cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
AKULTURASI (JURNAL ILMIAH AGROBISNIS PERIKANAN)
ISSN : 23374195     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 17 Documents
Search results for , issue "Vol 9, No 1 (2021): April 2021" : 17 Documents clear
KEADAAN SOSIAL EKONOMI NELAYAN PANCING LAYANG-LAYANG DI DESA TALAWAAN BAJO KECAMATAN WORI KABUPATEN MINAHASA UTARA PROVINSI SULAWESI UTARA Ridwan, Adriansyah; Tambani, Grace O.; Dien, Christian R.; Manoppo, Victoria E.N.; Bataragoa, Nego Elvis
AKULTURASI: Jurnal Ilmiah Agrobisnis Perikanan Vol 9, No 1 (2021): April 2021
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/akulturasi.9.1.2021.34062

Abstract

AbstractThe research objectives, namely 1) describe the fishing gear for kites, and 2) to determine the socioeconomic conditions of kite fishing rods in Talawaan Bajo Village. The research method is a census where all respondents have the same opportunity to collect primary data. Sources of data are primary data and secondary data. This data source will be discussed based on quantitative descriptive analysis and qualitative descriptive analysis. The results of the research, fishing gear consisted of; kites, kite ropes, fishing lines, fishing rods, artificial bait, reels, boats and engines. The age of fishermen ranges from 30-65 years. Primary school (SD) fishermen education is 65% and the rest cannot complete elementary school. Home ownership, already owns 100% of your own house. Family dependents range 1 - 3 people. The experience of being a fisherman is around 10-30 years as much as 90%, and the remaining 10% has been more than 30 years. The catch is differentiated from that in Manado waters in April - May, while in Morotai waters from June - August. The average catch in Manado waters is 60 kg of fish. The number of fishing trips in Manado waters in 2 (two) months, namely 32 trips. Sales Price of Rp. 55,000 / kg. Whereas in Morotai, the catch is 120 kg / trip in 81 trips for 3 (three) months, with a selling price of IDR 22,000 / kg. So the income of the kite fishing rod is Rp. 94,420,000, - / year. AbstrakTujuan penelitian, yaitu 1) mendeskripsikan alat tangkap pancing layang-layang, dan 2) mengetahui keadaan sosial ekonomi nelayan pancing layang-layang di Desa Talawaan Bajo. Metode penelitian adalah Sensus dimana semua responden mendapat kesempatan yang sama dalam penganmbilan data primer. Sumber data yaitu berasal dari data primer dan data sekunder. Sumber data ini akan dibahas berdasarkan analisis deskriptif kuantitatif dan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian, alat tangkap terdiri dari; layang-layang, tali layang-layang, tali pancing, mata pancing, umpan tiruan, gulungan tali, perahu dan mesin. Umur nelayan berkisar antara 30 – 65 tahun. Pendidikan nelayan Sekolah Dasar (SD) yakni 65% dan sisanya tidak dapat menyelesaikan SD. Kepemilikan rumah, sudah memiliki rumah sendiri 100%. Tanggungan keluarga berkisar 1 – 3 orang. Pengalaman menjadi nelayan sekitar  10 – 30 tahun sebanyak 90%, dan sisanya 10% sudah lebih dari 30 tahun. Hasil tangkapan dibedakan dari penangkapan di perairan Manado pada April - Mei, sedangkan diperairan Morotai pada Juni - Agustus. Hasil tangkapan rata-rata di perairan Manado 60 kg ikan. Jumlah trip pengkapan di perairan Manado dalam 2 (dua) bulan yakni 32 trip. Harga Penjualan Rp. 55.000 /kg. Sedangkan di perarian Morotai, hasil tangkapan 120 kg/trip dalam 81 trip selama 3 (tiga) bulan, dengan harga jual Rp 22.000/kg. Jadi hasil pendapatan pancing layang-layang adalah Rp. 94.420.000,-/tahun.
KAJIAN NILAI TUKAR PEMBUDIDAYA USAHA BUDIDAYA RUMPUT LAUT MENGHADAPI ERA NEW NORMAL DI DESA PELING SEASA KECAMATAN BULAGI KABUPATEN BANGGAI KEPULAUAN PROVINSI SULAWESI TENGAH Dawaso, Agri; Jusuf, Nurdin; Manoppo, Victoria E.N; Sondakh, Srie J.; Tambani, Grace O.; Ngangi, Edwin L.A.
AKULTURASI: Jurnal Ilmiah Agrobisnis Perikanan Vol 9, No 1 (2021): April 2021
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/akulturasi.9.1.2021.34059

Abstract

AbstractBased on the results and discussion of this research, it can be concluded: (a) The exchange rate of seaweed farming income is calculated based on the ratio between the total income and the total expenditure of the business. Based on the results of the NTP calculation for the seaweed cultivation business, the seaweed cultivation income is 438,881. The result of this NTP value is greater than 100, where the seaweed cultivator business can cover the costs incurred from the business; (b) The exchange rate of seaweed cultivators to total income can be calculated based on the ratio between the total income of seaweed cultivators, both from fishery and non-fishery businesses, and expenditures for seaweed cultivators from both cultivation and family consumption. Based on the results of the NTP calculation for the seaweed cultivator business, the total income was 147.41. This NTP value is greater than 100, which indicates that the income from the seaweed cultivator business can cover the subsistence needs (basic needs) of the seaweed cultivator family.     AbstrakBerdasarkan hasil dan pembahasan penelitian ini, dapat disimpulkan: (a) Nilai tukar pendapatan usaha budidaya rumput laut dihitung berdasarkan perbandingan antara jumlah pendapatan dan jumlah pengeluaran dari usaha tersebut. Berdasarkan hasil perhitungan NTP untuk usaha budidaya rumput laut pada pendapatan budidaya rumput laut sebesar 438,881. Nilai NTP ini hasilnya lebih besar dari 100, dimana usaha pembudidaya rumput laut dapat menutupi biaya yang ditimbulkan dari usaha tersebut; (b) Nilai tukar pembudidaya rumput laut pada total pendapatan dapat dihitung berdasarkan perbandingan antara jumlah total pendapatan pembudidaya usaha rumput rumput laut, baik dari usaha perikanan dan non perikanan berbanding dengan pengeluaran usaha pembudidaya rumput laut baik dari usaha budidaya dan konsumsi keluarga. Berdasarkan hasil perhitungan NTP untuk usaha pembudidaya rumput laut pada total pendapatan sebesar 147,41. Nilai NTP ini hasilnya lebih besar dari 100, hal mana mengindikasikan bahwa pendapatan dari usaha pembudidaya rumput laut dapat menutupi kebutuhan subsisten (kebutuhan dasar) keluarga pembudidaya rumput laut.
DAMPAK COVID-19 TERHADAP USAHA SOMA PAJEKO DI DESA DALUM KECAMATAN SALIBABU KABUPATEN KEPULAUAN TALAUD PROVINSI SULAWESI UTARA Mamentiwalo, Marlen Vita; Rantung, Steelma V.; Wasak, Martha P.; Longdong, Florence V.; Kotambunan, Olvie V.; Tombokan, John L.
AKULTURASI: Jurnal Ilmiah Agrobisnis Perikanan Vol 9, No 1 (2021): April 2021
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/akulturasi.9.1.2021.34617

Abstract

AbstractThe purpose of this study was to determine how the impact of Covid-19 on labor, marketing and income in the Malalugis soma pajeko business in Dalum Village, Salibabu District, Talaud Islands Regency, North Sulawesi Province.The method in this study was a census on 2 Soma Pajeko business owners and 8 crew members (Ship's crew) using structured questions in the form of a questionnaire, while the data collected were primary data and secondary data. The analysis in this research is quantitative and qualitative analysis.The results of research and discussion of Covid-19 affect the soma pajeko business in Dalum Village, there are workers who have to find side jobs to increase family income. Fish on the market decreased, which is usually 6000-7000 per kg, but due to Covid-19 the price of fish became 5000 per kg as a result, the income in the Soma Pajeko business decreased.Income at the Soma Pajeko business 1. Thanks to the business, which usually net income per trip is Rp. 16,200,000 because the selling price of fish in the market decreases, the income also decreases to Rp. 13,500,000. While in the Soma Pajeko 2. Malalugis business, which usually net income is Rp. 54,000,000 per trip. Due to the covid-19, income has decreased to Rp. 45,000,000 per trip. Covid-19 has no effect on the number of catches but on the marketing of the catch.Keywords: Covid-19, Soma Pajeko, Dalum Village AbstrakTujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana dampak Covid- 19 terhadap tenaga kerja, pemasaran dan pendapatan pada usaha soma pajeko Malalugis di Desa Dalum Kecamatan Salibabu Kabupaten Kepulauan Talaud Provinsi Sulawesi Utara.Metode dalam penelitian ini adalah sensus pada 2 pemilik usaha soma pajeko dan 8 ABK (Anak Buah Kapal) dengan menggunakan pertanyaan terstruktur yaitu berupa kuisioner, sedangkan data yang dikumpulkan yaitu data primer dan data sekunder. Analisis dalam penelitian ini yaitu analisis kuantitatif dan kualitatif.Hasil penelitian dan pembahasan Covid-19 mempengaruhi usaha soma pajeko yang ada di Desa Dalum ada tenaga yang harus mencari pekerjan sampingan untuk menambah pendapatan keluarga.Pemasaran ikan harus terhambat akibat adanya Pembatasan Sosial Berkala Besar (PSBB) akibatnya ada ikan yang mengalami kemunduran mutu, harga ikan di pasaran menurun yang biasa 6000-7000 per kg tapi karena ada covid-19 harga ikan menjadi 5000 per kg akibatnya pendapatan pada usaha soma pajeko mengalami penurunan.Pendapatan pada usaha soma Pajeko 1.Berkat Usaha yang biasanya hasil bersih per trip adalah Rp.16.200.000 dikarenakan harga jual ikan dipasaran menurun pendapatan juga menurun menjadi Rp.13.500.000. sedangkan pada usaha soma pajeko 2. Malalugis yang biasanya hasil bersih Rp.54.000.000 per trip Karena adanya covid-19 pendapatan menurun menjadi Rp.45.000.000 per trip. Covid-19 tidak berpengaruh pada Jumlah tangkapan tapi pada pemasaran hasil tangkapan.Kata Kunci: Covid-19, Soma Pajeko, Desa Dalum
ANALISIS FINANSIAL USAHA BUDIDAYA UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei) PADA ERA NEW NORMAL DI DESA BOYANTONGO KECAMATAN PARIGI SELATAN KABUPATEN PARIGI MOUTONG PROVINSI SULAWESI TENGAH Kariawu, Karina S.F.; Durand, Swenekhe S.; Tambani, Grace O.; Pangemanan, Jeannette F.; Longdong, Florence V.; Kalesaran, Ockstan J.
AKULTURASI: Jurnal Ilmiah Agrobisnis Perikanan Vol 9, No 1 (2021): April 2021
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/akulturasi.9.1.2021.34624

Abstract

AbstractThis study aims to financially analyze shrimp farming in the new normal era in Boyantongo Village is profitable or not. The method used is a case study. Respondents in this study were the owners of the vaname shrimp cultivation business in Boyantongo Village. The data collected consists of primary data and secondary data. Primary data is data obtained directly from sources or not through intermediary media. Primary data collection is done through direct observation and interviews. Secondary data is data obtained indirectly, secondary data is generally in the form of evidence, notes or reports that are related to research. The quantitative descriptive analysis uses financial analysis such as Operating Profit (OP), Net Profit (NP), Profit Rate (PR), Profitability, Benefit Cost Ratio (BCR), Break Even Point (BEP) and Payback Period (PP). The price of vaname shrimp in Boyantongo Village is Rp. 70,000 / Kg with 4 tons of shrimp harvested. The total profit from the vaneme shrimp cultivation in 1 period is Rp. 1,120,000,000. The total cost for 1 period is 518,940,000 and the total profit / Net Profit is 601,060,000. So that the Profit Rate or the level of profit obtained is 115.82% and the Benefit Cost Ratio (BCR) is 2.15 with a payback period of 5 months. Sales BEP shows that the break-even point of vaname shrimp cultivation in Boyantongo Village is Rp. 52,736,842 and the BEP unit obtained is 753.38 kg. Based on the results of financial analysis, it turns out that the vaname shrimp cultivation business in Boyantongo Village is feasible to develop.Keywords: Business Analysis, Vaname Shrimp, Boyantongo AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara finansial usaha budidaya udang di era new normal di Desa Boyantongo itu menguntungkan atau tidak. Metode yang digunakan adalah studi kasus. Responden dalam penelitian ini yaitu pemilik usaha budidaya udang vaname di Desa Boyantongo. Data yang dikumpulkan terdiri atas data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data yang diperoleh langsung dari sumber atau tidak melalui media perantara. Pengumpulan data primer dilakukan melalui observasi langsung dan wawancara. Data sekunder merupakan data yang diperoleh secara tidak langsung, data sekunder umumnya berupa bukti, catatan atau laporan yang ada hubungannya dengan penelitian. Adapun analisis deskriptif kuantitatif menggunakan analisis finansial seperti Operating Profit (OP), Net Profit (NP), Profit Rate (PR), Rentabilitas, Benefit Cost Ratio (BCR), Break Even Point (BEP) dan Payback Period (PP). Harga udang vaname di Desa Boyantongo yaitu Rp. 70.000/Kg dengan hasil udang yang di panen sebanyak 4 ton. Total keuntungan dari usaha budidaya udang vaneme dalam 1 periode sebesar Rp. 1.120.000.000. Total cost selama 1 periode sebesar 518.940.000 dan total keuntungan/Net Profit sebesar 601.060.000 Sehingga Profit Rate atau tingkat keuntungan yang diperoleh sebesar 115,82% dan Benefit Cost Ratio (BCR) adalah 2,15 dengan jangka waktu pengembalian 5 bulan. BEP penjualan menunjukan bahwa titik impas dari usaha budidaya udang vaname di Desa Boyantongo adalah Rp.52.736.842 dan BEP satuan yang didapat yaitu 753,38 kg berdasarkan hasil analisis finansial ternyata usaha budidaya udang vaname di Desa Boyantongo layak untuk dikembangkan.Kata Kunci: Analisis Usaha, Udang Vaname, Boyantongo
KEADAAN USAHA SOMA PAJEKO (SMALL PURSE SEINE) ERA NEW NORMAL DI DESA SALIBABU KECAMATAN SALIBABU KABUPATEN KEPULAUAN TALAUD Tarempas, Meike; Durand, Swenekhe S.; Rantung, Steelma V.; Aling, Djuwita R.R.; Kotambunan, Olvie V.; Manu, Gaspar D.
AKULTURASI: Jurnal Ilmiah Agrobisnis Perikanan Vol 9, No 1 (2021): April 2021
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/akulturasi.9.1.2021.34613

Abstract

AbstractThe purpose of this study was to determine and analyze how the business situation of the new normal era soma pajeko (small purse seine) in Salibabu Village, Salibabu District. When the research started from September 2020 to December 2020. The method in this study was a census using structured questions in the form of a questionnaire, while the data collected was through primary data and secondary data. The analysis in this research is quantitative and qualitative analysis. New Normal conditions are also felt in capture fisheries business activities in North Sulawesi, and this also affects the fisheries business in Salibabu Village, Salibabu District, Talaud Islands Regency. However, due to the pandemic in the New Normal Era, demand from the fisheries sector company Talaud has decreased by 30-40 percent and resulted in frozen warehouses for storage of fishery products to become full. As a result, the company reduces the supply of raw materials. The total cost for the soma pajeko capture fishery business in Salibabu Village, Salibabu District, Talaud Islands Regency is Rp. 259,000,000 with an income of Rp. 780,000,000 and a profit of Rp. 521,000,000 per year.Keywords: Soma Pajeko's business, New Normal situation, Salibabu Village.AbstrakTujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis bagaimana keadaan usaha soma pajeko (small purse seine) era new normal di Desa Salibabu Kecamatan Salibabu. Waktu penelitian dimulai September 2020 sampai Desember 2020. Metode dalam penelitian ini adalah sensus dengan menggunakan pertanyaan terstruktur yaitu berupa kuesioner, sedangkan data yang dikumpulkan yaitu melalui data primer dan data sekunder. Analisis dalam penelitian ini yaitu analisis kuantitatif dan kualitatif. Kondisi New Normal ikut dirasakan pada aktifitas usaha perikanan tangkap di Sulawesi Utara, dan ini juga mempengaruhi usaha perikanan yang ada di Desa Salibabu Kecamatan Salibabu Kabupaten Kepulauan Talaud. Namun akibat pandemi di Era New Normal, permintaan dari perusahaan sektor perikanan Talaud mengalami penurunan hingga 30-40 persen dan mengakibatkan gudang beku untuk penyimpanan produk perikanan menjadi penuh. Dampaknya, perusahaan mengurangi pasokan bahan baku. Total biaya untuk usaha perikanan tangkap soma pajeko di Desa Salibabu Kecamatan Salibabu Kabupaten Kepulauan Talaud sebesar Rp. 259.000.000, dengan pendapatan sebesar Rp.780.000.000, serta keuntungan sebesar Rp.521.000.000. per tahun.Kata kunci: Usaha Soma Pajeko, Era New Normal, Desa Salibabu
PERAN PEREMPUAN PENGOLAH IKAN ASAP DALAM MENUNJANG EKONOMI KELUARGA PADA MASA PANDEMI COVID-19 DI DESA BULAWAN II KECAMATAN KOTABUNAN KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW TIMUR Maradia, Alisya W.; Sondakh, Srie J.; Aling, Djuwita R.R.; Durand, Swenekhe S.; Andaki, Jardie A.; Lantu, Sartje
AKULTURASI: Jurnal Ilmiah Agrobisnis Perikanan Vol 9, No 1 (2021): April 2021
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/akulturasi.9.1.2021.34618

Abstract

AbstractThis study aims to determine the role and condition of smoked fish processing women in supporting the family economy during the Covid-19 pandemic in Bulawan II Village. The method used is the survey method. The survey method is a critical observation and investigation to get a good description of a particular case, by gathering various sources of information. The population in this study were women who processed smoked fish in Bulawan II Village. The data collection used a census. Census was an activity to collect data and information by observing all elements and populations. The data collected consists of primary data and secondary data. Primary data is data obtained directly through interviews guided by filling out questionnaires, some also through intermediary media (via telephone, WA). Secondary data is data obtained indirectly or data obtained through reading materials related to the required data. The results show that in addition to playing a role as a wife or a housewife, a woman in Bulawan II Village also plays a role in supporting the family's economy during the Covid-19 pandemic, by selling processed smoked fish to the market and also to neighboring villages. Most women who process smoked fish are in the productive age range so that they are still active in carrying out income-generating activities and jobs, their education is dominated by junior high school graduates. The role of women who process smoked fish is very supportive of the family economy.Keywords: Covid-19, Role of Women, Family Economy, Bulawan II  AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran dan keadaan usaha perempuan pengolah ikan asap dalam menunjang ekonomi keluarga pada masa pandemi covid-19 di Desa Bulawan II. Metode yang digunakan yaitu metode survei. Metode survei adalah suatu pengamatan dan penyelidikan yang kritis untuk mendapatkan keterangan yang baik terhadap suatu kasus tertentu, dengan mengumpulkan beragam sumber informasi. Populasi dalam penelitian ini yaitu perempuan pengolah ikan asap yang ada Desa Bulawan II, pengambilan data menggunakan cara sensus, Sensus adalah kegiatan mengumpulkan data dan informasi dengan cara mengamati seluruh elemen dan populasi. Data yang dikumpulkan terdiri atas data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data diperoleh secara langsung melalui wawancara (interview) yang di pandu dengan pengisian kuisioner, ada pula melalui media perantara (via telepon,wa). Data sekunder adalah data yang diperoleh secara tidak langsung atau data yang diperoleh melalui bahan bacaan yang berkaitan dengan data yang dibutuhkan. Hasil menunjukan bahwa selain berperan sebagai seorang istri atau ibu rumah tangga perempuan yang ada di Desa Bulawan II juga berperan dalam upaya menunjang ekonomi keluarga dimasa pandemi Covid-19, dengan menjual hasil olahan ikan asap ke pasar dan juga ke desa-desa tetangga. Perempuan pengolah ikan asap paling banyak dalam range umur produktif sehingga masih aktif dalam melakukan kegiatan dan pekerjaan yang menghasilkan pendapatan, pendidikan mereka didominasi oleh tamatan SMP. Peran perempuan pengolah ikan asap sangat mendukung perekonomian keluarga.Kata Kunci: Covid-19, Peran Wanita, Ekonomi Keluarga, Bulawan II
KAJIAN SOSIAL EKONOMI NELAYAN ALAT TANGKAP JUBI PADA ERA NEW NORMAL DI DESA KAHAKITANG KECAMATAN TATOARENG KABUPATEN KEPULAUAN SANGIHE PROVINSI SULAWESI UTARA Jamin, Lasrin; Manoppo, Victoria E.N.; Jusuf, Nurdin; Longdong, Florence V.; Rarung, Lexy K.; Opa, Esry T.
AKULTURASI: Jurnal Ilmiah Agrobisnis Perikanan Vol 9, No 1 (2021): April 2021
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/akulturasi.9.1.2021.34611

Abstract

AbstractThe aim of the study is to analyze the Socio-Economic condition of Jubi Fishermen in Kahakitang Village in the New Normal Era? The research was conducted in Kahakitang Village, Tatoareng District, Sangihe Islands Regency for approximately 5 months, from August-December 2020. The research method used the census method, primary data sources and secondary data; will be discussed and analyzed based on the analysis of quantitative descriptions and qualitative descriptions.The total population of Kahakitang Island is 2,088 people or about 420 families. Most of the people in Kahakitang Village are fishermen using jubi fishing gear. Age shows that fishermen in Kahakitang Village are between 15 - 64 years old. Primary school fisherman education. The state of the house already has its own house with a 100% presentation, because their parents donated it as an inheritance, the number of dependents is 1-3 people with the highest percentage is 60, side jobs with a percentage of 50%, because they want to increase their income when they are not going down to sea., the duration of being fishermen is 5- 10 years as much as 40%, meaning that they have not been fishermen for long.Their income also depends on the frequency of fishing in a month where the more diligent or the more often they go to sea, the more likely they are to get a large catch compared to those who are less frequent. The catch varies, but on average each fishing trip gets 5 kg of fish and suntung. their income as jubi fishermen is only Rp. 1,200,000 in a month can be said to be less than the price of staple goods such as rice, which has risen especially before the holidays. Funds spent on making jubi tools are not large, only around Rp. 30,000, - to Rp. 100,000, -. However, the average fund needed is Rp. 65,000, - for one time. Keywords: Jubi, Kahakitang, Tatoareng AbstrakTujuan Penelitian untuk menganalisis keadaan Sosial Ekonomi Nelayan Jubi di Desa Kahakitang pada Era New Normal? Penelitian dilaksanakan di Desa Kahakitang Kecamatan Tatoareng Kabupaten Kepulauan Sangihe kurang lebih 5 bulan, dari bulan Agustus-Desember 2020. Metode penelitian menggunakan metode sensus, Sumber data primer dan data sekunder; akan dibahas dan dianalisis berdasarkan analisis deskripsi kuantitatif dan deskripsi kualitatif.Jumlah penduduk di Pulau Kahakitang 2.088 jiwa atau sekitar 420 KK . Mata pencaharian masyarakat di desa kahakitang sebagian besar sebagai nelayan yang menggunakan alat tangkap jubi. Umur menunjukan bahwa nelayan di Desa Kahakitang berumur antara 15 – 64 tahun. Pendidikan nelayan Sekolah Dasar. Keadaan rumah sudah memiliki rumah sendiri dengan persentasi 100%, disebabkan karena orang tua mereka menghibah sebagai warisan/peninggalan, jumlah tanggungan sebanyak 1-3 orang dengan persentase terbanyak 60, pekerjaan sampingan dengan persentase 50%, karena mereka ingin menambah penghasil pada saat mereka tidak turun melaut., lamanya menjadi nelayan 5- 10 tahun sebanyak 40%, artinya mereka belum lama menjadi nelayan.Pendapatan mereka tergantung juga pada frekuensi melaut dalam sebulan dimana makin rajin atau makin sering mereka melaut maka kemungkinan bisa untuk mendapat hasil tangkapan yang banyak dibandingkan dengan yang frekuensi melaut kurang. Hasil tangkapan bervariasi , namun rata-rata setiap melaut mendapat 5 kg ikan maupun suntung. penghasilan mereka sebagai nelayan jubi hanya Rp. 1.200.000 dalam sebulan bisa dikatakan kurang dibandingkan dengan harga bahan pokok seperti beras yang menaik apalagi sudah menjelang hari raya. Pengeluaran dana untuk pembuatan alat jubi tidak besar jumlahnya, hanya berkisar antara Rp. 30.000,- sampai Rp. 100.000,-. Namun rata-rata dana yang dibutuhkan Rp.. 65.000,- sekali pembuatan.Kata Kunci: Jubi, Kahakitang, Tatoareng
PROFIL PEDAGANG IKAN SEGAR DI PASAR PINASUNGKULAN KELURAHAN KAROMBASAN UTARA KECAMATAN WANEA KOTA MANADO Wakerkwa, Tion; Manoppo, Victoria E.N.; Durand, Swenekhe S.; Sondakh, Srie J.; Aling, Djuwita R.R.; Sinjal, Chatrine A.
AKULTURASI: Jurnal Ilmiah Agrobisnis Perikanan Vol 9, No 1 (2021): April 2021
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/akulturasi.9.1.2021.34641

Abstract

AbstractThis study aims to analyze the profile of fresh fish traders in the Pinasungkulan market, North Karombasan Village, Wanea District, Manado City. The method used is a survey method. The population in this study is fresh fish traders. The data consists of primary data and secondary data. Primary data is done through observation, interviews guided by questionnaires, while secondary data is obtained indirectly, namely in the form of evidence, historical records or reports that have been compiled in the library. The analysis used in this research is descriptive quantitative analysis and descriptive qualitative.The age of the respondent is at the age of less than 65 years, which is in the productive age. The age of the traders who are still of productive age so that they can survive selling even though they are rarely buyers or when the number of buyers increases. Fresh fish traders have junior high school education (50%), high school (30%), and bachelor degree (10%) and do not go to school (10%). Number of family members 1-3 people and there are more than 3 family members.The income of fresh fish traders varies, namely Rp. 250,000 per day (30%), and Rp. 500,000 per day (50%), and greater than Rp. 500,000 (20%). Expenditures in the form of transportation expenses of Rp. 10,000 per day and do not spend money on transportation because it is walking from home to the market location. Fresh fish traders who sell for more than 10 years are the largest number. Initial business capital to sell their own capital or joint venture with family members. Places of sale, as much as 80% are self-owned and as much as 20% are only rented.Keywords: Socio-Economic Studies, Fresh Fish, Pinasungkulan Market  AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis profil pedagang ikan segar di pasar Pinasungkulan Kelurahan Karombasan Utara Kecamatan Wanea Kota Manado. Metode yang digunakan adalah metode survey. Populasi pada penelitian ini ialah pedagang ikan segar. Data terdiri atas data primer dan data sekunder. Data primer dilakukan melalui observasi, wawancara yang dipandu dengan kuesioner, sedangkan data sekunder diperoleh secara tidak langsung, yaitu berupa bukti, catatan atau laporan historis yang telah tersusun di perpustakan. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kuantitatif dan deskriptif kualitatif.Umur responden berada pada usia lebih kurang dari 65 tahun yaitu berada pada produktif. Umur para pedagang yang masih usia produktif sehingga mereka bisa bertahan berjualan walaupun jarang pembeli ataupun pada saat jumlah pembeli meningkat. Pedagang ikan segar memiliki pendidikan SMP (50%), SMA (30%), Sarjana (10%) dan tidak bersekolah (10%). Jumlah Anggota keluarga 1 – 3 orang dan ada yang lebih dari 3 anggota keluarga.Pendapatan pedagang ikan segar bervariasi, yaitu Rp. 250.000 per hari (30%), dan Rp. 500.000 per hari (50%), dan lebih besar dari Rp. 500.000 (20%). Pengeluaran berupa pengeluaran transportasi sebesar Rp. 10.000 per hari dan tidak mengeluarkan uang transportsi karena berjalan kaki dari rumah ke lokasi pasar. Para pedagang ikan segar yang berjualan lebih dari 10 tahun merupakan jumlah terbesar. Modal awal usaha untuk berjualan modal sendiri ataupun patungan bersama anggota keluarga. Tempat jualan, sebanyak 80% adalah milik sendiri dan sebanyak 20% hanya sewa.Kata Kunci: Kajian Sosial Ekonomi, Ikan Segar, Pasar Pinasungkulan 
UPAYA MENINGKATKAN EKONOMI KELUARGA NELAYAN TRADISIONAL PANCING ULUR SAAT NORMAL BARU DI DESA BULAWAN INDUK KECAMATAN KOTABUNAN KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW TIMUR PROVINSI SULAWESI UTARA Rumampuk, Irine; Sondakh, Srie J.; Kotambunan, Olvie V.; Suhaeni, Siti; Wasak, Martha P.; Tilaar, Sandra O.
AKULTURASI: Jurnal Ilmiah Agrobisnis Perikanan Vol 9, No 1 (2021): April 2021
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/akulturasi.9.1.2021.34614

Abstract

AbstractHuman life around the world is changing, one of which is the result of Covid-19 which forces new conditions. In this case, global social life creates a new order. Human life everywhere enters a space called the New Normal. Bulawan Induk Village is a coastal village in Kotabunan District, Bolaang Mongondow Timur Regency, with a population of 1,167 people consisting of 554 men, 613 women and 309 families. Most of the people work as fishermen for about 121 people. Fishery activities carried out by fishermen as the head of the family vary; some are traditional and some are modern. However, the results of the survey show that the fishermen in Bulawan Induk Village are dominated by traditional fishermen. One of the capture fisheries businesses that are carried out in Bulawan Induk Village is hand-fishing. The purpose of this study is to determine the income of traditional hand-paced fishing rods during new normal in Bulawan Induk Village and what efforts are made to improve the family economy during the new normal. The research method used by the author is a survey method. The population in this study were the wives of traditional hand-pancing fishermen in the village of Bulawan Induk. Data were collected by census because the population was only 9 people. The data collected in this study consisted of primary data and secondary data. The data obtained, processed and analyzed by qualitative descriptive and quantitative descriptive.Based on the results of the analysis, it can be concluded that the average income of the traditional hand-line fishing fishermen family during the new normal in Bulawan Induk Village when the New Normal is IDR 43,733,332 with an increase in average income of 23.77%, thanks to the fishermen's wife's efforts to increase family economy. The wives of traditional fishermen in Bulawan Induk Village are working as petibos and opening stalls to sell groceries. Thanks to the fishermen's wife's efforts to improve the family economy, finally the family income increased by 23.77%. There needs to be attention from the local government to form an institution engaged in the marketing of fishery products so that the fishermen's catch can be marketed at a more stable price by existing marketing agencies.Keywords: Effort, handline, family economy, New Normal AbstrakKehidupan manusia di seluruh dunia berubah, perubahan ini salah satunya akibat covid-19 yang memaksa kondisi baru. Dalam hal ini, secara global kehidupan sosial tercipta suatu tatanan baru. Kehidupan manusia di mana pun memasuki ruang bernama Normal Baru. Desa Bulawan Induk merupakan desa pesisir yang ada di Kecamatan Kotabunan Kabupaten Bolaang Mongondow Timur dengan jumlah penduduk 1.167 jiwa terdiri dari laki-laki 554 jiwa, perempuan 613 jiwa dan memiliki 309 kepala keluarga. Sebagian besar masyarakatnya berprofesi sebagai nelayan kurang lebih 121 jiwa. Kegiatan perikanan yang dilakukan oleh nelayan sebagai kepala keluarga bervariasi; ada yang tradisional dan ada yang modern. Namun, hasil prasurvei menunjukkan bahwa nelayan di Desa Bulawan Induk didominasi oleh nelayan tradisional. Salah satu usaha perikanan tangkap yang di lakukan di Desa Bulawan Induk adalah pancing ulur. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pendapatan nelayan tradisional pancing ulur saat normal baru di Desa Bulawan Induk dan upaya apa yang dilakukan untuk meningkatkan ekonomi keluarga saat normal baru. Metode penelitian yang digunakan penulis adalah metode survei. Populasi dalam penelitian ini adalah istri nelayan tradisional pancing ulur yang ada di Desa Bulawan Induk. Pengambilan data dilakukan dengan sensus karena populasi hanya 9 orang.. Data yang dikumpulkan pada penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Data yang diperoleh, diolah dan dianalisis secara deskriptif kualitatif dan deskriptif kuantitatif.Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa rata-rata pendapatan keluarga nelayan tradisional pancing ulur saat normal baru di Desa bulawan Induk pada saat Normal Baru adalah RP.43.733.332 dengan kenaikan pendapatan rata- rata sebesar 23,77%, berkat upaya istri nelayan untuk meningkatkan ekonomi keluarga. Adapun bentuk upaya yang di lakukan istri nelayan tradisional di Desa Bulawan Induk yaitu bekerja sebagai petibo dan membuka warung untuk menjual sembako. Berkat upaya istri nelayan untuk meningkatkan ekonomi keluarga akhirnya pendapatan keluarga naik sebesar 23,77%. Perlu adanya perhatian dari pemerintah setempat untuk membentuk suatu kelembagaan yang bergerak di bidang pemasaran hasil perikanan sehingga hasil tangkapan nelayan dapat dipasarkan dengan harga yang lebih stabil oleh lembaga pemasaran yang ada.Kata Kunci: Upaya, Pancing Ulur, Ekonomi Keluarga, Normal Baru
KEADAAN SOSIAL EKONOMI NELAYAN TRADISIONAL ALAT TANGKAP JARING IMII DI DESA MIMIKA TIMUR, KECAMATAN POMAKO, KABUPATEN MIMIKA, PROVINSI PAPUA Tipagau, Merince; Aling, Djuwita R.R; Wasak, Martha P.; Andaki, Jardie A.; Dien, Christian R.; Pangemanan, Novie P.L.
AKULTURASI: Jurnal Ilmiah Agrobisnis Perikanan Vol 9, No 1 (2021): April 2021
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/akulturasi.9.1.2021.34620

Abstract

AbstractMimika Regency has a very large fishery potential and this potential has been underutilized optimally and sustainably. The socio-economic condition of fishermen is a problem faced by the fishing community which has become a major factor in determining the level of welfare, especially in Mimika Timur Village, Pomako District, Mimika Regency. This study aims to determine the socio-economic condition of traditional fishermen in the Imii fishing gear business in East Mimika Village, Pomako District, Mimika Regency, Papua Province. The population in this study were fishermen who used traditional fishing gear Imii nets. Data collection was carried out using the census method on 4 business owners of Imii fishing gear. The data collected consists of primary data and secondary data. Primary data collection was carried out through field surveys and direct interviews guided by questionnaires. Apart from going through interviews, also by asking and answering questions to respondents using a recording device and using documentation. Secondary data is generally in the form of evidence, notes or reports obtained from village data related to this research. The data analysis used in this research is descriptive quantitative analysis and qualitative descriptive analysis. The result of the research shows that social aspects such as the age of the fisherman in this net are in the productive age range. The average education of fishermen is primary school and the dependents of the families vary. Each fisherman family is 3-7 people. For the economic aspect, fishermen have an average income of iDr 650,000. The average expenditure is IDR 200,000 and you get a profit of IDR 450,000. Apart from the relatively low income from fishing, to meet the daily needs of fishing families in East Mim ika Village, it is obtained from the assistance provided by both the government and NGOs that exist on an ongoing basis. Assistance in the form of fishing gear packages consisting of motorboats, nets, coolboxes and fuel. Apart from that, cash assistance, foodstuffs, education fees and other village facilities support support the livelihoods of the village community.KeyWords: Fishing community, income, poverty, welfare, productivity. AbstrakKabupaten Mimika mempunyai potensi Perikanan yang sangat besar dan potensi tersebut selama ini masih kurang dimanfaatkan secara maksimal dan berkelanjutan. Kondisi sosial ekonomi nelayan merupakan masalah yang dihadapi masyarakat nelayan yang sudah menjadi faktor utama yang menentukan tingkat kesejahteraan khususnya di Desa Mimika Timur Kecamatan Pomako Kabupaten Mimika. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keadaan sosial ekonomi nelayan tradisional usaha alat tangkap jaring Imii di Desa Mimika Timur, Kecamatan Pomako, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua. Populasi dalam penelitian ini adalah nelayan yang menggunakan alat tangkap tradisional jaring Imii. Pengumpulan data yang dilakukan menggunakan metode sensus atas 4 orang pemilik usaha alat tangkap Imii. Data yang dikumpulkan terdiri atas data primer dan data sekunder. Pengumpulan data primer dilakukan melalui survei lapangan dan wawancara langsung yang dipandu dengan kuisioner. Selain melalui wawancara juga dengan cara tanya jawab kepada responden dengan menggunakan alat perekam, serta menggunakan alat dokumentasi. Data sekunder umumnya berupa bukti, catatan atau laporan yang di dapatkan dari data desa yang berhubungan dengan penelitian ini. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kuantitatif dan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian memperlihatkan aspek sosial seperti umur nelayan jaring imii berada pada kisaran umur produktif. Pendidikan nelayan rata-rata sekolah dasar dan tanggungan keluarga bervariasi setiap keluarga nelayannya adalah 3 -7 orang. Untuk aspek ekonomi nelayan memiliki pendapatan rata- rata sebesar Rp 650.000. Pengeluaran rata-rata Rp 200.000 dan diperoleh keuntungan sebesar Rp 450.000. Selain dari penghasilan melaut yang relative rendah, untuk memenuhi kebutuhan harian keluarga nelayan jaring imii di desa Mimika Timur, didapatkan dari bantuan yang diberikan baik oleh pemerintah maupun LSM yang ada secara kontinu. Bantuan berupa paket alat tangkap yang terdiri dari perahu motor, jaring, coolbox dan bahan bakar. Selain itu juga bantuan uang tunai, bahan makanan, biaya pendidikan dan bantuan fasilitas desa lainnya untuk menopang kehidupan masyarakat desa ini.Kata Kunci: Masyarakat nelayan, Pendapatan, Kemiskinan, Kesejahteraan, Produktivitas

Page 1 of 2 | Total Record : 17