cover
Contact Name
Markus T. Lasut
Contact Email
lasut.markus@unsrat.ac.id
Phone
+6285298070889
Journal Mail Official
jurnal.asm@unsrat.ac.id
Editorial Address
Jurnal Aquatic Science & Management, Gedung A Lantai 1, Pascasarjana, Universitas Sam Ratulangi, Jln. Kampus UNSRAT Bahu, Manado 95115, INDONESIA
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
AQUATIC SCIENCE & MANAGEMENT
ISSN : 23374403     EISSN : 23375000     DOI : https://doi.org/10.35800/jasm.v10i1.37485
Journal of AQUATIC SCIENCE & MANAGEMENT publishes scientific articles of original research based on in-depth scientific study in the field of aquatic science and management, covering aspects of limnology, oceanography, aquatic ecotoxicology, geomorphology, fisheries, and coastal management, as well as interactions among them.
Articles 139 Documents
Isolation, morphometry, and culture of Colurella sp. (Rotifera: Ploimida) Letsoin, Petrus P; Pangkey, Henneke; Sampekalo, Julius; Rumengan, Inneke F.M; Wullur, Stenly; Rimper, Joice R.S.T.L
AQUATIC SCIENCE & MANAGEMENT Vol 1, No 2 (2013): Oktober
Publisher : Graduate Program of Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jasm.1.2.2013.7276

Abstract

The rotifer Brachionus rotundiformis (total body length 240.59±10.24 μm, lorica length 175.28±9.18 μm, and lorica width 124.28±7.76μm) is commonly used as starter food in the larval rearing of marine fish. But, larvae of some marine tropical fish species required starter food with body size smaller than B. rotundiformis. The present study was aimed to isolate minute rotifers from nature and to assess the possibility of culturing these rotifers. Sampling of rotifers was conducted in an estuary of Mangket (Kema-Minut), using plankton net (mesh size 40 µm). A trial of culturing the rotifers was conducted at salinities of 10, 20 and 30 ppt by using a microalga, Nannochloropsis oculata. A species of rotifer identified as Colurella sp. (family Lepadellidae) was successfully isolated from the sampling location. Body size of Colurella sp. was extremely small (Total length 123.22±5.45 μm, lorica length 95.96±3.81 μm, and lorica width 53.57±3.11 μm), which were smaller than Brachionus rotundiformis SS-type as a conventional starter food for marine fish larvae.  Results of culturing the minute rotifer Colurella sp. showed that the species grew well at salinities of 10, 20 and 30 ppt with no significant difference among treatments (ANOVA, p>0.05), indicating a potential use of minute rotifer Colurellasp. as starter food for marine fish larvae. Rotifera Branchionus rotundiformis (ukuran tubuh: panjang total 240,59±10,24 μm, panjang lorika 175,28±9,18 μm, dan lebar lorika 124,28±7,76μm) sering digunakan sebagai pakan awal pemeliharaan larva ikan laut. Namun, larva beberapa spesis ikan laut tropis membutuhkan pakan awal berukuran tubuh lebih kecil dari Branchionus rotundiformis. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan minute rotifer dari alam (berukuran tubuh lebih kecil dari B. rotundiformis) dan menguji kemungkinan pemeliharaannya. Sampling rotifer dilakukan di perairan estuari Desa Mangket (Kema-Minut), menggunakan plankton net (ukuran mata jaring 40 µm). Uji coba pemeliharaan dilakukan pada salinitas (10, 20, dan 30 ppt) dengan menggunakan Nannochloropsis oculata. Satu spesies minute rotifer yang teridentifikasi sebagai Colurella sp. (family Lepadellidae) berhasil diisolasi dari lokasi sampling. Colurella sp. memiliki ukuran tubuh sangat kecil (panjang total [PT] 123,22±5,45 µm, panjang lorika [PL] 95,96±3,81 µm, dan lebar lorik [LL] 53,57±3,11 µm) yang mana lebih kecil dari Branchionus rotundiformis tipe-SS sebagai pakan awal larva ikan laut. Hasil uji coba pemeliharaan minute rotifer Colurella sp. menunjukkan bahwa spesis ini dapat tumbuh pada salinitas 10, 20, dan 30 ppt dengan perbedaan kepadatan populasi yang tidak signifikan antar perlakuan (Uji ANOVA, p > 0.05) mengindikasikan potensi pemanfaatan minute rotifer Colurella sp. sebagai pakan awal larva ikan laut.
Effect of NPK ferlilizer (nitrogen, phosphorus, potassium) on seaweed, Kappaphycus alvarezii, growth and white spot desease prevention Ismail, Ramli A.; Ngangi, Edwin L.A.; Lasut, Markus T.
AQUATIC SCIENCE & MANAGEMENT Vol 2, No 1 (2014): April
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jasm.2.1.2014.12389

Abstract

Title (Bahasa Indonesia): Pengaruh pupuk NPK [nitrogen, fosfor, kalium] terhadap pertumbuhan dan penanggulangan penyakit ‘white spot’ pada rumput laut Kappaphycus alvarezii This study aimed to analyze the effect of NPK fertilizer absorption on the growth of seaweed, Kappaphycus alvarezii, and the white spot disease prevention. This study could become a source of information for seaweed farmers to increase seaweed production through the use of NPK fertilizers. This study was conducted from January until March, 2014 in the waters of Toropot Village, the District of Bokan Islands, Banggai Laut. To know whether the different doses affect the white spot infection, ANOVA with Tukey's test was used. Results showed that all doses had the same potential to recover from white spot disease and heal faster than the control (no dose). The addition of nutrients N, P, and K at high dose could accelerate the recovery of the algae from white spot desease and increase the growth rate. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penyerapan pupuk NPK terhadap pertumbuhan dan penanggulangan penyakit white spot pada rumput laut Kappaphycus alvarezii. Penelitian ini dapat sebagai sumber informasi bagi pembudidaya rumput laut untuk meningkatkan produksi rumput laut melalui penggunaan pupuk NPK. Penelitian ini dilaksanakan mulai Januari sampai Maret 2014 di perairan Desa Toropot, Kecamatan Bokan Kepulauan, Kabupaten Banggai Laut. Untuk mengetahui apakah perbedaan dosis memberikan pengaruh terhadap serangan white spot, maka dilakukan pengujian ANOVA dengan uji Tukey. Hasil menunjukkan bahwa bahwa semua dosis memiliki potensi yang sama untuk memulihkan penyakit white spot dan lebih cepat penyembuhannya dari kontrol (tanpa dosis). Penambahan nutrien N, P dan K pada dosis tinggi dapat mempercepat pemulihan alga dari penyakit white spot dan dapat meningkatkan laju pertumbuhannya.
The growth of grass carp (Ctenopharyngodon idella) fed on Azolla Babo, Desmianti; Pangkey, Henneke; Kaligis, Erly
AQUATIC SCIENCE & MANAGEMENT Vol 5, No 1 (2017): APRIL
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jasm.5.1.2017.24251

Abstract

Title (Bahasa Indonesia): Pertumbuhan ikan koan (Ctenopharyngodon idella) yang diberi pakan Azolla This research was done for two months to analyze the growth of grass carp (length 7.00-10.00 cm and initial weight 5.00-10.00 gr) fed on pellets with azolla meal that replaces fish meal on different levels and fresh azolla. Experimental research methodology used Completely Randomized Design. The best result wasshowed on treatment using fresh azolla. This is to confirm that using azolla on young stages for culture of grass carp can be done to reduced cost of production.Penelitian dilakukan selama dua bulan untuk menganalisis pertumbuhan ikan koan (berukuran panjang 7,00-10,00 cm dan berat awal 5,00-10,00 gr) yang diberi pakan pelet dan subtitusi tepung azolla terhadap tepung ikan dengan kadar yang berbeda, serta azolla segar. Metode penelitian secara eksperimental, menggunakan Rancangan Acak Lengkap. Hasil terbaik ditunjukkan pada perlakuan dengan pakan azolla segar. Hasil ini mengkonfirmasi, bahwa penggunaan azolla dapat dilakukan untuk budidaya ikan grass carp pada stadia benih dalam menekan biaya produksi.
GOVERNMENT PROGRAM IMPACT ANALYSIS ON EMPOWERMENT OF COASTAL WOMEN TOWARD ENHANCING THEIR FAMILY INCOMES IN THE CITY OF MANADO Rondonuwu, Deyne
AQUATIC SCIENCE & MANAGEMENT Edisi Khusus 1 (2013): Mei
Publisher : Graduate Program of Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jasm.0.0.2013.2281

Abstract

The research was conducted in the city of Manado which has received independent direct assistance (Bantuan Langsung Mandiri) from government in 2008 through the coastal women's groups (3 groups) at 3 sub-districts, such as Bunaken Island, East Malalayang I, and Tumumpa II, which aimed to analyze the impact of government support to the activities of coastal women toward enhancing their family incomes. Descriptive method was applied using survey and interview techniques. The data used are primary and secondary data. The data were analyzed by using the formula of the proportion of the income of coastal women. The number of samples was 30; the data was analyzed before getting the assistance (> 2008), after the assistance (2009-2011), and in the period of 2012-2013. The results showed that the total family income increased (30.20-46.21%) after receiving the assistance, in period of 2012-2013 was decreased to 37.36%. This was due to lack of knowledge and skills in the use of coastal women's group capital and lack of technical personnel in assisting the groups. So, the impact of government assistance in the form of independent direct assistance in 2008 was not give any result in enhancing the family income in 2013, since the assistance was not used in a sustainable manner and lack of supervision from technical personnels© Penelitian ini dilakukan di Wilayah Pesisir Kota Manado yang telah menerima Bantuan Langsung Mandiri (BLM) dari pemerintah pada Tahun 2008, melalui 3 kelompok perempuan pesisir, yaitu: Kelurahan Bunaken Kepulauan, Kelurahan Malalayang I Timur, dan Kelurahan Tumumpa II. Penelitian bertujuan untuk menganalisis dampak bantuan tersebut terhadap kegiatan perempuan pesisir dalam meningkatkan pendapatan keluarga. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif menggunakan teknik survei dan wawancara. Data yang digunakan adalah data primer dan sekunder. Data dianalisis menggunakan rumus proporsi pendapatan perempuan pesisir. Sampel yang diambil adalah sebanyak 30; data yang dianalisis adalah periode sebelum menerima bantuan BLM (>2008), sesudah mendapatkan bantuan BLM (2009-20011), dan periode Tahun 2012-2013. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, secara total, terjadi peningkatan pendapatan keluarga (30,20-46,21%) setelah menerimah bantuan; periode Tahun 2012-2013 menurun menjadi 37,36 %. Hal ini disebabkan oleh kurangnya pengetahuan dan ketrampilan kelompok perempuan pesisir dalam penggunaan modal, serta kurangnya tenaga teknis dalam mendampingi kelompok perempuan pesisir . Sehingga pada tahun 2008, bantuan pemerintah tersebut tidak berdampak pada peningkatan pendapatan keluarga masyarakat pesisir pada tahun 2013, karena pemberian bantuan tersebut tidak dilakukan secara berkelanjutan dan kurangnya pengawasan oleh tenaga teknis©
Fatty acid profile of mixed tuna (Euthynnus spp.) oil and catfish (Clarias sp.) oil in different combinations Ibrahim, Yudin; Suwetja, I K.; Mentang, Feny
AQUATIC SCIENCE & MANAGEMENT Vol 4, No 1 (2016): April
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jasm.4.1.2016.14407

Abstract

Title (Bahasa Indonesia): Profil asam lemak dari campuran minyak ikan tongkol (Euthynnus spp.) dan ikan lele (Clarias sp.) dalam berbagai perbandingan. The purpose of this study was to determine the fatty acid profile. Samples of mixed tuna (Euthynnus spp.) oil and catfish (Clarias sp.) oil of 1 ml : 1 ml, 1 ml : ¾ ml, and 1 ml : ½ ml ratio were prepared. The fatty acid profile analysis used gas chromatography. Results showed that saturated fatty acids (SFA) consisted of myristic acid, pentadecanoic acid, palmitic acid, eikosatetranoic acid and stearic acid. The SFA content in 1 ml: 1 ml ratio reached 42.79%, followed by 1 ml : ¾ ml ratio, 41.23 %,and then 1 ml : ½ ml ratio, 40.07 %. Mono unsaturated fatty acids (MUFA) comprised palmitoleic acid, eicosenoic acid, and oleic acid. MUFA content was the highest, 28.19% at  1 ml: 1 ml ratio, followed by 1 ml : ¾ ml ratio, 26.66 %, and 1 ml : ½ ml ratio, 24.24%. Poly unsaturated fatty acids (PUFAs) consisted of linoleic acid, eicosatetranoic acid, EPA, and linolenic acid. PUFA content was 34.18% in 1 ml : 1 ml ratio, followed by 1 ml : ¾ ml ratio, 29.45 %, and 1 ml : ½ ml ratio, 22.89 %. As conclusion, the oil mixture of tuna fish (Euthynnus spp.) and catfish (Clarias sp.) contains saturated fatty acids (SFA), mono unsaturated fatty acids (MUFA), and poly unsaturated fattyacids (PUFA). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui profil asam lemak. Sampel minyak ikan campuran minyak ikan trongkol (Euthynnus spp.)dan ikan lele (Clarias sp.) dibuat dengan perbandingan 1 ml : 1 ml, 1 ml : ¾ ml dan 1 :ml : ½ ml. Analisis profil asam lemak menggunakan Gas Kromotografi (GC).Hasil penelitian menunjukkan bahwa asam lemak jenuh (SFA) terdiri atas asam miristat, asam pentadekanoat, asam palmitat, asam eikosatetranoat dan asam stearat. Kandungan SFA pada perbandingan 1 ml : 1 ml sebesar 42,79%, 1 ml : ¾ ml sebesar 41,23%, dan 1 ml : ½ ml sebesar 40,07% . Asam lemak tidak jenuh tunggal (MUFA) terdiri atas asam palmitoleinat, asam eikosenat dan asam oleat. Kandungan MUFA pada perbandingan 1ml : 1 ml sebesar 28,19%, 1 ml : ¾ ml sebesar 26,66%, dan 1 ml : ½ ml sebesar 24,24%. Asam lemak tidak jenuh ganda (PUFA) terdiri atas asam linoleat, asam eikosatetranoat, EPA dan asam linolenat. Kandungan PUFA pada perbandingan 1 ml : 1 ml sebesar 34,18%, 1 ml : ¾ ml sebesar 29,45%, dan 1 ml : ½ ml sebesar 22,89%. Penelitian ini menyimpulkan bahwa campuran minyak ikan trongkol (Euthynnus spp.)dan ikan lele (Clarias sp.) mengandung asam lemak jenuh (SFA), asam lemak tidak jenuh tunggal (MUFA) dan asam lemak tidak jenuh ganda (PUFA).
CLIMATE PHENOMENON OF LA NIñA AND EL NIñO ADVANCES ON VARIATION IN SEA WATER LEVEL OF LEMBEH STRAIT AND SANGIHE WATERS ., Riyadi; Tarumingkeng, Adri A; Djamaluddin, Rignolda; Mamuaya, Gybert E
AQUATIC SCIENCE & MANAGEMENT Edisi Khusus 1 (2013): Mei
Publisher : Graduate Program of Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jasm.0.0.2013.2273

Abstract

Coastal Waters of Lembeh Strait characterizes by small waves and bathymetry undulation. While Sangihe waters have big waves, coastal bays with gently sloping beaches and flawless beaches that are generally steep headlands or cliffs on the shoreline. Differences in these two characters are interesting to watch, especially the value of the Mean Sea Level (MSL). The Least square method is the method of calculating the tidal harmonic constants which are the amplitude and phase lag. Formzahl number calculation is used to determine the type of the tidal in these two waters. The Formzahl numbers of these two waters ranged from 0.26-1.5, so there was no difference in the tidal type. The type of tidal of these two waters was catagorised as Mixed Tide Prevailing Semidiurnal, which is generally in eastern Indonesia waters. Comparison of the fluctuation of Mean Sea Level (MSL) in Lembeh Strait waters in normal climatic conditions, lanina and elnino showed the difference in height. In elnino condition, the MSL value was 87 mm lower (5.9%) than in normal operating condition (1387 mm), and in lanina condition, the average of MSL was higher 51 mm (3.46%) of the normal condition (1525 mm). While in normal climatic conditions, the MSL was 1474 mm© Perairan laut di Selat Lembeh mempunyai karakteristik gelombang kecil dan batimetri berundulasi.  Sedangkan di perairan Sangihe memiliki gelombang besar, pantai teluk berparas pantai landai dan pantai tanjung yang umumnya terjal atau bertebing pada garis pantai. Perbedaan dua karakter ini menjadi hal yang menarik untuk diamati, terutama muka air laut rerata (MLR). Metode least square adalah metode perhitungan pasang surut yang digunakan untuk menghitung konstanta harmonik yaitu amplitude dan kelambatan fase. Dengan perhitungan bilangan Formzahl akan mengetahui tipe pasang surut di kedua perairan tersebut. Diperoleh bilangan Formzahl perairan tersebut berkisar antara 0,26-1,5, sehingga tidak ada perbedaan tipe pasang surutnya. Tipe pasang surut antara kedua perairan ini adalah tipe pasang surut campuran condong ke harian ganda. Pasang surut jenis ini banyak terdapat di perairan Indonesia bagian timur.  Perbandingan fluktuasi muka laut rerata (MLR) di perairan Selat Lembeh pada kondisi iklim normal, El Niño dan La Niña menunjukkan perbedaan ketinggian. Di mana pada kondisi El Niño mempunyai muka laut rerata (MLR) lebih rendah 87 mm (5,9%) dari kondisi normalnya yaitu 1387 mm dan pada kondisi La Niña mempunyai muka laut rerata (MLR) lebih tinggi 51 mm (3,46%) dari kondisi normalnya yaitu 1525 mm. Sedangkan pada kondisi iklim normal muka laut rerata (MLR) adalah 1474 mm©
THE EFFECT OF VACCINATION IN CONTROLING BACTERIAL DISEASE CAUSED BY AEROMONAS HYDROPHILA IN NILE TILAPIA (OREOCHROMIS NILOTICUS) Ratulangi, Arne A; Tumbol, Reiny; Manoppo, Hengky; Pangkey, Henneke
AQUATIC SCIENCE & MANAGEMENT Edisi Khusus 2 (2014): Oktober
Publisher : Graduate Program of Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jasm.0.0.2014.7302

Abstract

This study aims to apply vaccination against bacterial disease. The purpose of vaccination is to trigger the immune respone both non-specific and specific of fish against bacteria Motile Aeromonas Septicaemia (MAS) caused by Aeromonas hydrophila. The vaccination for fish with different ages: 2-3 weeks and 5 weeks were done using immersion method. The fish were re-vaccinated (booster) after two weeks of the first vaccination. The survival rate was < 50 % for juveniles 2-3 weeks and > 50% for juveniles 5 weeks. Survival rate for juveniles 5 weeks was higher than juveniles of 2-3 weeks. This shows that organs of juveniles of 5 weeks were more complete than the 2-3 weeks juveniles. The age of fish is one of the important factors for successfully vaccination. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan penerapan vaksinasi terhadap penyakit bakterial. Vaksinasi ditujukan untuk merangsang respon kekebalan non- spesifik dan spesifik pada tubuh ikan terhadap penyakit Motile Aeromonas Septicaemia (MAS) yang disebabkan oleh bakteri Aeromonas hydrophila. Vaksin diberikan pada benih ikan nila yang berbeda umur yaitu 2-3 minggu dan 5 minggu dengan menggunakan metode perendaman. Ikan divaksinasi ulang (booster) setelah 2 (dua) minggu dari vaksinasi yang pertama. Prosentase kelangsungan hidup < 50 % untuk benih umur 2-3 minggu dan > 50% untuk benih umur 5 minggu. Jumlah kematian benih umur 2-3 minggu lebih tinggi dari 5 minggu. Hal ini menunjukkan bahwa fungsi organ benih umur 5 minggu telah lebih lengkap dari pada benih umur 2-3 minggu. Umur ikan merupakan salah satu faktor penting penentu keberhasilan suatu kegiatan vaksinasi.
Community structure of seaweed beds in Mantehage Island, North Sulawesi, Indonesia Sormin, Hartarto; Gerung, Grevo S.; Rembet, Unstain N.W.J.
AQUATIC SCIENCE & MANAGEMENT Vol 3, No 2 (2015): Oktober
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jasm.3.2.2015.14043

Abstract

Title (Bahasa Indonesia): Struktur komunitas rumput laut di Pulau Mantehage, Provinsi Sulawesi Utara Seaweeds are an important marine resource for coastal community. They are used as medicine, paper materials, biofuel and direct consumption as vegetable or in food industries. Data collection in Mantehage island used Seagrass Watch method combined with line transect method with quadrat. This study found 29 species of seaweeds consisting of 13 species of Chlorophyta, 4 species of Phaeophtya and 12 species of Rhodophyta. Water temperatures ranged from 28–30ºC and pH ranged from 8.14–8.69, while salinity ranged between 30.8–31.9 ppt. Mantehage island waters has 100 % visibility with the current speed range of 30–42 cm/sec. INP of Caulerpa racemosa has the highest value at all sites. Diversity index ranged from 0.799–1.093 considered as low and dominance index ranged between 0.635–0.697 categorized as normal. Eveness index ranged from 0.303–0.365 showing that the seaweed community was under pressures. Rumput laut pada saat ini menjadi komoditas penting bagi masyarakat pesisir. Manfaat rumput laut selain dikonsumsi juga dijadikan sebagai obat, bahan baku kertas dan biofuel. Data di pulau Mantehege dikumpulkan menggunakan metode Seagrass watch yang dikombinasikan dengan metode transek garis dan kuadran. Ditemukan 29 spesies rumput laut yang terdiri dari 13 alga hijau Clorophyta, 4 alga cokelat Phaeyophtya dan 12 alga merah Rhodophyta. Substrat pada lokasi penelitian berupa karang mati dan batu karang. Suhu di perairan Pulau Mantehage di lokasi penelitian berkisar 28–30ºC. pH di lokasi penelitian yaitu 8,14–8,69 dengan salinitas berkisar 30,8–31,9 ppt. Kecerahan di Pulau Mantehege yaitu 100% dan kecepatan arus di kisaran 30–42 cm/detik. Nilai INP Caulerpa racemosa mempunyai nilai tertinggi pada semua lokasi. Indeks Keanekaragaman (H’) pada semua lokasi didapat berkisar 0,799–1,093 yang dikategorikan rendah dan biasa. Nilai Indeks Dominasi (D) pada semua lokasi berkisar antara 0,635–0,697 yang dikategorikan sedang. Indeks Keseragaman (J’) berkisar 0,303–0,365 yang menggambarkan komunitas pada kondisi tertekan.
Living coral cover and genera diversity of coral Scleractinia in eastern coastal of Minahasa Regency, North Sulawesi Pakasi, Ivone F; Lumingas, Lawrence J.L; Kepel, Rene Ch; Rondonuwu, Arie B
AQUATIC SCIENCE & MANAGEMENT Vol 6, No 2 (2018): October
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jasm.6.2.2018.24838

Abstract

Title (Bahasa Indonesia): Tutupan karang hidup dan keanekaragaman genera karang Scleractinia di Pantai Timur Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara The coastal waters east of Minahasa Regency of North Sulawesi Province is one of the areas of water that have the potential to be used as Marine Protected Areas. This study provides information on the condition of coral reefs on the eastern coast of Minahasa Regency, especially in Kamenti and in Toloun. Sampling withSCUBA was conducted using lifeform categories and transects in the form of a 50 m measuring tape with 'Line Intercept Transect' techniqueat thedepthsof 5 m, 10 m and 15 m. The condition of coral reefs in the eastern coastal waters of Minahasa Regency is generally 'good'. The percentage of coral cover in Kamenti was categorized'good', while in the waters Toloun are in a state of 'average'. Genera richness on both sites can be quite high, intotal there are44 genera with 35 genera in Kamenti and 38 genera in Toloun. Kamenti station with the depth of 15 m hasthe highest conservation value because in addition to having the highest number of genera (32 genera), it has also the highest Shannon index (3.35), the highest genera richness index (8.29), the highest genera evenness index (0, 97) and the lowest dominance index (0.12). There is no apparent correlation between the percentage of live coral cover with the number of genera or the Shannon index. But the high percentage of live coral cover is not always identical with the high genera richness; the maximum genera richness is at the intermediatecover level.Perairan pantai sebelah timur Kabupaten Minahasa Provinsi Sulawesi Utara merupakan salah satu kawasan perairan yang berpotensi untuk dijadikan Kawasan Konservasi Perairan. Penelitian ini memberikan informasi tentang kondisi terumbu karang di pantai timur Kabupaten Minahasa khususnya di Kamenti dan di Toloun. Sampling dengan menggunakan SCUBA dilakukan dengan metode kategori lifeformdan menggunakan transek berupa pita meteran sepanjang 50 m dengan teknik ‘Line Intercept Transect‘  pada kedalaman 5 m, 10 m dan 15 m. Kondisi terumbu karang di perairan pantai timur Kabupaten Minahasa umumnya ‘baik’. Persentase tutupan karang batu di Kamenti berada pada kategori ‘baik’ sedangkan di perairan Toloun berada pada kondisi ‘sedang’. Kekayaan genera pada kedua lokasi penelitian dapat dikatakan cukup tinggi yakni secara total terdapat 44 genera dengan masing-masing 35 genera di Kamenti dan 38 genera di Toloun. Stasiun Kamenti kedalaman 15 m adalah yang paling tinggi nilai konservasinya karena selain memiliki jumlah genera terbanyak (32 genera), juga memiliki indeks Shannon tertinggi (3,35), indeks kekayaan genera tertinggi (8,29), indeks kemerataan genera tertinggi (0,97) dan indeks dominasi terendah (0,12). Tidak terdapat hubungan yang nyata antara persentase tutupan karang hidup dengan jumlah genera atau indeks Shannon. Tetapi persentase tutupan karang hidup yang tinggi tidak selalu indentik dengan tingginya kekayaan genera; kekayaan genera maksimun berada pada tingkat tutupan menengah.
ACUTE AND CHRONIC EFFECT OF CYANIADE ON SURVIVAL RATE, BEHAVIOR, AND REPRODUCTION OF DAPHNIA SP. Pattiwael, Melky R; Mangindaan, Remy E. P; Prabowo, Rudi; Rumengan, Inneke F. M
AQUATIC SCIENCE & MANAGEMENT Vol 1, No 1 (2013): April
Publisher : Graduate Program of Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jasm.1.1.2013.1969

Abstract

Cyanide (CN) through leaching process in the gold processing could produce tailings that have negative impacts on the aquatic environment. To determine the acute and chronic effects of cyanide on aquatic organisms, toxicity tests have been conducted in the laboratory using Daphnia sp.This zooplankton organism is recommended by APHA as standard test animals. In this study the test concentrations refer to the Ministerial Decree No. 202 of 2004 and Government Regulation No. 82 of 2001. Cyanide was analyzed as free CN and WADS CN. The result of acute toxicity test using cyanide solution showed that Daphnia could survive a maximum concentration of 0.2 ppm. LC50 values for 24 and 72 hours were 0,59 mg/L and 0,10 mg/l, respectively. The LT50 was found at 42 hours. Daphnia sp. produced different numbers of offspring at different CN concentrations, and changed their reproduction pattern from parthenogenesis to sexual reproduction after exposure to a cyanide concentration of 0.1 ppm for 24 hours©  Sianida (CN) melalui proses leaching dalam proses pengolahan emas menghasilkan limbah yang dapat memberi dampak negatif bagi lingkungan perairan. Untuk mengetahui sampai seberapa jauh CN dapat memberi efek akut dan kronis terhadap biota air, telah dilakukan uji toksisitas di laboratorium dengan menggunakan Daphnia sp. Zooplankton ini direkomendasikan oleh APHA sebagai salah satu hewan uji standar. Dalam penelitian ini konsentrasi uji yang dipakai mengacu pada peraturan yang berlaku, yaitu Keputusan Menteri No. 202, Tahun 2004, dan Peraturan Pemerintah No. 82, Tahun 2001. Analisis sianida yang dihitung adalah nilai free CN dan WADS CN. Hasil penelitian uji toksisitas akut dengan menggunakan larutan sianida didapati Daphnia mampu bertahan hidup sampai pada konsentrasi 0,2 ppm dan nilai LC50 berada pada konsentarsi 0,1 ppm serta LT50 pada jam ke 42. Hasil uji efek kronis, Daphnia sp. menghasilkan jumlah anakan yang berbeda pada konsentrasi CN yang berlainan, dan mengalami perubahan pola reproduksi dari partenogenesis menjadi seksual setelah dipaparkan pada kosentrasi sianida 0,1 ppm selama 24 jam©

Page 8 of 14 | Total Record : 139