cover
Contact Name
Cecilia Soeriawidjaja
Contact Email
cecilia.soeriawidjaja@unpad.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.fkg@unpad.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran
ISSN : 08546002     EISSN : 25496514     DOI : -
Core Subject : Health,
Bidang cakupan Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran adalah semua bidang ilmu kedokteran gigi, yaitu biologi oral; ilmu dan teknologi material gigi; bedah mulut dan maksilofasial; pedodonsia; ilmu kesehatan gigi masyarakat, epidemiologi, dan ilmu kedokteran gigi pencegahan; konservasi gigi, endodontik, dan kedokteran gigi operatif; periodonsia; prostodonsia; ortodonsia; ilmu penyakit mulut; radiologi kedokteran gigi dan maksilofasial; serta perkembangan dan ilmu kedokteran gigi dari pendekatan ilmu lainnya.
Arjuna Subject : -
Articles 483 Documents
Kualitas hidup pasien dengan inflamasi mukosa mulut (Stomatitis Aftosa Rekuren) di RSGM FKG UnpadQuality of life of patients with oral mucosal inflammation (Recurrent Aphthous Stomatitis) at Dental Hospital of Universitas Padjadjaran Noviana, Lena; Kintawati, Silvi; Susilawati, Sri
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 30, No 1 (2018): April
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (363.065 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v30i1.18191

Abstract

Pendahuluan: Stomatitis Aftosa Rekuren (SAR) dapat berdampak pada fungsi pengunyahan, penelanan dan bicara, sehingga akan mempengaruhi status gizi serta kualitas hidup. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran kualitas hidup pasien dengan inflamasi mukosa mulut (SAR) di RSGM FKG Unpad. Metode: Jenis penelitian yang digunakan deskriptif dengan jumlah responden 32 pasien inflamasi mukosa mulut (SAR) di RSGM FKG Unpad. Kuesioner yang diisi oleh responden diadaptasi dari WHO STEP wise Approach to Surveillance – Oral Health Module tahun 2001. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas hidup pasien dengan inflamasi mukosa mulut (SAR) di RSGM FKG Unpad adalah 43,8%, dengan rincian 33,6% untuk dimensi fungsi, 19,8% untuk dimensi psikologis, 21,9% untuk dimensi sosial, dan 100% untuk dimensi nyeri. Simpulan: Kualitas hidup pasien dengan inflamasi mukosa mulut (SAR) di RSGM FKG Unpad cukup berdampak pada dimensi psikologis, kurang berdampak pada dimensi sosial dan sangat berdampak. pada dimensi nyeri. ABSTRACTIntroduction: Recurrent Aphthous Stomatitis (RAS) will impact on function of mastication, swallowing and speech, so it will affect the nutritional status and quality of life. The purpose of this research was to find out the quality of life patients with oral mucosal inflammation (RAS) in Dental Hospital at Faculty of Dentistry Padjadjaran University. Methods: This research used descriptive methods with respondent of 32 patients oral mucosal inflammation (RAS) in Dental Hospital at Faculty of Dentistry Padjadjaran University. Questionnaire adapted from WHO STEPwise Approach to Surveillance – Oral Health Module 2001 was filled out by respondent. Results: The result of this study indicate that the quality of life in patients oral mucosal inflammation (RAS) in Dental Hospital at Faculty of Dentistry Padjadjaran University is 43,8%, consisted of 33,6% for dimension of function, 19,8% for dimension of psychological, 21,9% for dimension of social, and 100% for dimension of pain. Conclusion: The conclusion of this study showed quality of life patients oral mucosal inflammation (RAS) in Dental Hospital at Faculty of Dentistry Padjadjaran University was in rather impact categorise.Keywords: Oral mucosal inflammation, quality of life, recurrent aphthous stomatitis.
Perbandingan efektivitas berbagai obat kumur terhadap kadar Imunoglobulin A pada saliva penderita kariesComparison of mouthwashes effectiveness to the level of salivary immunoglobulin A in caries patients Dewi, Siti Rusdiana Puspa; Lutfi, Abu Bakar; Veronita, Veronita; Amarel, Fahma Alfarizqy; Indira, Tissa; Harahap, Debby Handayani; Theodorus, Theodorus; Sujatmiko, Billy
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 30, No 2 (2018): Agustus
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (366.893 KB) | DOI: 10.24198/j ked gi unpad.v30i2.17063

Abstract

Pendahuluan: Berbagai obat kumur banyak ditemukan di pasaran diantaranya klorheksidin, povidon iodin, cethylpiridinium chloride (CPC), dan oxygenating agent yang telah terbukti memiliki sifat antibakteri. Di dalam rongga mulut, Imunoglobulin A (IgA) pada saliva berfungsi sebagai pertahanan lokal melawan patogen mulut, sehingga mampu mencegah perkembangan karies. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui perbandingan efektivitas berbagai obat kumur terhadap kadar Imunoglobulin A pada saliva penderita karies. Metode: Penelitian yang dilakukan penelitian Randomized controlled trial (Uji klinik acak berpembanding), paralel dalam bentuk single blind. Populasi dalam penelitian ini adalah 100 mahasiswa Program Studi Kedokteran Gigi Universitas Sriwijaya yang menderita karies. Responden dipilih berdasarkan kriteria akan dibagi menjadi 5 kelompok secara acak, yaitu kelompok 1 berkumur dengan akuades (sebagai kelompok kontrol), kelompok 2 berkumur menggunakan klorheksidin 0,2%, kelompok 3 berkumur dengan povidon iodin 1%, kelompok 4 berkumur dengan cetylpyridinium chloride 0,05%, dan kelompok 5 berkumur dengan dengan oxygenating agent 0,4%. Data dianalisa dengan uji t berpasangan dan uji t tidak berpasangan. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan kadar IgA tertinggi adalah pada kelompok yang berkumur dengan CPC, diikuti dengan berkumur klorheksidin, povidon iodin, dan oxigenating agent. Simpulan: Hal ini dapat disimpulkan bahwa berkumur dengan klorheksidin, povidon iodin, cethylpiridinium chloride, dan oxygenating agent dapat meningkatkan kadar IgA pada saliva penderita karies. ABSTRACTIntroduction: Various mouthwashes are found in the markets including chlorhexidine, povidone iodine, cethylpiridinium chloride (CPC), and oxygenating agent that have been shown to have antibacterial properties. In the oral cavity, immunoglobulin A (IgA) in saliva serves as local defense againts oral pathogents, thus preventing caries development. The aim of this study was to know the comparison of various mouthwashes to the level of salivary Ig A in caries patients. Methods: This study was randomized controlled trial, paralleled, in the form of single blind. The population of this study was 100 students of Dentistry Study Program of Sriwijaya University who suffer from caries. Respondents were divided into 5 groups, group 1 was gargling with aquadest (control group), group 2 with 0.2% chlorhexidine, group 3 with 1% povidone iodine, group 4 with 0.05% CPC, and group 5 with 0.4% oxygenating agent. Data were analyzed by paired t test and independent t test. Results: The results showed that the highest IgA level was gargling with CPC, followed by gargling with chlorhexidine, povidone iodine, and oxygenating agent. Conclusion: It can be conclude that chlorhexidine, povidone iodine, cethylpiridinium chloride (CPC), and oxygenating agent are able to increase the level of salivary IgA in caries patients. Keywords: immunoglobulin A, caries, mouthwash.
Perbedaan status kebersihan gigi dan mulut pada siswa Pondok Pesantren Salafiyah Al-Majidiyah sebelum dan sesudah penyuluhanDifferences in oral hygiene status of Salafiyah Al-Majidiyah Islamic Boarding School students before and after oral health counselling Bunga Hasna Adilah; Riana Wardani; Cucu Zubaedah
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 30, No 2 (2018): Agustus
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (373.299 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v30i3.18501

Abstract

Pendahuluan: Kesehatan gigi dan mulut seseorang dapat dilihat dari status kebersihan gigi dan mulutnya. Status kebersihan gigi dan mulut dapat dinilai menggunakan Debris Index-Simplified (DI-S). Penyuluhan mengenai pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kemampuan seseorang dalam menjaga kebersihan rongga mulutnya. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui perbedaan status kebersihan gigi dan mulut pada siswa Pondok Pesantren Salafiyah Al-Majidiyah sebelum dan sesudah penyuluhan. Metode: Jenis penelitian adalah pra-eksperimen dengan rancangan one group pretest-posttest. Sampel penelitian adalah 48 responden yang berusia 12-15 tahun. Pemeriksaan DI-S pada responden sebelum dan sesudah penyuluhan dilakukan sebanyak tiga kali. Data yang didapatkan kemudian diuji menggunakan uji normalitas. Uji Wilcoxon dilakukan karena data berdistribusi tidak normal. Hasil: Perbedaan indeks debris yang signifikan (nilai p=0,00<0,05) pada siswa Pondok Pesantren Salafiyah Al-Majidiyah dengan penurunan nilai rata-rata dari 1,355 menjadi 0,5383 sesudah penyuluhan mengenai pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut sebanyak tiga kali. Simpulan: Terdapat perbedaan status kebersihan gigi dan mulut pada siswa Pondok Pesantren Salafiyah Al-Majidiyah menjadi lebih baik sesudah diberikan penyuluhan dibandingkan dengan sebelum diberikan penyuluhan.Kata kunci: Indeks debris, penyuluhan, siswa pondok pesantren, status kebersihan gigi dan mulut. ABSTRACTIntroduction: An individual’s oral health can be seen from their oral hygiene status. Oral hygiene status can be assessed using a Debris Index-Simplified (DI-S). Counselling regarding the maintenance of oral hygiene is one of the efforts to improve individual ability to maintain the oral hygiene. The purpose of the study was to determine the differences in the oral hygiene status of Salafiyah Al-Majidiyah Islamic Boarding School students before and after oral health counselling. Methods: The research was pre-experimental with one group pretest-posttest design. The study sample was as much as 48 respondents aged 12 - 15-years-old. The DI-S examination was conducted on respondents before and after three times oral health counselling. The data obtained was then tested using the normality test. The Wilcoxon test was also performed because the data were not normally distributed. Result: There was a significant difference in the debris index (p-value = 0.00 < 0.05) of Salafiyah Al-Majidiyah Islamic Boarding School students, with a decrease in the average value from 1.355 to 0.5383 after three times counselling of oral hygiene maintenance. Conclusion: There was a significant increase in oral hygiene status of Salafiyah Al-Majidiyah Islamic Boarding School students after being given oral health counselling.Keywords: Debris Index-Simplified (DI-S), oral health counselling, Islamic Boarding School students, oral hygiene status.
Efektivitas spray nanokolagen limbah sisik ikan mas (Cyprinus carpio) untuk mempercepat proses penyembuhan luka insisiEffectiveness of nano-collagen spray of goldfish (Cyprinus carpio) scales waste in accelerating the incision wound healing process Laras Ayu Pringgandini; Ghinna Yulia Indarti; Melinda Melinda; Morita Sari
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 30, No 2 (2018): Agustus
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (376.677 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v30i3.18529

Abstract

Pendahuluan: Pemanfaatan ikan yang hanya edible portion (dapat dimakan) dapat menyebabkan terdapatnya limbah yang dihasilkan dari proses pengolahannya. Limbah sisik ikan dapat digunakan sebagai sumber kolagen. Secara umum, kolagen telah banyak diproduksi dari sisik ikan, tetapi tidak dalam ukuran nanopartikel. Partikel-partikel berukuran nano akan lebih mudah diserap dan berdifusi di kulit daripada yang berukuran makro. Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai efektivitas nano kolagen limbah sisik ikan mas (Cyprinus carpio) untuk mempercepat waktu penyembuhan luka setelah luka insisi. Metode: Penelitian ini menggunakan true experimental laboratory dengan rancangan post-test only control-group design dengan 27 mencit jantan (Mus musculus) Swiss Webster. Perlakuan pada luka insisi dilakukan dengan penyemprotan menggunakan spray nanokolagen, spray povidone iodine, dan spray aquades. Penyembuhan luka diamati selama 7 hari setelah insisi. Hasil: Data yang diperoleh dianalisis menggunakan Uji One Way Anova, berdasarkan hasil analisis diperoleh nilai p=0,000 (p < 0,05). Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan lama penyembuhan luka insisi antara perlakuan spray povidone iodine, spray aquades, dan spray nanokolagen sisik ikan mas. Simpulan: Nano kolagen ekstrak sisik ikan mas dapat mempercepat waktu penyembuhan luka.Kata kunci: Luka insisi, nanokolagen, sisik ikan mas (Cyprinus carpio) ABSTRACTIntroduction: The use of edible portion fish has generated waste from the manufacturing process. Fish scales can be used as collagen sources. Collagen has been produced from fish scales generally, but not in the nanoparticle size. Nano-sized particles will be more easily absorbed and diffused in the skin than the macro-sized ones. The purpose of this study was to assess the effectiveness of nano-collagen goldfish (Cyprinus carpio) scales waste in accelerating the wound healing time after incision wounds. Methods: This study used a pure experimental laboratory with post-test only control group design towards as much as 27 Swiss-Webster male rats (Mus musculus). Treatment on incision wounds was carried out by spraying the nano-collagen, povidone iodine, and aquadest spray. The wound healing was observed for seven days after incision. Result: The data obtained were analysed using the one way ANOVA Test. Based on the results of the analysis obtained the p-value of 0.000 (p < 0.05). This result showed that there was a significant difference in the length of the incision wound healing between the treatment of povidone-iodine, aquadest, and nano-collagen spray fabricated from goldfish scales. Conclusion: Nano collagen extract of goldfish scales was able to accelerate the wound healing time.Keywords: Incision wounds, nano-collagen, goldfish scales (Cyprinus carpio).
Kesehatan gigi dan mulut terkait kualitas hidup anak usia 4-5 tahun di Desa CilayungOral health related to the quality of life of children aged 4 - 5-years-old in Cilayung Village Revina Nadya Elfarisi; Sri Susilawati; Anne Agustina Suwargiani
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 30, No 2 (2018): Agustus
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (355.065 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v30i3.18509

Abstract

Pendahuluan: Kesehatan gigi dan mulut anak usia 4-5 tahun penting untuk diperhatikan. Masalah kesehatan gigi dan mulut dapat menyebabkan rasa sakit dan tidak nyaman sehingga berdampak negatif pada kualitas hidup anak. Kesehatan gigi dan mulut terkait kualitas hidup anak usia 4-5 tahun diukur dengan menggunakan instrumen Early Childhood Oral Health Impact Scale (ECOHIS). Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan gambaran kesehatan gigi dan mulut terkait kualitas hidup anak usia 4-5 tahun di Desa Cilayung. Metode: Jenis penelitian deskriptif. Sampel penelitian adalah ibu yang mempunyai anak berusia 4-5 tahun yang terdaftar sebagai siswa TK Al-Iffah dan RA Rahayu di desa Cilayung dengan jumlah 50 orang yang diperoleh dengan teknik purposive sampling. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner Early Childhood Oral Health Impact Scale (ECOHIS) dan menilai masalah kesehatan gigi selama 3 bulan terakhir. Hasil: Masalah gigi dan mulut selama 3 bulan terakhir paling banyak yang dilaporkan oleh orang tua adalah Early Childhood Caries (ECC). Simpulan: Kesehatan gigi dan mulut cukup berdampak pada kualitas hidup anak usia 4-5 tahun di Desa Cilayung.Kata kunci: Anak usia 4-5 tahun, ECOHIS, kesehatan gigi dan mulut, kualitas hidup. ABSTRACTIntroduction: The oral health of children aged 4 - 5-years-old is very important issues. Oral health problems can cause pain and discomfort that cause a negative impact on the children’s quality of life. The purpose of this study was to determine the description of the oral health related to the quality of life of children aged 4 - 5-years-old in Cilayung Village. Methods: This research was a descriptive research. The research sample was mothers with children aged 4 - 5-years-old who were registered as Al-Iffah Kindergarten and Rahayu Islamic Kindergarten students of Cilayung Village, with the total of 50 people, which obtained by purposive sampling technique. Data was collected using the Early Childhood Oral Impact Scale (ECOHIS) questionnaire by assessing the children’s oral health problems for the last 3 months. Result: The most frequent oral problems in the last 3 months reported were Early Childhood Caries (ECC). Conclusion: Oral health problems quite affected the quality of life of children aged 4 – 5-years-old in Cilayung Village.Keywords: 4 - 5-years-old children, oral health related quality of life, ECOHIS.
CBCT sebagai penunjang diagnosis kista dentigerous gigi supernumerary anterior rahang atasCBCT as a supporting tool for diagnosis determination of maxillary anterior supernumerary dentigerous cysts Novi Kurniati; Ria Noerianingsih Firman
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 30, No 2 (2018): Agustus
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (354 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v30i3.18530

Abstract

Pendahuluan: Kista dentigerous atau kista follikular adalah kista odontogenik jinak yang tumbuh lambat akibat kelainan perkembangan epitel email pembentuk gigi. Kebanyakan kista dentigerous berhubungan dengan gigi molar ketiga mandibula, tetapi jarang melibatkan impaksi gigi supernumerary anterior rahang atas, sehingga pada tulisan ini akan menganalisis kista dentigerous akibat impaksi gigi supernumerari anterior rahang menggunakan CBCT terhadap seorang laki-laki berusia 50 tahun. Laporan Kasus: Keluhan berupa pembengkakan pada cuping hidung dan gusi anterior rahang atas disertai keluarnya darah dan cairan menyerupai nanah. Hasil CBCT menunjukan gambaran lesi radiolusen berbatas radioopak meluas di daerah rahang atas hingga sinus maksilaris dextra dan sinistra berbentuk irreguler disertai gambaran radioopak pada bagian tengah lesi (menyerupai gigi supernumerary). Suspek radiologis adalah kista dentigerous karena impaksi gigi supernumerary anterior rahang atas disertai penebalan sinus maksilaris sinistra. CBCT menawarkan pendekatan alternatif yang menjanjikan karena menyediakan gambar sub-milimeter dengan resolusi kualitas diagnostik yang tinggi, waktu pemindaian singkat dan mengurangi dosis radiasi. Simpulan: CBCT terbukti akurat sebagai penunjang diagnosis kista dentigerous gigi supernumerary anterior rahang atas.Kata kunci: CBCT, kista dentigerous, impaksi, gigi supernumerary, anterior. ABSTRACTIntroduction: Dentigerous cysts or follicular cysts are benign odontogenic cysts that grow slowly due to tooth-forming enamel epithelial developmental abnormalities. Most dentigerous cysts are associated with mandibular third molars, but rarely involve impaction of the maxillary anterior supernumerary teeth, so in this paper we will analyze dentigerous cysts due to impact of anterior jaw supernumerary teeth using CBCT on a 50-year-old man. Case Report: Complaints include swelling of the nostrils and anterior maxillary gums accompanied by blood and pus-like fluid. CBCT results show radiolucent lesions with well-defined radiopaque boundaries extending in the upper jaw region to the maxillary and left maxillary sinuses irregularly shaped with radiopaque features in the center of the lesion (resembling supernumerary teeth). Radiological suspicion is a dentigerous cyst caused by impaction of the maxillary anterior supernumerary teeth accompanied by thickening mucous of the left maxillary sinus. Conclusion: CBCT was proven to be accurate as a supporting tool for diagnosis determination of maxillary anterior supernumerary dentigerous cysts.Keywords: CBCT, dentigerous cyst, impaction, supernumerary teeth, anterior supernumerary teeth.
Perbedaan jumlah koloni Streptococcus mutans pada perokok kretek dan bukan perokokDifference between the number of Streptococcus mutans colonies in kretek smokers and non-smokers Intan Melani; Mieke Hemiawati Satari; Yuti Malinda
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 30, No 2 (2018): Agustus
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (402.003 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v30i3.18510

Abstract

Pendahuluan: Rokok kretek merupakan jenis rokok yang paling populer di Indonesia. Merokok dapat menyebabkan berbagai gangguan dalam rongga mulut, salah satunya yaitu karies. Streptococcus mutans merupakan salah satu bakteri yang berperan penting dalam proses terjadinya karies. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan jumlah koloni Streptococcus mutans pada perokok kretek dan bukan perokok. Metode: Penelitian deskriptif ini dilakukan dengan teknik pengambilan sampel consecutive sampling. Jumlah sampel yang diperoleh 20 orang yang terdiri dari 10 perokok kretek dan 10 bukan perokok. Bahan pemeriksaan berupa saliva diambil dari masing-masing sampel. Sampel saliva diencerkan, dieramkan dan diinokulasi pada media TYCSB. Sampel saliva kemudian diinkubasi pada 370C, secara fakultatif anaerob selama 48 jam. Koloni yang tumbuh dihitung menggunakan colony counter. Data dianalisis menggunakan t-test independen (α=0,05). Hasil: Rata-rata jumlah koloni Streptococcus mutans dari saliva perokok kretek sebesar 47,65 x 102 CFUs/ml sedangkan pada bukan perokok sebesar 11,1 x 102 CFUs/ml. Data statistik uji t independen mendapatkan nilai p<0,05 yang berarti terdapat perbedaan yang signifikan antara jumlah koloni Streptococcus mutans pada perokok kretek dan bukan perokok. Simpulan: Jumlah koloni Streptococcus mutans pada perokok kretek lebih tinggi dibandingkan bukan perokok.Kata kunci: Rokok kretek, bukan perokok, perokok kretek, Streptococcus mutans. ABSTRACTIntroduction: Kretek cigarettes are the most popular type of cigarette in Indonesia. Smoking can cause various oral health problems, one of them is caries. Streptococcus mutans is one of the essential bacteria in the process of caries. This study was aimed to determine the difference between the number of Streptococcus mutans colonies in kretek smokers and non-smokers. Methods: A descriptive study was carried out with the consecutive sampling technique. Samples obtained were as much as 20 people consisted of 10 kretek smokers and 10 non-smokers. Examination material was the saliva taken from each sample. The saliva were diluted, incubated, and inoculated on TYCSB media. Salivary samples were incubated at 37°C in facultative anaerob environment for 48 hours. The growing colonies were calculated using a colony counter. Data obtained were analysed using independent t-test (α = 0.05). Result: The average number of Streptococcus mutans colonies from kretek smoker saliva was 47.65 x 102 CFUs / ml, while in the non-smokers was 11.1 x 102 CFUs / ml. Independent t-test results were obtained the p-value < 0.05, which means that there was a significant difference between the number of Streptococcus mutans colonies in kretek smokers and non-smokers. Conclusion: The number of Streptococcus mutans colonies in kretek smokers saliva was higher than the non-smokers.Keywords: Kretek cigarettes, non-smokers, kretek smokers, Streptococcus mutans.
Penentuan diagnosis dalam perawatan saluran akar gigi 36 dengan radix entomolarisDiagnosis determination in treatment of root canal teeth 36 with radix entomolaris Risa Pratami; Myrna Nurlatifah Zakaria
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 30, No 2 (2018): Agustus
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (444.561 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v30i3.18531

Abstract

Pendahuluan: Radix entomolaris (RE) merupakan sebuah variasi anatomi normal gigi molar pertama rahang bawah yang mempunyai akar tambahan pada sisi lingual. Keberadaan RE seringkali tidak terlihat secara klinis, sehingga dapat mempengaruhi keberhasilan perawatan endodontik. Laporan kasus ini bertujuan untuk membahas mengenai penentuan diagnosis dan perawatan saluran akar gigi 36 yang memiliki radix entomolaris. Laporan Kasus: Laporan kasus ini membahas mengenai pemeriksaan serta diagnosis RE pada gigi molar pertama kiri rahang bawah melalui teknik modifikasi sudut horizontal radiografi (horizontal tube shifting) dan menerapkan hukum orifis untuk melokalisasi saluran akar gigi dengan RE. Deteksi, diagnosis, dan perawatan yang sesuai pada RE menjadi hal penting untuk mencapai keberhasilan perawatan. Beberapa teknik untuk mengetahui keberadaan RE antara lain dengan modifikasi sudut horizontal dari cone beam pada pemeriksaan radiografi. Pemahaman mengenai outline akses pulpa yang berbentuk kotak atau trapesium, meluas hingga aspek distal-lingual juga merupakan tanda khas untuk melokalisasi orifis dari akar ini. Simpulan: Penentuan diagnosis dengan teknik modifikasi sudut horizontal radiografi (horizontal tube shifting) sebagai diagnosis awal yang akurat akan mencegah komplikasi dan tertinggalnya saluran akar RE saat perawatan saluran akar.Kata kunci: Perawatan saluran akar, radix entomolaris, horizontal tube shifting. ABSTRACTIntroduction: Radix entomolaris (RE) is a normal anatomic variation of mandibular first molar with an additional root in lingual aspect. The existence of RE clinically affects endodontic treatment, therefore detection, diagnosis, and proper treatment of RE are important to achieve a successful treatment. Modification in horizontal angle of cone beam during dental radiography can be utilized to confirm this anatomic variation. Rectangular or trapezium outline form of cavity, extends to distal-lingual aspect, can be made to locate this root’s orifice. Meticulous examination, proper dental radiography technique, and accurate initial diagnosis will prevent the complications and missed canals of RE during root canal treatment which will lead to endodontic failures. Case Report: This case report discussed and reviewed the examination and diagnosis of radix entomolaris in permanent mandibular left first molar diagnosed through modification of radiography technique (horizontal tube shifting) and the application of orifice root map guidance to locate the additional root canal. Detection, diagnosis, and appropriate treatment of RE were essential for achieving a successful treatment. Some techniques to determine the existence of RE included modification of the horizontal angle of the cone beam on radiographic examination. An understanding of the pulp access outline that was square or trapezoidal, extending to the distal-lingual aspect was also a distinctive sign for localising the orifice from this radicular part. Conclusion: Determination of diagnosis by modifying the horizontal radiographic angle technique (horizontal tube shifting) as an accurate initial diagnosis will prevent complications and the loss of the RE root canal during root canal treatment.Keywords: Root canal treatment, radix entomolaris, horizontal tube shifting.
Analisis gambaran complex odontoma pada radiografi panoramikPanoramic radiograph analysis of complex odontoma Fitri Angraini Nasution; Suhardjo SItam
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 30, No 2 (2018): Agustus
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (441.447 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v30i3.18525

Abstract

Pendahuluan: Odontoma merupakan tumor odontogenik yang memiliki sifat klinis jinak. Odontoma terdiri dari dua jenis yaitu compound dan complex odontoma. Perbedaan diantara keduanya adalah compound odontoma berbentuk seperti struktur gigi, sedangkan complex odontoma tersusun atas massa enamel dan dentin yang tidak teratur dan tidak memiliki kemiripan anatomi. Tujuan laporan kasus untuk menganalisis gambaran radiograf panoramik pada kasus complex odontoma. Laporan kasus: Pasien perempuan berusia 24 tahun datang ke klinik Bedah Mulut RSUD Arifin Achmad Pekanbaru dengan keluhan pembengkakan pada rahang bawah bagian kiri. Pembengkakan tidak disertai rasa sakit. Hasil pemeriksaan radiograf panoramik menunjukkan lesi radioopak homogen, well-defined yang dikelilingi halo radiolucent. Suspek radiodiagnosis adalah complex odontoma yang berhubungan dengan impaksi gigi permanen molar. Radiograf panoramik dapat digunakan untuk menganalisis gambaran complex odontoma. Simpulan: Gambaran radiografi complex odontoma umumnya radioopak homogen yang dikelilingi halo radiolucent dengan batas jelas (well-defined, soft tissue capsule border).Kata kunci: Complex odontoma, impaksi molar, tumor odontogenik. ABSTRACTIntroduction: Odontomas are odontogenic tumour with benign clinical properties. Odontoma consists of two types, namely compound and complex odontoma. The difference between them is that the compound odontoma is shaped like a tooth structure, whereas complex odontoma is composed of an irregular mass of enamel and dentine with no anatomical resemblance. The purpose of this case report was to analyse the panoramic radiograph of complex odontoma cases. Case report: A 24-years-old female patient came to the Arifin Achmad Pekanbaru Oral Surgery Clinic with a complaint of swelling in the left mandibular. The swelling was not accompanied by pain. The panoramic radiograph result showed a homogeneous, well-defined radioopaque lesions surrounded by a halo radiolucent halo. Radiodiagnosis suspect was a complex odontoma associated with impaction of permanent molar teeth. Conclusion: Panoramic radiograph can be used to analyse complex odontoma images. Radiographic features of homogeneous complex odontoma are homogeneous radiopaque surrounded by halo radiolucent with a well-defined, soft tissue capsule border.Keywords: Complex odontoma, molar impaction, odontogenic tumour.
Perbandingan efektivitas berbagai obat kumur terhadap kadar Imunoglobulin A pada saliva penderita kariesComparison of mouthwashes effectiveness to the level of salivary immunoglobulin A in caries patients Siti Rusdiana Puspa Dewi; Abu Bakar Lutfi; Veronita Veronita; Fahma Alfarizqy Amarel; Tissa Indira; Debby Handayani Harahap; Theodorus Theodorus; Billy Sujatmiko
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 30, No 2 (2018): Agustus
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (366.893 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v30i2.17063

Abstract

Pendahuluan: Berbagai obat kumur banyak ditemukan di pasaran diantaranya klorheksidin, povidon iodin, cethylpiridinium chloride (CPC), dan oxygenating agent yang telah terbukti memiliki sifat antibakteri. Di dalam rongga mulut, Imunoglobulin A (IgA) pada saliva berfungsi sebagai pertahanan lokal melawan patogen mulut, sehingga mampu mencegah perkembangan karies. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui perbandingan efektivitas berbagai obat kumur terhadap kadar Imunoglobulin A pada saliva penderita karies. Metode: Penelitian yang dilakukan penelitian Randomized controlled trial (Uji klinik acak berpembanding), paralel dalam bentuk single blind. Populasi dalam penelitian ini adalah 100 mahasiswa Program Studi Kedokteran Gigi Universitas Sriwijaya yang menderita karies. Responden dipilih berdasarkan kriteria akan dibagi menjadi 5 kelompok secara acak, yaitu kelompok 1 berkumur dengan akuades (sebagai kelompok kontrol), kelompok 2 berkumur menggunakan klorheksidin 0,2%, kelompok 3 berkumur dengan povidon iodin 1%, kelompok 4 berkumur dengan cetylpyridinium chloride 0,05%, dan kelompok 5 berkumur dengan dengan oxygenating agent 0,4%. Data dianalisa dengan uji t berpasangan dan uji t tidak berpasangan. Hasil: Hasil uji t tidak berpasangan dilihat bahwa semua kelompok pengguna obat kumur efektif dalam meningkatkan kadar IgA pada saliva penderita karies secara signifikan (p< 0,05) dibandingkan dengan kelompok kontrol. Peningkatan kadar IgA tertinggi adalah pada kelompok yang berkumur dengan CPC, diikuti dengan berkumur klorheksidin, povidon iodin, dan  oxigenating agent. Simpulan: Obat kumur klorheksidin, povidon iodin, cethylpiridinium chloride, dan oxygenating agent efektif dapat meningkatkan kadar IgA pada saliva penderita karies.Kata kunci: Imunoglobulin A, karies, obat kumur. ABSTRACTIntroduction: Various mouthwashes are circulating in the markets including chlorhexidine, povidone iodine, cethylpiridinium chloride (CPC), and oxygenating agent that have been shown to have antibacterial properties. In the oral cavity, salivary immunoglobulin A (IgA) serves as local defense againts oral pathogents, thus preventing caries development. This study was aimed to compared various mouthwashes on the level of salivary IgA in caries patients. Methods: This study was randomized controlled trial, paralleled in the form of single blind. Population of this study was as much as 100 students of Dentistry Study Program of Sriwijaya University with dental caries. Respondents were divided into 5 groups; group 1 was gargled with aquadest (control group), group 2 with 0.2% chlorhexidine, group 3 with 1% povidone iodine, group 4 with 0.05% CPC, and group 5 with 0.4% oxygenating agent. Data were analyzed by the paired t-test and independent t-test. Result: The results of unpaired t-test showed that all mouthwashes were effective in increasing the IgA levels of caries patients significantly (p < 0.05) compared to the control group. The highest IgA level increase was was found in the CPC group, followed by chlorhexidine, povidone iodine, and oxygenating agent. Conclusion: Chlorhexidine, povidone iodine, cethylpiridinium chloride (CPC), and oxygenating agent contained mouthwashes were able to increase the salivary IgA level of caries patients. Keywords: Immunoglobulin A, caries, mouthwash.

Page 8 of 49 | Total Record : 483