cover
Contact Name
Cecilia Soeriawidjaja
Contact Email
cecilia.soeriawidjaja@unpad.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.fkg@unpad.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran
ISSN : 08546002     EISSN : 25496514     DOI : -
Core Subject : Health,
Bidang cakupan Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran adalah semua bidang ilmu kedokteran gigi, yaitu biologi oral; ilmu dan teknologi material gigi; bedah mulut dan maksilofasial; pedodonsia; ilmu kesehatan gigi masyarakat, epidemiologi, dan ilmu kedokteran gigi pencegahan; konservasi gigi, endodontik, dan kedokteran gigi operatif; periodonsia; prostodonsia; ortodonsia; ilmu penyakit mulut; radiologi kedokteran gigi dan maksilofasial; serta perkembangan dan ilmu kedokteran gigi dari pendekatan ilmu lainnya.
Arjuna Subject : -
Articles 483 Documents
Tingkat kebersihan gigi dan mulut siswa usia 11-12 tahun di SDN Cijayana 1 Kabupaten GarutOral hygiene level of students aged 11-12-years-old at Cijayana 1 State Elementary School of Garut Regency Qaulan Syahida; Riana Wardani; Cucu Zubaedah
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 29, No 1 (2017): April
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.852 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v29i1.18605

Abstract

Pendahuluan: Gigi dan mulut merupakan organ penting yang harus dijaga kebersihannya. Indeks kebersihan gigi dan mulut diperoleh dari dua komponen yaitu indeks plak dan indeks kalkulus. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kebersihan gigi dan mulut siswa usia 11-12 tahun di SDN Cijayana 1 Kabupaten Garut. Metode: Jenis penelitian adalah deskriptif dengan teknik survei. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah total sampling. Jumlah sampel penelitian sebanyak 51 siswa, terdiri dari 24 siswa laki-laki dan 27 siswa perempuan. Data diperoleh melalui pemeriksaan klinis, menggunakan indeks kebersihan gigi dan mulut dari Greene dan Vermillion. Hasil: Indeks kebersihan gigi dan mulut pada siswa usia 11-12 tahun di SDN Cijayana 1 adalah 2,07. Simpulan: Tingkat kebersihan gigi dan mulut siswa usia 11-12 tahun di SDN Cijayana 1 termasuk kategori sedang.Kata kunci: Kebersihan gigi dan mulut, indeks plak, indeks kalkulus ABSTRACTIntroduction: Teeth and mouth are important organs that must be kept clean. Oral and dental hygiene indexes are obtained from two components, namely plaque index and calculus index. The purpose of this study was to determine the level of dental and oral hygiene of students aged 11-12 years at SDN Cijayana 1 Garut Regency. Methods: This type of research is descriptive with survey techniques. The sampling technique used is total sampling. The number of research samples was 51 students, consisting of 24 male students and 27 female students. Data obtained through clinical examination, using dental and oral hygiene indexes from Greene and Vermillion. Result: Oral and dental hygiene index for students aged 11-12 years at SDN Cijayana 1 is 2.07. Conclusion: The level of dental and oral hygiene of students aged 11-12 years at Cijayana 1 Elementary School is in the moderate category.Keywords: Oral hygiene, plaque index, calculus index
Evaluasi kepatuhan perawatan space maintainer lepasan pada anakChildren compliance evaluation on removable space maintainer treatment Linggar Risang Aditya; Meirina Gartika; Risti Saptarini Primarti
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 30, No 1 (2018): April
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (323.357 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v30i1.18184

Abstract

Pendahuluan: Kepatuhan anak pada pemakaian alat space maintainer lepasan berpengaruh pada erupsi gigi permanen yang menentukan keberhasilan dalam mempertahankan ruang akibat premature loss. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kepatuhan anak pada perawatan space maintainer lepasan di Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) Universitas Padjadjaran (Unpad). Metode: Jenis penelitian adalah deskriptif. Subjek penelitian sebanyak 25 responden yang diambil menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan lembar kuesioner dan diberikan kepada responden usia 7-12 tahun yang menggunakan space maintainer lepasan di Instalasi Kedokteran Gigi Anak RSGM Unpad. Hasil: Responden yang tidak rutin dalam memakai alat disebabkan karena rasa tidak nyaman atau ada bagian plat yang tajam, sedangkan tingkat kepatuhan responden yang memakai alat space maintainer lepasan mendapatkan nilai skor rata-rata 68,3% dengan kriteria baik. Simpulan: Kepatuhan anak dalam memakai alat space maintainer lepasan menunjukkan kepatuhan yang baik.Kata kunci: Kepatuhan anak, premature loss, space maintainer lepasan, RSGM Unpad. ABSTRACTIntroduction: Children compliance in using the removable space maintainer has an important effect on permanent dental eruptions, and determine the success in maintaining space due to premature loss. This study was aimed to evaluate the children compliance on the treatment using removable space maintainers at Universitas Padjadjaran (Unpad) Dental Hospital. Methods: The type of research was descriptive research, with the subject as much as 25 respondents were taken using the total sampling technique. Data was collected using questionnaire given to the respondents aged 7 – 12-years-old which were removable space maintainer users at Pediatric Dentistry Installation of Unpad Dental Hospital. Result: The results showed that respondents whose using the removable space maintainer not as scheduled were caused by discomfort or the sharp plate, while the average respondents’ compliance level was 68.3% and categorised in good criteria. Conclusion: It can be concluded that the respondents’ compliance in using a removable space maintainer showed a good compliance level.Keywords: Children compliance, premature loss, removable space maintainer.
Pemanfaatan ekstrak etil asetat buah merah sebagai zat pengganti pewarna primer pada teknik pengecatan tunggal bakteri gram negatif batangUtilization of ethyl acetate extract of Pandanus conoideus lam. as substitution for simple staining techniques of gram-negative rods bacteria Achsanul Dzuriyati Rahayuningtyas; Warta Dewi; Indrati Sudjarwo
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 29, No 2 (2017): Agustus
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (739.009 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v29i2.18583

Abstract

Pendahuluan: Buah merah merupakan salah satu buah yang banyak terdapat di Indonesia, terutama di daerah Papua. Buah merah (Pandanus conoideus Lam) mengandung karoten dan betakaroten yang menyebabkan warna merah yang sangat pekat pada buah merah. Tujuan penelitian untuk memanfaatkan ekstrak etil asetat buah merah sebagai pengganti zat pewarna primer bakteri gram negatif batang pada teknik pengecatan tunggal. Metode: Penelitian dilakukan secara deskripstif dengan cara melakukan teknik pengecatan tunggal. Pertama, dibuat biofilm tipis Escherichia coli sebagai objek penelitian pada kaca preparat, kemudian ekstrak etil asetat buah merah diteteskan diatasnya sebagai penganti zat warna karbol fuchsin (pewarna primer). Hasil: Hasil pengecatan tunggal dilihat di bawah mikroskop dan data hasil pengecatan di tabulasikan atau dicatat pada tabel. Ekstrak etil asetat buah merah tidak dapat mewarnai bakteri gram negatif batang. Simpulan: Ekstrak etil asetat buah merah tidak dapat digunakan sebagai zat warna pengganti pewarna primer pada proses pengecatan tunggal bakteri gram negatif batang.Kata kunci: Pandanus conoideus Lam, Escherichia coli, pengecatan tunggal. ABSTRACTIntroduction: Red fruit is one of fruits in Indonesia, especially in the Papua region. Red fruit (Pandanus conoideus Lam) contains carotene and betacarotene which causes a very thick red color on the red fruit. The purpose of this study was to utilize ethyl acetate extract of red fruit as primary dye substitute for simple staining techniques of Gram-negative rod bacteria. Methods: The study was carried out descriptively by doing a simple staining technique. First, a thin biofilm of Escherichia coli as a study object was made on a object glass, then the ethyl acetate extract of red fruit was dripped over it as a substitute for fuchsin carbolic dye (primary dye). Results: The results of a simple staining are seen under a microscope and the results are tabulated or recorded in the table. Ethyl acetate extract of Red fruit cannot stain gram-negative rod bacteria. Conclusion: Ethyl acetate extract of red fruit cannot be used as a dye substitute for primary dye in the process of simple staining gram-negative rod bacteria.Keywords: Pandanus conoideus Lam, Escherichia coli, simple staining.
Perbedaan kadar TNF-α saliva pada ibu hamil preeklamsia dan ibu hamil tidak preeklamsiaDifferences of the salivary TNF-α level in pregnant women with and without preeclampsia Trisnawaty Trisnawaty; Eddy Mart Salim; Kemas Yakub
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 29, No 3 (2017): Desember
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.75 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v29i3.15959

Abstract

Pendahuluan: Beberapa teori menyebutkan penyakit periodontal dapat meningkatkan faktor resiko preeklamsia. Gingivitis dapat menyebabkan peningkatan kadar TNF-α saliva dan dapat mengakibatkan inflamasi sistemik yang memicu terjadinya preeklamsia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kadar TNF-α saliva dan derajat kesehatan gingiva pada ibu hamil preeklamsia dan ibu hamil tidak preeklamsia. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik korelatif. Populasi penelitian adalah ibu hamil yang datang ke Poli IGD dan Instalasi Rawat Inap Poli kebidanan RSMH Palembang. Teknik pengambilan sampel Consecutive Sampling dengan minimal sampel berjumlah 30 pasien. Sampel yang diperoleh 38 pasien yang terdiri dari 19 pasien ibu hamil preeklamsia dan 19 pasien ibu hamil tidak preeklamsia. Masing-masing disebut sebagai kelompok kasus dan kontrol. Sampel diambil berdasarkan kriteria eksklusi dan inklusi pada ibu hamil dengan skor indeks gingiva 3, kemudian dilakukan uji ELISA. Analisis statistik dengan uji parametrik Independent T-test. Hasil: Nilai kadar TNF-α saliva kelompok kasus 143,27±87,20 pg/ml dan kelompok kontrol 142,46±44,76 pg/ml, p=0.972. Simpulan: Tidak terdapat perbedaan bermakna antara nilai kadar TNF-α saliva ibu hamil preeklamsia dan ibu hamil tidak preeklamsia.Kata kunci: Preeklamsia, indeks gingiva, kadar TNF-α saliva. ABSTRACTIntroduction: Some theories suggest that periodontal disease can increase the risk factors for preeclampsia. Gingivitis can cause an increase in salivary TNF-α levels and can result in systemic inflammation that triggers preeclampsia. The purpose of this study was to determine differences of the salivary TNF-α level and the gingival health degree in pregnant women with and without preeclampsia. Methods: This study was correlative analytic. The study population was pregnant women who came to the emergency room unit and the obstetric inpatient clinic of Dr Mohammad Hoesin Hospital Palembang. The sampling technique was consecutive sampling with a minimum sample of 30 patients. The sample obtained was as much as 38 patients consisted of 19 pregnant women with preeclampsia and 19 pregnant women without preeclampsia. Each group was referred to as a case and control group. Samples were taken based on the exclusion and inclusion criteria in pregnant women with the gingival index score of 3; then an ELISA test was performed. Statistical analysis with independent t-test parametric test was performed to analyse all data obtained. Result: The value of salivary TNF-α in the case group was 143.27 ± 87.20 pg/ml, and the control group was 142.46 ± 44.76 pg/ml; p = 0.972. Conclusion: There was no significant difference between the values of salivary TNF-α level in pregnant women with and without preeclampsia.Keywords: Preeclampsia, gingival index, salivary TNF- α level.
Restorasi resin komposit dengan free-hand layering techniqueComposite resin restoration with free-hand layering technique Danica Anastasia; Bebbi Arisya Kesumaputri
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 29, No 3 (2017): Desember
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (469.36 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v29i3.15936

Abstract

Pendahuluan: Restorasi gigi pasca perawatan endodontik merupakan bagian integral dari kunci keberhasilan pengobatan. Beberapa faktor dipertimbangkan untuk keberhasilan restorasi gigi pasca endodontik seperti rasio antara mahkota dan akar, dan jaringan mahkota lainnya. Laporan kasus ini bertujuan untuk mengetahui cara restorasi gigi setelah perawatan endodontic menggunakan komposit resin. Laporan Kasus: Laporan kasus ini menjelaskan cara merestorasi langsung gigi pasca endodontik dengan resin komposit. Seorang pasien wanita berusia 21 tahun datang ke RSKGM Provinsi Sumatera Selatan dengan keluhan utama kerusakan besar pada kedua gigi insisivus sentral rahang atas. Kedua gigi tersebut sudah selesai perawatan endodontik. Kedua gigi tersebut didiagnosis sebagai gigi yang telah dirawat endodontik dan rencana perawatan restorasi langsung resin komposit. Restorasi resin komposit free-hand layering technique dapat dilakukan dalam beberapa kunjungan, karena seringkali memerlukan model kerja atau mock-up. Dalam hal estetika, restorasi ini menawarkan banyak keuntungan dibandingkan dengan pilihan pengobatan lain yang mungkin dilakukan Kontrol satu minggu dan satu bulan menunjukkan keadaan umum dari gigi anterior rahang atas dinilai alami dan estetis. Simpulan: Restorasi pasca perawatan endodontik menggunakan resin komposit dengan free-hand layering technique pada gigi insisivus rahang atas dapat memberikan hasil yang memuaskan.Kata kunci: Restorasi komposit, free-hand layering technique. ABSTRACTIntroduction: Dental restoration post-endodontic treatment is an integral part of the key to successful treatment. Several factors are considered for the success of post-endodontic tooth restorations such as the ratio between crown and root, and other crown tissue. This case report was aimed to determine dental restoration post-endodontic treatment using composite resin. Case Report: This case report explained how to restore post-endodontic teeth with composite resin directly. A 21-years-old female patient came to Dental Hospital (RSKGM) of South Sumatra Province with a major complaint of significant damages to both maxillary central incisors. Both teeth have finished endodontic treatment. Both teeth were diagnosed as endodontically treated teeth and a direct composite resin restoration treatment plan. Free-hand layering technique of composite resin restoration can be performed on several visits because it often requires a working model or mock-up. In terms of aesthetics, this restoration offers many advantages compared to other possible treatment options. One-week and one-month control showed the general state of the maxillary anterior teeth had been fulfilled the natural and aesthetical aspects. Conclusion: Post-endodontic treatment using composite resin with a free-hand layering technique in the maxillary incisors can provided satisfactory results.Keywords: Composite restoration, free-hand layering technique.
Gambaran erupsi gigi pada anak kembarDescription of tooth eruptions in twins Cindy Putri Amelia; Eka Chemiawan; Syarief Hidayat
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 28, No 2 (2016): Agustus
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (296.687 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v28i2.18703

Abstract

Pendahuluan: Erupsi gigi meliputi perubahan posisi gigi melalui beberapa tahap secara berturut-turut dari awal pembentukan benih gigi sampai gigi muncul ke arah oklusal dan mencapai titik kontak dengan gigi antagonisnya.Erupsi gigi pada anak kembar berada dibawah kontrol dan pengaruh yang kuat dari faktor genetik. Tujuan penelitian ini untuk melihat gambaran erupsi gigi pada anak kembar. Metode: Penelitian bersifat deskriptif dan pengambilan sampel dengan menggunakan accidental sampling sebanyak 35 pasang kembar yang terdiri dari 24 pasang kembar identik dan 11 pasang kembar tidak identik. Penelitian dilakukan dengan menghitung jumlah gigi erupsi dan dilihat kesamaannya antara kembar identik maupun kembar tidak identik. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa erupsi gigi pada anak kembar, baik identik ataupun tidak identik memiliki tingkat kesesuaian lebih dari 50%, yaitu 68,57%. Simpulan: Penelitian ini menunjukan bahwa erupsi gigi pada anak kembar memiliki kecenderungan sesuai, baik kembar identik ataupun tidak identik dalam tahapan gigi sulung, gigi campuran, maupun gigi permanen.Kata kunci: Erupsi gigi, anak kembar, tahapan gigi.  ABSTRACTIntroduction: Tooth eruption involves changing the position of the tooth through several successive stages from the beginning of the formation of the tooth until the tooth appears in the occlusal direction and reaches the point of contact with its antagonistic teeth. Tooth irritation in twins is under control and strong influence of genetic factors. The purpose of this study was to look at the description of tooth eruption in twins. Methods: Descriptive research and sampling using accidental sampling as many as 35 pairs of twins consisting of 24 pairs of identical twins and 11 pairs of twins are not identical. The study was conducted by calculating the number of erupted teeth and seen the similarity between identical twins and twins is not identical. Results: The results showed that tooth eruption in twins, either identical or not identical had a suitability level of more than 50%, which was 68.57%. Conclusion: This study shows that tooth eruption in twins has an appropriate tendency, both identical or not identical twins in the stages of primary teeth, mixed teeth, or permanent teeth.Keywords: Tooth eruption, twins, tooth stage.
Impaksi gigi molar tiga rahang bawah dan sefalgiaMandibular third molar impaction and cephalgia Amalia Meisya Fitri; Alwin Kasim; Abel Tasman Yuza
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 28, No 3 (2016): Desember
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.092 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v28i3.18691

Abstract

Pendahuluan: Impaksi yang sering terjadi adalah pada gigi molar tiga pada rahang bawah. Penderita biasanya mengeluhkan sefalgia yang dirasakan bersamaan dengan erupsi molar tiga tersebut. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui besar prevalensi impaksi molar tiga rahang bawah yang disertai sefalgia dan seberapa besar frekuensi sefalgia yang terjadi berdasarkan posisi impaksi klasifikasi Pell dan Gregory serta klasifikasi Winter. Metode: Penelitian menggunakan metode deskriptif terhadap mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Univesitas Padjadjaran angkatan 2010 yang masuk dalam kriteria inklusi akan dilakukan foto panoramik untuk melihat klasifikasi impaksi. Sampel kemudian diminta untuk mengisi kuesioner penelitian. Hasil: Hasil penelitian menunjukan dari 100 orang sampel yang mengeluhkan impaksi sebanyak 58 orang, tetapi hanya 15 orang mahasiswa saja yang memasuki kriteria inklusi yaitu murni mengalami sefalgia yang berasal dari gigi impaksi. Simpulan: Kesimpulan penelitian ini adalah prevalensi impaksi molar tiga rahang bawah yang disertai sefalgia sebanyak 25,86%. Posisi A merupakan posisi pada klasifikasi Pell dan Gregory yang paling banyak mengakibatkan sefalgia. Berdasarkan klasifikasi Winter, impaksi horizontal merupakan yang paling banyak mengakibatkan sefalgia.Kata kunci: Impaksi, sefalgia. ABSTRACTIntroduction: Frequent impaction is in the lower third molars. Patients usually complain of cephalgia which is felt along with the eruption of the third molar. The purpose of this study was to determine the prevalence of lower third molar impaction accompanied by cephalgia and how much the frequency of cephalgia occurred based on Pell and Gregory classification impaction position and Winter classification. Methods: The study used descriptive method for FKG students of Padjadjaran University 2010 class which included in the inclusion criteria, panoramic photos were taken to see the classification of impactions. The sample was then asked to fill out the research questionnaire. Results: The results showed that out of 100 samples who complained of impaction as many as 58 people, but only 15 students who entered the inclusion criteria were purely experiencing cephalgia from impacted teeth. Conclusion: The conclusion of this study is the prevalence of lower third molar impaction accompanied by cephalgia as much as 25.86%. Position A is the position in the classification of Pell and Gregory which most often results in cephalgia. Based on Winter’s classification, horizontal impaction is the most common cause of cephalgia.Keywords: Impaction, cephalgia.
Pengetahuan dan tindakan pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut pada ibu yang memiliki anak usia bawah tiga tahunKnowledge and practice of oral health maintenance in mothers with under 3-years-old children Monica Irvania Gustabella; Riana Wardani; Anne Agustina Suwargiani
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 29, No 1 (2017): April
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (236.269 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v29i1.18601

Abstract

Pendahuluan: Pola hidup sehat sudah menjadi kebutuhan pada setiap individu saat ini. Faktor orang tua merupakan faktor yang dominan dalam menerapkan pola hidup sehat khususnya pada kesehatan gigi dan mulut. Pengetahuan dan tindakan mengenai kesehatan gigi dan mulut dari orang tua sangat diperlukan. Peranan seorang ibu dalam kesehatan gigi anaknya adalah sebagai motivator, edukator, dan fasilitator. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan tindakan pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut pada ibu yang memiliki anak bawah tiga tahun. Metode: Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan metode survei. Sampel sebanyak 50 ibu yang memiliki anak bawah tiga tahun dan bersekolah di PAUD kelurahan Sukajadi. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner. Hasil: Penelitian menunjukkan pengetahuan pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut 84,4% dalam kriteria baik, 15,6% dalam kriteria cukup dan untuk tindakan pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut 22.2% kriteria baik, 62,2% kriteria cukup dan 25,6% kriteria kurang. Simpulan: Pengetahuan ibu yang memiliki anak usia bawah tiga tahun di Paud Kelurahan Sukajadi menunjukkan kriteria pengetahuan yang baik dan tindakan yang cukup mengenai pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut dilihat dari penggunaan sikat gigi, penggunaan pasta gigi, membersihkan gigi, dan kunjungan ke dokter gigi.Kata kunci: Pengetahuan, tindakan, pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut ABSTRACTIntroduction: A healthy lifestyle has become a necessity for every individual today. Parent factors are the dominant factors in implementing a healthy lifestyle especially in dental and oral health. Knowledge and actions regarding dental and oral health from parents are needed. The role of a mother in the dental health of her child is as a motivator, educator, and facilitator. This study aims to determine the level of knowledge and maintenance of dental and oral health in mothers who have children under three years. Methods: This type of research is descriptive with survey methods. A sample of 50 mothers who had children under three years old and attended PAUD Sukajadi village. Data retrieval is done using a questionnaire. Result: The study showed that the knowledge of dental and oral health maintenance was 84.4% in good criteria, 15.6% in sufficient criteria and for dental and oral health care measures 22.2% good criteria, 62.2% sufficient criteria and 25.6% criteria less. Conclusion: The knowledge of mothers who have children under three years of age in PAUD Sukajadi Village shows the criteria of good knowledge and adequate action regarding dental and oral health maintenance seen from the use of toothbrushes, use of toothpaste, cleaning teeth, and visits to dentists.Keywords: Knowledge, practice, oral health maintenance
Kondisi kesehatan gigi dan mulut siswa SDK YahyaOral health conditions of the Yahya Christian Elementary School students Rosiliwati Wihardja; Riani Setiadhi
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 30, No 1 (2018): April
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (321.335 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v30i1.16247

Abstract

Pendahuluan: Rongga mulut terdiri dari jaringan lunak maupun jaringan keras, serta merupakan anggota tubuh yang penting untuk dijaga seperti anggota tubuh lainnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi kesehatan gigi dan mulut siswa SDK Yahya. Metode: Jenis penelitian deskriptif. Data penelitian diambil dari formulir kesehatan gigi dan mulut siswa SDK Yahya dan disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. Hasil: Sebagian besar siswa mempunyai gingiva, mukosa bukal, mukosa labial, frenulum, lidah, dan saliva yang normal serta seluruh siswa mempunyai palatum keras dan lunak yang normal. Persentase karies, tambalan dan  gigi yang hilang pada siswa tergolong kecil dan nilai oral higyenenya nilai yang kecil. Keadaan ini menunjukkan bahwa umumnya siswa mempunyai kesehatan jaringan lunak dan keras yang baik serta keadaan oral hygiene yang baik. Simpulan: Kondisi kesehatan gigi dan mulut siswa SDK Yahya mayoritas tergolong dalam kondisi normal dengan oral hygiene dalam kondisi baik.Kata kunci: Kesehatan gigi dan mulut, siswa SD. ABSTRACTIntroduction: The oral cavity consists of both hard and soft tissues that are vital to be maintain like the other part of the body. Improving knowledge and behavior which was given since school age could overcome the incidence of oral health problems. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi kesehatan gigi dan mulut siswa SDK Yahya. Methods: This was a descriptive study using oral health form of both hard and soft tissues of students from Yahya Christian Elementary School. Results: This study revealed that most students had normal gingiva, buccal mucosa, labial mucosa, frenulum, tongue and saliva, and also normal palatum durum and molle. The percentage of cavities, fillings and tooth-loss on the students was considered as small. Such findings demonstrated that in general, the students had decent integrity of both soft and hard oral tissues. Conclusion: Oral health conditions of the Yahya Christian Elementary School students were generally observed in the normal state.Keywords: Oral health condition, elementary school students.
Perbedaan pola rugae palatina sebelum dan sesudah perawatan dengan alat ortodonti lepasanDifferences in palatal rugae patterns before and after the removable orthodontic appliances treatment Sintia Saputra; Endah Mardiati; Indra Mustika Setia Pribadi; Yuti Malinda
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 29, No 2 (2017): Agustus
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (386.451 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v29i2.18573

Abstract

Pendahuluan: Pola rugae palatina memiliki karakteristik yang unik pada setiap individu, yang dapat dijadikan sarana identifikasi individu di bidang forensik kedokteran gigi, namun berbagai kontraversi muncul mengenai karakteristik rugae palatina secara kualitatif dan kuantitatif sesudah dilakukan perawatan ortodonti. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan pola rugae palatina sebelum dan sesudah perawatan dengan alat ortodonti lepasan. Metode: Penelitian bersifat observasional dengan sampel penelitian terdiri dari 111 model studi sebelum dan sesudah dilakukan perawatan ortodonti. Teknik sampling adalah purposive sampling, dari pasien maloklusi dento-alveolar kelas I, usia 18-30 tahun di RSGM FKG Unpad. Data penelitian dideskripsikan dan dianalisis dengan uji statistik Wilcoxon (ɑ = 0,05) untuk mengetahui perbedaan pola rugae palatina sebelum dan sesudah perawatan ortodonti. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan, ukuran rugae palatina sebelum dilakukan perawatan terbanyak adalah rugae primer 85,2%, rugae sekunder 13,4%, rugae fragmen 1,37%, sesudah perawatan rugae primer 85.5%, rugae sekunder 13,2%, rugae fragmen 1,3%. Berdasarkan arah, rugae palatina sebelum perawatan arah postero-anterior 44,5%, antero-posterior 38,6%, sesudah perawatan arah posterior-anterior 44,9%, antero-posterior 38,3%. Arah perpendikular 8,7% dan berbagai arah 8,2% baik sebelum maupun sesudah perawatan. Uji beda menunjukan, tidak terdapat perbedaan signifikan sebelum dan sesudah perawatan ortodonti. Simpulan: Pola rugae palatina yang sering muncul sebelum dan sesudah perawatan ortodonti adalah rugae primer dengan arah postero-anterior, tidak terdapat perbedaan signifikan sebelum dan sesudah perawatan ortodonti.Kata kunci: Forensik odontologi, perawatan ortodonti, pola rugae palatina. ABSTRACTIntroduction: Palatal rugae patterns have unique characteristics in each individual, which can be used as a means of identifying individuals in the field of dentistry forensics, but various contraceptives arise about the characteristics of palatal rugae qualitatively and quantitatively after orthodontic treatment. The purpose of this study was to determine the differences in palatal rugae patterns before and after treatment with removable orthodontic devices. Methods: The study was observational with a study sample consisting of 111 study models before and after orthodontic treatment. The sampling technique was purposive sampling, from class I dento-alveolar malocclusion patients, aged 18-30 years at FKG Unpad Hospital. The research data was described and analyzed by Wilcoxon statistical test (ɑ = 0.05) to determine differences in palatal rugae patterns before and after orthodontic treatment. Results: The results showed that the size of palatal rugae before treatment was the primary rugae (85.2%), secondary rugae (13.4%), fragment rugae (1.37%), after primary rugae treatment (85.5%), secondary rugae (13.2%) , rugae fragment (1.3%). Based on direction, palatal rugae prior to postero-anterior (44.5%), antero-posterior (38.6%) treatment, after posterior-anterior (44.9%), antero-posterior (38.3%) treatment. Perpendicular direction (8.7%) and various directions (8.2%) both before and after treatment. Different tests showed that there were no significant differences before and after orthodontic treatment. Conclusion: The palatal rugae pattern that often occurs before and after orthodontic treatment is the primary rugae with postero-anterior direction, there are no significant differences before and after orthodontic treatment.Keywords: Odontological forensics, orthodontic treatment, palatal rugae pattern.

Page 11 of 49 | Total Record : 483