cover
Contact Name
Cecilia Soeriawidjaja
Contact Email
cecilia.soeriawidjaja@unpad.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.fkg@unpad.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran
ISSN : 08546002     EISSN : 25496514     DOI : -
Core Subject : Health,
Bidang cakupan Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran adalah semua bidang ilmu kedokteran gigi, yaitu biologi oral; ilmu dan teknologi material gigi; bedah mulut dan maksilofasial; pedodonsia; ilmu kesehatan gigi masyarakat, epidemiologi, dan ilmu kedokteran gigi pencegahan; konservasi gigi, endodontik, dan kedokteran gigi operatif; periodonsia; prostodonsia; ortodonsia; ilmu penyakit mulut; radiologi kedokteran gigi dan maksilofasial; serta perkembangan dan ilmu kedokteran gigi dari pendekatan ilmu lainnya.
Arjuna Subject : -
Articles 483 Documents
Perbedaan kebersihan sepertiga apikal saluran akar yang diirigasi sodium hipoklorit 2,5% dengan teknik non agitasi dan agitasi manual dinamikDifferences of one-third radicular apical cleanliness irrigated with non-agitation and manual dynamic agitation technique using 2,5% sodium hypochlorite Irene Mariani Nurisawati; Anna Muryani; Denny Nurdin
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 29, No 3 (2017): Desember
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (602.852 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v29i3.15948

Abstract

Pendahuluan: Teknik agitasi manual dinamik adalah sebuah metode agitasi menggunakan gutta percha yang dapat membantu irigan untuk mengalir lebih jauh ke bagian apikal saluran akar sehingga pembersihan saluran akar lebih baik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kebersihan sepertiga apikal saluran akar yang diirigasi sodium hipoklorit 2,5% antara teknik non agitasi dan teknik agitasi manual dinamik. Metode: Jenis penelitian yang dilakukan uji eksperimental semu. Sampel terdiri 30 gigi insisif sentral rahang atas terbagi 2 kelompok yaitu kelompok non agitasi (A) dan agitasi manual dinamik (B). Pada kelompok (B), gutta percha digerakkan dengan gerakan dorong dan tarik sedalam panjang kerja sebanyak 200 kali dengan total irigasi. Semua sampel diirigasi menggunakan sodium hipoklorit 2,5% sebanyak 18 ml. Sampel difoto menggunakan mikroskop stereo dengan pembesaran 16 kali. Foto sampel dinilai dengan teknik skor Wu & Wesselink lalu diuji menggunakan uji t dua sampel bebas. Hasil: Rata-rata nilai debris kelompok non agitasi adalah 0,121 dan agitasi manual dinamik 0,055, nilai signifikansi 0,002 (α=0,05). Simpulan: Terdapat perbedaan signifikan antara irigasi dengan menggunakan teknik non agitasi dan agitasi manual dinamik.Kata kunci: Agitasi manual dinamik, teknik non-agitasi, sodium hipoklorit 2,5%. ABSTRACTIntroduction: Dynamic manual agitation technique is an agitation method using the gutta-percha that able to help irrigants to flow further into the apical part of the radicular canal thus makes the root canal cleansing better. The purpose of this study was to determine the difference of radicular one-third apical hygiene irrigated with non-agitation and manual dynamic agitation technique using 2,5% sodium hypochlorite. Methods: The research type was quasi-experimental. The sample consisted of 30 maxillary central incisors divided into two groups, namely the non-agitation group (A) and dynamic manual agitation (B). In group (B), gutta-percha was delivered with a total of 200 push-pull strokes. All samples were irrigated using 18 ml of 18% sodium hypochlorite. Samples were photographed using a stereo microscope with a magnification of 16 times. Photographs of samples were assessed with Wu & Wesselink score techniques then tested using the two free samples t-test. Result: The average debris value of the non-agitation group was 0.121, and dynamic manual agitation was 0.055, with the significance value of 0.002 (α = 0.05). Conclusion: There was a significant difference between non-agitation and manual dynamic agitation irrigation technique.Keywords: Manual dynamic agitation technique, non-agitation technique, 2.5% sodium hypochlorite.
Perbedaan pH saliva sesudah konsumsi kismis Thompson seedless raisinDifferences in the salivary pH after consumption of Thompson seedless raisin Ayu Vidya Putri; Sri Tjahajawati; Ame Suciati Setiawan
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 30, No 2 (2018): Agustus
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (296.187 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v30i2.19795

Abstract

Pendahuluan: Kismis Thompson seedless raisin (Vitis vinifera sultanina) mengandung fruktosa dan glukosa yang dapat meningkatkan rangsang manis. Rangsang manis akan meningkatkan sekresi saliva yang berpengaruh pada pH saliva. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan pH saliva sebelum dan sesudah konsumsi kismis Thompson seedless raisin. Metode: Jenis penelitian eksperimental semu dengan analisis statistik uji Wilcoxon. Jumlah sampel 38 mahasiswa Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran berusia 18-24 tahun. Pengukuran pH saliva dilakukan sebelum dan sesudah mengonsumsi kismis Thompson seedless raisin. Hasil: Nilai rata-rata pH saliva sebelum mengonsumsi kismis Thompson seedless raisin adalah 6,87 dan sesudah mengonsumsi kismis Thompson seedless raisin adalah 7,20. Analisis statistik menunjukan peningkatan pH saliva yang  bermakna (p-value < 0,05) antara sebelum dan sesudah mengonsumsi kismis Thompson seedless raisin. Simpulan: Terdapat peningkatan nilai pH saliva sebelum dan sesudah konsumsi kismis Thompson seedless raisin.Kata kunci: Kismis Thompson seedless raisin, pH saliva. ABSTRACT Introduction: Thompson seedless raisin (Vitis vinifera sultanina) contains fructose and glucose which can increase sweet stimulation bud. Sweet stimulation will increase salivary secretion which affects the salivary pH. The purpose of this study was to determine differences in the salivary pH before and after consumption of Thompson seedless raisin. Methods: This research type was quasi-experimental research with Wilcoxon test statistical analysis. The number of samples was as much as 38 dentistry students from Universitas Padjadjaran aged 18 – 24-years-old. Measurement of the salivary pH was performed before and after consuming Thompson seedless raisin. Result: The average value of salivary pH before consuming Thompson seedless raisin was 6.87 and after consuming Thompson seedless raisin was 7.20. Statistical analysis showed a significant increase in the salivary pH (p-value < 0.05) before and after consuming Thompson seedless raisin. Conclusion: There was a significant increase in the salivary pH value before and after consumption of Thompson seedless raisin.Keywords : Thompson seedless raisins, salivary pH.
Perbedaan indeks DMF-T antara siswa SMP di perkotaan dan perdesaan usia 12-13 tahunThe difference in the DMF-T index between 12-13-years-old junior high school students in urban and rural areas Regina Faranitha; Sjazili Muhibat; Netty Suryanti
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 28, No 3 (2016): Desember
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (354.131 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v28i3.18697

Abstract

Pendahuluan: Prevalensi karies dari pemeriksaan DMF-T yang dialami oleh penduduk berumur lebih dari 12 tahun di Indonesia sebesar 4,6. Perubahan gaya hidup dipertimbangkan sebagai salah satu faktor risiko yang menyebabkan terjadinya perbedaan kejadian karies gigi di perkotaan dan perdesaan.Tujuan penelitian untuk mengetahui perbedaan indeks DMF-T antara siswa di SMP Negeri 1 Bandung yang berada di wilayah perkotaan dan SMP Negeri 1 Cimenyan di perdesaan usia 12-13 tahun. Metode: Penelitian yang dilakukan adalah deskriptif cross-sectional. Sampel penelitian diambil dengan teknik simple random sampling dan didapat sampel sebanyak 291 siswa, yaitu 158 siswa dari SMP Negeri 1 Bandung dan 133 siswa dari SMP Negeri 1 Cimenyan. Perbedaan indeks DMF-T antara siswa SMP Negeri 1 Bandung (perkotaan) dan SMP Negeri 1 Cimenyan (perdesaan) diketahui dengan menggunakan uji statistik chi kuadrat. Hasil: penelitian menunjukkan indeks DMF-T pada siswa di SMP Negeri 1 Bandung (perkotaan) sebesar 1,88, sedangkan indeks DMF-T pada siswa di SMP Negeri 1 Cimenyan (perdesaan) sebesar 4,10 dengan nilai p yang didapatkan adalah < 0,05. Simpulan: Terdapat perbedaan yang signifikan antara indeks DMF-T siswa di SMP Negeri 1 Bandung (perkotaan) dan SMP Negeri 1 Cimenyan (perdesaan) usia 12 – 13 tahun.Kata kunci: Indeks DMF-T, perkotaan, perdesaan. ABSTRACTIntroduction: Caries prevalence of DMF-T examination experienced by residents over 12 years of age in Indonesia is 4.6. Changes in lifestyle were considered as one of the risk factors that led to differences in the incidence of dental caries in urban and rural areas. The purpose of the study was to determine differences in DMF-T index between students in SMP Negeri 1 Bandung in urban areas and SMP Negeri 1 Cimenyan in rural areas. 12-13 years. Methods: The research was descriptive cross-sectional study. The research sample was taken by simple random sampling technique and obtained a sample of 291 students, namely 158 students from Bandung 1 Public Middle School and 133 students from Cimenyan 1 Public Middle School. The difference in DMF-T index between students of SMP Negeri 1 Bandung (urban) and SMP Negeri 1 Cimenyan (rural) is known by using chi squared statistical test. Results: The study showed the DMF-T index in students at SMP Negeri 1 Bandung (urban) was 1.88, while the DMF-T index in students at SMP Negeri 1 Cimenyan (rural) was 4.10 with the p value obtained was < 0,05. Conclusion: There is a significant difference between the DMF-T index of students in SMP Negeri 1 Bandung (urban) and SMP Negeri 1 Cimenyan (rural) aged 12-13 years.Keywords: DMF-T index, urban, rural.
Pola karies pada anak kembarDental caries patterns in twins Amilia Nabhila; Syarief Hidayat; Yetty Herdiyati
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 29, No 1 (2017): April
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (275.049 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v29i1.18606

Abstract

Pendahuluan: Karies merupakan penyakit gigi yang paling banyak dikeluhkan masyarakat. Etiologi karies multifaktorial, antara lain faktor genetik dan lingkungan. Penelitian dengan mempertimbangkan faktor tersebut dapat dilakukan pada anak kembar. Tujuan penelitian untuk memperoleh data mengenai pola karies pada anak kembar yaitu apakah terdapat kemiripan. Metode: Penelitian deskriptif dengan sampel penelitian menggunakan metode accidental sampling sebanyak 30 pasang anak kembar yang tinggal di Kota Bandung. Indikator yang digunakan berdasarkan ICDAS. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola karies pada anak kembar terdapat 13,33% memiliki pola karies memiliki kemiripan, 13,33% memiliki pola karies dengan banyak kemiripan, 33,33% memiliki pola karies dengan sedikit kemiripan, sedangkan sisanya 40% memiliki pola karies yang tidak mirip. Simpulan: Pola karies pada anak kembar lebih banyak tidak ada kemiripan dan sedikit kemiripan dibandingkan yang memiliki kemiripan dan banyak kemiripan.Kata kunci: Anak kembar, pola karies ABSTRACTIntroduction: Caries is a dental disease that most people complain about. Etiology of multifactorial caries, including genetic and environmental factors. Research by considering these factors can be done in twins. The research objective was to obtain data regarding caries patterns in twins, namely whether there were similarities. Methods: A descriptive study with a sample of research using the accidental sampling method as many as 30 pairs of twins living in the city of Bandung. Indicators used based on ICDAS. Result: The results showed that caries patterns in twins had 13.33% had a similar caries pattern, 13.33% had a caries pattern with many similarities, 33.33% had a caries pattern with little resemblance, while the remaining 40% had a pattern unequal caries. Conclusion: Caries patterns in twins have no more similarities and less similarities than those who have similarities and many similarities.Keywords: Twins, dental caries patterns.
Kualitas hidup pasien dengan inflamasi mukosa mulut stomatitis aftosa rekurenQuality of life of patients with oral mucosal inflammation recurrent aphthous stomatitis Lena Noviana; Silvi Kintawati; Sri Susilawati
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 30, No 1 (2018): April
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (363.065 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v30i1.18191

Abstract

Pendahuluan: Inflamasi mukosa mulut stomatitis aftosa rekuren (SAR) dapat berdampak pada fungsi pengunyahan, penelanan dan bicara, sehingga akan mempengaruhi status gizi serta kualitas hidup. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran kualitas hidup pasien dengan SAR di Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) Universitas Padjadjaran (Unpad). Metode: Jenis penelitian yang digunakan deskriptif dengan jumlah responden 32 pasien SAR di RSGM Unpad. Kuesioner yang diisi oleh responden diadaptasi dari WHO STEPWise Approach to Surveillance – Oral Health Module tahun 2001. Hasil: Kualitas hidup pasien dengan inflamasi mukosa mulut (SAR) di RSGM Unpad adalah 43,8%, dengan rincian 33,6% untuk dimensi fungsi, 19,8% untuk dimensi psikologis, 21,9% untuk dimensi sosial, dan 100% untuk dimensi nyeri. Simpulan: Kualitas hidup pasien dengan stomatitis aftosa rekuren (SAR) di RSGM Unpad cukup berdampak pada dimensi fungsi, kurang berdampak pada dimensi psikologis dan sosial dan sangat berdampak pada dimensi nyeri.Kata kunci: Inflamasi mukosa mulut, kualitas hidup, stomatitis aftosa rekuren. ABSTRACTIntroduction: Oral mucosal inflammation recurrent aphthous stomatitis (RAS) will affect the function of mastication, ingestion, and speech, thus also affecting the nutritional status and quality of life. The purpose of this research was to find out the quality of life patients with RAS in Universitas Padjadjaran Dental Hospital. Methods: This research used descriptive methods with respondents of 32 patients with RAS in Universitas Padjadjaran Dental Hospital. A questionnaire adapted from WHO STEPWise Approach to Surveillance–Oral Health Module 2001 was filled out by respondents. Result: The results indicated that the quality of life of patients with RAS in Universitas Padjadjaran Dental Hospital was 43.8%, consisted of 33.6% for functional dimension, 19.8% for psychological dimension, 21.9% for social dimension, and 100% for pain dimension. Conclusion: Quality of life of patients with recurrent aphthous stomatitis (RAS) in Universitas Padjadjaran Dental Hospital was quite affected in functional dimension, less affected in psychological dimension, and very affected in pain dimension.Keywords: Oral mucosal inflammation, quality of life, recurrent aphthous stomatitis.
Hubungan pengetahuan dengan sikap pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut siswa Pondok Pesantren Salafiyah Al-MajidiyahRelationship of knowledge and attitude in maintaining oral health of the Salafiyah Al-Majidiyah Islamic Boarding School students Aulia Bayu Fitri; Cucu Zubaedah; Riana Wardani
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 29, No 2 (2017): Agustus
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (394.133 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v29i2.18587

Abstract

Pendahuluan: Kesehatan gigi dan mulut merupakan salah satu tolak ukur dalam menilai kesehatan secara umum. Pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut harus diiringi dengan pengetahuan yang baik dan sikap yang tepat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara pengetahuan dengan sikap pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut siswa pesantren Salafiyah Al- Majidiyah. Metode: Penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelasi. Pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner. Hasil: Penelitian ini diperoleh nilai koefisien korelasi Spearman sebesar 0,91591 dengan pengujian hipotesis diperoleh nilai p sebesar 0,18155 atau p>0,05, menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan sikap pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut. Simpulan: Tidak terdapat hubungan antara pengetahuan dengan sikap pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut siswa Pesantren Salafiyah Al-Majidiyah.Kata kunci: Pengetahuan, sikap, pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut, pesantren. ABSTRACTIntroduction: Oral and dental health is one of the benchmarks in assessing general health. Maintenance of dental and oral health must be accompanied by good knowledge and the right attitude. The purpose of this study was to determine whether there was a relationship between knowledge and the attitude of maintaining dental and oral health of students of the Salafiyah Al-Majidiyah pesantren. Methods: The research used is descriptive correlation. Sampling using total sampling technique. Data was collected using a questionnaire. Results: This study obtained Spearman correlation coefficient value of 0.91591 with hypothesis testing obtained p value of 0.18155 or p> 0.05, indicating that there was no significant relationship between knowledge and dental and oral health maintenance attitudes. Conclusion: There is no relationship between knowledge and the attitude of maintaining dental and oral health of students of the Salafiyah Al-Majidiyah Islamic Boarding School.Keywords: Knowledge, attitude, oral health care, Islamic Boarding School.
Pengalaman karies dan kesehatan periodontal serta kebutuhan perawatan ibu hamilCaries experience, periodontal health, and oral treatment needs of pregnant women Anne Agustina Suwargiani; Indra Mustika Setia Pribadi; Wahyu Hidayat; Riana Wardani; Tadeus Arufan Jasrin; Cucu Zubaedah
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 30, No 1 (2018): April
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (281.191 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v30i1.16282

Abstract

Pendahuluan: Kesehatan gigi Ibu hamil  sangat perlu dijaga, untuk menghindarkan terjadinya infeksi pada gigi dan gusi. Upaya ini akan menghindarkan dari infeksi yang berisiko yang menyebabkan prematur dan kelahiran berat bayi lahir rendah. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengalaman karies dan kesehatan periodontal dan kebutuhan perawatan ibu hamil. Metode: Metode penelitian yang digunakan deskriptif. Populasi penelitian adalah ibu hamil yang datang ke Klinik Cantik Banjaran Bandung. Sampel penelitian yaitu ibu hamil yang bersedia menjadi subjek penelitian dan tidak mempunyai kelainan sistemik. Teknik pengambilan sampel adalah convinience sampling. Variabel penelitian pengalaman karies diukur dengan indeks DMFT, Kebutuhan perawatan karies adalah perhitungan kebutuhan perawatan berdasarkan penilaian persen kebutuhan perawatan dan kebutuhan perawatan periodontal diukur dengan indeks Community Periodontal Index and Treatment Needs (CPITN). Analisis data yang digunakan adalah distribusi frekuensi relatif. Hasil: Indeks DMFT ibu hamil 4,4 termasuk kriteria sangat rendah. Hasil CPITN yaitu periodontal sehat 0%; bleeding on probing (BOP), 43%; kalkulus, 53%; poket 4-5 mm, 3,3%; poket 6 mm, 0%. Kebutuhan perawatan gigi berlubang pada ibu hamil 30,9%. Kebutuhan perawatan jaringan periodontal diperlukan pada semua ibu hamil, berupa perbaikan oral hygiene 43%, perbaikan oral hygiene dan skeling 56%, Simpulan: Pengalaman karies ibu hamil pada kriteria sangat rendah, sedangkan kondisi jaringan periodontal ibu hamil semuanya memerlukan perawatan jaringan periodontal tetapi bukan perawatan periodontal kompleks.Kata kunci: Ibu hamil, indeks DMFT, indeks CPITN. ABSTRACTIntroduction: The oral health of pregnant women needs to be maintained to avoid infection of the teeth and gums. This effort will avoid dangerous infections that can cause premature and low birth weight babies. The purpose of this study was to determine the caries experience, periodontal health, and the oral treatment needs of pregnant women. Methods: The research method was descriptive. The study population was pregnant women who came to the Cantik Clinic of Banjaran, Bandung, whom willing to be the subject of research with no systemic abnormalities. The sampling technique was convenience sampling. The caries experience was measured by DMFT index. Caries treatment needs were the calculation of treatment needs based on the assessment of general and periodontal treatment needs to be measured by the Community Periodontal Index and Treatment Needs (CPITN) index. Data analysis used was the relative frequency distribution. Results: DMFT index of pregnant women was 4.4, included in the very low criteria. CPITN index measurement results were 0% healthy periodontal; 43% bleeding on probing (BOP); 53% calculus; 3.3% pocket of 4-5 mm; and 0% 6 mm pocket. General treatment needs of pregnant women mostly were tooth decay treatment (30.9%). Periodontal treatment needs were needed for all pregnant women, in the form of oral hygiene improvement only (43%), oral hygiene improvement and scaling (56%). Conclusion: The caries experience of pregnant women was very low, while the periodontal conditions require a non-complex periodontal treatment.Keywords: Pregnant women, DMFT Index, CPITN index.
Hubungan pengetahuan dan tindakan ibu terhadap indeks plak anak di Taman Kanak-Kanak Ibnu Akbar Kota PadangRelationship of the mother’s knowledge and practice towards the children’s plaque index in Ibnu Akbar Kindergarten of the city of Padang Ghina Guswan; Satria Yandi
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 29, No 3 (2017): Desember
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.432 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v29i3.13598

Abstract

Pendahuluan: Peran ibu terhadap usaha memelihara kebersihan gigi dan mulut anak sangat besar terutama pada anak usia kurang dari 7 tahun agar terbiasa hidup sehat. Perilaku orang tua terutama ibu dalam pemeliharaan kesehatan gigi berpengaruh terhadap perilaku anak. Faktor kebersihan mulut berpengaruh terhadap terjadinya permasalahan gigi dan mulut. Jika seseorang tidak menjaga kebersihan mulut, maka akan terbentuk plak pada gigi, yang merupakan salah satu faktor pemicu terjadinya karies. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan tindakan ibu terhadap kebersihan gigi dan mulut anak yang dilihat dari indeks plak pada Taman Kanak-Kanak (TK) Ibnu Akbar Kota Padang. Metode: Desain penelitian adalah cross sectional, populasi penelitian adalah ibu dan murid TK Ibnu Akbar Kota Padang, dan sampel diambil dengan menggunakan metode total sampling. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner pengetahuan dan tindakan. Analisa data univariat ditampilkan dengan tabel distribusi frekuensi dan analisa bivariat dengan menggunakan uji chi-square dengan derajat kemaknaan α=0,05. Hasil: Terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan indeks plak (p=0,006) dan antara tindakan dengan indeks plak (p=0,011) di TK Ibnu Akbar Kota Padang. Simpulan: Pengetahuan dan tindakan ibu dalam memelihara kesehatan gigi anak berpengaruh terhadap indeks plak anak.Kata kunci: Indeks plak, pengetahuan ibu, tindakan ibu. ABSTRACTIntroduction: Mother’s role for assuring their children’s oral health is substantial, especially in children less than 7-years-old, to live a healthy life. Parent’s behaviours, especially mother’s, concerning oral health care, affects the children’s behaviour. Poor oral health care will lead to plaque accumulation, which is one of the caries factors. The purpose of this study was to determine the relationship of the mother’s knowledge and practice towards the children’s plaque index in Ibnu Akbar Kindergarten of the city of Padang. Methods: Research design was cross-sectional; population was mothers and their children which were Ibnu Akbar Kindergarten students; sample was taken with a total sampling method. Instrument used was a questionnaire of knowledge and practice. A Univariate data analysis is presented with a frequency distribution table and bivariate analysis using the chi-square test with the significance of α=0.05. Results: There was a significant relationship between knowledge and plaque index (p=0.006), and between practice and plaque index (p=0.011) in Ibnu Akbar Kindergarten of the city of Padang. Conclusion: Mother’s knowledge and practice in oral health affected their children’s plaque index.Keywords: Plaque index, mothers’ knowledge, mother’s practice.
Perbedaan potensi antibakteri ekstrak metanol umbi sarang semut (Myrmecodia pendens Merr. & Perry) dan NaOCl terhadap Streptococcus mutans (ATCC 25175)The antibacterial potential differences between the methanolic extract of ant-plant (Myrmecodia pendens Merr. & Perry) tubers and NaOCl towards Streptococcus mutans (ATCC 25175) Eria Ariningtyas Apriyanti; Mieke Hemiawati Satari; Bremmy Laksono
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 28, No 2 (2016): Agustus
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (431.406 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v28i2.18704

Abstract

Pendahuluan: Streptococcus mutans merupakan organisme kariogenik utama. Antibakteri sintetik yang biasa digunakan adalah NaOCl. Sarang semut mengandung senyawa kimia yang dapat menghambat pertumbuhan Streptococcus mutans. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui daya hambat ekstrak metanol sarang semut (Myrmecodia pendans Merr. & Perry) dan NaOCl terhadap Streptococcus mutans serta perbedaan potensi antibakteri keduanya. Metode: Jenis penelitian adalah eksperimental laboratoris. Uji daya antibakteri dilakukan dengan menggunakan metode difusi agar. Media agar darah ditetesi 0,1 ml suspensi bakteri lalu dimasukkan ekstrak metanol sarang semut dengan konsentrasi 30%, 15%, 7,5%, 3,75%, 1,875% dan NaOCl dengan konsentrasi 5%, 2,5%, 1,25% diinkubasi pada suhu 37° C selama 24 jam dalam suasana fakultatif anaerob dan dilakukan replikasi tiga kali. Uji statistik menggunakan metode ANAVA dan Independent t-test. Hasil: Ekstrak metanol sarang semut konsentrasi 30% menghasilkan diameter zona hambat rata-rata 5,87 mm, sedangkan NaOCl 1,25% adalah 9,33 mm. Simpulan: Ekstrak metanol sarang semut dan NaOCl memiliki potensi daya hambat terhadap Streptococcus mutans, namun potensi antibakteri NaOCl lebih besar dibandingkan dengan ekstrak metanol sarang semut.Kata kunci: Antibakteri, ekstrak metanol, sarang semut, NaOCl, Streptococcus mutans. ABSTRACTIntroduction: Streptococcus mutans is the main cariogenic organism. The synthetic antibacterial commonly used is NaOCl. Ant nests contain chemical compounds that can inhibit the growth of Streptococcus mutans. The purpose of this study was to determine the inhibitory power of methanol extracts of ant nests (Myrmecodia pendans Merr. & Perry) and NaOCl against Streptococcus mutans and the differences in antibacterial potential both. Methods: This type of research is experimental laboratory. Antibacterial power test was carried out using agar diffusion method. Blood agar media was dripped with 0.1 ml of bacterial suspension and then inserted methanol extract of ant nests with a concentration of 30%, 15%, 7.5%, 3.75%, 1.875% and NaOCl with a concentration of 5%, 2.5%, 1, 25% was incubated at 37°C for 24 hours in a facultative anaerobic atmosphere and replicated three times. Statistical test using ANAVA method and Independent t-test. Result: Methanol extract of ant nest 30% resulted in an average inhibition zone diameter of 5.87 mm, while 1.25% NaOCl was 9.33 mm. Conclusion: Methanol extract of ant nests and NaOCl has potential inhibitory power against Streptococcus mutans, but the antibacterial potency of NaOCl is greater than that of methanol extracts of ant-plants.Keywords: Antibacterial, methanolic extract, ant-plants, NaOCl, Streptococcus mutans.
Hubungan frekuensi asupan minuman manis dengan akumulasi plak pada anakThe relationship between the frequency of sugar-sweetened beverage intake and plaque accumulation in children Savitri Savitri; Risti Saptarini Primarti; Meirina Gartika
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 29, No 2 (2017): Agustus
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (283.269 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v29i2.18553

Abstract

Pendahuluan: Derajat kesehatan gigi dan mulut dapat diukur berdasarkan akumulasi plak pada permukaan gigi. Faktor yang menyebabkan terbentuknya akumulasi plak adalah karbohidrat di makanan, salah satunya dalam bentuk minuman manis. Kandungan pemanis di dalam minuman terbagi menjadi dua jenis yaitu, pemanis alami dan buatan. Tujuan penelitian adalah mengetahui hubungan antara frekuensi asupan minuman manis dengan akumulasi plak pada anak. Metode: Jenis penelitian deskriptif dengan studi korelatif, subjek penelitian adalah anak berusia 8-10 tahun yang bersekolah di delapan sekolah dasar negeri Kecamatan Coblong, Bandung. Teknik pengambilan sampel menggunakan multistage random sampling. Pengambilan data menggunakan food record quistionnaire untuk diisi pada satu hari libur dan masuk sekolah, kemudian anak dilakukan pemeriksaan dengan indeks plak O’Leary. Data yang terkumpul, ditabulasi dan diuji dengan korelasi Pearson. Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa frekuensi rata-rata asupan minuman manis adalah dua dan akumulasi plak rata-rata adalah 81.17%. Hasil analisis hubungan frekuensi asupan minuman manis dengan akumulasi plak didapatkan korelasi koefisien (r) sebesar 0.364 dengan p=0.011 (p<0.05). Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara frekuensi asupan minuman manis dengan akumulasi plak.Kata kunci: Frekuensi, pemanis alami, pemanis buatan, akumulasi plak. ABSTRACTIntroduction: The degree of dental and oral health can be measured based on the accumulation of plaque on the surface of the tooth. Factors that cause the formation of plaque accumulation are carbohydrates in food, one of which is in the form of sugar-sweetend beverages. The sweetener content in drinks is divided into two types, natural and artificial sweeteners. The aim of the study was to determine the relationship between the frequency of intake of sugar-sweetend beverages and plaque accumulation in children. Methods: This type of research is descriptive with correlative studies, research subjects are children aged 8-10 years who attended eight public elementary schools in Coblong District, Bandung. The sampling technique uses multistage random sampling. Data collection uses a food record questionnaire to fill in one day off and go to school, then the child is examined by the O’Leary plaque index. Data collected, tabulated and tested with Pearson correlation. Results: Research shows that the average frequency of intake of sugar-sweetend beverages is two and the average plaque accumulation is 81.17%. The results of the analysis of the relationship between the frequency of intake of sugar-sweetend beverages and plaque accumulation obtained correlation coefficient (r) of 0.364 with p = 0.011 (p <0.05). Conclusion: There is a significant relationship between the frequency of intake of sugar-sweetend beverages and plaque accumulation.Keywords: Frequency, intake, natural sweetener, artificial sweetener, plaque accumulation.