cover
Contact Name
Cecilia Soeriawidjaja
Contact Email
cecilia.soeriawidjaja@unpad.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.fkg@unpad.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran
ISSN : 08546002     EISSN : 25496514     DOI : -
Core Subject : Health,
Bidang cakupan Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran adalah semua bidang ilmu kedokteran gigi, yaitu biologi oral; ilmu dan teknologi material gigi; bedah mulut dan maksilofasial; pedodonsia; ilmu kesehatan gigi masyarakat, epidemiologi, dan ilmu kedokteran gigi pencegahan; konservasi gigi, endodontik, dan kedokteran gigi operatif; periodonsia; prostodonsia; ortodonsia; ilmu penyakit mulut; radiologi kedokteran gigi dan maksilofasial; serta perkembangan dan ilmu kedokteran gigi dari pendekatan ilmu lainnya.
Arjuna Subject : -
Articles 483 Documents
Potensi antibakteri teripang Timba Kolong (Holothuria sp.) Kepulauan Mentawai Sumatera BaratAntibacterial potential of Timba Kolong sea cucumber (Holothuria sp.) of Mentawai Island West Sumatera Utmi Arma; Pebrian Diki Prestya; Busman Busman
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 29, No 3 (2017): Desember
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (289.687 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v29i3.12374

Abstract

Pendahuluan: Salah satu sumber senyawa bioaktif yang diyakini memiliki aktivitas antibakteri yang kuat adalah teripang. Teripang Timba Kolong (Holothuria sp.) merupakan spesies yang dominan di Kepulauan Mentawai Sumatera Barat Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antibakteri teripang Timba Kolong yang ditemukan di Kepulauan Mentawai Sumatera Barat. Metode: Metode penelitian ini adalah laboratorium eksperimental. Aktivitas antibakteri teripang Timba Kolong diukur dengan menggunakan metode Kirby-Bauer dengan cara mengukur zona hambat terhadap Streptococcus viridans pada karies gigi. Absorbsi tiap sumuran diukur dengan spectrophotometer microplate reader pada panjang gelombang 570 nm. Uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan post test only control group design dan metode disk difusion. Bakteri Streptococcus viridans dijadikan suspensi dengan konsentrasi 0,625; 1,25; 2,5; 5; 10 dan 20% dengan pelarut dimethil sulfoksida (DMSO). Hasil: Hampir semua sampel menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap Streptococcus viridans dengan konsentrasi yang paling tinggi 0.625% yaitu 7.598 ± 0.8427 mm. Simpulan: Ekstrak Holothuria sp. memiliki aktivitas antibakteri terhadap pertumbuhan Streptococcus viridans.Kata kunci: Teripang timba kolong (Holothuria sp.), antibakteri, Streptococcus viridans, zona hambat. ABSTRACTIntroduction: One of the natural sources with bioactive compounds that are believed to have strong antibacterial activity is the sea cucumber. Timba Kolong sea cucumber (Holothuria sp.) Is the dominant species found in the Mentawai Islands, West Sumatra, Indonesia. The purpose of this study was to determine the antibacterial activity of Timba Kolong sea cucumber found in Mentawai Islands, West Sumatra. Methods: This research method was an experimental laboratory. Antibacterial activity of Timba Kolong sea cucumber was measured using the Kirby-Bauer method by measuring the inhibitory zone of Streptococcus viridans in dental caries. The absorption of each well was measured by a microplate reader spectrophotometer at the wavelength of 570 nm. The antibacterial activity test was performed with a post test only control group design and disk diffusion method. Streptococcus viridans bacteria were made as suspensions with a concentration of 0.625; 1.25; 2.5; 5; 10; and 20% with dimethyl sulfoxide (DMSO) solvents. Results: Almost all samples showed antibacterial activity towards Streptococcus viridans with the highest concentration of 0.625%, which was 7.598 ± 0.8427 mm. Conclusion: Timba Kolong sea cucumber has antibacterial activity towards the growth of Streptococcus viridans.Keywords: Timba Kolong sea cucumber (Holothuria sp.), antibacterial, Streptococcus viridans, inhibitory zone.
Perbedaan kadar kalium dan natrium pada saliva pasien periodontitis kronis dan tanpa periodontitis kronisDifferences in potassium and sodium levels in the saliva of patients with and without chronic periodontitis Muhammad Haikal Mahardhika; Ina Hendiani; Agus Susanto
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 28, No 3 (2016): Desember
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.059 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v28i3.18702

Abstract

Pendahuluan: Periodontitis kronis menyebabkan perbedaan kadar ion kalium dan natrium pada saliva karena terjadinya perpindahan ion- ion tersebut dari cairan intraseluler dan ekstraseluler sel dan jaringan yang mengalami peradangan menuju saliva. Tujuan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kadar kalium dan natrium pada saliva pasien periodontitis kronis dan pasien tanpa periodontitis kronis. Metode: Penelitian deskriptif analitik, subjek penelitian sebanyak 30 pasien, terdiri dari 15 pasien periodontitis kronis dan 15 pasien tanpa periodontitis kronis. Pengukuran poket periodontal dan pengambilan saliva menggunakan spitting method serta pengukuran kadar kalium dan natrium saliva dalam satuan mmol/L menggunakan spektrofotometer AAS. Data diuji secara statistik menggunakan uji t independent sample test. Hasil: rata-rata kadar kalium dan natrium pada pasien periodontitis kronis (18,22 mmol/L dan 9,92 mmol/L), sedangkan pada pasien tanpa periodontitis kronis (16,54 mmol/L dan 6,95 mmol/L). Tidak terdapat perbedaan signifikan kadar kalium saliva pasien periodontitis kronis dan pasien tanpa periodontitis kronis (p=0,351), dan terdapat perbedaan signifikan kadar natrium pada saliva pasien periodontitis kronis dan pasien tanpa periodontitis kronis (p=0,004). Simpulan: Kadar natrium pada saliva pasien periodontitis kronis lebih tinggi dibandingkan pasien tanpa periodontitis.Kata kunci: Kalium, natrium, periodontitis kronis, saliva. ABSTRACTIntroduction: Chronic periodontitis causes differences in potassium and sodium ion levels in saliva due to the transfer of these ions from intracellular and extracellular fluid cells and tissues that experience inflammation into saliva. The aim of this study was to determine differences in potassium and sodium levels in the saliva of chronic periodontitis patients and patients without chronic periodontitis. Methods: A descriptive analytic study conducted towards 30 patients, consisting of 15 chronic periodontitis patients and 15 patients without chronic periodontitis. Measurement of periodontal pockets and saliva retrieval using spitting method and measurement of salivary potassium and sodium levels in mmol/L using AAS spectrophotometer. Data were statistically tested using independent sample test t test. Results: The average potassium and sodium levels in chronic periodontitis patients (18.22 mmol/L and 9.92 mmol/L), whereas in patients without chronic periodontitis (16.54 mmol/L and 6.95 mmol/L). There were no significant differences in potassium saliva levels of chronic periodontitis patients and patients without chronic periodontitis (p = 0.351), and there were significant differences in sodium levels in the saliva of chronic periodontitis patients and patients without chronic periodontitis (p = 0.004). Conclusion: Sodium levels in the saliva of chronic periodontitis patients are higher than patients without periodontitis.Keywords: Potassium, sodium, chronic periodontitis, saliva.
Sintesis partikel zirkonia-alumina-silika (ZrO2-Al2O3-SiO2) dari pasir zirkon alam sebagai bahan pengisi komposit kedokteran gigiSynthesis of zirconia-alumina-silica particles (ZrO2-Al2O3-SiO2) from natural zircon sand as dental composite fillers Silmina Susra; Nina Djustiana; Renny Febrida; I Made Joni
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 29, No 1 (2017): April
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (335.075 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v30i2.18537

Abstract

Pendahuluan: Pasir zirkon (ZrSiO4) merupakan mineral alam yang tersusun atas zirkonia (ZrO2) dan silika (SiO2) yang berikatan dengan stabil. Zirkonia adalah salah satu material keramik kedokteran gigi yang banyak digunakan karena memiliki sifat mekanis dan biokompatibilitas yang tinggi. Zirkonia dapat dikombinasikan dengan silika dan alumina untuk membentuk suatu bahan pengisi komposit dengan sifat mekanis dan estetis yang dapat disesuaikan dengan sifat gigi kodrat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghasilkan bahan bahan pengisi komposit alternatif di bidang kedokteran gigi yang berasal dari pasir zirkon alam untuk dijadikan bahan bahan pengisi komposit. Metode: Jenis penelitian yang dilakukan adalah eksperimental laboratoris untuk mensintesis dan mengkarakterisasi partikel ZrO2-Al2O3-SiO2 dari bahan baku alam berupa pasir zircon dengan reaksi geopolimerisasi dan proses pemanasan suhu tinggi. Aktivator yang digunakan adalah larutan NaOH 3 mol dengan temperatur pemanasan 1100°C pada lama pemanasan 4 jam, 6 jam, dan 8 jam. Hasil: Hasil analisis uji X-Ray Diffraction (XRD) menunjukkan jumlah zirkonia berstruktur tetragonal terbesar ada pada sampel pemanasan 8 jam, yaitu 24%. Hasil analisis uji Energy Dispersive Spectroscopy (EDS) menunjukkan rasio komposisi zirkonia-alumina-silika dengan nilai zirkonia tertinggi ada pada sampel pemanasan 8 jam, yaitu 55,7; 23,6; 20,6. Hasil analisis mikrograf Scanning Electron Microscope (SEM) menunjukkan morfologi permukaan dan partikel yang tidak beraturan dan beraglomerasi. Simpulan: Sintesis partikel zirkonia-alumina-silika (ZrO2-Al2O3-SiO2) dari pasir zirkon alam dengan pemanasan 8 jam ditinjau dari jumlah zirkonia berstruktur tetragonal memadai digunakan sebagai bahan pengisi komposit berdasarkan uji XRD dan EDS, namun pada uji SEM partikel berbentuk tidak beraturan dan beraglomerasi.Kata kunci: Pasir zirkon, zirkonia-alumina-silika, geopolimerisasi, bahan pengisi komposit ABSTRACTIntroduction: Zircon sand (ZrSiO4) is natural mineral sand which is composed of zirconia (ZrO2) and silica (SiO2) that bind in a stable condition. Zirconia is one of a ceramic that is widely used in dentistry because of its high biocompatibility and good mechanical properties. Zirconia can be combined with silica and alumina to form a bahan pengisi composite material with its esthetics and mechanical properties that can be adjusted to real tooth properties. Methods: This study focuses on a synthesis of zirconia-alumina-silica (ZrO2-Al2O3-SiO2) from natural zircon sand using a geopolymerization method and a heat treatment in high temperature. Activator used in this method is 3 mol NaOH solutions. A temperature that is used to heat is 1100° C for 4 hours, 6 hours, and 8 hours. Results: Analysis result of X-ray Diffraction (XRD) indicates that a sample with 8 hours heating time has a greatest amount of tetragonal zirconia: 24%. An analysis result of Energy Dispersive Spectroscopy (EDS) indicates that a composition ratio of zirconia-alumina-silica with a highest score in zirconia is present in a sample with 8 hours heating time, with a ratio 55,7 : 23,6 : 20,6. Analysis result of Scanning Electron Microscope (SEM) show irregularities in particles and surface morphology, and agglomerated particles. Conclusion: The study concludes that a synthesis of zirconia-alumina-silica (ZrO2-Al2O3-SiO2) particles from natural zircon sand based on the amount of tetragonal structure that is present in zirconia is suitable to be used as composite bahan pengisi materials based on XRD and EDS characterization tests. But in a SEM test, the particles show irregularities and agglomerations.Keywords: Zircon sand, zirconia-alumina-silica, composite bahan pengisi
Tipe wajah dan bentuk lengkung gigi pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi angkatan 2010-2013 Universitas PadjadjaranDescription of facial types and dental arch form of the students in the Faculty of Dentistry Universitas Padjadjaran batch 2010-2013 Istiqomah Nur Oktarina; Yuliawati Zenab; Iwa Rahmat Sunaryo
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 28, No 3 (2016): Desember
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (343.454 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v28i3.18689

Abstract

Pendahuluan: Wajah merupakan salah satu bagian terpenting dari penampilan. Bentuk wajah yang ideal dipengaruhi oleh bentuk lengkung gigi, karena lengkung gigi dijadikan sebagai faktor yang penting dalam perawatan ortodonti. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui gambaran tipe wajah dan bentuk lengkung gigi. Metode: Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif. Populasi penelitian adalah seluruh mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran. Sampelnya adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran angkatan 2010-2013 yang dipilih dengan menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan dua tahap yaitu dengan melakukan pengukuran pada foto profil dan model lengkung gigi pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi angkatan 2010-2013 Universitas Padjadjaran. Hasil: Terdapat tipe wajah hypereuryprosopic sebanyak 76,97%, euryprosopic sebanyak 86,06%, mesoprosopic sebanyak 18,18%, leptoprosopic sebanyak 12,12%, dan hyperleptoprosopic sebanyak 6,67%. Bentuk lengkung gigi tapered sebanyak 85,71%, square sebanyak 0%, dan ovoid sebanyak 14,29% baik pada rahang atas dan rahang bawah. Simpulan: Tipe wajah pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi angkatan 2010-2013 Universitas Padjadjaran adalah euryprosopic dan Bentuk lengkung gigi adalah bentuk tapered.Kata kunci: Tipe wajah, bentuk lengkung gigi. ABSTRACTIntroduction: The face is one of the most fragile parts of appearance. Face types are things that can describe the differences in the shape of each person’s face. The aim of the study was to find out the description of the face type and the shape of the dental arch. Methods: The study was conducted using descriptive method. The samples were students of the Faculty of Dentistry, Padjadjaran University, 2010-2013 generation who were selected using purposive sampling technique. Results: There were hypereuryprosopic facial types as much as 30%, euryprosopic as much as 48.57%, mesoprosopic as much as 14.29%, leptoprosopic as much as 5.71%, and hyperleptoprosopic as much as 1.43%. From the same number of samples, found tapered dental arches as much as 85.71%, square as much as 0%, and ovoid as much as 14.29% both in the maxilla and mandible. Conclusion: Face types in the Faculty of Dentistry students of 2010-2013 University of Padjadjaran University are mostly hypereuryprosopic in male and euryprosopic students in female students. The curvature of the teeth in the Faculty of Dentistry students of the 2010-2013 University of Padjadjaran University is tapered to the maxilla and mandible in both male and female students. All facial types, namely hypereuryprosopic, euryprosopic, mesoprosopic, leptoprosopic, and hyperleptoprosopic in the 2010-2013 Faculty of Dentistry students at Padjadjaran University were dominated by tapered dental arches in both the maxilla and mandible.Keywords: Facial type, dental arch form.
Pola rugae palatina pada mahasiswa suku Minangkabau dan suku BatakPalatal rugae pattern in Minangkabaunese and Bataknese students Mentari Nurul Ilma; Nani Murniati; Djulaenah Ningsih
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 29, No 1 (2017): April
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.986 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v29i1.18599

Abstract

Pendahuluan: Rugae palatina merupakan suatu lipatan anatomis yang terletak di sepertiga anterior palatum belakang papilla insisivum. Pertumbuhan rugae palatina dipengaruhi faktor genetik sehingga tiap individu memiliki keunikan pola rugae palatina masing-masing, termasuk antara suku Minangkabau dan suku Batak. Rugae palatina digunakan sebagai alternatif teknik identifikasi ras di kedokteran gigi forensik karena keunikannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat gambaran pola rugae palatina pada suku Minangkabau dan suku Batak. Metode: Metode penelitian yang dilakukan adalah deskriptif sederhana kuantitatif dan teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah consecutive sampling. Penelitian dilakukan di UKSU ITB dan UPBM Unpad, total sampel yang diperoleh sebanyak 42 mahasiswa UKSU UPBM angkatan 2010-2012. Data diperoleh melalui pencetakan rahang atas kemudian dibuat model untuk diinterpretasikan pola rugae palatina masing-masing suku. Data disajikan dengan tabel distribusi frekuensi sederhana. Hasil: Hasil perhitungan pola rugae palatina yang ditampilkan tabel distribusi frekuensi sederhana menunjukkan 54,48% berbentuk gelombang pada suku Minangkabau dan 73,68% berbentuk divergen, sedangkan pada suku Batak ditemukan 55,63% berbentuk gelombang dan 83,33% berbentuk divergen. Simpulan: Gambaran pola rugae palatina berbentuk gelombang dan divergen merupakan jumlah terbanyak pada suku Minangkabau dan suku Batak.Kata kunci: Forensik odontologi, pola rugae palatina, suku Minangkabau, suku Batak ABSTRACTIntroduction: Palatal rugae is anatomical folds located on the anterior third of the palate, behind the incisive papilla. Growth of palatal rugae  is affected by genetic factor, thus it was proven that the rugae patterns are highly individualistic, including Minangkabau and Batak tribes. It is used as an alternative method for identification because of its unique anatomical structure. The aim of the study was to describe  palatal rugae patterns in Minangkabau and Batak tribes. Methods: This was a simple descriptive quantitative study, using consecutive sampling technique. Participants were recruited from UKSU ITB and UPBM Unpad, in total 42 undergraduate students from batch 2010-2012 signed informed consents. The maxillary impression of the subject was taken using alginate then transferred to casts to interpret the palatal rugae pattern. The data were presented with simple frequency distribution table. Result: The palatal rugae pattern distribution showed 54,48% wavy pattern and 73,68% divergent pattern  for Minangkabau, whereas Batak tribes had 55,63% and 83,33%, respectively. Conclusion: In this study,  the dominant shape of palatal rugae among the two tribes was wavy and divergent form. Keywords: Odontology forensic, palatal rugae pattern, Minangkabaunese, Bataknese
Hubungan antara sudut interinsisal terhadap profil jaringan lunak wajah pada foto sefalometriRelationship between interincisal angles and facial soft tissue profiles in cephalometric photos Rudi Darwis; Tiara Editiawarni
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 30, No 1 (2018): April
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (309.727 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v30i1.17945

Abstract

Pendahuluan: Analisis wajah merupakan tahapan yang sangat penting dalam perawatan ortodonti. Profil wajah terbentuk melalui jaringan keras dan jaringan lunak wajah yang saling menunjang. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan sudut interinsisal terhadap profil jaringan lunak wajah. Metode: Trasing terhadap sebanyak 60 foto sefalometri yang berstandar dari pasien klinik ortodonti RS Dustira berusia 20–24 tahun, tidak memiliki anomali dentofasial dan asimetri wajah. Analisis mengenai hubungan sudut interinsisal terhadap profil jaringan lunak wajah pasien dilakukan dengan pegukuran sudut insisal, sedangkan pengukuran profil wajah dilakukan dengan menggunakan garis S yang terbentuk melalui kontur terluar dagu (PoG) terhadap titik tengah terbawah hidung (Sn). Hasil: Hasil pengukuran sudut interinsisal  diketahui bahwa 34 subjek (56,67%) memiliki nilai 120º sampai 150º yang merupakan kategori normal, dan 26 orang (43,33%) dengan nilai sudut kurang dari 120º atau sangat protrusif (43,33%). Pengukuran profil wajah jaringan lunak diperoleh sebayak 53 pasien (88,33%) memiliki profil bibir protusiv, dan sebanyak 7 pasien (11,67%) cenderung memiliki bibir yang seimbang dan tidak ada pasien yang memiliki bibir retrusif. Perhitungan dengan menggunakan uji Fisher diperoleh nilai 0,688 yang lebih besar dari 0,05 (p>0,05) artinya tidak tedapat hubungan antara sudut interinsisal dengan profil jaringan lunak wajah. Simpulan: Tidak terdapat hubungan antara sudut interinsisal dengan profil jaringan lunak wajah pada foto sefalometri.Kata kunci: Garis S, interinsisal, ortodontik, profil wajah sefalometri. ABSTRACTIntroduction: Facial analysis and measurement is an essential phase of orthodontic treatment — facial profiles formed through the unity between hard tissue and soft tissue underneath. The purpose of this study was to evaluate the relationship between the inter-incisal angles and the facial soft tissue profiles through the radiographic cephalometric photo. Methods: The research was performed towards 60 subjects aged between 20 – 24-years-old selected from the population of the patients from the orthodontic clinic of Dustira Hospital Cimahi Bandung. Exclusion criteria were all the craniofacial anomalies, noticeable asymmetries. Cephalometric analysis was developed by employing by the vertical measurement of interincisal angle, and S-line was performed from the outer contour of the soft tissue of the chin (PoG) into the middle of the lower edge of the nose (Sn) to evaluate the soft tissue correlations. Result: From interincisal angle analysis was observed that as much as 34 subjects (56.67%) had a score of 120º to 150º as the normal category and as much as 26 people (43.33%) with the degrees angle less than 120º or very protrusive (43.33%). Measurement of soft tissues facial profile was shown as much as 53 patients (88.33%) had a protrusive lip profile, as many as 7 patients (11.67%) tend to have balanced lips, and no patients had retrusive lips. Conclusion: There was no correlation between interincisal angle and facial profile observed through the cephalometric photo.Keywords: Cephalometric facial profile, interincisal, orthodontics, S-line.
Indeks PUFA pada ibu hamil yang datang ke Puskesmas Puter, Bandung, IndonesiaPUFA index of pregnant women who came to the Puter Community Health Centre, Bandung, Indonesia Nury Raynuary; Anne Agustina Suwargiani; Netty Suryanti
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 29, No 2 (2017): Agustus
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (308.12 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v29i2.18572

Abstract

Pendahuluan: Kesehatan gigi dan mulut yang buruk pada ibu hamil dapat memberikan dampak negatif pada perkembangan janin. Indeks yang digunakan untuk menilai akibat klinis dari karies yang tidak dirawat yaitu Indeks PUFA yang mencatat keparahan karies gigi dengan keterlibatan pulpa (P), ulser akibat trauma dari gigi (U), fistula (F) dan abses (A). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kriteria Indeks PUFA pada ibu hamil di Puskesmas Puter Bandung. Metode: Penelitian deskriptif dengan metode survei dan pengambilan sampel yang dilakukan dengan teknik simple random sampling. Jumlah sampel penelitian 96 ibu hamil yang datang memeriksakan kehamilan di Puskesmas Puter Bandung. Data diperoleh dengan cara pemeriksaan klinis terhadap rongga mulut ibu hamil dan dicatat pada formulir pemeriksaan untuk Indeks PUFA lalu diolah dan disajikan dalam bentuk tabel. Hasil: Sebanyak 90,95% hasil penelitian menunjukkan subjek dengan komponen P, sebanyak 6,38 komponen U, sebanyak 2,12% komponen F, dan sebanyak 0,53 komponen A. Simpulan: Mayoritas ibu hamil di Puskesmas Puter memiliki indeks PUFA dengan kategori buruk.Kata kunci: Indeks PUFA, karies tidak terawat, ibu hamil. ABSTRACTIntroduction: Poor oral and dental health in pregnant women can have a negative impact on fetal development. The index used to assess the clinical consequences of untreated caries is the PUFA Index which records the severity of dental caries with pulp involvement (P), ulcer due to trauma from the tooth (U), fistula (F) and abscess (A). This study aims to determine the PUFA Index criteria for pregnant women in Bandung Puter Health Center. Methods: Descriptive research with survey and sampling methods carried out by simple random sampling technique. The number of samples of the study were 96 pregnant women who came to have a pregnancy check up at the Bandung Puter Health Center. Data obtained by clinical examination of the oral cavity of pregnant women and recorded on the examination form for the PUFA Index then processed and presented in table form. Result: A total of 90.95% of the results showed subjects with component P, as many as 6.38 components of U, as much as 2.12% of component F, and as many as 0.53 components of A. Conclusion: The majority of pregnant women in Puter Health Center had a PUFA index with bad category.Keywords: PUFA index, untreated caries, pregnant women.
Penatalaksanaan kasus denture stomatitisManagement of denture stomatitis case Erna Herawati; Dwi Novani
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 29, No 3 (2017): Desember
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (510.661 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v29i3.15945

Abstract

Pendahuluan: Denture stomatitis adalah inflamasi mukosa mulut yang berkontak dengan permukaan anatomis geligi tiruan. Denture stomatitis umumnya terjadi pada daerah palatal, gambaran klinisnya berupa macula eritomatous atau granular. Beberapa faktor yang dapat menyebabkan denture stomatitis adalah trauma gigi tiruan yang longgar yang dapat juga disertai adanya invasi mikroba terutama Candida spp. Tujuan laporan kasus adalah membahas mengenai penatalaksanaan denture stomatitis pada seorang wanita berusia 49 tahun yang menggunakan gigi tiruan yang longgar dan mempunyai keluhan rasa sakit pada saat mengunyah. Laporan Kasus: Hasil pemeriksaan visual ekstra dan intra oral dengan menggunakan alat dasar dan cahaya dental unit ditemukan terdapat nodula disertai ulser pada linggir lingual rahang bawah premolar kiri. Tatalaksana pada kasus yang menghilangkan iritan yaitu mengurangi landasan gigi tiruan yang menekan lesi tersebut dan mengurangi waktu penggunaan gigi tiruan yang sudah longgar, serta aplikasi triamcinolon 0.1% pada lesi ulserasi. Lesi ulserasi sembuh dalam waktu 1 minggu dan nodula mengecil dalam waktu satu bulan. Tahap selanjutnya, dibuatkan gigi tiruan yang baru. Simpulan: Penatalaksanaan kasus denture stomatitis dapat dilakukan dengan cara menghilangkan iritan dan pemberian obat anti inflamasi.Kata kunci: Denture stomatitis, nodula, ulser. ABSTRACTIntroduction: Denture stomatitis is inflammation of the oral mucosa in contact with the anatomical denture surface. Denture stomatitis generally occurs in the palatal area, and the clinical feature is an erythomatous or granular macula. Some factors that can cause denture stomatitis are loose denture trauma which can also be accompanied by microbial invasion, especially Candida sp. The purpose of this case report was to discuss the management of denture stomatitis in a 49-years-old woman who used loose dentures with complaints of pain when chewing. Case Report: The results of extra and intraoral visual examination using a basic instrument and dental unit light were found to have nodules accompanied by ulcers on the lingual margin of the left mandibular premolar. Management of cases that eliminate irritants was aimed to reduce the denture base which suppresses the lesion and reduces the time of loose denture usage, with the application of Triamcinolone acetonide 0.1% to ulcerated lesions. Ulcerated lesions were recovering within one week, and the nodules were shrinking within one month. The next treatment plan was making a new denture. Conclusion: Management of denture stomatitis case can be performed by removing irritants and administration of anti-inflammatory medication.Keywords: Denture stomatitis, nodules, ulcer.
Kemajuan perawatan ortodontik dengan sekrup ekspansi rahang atas pada crowding ringanOrthodontic treatment progress of mild crowding with maxillary expansion screws Ester Vania; Yuliawati Zenab; Iwa Rahmat Sunaryo
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 28, No 2 (2016): Agustus
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (355.619 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v28i2.19796

Abstract

Pendahuluan: Perbaikan susunan gigi geligi dan oklusi dapat dilakukan dengan perawatan ortodonti. sifat kooperatif pasien sangat berpengaruh dalam kemajuan perawatan dan memerlukan waktu yang panjang. Tujuan penelitian adalah mengetahui kemajuan perawatan pasien dengan sekrup ekspansi rahang atas pada alat ortodonti lepasan di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran. Metode: Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling dengan kriteria yang ditentukan, sebanyak 20 model studi crowding ringan yang dirawat menggunakan sekrup ekspansi rahang atas pada alat ortodonti lepasan. Hasil: kemajuan perawatan dengan mengaktivasi sekrup ekspansi secara rutin menunjukan terdapat pertambahan lebar lengkung gigi (LLG) serta jarak gigi 14-24 sebesar 49,1% (bermakna) dan 16-26 sebesar 33,8% (bermakna). Simpulan: Kemajuan perawatan dapat terjadi setelah aktivasi sekrup ekspansi sejumlah 9-10 kali, dimana jumlah aktivasi dan interval hari sebesar 49,1% dan 33,8% sehingga diperoleh ruang untuk memperbaiki susunan gigi pada pasien dengan crowding ringan.Kata kunci: sekrup ekspansi rahang atas, crowding ringan. ABSTRACTIntroduction: Improvement of the tooth and occlusion arrangement can be performed with orthodontic treatment. Cooperativeness of patients will be very influential in the treatment progress which requires a long time. The study was aimed to determine the development of a treatment with maxillary expansion screws on removable orthodontic appliances at Dental Hospital of Faculty of Dentistry Universitas Padjadjaran. Methods: The research was descriptive. The sampling technique was purposive sampling with the specified criteria, as much as 20 study models of mild crowding were treated using maxillary expansion screws in the removable orthodontic appliance. Results: The treatment progress by activating expansion screws continuously showed that there was an increase in the dental arch width and a distance of tooth number 14 – 24 was 49.1% (significant), and a distance of tooth number 16 – 26 of 33.8% (significant). Conclusion: Treatment progress can occurred after activation of expansion screws 9-10 times, where the number of activations and interval days was 49.1% and 33.8% so that space was obtained to improve the tooth arrangement in patients with mild crowding.Keywords: Maxillary expansion screw, mild crowding.
Perbandingan berkumur larutan ekstrak kulit buah manggis dan Enkasari® terhadap penurunan indeks plakComparison of gargling solution of mangosteen pericarp extract and Enkasari® in decreasing plaque index Annisa Rizky Pratiwi; Ina Hendiani; Indra Mustika Setia Pribadi
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 28, No 3 (2016): Desember
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (316.306 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v28i3.18696

Abstract

Pendahuluan: Plak terdiri dari berbagai macam bakteri. Plak dapat dikendalikan salah satunya dengan cara kimiawi, melalui penggunaan obat kumur. Salah satu obat kumur herbal yang sudah teruji klinis dan tersedia di pasaran adalah Enkasari®. Enkasari® memiliki kandungan utama daun sirih. Ekstrak kulit manggis telah teruji dapat berperan dalam menghambat pertumbuhan bakteri dan berpotensi dijadikan larutan kumur. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan pengaruh dan perbedaan berkumur larutan ekstrak kulit buah manggis konsentrasi 50% dan Enkasari® terhadap penurunan indeks plak. Metode: Penelitian yang digunakan adalah eksperimental semu dengan desain cross-over dan pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Penelitian dilakukan pada 32 orang mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran angkatan 2010. Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Padjadjaran. Pengukuran indeks plak gigi dilakukan sebelum dan sesudah berkumur larutan ekstrak kulit buah manggis dan Enkasari® selama 2 hari tanpa oral hygiene. Pengolahan data menggunakan uji t berpasangan dan uji t independen. Hasil: Penelitian menunjukan bahwa kedua larutan sama-sama mempunyai pengaruh terhadap penurunan indeks plak. Subjek yang berkumur larutan ekstrak kulit buah manggis 50%, penurunan indeks plaknya lebih besar daripada subjek penelitian yang berkumur Enkasari®. Hasil uji t independen menunjukan bahwa nilai signifikasi (0,045) dengan p<0,05. Simpulan: Terdapat pengaruh berkumur larutan ekstrak kulit buah manggis 50% dan Enkasari® terhadap penurunan indeks plak serta terdapat perbedaan penurunan nilai indeks plak yang signifikan antara berkumur larutan ekstrak kulit buah manggis 50% dan Enkasari®.Kata kunci: Kulit buah manggis, plak gigi, indeks plak gigi. ABSTRACTIntroduction: Plaque consists of various types of bacteria. Plaque can be controlled one of them by chemical means, through the use of mouthwash. One of the herbal mouthwashes that have been clinically tested and available on the market is Enkasari®. Enkasari® has the main content of betel leaf. Mangosteen peel extract has been tested to play a role in inhibiting bacterial growth and potentially being used as a mouth rinse. The purpose of this study was to compare the effects and differences of gargling solution of 50% mangosteen pericarp extract and Enkasari® on the reduction of plaque index. Methods: The research used was quasi-experimental with cross-over design and sampling using purposive sampling. The study was conducted on 32 students of the Faculty of Dentistry, Padjadjaran University, class of 2010. The study was conducted at the Dental and Oral Hospital of Padjadjaran University. Measurement of dental plaque index was done before and after gargling the solution of mangosteen rind extract and Enkasari® for 2 days without oral hygiene. Data processing uses paired t test and independent t test. Results: Research shows that both solutions have an effect on the decrease in plaque index. Subjects who rinsed the solution of mangosteen pericarp 50%, the decrease in plaque index was greater than the research subjects who rinsed Enkasari®. The independent t test results showed that the significance value (0.045) with p < 0.05. Conclusion: There is an effect of gargling 50% mangosteen pericarp and Enkasari® rind extract on decreasing plaque index and there is a significant difference in significant plaque index values between gargling 50% mangosteen pericarp extract and Enkasari® rinse.Keywords: Mangosteen pericarp, dental plaque, dental plaque index.

Page 10 of 49 | Total Record : 483