cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Indonesia Medicus Veterinus
Published by Universitas Udayana
ISSN : 24776637     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Menerima artikel ilmiah yang berhubungan dengan bidang kedokteran dan kesehatan hewan. Naskah yang berkaitan dengan hewan dan segala aspeknya juga kami terima untuk dipublikasikan. Penulis naskah minimal terdiri dari dua orang. Naskah yang ditulis seorang diri belum bisa diterima oleh redaksi, karena kami berpandangan suatu penelitian merupakan suatu kerja sama untuk menghasilkan sesuatu karya. Artikel yang diterima adalah naskah asli, belum pernah dipublikasikan pada majalah ilmiah atau media masa. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa inggris. Panjang artikel sekitar 3000 kata. Artikel harap dilengkapi dengan abstrak dalam bahasa Indonesia dan bahasa inggris. Artikel harus telah disetujui untuk dipublikasikan oleh seluruh penulis yang tercantum dalam artikel yang ditandai dengan bubuhan tanda tangan pada hard copy yang dikirim ke redaksi.
Arjuna Subject : -
Articles 843 Documents
Perbandingan Jumlah Bakteri Coliform Pada Telur Ayam Buras Yang Dijual Di Pasar Bersanitasi Baik Dan Buruk BIROWO, JERRY; SUARJANA, I GUSTI KETUT; SUKADA, I MADE
Indonesia Medicus Veterinus Vol 2 (3) 2013
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (145.973 KB)

Abstract

Telur ayam buras adalah salah satu jenis bahan pangan asal hewan yang banyak dikonsumsi masyarakat sebagai campuran madu, susu, atau jamur. Telur ayam buras lebih disukai masyarakat karena kuning telur yang lebih tua dan rasa lebih gurih jika dibandingkan dengan telur ayam ras. Telur yang mendapat perlakuan kurang baik dapat tercemar oleh bakteri. Salah satu bakteri yang dapat mengkontaminasi telur adalah bakteri Coliform, dan salah satu perredaran dari telur ayam buras adalah pasar tradisional. Sampel diambil dari 4 pasar tradisional (pasar Kuta 1, pasar Jimbaran, Pasar Kedonganan, Pasar Kuta II) sebanyak 80 butir. Setiap pasar diambil 20 butir telur, kemudian telur tersebut diuji kualitasnya yang ditinjau dari beberapa banyak jumlah bakteri Coliform. Pemilihan pasar berdasarkan dari keadaan dari sanitasi pasar tersebut. Pasar Kedonganan dan pasar Kuta 1 mewakili dari pasar yang bersanitasi buruk sedangkan pasar Kuta 2 dan pasar Jimbaran mewakili pasar yang bersanitasi baik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 80 butir sampel telur ayam buras yang diperiksa melebihi dari standart nasional Indonesia yang harus di bawah 1 x 102. Jumlah bakteri Coliform pada pasar yang sanitasinya bersih lebih sedikit dibandingkan pasar yang sanitasinya buruk.
Prevalensi Cacing Nematoda pada Babi INDRA PERMADI, I MADE; ADI SURATMA, NYOMAN; DAMRIYASA, I MADE
Indonesia Medicus Veterinus Vol 1 (5) 2012
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (354.121 KB)

Abstract

Telah dilakukan penelitian untuk mengidentifikasi dan mengetahui prevalensi cacing yang menginfeksi lambung babi yang berasal dari Lembah Baliem dan Pegunungan Arfak Papua. Lambung babi yang diperiksa berjumlah 30 sampel, 10 sampel berasal dari Lembah Baliem dan 20 sampel berasal dari Pegunungan Arfak. Pemeriksaan dilakukan secara Makroskopis dan Mikroskopis, identifikasi cacing berdasarkan acuan yang dimiliki. Untuk mengetahui perbedaan prevalensi antar tempat pengambilan sampel di analisis secara statistik menggunakan uji chi-square.Hasil pemeriksaan terhadap lambung babi yang berasal dari Lembah Baliem dan Pegunungan Arfak Papua, didapatkan infeksi cacing Nematoda dengan prevalensi 60%, prevalensi cacing nematoda di Lembah baliem sebesar 90% dan di Pegunungan Arfak sebesar 45%. Setelah dilakukan identifikasi cacing nematoda yang menginfeksi lambung babi di Lembah Baliem dan Pegunungan Arfak, teridentifikasi dua jenis cacing yaitu Prevalensi infeksi cacing Gnathostoma hispidum di Lembah Baliem sebesar 35%, dan di Pegunungan Arfak sebesar 80%. Sedangkan Prevalensi infeksi cacing Hyostrongylus rubidus di Lembah Baliem dan Pegunungan Arfak sama-sama sebesar 10%.Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa babi yang dipelihara di Lembah Baliem dan Pegunungan Arfak Papua pada lambungnya terinfeksi oleh dua jenis cacing nematoda yaitu : Gnathostoma hispidum. dan Hyostrongylus rubidus. Prevalensi infeksi cacing Gnathostoma hispidum lebih tinggi di Lembah Baliem dibandingkan dengan di Pegunungan Arfak.
Dimensi Kuku Sapi Bali Yarisetouw, Nicolas; Batan, I Wayan; Nindhia, Tjokorda Sari
Indonesia Medicus Veterinus Vol 4 (5) 2015
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (475.271 KB)

Abstract

Kaki sapi bali yang baik adalah kaki yang proporsional dengan ukuran tubuh, mampu menopang tubuh secara tegak lurus. Bagian kuku perlu diperhatikan karena kuku yang terganggu akan membuat pertumbuhan sapi kurang optimal. Kuku sapi harus kokoh, tidak sensitif, dapat tumbuh dan berkembang terus, dan memiliki elastisitas yang tinggi. Sapi bali yang digemukan cenderung memiliki kuku yang tumbuh lebih panjang dibandingkan dengan sapi bali yang dibiarkan bebas. Tujuan Penelitian untuk mengetahui dimensi ukuran kuku kaki depan dan kaki belakang sapi bali serta menentukan ukuran standar normal (panjang kuku, tinggi kuku, diagonal kuku, lebar kuku, luas kuku, tinggi tumit)  kaki depan dan kaki belakang sapi bali jantan dan betina. Sampel  yang digunakan pada penelitian ini adalah sapi bali dewasa sebanyak 40 ekor, terdiri dari 20 jantan dan 20 betina dewasa di Pasar Hewan Bringkit Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, dan pengukuran dilakukan pada sapi dalam keadaan berdiri. Metode Penelitian ini menggunakan uji Independent-Samples T-test pada selang kepercayaan 95% dan 99% dengan Statistical Program for Social Science(SPSS) for Window versi 17.0. Dari hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa dimensi ukuran  kuku  kaki yang terdiri dari ukuran-ukuran standar kuku, panjang, tinggi tumit, diagonal kuku, dan lebar kuku kaki sapi jantan lebih besar dari pada kuku sapi betina.
Prevalensi Infeksi Ascaris Suum Pada Babi yang Dipotong di Rumah Potong Hewan Denpasar Suryani, Ni Made Putri; Apsari, Ida Ayu Pasti; Dharmawan, Nyoman Sadra
Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 (2) 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (202.481 KB) | DOI: 10.19087/imv.2018.7.2.141

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui prevalensi infeksi cacing Ascaris suum pada babi yang dipotong di Rumah Potong Hewan (RPH) Denpasar. Sebanyak 100 sampel feses babi yang diperoleh dari babi-babi yang dipotong di RPH Denpasar diperiksa dengan metode konsentrasi pengapungan menggunakan NaCl jenuh sebagai larutan pengapung. Berdasarkan asal babi, prevalensi babi yang berasal dari Kota Denpasar: (17,39%) 4/22; Kabupaten Badung: (100%) 1/1; Kabupaten Bangli; (23,52%) 8/34; Kabupaten Karangasem: (30,43%) 7/23; dan Kabupaten Gianyar: (20%) 2/7. Mengingat tingginya angka prevalensi infeksi Ascaris suum pada babi yang dipotong di RPH Denpasar dan potensi ascariasis yang zoonosis, maka disarankan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan lingkungan di RPH dan tempat pemeliharaan babi lebih seksama.
Studi Kasus: Lynxacariasis pada Kucing Persia Lestari, Devi Latifah Puji; Raharjo, Yudha Yaksa Crada Yoga Arum
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (2) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (316.692 KB)

Abstract

Seekor kucing persilangan Persia bernama Dom berumur dua bulan mengalami alopesia hampir di seluruh tubuh, pruritus, hyperkeratosis, dan scale. Pemeriksaan dilakukan untuk memperoleh diagnosa pasti. Pemeriksaan pada kerokan kulit, tricogram dan tape smear pada mikroskop terlihat adanya tungau Lynxacarus radovskyi. Pemeriksaan hematologi rutin menunjukkan terjadinya leukositosis, limfopenia dan eosinophilia. Kucing pada kasus ini didiagnosa Lynxacariasis. Terapi yang diberikan berupa pemberian ivermectin, diphenhydramine dan sampo Ectonil. Evalusi pada hari ke tujuh setelah menunjukkan rambut kucing mulai tumbuh dan sedikit mengalami kegatalan.
Pemberian Tylosin dan Gentamisin Menurunkan Angka Lempeng Total Bakteri Daging Broiler Betina WULANDARI, LULUK; ARDANA, IDA BAGUS KOMANG; SUADA, I KETUT
Indonesia Medicus Veterinus Vol 1 (2) 2012
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (146.646 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian kombinasi tylosin dan gentamsin terhadap Angka Lempeng Total Bakteri dan pH dalam daging broiler betina. Sampel menggunakan broiler betina sebanyak 24 ekor yang dibagi menjadi 4 kelompok, masing-masing kelompok telah dihomogenkan dan diberikan perlakuan yang berbeda. Perlakuan kontrol (P0) diberikan placebo berupa aquabidest 0,1 ml/kg bb, perlakuan pertama (P1) diberikan kombinasi tylosin 10 mg dan gentamisin 10 mg, perlakuan kedua (P2) diberikan kombinasi tylosin 20 mg dan gentamisin 20 mg, perlakuan ketiga (P3) diberikan kombinasi tylosin 30 mg dan gentamisin 30 mg. Sampel daging yang diambil pada bagian dada untuk dilakukan Uji Angka Lempeng Total Bakteri dan pengukuran pH. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian kombinasi antibiotik tylosin dan gentamisin berpengaruh nyata (P < 0,05), terhadap Angka Lempeng Total Bakteri pada daging broiler betina dan tidak berpengaruh nyata (P > 0,05) pada pH daging broiler betina.
Kualitas Daging Sapi Wagyu dan Daging Sapi Bali yang Disimpan pada Suhu -19oc Sarassati, Thea; Agustina, Kadek Karang
Indonesia Medicus Veterinus Vol 4 (3) 2015
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (132.767 KB)

Abstract

Daging merupakan salah satu bahan makanan yang sangat penting dalam memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, karena di dalam daging mengandung nilai gizi yang tinggi, seperti protein, lemak, karbohidrat, dan air. Penyimpanan di bawah titik beku merupakan salah satu cara pengawetan daging yang banyak dilakukan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perubahan kadar-kadar gizi pada daging wagyu dan daging sapi bali meliputi kadar protein, lemak, karbohidrat dan kadar air pada penyimpanan di bawah titik beku selama 25 hari. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial 2x6.  Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis ragam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar protein, lemak, karbohidrat, dan kadar air daging Wagyu dengan daging sapi bali selama penyimpanan suhu beku berbeda nyata (P<0,05). Tidak terjadi interaksi yang nyata (P>0,05) antara jenis daging sapi wagyu dan daging sapi bali dengan lama penyimpanan pada suhu beku terhadap kadar protein dan kadar air daging sapi. Terjadi interaksi yang nyata (P<0,05) antara jenis daging sapi Wagyu dan daging sapi bali dengan lama penyimpanan pada suhu beku terhadap kadar lemak dan kadar karbohidrat daging sapi.
Cytomorphometry pada Peripheral Blood Mononuclear Cell (PBMC) Anjing Kintamani Bali yang Mengalami Demodekosis Dewi, Kadek Dyah Utami; Suartini, I Gusti Ayu Agung; Setyawati, Iriana
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (3) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (616.785 KB)

Abstract

Anjing kintamani bali adalah anjing yang berani serta lincah, pintar, mudah dilatih, waspada serta curiga, dan loyal kepada pemiliknya. Leukosit merupakan unit yang lebih banyak berperan pada saat kondisi yang kurang sehat. Peripheral Blood Mononuclear Cell (PBMC) merupakan sel darah putih, terdiri atas sel limfosit dan monosit. Pemeriksaan cytomorphometry merupakan aspek penting dari hematologi yang dapat mengungkapkan kondisi fisiologis organisme. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial dengan menggunakan 20 ekor anjing kintamani bali yang terdiri dari 2 faktor yaitu jenis kelamin dan umur. Hasil analisis menunjukkan bahwa monosit anjing umur dewasa memiliki kisaran nilai berbeda nyata antara jantan dengan betina, sedangkan anjing umur muda tidak berbeda nyata, kecuali pada circumference sitoplasma tidak berbeda nyata pada semua umur dan jenis kelamin. Pada limfosit anjing umur dewasa memiliki kisaran nilai berbeda nyata antara jantan dengan betina, sedangkan pada anjing umur muda tidak berbeda nyata, kecuali pada cytomorphometry nukelus dan circumference sitoplasma tidak berbeda nyata pada semua umur dan jenis kelamin.
Perbandingan Titer Antibodi Newcastle Disease pada Ayam Petelur Fase Layer I dan II Akbar, Saiful; Ardana, Ida Bagus Komang; Suardana, Ida Bagus Kade
Indonesia Medicus Veterinus Vol 6 (4) 2017
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.672 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui titer antibodi terhadap penyakit Newcastle Disease (ND) pada ayam petelur fase layer I dan fase layer II pasca vaksinasi ND. Sampel penelitian ini adalah serum yang diambil dari tujuh peternakan pada lima desa di Kecamatan Penebel yaitu Desa Mangesta, Senganan, Babahan, Penebel, dan Jatiluwih. Total sampel adalah 131 sampel terdiri dari 78 sampel fase layer I dan 53 sampel fase layer II. Pengukuran titer antibodi ND dilakukan dengan uji Haemagglutination Inhibition (HI), kemudian hasilnya dianalisis secara statistik menggunakan Chi-square (X2) dan tabel kontingensi 2x2. Hasil penelitian ini menunjukkan vaksinasi ND pada ayam petelur fase layer I dan II di Kecamatan Penebel menunjukkan respon kebal yang protektif (99,24%) dengan nilai Geometric Mean Titre (GMT) 8,52. Kekebalan pada ayam petelur fase layer I (GMT 8,91) lebih besar daripada fase layer II (8,13). Namun, secara statistik kekebalan protektif pada ayam petelur fase layer I dan fase layer II tidak berbeda nyata (p>0,05). Analisis data menggunakan tabel kontingensi 2x2 menunjukkan nilai Odds Ratio (OR) adalah 0, ini berarti faktor tersebut adalah protektif.
Perubahan Histopatologi Hati dan Paru Mencit Pascainduksi dengan Zat Karsinogenik Benzo(a)piren Bire, Ienoliski Rohi; Winaya, Ida Bagus Oka; Adi, Anak Agung Ayu Mirah
Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 (6) 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (432.286 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran histopatologi hati dan paru-paru mencit pascainduksi dengan zat karsinogenik benzo(a)piren. Penelitian ini menggunakan 10 ekor mencit jantan yang dipelihara pada lingkungan serta diet yang sama. Mencit kemudian dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok I diinjeksi dengan benzo(a)piren sebanyak 0,3 mg dalam 0,1 mL oleum olivarium secara subkutan sedangkan kelompok II hanya diinjeksi dengan oleum olivarum dengan cara yang sama. Setelah satu bulan, semua mencit dikorbankan. Sampel jaringan hati dan paru dimasukan kedalam NBF 10% untuk proses pemeriksaan histopatologi lebih lanjut. Data pemeriksaan histopatologi hati dan paru kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil yang didapatkan menunjukkan adanya perbedaan gambaran histopatologi hati dan paru mencit antara kelompok I dibandingkan dengan kelompok II. Adapun gambaran mikroskopik yang dominan pada kelompok I adalah: pada hati terjadi kongesti pada vena sentralis serta nekrosis pada sel hepatosit. Pada paru terjadi nekrosis serta adanya penebalan septa alveoli dan infiltrasi sel radang sedangkan untuk kelompok II, tidak terdapat perubahan pada gambaran mikorskopiknya. Berdasarkan hasil penelitian, zat karsinogenik benzo(a)piren dapat menyebabkan terjadinya kongesti pada vena sentralis serta nekrosis pada sel hepatosit serta penebalan pada septa alveoli dan adanya infiltrasi sel-sel radang mononuklear pada paru.