cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. ponorogo,
Jawa timur
INDONESIA
ETTISAL Journal of Communication
ISSN : 25031880     EISSN : 25993240     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
ETTISAL Journal of Communication is published by University of Darussalam Gontor in coorporated with ASPIKOM, APJIKI and ISKI. It is published twice in a year every June and December. At March 2016 ETTISAL Journal of Communication registered with P-ISSN serial number 2503-1880, and at December 2017 also registered with E-ISSN serial number 2503-1880.
Arjuna Subject : -
Articles 172 Documents
Makna Film Dokumenter What The Health Mellysa Desi Ariani
ETTISAL : Journal of Communication Vol 4, No 2 (2019): ETTISAL: Journal of Communication
Publisher : Universitas Darussalam Gontor collaboration with ISKI (Ikatan Sarjana Ilmu Komunikasi Indo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/ejoc.v4i2.3547

Abstract

AbstrakKesehatan merupakan bagian terpenting untuk setiap makhluk hidup, termasuk manusia. Banyaknya penyakit baru yang bermunculan ditambah belum ditemukan penawarnya membuat para pelaku vegan saat ini meningkat. Melihat kenaikan tingkat pola pelaku diet vegan ini, membuat seorang produser Kip Andersen menggunakan peluang ini untuk membuat sebuah film dokumenter berjudul “What The Health” yang memaparkan beragam fakta menarik seputar vegan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan analisis semiotika Roland Barthes. Hasil yang didapat dalam penelitian ini menujukkan bahwa, tidak semua fakta yang dipaparkan dalam film dokumenter “What The Health” merupakan fakta terbaru yang dikeluarkan oleh beberapa organisasi kesehatan dunia. Selain makna denotasi mengenai kesehatan, ditemukan juga beberapa makna konotasi yang merajuk pada merubah persepsi mengenai pola makan yang baik, terutama pada beberapa kasus kesehatan tertentu. Penelitian ini juga menemukan taktik yang digunakan dalam penyampaian pesan pada khalayak yang dapat mempengaruhi khalayak/penonton untuk akhirnya melakukan pola makan vegan. AbstractThe most important aspect of every being’s life line is it’s health, especially to us humans. The spike in new diseases which have no cure as of yet have become the reason for the steady rising shift in diet to veganism. The apparent rise in diet change has made one Californian producer, Kip Andersen, to take this phenomenon and document it in a film titling “What The Health” which discusses the many important and factual aspects of veganism. This research is a qualitative method research which uses the Roland Barthes Semiotic Analysis. The result found in this research is that not all facts presented in the documentary “What The Health” is up to date in accordance to a few of world health organization. Aside from denotation aspects on health, there are also connotation aspects that led viewers to change their point of view regarding healthier food consumption. This research has also found that the strategies used to send a message to viewers which can influence their way of thinking from a normal diet to veganism.  
Eksplikasi Kualitas Konten Peran Keluarga Pada Instagram @Kemenpppa Rustono Farady Marta; Joshua Fernando; Ruth Florencia Simanjuntak
ETTISAL : Journal of Communication Vol 4, No 2 (2019): ETTISAL: Journal of Communication
Publisher : Universitas Darussalam Gontor collaboration with ISKI (Ikatan Sarjana Ilmu Komunikasi Indo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/ejoc.v4i2.3702

Abstract

Abstrak Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi membuat lembaga pemerintah harus beradaptasi dengan cara penyebaran informasi kepada masyarakat. Media sosial Instagram menjadi alat pemerintah menggunakan media sosial sebagai layanan electronic goverment (E-Goverment) sebagai sarana dalam memberikan informasi yang baik serta bermanfaat untuk masyarakat. Keluarga merupakan forum pendidikan primer dalam kehidupan dan menjadi dasar penting bagi pembentukan karakter anak. Karakter yang kuat dan jiwa baik pada anak akan terbentuk dengan adanya peran keluarga yang harmonis dan dinamis. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) saat ini turut serta, selaku lembaga yang berkontribusi dalam mengedukasi masyarakat melalui media sosial Instagram @kemenpppa. Penelitian ini berusaha menganalisis layanan e-goverment KPPPA dalam upaya memberikan edukasi mengenai pentingnya peran keluarga melalui media sosial Instagram @KEMENPPPA periode Juli – Oktober 2019. Penelitian ini menggunakan menggunakan metode analisis isi Mayring sebagai pisau analisis, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dan teori Family Roles Communication perspektif Beth A. Le Poire untuk memahami layanan e-goverment KPPPA mengenai pentingnya peran keluarga dalam pemberdayaan anak dan perempuan Indonesia.Quality Explication Of Family Role Content Through Instagram @KEMENPPPA  Abstrack The development of communication and information technology makes government institutions have to adapt to the way of disseminating information to the public. Instagram social media is a tool for the government to use social media as an electronic government service (E-Government) as a means of providing good information that is beneficial to the community. The family is the primary education forum in life and is an important basis for the formation of children's character. Strong character and good soul in children will be formed with the existence of a harmonious and dynamic family role. The Ministry of Women's Empowerment and Child Protection (KPPPA) is currently participating as an institution that contributes to educating the public through the social media Instagram @KEMENPPPA. This study seeks to analyze the KPPPA e-government services in an effort to provide education about the importance of the role of the family through social media Instagram @kemenpppa for the period July - October 2019. This research uses the Mayring content analysis method as the analysis knife, the researcher uses a qualitative approach and the theory of Family Roles Communication Beth A. Le Poire's perspective to understand KPPPA e-government services regarding the important role of the family in empowering Indonesian children and women.
Model Komunikasi Kepemimpinan Politik Theresa May dalam Menghadapi Brexit Andika Hendra Mustaqim
ETTISAL : Journal of Communication Vol 4, No 2 (2019): ETTISAL: Journal of Communication
Publisher : Universitas Darussalam Gontor collaboration with ISKI (Ikatan Sarjana Ilmu Komunikasi Indo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/ejoc.v4i2.3639

Abstract

AbstrakBrexit (Britain Exit) menjadi babak bersejarah dalam perpolitik Inggris yang menentukan masa depan negara itu menuju keluar dari Uni Eropa. Pemerintahan Perdana Menteri Theresa May meletakkan pijakan pertama Brexit, tetapi dia gagal mewujudkannya karena harus mengundurkan diri. Penelitian bertujuan untuk menjelaskan model komunikasi kepemimpinan Perdana Menteri Inggris Theresa May dalam kekuasaan pada 2016-2019. Paradigma dalam penelitian ini adalah konstruktivis dengan pendekatan kualitatif, serta menggunakan metode analisis isi. Hasil penelitian ini mengungkapkan beberapa model komunikasi kepemimpinan Theresa May. Model komunikasi kepemimpinan yang diterapkan Mei menerapkan "garis merah". Kemudian, May menerapkan model gaya kepemimpinan pemimpin robot; tanpa ekspresi dan percaya pada program sehingga ia disebut Maybot. Selain itu, May adalah pemimpin tanpa identitas kelompok, pemimpin dengan identitas Inggris karena selama pengangkatan awalnya sebagai pemimpin Partai Konservatif yang secara otomatis menjadi penerus David Cameron untuk PM Inggris, May menjanjikan program radikal dalam reformasi sosial dan dia ingin mewakili kepentingan rakyat pekerja dan rakyat biasa. Sebenarnya, May bukanlah pemimpin yang karismatik, tetapi seorang pemimpin yang melayani karena esensi kepemimpinan di bulan Mei ada dalam program yang sedang diperjuangkan pemerintahnya. Yang menarik, May adalah pemimpin konservatif yang melayani kepemimpinan. AbstractBrexit (Britain Exit) is a historic stage in British politics that determines the country's future towards leaving the European Union. Prime Minister Theresa May's government laid Brexit's first footing, but she failed to make it happen because he had to resign. This research is to explain the communication model of British Prime Minister Theresa May's leadership in power in 2016-2019. The paradigm in this research is constructivism with a qualitative approach, as well as using content analysis methods. The results of this study reveal several Theresa May leadership communication models. The leadership communication model applied by May is applying the "red line". Then, May applied the robot leader leadership style model; expressionless and trusting in the program so he is called Maybot. Furthermore, May is a leader without a group identity, a leader with a British identity because during his initial appointment as the leader of the Conservative Party who automatically became David Cameron's successor to the British PM, May promised a radical program in social reform and he wanted to represent the interests of the working people and ordinary people. In fact, May is not a charismatic leader, but a leader who serves because the essence of leadership in May is in the program that his government is striving for. Interestingly, May is a conservative leader that is serving leadership. 
Komunikasi Efektif Interprofesi Kesehatan Sebagai Upaya Peningkatan Kualitas Pelayanan Rumah Sakit Muhammad Alfarizi
ETTISAL : Journal of Communication Vol 4, No 2 (2019): ETTISAL: Journal of Communication
Publisher : Universitas Darussalam Gontor collaboration with ISKI (Ikatan Sarjana Ilmu Komunikasi Indo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/ejoc.v4i2.3568

Abstract

Abstrak Isu kesehatan menjadi penting untuk dikaji melalui bidang ilmu komunikasi dengan adanya masukan dari banyak penelitian bidang kesehatan yang menekankan perhatian pada aspek psikis maupun sosial yang membantu kesembuhan pasien. Kemampuan komunikasi dan Pemahaman Sosial sangat diperlukan baik dalam komunikasi di bidang kesehatan antar tim medis dengan pasien maupun komunikasi dalam tim medis agar pelayanan rumah sakit berjalan optimal  bisa meningkatkan reputasi pelayanan rumah sakit. Tujuan dari penelitian ini adalah menelaah kembali peran komunikasi dalam kolaborasi tim medis kesehatan sebagai upaya peningkatan kualitas rumah sakit dengan metode Literature Review. Berdasarkan hasil penelaah pembahasan  penemuan data yang berada didalam jurnal-jurnal tersebut ditemukan bahwa saat ini kolaborasi tim medis sangat erat korelasinya dengan kemampuan komunikasi dan pemahaman sosial terhadap pasien sudah terbentuk. Hanya saja masih ada beberapa dokter yang mengabaikan unsur profesi medis lain dengan mendominasi  mengabaikan komunikasi. Hal inilah yang membuat beberapa Fakultas Kedokteran serta Ilmu Kesehatan Membentuk Mata Kuliah Ilmu Komunikasi Kesehatan dan Dasar Sosial Kesehatan agar kemampuan komunikasi  pemahaman sosial budaya pasien dan rekan tim dapat terbentuk, sebagai kesimpulan Komunikasi adalah hal penting didalam sebuah Tim Medis pada institusi kesehatan dalam upaya meningkatkan layanan kesehatan Rumah Sakit.   Abstract Health issues are important to be examined through the field of communication science with the input of many health studies that emphasize attention to psychological and social aspects that help the patient's recovery. Communication skills and Social Understanding are needed both in communication in the field of health between the medical team with patients and communication in the medical team so that hospital services can run optimally to improve the reputation of hospital services. The purpose of this study is to re-examine the role of communication in the collaboration of health medical teams as an effort to improve hospital quality with the Literature Review method. Based on the review of the discussion of the discovery of data contained in these journals, it is found that currently the collaboration of the medical team is very close in correlation with communication skills and social understanding of patients already formed. It's just that there are still some doctors who ignore other elements of the medical profession by dominating communication. This is what makes several faculties of Medicine and Health Sciences Establish Health Communication Subjects and Basic Social Health so that communication skills can be formed social understanding of patients and teammates, in conclusion Communication is important in a Medical Team at a health institution in an effort to improve services Hospital health.
Beauty Vlogger: Representasi Perempuan di Era Disrupsi Fitrinanda An Nur; Nunik Hariyanti
ETTISAL : Journal of Communication Vol 4, No 2 (2019): ETTISAL: Journal of Communication
Publisher : Universitas Darussalam Gontor collaboration with ISKI (Ikatan Sarjana Ilmu Komunikasi Indo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/ejoc.v4i2.3600

Abstract

AbstrakEra disrupsi ditandai masuknya nilai-nilai digital, yang salah satunya adalah pemanfaatan media sosial sebagai cara baru untuk mengaktualisasikan diri. Era disrupsi menawarkan manusia untuk berinovasi atau menciptakan produk baru. Era ini pula menghadirkan tantangan dan juga peluang bagi perempuan. Pada era ini diharapkan dapat memberikan peluang baru bagi kaum perempuan untuk terlibat di ranah publik. Penelitian ini melihat keterlibatan perempuan di era disrupsi melalui media sosial YouTube. Penelitian ini memaparkan mengenai representasi perempuan di era disrupsi serta memaparkan tantangan dan peluangnya pada akun beauty vlogger Rachel Goddard dan Tasya Farasya. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode analisis isi kualitatif. Penelitian ini melihat konten video oleh dua beauty vlogger yang telah terpilih yaitu Rachel Goddard dan Tasya Farasya. Pengumpulan data dilakukan dengan mengumpulkan video dari dua beauty vlogger terpilih. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa melalui media sosial YouTube, Rachel Goddard dan Tasya Farasya menjadi gambaran perempuan yang dapat mengaktualisasikan dirinya melalui media sosial dengan memproduksi, mengolah, mengedit hingga mendistribusikan konten YouTube. Mereka merepresentasikan bahwa perempuan dapat berpeluang menjadi pemimpin di era disrupsi dengan memanfaatkan media sosial YouTube.  Abstract Disruption era has marked the entry of digital values, one of which is the use of social media as a new way to actualize themselves. The era of disruption offers people to innovate or create new products. This era also presents challenges and opportunities for women. This era is expected to provide new opportunities for women to be involved in the public sphere. This study looks at the involvement of women in the era of disturbances through YouTube's social media. This study describes the representation of women in the era of disruption and describes the challenges and opportunities in the beauty vlogger YouTube channel Rachel Goddard and Tasya Farasya. The research is a qualitative study using qualitative content analysis method. This study looks at the video content by two selected beauty vloggers, Rachel Goddard and Tasya Farasya. Data collection was conducted by collecting videos from two selected beauty vloggers. The results of this study show that through social media YouTube, Rachel Goddard and Tasya Farasya, represent women who can actualize themselves through social media by producing, processing, editing and distributing YouTube content. They represent women who can potentially become leaders in the era of disruption by utilizing YouTube's social media.  
Analisis Nation Branding Pariwisata Indonesia Dalam INAFEST 2017 Di Shanghai Tiongkok Yuni Ria Komala
ETTISAL : Journal of Communication Vol 4, No 2 (2019): ETTISAL: Journal of Communication
Publisher : Universitas Darussalam Gontor collaboration with ISKI (Ikatan Sarjana Ilmu Komunikasi Indo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/ejoc.v4i2.3390

Abstract

AbstrakKajian Nation Branding dalam Event INAFEST  2017 di Shanghai Tiongkok, diawali dengan permasalahan kurang gaungnya penyelenggaraan pariwisata internasional ini bagi masyarakat Indonesia. Karena itu, tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis proses nation branding INAFEST 2017 melalui tema Wonderful Indonesia di Shanghai Tiongkok. Metode penelitian, menggunakan studi kasus eksploratif untuk mendeskripsikan tahap penyelenggaraan INAFEST 2017 melalui observasi lapangan dan wawancara mendalam dengan para narasumber seperti Kemenpar RI, Kemerindag RI, Duta Besar RI di Tiongkok, Konjen RI, Inacham, Di Shanghai – Tiongkok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nation branding pariwisata Indonesia yaitu Wonderful Indonesia dalam INAFEST 2017 dapat diterima dengan positif di  Tiongkok karena menerapkan konsep public diplomacy yang terbuka, jemput bola, dan berbaur dengan masyarakat domestik Tiongkok. Secara prinsip cultural  melalui  produk budaya tradisional yang dikemas modern pun dapat meraih investment Negara Tiongkok dan dunia internasional dengan tingkat kunjungan 2 juta orang ke Indonesia pertahun, meski masih di bawah Malaysia dan Thailand. Meski kendala bahasa dan budaya kerap terjadi, namun, Wonderful Indonesia telah mampu menjadi perhatian dunia dengan diraihnya rangking pertama dalam inbound Tiongkok ke Indonesia. Rekomendasi penelitian, pemerintah harus meningkatkan promosi dan kebijakan proaktif lainnya, agar nation branding pariwisata Indonesia dapat sejajar dengan Negara Asia, juga  internasional.  Abstract The Nation Branding Study at the 2017 INAFEST Event in Shanghai, China, began with the problem of the lack of international tourism organization for the people of Indonesia. Therefore, the purpose of this study is to analyze the INAFEST 2017 nation branding process through the theme of Wonderful Indonesia in Shanghai China. The research method, uses exploratory case studies to describe the stages of organizing INAFEST 2017 through field observations and in-depth interviews with speakers such as the Ministry of Religion of the Republic of Indonesia, the Ministry of Industry and Trade, the Indonesian Ambassador in China, the Republic of Indonesia, the Kinjen RI, Inchamber, and Kadin in Jakarta and Shanghai-China. The results showed that Indonesia's tourism nation branding namely Wonderful Indonesia in INAFEST 2017 can be received positively in China because it applies the concept of open public diplomacy, ball pick-up, and mingling with Chinese domestic communities. In principle, culture through traditional products that are packaged in a modern way can achieve investment in China and the international world with a rate of 2 million people visiting Indonesia annually, although it is still below Malaysia and Thailand. Although language and cultural barriers often occur, however, Wonderful Indonesia has been able to become the world's attention by achieving the first rank in China inbound to Indonesia. Research recommendations, the government must increase promotion and other proactive policies, so that Indonesia's tourism of nation branding can be aligned with other Asian countries, as well as internationally. 
Analisa Demografi dan Jaringan Penjudi Daring di Twitter Menggunakan Metode Social Network Analysis Ahmad Laroy Bafi; A Pahmi; Dinda Meidianti Kusuma Putri; Shalma Rachmayani Putri; Firwam Al Ayubi; Nur Aini Rakhmawati
ETTISAL : Journal of Communication Vol 4, No 2 (2019): ETTISAL: Journal of Communication
Publisher : Universitas Darussalam Gontor collaboration with ISKI (Ikatan Sarjana Ilmu Komunikasi Indo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/ejoc.v4i2.3682

Abstract

Abstrak Penelitian ini akan membahas dan menjelaskan tentang bagaimana demografi dan jaringan para pemain judi online di sosial media khususnya Twitter, bagaimana modus mereka dalam menarik pengguna untuk mendaftar, dan siapa orang dibalik akun judi online tersebut. Adapun yang menjadi latar belakang penulisan ini adalah maraknya kasus perjudian online di Indonesia yang tidak sedikit berujung penipuan.Ini terjadi karena menariknya modus para bandar judi online dalam menarik minat pengguna, terlebih lagi karena perkembangan teknologi yang semakin pesat sehingga banyak modus baru yang bermunculan dengan memanfaatkan media sosial. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur dan teknik scrapinguntuk mendapatkan data dari Twitter.Hasil dari analisis data yang dilakukan adalah seperti apa jaringan mereka dilihat dari akun yang mereka ikuti dan akun yang mengikuti mereka, bagaimana tweet mereka mulai dari isi tweet, hashtag, bahasa yang digunakan, serta pola penggunaan foto profil. Abstract This research will discuss and explain the demographics and networks of online gamblingplayers on social media Twitter, how their mode of attracting users to register, and who is behind the online gambling account. The background of this issue is the rise of online gambling cases in Indonesia that not least leads to fraud. This is due to the attractive mode of online bookies in attracting user interest, further due to the rapid technological development of new modes that have sprung up using social media. This study uses literature study methods and scraping techniques to obtain data from Twitter. The results of the data analysis are what they see from the accounts they follow and the accounts that follow them, how their tweets start from the contents of the tweets, hashtags, the language used, and patterns of using profile photos.  
Digital Etnometodologi: Studi Media dan Budaya pada Masyarakat Informasi di Era Digital Jokhanan Kristiyono; Rachmah Ida
ETTISAL : Journal of Communication Vol 4, No 2 (2019): ETTISAL: Journal of Communication
Publisher : Universitas Darussalam Gontor collaboration with ISKI (Ikatan Sarjana Ilmu Komunikasi Indo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/ejoc.v4i2.3590

Abstract

AbstrakArtikel ini mengeksplorasi secara terperinci bagaimana studi etnografi digunakan sebagai metode penelitian untuk media dan penelitian komunikasi dalam masyarakat informasi di era digital. Artikel ini menjelaskan tentang sebuah metode riset yaitu digital etnometodologi, sebuah metode yang menganalisis dan menggambarkan data observasi dari hasil penelitian etnografi pada komunitas seni digital. Peneliti etnografi yang berpartisipasi tidak aktif dalam masyarakat informasi sebagai subyek penelitiannya. Pendekatan etnografi bertujuan untuk menghasilkan keragaman dan kompleksitas budaya. Penjelasan deskriptif berupa kegiatan dan interaksi sosial budaya yang terjadi dalam masyarakat informasi ini dapat ditampilkan secara rinci menggunakan metode etnografi. Artikel ini menggunakan pendekatan studi kualitatif deskriptif dengan studi literatur dan studi kasus penelitian aktivitas digital di komunitas seniman digital Indonesia. Hasilnya adalah metode etnografi cenderung mengarah pada studi yang tenang tentang kehidupan sehari-hari anggota masyarakat atau kelompok sosial (komunitas). Metode etnografi digital atau dapat disebut Digital Ethnomethodology menggambarkan pendekatan untuk melakukan studi etnografi di dunia kontemporer. Metode ini mengajak para peneliti untuk mempertimbangkan bagaimana hidup dan meneliti dalam lingkungan digital, materi, dan sensorik. Digital Ethnomethodology juga mengeksplorasi konsekuensi dari keberadaan media digital dalam membentuk teknik dan proses di mana para peneliti melakukan studi etnografi. Metode ini mempelajari dan mengeksplorasi masyarakat informasi di dimensi dunianya kemudian secara metodologis diceritakan kembali melalui laporan penelitian atau penelitian akademis teoretis.Digital Ethnomethodology: Media Culture Studies Of The Information Society In The Digital Age AbstractThis article explores in detail how ethnographic studies use as research methods of the Information Society in the digital age. Explains the method of analyzing and describing observation data generated and the researcher becomes inactive participation in the information society. Research methods that use an ethnographic approach have the aim to produce diversity and complexity of culture. The description of activities and social interactions that occur in this information society can be shown in detail using ethnographic methods. This article method is a descriptive qualitative study approach with literature study and case studies of digital activity in the Indonesian digital artist community. The results are the ethnographic method tends to lead to the quiet study of the daily lives of community members or social groups (communities). Digital Ethnomethodology describes approaches to conducting ethnographic studies in the contemporary world. This method invites researchers to consider how to live and research in a digital, material and sensory environment also explores the consequences of the presence of digital media in shaping the techniques and processes in which researchers conduct ethnographic studies. This Method by studying and exploring the information society in its world is dimensionally then academically methodologically retold through theoretical academic research.  
Praktik Gotong Royong Berbasis Go Green Dalam Mewujudkan SDGs Tri Yulianti
ETTISAL : Journal of Communication Vol 4, No 2 (2019): ETTISAL: Journal of Communication
Publisher : Universitas Darussalam Gontor collaboration with ISKI (Ikatan Sarjana Ilmu Komunikasi Indo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/ejoc.v4i2.3700

Abstract

Abstrak Penelitian ini membahas tentang adanya praktek gotong royong oleh warga yang berhasil mewujudkan kampungnya menjadi Sustainanable Development Goals (SDGs). Sebelumnya, kampung Glintung merupakan kampung yang mengalami permasalahan sosial seperti; kumuh, banjir, kemiskinan dan warga rentan terhadap penyakit. Hal ini diduga karena faktor rendahnya pengetahuan serta sulitnya memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari yang menghimpit. Hingga warga hanya berusaha mempertahankan hidup tanpa terlintas menjaga kelestarian lingkungan. Berawal dari keinginan untuk menciptakan kampung yang nyaman, bersih dan asri, warga membentuk komunitas yang kemudian melakukan praktek gotong-royong berbasis go green di tahun 2012. Data digali dengan wawancara mendalam dan dokumentasi kemudian dianalisis secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktek gotong royong berbasis go green yang dilakukan oleh komunitas berhasil mendorong partisipasi warga kampung Glintung RW 23 di setiap kegiatan pembangunan kampung. Selain itu gotong-royong menumbuhkan tanggung jawab sebagai warga negara yang wajib mengisipembangunan. Penanganan krisis ketahanan pangan, krisis air dan krisis energiyang merupakan krisis dunia bisa diwujudkan di kampung Glintung. Keberhasilan tersebut membawa komunitas dapat bermitra dengan pemerintah dalam negeri maupun luar negeri. Dari praktek gotong-royong ini pula kampung Glintung dapat meningkatkan kesejahteraan warganya, sekaligus menjadi percontohan bagi kampung lain. AbstractThis study discusses the existence of mutual cooperation practices by residents who succeeded in turning their villages into Sustainanable Development Goals (SDGs). Previously, Glintung village was a village that was being questioned as social; slums, floods, poverty and people vulnerable to disease. This is due to the lack of knowledge and the difficulty of pressing daily life needs. Only residents who managed to survive without being protected from environmental sustainability. Starting from the desire to create a village that is comfortable, clean and beautiful, the residents formed a community which then carried out the practice of mutual cooperation based on go green in 2012. Data was extracted with interviews that were made and informed and then developed qualitatively. The results showed that the practice of community-based mutual cooperation carried out by the community was successfully supported by residents of Glintung RW 23 in every village development activity. Besides that, mutual cooperation fosters responsibility as a citizen who is obliged to implement development. Handling the food crisis, water crisis and energy crisis which is a world crisis can be realized in Glintung village. Success like this can bring the community to partner with domestic and foreign governments. From this mutual assistance practice, Glintung village can improve the welfare of its citizens, as well as being a model for other villages.
Gamer dan Muslimah: Konstruksi Identitas Virtual Gamer Daring Profesional Syahrul Hidayanto; Niken Febrina Ernungtyas
ETTISAL : Journal of Communication Vol 4, No 2 (2019): ETTISAL: Journal of Communication
Publisher : Universitas Darussalam Gontor collaboration with ISKI (Ikatan Sarjana Ilmu Komunikasi Indo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/ejoc.v4i2.3635

Abstract

                                                          Abstrak  Fenomena bertambahnya jumlah gamer perempuan di Indonesia dilatar belakangi dengan masifnya pembelian smartphone. Video game yang didominasi kaum laki-laki dalam hal audiens pasar hingga representasi karakter, belakangan ini mulai menunjukkan adanya pergeseran konsumen game. Kaum perempuan di Indonesia yang berasal dari berbagai kalangan kini mendapatkan tempat dalam industri game. Sebagai negara yang mayoritas masyarakatnya beragama Islam, tentu  perempuan muslim atau muslimah juga termasuk ke dalam konsumen game.  Eksistensi mereka dibuktikan dengan munculnya beberapa muslimah yang berprofesi sebagai Gamer Profesional. Mengkaji bagaimana pemain game daring yang berasal dari kelompok yang dianggap terpinggirkan di Komunitas Gamer, dalam  membangun identitas mereka di dunia virtual menjadi isu yang menarik untuk diteliti secara mendalam. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi  bagaimana lingkungan virtual menyediakan ruang untuk membangaun identitas dan untuk memahami konstruksi identitas virtual gamer muslimah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan paradigma konstruktivisme. Alat pengumpulan data berupa wawancara mendalam dan observasi. Setelah data terkumpul, peneliti kemudian menganalisisnya menggunakan analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam aspek perluasan diri, gamer muslimah berjilbab lebih dominan pada domain ideal self yang berasal dari keinginan, aspirasi, atau harapan yang diimpikan dan tidak mampu diwujudkan di dunia nyata. Kemudian, pada aspek aregasi diri, gamer muslimah menekankan budaya kolektivisme yang menjunjung kepentingan kelompok, saling berbagi, dan kerja sama kelompok.  Abstract  The phenomenon of increasing number of female gamers in Indonesia is motivated by the massive purchase of smartphones. Video games who dominated by men in terms of market audiences to character representations have recently begun to show a shift in game consumers. Women in Indonesia who come from various backgrounds are now gaining a place in the gaming industry. As a country whose majority of people are Muslim, of course Muslim women or Moslemah are also included in the game consumer. Their existence is evidenced by the emergence of several Muslim women who work as professional gamers. Studying how online gamers who come from groups deemed marginalized in the Gamer Community, constructing their identity in the virtual world is an interesting issue to be studied in depth. This study aims to explore how the virtual environment provides space to build identity and to understand the construction of virtual identity of veiled Moslemah gamers. This research uses a qualitative approach, a constructivist paradigm, and a phenomenological research strategy. Data collection tools in the form of in-depth interviews and observation. After the data is collected, the researcher then analyzes it using thematic analysis. The results showed that in the aspect of self-expansion, veiled Moslemah gamers were more dominant in the ideal domain of self that originated from desires, aspirations, or hopes that were dreamed of and could not be realized in the real world. Then, in the aspect of self-aggregation, Muslim gamers emphasize a culture of collectivism that upholds group interests, sharing, and group collaboration.

Page 6 of 18 | Total Record : 172