cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. jember,
Jawa timur
INDONESIA
FKIP e-PROCEEDING
Published by Universitas Jember
ISSN : 25275917     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 552 Documents
LEMBAR KERJA SISWA (LKS) FISIKA BERBASIS POE (PREDICT, OBSERVE, EXPLAIN) PADA MATERI MEDAN MAGNET SMAN MUMBULSARI Moh. Ikbal Fathoni; Sudarti Sudarti; Subiki Subiki
FKIP e-PROCEEDING Vol 3 No 2 (2018): Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Fisika
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam pembelajaran fisika dibutuhkan bahan ajar yang didalamnya dapat menuntun siswa dalam membangun konsep-konsep melalui pengalaman langsung. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengembangkan lembar kerja siswa berbasis POE dalam materi medan magnet kelas XII SMA. Hasil dari pengembangan ini memperoleh validasi, efektivitas, dan respon siswa. Jenis penelitian ini merupakan penelitian pengembangan dengan desain penelitian dan pengembangan (R&D) model Borg and Gall. Penelitian dilaksanakan di SMAN Mumbulsari pada semester ganjil tahun ajaran 2018/2019. Data efektifitas didapat dari hasil pre-test dan post-test dan respon siswa diperoleh selama dan setelah pembelajaran. Hasil uji peningkatan efektivitas LKS berbasis POE dengan menggunakan analisis N-Gain memperoleh nilai 0,62 yang menandakan bahwa efektivitas dari lembar kerja siswa berbasis predict, observe, explain dikategorikan sedang. Selanjutnya data respon siswa yang didapatkan memperoleh persentase 87,22 % menandakan bahwa respon siswa sangat positif pada lembar kerja siswa berbasis POE.
IDENTIFIKASI KINEMATIKA DI JALUR B-29 LUMAJANG PADA KONSEP FISIKA MELALUI RANCANGAN LKS FISIKA SMA Eka Badhik Junia Nisma; Subiki Subiki; Sri Astutik
FKIP e-PROCEEDING Vol 3 No 2 (2018): Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Fisika
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Saat ini banyak bahan ajar yang telah berhasil dikembangkan. Namun pengembangan bahan ajar tersebut sebagian besar mengkaji fenomena-fenomena fisika dari kehidupan sehari-hari yang kurang meninjau data sesuai fakta yang ada di lapangan. Sumber bahan ajar yang dikembangkan diintegrasi bidang ilmu lain, sehingga konsep-konsep fisika yang seharusnya ada menjadi tidak tersampaikan dalam pembelajaran. Tujuan penelitian ini mengkaji data sesuai keadaan yang ada dilapangan, kemudian data-data yang diperoleh dijadikan rancangan Lembar Kerja Siswa yang kontekstual. Penelitian ini mengkaji materi kinematika dengan menggunakan kearifan lokal yang ada di B-29 Lumajang. Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian deskriptif dengan desain penelitian descriptive analitys. Hasil penelitian yang diperoleh berupa data-data besaran dalam kinematika yang memanfaatkan kearifan lokal B-29 Lumajang. Terdapat 3 jalur identifikasi yang terdiri dari jalur lintasan lurus, lintasan menurun dan lintasan melingkar. Ketiga hasil identifikasi kemudian dijadikan bahan utama rancangan Lembar Kerja Siswa kelas X SMA untuk membantu siswa dalam memahami konsep-konsep Kinematika.
PENGEMBANGAN MODUL FISIKA BERBASIS CREATIVE PROBLEM SOLVING POKOK BAHASAN INDUKSI ELEKTROMAGNETIK DALAM PEMBELAJARAN FISIKA Fella Yunika Sari; Subiki Subiki; Trapsilo Prihandono
FKIP e-PROCEEDING Vol 3 No 2 (2018): Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Fisika
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini menjelaskan tentang penelitian pengembangan modul fisika berbasis Creative Problem Solving pokok bahasan induksi elektromagnetik dalam pembelajaran fisika. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui validitas ahli dan validitas pengguna serta mengetahui tingkat efektifitas modul fisika yang dikembangkan. Desain penelitian yang digunakan adalah desain penelitian pengembangan Nieveen yang terdiri dari 3 tahap yaitu preliminary phase, prototyping phase, dan assessment phase. Preliminary phase berisi kegiatan observasi permasalahan pembelajaran yang ada sehingga diperoleh solusi yang tepat untuk mengatasi permasalahan tersebut. Prototyping phase terdiri dari kegiatan menyusun modul fisika berbasis Creative Problem Solving dan melakukan validasi modul yang dikembangkan. Assessment phase terdiri dari kegiatan uji coba terbatas dan uji lapangan untuk mengetahui tingkat efektifitas modul. Skor tingkat validitas modul diberikan oleh tiga validator dan dikalkulasi dan disimpulkan tingkat validitas dalam kategori validitas. Keefektifan modul dihitung menggunakan persamaan n-gain yaitu menggunakan perbandingan nilai pre-test dan post-test yang diberikan. Hasil dari penelitian ini adalah modul fisika dikatakan valid oleh 3 validator dengan tingkat validitas sangat valid dan dinyatakan reliabel dengan nilai reliabilitas 96%. Efektifitas modul dinyatakan meningkat dan termasuk dalam kategori sedang pada uji terbatas dengan skor 0,42 dan kategori sedang pada uji lapangan dengan skor 0,34.
IDENTIFIKASI KEMAMPUAN KREATIVITAS ILMIAH SISWA SMA NEGERI PAKUSARI PADA MATERI ELASTISITAS Barorotut Dawamah; Subiki Subiki; Maryani Maryani
FKIP e-PROCEEDING Vol 3 No 2 (2018): Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Fisika
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan teknologi dan inovasi memberikan tantangan baru untuk menghasilkan sumber daya yang mampu mengembangkan kreativitas, maka siswa perlu dibekali keterampilan dan kemampuan kreativitas, sesuai dengan kecenderungan keterampilan abad 21. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi kemampuan kreativitas ilmiah siswa SMA Negeri Pakusari pada materi elastisitas. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI-MIPA 3, XI-MIPA 4 dan XI-MIPA 5 di SMA Negeri Pakusari yang sudah pernah mempelajari materi elastisitas. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu metode tes untuk mengetahui kemampuan kreativitas ilmiah siswa dan metode dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan kreativitas ilmiah siswa SMA Negeri Pakusari pada indikator unusual use mendapatkan rata-rata 2,84, pada indikator real advance mendapatkan rata-rata 2,56, pada indikator technical production mendapatkan rata-rata 3,05, pada indikator science imagination mendapatkan rata-rata 2,75, pada indikator science problem solving mendapatkan rata-rata 1,13, pada indikator creative experimental mendapatkan rata-rata 1,68, dan pada indikator science product mendapatkan rata-rata 1,81.
MODEL PROBLEM BASED LEARNING (PBL) DISERTAI TUTOR SEBAYA UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS SISWA SMA Evi Durotun Nasihah; Supeno Supeno; Albertus Djoko Lesmono
FKIP e-PROCEEDING Vol 3 No 2 (2018): Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Fisika
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berpikir kritis merupakan proses yang digunakan dalam kegiatan memecahkan masalah, mengambil keputusan, menganalisis, dan melaksanakan penelitian. Keterampilan berpikir kritis merupakan salah satu keterampilan tingkat tinggi yang penting dimiliki oleh siswa untuk menghadapi tantangan sehari-hari. Selain itu, keterampilan berpikir kritis juga penting dimiliki siswa agar nantinya mampu menganalisis benar salahnya pendapat yang disampaikan oleh temannya. Fakta dilapangan membuktikan bahwa keterampilan berpikir kritis siswa masih tergolong rendah, dibuktikan dengan siswa hanya mampu menyelesaikan soal yang berkaitan dengan mengingat dan belum bisa menyelesaikan soal yang berkaitan dengan menganalisis, sehingga perlu adanya pembelajaran yang dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa. Keterampilan berpikir kritis ini dapat diterapkan dengan memadukan model pembelajaran berbasis masalah (PBL), karena dengan memberikan permasalahan kepada siswa, maka mereka akan saling bertukar pendapat. Pengimplementasian model problem based learning ini secara kelompok, sehingga akan lebih baik jika dibantu dengan tutor sebaya pada proses pembelajarannya. Tutor sebaya akan membantu siswa dalam menganalisis dan melakukan penyelidikan sesuai dengan langkah pembelajaran problem based learning. Pemberian tutor sebaya sangat membantu siswa untuk menyelesaikan permasalahan yang diberikan. Problem based learning (PBL) disertai tutor sebaya dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa.
IDENTIFIKASI KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF DALAM MENYELESAIKAN SOAL PROBLEM SOLVING MATERI ELASTISITAS PADA SISWA SMA Anis Dwi Masinta; Sri Astutik; Sri Handono Budi Prastowo
FKIP e-PROCEEDING Vol 3 No 2 (2018): Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Fisika
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan membekali generasi muda dengan keterampilan dan kompetensi dalam berkonstribusi secara aktif terhadap suatu sistem. Dalam meningkatkan efisiensi dan efektivitas suatu sistem diperlukan suatu kreativitas. Berpikir kreatif merupakan kemampuan untuk memecahkan masalah dalam menciptakan suatu keberhasilan. Salah satu pembelajaran yang menekankan kreativitas adalah pembelajaran fisika, dimana produk yang dikembangkan seorang fisikawan tidak dapat diabaikan potensi kreativitasnya. Kemampuan berpikir kreatif dalam pemecahan masalah memiliki kaitan yang dapat ditinjau dari komponen kreativitas, yang meliputi: kefasihan, fleksibilitas, originalitas, dan keterincian. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kemampuan berpikir kreatif dalam menyelesaikan soal problem solving materi elastisitas pada siswa SMA. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang dilaksanakan di SMA Negeri Mumbulsari tahun ajaran 2018/2019. Subjek penelitian adalah kelas XI IPA 1, XI IPA 2, dan XI IPA 3. Instrumen penelitian berupa soal tes problem solving dan pedoman wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa masih dalam kategori kurang kreatif dengan dengan jumlah 93 siswa pada pokok bahasan elastisitas yang tergolong dalam kategori cukup kreatif adalah sebanyak 27 siswa, kategori kurang kreatif adalah sebanyak 45 siswa, kategori tidak kreatif adalah sebanyak 21 siswa. Hasil yang diperoleh didukung dengan adanya wawancara yang dilakukan peneliti dengan siswa.
KEMAMPUAN MENYELESAIKAN WELL STRUCTURED PROBLEM DALAM PEMBELAJARAN FISIKA MATERI TEORI RELATIVITAS DI SMA Lupita Rahayu; Sri Handono Budi Prastowo; Bambang Supriadi
FKIP e-PROCEEDING Vol 3 No 2 (2018): Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Fisika
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Proses pembelajaran fisika memerlukan kemampuan intelektual. Indikator dari perilaku intelektual adalah kemampuan menyelesaikan masalah. Kemampuan menyelesaikan masalah merupakan keterampilan intelektual yang di nilai sebagai hasil belajar yang penting dan signifikan dalam proses pembelajaran. Dengan mengetahui kemampuan menyelesaikan masalah maka siswa bisa menilai diri sebagai motivasi untuk berubah menjadi yang lebih baik. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah tes dn wawancara. Subjek penelitian adalah siswa kelas XII IPA SMA. Intrumen test yang digunakan adalah tes berbentuk soal well structured problem.hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam menyelesaikan well structured problem pada indicator mengenali masalah sebanyak 41% mampu mengenali masalah dengan sangat baik. Pada indicator merencanakan strategi 28,43 mampu menerapkan strategi dengan baik. Pada indicator menerapkan strategi 10,78% siswa yang mampu menerapkan strategi dengan kategori cukup. Dan hanya 0,98% siswa yang mampu menyelesaikan masalah dengan kategori kurang.
DIAGRAM SCAFFOLDS UNTUK MEMBELAJARKAN KEMAMPUAN SCIENTIFIC EXPLANATION SISWA SMA PADA PEMBELAJARAN FISIKA Ayu Dian Kirana; Supeno Supeno; Maryani Maryani
FKIP e-PROCEEDING Vol 3 No 2 (2018): Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Fisika
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Scientific explanation adalah pernyataan hubungan sebab-akibat mengenai mengapa atau bagaimana sesuatu terjadi dengan disertai catatan bahwa penyataan tersebut harus mencakup prinsip-prinsip ilmiah yang sesuai. Penjelasan ilmiah memiliki tiga komponen penting yang harus diikutsertakan dalam aplikasi penjelasan ilmiah. Komponen tersebut diantaranya klaim, bukti, dan penalaran/penjelasan. Siswa diharapkan mampu membangun dan memberikan interpretasi hasil belajar berbasis bukti terhadap fenomena alam dan menunjukkan kaitan antara bukti dan penjelasan yang diberikan pada pembelajaran fisika atau mampu memiliki kemampuan penjelasan ilmiah (scientific explanation). Banyak penelitian telah melaporkan bahwa siswa menghadapi kesulitan dalam membangun penjelasan ilmiah. Peneliti melakukan penelitian tentang solusi tersebut dengan mendiskusikan rancangan LKS berbasis diagram scaffolds untuk membelajarkan kemampuan penjelasan ilmiah. Diagram sacffolds merupakan salah satu bentuk scaffolding yang mampu menjembatani pemikiran bernalar siswa dalam menumbuhkan kemampuan menjelaskan secara ilmiah. Hasil penelitian yang diperoleh peneliti yang menggunakkan desain penelitian secara deskriptif pada materi fluida statis dengan memperhatikan langkah-langkah penyusuna LKS dan scaffolding yang tepat untuk membelajarkan kemampuan penjelasan ilmiah mampu menghasilkan sebuah kesimpulan yang sesuai dengan tjuan penelitian ini. LKS berbasis diagram scaffolds mampu membelajarkan kemampuan penjelasan ilmiah.
PENGUKURAN KADAR AIR BIJI KOPI DENGAN RANCANGAN ALAT KAPASITOR SEBAGAI KAJIAN BAHAN AJAR FISIKA DI SMA Siti Dewi Masiyati; Trapsilo Prihandono; Sri Handono Budi Prastowo
FKIP e-PROCEEDING Vol 3 No 2 (2018): Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Fisika
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rancangan bahan ajar kapasitor menggunakan kajian kadar air biji kopi. Kapasitor adalah piranti yang berfungsi untuk menyimpan muatan dan energi listrik dan menggunakan kapasitor dua keping sejajar konduktor. Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji pengukuran kadar air biji kopi menggunakan rancangan bahan ajar kapasitansi kapasitor dan alat ukur kapasitansimeter dan membuat rancangan alat dan bahan ajar berdasarkan kajian pengukuran kadar air biji kopi menggunakan alat kapasitansi kapasitor. Teknik pengumpulan data adalah eksperimen, analisis pengambilan data menggunakan metoden oven pengering dan metode alami. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa semakin tinggi harga kadar air biji kopi maka semakin besar pula nilai kapasitansinya, konduktivitas bahannya semakin besar, volume bahannya semakin kecil, partikelnya semakin merapat. begitupun sebaliknya semakin rendah harga kadar biji kopi semakin kecil pula nilai kapasitansinya, konduktivitas bahannya semakin kecil, volume bahannya juga semakin membesar, partikelnya semakin merenggang. Penelitian ini dapat disimpulkan: Pertama, pengukurngan kadar air biji kopi lebih afektif menggunakan rancangan bahan ajar kapasitor dengan alat kapasitansimeter dibandingkan dengan pengukuran manual. Kedua, metode alami lebih efisien di bandingkan dengan metode oven pengering dari segi pengeringannya dan tempatnya karena metode alami dapat mengeringkan biji kopi ber ton-ton tetapi kelemahannya yakni, bergantung pada cuaca sedangkan metode oven pengering tidak bergantung pada cuaca.
IDENTIFIKASI KEMAMPUAN LITERASI SAINS PADA MATERI GERAK LURUS KELAS X MIPA SMA DI SMAN RAMBIPUJI Dini Atrasina Ludyas Adani; Sri Astutik; Albertus Djoko Lesmono
FKIP e-PROCEEDING Vol 3 No 2 (2018): Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Fisika
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi kemampuan literasi sains siswa. Penelitian ini dilakukan di SMAN Rambipuji, Kabupaten Jember. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif. Subjek penelitian adalah siswa kelas X MIPA 1 dengan jumlah 36 siswa dan siswa kelas X MIPA 2 dengan jumlah 36 siswa. Dengan demikian kemampuan literasi sains siswa berdasarkan indikator kompetensi di kelas X MIPA 1 dan X MIPA 2 memiliki presentase nilai rata-rata nilai tes literasi sains sebesar 58,5%. Apabila ditinjau secara keseluruhan dari hasil penjabaran rata-rata nilai presentase menunjukkan bahwa kemampuan literasi sains siswa pada kelas X MIPA 1 dan X MIPA 2 berdasarkan hasil data dari rata-rata nilai presentase pencapaian literasi sains siswa dikategorikan masih rendah.

Page 10 of 56 | Total Record : 552