cover
Contact Name
Putra Afriadi
Contact Email
putraafriadi12@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
hartono_sukorejo@yahoo.co.id
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Catharsis
ISSN : 25024531     EISSN : 25024531     DOI : -
Catharsis: Journal of Arts Education provides an international forum for research in the field of the art and creative education. It is the primary source for the dissemination of independently refereed articles about the visual arts, performances (music, dance, drama/theater/play), creative process, crafts, design, and art history, in all aspects, phases and types of education contexts and learning situations (formal and informal).
Arjuna Subject : -
Articles 506 Documents
FUNGSI DAN MAKNA BIDE DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT DAYAK KANAYATN DI KABUPATEN LANDAK KALIMANTAN BARAT Dodo, Dodo; Iswidayati, Sri; Rohidi, Tjetjep Rohendi
Catharsis Vol 5 No 2 (2016)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bide merupakan bagian dari perlengkapan atau sarana yang digunakan dalam upacara ritual adat suku Dayak Kanayatn, tikar Bide mampu memberi kepuasan spiritual atau emosional lewat penampilan yang indah dan artistik. Masalah yang dikaji dalam penelitian ini; (1) Fungsi apa yang terkandung dalam Bide?; dan (2) Bagaimana makna simbolik yang terkandung dalam Bide?. Metode penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan interdisiplin (antropologi, sosiologi, seni rupa dan semiotika). Teknik pengumpulan data dengan teknik observasi, wawancara, dan studi dokumen. Pemeriksaan keabsahan data menggunakan triangulasi sumber, dengan prosedur analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Hasil Penelitian menunjukan bahwa, tikar Bide bagi masyarakat Dayak Kanayatn adalah sebagai alat perekat tali persaudaraan. Dalam upacara adat, Bide sebagai alas tempat duduk dalam mempersatukan masyarakat, sehingga dengan kesatuan dapat tercipta suasana yang damai, adat merupakan aturan yang berlaku disetiap kehidupan mereka. Makna simbolik Bide adalah lambang kebersamaan dan pemersatu suatu kelompok masyarakat, dengan tujuan supaya masyarakat tetap menjaga solidaritas, kebersamaan, dan tanggung jawab. Sesuai dengan fungsinya, ketika ditempatkan dalam kontek budaya, Bide menjadi suatu identitas, karakter dan bisa juga harga diri.
PATUNG PANTAK DAYAK KANAYATN Kajian Bentuk dan Fungsi dalam Perubahan Sosial Budaya Andrianus, Andrianus; Iswidayati, Sri; Triyanto, Triyanto
Catharsis Vol 5 No 2 (2016)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Patung Pantak merupakan karya seni yang hadir dari hasil produk budaya Suku Dayak Kanayatn. Keberadaan patung Pantak dalam kehidupan masyarakat Suku Dayak Kanayatn merupakan tindakan sosial masyarakat untuk mengekpresikan budaya melalui sebuah patung. Berubahnya budaya bertani masyarakat memberikan dampak terhadap bentuk dan fungsi patung Pantak. Penelitian ini bertujuan menganalisis dan memahami masalah bentuk dan fungsi pada patung Pantak dalam konteks perubahan sosial budaya masyarakat Suku Dayak Kanayatn. Metode penelitian menggunakan pendekatan penelitian kualitatif. Data penelitian dikumpulkan dengan teknik pengamatan, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan perubahan sosial budaya masyarakat Suku Dayak Kanayatn dari beberapa aspek kehidupan mempengaruhi aspek yang berhubungan dengan budaya serta orientasi nilai budayanya. Salah satu aspek kebudayaan yang dipengaruhi dengan terjadinya perubahan sosial budaya itu adalah karya seni, termasuk disini karya seni patung. Tegasnya bentuk dan fungsi karya seni patung Pantak Dayak Kanayatn berubah seiring dengan tejadinya perubahan sosial budaya masyarakatnya. Tampaknya peran budayawan dan bidang pendidikan yang sejatinya menjaga, mempertahankan serta melestarikan suatu produk budaya belum terlihat jelas, sehingga dalam hal ini Perlu memberikan pengetahuan kepada masyarakat yang menjadi pemilik suatu kebudayaan untuk secara bijak dalam menyikapi setiap kemajuan yang berdampak dalam sebuah kebudayaan dan perlunya untuk memasukkan karya seni patung Pantak sebagai materi ajar untuk memperkenalkan salah satu produk budaya dari Suku Dayak Kanayatn.
NILAI BUDAYA PERTUNJUKAN MUSIK TERBANGAN PADA MASYARAKAT SEMENDE Septiana, Opta; Sumaryanto, Totok; Cahyono, Agus
Catharsis Vol 5 No 2 (2016)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Terbangan sebagai musik pengiring nyanyian yang berisi tentang pujian kepada Nabi Muhammad Saw untuk mengingatkan dan memberikan nasihat yang baik kepada pelaku maupun penonton. Pertunjukan musik terbangan dikemas sesuai dengan aturan adat istiadat masyarakat Semende sehingga tercermin nilai-nilai budaya pada setiap aktivitas sebelum pertunjukan, pada saat pertunjukan dan setelah pertunjukan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan memahami nilai budaya yang terkandung dalam pertunjukan musik terbangan pada prosesi pernikahan adat tunggu tubang masyarakat Semende. Metode yang digunakan pada penelitian ini metode kualitatif dan pendekatan Antropologi Seni. Sumber data pada penelitian ini menggunakan sumber primer dan sekunder dengan teknik perngumpulan data observasi, wawancara dan studi dokumen. Teknik keabsahan data yang digunakan yaitu triangulasi sumber sedangkan teknik analisis data dilakukan dengan cara mereduksi data, penyajian data, dan memverifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai budaya tercermin dalam pertunjukan musik terbangan tercermin ketika manusia berhubungan dengan lima aspek yaitu tuhan, manusia, alam, kerja dan waktu sehingga menghasilkan nilai religi, tanggung jawab, gotong royong, solidaritas, nilai ekonomi dan nilai cinta budaya. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi masyarakat kedepannya.
TOPENG SENI BARONGAN DI KENDAYAKAN TEGAL: EKSPRESI SIMBOLIK BUDAYA MASYARAKAT PESISIRAN Murni, Endri Sintiana; Rohidi, Tjetjep Rohendi; Syarif, Muh. Ibnan
Catharsis Vol 5 No 2 (2016)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kehadiran seni dalam kehidupan manusia menjadi salah satu kebutuhan bagi manusia. Salah satunya topeng seni barongan di Kendayakan Tegal. Bentuk topeng mengarah pada keislaman dan masih mempertahankan bentuk terdahulu. Masalah yang dikaji dalam penelitian ini: (1) bagaimana bentuk topeng dalam seni barongan di Kendayakan Tegal?; (2) mengapa bentuk topeng dalam seni barongan di Kendayakan Tegal mengekspresikan secara simbolik budaya pesisiran?. Metode dan pendekatan penelitian adalah kualitatif dengan kajian interdisiplin. Analisis data seni dengan intra dan ekstraestetik. Hasil penelitian yang pertama, topeng seni barongan terdiri dari Capluk, Gendruwo Lanang, Gendruwo Wadon, Singa, dan Buroq. Bentuk visual topeng memiliki gaya imajinatif dan stilaisi dengan corak sederhana serta variatif. Warna topeng cerah dan tegas. Topeng juga terkait dengan nilai kosmologis, klasifikasi simbolik, dan orientasi kehidupan. Kedua, topeng seni barongan sebagai praktik budaya masyarakat Desa Kendayakan berada di kawasan pesisir menghasilkan produk budaya berupa topeng seni barongan yang mengekspresikan secara simbolik budaya pesisiran. Topeng seni barongan dahulu memiliki unsur-unsur budaya Hindu bergeser menjadi budaya dan simbol Islam sebagai legitimasi yang kuat pada masyarakat Kendayakan serta bertujuan sebagai media syiar Islam.
Gambus Al-Mubarok’s Studio: Form and Structure of Music Hanifah, Hanifah Suaidi; Sumaryanto. F, Totok; Wadiyo, Wadiyo
Catharsis Vol 8 No 3 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/catharsis.v8i3.13226

Abstract

The music of Gambus is a musical that has Middle East style and identic with Islamic nuances, from song lyrics, dances to musical instruments that are used rhythmically, as well as melodic songs with unique characteristics possessed by stringed instrument, namely Gambus. This study aimed to analyze the form and structure of Gambus music in the Al-Mubarok studio at Palembang city. The method used a qualitative research case study design. The research data were collected through observation, interview, and documentation techniques and also using triangulation techniques in testing the credibility of the data. In the process of analyzing data, the data validation technique was carried out through several stages, namely reduction, presentation of data, and drawing conclusions. The results of this study were to provide knowledge and become a reference for Gambus music consisting of two elements of time and melody. Meanwhile, the structure of Gambus music had repeated sentences and periods. The researcher hopes this research can be useful for the public and readers who want to know the oldest Gambus music studio in Palembang city that still maintains the authenticity of their ancestor’s art in Sriwijaya.
The Symbolical Interaction of Inter Dance Performers in Hak-Hakan performance in The Ritual Ceremony in Kaliyoso, Tegalombo, Kalikajar, Wonosobo Handayani, Setyati Dyah; Jazuli, Muhammad; Utomo, Udi
Catharsis Vol 7 No 3 (2018)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/catharsis.v7i2.16958

Abstract

Hak-hakan is a traditional art included as the part of Hak-Hakan ritual in Kaliyoso Village, Tegalombo, Kalikajar, Wonosobo. Hak-hakan reflects the history of the establishment of Kaliyoso Village from the opening of the area, creating water channel (wangan), until the creation of Kaliyoso Village. This research aimes to describe Hak-hakan as the interaction media between societies as well as the meaning of Hak-Hakan in ritual ceremony. This research was a qualitative research. The technique of collecting data was using observation, interview, and document. The techniques of analyzing data were data reduction, data presentation, and conclusion. The result of the research showed that Hak-hakan became the media of interaction in the rituals through; First, the interaction of the society to their ancestors from the offerings during the preparation and the execution of the performance; and Second, is the interaction between art performers which happens between leaders and dancers and between dancers through symbols of Hak-hakan, including movement, male dancers, and dialogue. The movements of this art are nglamak tumeka pelusan, mangkat babat babat, ngratakke lamak, pasang gebal, tayuban. Dialogue is executed in the form of talks to each other initiated by the shout of the leader (pelandang) then continued with questions and answer and invitation through discussion for working together to open the area. The meaning of Hak-hakan is contained in the symbol of the offerings, movements, male dancers, and dictions.
Kesenian Rampak Kenthong sebagai Media Ekspresi Estetik Masyarakat Desa Kalirejo Kabupaten Pekalongan Perdana, Firdaus; Sunarto, Sunarto; Utomo, Udi
Catharsis Vol 6 No 1 (2017)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/catharsis.v6i1.17019

Abstract

Kesenian Rampak kenthong adalah alat musik yang terbuat dari bambu, dalam bahasa Banyumas lazim disebut thek-thekan. Disebut thek-thekan karena sesuai dengan bunyi yang dihasilkan pada saat dipukul. Kesenian Rampak Kenthong di Kecamatan Talun memiliki keistimewaan yang ditunjukkan melalui syair lagu yang bernuansa religi dan tradisi, selain pertunjukan tari dan silat. Alat musik yang digunakan dalam kesenian Rampak Kenthong meliputi angklung, calung, bedhug, tam-tam dan kenthongan. Tujuan penelitian ini adalah (1) Untuk mengetahui dan mendeskripsikan bentuk lagu dalam penampilan grup Rampak Kenthong di Desa Kalirejo Kabupaten Pekalongan.,(2) Untuk mengetahui dan mendeskripsikan alasan kesenian Rampak Kenthong digunakan sebagai media ekspresi estetis masyarakat Desa Kalirejo Kabupaten Pekalongan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah metode observasi, wawancara, serta metode dokumen, sedangkan teknik analisis terdiri dari tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan yaitu reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan/verifikasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) bentuk lagu dalam penampilan grup Rampak Kenthong meliputi diatonis minor, melangkah, A-B-C, baku, merah diatonis mayor, berurutan, irama semangat, pentatonis selendro, berurutan, syair bahasa arab, 2 pola bentuk lagu, 3 pola irama, gerak melangkah, pentatonis selendro, pentatonis pelog patet lima, gerak melodi melangkah. (2) Setiap lagu dalam pertunjukan Rampak Kenthong memilki makna dan ekspresi tersendiri. Hal itu ditentukan dari bentuk musik dan syair lagu tersebut. Rampak Kenthong art is a musical instrument made of bamboo, in language banyumas commonly called thek-thekan.Called thek-thekan because in line with of sounds produced at struck. Rampak kenthong art in Pekalongan regency different than other regions, things that are different from other regions located at then the words religious nuances and traditions. In a art rampak kenthong also served dance and performing arts. An instrument used in the arts of Rampak Kenthong covering angklung, calung, bedhug, tam-tam and kenthongan. The purpose of this research are (1) to know and described the form of song in appearance group rampak kenthong in the Kalirejo village, Pekalongan regency., (2) to know and described reason art Rampak Kenthongused as a medium of expression aesthetically the village community kalirejo pekalongan regency. This research uses the method-qualitative study.Technique data collection used is the method observation, interview, and a method of documents, while technique analysis consisting of three grooves activities that happen simultaneously namely reduction data, presentation of data, withdrawal conclusion / verification. This research result indicates that (1) the song in appearance group includes diatonic rampak kenthong minor, stepped, a-b-c, raw, major red diatonic, successive, rhythm spirit, pentatonis selendro, successive, lyrical arabic, 2 pattern the song, 3 the rhythm, motion step, pentatonis selendro, pentatonis pelog patet five, motion melody step. (2) Any song in a Rampak Kenthong have meaning and expression of its own .It determined from musical form the and then the words. Based on the results of research , researchers suggested that coaching held business through training organization arts society-based by the district government pekalongan , revamping the presence of businesses and guidance in the fields of music by the village government Talun.
Makna Simbolis dan Fungsi Tenun Songket Bermotif Naga pada Masyarakat Melayu di Palembang Sumatera Selatan Tahrir, Romas; Rohidi, Tjetjep Rohendi; Iswidayati, Sri
Catharsis Vol 6 No 1 (2017)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/catharsis.v6i1.17020

Abstract

Tenun Songket Palembang Sumatera Selatan merupakan salah satu songket terbaik di Indonesia. Motif naga divisualkan kedalam tenun songket karena diyakini memiliki makna simbolis. Tujuan penelitian ini adalah (1) ingin mengetahui motif naga dijadikan unsur utama dalam kerajinan tenun songket (2) ingin menganalisis visualisasi naga dalam tenun songket, (3) ingin memahami makna simbolis dan fungsi tenun songket bermotif naga pada masyarakat Melayu di Palembang Sumatera Selatan. Metode penelitian yang digunakan metode kualitatif. Data penelitian diperoleh melalui, observasi, wawancara, dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukan bahwa: Pertama, Tenun songket bermotif naga dijadikan sebagai motif utama karena motif tersebut yang pertama dibuat oleh Gede Munyang masa dulu (nenek moyang) sebelum adanya motif-motif tiga negeri dan kenanga dimakan ulat; Kedua, bentuk visual naga yang ada pada tenun songket merupakan visualisasi pengaruh naga Cina; Ketiga, makna simbolis tenun songket bermotif naga merupakan unsur kepercayaan masyarakat Sumatera Selatan yang terkandung pemahaman kehidupan dilihat dari makna unsur satu kesatuan dan merujuk pada tatanan dalam berkehidupan yang berisi pemahaman terhadap konsep pengharapan, kesucian, perlindungan, kemakmuran, jati diri, dan ajaran dalam ruang lingkup kehidupan sosial. Berkaitan dengan fungsinya, masyarakat Palembang menggunakan tenun songket bermotif naga dalam tradisi pernikahan. Weaving Songket Palembang South Sumatra is one of the best songket in Indonesia. Visualize them into a dragon motif on songket as it is believed to have symbolic significance. Problems examined in this study are: (1) want to know the dragon motif used as a key element in the craft of weaving songket (2) wants to analyze the visualization of a dragon in songket, (3) to understand the symbolic meaning and function of songket weaving patterned dragon on the Malay community in Palembang in South Sumatra. The method used qualitative methods. The data source is the people of Palembang in South Sumatra and patterned songket weaving dragon. Analysis technique used is data collection, data reduction, data presentation and conclusion. The research shows. First, patterned songket weaving dragon serve as the main motive for the first motif created by Gede Munyang first period (ancestor) before any other motives. Second, the visual form of the dragon that is in the weaving songket is a visualization of the influence of the Chinese dragon. Third, the symbolic meaning of the dragon patterned songket is an element of public confidence in South Sumatra. Contained in the understanding of the meaning of the elements of life seen a whole and refers to the order in life which provides an understanding of the concept of hope, purity, protection, prosperity, identity, and the teachings within the scope of social life. In connection with the public function Palembang songket weaving patterned using dragon in their marriage tradition.
Simbol Gendhèng Wayangan pada Atap Rumah Tradisional Kudus dalam Perspektif Kosmologi Jawa-Kudus Pratiwinindya, Ratih Ayu; Iswidayati, Sri; Triyanto, Triyanto
Catharsis Vol 6 No 1 (2017)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/catharsis.v6i1.17028

Abstract

Masyarakat Kudus Kulon menyadari bahwa setiap gerak geriknya selalu berada dalam kuasa Allah SWT pandangan tersebut tervisualisasi dalam setiap bagian rumah tempat tinggalnya. Masalah dalam penelitian ini:(1)Bagaimana perwujudan bentuk dan fungsi hiasan gendhèng wayangan pada atap rumah tradisional Kudus; (2)Sebagai simbol, hiasan gendhèng wayangan rumah tradisional Kudus terkandung makna apa dalam perspektif kosmologi Jawa-Kudus. Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan interdisiplin. Data penelitian dikumpulkan dengan teknik observasi, wawancara, dan studi dokumen. Pemeriksaan keabsahan data menggunakan triangulasi sumber, kemudian dianalisis mengggunakan alur reduksi, penyajian, dan verifikasi data. Hiasan gendhèng wayangan terbuat dari bahan tanah liat yang dibakar, ditempeli beling (pecahan kecil keramik porselen) putih. Gendhèng wayangan menggunakan pola hias motif flora, terdiri dari gendhèng lanangan di tengah, gendhèng pengapit di kanan dan kiri, gendhèng bulusan pada bagian ujung sebagai penutup. Gendhèng wayangan memiliki fungsi individu, fungsi sosial, dan fungsi praktis. Makna simbolis dari hiasan gendhèng wayangan adalah mengenai keyakinan dalam hal penghambaan dan kecintaan manusia terhadap Allah. Hiasan gendhèng wayangan tersirat simbol tentang manunggaling kawula Gusti serta falsafah dalam kosmologi Jawa mengenai harmonisasi empat anasir dalam kehidupan manusia bertujuan untuk menjaga keselarasan antara mikrokosmos dan makrokosmos di alam semesta. Kudus Kulon society awared that every movement in their life always be in God's power and everything in their life is always aligned with the will of God and the universe that surrounded them. That cosmological outlook is visualized in every part of their house where they lived, one of their part is gendhèng wayangan which is located at the peak of the rooftop. Problems studied in this study: (1) How is the structure and function of gendhèng wayangan on the rooftop of a Kudus’s traditional house; (2) As a symbol, what kind of symbol that contained in the traditional decoration gendhèng wayangan in the Javanese-Kudus’s cosmology perspective. Methodologically, this study is qualitative research, and used an interdisipline approach. Data collected by observation, interview and document study. Examination of the data’s validity using sources triangulation, then analyzed using reduction, presentation, and verification of data. The results showed that, (1) Gendhèng wayangan made by clay ground and decorated with beling to bold the line of ornamental flora’s motifs, gendhèng wayangan consisting of gendhèng lanangan in the middle, gendhèng pengapit is in the right and left side, gendhèng bulusan at the end as a cover. Gendhèng wayangan has a function has a practical function, social function, and individual functions. (2) In general, the meaning of symbol gendhèng wayangan is about belief in human servitude to God. While specifically, the implicit concept of gendhèng wayangan is about manunggaling kawula Gusti and harmonization between four elements in the universe to create the harmony between microcosm and macrocosm that is the philosophy adopted in Javanese cosmology and Islam.
Seni Relief Desa Senenan: Kajian Estetik, Fungsi, dan Pewarisannya di Sanggar Jepara Carver Rahmawati, Anik; Triyanto, Triyanto; Iswidayati, Sri
Catharsis Vol 6 No 1 (2017)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/catharsis.v6i1.17029

Abstract

Kehadiran seni dalam kehidupan manusia menjadi salah satu kebutuhan bagi manusia. Salah satu karya seni yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan berkesenian adalah seni relief kayu di Desa Senenan. Masalah yang dikaji dalam penelitian ini: (1) Bagaimana bentuk produk seni ukir relief kayu yang diciptakan perajin di Desa Senenan Kabupaten Jepara?; (2) Bagaimana fungsi seni relief kayu dalam kehidupan komunitas perajin di Desa Senenan Kabupaten Jepara?; dan (3) Bagaimana pewarisan seni relief kayu di Desa Senenan Kabupaten Jepara?. Metode dan pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan kajian interdisiplin sosial-budaya, dan seni (seni rupa). Analisis data seni dengan teori bentuk estetik, konsep pewarisan (internalisasi, enkulturasi, dan sosialisasi), dan fungsi. Hasil penelitian menunjukkan hal-hal sebagai berikut. Pertama, seni relief kayu memiliki bentuk yang variatif sesuai dengan kreativitas perajin dan nilai estetik. Kedua, seni relief kayu memiliki fungsi pemenuhan kebutuhan dasar sebagai sumber pemenuhan kebutuhan ekonomi, fungsi sosial dan fungsi budaya. Ketiga, struktur pewarisannya melalui keluarga dan pendidikan informal (sanggar Jepara Carver). The presence of art in human life becomes one of the human necessities. One of the artworks which used to meet the needs of art is the art of wood reliefs in Desa Senenan, Jepara. The problems of the study are (1) What are the forms of wood relief sculpture product created by craftsmen in Desa Senenan,Jepara? (2) How are the functions of wood art relief in the craftsmen daily life in Desa Senenan, Jepara? (3) How are the inheritance wood art relief in Desa Senenan Jepara? This study used qualitative method which combined with socio cultural and art interdisciplinary study. The Art data analysis included the theory of aesthetic form, the concept of inheritance (internalization, enculturation and socialization), and function. The results showed the following matters. First, the art of wood reliefs had a shape that varied in accordance with the creativity of artisans and aesthetic value. Second, art wooden relief had the function to fulfill the people basic needs as a daily economic, a social function, and as cultural function. Third, the art wood relief was used as the structure of inheritance through the family and informal education (Jepara studio Carver).