cover
Contact Name
Cecilia Soeriawidjaja
Contact Email
cecilia.soeriawidjaja@unpad.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.fkg@unpad.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran
ISSN : 08546002     EISSN : 25496514     DOI : -
Core Subject : Health,
Bidang cakupan Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran adalah semua bidang ilmu kedokteran gigi, yaitu biologi oral; ilmu dan teknologi material gigi; bedah mulut dan maksilofasial; pedodonsia; ilmu kesehatan gigi masyarakat, epidemiologi, dan ilmu kedokteran gigi pencegahan; konservasi gigi, endodontik, dan kedokteran gigi operatif; periodonsia; prostodonsia; ortodonsia; ilmu penyakit mulut; radiologi kedokteran gigi dan maksilofasial; serta perkembangan dan ilmu kedokteran gigi dari pendekatan ilmu lainnya.
Arjuna Subject : -
Articles 488 Documents
Availability, type, brand, and price as preference of shade matching tools for dentists in Jakarta’s dental sector: a cross-sectional study Octarina, Octarina; Tirtania, Carinna; Maringka, Stella Maria Fidela; Rinanti, Astri; Razak, Fathilah Abdul
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 37, No 3 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v37i3.63476

Abstract

Introduction: Shade selection in aesthetic dental procedures remains a challenge in dentistry. This challenge arises due to the high complexity of natural tooth color. The use of a shade guide as a form of communication between dentists and dental technicians is highly subjective, leading to the emergence of digital methods that offer a higher level of accuracy and consistency. The purpose of this research is to assess the type, brand, and price as preference of shade matching tools for dentists in Jakarta’s dental sector. Methods: The survey was conducted as a descriptive observational study using cluster sampling through questionnaires and a review of shade matching product catalogs from 30 dental suppliers, 4 dental clinics, and 7 dental laboratories in Jakarta. Results: There is a variety in the price and availability of shade matching products sold by dental suppliers in Jakarta, with VITA branded products dominating the market, including VITAPAN Classical (25%), VITA Classical (15%), VITA 3D Master (12%), and Ivoclar Vivadent (12%). In both clinics and dental laboratories, all respondents reported using visual methods, with VITA Classical and VITA 3D Master being the most commonly used products. Conclusion: Shade matching products available from dental suppliers, as well as their use in clinics and laboratories in Jakarta, are predominantly based on visual methods, with VITA Classical and VITA 3D Master being the most preferred shade guides. Digital shade matching methods are rarely encountered, mainly due to product complexity, cost, distribution limitations, and lack of training.Ketersediaan, tipe, merk, dan harga sebagai preferensi alat pencocokan warna oleh dokter gigi di sektor kedokteran gigi jakarta: survei potong lintangPendahuluan: Pemilihan warna dalam prosedur estetika menjadi tantangan dalam kedokteran gigi. Tantangan ini muncul karena warna alami gigi memiliki kompleksitas yang tinggi. Penggunaan shade guide sebagai bentuk komunikasi antara dokter gigi maupun teknisi laboratorium bersifat sangat subjektif sehingga muncul metode digital yang menawarkan tingkat akurasi dan konsistensi yang lebih tinggi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi jenis, merek, dan harga sebagai preferensi alat pemilihan warna bagi dokter gigi di Jakarta. Metode: Survei dilakukan sebagai penelitian observasional deskriptif menggunakan sampling klaster dengan mengajukan pertanyaan serta penelahaan katalog produk shade matching pada 30 dental supplier, 4 klinik gigi, dan 7 laboratorium gigi yang ada di Jakarta. Hasil: Terdapat berbagai variasi dalam harga dan ketersediaan produk shade matching yang di jual dental supplier di Jakarta, dengan dominasi produk bermerek VITA, yaitu VITAPAN Classic (25%), VITA classical (15%), VITA 3D Master (12%) dan Ivoclar Vivadent (12%). Pada klinik dan laboratorium gigi didapatkan hasil bahwa seluruhnya menggunakan metode visual dengan produk yang paling banyak digunakan yaitu VITA Classical (27%) dan 3D Master (36%). Simpulan: Produk shade matching yang tersedia di dental supplier serta penggunaannya di klinik dan laboratorium Jakarta didominasi metode visual dengan VITA Classical dan 3D Master menjadi shade guide yang paling digemari. Metode pencocokan warna dengan metode digital jarang ditemui disebabkan kompleksitas produk, kendala harga, distribusi, dan kurangnya pelatihan. 
Tingkat kepedulian ibu dikaji dari pengetahuan dan perilaku ibu terhadap status kesehatan rongga mulut anak sindrom Down: studi cross sectional agustina, Bhintari ayu; Kuswandari, Sri; Supartinah, Al
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 37, No 3 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v37i3.60907

Abstract

Abstrak: Anak sindrom Down memiliki risiko tinggi terhadap kesehatan rongga mulut yang buruk. Kondisi ini dapat dipengaruhi oleh, gangguan motorik, gangguan kognitif dan kepeduluan ibu. Tujuan: Penelitian ini untuk mengetahui tingkat kepedulian ibu yang dapat dilihat berdasarkan  pengetahuan dan perilaku ibu terhadap status kesehatan rongga mulut anak Sindrom Down usia 6-12 tahun. Metode: Penelitian observasional dengan pendekatan cross sectional dilakukan pada 30 anak sindrom Down dan POTADS ( Persatuan Orang Tua Anak Down Sindrom) di Yogyakarta dan Kebumen. Kepedulian ibu berdasarkan tingkat pengetahuan dan perilaku Ibu. Pengetahuan dan perilaku ibu di ukur menggunakan kuesioner skala Guttman yang di kembangkan dari penelitian Arnela Nur. Status kesehatan rongga mulut anak diukur dengan gingival index (GI) dan patient hygiene perfomance indeks (PHP). Data dianalisis dengan uji correlation Sperman dan regresi linier berganda pada tingkat kepercayaan 95%. Hasil: menunjukkan hubungan bermakna antara perilaku ibu dengan GI (r=0,57; p<0,05), PHP (r=0,74; p<0,05) dan pengetahuan ibu dengan PHP (r=0,38; p<0,05) sedangkan pengetahuan dengan PHP (r=-0,20; p>0,05) tidak bermakna. Kesimpulan: Tingkat kepedulian ibu berdasarkan pengetahuan ibu menunjukkan hubungan yang lemah terhadap penurunan skor PHP dan tidak memiliki hubungan terhadap penurunan skor GI. Perilaku ibu memiliki hubungan terhadap penurunan skor GI dan PHP, semakin baik perilaku ibu maka akan menurunkan skor GI dan PHP. Kontribusi pengetahuan dan perilaku ibu terhadap GI memiliki nilai R2=0,39 dan Kontribusi pengetahuan dan perilaku ibu terhadap PHP memiliki nilai R2=0,67.
Kandidiasis oral yang dipicu penggunaan alat ortodonti lepasan: laporan kasus Yuliana, Yuliana; Nur'aeny, Nanan
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 37, No 2 (2025): Agustus 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v37i2.52900

Abstract

Pendahuluan: Kandidiasis oral adalah infeksi oportunistik paling umum yang mempengaruhi mukosa mulut. Beberapa faktor predisposisi yang dapat menyebabkan kandidiasis oral yaitu disfungsi saliva, oral hygiene yang buruk, kebersihan gigi tiruan yang buruk, terapi kortikosteroid topikal dan penyakit HIV/AIDS. Alat ortodonti lepasan adalah alat yang digunakan untuk koreksi maloklusi gigi yang bertujuan memperbaiki fungsi mengunyah, menelan, bernafas dan estetika wajah. Pemakaian alat ortodonti lepasan tanpa memperhatikan kebersihan rongga mulut akan memicu timbulnya kandidiasis oral. Laporan kasus ini bertujuan membahas mengenai kandidiasis oral yang dipicu penggunaan alat ortodonti lepasan. Laporan kasus: Seorang wanita berusia 21 tahun datang ke departemen ilmu penyakit mulut RSGM Unpad dengan keluhan timbul bercak putih pada bagian dalam bibir bawah sebelah kiri dan bagian dalam bibir atas kanan. Bercak ini timbul sejak 5 minggu yang lalu setelah pasien menggunakan alat  ortodonti lepasan. Bercak ini tidak terasa sakit ataupun nyeri. Pemberian suspensi nistatin 100.000 IU secara topikal selama seminggu cukup efektif untuk mengatasi infeksi, kemudian pasien dianjurkan untuk rutin membersihkan alat lepasan ortodonti sebelum dan setelah penggunaan. Simpulan: Penggunaan alat ortodonti lepasan apabila tidak dibersihkan dengan benar sebelum dan setelah penggunaan dapat menimbulkan kandidiasis oral.Oral candidiasis triggered by the use of removable orthodontic appliances: a case reportIntroduction: Oral candidiasis is the most common opportunistic infection affecting the oral mucosa. It may occur due to several predisposing factors, including salivary dysfunction, poor oral hygiene, poor denture hygiene, topical corticosteroid therapy, and HIV/AIDS. Removable orthodontic appliances are used to correct dental malocclusions and to improve chewing, swallowing, breathing, and facial aesthetics. However, using removable orthodontic appliances without maintaining good oral hygiene can trigger the emergence of oral candidiasis. This case report aims to present and discuss a case of oral candidiasis triggered by the use of removable orthodontic appliances. Case report: A 21-year-old woman presented to the Oral Medicine Department of RSGM Unpad, with complaints of white patches on the inner left lower lip and inner right upper lip. These lesions appeared approximately five weeks earlier, after the patient began using a removable orthodontic appliance. The patches were asymptomatic, causing no pain or discomfort. Topical administration of nystatin suspension (100,000 IU) for one week was quite effective in resolving the infection. The patient was advised to routinely clean the removable orthodontic appliance before and after use. Conclusion: Removable orthodontic appliances, if not cleaned properly before and after use, may lead to oral candidiasis.
Manifestasi dan Tatalaksana Xerostomia pada Pasien Penderita Systemic Lupus Erythematosus: Laporan kasus Nuryanti, Ana Fitri; Putri, Icha Try; Daling, Naufal Faturahman; Diorita, Fani
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 37, No 3 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v37i3.58840

Abstract

Pendahuluan: Systemic Lupus Erythematosus (SLE) adalah penyakit autoimun kronis yang memiliki manifestasi oral berupa xerostomia (mulut kering). Xerostomia didefinisikan sebagai perasaan subjektif kekeringan di rongga mulut dan merupakan istilah yang berasal dari bahasa Yunani “xeros”, yang berarti “kering”, dan “stoma”, yang berarti “mulut”. Tujuan laporan kasus ini dibuat untuk memaparkan manifestasi dan tatalaksana xerostomia pada pasien dengan SLE. Laporan kasus: Pasien Perempuan berusia 47 tahun datang ke Klinik Spesialis Penyakit Mulut RS Abdul Wahab Sjahranie Samarinda dengan keluhan mulut terasa kering dan sulit mengunyah. Diketahui pasien menderita SLE sejak tahun 2019. Pemeriksaan ekstraoral ditemukan malar rash pada wajah, pigmentasi coklat kehitaman dan exfoliative cheilitis pada bibir.  Pemeriksaan intraoral menunjukkan terdapat fissured tongue pada dorsum lidah dan erythematosus patches berbatas tidak jelas pada palatum mole. Summated Xerostomia Inventory Indonesian Version (SXI-ID):13, kategori ringan, Clinical Oral Dryness Score (CODS): 6, kategori sedang dan Unstimulated saliva: 0 ml/menit hiposalivasi. Tatalaksana dengan edukasi dan instruksi peningkatan hidrasi dan stimulus kerja kelenjar saliva. Simpulan: Xerostomia pada pasien SLE dapat bermanifestasi sebagai keluhan mulut terasa kering, cheilitis pada bibir, serta mukosa oral yang tampak kering dan pucat. Tatalaksana dilakukan melalui edukasi peningkatan hidrasi dan stimulasi saliva menggunakan permen karet bebas gula. Evaluasi pascaperawatan menunjukkan peningkatan hasil laju alir saliva tanpa stimulasi dari 0 ml/menit menjadi 0,008 ml/menit.Manifestation and management of xerostomia in patient with systemic lupus erythematosus: case reportIntroduction: Systemic Lupus Erythematosus (SLE) is a chronic autoimmune disease that may present with oral manifestations, including xerostomia (dry mouth). Xerostomia is defined as the subjective feeling of dryness in the oral cavity and the term is derived from the Greek words “xeros”, meaning “dry”, and “stoma”, meaning “mouth”. This case report aims to describe the manifestations and management of xerostomia in a patient with SLE. Case report: A 47-year-old female patient presented to the Oral Medicine Specialist Clinic of Abdul Wahab Sjahranie Hospital Samarinda complaining of dry mouth and difficulty chewing. The patient had been diagnosed with SLE since 2019. Extraoral examination revealed a malar rash on the face, brownish-black pigmentation and exfoliative cheilitis on the lips.  Intraoral examination showed a fissured tongue on the dorsum of the tongue and erythematous patches with ill-defined borders on the soft palate. The Summated Xerostomia Inventory Indonesian Version (SXI-ID) score was 13 (mild category), the Clinical Oral Dryness Score (CODS) was 6 (moderate category), and unstimulated salivary flow rate was 0 ml/min, indicating hyposalivation. Management included patient education with instructions to increase hydration and stimulate salivary gland activity. Conclusion: Xerostomia in patients with SLE may manifest as complaints of oral dryness, cheilitis and clinically dry, and pale oral mucosa.  Management included hydration counseling and salivary stimulation using sugar-free chewing gum, which resulted in an increase in the unstimulated salivary flow rate  from 0 ml/min to 0.008 ml/min.
Tantangan penegakan diagnosis dan tatalaksana kista radikular asimtomatik : laporan kasus Sugiharto, Tamara Al Kautsar; Pranoto, Amelia Elizabeth
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 37, No 3 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v37i3.61699

Abstract

Pendahuluan: Kista radikular adalah salah satu kista odontogenik yang bersifat asimtomatik. Kista radikular berasal dari sel-sel Rest of Malasszes yang berproliferasi secara abnormal pada apikal gigi nonvital. Penemuan kista radikular sering secara tidak sengaja pada pemeriksaan radiografi. Pemeriksaan histopatologis dilakukan untuk menegakkan diagnosis definitif. Perawatan kista radikular secara bedah bertujuan untuk mencegah rekurensi dan mendapatkan regenerasi jaringan. Tujuan laporan kasus ini untuk menyajikan hasil penegakan diagnosis dan tata laksana perawatan bedah kista radikular pada sisa akar gigi insisivus rahang atas. Laporan kasus: Seorang wanita datang dengan keluhan sisa akar gigi depan atas yang mengganggu. Dia menggunakan gigi tiruan untuk menutupi sisa akarnya. Hasil radiografi menunjukan gambaran radiolusen berukuran ± 1,5 mm x 2 mm dengan batas yang jelas dan tegas pada periapikal gigi 21 dan 22. Ekstraksi transalveolar dilakukan untuk mencabut sisa akar gigi 21 dan 22 kemudian dilakukan enukleasi dan kuretase kista pada periapikalnya. Jaringan dikirim ke laboratorium untuk mendapatkan pembacaan histopatologi. Hasil pemeriksaan histopatologi mendukung diagnosis kista radikular. Spongostan diletakkan pada dead space untuk menghentikan perdarahan dan mempercepat proses proliferasi jaringan. Jahitan dilakukan dengan teknik simple interrupted dengan benang silk 4.0. Kontrol 2 minggu setelahnya untuk melepas benang jahitan dan tidak ditemukan keluhan dari pasien.   Simpulan: Pemeriksaan klinis, radiografi, dan histopatologi yang baik dapat mendukung penegakan diagnosa kista radikular. Perawatan bedah dengan enukleasi kista bertujuan untuk mencegah rekurensi kista radikular. Medikasi yang tepat membantu mencegah adanya komplikasi pasca operasi.
Hemisection of the upper right first molar with a grade-2 furcation lesion: case report Ristyawati, Agatha; Chrysandra, Yustika; Untara, Tri Endra; Nugraheni, Tunjung; Enggardipta, Raras Ajeng
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 37, No 3 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v37i3.58368

Abstract

Introduction: Hemisection is the separation procedure of multiple root teeth from the crown to the furcation and removing one damaged root with periodontium abnormalities, followed by a fixed denture treatment for retaining partially damaged posterior teeth.  This case report aims to demonstrate the clinical management of a maxillary first molar with grade-2 furcation involvement using a multidisciplinary approach consisting of endodontic treatment, surgical hemisection, and prosthodontic rehabilitation, and to highlight hemisection as a conservative tooth-preserving treatment option compared with extraction and implant therapy. Case report: A female patient, 56 years old, visited the Dental Conservation Clinic of Prof. Soedomo RSGM with discomfort in the right upper molars when chewing. Based on the dental and radiograph examination, the diagnosis was pulp necrosis with asymptomatic apical periodontitis. Beginning with root canal treatment, the damaged mesial root of tooth 16 was hemisected; triangular flap was prepared in the buccal region of the maxillary right first molar; the tooth was divided mesial-distally; mesial root was removed; socket was debrided; the flap was sutured with interrupted technique and the surgical wound was closed. A modified ridge lap pontics denture design was discussed with the Prosthodontia specialist. Conclusion: A root canal-treated abutment tooth followed by hemisection was confirmed to be a better treatment choice in this case over extraction, with the goal of retaining the tooth with the damaged root in the mouth and restoring dental function.Hemiseksi gigi molar pertama kanan atas dengan lesi furkasi derajat-2: laporan kasusPendahuluan: Hemiseksi adalah prosedur pemisahan beberapa akar gigi dari mahkota sampai ke furkasi dan pencabutan satu akar yang rusak dengan kelainan periodontal, dilanjutkan dengan perawatan fixed bridge untuk mempertahankan gigi. Laporan kasus ini bertujuan untuk menunjukkan pengelolaan klinis gigi molar pertama rahang atas dengan keterlibatan furkasi derajat 2 menggunakan pendekatan multidisiplin yang meliputi perawatan endodontik, hemiseksion bedah, dan rehabilitasi prostodontik, serta menyoroti hemiseksion sebagai opsi perawatan konservatif yang mempertahankan gigi dibandingkan dengan ekstraksi dan terapi implan. Laporan kasus: Seorang pasien wanita, 56 tahun, datang ke Klinik Konservasi Gigi RSGM Prof. Soedomo dengan keluhan rasa tidak nyaman pada gigi geraham kanan atas saat mengunyah. Diagnosis berdasarkan pemeriksaan gigi dan radiografi adalah nekrosis pulpa dengan periodontitis apikal asimptomatik. Dilakukan perawatan saluran akar, hemiseksi akar mesial gigi 16 yang mengalami kerusakan dilakukan pada kunjungan berikutnya, insisi dengan triangular flap dilakukan pada daerah bukal gigi molar pertama kanan atas, gigi diseparasi mesial dan distal, akar mesial diekstraksi, debridemen soket mesial, flap dijahit dengan teknik interrupted. Desain fixed bridge berupa modified ridge lap pontics yang telah didiskusikan dengan spesialis Prostodonsia. Kesimpulan: Perawatan saluran akar gigi penyangga yang diikuti dengan hemiseksi dipastikan menjadi pilihan perawatan yang lebih baik dalam kasus ini daripada pencabutan gigi dengan tujuan mempertahankan gigi dengan salah satu akar yang rusak di dalam mulut dan mengembalikan fungsi gigi.
Pengaruh kehilangan mahkota gigi desidui anterior atas terhadap tongue thrusting pada anak usia 4-6 tahun: studi cross sectional Kurniawati, Suci; Mahendra, Putri Kusuma Wardani; Bramanti, Indra
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 37, No 3 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v37i3.60704

Abstract

Pendahuluan: Tongue thrusting dapat diakibatkan karena kondisi lokal rongga mulut maupun faktor sistemik. Ada pendapat yang mengatakan premature loss gigi anterior dapat mengembangkan kebiasaan tongue thrusting. Lidah mempunyai adaptasi yang luar biasa terhadap perubahan rongga mulut termasuk kehilangan mahkota gigi desidui anterior atas. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh kehilangan mahkota gigi desidui anterior atas terhadap tongue thrusting pada anak usia 4-6 tahun. Metode: Penelitian ini dilakukan secara cross sectional di 6 TK Kecamatan Wates Kabupaten Kulon Progo. Sampel dipilih secara acak sebanyak 96 sampel dari masing-masing kelompok yaitu 96 anak yang kehilangan mahkota gigi desidui anterior atas dan 96 yang memiliki mahkota gigi desidui anterior atas utuh. Pemeriksaan pada subyek dilakukan untuk melihat ada atau tidak adanya tongue thrusting saat menelan. Data diuji menggunakan uji chi-square dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan tongue thrusting lebih banyak terjadi pada anak yang kehilangan mahkota gigi desidui anterior atas (80,21%) dibanding anak yang memiliki mahkota gigi desidui anterior atas utuh (21,88%). Terdapat perbedaan tongue thrusting yang signifikan antara kelompok anak yang kehilangan mahkota gigi desidui anterior atas dan anak yang memiliki mahkota gigi desidui anterior atas utuh (p=0,001). Simpulan: Tongue thrusting lebih banyak terjadi pada anak yang kehilangan mahkota gigi desidui anterior atas dibanding anak yang memiliki mahkota gigi desidui anterior atas yang utuh.The Effect of Upper Anterior Deciduous Crown Loss on Tongue Thrusting in Children Aged 4–6 Years: A Cross-Sectional StudyIntroduction: Tongue thrusting can be associated with local conditions of the oral cavity as well as systemic factors. There is evidence suggesting that premature loss of anterior teeth can contribute to the development of tongue-thrusting habits. The tongue has a remarkable ability to adapt to changes in the oral cavity, including upper anterior deciduous crown loss. This study aimed to determine the effect of upper anterior deciduous crown loss on tongue thrusting in children aged 4-6. Methods: This cross-sectional study was conducted in six kindergartens in Wates District, Kulon Progo Regency. The sample was randomly selected and consisted of 96 children with upper anterior deciduous crown loss and 96 children with intact upper anterior deciduous crowns. All subjects underwent clinical examination to determine the presence or absence of tongue thrusting during swallowing. Data were analyzed using the Chi-square test with a significance level of 0.05. Results: The results showed that tongue thrusting occurred significantly more frequently in children with upper anterior deciduous tooth crown loss (80.21%) than in children with intact upper anterior deciduous teeth (21.88%). There was a significant difference in tongue thrusting between the group with upper anterior deciduous crown loss and the group with intact upper anterior deciduous crowns (p=0.001). Conclusion: Tongue thrusting occurs more frequently in children with upper anterior deciduous tooth crown loss compared to children with intact upper anterior deciduous teeth.
Perbedaan kekuatan transversal resin akrilik polimerisasi panas high impact dan konvensional dengan penambahan cangkang telur bebek dan kerang darah: studi eksperimental laboratoris Simangunsong, Naomi Sugianti; Syafrinani, Syafrinani
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 37, No 3 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v37i3.62372

Abstract

Pendahuluan: Resin akrilik polimerisasi panas konvensional sebagai bahan basis gigi tiruan memiliki kekurangan yaitu mudah fraktur pada kondisi klinis tertentu. Kekurangan tersebut diatasi dengan menggunakan bahan alternatif dengan sifat mekanis yang lebih baik, yaitu resin akrilik polimerisasi panas high impact atau dengan penambahan bahan penguat berupa cangkang telur bebek dan kerang darah. Tujuan penelitian untuk menganalisis perbedaan kekuatan transversal resin akrilik polimerisasi panas high impact dan konvensional dengan penambahan cangkang telur bebek dan kerang darah. Metode: Penelitian ini adalah penelitian eksperimental laboratoris. Penelitian dilakukan pada sampel resin akrilik polimerisasi panas high impact (kelompok A), resin akrilik polimerisasi panas konvensional tanpa penambahan (kelompok B), resin akrilik polimerisasi panas konvensional dengan penambahan cangkang telur bebek (kelompok C), dan resin akrilik polimerisasi panas konvensional dengan penambahan kerang darah (kelompok D) yang dibuat dalam bentuk batang uji persegi panjang ukuran 65×10×2,5±0,5 mm sebanyak 24 sampel yang diuji dengan Universal Testing Machine untuk menganalisis nilai kekuatan transversal. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji Anova satu arah dan uji post hoc. Hasil: Nilai rerata kekuatan transversal kelompok A sebesar 72,62±1,190 MPa, kelompok B sebesar 69,96±1,363 MPa, kelompok C sebesar 70,54±2,602 MPa, dan kelompok D sebesar 79,80±1,888 MPa. Terdapat perbedaan rerata kekuatan transversal yang signifikan antara kelompok D dan kelompok A, kelompok D dan kelompok B, kelompok D dan kelompok C dengan nilai p=0,001, serta antara kelompok A dan kelompok B dengan nilai p=0,021 (p<0,05). Simpulan: Pemanfaatan cangkang telur bebek dan kerang darah sebagai bahan penguat resin akrilik polimerisasi panas menghasilkan peningkatan kekuatan transversal.Differences in transverse strength between high impact and conventional heat cured acrylic resin with the addition of duck eggshell and blood cockle shell: a laboratory experimental study Introduction: Conventional heat cured acrylic resin used as a denture base material has the disadvantage of being prone to fracture under certain clinical conditions. These limitations can be addressed by using materials with improved mechanical properties, namely high impact heat cured acrylic resin, or by incorporating reinforcing materials such as duck eggshell and blood cockle shell. This study aimed to analyze the differences in transverse strength between high impact and conventional heat cured acrylic resin with the addition of duck eggshell and blood cockle shell. Methods: This study was a laboratory experimental study conducted on samples of high impact heat cured acrylic resin (group A), conventional heat cured acrylic resin without reinforcement (group B), conventional heat cured acrylic resin with the addition of duck eggshell (group C), and conventional heat cured acrylic resin with the addition of blood cockle shell (group D). The samples were fabricated as rectangular test bars measuring 65×10×2.5±0.5 mm, with a total of 24 samples, and were tested with Universal Testing Machine to determine the transverse strength. Data analysis was performed using one-way ANOVA and post hoc analysis. Results: The mean transverse strength of group A was 72.62±1.190 MPa, group B was 69.96±1.363 MPa, group C was 70.54±2.602 MPa, and group D was 79.80±1.888 MPa. There was a significant difference in mean transverse strength between group D and group A, group D and group B, group D and group C with a p value = 0.0001, as well as between group A and group B with a p value = 0.021 (p<0.05).  Conclusion: The use of duck eggshell and blood cockle shell as reinforcing materials in heat cured acrylic resin can increase transverse strength.