyak lima kali setiap dua minggu. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil penelitian, menunjukkan total eritrosit, hemoglobin, PCV dan indeks eritrosit Sapi Bali yang diinfeksi 500.000 telur T. saginata adalah: eritrosit (7,23 x 106/?L); hemoglobin (10,01 g/dL); PCV (32,07%); MCV (43,4 fL); MCH (13,74 pg); dan MCHC (31,33 g/dL). Nilai tersebut masih berada pada rentang normal komponen eritrosit sapi dan tidak berbeda nyata (P>0,05) dengan parameter yang sama pada sapi kontrol. Simpulannya sel darah merah Sapi Bali yang terinfeksi Cysticercus bovis hingga minggu ke-9 tidak berbeda nyata dengan sapi kontrol.
Studi Histopatologi Lambung pada Tikus Putih yang Diberi Madu sebagai Pencegah Ulkus Lambung yang Diinduksi Aspirin MUSTABA, RAHMI; OKA WINAYA, IDA BAGUS; BERATA, I KETUT
Indonesia Medicus Veterinus Vol 1 (4) 2012
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (180.783 KB)

Abstract

Penelitian ini bersifat eksperimental laboratorik dengan post test only controlled group design. Sampel berupa hewan tikusb erjenis kelamin jantan berumur 2-3 bulan dengan berat badan ± 20 gram.Sampel sebanyak 16 ekor dibagi dalam 4 kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 4 ekor tikus.Teknik sampling yang digunakan adalah accidental sampling. Hari ke-8, tikus dikorbankan dengan cara euthanasia dengan ether, organ lambung diambil untuk selanjutnya dibuat preparat histology dengan metode blok paraffin dan pengecatan Hematoksilin Eosin (HE). Gambaran histopatologi lambung diamati dan dinilai berdasarkan kerusakan histologis yang berupa nekrosis dan peradangan. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan uji statistic Kruskal Wallis dilanjutkan dengan uji Mann Whitney = 0,05).Hasil uji Kruskal Wallis menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna antara keempat kelompok perlakuan.Hasil uji Mann Whitney menunjukkan perbedaan yang bermakna antara KK dan KP1, KK dan KP2, KK dan KP3, KP1 dan KP3 serta KP2 dan KP3. Sedangkan perbedaan yang tidak bermakna antara KP1 dan KP2.Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terbukti adanya efek proteksi dari madu terhadap lambung yang berupa pengurangan derajat kerusakan sel lambung tikus yang diinduksi oleh aspirin.Efek proteksi madu terhadap kerusakan sel lambung yang ditimbulkan oleh aspirin dapat diamati secara jelas pada dosis II yaitu 2 mL/200 gram BB tikus yang terdapat pada kelompok perlakuan II.
Perbandingan Tingkat Autolisis Antara Otot dan Hati Sapi Bali pada Beberapa Periode Waktu Pengamatan Putri, Kristi Agusti; Berata, I Ketut; Kardena, I Made
Indonesia Medicus Veterinus Vol 4 (5) 2015
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (522.615 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan tingkat autolisis antara otot dan hati sapi bali pada beberapa periode waktu pengamatan. Spesimen diambil dari otot dan hati sapi bali yang dipotong di rumah pemotongan hewan Kota Denpasar. Spesimen yang diambil sebanyak tujuh potongan hati dan tujuh potongan otot masing-masing dari individu sapi yang berbeda-beda yang dimasukkan ke dalam tabung jaringan yang berisi Neutral buffer formalin (NBF) 10 % pada beberapa periode waktu yaitu pada jam ke-0, 2, 4, 6, 8,10, dan 12. Selanjutnya masing-masing diproses untuk pembuatan preparat histopatologi. Variabel yang diperiksa meliputi indikasi autolisis yaitu : jaringan hiperkromatik sampai hilangnya inti sel. Analisis tingkat autolisis antara otot dan hati dilakukan dengan pengamatan histopatologi jaringan di bawah mikroskop pada pembesaran 1000 kali dengan pengamatan lima lapang pandang. Data hasil penelitian berupa presentase skoring autolisis, dianalisis dengan menggunakan uji non parametrik Kruskal-Wallis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hati sapi bali dengan nilai rata-rata 15,70%, 22,10%, 29,10%, 55,20%, 74,10%,93% dan 96,45% memiliki tingkat autolisis lebih cepat dibanding otot dengan nilai rata-rata 10%, 14,90%, 19%, 27,90%, 53%, 61% dan 83,70% . Hal ini mungkin terjadi karena hati memiliki jumlah enzim dan pembuluh darah yang lebih banyak dibandingkan otot. Perlu penelitian lebih lanjut tentang tingkat autolisis antara otot dan hati sapi bali yang berasal dari hewan sakit atau mati akibat penyakit infeksius
Prevalensi Infeksi Protozoa Saluran Pencernaan pada Anjing Kintamani Bali di Desa Sukawana, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali Glantiga, I Gede Jaya Rama; Oka, Ida Bagus Made; Puja, I Ketut
Indonesia Medicus Veterinus Vol 5 (5) 2016
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (245.279 KB)

Abstract

Telah dilakukan penelitian pada Anjing Kintamani Bali di Desa Sukawana yang bertujuanuntuk mengetahui prevalensi infeksi protozoa saluran pencernaan pada Anjing Kintamani Bali diDesa Sukawana, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali. Penelitian ini merupakan penelitianobservasional dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling. Metode yang digunakan adalahmetode Apung dan dilakukannya pemeriksaan di Labratorium Parasitologi Fakultas KedokteranHewan Universitas Udayana. Dari 90 sampel feses Anjing Kintamani Bali yang diperiksa, 9 sampelpositif terinfeksi protozoa saluran pencernaan dengan prevalensi sebesar 10%. Digolongkanberdasarkan umur, Anjing Kintamani Bali yang berumur dibawah satu tahun, prevalensinya sebesar17,14% (6/35), sedangkan yang berumur diatas satu tahun prevalensinya 5,54% (3/55). Berdasarkanjenis kelamin prevalensinya sebesar 11,53% (6/55), sedangkan yang berjenis kelamin betinaprevalensinya sebesar 8,82% (3/38). Berdasarkan sistem pemeliharaan Anjing Kintamani Bali yangdikandangkan prevalensinya sebesar 9,6%(4/42), sedangkan yang dilepaskan prevalensinya sebesar10,41% (5/48). Tidak ada hubungan yang signifikan antara umur, jenis kelamin dan sistempemeliharaan terhadap prevalensi infeksi protozoa saluran pencernaan Anjing Kintamani Bali.
Respons Imun Anjing Lokal Jantan Umur Diatas Satu Tahun Pasca Vaksinasi Rabies Prasatya, I Gde Made Abdi; Suardana, Ida Bagus Kade; Suartha, I Nyoman
Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 (1) 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (201.625 KB) | DOI: 10.19087/imv.2018.7.1.69

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui titer antibodi anjing lokal jantan umur di atas satu tahun pasca vaksinasi rabies. Penelitian menggunakan 10 sampel darah anjing yang diambil di Desa Gulingan dan diuji dengan enzym linked immunosorbent assay (ELISA). Hasil penelitian menunjukan dari 10 sampel, 7 sampel (70%) memiliki titer antibodi protektif (seropositif) dan 3 sampel (30%) belum memiliki titer antibodi protektif (seronegatif). Seropositif adalah nilai Optical Density (OD) di atas 0,5 IU, sedangkan seronegatif adalah nilai Optical Density (OD) di bawah 0,5 IU. Rataan nilai OD di atas 0,5 IU/ml ditemukan pada anjing berumur di atas 3 tahun dengan sistem pemeliharaan dilepas dalam lingkungan rumah dan beberapa dilepas liarkan. Nilai OD dibawah 0,5 IU ditemukan pada anjing berumur di bawah 3 tahun dengan sistem pemeliharaan dilepas liarkan.
Studi Kasus : Babesiosis Pada Anjing Persilangan Paramita, Ni Made Diana Pradnya; Widyastuti, Sri Kayati
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (1) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (480.983 KB) | DOI: 10.19087/imv.2019.8.1.79

Abstract

Babesiosis adalah penyakit parasit yang disebabkan oleh Babesia sp dan didistribusi didalam sirkulasi darah. Babesiosis pada anjing disebabkan oleh Babesia canis (subfilum: apicomplexa, ordo: piroplasmida, genus: babesia, spesies Babesia canine) yang diperantai oleh caplak (tick-borne) yaitu caplak-anjing coklat Rhipicephalus sanguineus sebagai vektor utama. Hasil pegamatan ditemukan kasus babesiosis pada anjing campuran pom dan peking, berjenis kelamin jantan usia 8 bulan di Denpasar, Bali. Tanda klinis yang tampak dari infeksi Babesia sp pada anjing kasus yaitu nafsu makan berkurang, haemoglobinuria dan terdapat eritema pada bagian abdomen. Pada hasil pemeriksaan darah lengkap didapatkan interpretasi bahwa anjing mengalami anemia normositik hiperkromik leukositosis, limfositosis, dan eosinophilia. Pemeriksaan ulas darah tipis teramati adanya agen Babesia. Anjing ini diterapi dengan pemberian Antibiotik clindamycin (10mg/kg BB, q: 12 jam, PO) dua kali sehari selama dua minggu, dan terapi suportif menggunakan livron B-pleks untuk meningkatkan daya tahan tubuh diberikan selama 7 hari. Hasil evaluasi terhadap anjing penderita menunjukan baha dalam waktu 4 hari nafsu makan hewan kasus sudah kembali normal dan memerlukan waktu 14 hari sampai menunjukan tanda-tanda perbaikan klinis.
Pengaruh Suhu dan Lama Penyimpanan terhadap Kualitas Telur Ayam Kampung Ditinjau dari Angka Lempeng Total Bakteri -, HARDIANTO; KETUT SUARJANA, I GUSTI; RUDYANTO, MAS DJOKO
Indonesia Medicus Veterinus Vol.1 (1) 2012
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (262.289 KB)

Abstract

Penelitian mengenai Pengaruh Suhu dan Lama Penyimpanan Telur Ayam Kampung Terhadap Jumlah Angka Lempeng Total Bakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu dan lama penyimpanan telur ayam kampung terhadap jumlah bakteri Angka Lempeng Total Bakteri serta interaksi antara pengaruh suhu dan lama penyimpanan telur ayam kampung terhadap Angka lempeng Total Bakteri .Metode yang digunakan adalah pemeriksaan telur ayam kampung sebanyak 24 butir disimpan dalam suhu chilling dan suhu kamar sebelum disimpan telur terlebih dulu dicuci dengan air hangat yang sudah dipanaskan sebelumnya. Media yang digunakan Nutrient Agar. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola Faktorial 2×4×3, dengan dua perlakuan yaitu disimpan pada suhu chilling dan disimpan pada suhu kamar dengan jangka waktu penyimpanan hari ke-0, hari ke- 7, hari ke-14 dan hari ke-21 dengan 3 kali ulangan. Parameter yang diamati adalah angka lempeng total bakteri yang diamati pada telur ayam kampung yang di simpan pada suhu chilling dan suhu kamar. Koloni bakteri yang dihitung meliputi warna koloni yaitu koloni yang tumbuh baik pada permukaan, bagian dalam, dan bagian bawah nutrient agar. Data yang diperoleh dianalisis dengan Sidik Ragam, apabila hasilnya berbeda nyata dilanjutkan dengan Uji Duncan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu penyimpanan telur ayam kampung berpengaruh terhadap angka lempeng total bakteri, lama penyimpanan telur ayam kampung berpengaruh terhadap angka lempeng total bakteri, ada interaksi antara suhu dan lama penyimpanan telur ayam kampung terhadap angka lempeng total bakteri.
Identifikasi Ookista Isospora Spp. pada Feses Kucing di Denpasar Ginting, Maria Mentari; Apsari, Ida Ayu Pasti; Dwinata, I Made
Indonesia Medicus Veterinus Vol 4 (2) 2015
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (99.311 KB)

Abstract

Telah dilakukan penelitian terhadap 35 sampel feses kucing liar yang ada di Denpasar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi dan mengidentifikasi ookista Isospora spp. yang ditemukan pada feses kucing. Ookista Isospora spp. diperiksa dengan menggunakan metode konsentrasi pengapungan gula Sheater. Identifikasi ookista berdasarkan ukuran dan morfologi ookista yang ditemukan. Parameter yang diukur pada penelitian ini yaitu adanya infeksi ookista Isospora spp.. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi ookista Isospora spp. adalah 22,85% (8/35). Berdasarkan penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa spesies Isospora spp. yang ditemukan berdasarkan morfologinya yaitu Isospora felis 17,14% (6/8) dan Isospora rivolta 5,17 (2/8).