cover
Contact Name
Putra Afriadi
Contact Email
putraafriadi12@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
hartono_sukorejo@yahoo.co.id
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Catharsis
ISSN : 25024531     EISSN : 25024531     DOI : -
Catharsis: Journal of Arts Education provides an international forum for research in the field of the art and creative education. It is the primary source for the dissemination of independently refereed articles about the visual arts, performances (music, dance, drama/theater/play), creative process, crafts, design, and art history, in all aspects, phases and types of education contexts and learning situations (formal and informal).
Arjuna Subject : -
Articles 506 Documents
RAGAM HIAS PADA INTERIOR ARSITEKTUR MASJID ASTANA SULTAN HADLIRIN MANTINGAN, KECAMATAN TAHUNAN KABUPATEN JEPARA -, Gunawan
Catharsis Vol 4 No 1 (2015)
Publisher : Catharsis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masjid Mantingan memiliki keunikan-keunikan ragam hias pada interior arsitektural, yang jarang ditemui di masjid-masjid lain di Indonesia. Atas dasar hal tersebut, maka permasalahan penelitian ini : (1) Bagaimana rancangan ruang  Masjid Mantingan?; (2) Apa saja dan bagaimana ragam hias dinding yang ada dalam desain interior ruang Masjid Mantingan, Jepara?; dan (3) Bagaimana estetika dan makna ragam hias pada ruang Masjid Mantingan, Jepara? Dalam penelitian ini data primernya adalah Arsitek Masjid Mantingan, sedangan data sekundernya adalah berbagai kepustakaan, berupa buku, jurnal, koran, dan majalah. Pengumpulan data dilakukan dengan : obsevasi / pengamatan; wawancara; studi dokumen. Metode Pemeriksaan Keabsahan Data:Trianggulasi sumber; dan Triangulasi metode. Teknik Analisis Data:Reduksi data. Penyajian data. Menarik kesimpulan/verifikasi. Ukiran pada dinding Masjid yang terbuat dari batu padas kuning bermotif Cina, banyak terdapat ukir-ukiran dan rumah-rumahan yang bercorak Cina. Mantingan Mosque extravagance decoration on the interior architecture, which is rarely found in other mosques in Indonesia. The uniqueness of the decoration on the interior architecture Mantingan mosque is also not out of the histori city of the surrounding conditions. With a variety of uniqueness and historical values that surrounded it. On the basis of this, there search is taking the problem: (1) How does the structure of mosque architecture Mantingan?; (2) How does a decorative wall in the form of interior design form Mantingan Mosque, Jepara? ; and (3) How decorative and architectural significance Mantingan Mosque reflect acculturation? In this study the data were Architect Mantingan Mosque primary, while secondary data is a wide range of literature, such as : books, journals, newspapers, and magazines. Data Collection: kinds of observations/Observations; interview; Study Document. Examination Methods Data Validity : Triangulation source; dan Triangulasi methods. Data Analysis Techniques: Data reduction. Presentation of data. Draw conclusions/verification. The carvings on the walls of the mosque were made of rocks yellow patterned China, there are many carvings and as well as the houses are patterned China.
NILAI-NILAI YANG TERTANAM PADA MASYARAKAT DALAM KEGIATAN MASAMPER DI DESA LAONGGO Maragani, Meyltsan Herbert; Wadiyo, Wadiyo
Catharsis Vol 5 No 1 (2016)
Publisher : Catharsis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fenomena berkesenian masyarakat etnis Sangihe di desa Laonggo menjadi hal yang unik dan menarik. Dalam hal ini, Masamper diyakini tidak hanya sebagai sarana hiburan masyarakat  tetapi  juga  sebagai  sarana  untuk  berinteraksi.    Masalah  yang  dikemukakan dalam penelitian ini adalah nilai-nilai apa yang tertanam pada masyarakat dalam aktivitas interaksi yang terjadi dalam Masamper. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan  desain  penelitian  studi  kasus.  Teknik  pengumpulan  data  meliputi  observasi,wawancara  dan  studi  dokumen.  Hasil  penelitian  menunjukan  bahwa  nilai-nilai  yang tertanam pada masyarakat dalam kegiatan Masamper, terbentuk melalui proses interaksi yang terjadi pada saat kegiatan Masamper berlangsung. Interaksi dalam kegiatan Masamper merupakan interaksi simbolis yang ditandai dengan adanya tindakan yang didasarkan atas makna. Nilai-nilai yang tertanam pada masyarakat meliputi nilai religius, kerjasama, etika, kerukunan, cinta budaya, kedisiplinan, tenggang rasa, dan keindahan. Nilai-nilai tersebut tertanam  pada  masyarakat tidak hanya  melalui  lagu-lagu  yang  dinyanyikan,  tetapi  juga melalui aktivitas-aktivitas atau tindakan-tindakan yang dilakukan masyarakat pada saat berinteraksi dalam kegiatan Masamper.
TINJAUAN SEMIOTIKA KONG CO PADA KELENTENG GIE YONG BIO LASEM Pitaya, Mohamad Amin
Catharsis Vol 3 No 2 (2014)
Publisher : Catharsis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keberadaan masyarakat Cina di Lasem dapat dikenali dari peninggalan seni bangun berupa kelenteng dan perkampungan Cina. Masyarakat Cina meyakini kelenteng sebagai tempat suci bersemayamnya para leluhur yang divisualkan dalam bentuk Kong Co. Oleh karena itu kelenteng merupakan sarana ibadah untuk pemujaan terhadap nenek moyang, sehingga masyarakat Cina Lasem tetap melakukan sembahyangan di kelenteng meskipun telah memiliki keyakinan tertentu. Penelitian ini mengungkap (1) ide dasar penciptaan Kong Co; (2) bentuk dan makna Kong Co pada kelenteng Gie Yong Bio Lasem; (3) perbedaan Kong Co Gie Yong Bio dengan kelenteng Lasem lainnya. Pendekatan kualitatif dengan penelitian melalui observasi, wawancara dan studi dokumen dengan menggunakan perspektif semiotika.. Hasil yang diperoleh yaitu pertama, ide dasar penciptaan Kong Co adalah kosmologi dalam budaya Cina, juga sebagai sosok pemujaan, kedua bentuk Kong Co berupa sosok patung manusia yang “disucikan”, ditempatkan pada altar sebagai sebagai dewa, nabi, leluhur Cina atau tokoh yang diyakini sebagai penolong, pemberi keselamatan dan kedamaian sehingga keberadaannya selalu dipuja.The existence of the Chinese community in Lasem recognizable wake of heritage art form of Chinese temples and villages . Chinese Society believes the temple as a place of abode of the holy ancestors visualized in the form of Kong Co. . Therefore, the temple is a means of worship for the cult of the ancestors , so that the Chinese people remain Lasem their prayer in the temple despite having certain beliefs . The research reveals ( 1 ) the basic idea of creation Kong Co. , (2 ) the form and meaning of the temple Kong Co. Bio Lasem Yong Gie, (3 ) the difference Gie Yong Bio Kong Co. with other Lasem temple . Qualitative approach to research through observation , interviews and document research using semiotic perspective .. The results obtained are the first , the basic idea is the creation of Kong Co. cosmology in Chinese culture , as well as a cult figure , both forms Kong Co. in the form of a human figure sculptures are " purified " , placed on the altar as a deity , a prophet , or a Chinese ancestor figures are believed to be as a helper , giver of salvation and peace so that its existence has always adored.
PEMBELAJARAN SENI TARI: AKTIF, INOVATIF DAN KREATIF Nurseto, Gandes; Lestari, Wahyu; Hartono, Hartono
Catharsis Vol 4 No 2 (2015)
Publisher : Catharsis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan seni tari perlu diberikan pada Sekolah Dasar karena keunikan, kebermaknaan terletak pada pemberian pengalaman estetik dalam bentuk berapresiasi dan menggunakan model pembelajaran yang PAIKEM Pembelajaran, Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenagkan dalam proses pembelajaran didalam kelas dari Standar Kompetensi dan Komptensi Dasar mengapresiasi karya seni tari tunggal nusantara yang bertujuan untuk mengenalkan karya seni tari daerah lain. Masalah dalam penelitian ini bagaimana proses pembelajaran seni tari dan bagaimana apresiasi dalam pembelajaran seni tari. Tujuan penelitian ini mendeskripsikan dan menganalisis proses pembelajaran seni tari dan mendeskripsikan serta menganalisis aspek apresiasi dalam pembalajaran seni tari. Metode penelitian dilakukan secara kualitatif. Teknik pengumpulan data observasi, wawancara dan studi dokumen. Analisis data yang digunakan ferivikasi data, reduksi data dan penyajian data. Hasil penelitian dari rumusan masalah pertama proses pembelajaran seni tari materi tari Gambiranom guru kurang dapat memaksimal proses pembelajaran yang PAIKEM dikarenakan dalam tahapan pembelajaran pertemuan I dan pertemuan 2 kegiatan aktif, inovatif, kreatif, efisien dan menyenangkan tidak selalu muncul sehingga kegiatan. Hasil penelitian menunjukkan pembelajaran seni tari di SD menggunakan 4 aspek apresiasi aktif dan apresiasi pasif yaitu: (1) tahap deksripsi, (2) tahap pemahaman/ analisis, (3) tahap intrepretasi/ penghayatan, (4) tahap penilaian/ evaluasi.Education dance needs to be given to the elementary school because of the uniqueness, the significance lies in the provision of aesthetic experience in the form appreciate and use the learning model that PAIKEM in the learning process appreciating single dance archipelago which aims to introduce the artwork of other local dance. Problems in this study how the process of learning how to dance and appreciation in learning the dance. The research objective is to describe and analyze the process of learning the art of dance and describe and analyze aspects appreciation of the dance. Data collection techniques of observation, interviews and document study. Analysis of the data used ferivikasi of data, data reduction and data presentation. The results of the first problem formulation process of learning the art of dance dance material Gambiranom less teacher can maximize learning process PAIKEM because in the learning stages of the first meeting and the second meeting. The results showed learning the art of dance in SD using the four aspects of the appreciation of the active and passive appreciation, namely: 1 phase descriptions, 2 the stage of understanding/ analysis, 3 the stage of interpretation/ appreciation, 4 the stage of assessment/ evaluation.
PENGEMBANGAN SISTEM SCALE CHORD DALAM PEMBELAJARAN HARMONI MANUAL PADA PROGRAM STUDI MUSIK GEREJA SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN PROTESTAN NEGERI SENTANI JAYAPURA Kilay, Yakobus
Catharsis Vol 1 No 2 (2012)
Publisher : Catharsis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

MANAJEMEN PRODUKSI PERTUNJUKAN SURABAYA SYMPHONI ORCHESTRA DI SURABAYA SEBAGAI SARANA PENDIDIKAN APRESIASI MUSIK Murbiyantoro, Heri
Catharsis Vol 1 No 1 (2012)
Publisher : Catharsis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

MONDAY BLUES DI CAFE RUANG PUTIH BANDUNG (KAJIAN BENTUK PENYAJIAN DAN INTERAKSI SOSIAL) Martadi Kurniawan, Rizki
Catharsis Vol 4 No 1 (2015)
Publisher : Catharsis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Monday Blues adalah acara rutin yang diselenggarakan oleh  Cafe Ruang Putih Bandung yang melibatkan Komunitas Blues Ruang Putih dan Bandung Blues Society. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data mengenai (1) Bagaimanakah bentuk penyajian musik di cafe Ruang Putih Bandung? (2) Bagaimana interaksi sosial dalam event Monday Blues di cafe Ruang Putih bandung. Penelitian ini bersifat kualitatif. Objek penelitian ini adalah Cafe Ruang Putih di Bandung. Sumber data berasal dari hasil obsevasi, wawancara dan dokumentasi. Analisapenelitian  melalui langkah-langkah: (1) reduksi data, (2) penyajian data, (3) verifikasi atau kesimpulan. Studi pustaka diambil dari beberapa hasil penelitian mengenai musik Blues dan interaksi Sosial serta buku-buku yang ada kaitannya dengan judul Tesis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk penyajian musikdi Cafe Ruang Putih adalah musik elektrik. Selama event berlangsung terdapat interaksi antara penyaji dan penonton dengan musik Blues sebagai medianya Monday Blues is a regular event organized by Ruang Putih Café Bandung in volving community and Ruang Putih Blues Comunitty and Bandung Blues Society. The aim of this study was to obtain data on(1) What kind of presentation of music in café White Space Bandung? (2) How does the social interaction in the event Monday Blues at White Room cafeduo. This researc his qualitative. The object of this study is Ruang Putih café in Bandung. Source of data derived from the results of observation, interviews and documentation. Analysis of the research through the steps of: (1) data reduction, (2) the presentation of the data, (3) verification or conclusion. Literature studies drawn from several research about Blues music and social interaction as well as books that have any thing to dowith the title of the Thesis. The results showed that the form of presentation of music in Ruang Putih café is electric music. During the event took place there was an interaction between the audience with the presenter andBlues music as a medium.
Kesenian Rampak Kenthong sebagai Media Ekspresi Estetik Masyarakat Desa Kalirejo Kabupaten Pekalongan Perdana, Firdaus; Sunarto, Sunarto; Utomo, Udi
Catharsis Vol 6 No 1 (2017)
Publisher : Catharsis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/catharsis.v6i1.17019

Abstract

Kesenian Rampak kenthong adalah alat musik yang terbuat dari bambu, dalam bahasa Banyumas lazim disebut thek-thekan. Disebut thek-thekan karena sesuai dengan bunyi yang dihasilkan pada saat dipukul. Kesenian Rampak Kenthong di Kecamatan Talun memiliki keistimewaan yang ditunjukkan melalui syair lagu yang bernuansa religi dan tradisi, selain pertunjukan tari dan silat. Alat musik yang digunakan dalam kesenian Rampak Kenthong meliputi angklung, calung, bedhug, tam-tam dan kenthongan. Tujuan penelitian ini adalah (1) Untuk mengetahui dan mendeskripsikan bentuk lagu dalam penampilan grup Rampak Kenthong di Desa Kalirejo Kabupaten Pekalongan.,(2) Untuk mengetahui dan mendeskripsikan alasan kesenian Rampak Kenthong digunakan sebagai media ekspresi estetis masyarakat Desa Kalirejo Kabupaten Pekalongan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah metode observasi, wawancara, serta metode dokumen, sedangkan teknik analisis terdiri dari tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan yaitu reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan/verifikasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) bentuk lagu dalam penampilan grup Rampak Kenthong meliputi diatonis minor, melangkah, A-B-C, baku, merah diatonis mayor, berurutan, irama semangat, pentatonis selendro, berurutan, syair bahasa arab, 2 pola bentuk lagu, 3 pola irama, gerak melangkah, pentatonis selendro, pentatonis pelog patet lima, gerak melodi melangkah. (2)  Setiap lagu dalam pertunjukan Rampak Kenthong memilki makna dan ekspresi tersendiri. Hal itu ditentukan dari bentuk musik dan syair lagu tersebut. Rampak Kenthong art is a musical instrument made of bamboo, in language banyumas commonly called thek-thekan.Called thek-thekan because in line with of sounds produced at struck. Rampak kenthong art in Pekalongan regency different than other regions, things that are different from other regions located at then the words religious nuances and traditions. In a art rampak kenthong also served dance and performing arts. An instrument used in the arts of Rampak Kenthong covering angklung, calung, bedhug, tam-tam and kenthongan. The purpose of this research are (1) to know and described the form of song in appearance group rampak kenthong in the Kalirejo village, Pekalongan regency., (2) to know and described reason art Rampak Kenthongused as a medium of expression aesthetically the village community kalirejo pekalongan regency. This research uses the method-qualitative study.Technique data collection used is the method observation, interview, and a method of documents, while technique analysis consisting of three grooves activities that happen simultaneously namely reduction data, presentation of data, withdrawal conclusion / verification. This research result indicates that (1) the song in appearance group includes diatonic rampak kenthong minor, stepped, a-b-c, raw, major red diatonic, successive, rhythm spirit, pentatonis selendro, successive, lyrical arabic, 2 pattern the song, 3 the rhythm, motion step, pentatonis selendro, pentatonis pelog patet five, motion melody step. (2) Any song in a Rampak Kenthong have meaning and expression of its own .It determined from musical form the and then the words. Based on the results of research , researchers suggested that coaching held business through training organization arts society-based by the district government pekalongan , revamping the presence of businesses and guidance in the fields of music by the village government Talun.
Makna Simbolis dan Fungsi Tenun Songket Bermotif Naga pada Masyarakat Melayu di Palembang Sumatera Selatan Tahrir, Romas; Rohidi, Tjetjep Rohendi; Iswidayati, Sri
Catharsis Vol 6 No 1 (2017)
Publisher : Catharsis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/catharsis.v6i1.17020

Abstract

Tenun Songket Palembang Sumatera Selatan merupakan salah satu songket terbaik di Indonesia. Motif naga divisualkan kedalam tenun songket karena diyakini memiliki makna simbolis. Tujuan penelitian ini adalah (1) ingin mengetahui motif naga dijadikan unsur utama dalam kerajinan tenun songket (2) ingin menganalisis visualisasi naga dalam tenun songket, (3) ingin memahami makna simbolis dan fungsi tenun songket bermotif naga pada masyarakat Melayu di Palembang Sumatera Selatan. Metode penelitian yang digunakan metode kualitatif. Data penelitian diperoleh melalui, observasi, wawancara, dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukan bahwa: Pertama, Tenun songket bermotif naga dijadikan sebagai motif utama karena motif tersebut yang pertama dibuat oleh Gede Munyang masa dulu (nenek moyang) sebelum adanya motif-motif tiga negeri dan kenanga dimakan ulat; Kedua, bentuk visual naga yang ada pada tenun songket merupakan visualisasi pengaruh naga Cina; Ketiga, makna simbolis tenun songket bermotif naga merupakan unsur kepercayaan masyarakat Sumatera Selatan yang terkandung pemahaman kehidupan dilihat dari makna unsur satu kesatuan dan merujuk pada tatanan dalam berkehidupan yang berisi pemahaman terhadap konsep pengharapan, kesucian, perlindungan, kemakmuran, jati diri, dan ajaran dalam ruang lingkup kehidupan sosial. Berkaitan dengan fungsinya, masyarakat Palembang menggunakan tenun songket bermotif naga dalam tradisi pernikahan. Weaving Songket Palembang South Sumatra is one of the best songket in Indonesia. Visualize them into a dragon motif on songket as it is believed to have symbolic significance. Problems examined in this study are: (1) want to know the dragon motif used as a key element in the craft of weaving songket (2) wants to analyze the visualization of a dragon in songket, (3) to understand the symbolic meaning and function of songket weaving patterned dragon on the Malay community in Palembang in South Sumatra. The method used qualitative methods. The data source is the people of Palembang in South Sumatra and patterned songket weaving dragon. Analysis technique used is data collection, data reduction, data presentation and conclusion. The research shows. First, patterned songket weaving dragon serve as the main motive for the first motif created by Gede Munyang first period (ancestor) before any other motives. Second, the visual form of the dragon that is in the weaving songket is a visualization of the influence of the Chinese dragon. Third, the symbolic meaning of the dragon patterned songket is an element of public confidence in South Sumatra. Contained in the understanding of the meaning of the elements of life seen a whole and refers to the order in life which provides an understanding of the concept of hope, purity, protection, prosperity, identity, and the teachings within the scope of social life. In connection with the public function Palembang songket weaving patterned using dragon in their marriage tradition.
Simbol Gendhèng Wayangan pada Atap Rumah Tradisional Kudus dalam Perspektif Kosmologi Jawa-Kudus Pratiwinindya, Ratih Ayu; Iswidayati, Sri; Triyanto, Triyanto
Catharsis Vol 6 No 1 (2017)
Publisher : Catharsis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/catharsis.v6i1.17028

Abstract

Masyarakat Kudus Kulon menyadari bahwa setiap gerak geriknya selalu berada dalam kuasa Allah SWT pandangan tersebut tervisualisasi dalam setiap bagian rumah tempat tinggalnya. Masalah dalam penelitian ini:(1)Bagaimana perwujudan bentuk dan fungsi hiasan gendhèng wayangan pada atap rumah tradisional Kudus; (2)Sebagai simbol, hiasan gendhèng wayangan rumah tradisional Kudus terkandung makna apa dalam perspektif kosmologi Jawa-Kudus. Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan interdisiplin. Data penelitian dikumpulkan dengan teknik observasi, wawancara, dan studi dokumen. Pemeriksaan keabsahan data menggunakan triangulasi sumber, kemudian dianalisis mengggunakan alur reduksi, penyajian, dan verifikasi data. Hiasan gendhèng wayangan terbuat dari bahan tanah liat yang dibakar, ditempeli beling (pecahan kecil keramik porselen) putih. Gendhèng wayangan menggunakan pola hias motif flora, terdiri dari gendhèng lanangan di tengah, gendhèng pengapit di kanan dan kiri, gendhèng bulusan pada bagian ujung sebagai penutup. Gendhèng wayangan memiliki fungsi individu, fungsi sosial, dan fungsi praktis. Makna simbolis dari hiasan gendhèng wayangan adalah mengenai keyakinan dalam hal penghambaan dan kecintaan manusia terhadap Allah. Hiasan gendhèng wayangan tersirat simbol tentang manunggaling kawula Gusti serta falsafah dalam kosmologi Jawa mengenai harmonisasi empat anasir dalam kehidupan manusia bertujuan untuk menjaga keselarasan antara mikrokosmos dan makrokosmos di alam semesta. Kudus Kulon society awared that every movement in their life always be in Gods power and everything in their life is always aligned with the will of God and the universe that surrounded them. That cosmological outlook is visualized in every part of their house where they lived, one of their part is gendhèng wayangan which is located at the peak of the rooftop. Problems studied in this study: (1) How is the structure and function of gendhèng wayangan on the rooftop of a Kudus’s traditional house; (2) As a symbol, what kind of symbol that contained in the traditional decoration gendhèng wayangan in the Javanese-Kudus’s cosmology perspective. Methodologically, this study is qualitative research, and used an interdisipline approach. Data collected by observation, interview and document study. Examination of the data’s validity using sources triangulation, then analyzed using reduction, presentation, and verification of data. The results showed that, (1) Gendhèng wayangan made by clay ground and decorated with beling to bold the line of ornamental flora’s motifs, gendhèng wayangan consisting of gendhèng lanangan in the middle, gendhèng pengapit is in the right and left side, gendhèng bulusan at the end as a cover. Gendhèng wayangan has a function has a practical function, social function, and individual functions. (2) In general, the meaning of symbol gendhèng wayangan is about belief in human servitude to God. While specifically, the implicit concept of gendhèng wayangan is about manunggaling kawula Gusti and harmonization between four elements in the universe to create the harmony between microcosm and macrocosm that is the philosophy adopted in Javanese cosmology and Islam.

Page 7 of 51 | Total Record : 506