cover
Contact Name
Cecilia Soeriawidjaja
Contact Email
cecilia.soeriawidjaja@unpad.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.fkg@unpad.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran
ISSN : 08546002     EISSN : 25496514     DOI : -
Core Subject : Health,
Bidang cakupan Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran adalah semua bidang ilmu kedokteran gigi, yaitu biologi oral; ilmu dan teknologi material gigi; bedah mulut dan maksilofasial; pedodonsia; ilmu kesehatan gigi masyarakat, epidemiologi, dan ilmu kedokteran gigi pencegahan; konservasi gigi, endodontik, dan kedokteran gigi operatif; periodonsia; prostodonsia; ortodonsia; ilmu penyakit mulut; radiologi kedokteran gigi dan maksilofasial; serta perkembangan dan ilmu kedokteran gigi dari pendekatan ilmu lainnya.
Arjuna Subject : -
Articles 483 Documents
Sintesis partikel zirkonia-alumina-silika (ZrO2-Al2O3-SiO2) dari pasir zirkon alam sebagai bahan pengisi komposit kedokteran gigiSynthesis of zirconia-alumina-silica particles (ZrO2-Al2O3-SiO2) from natural zircon sand as dental composite fillers Febrida, Renny; Joni, I Made; Susra, Silmina; Djustiana, Nina
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 29, No 1 (2017): April
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (335.075 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v30i2.18537

Abstract

Pendahuluan: Pasir zirkon (ZrSiO4) merupakan mineral alam yang tersusun atas zirkonia (ZrO2) dan silika (SiO2) yang berikatan dengan stabil. Zirkonia adalah salah satu material keramik kedokteran gigi yang banyak digunakan karena memiliki sifat mekanis dan biokompatibilitas yang tinggi. Zirkonia dapat dikombinasikan dengan silika dan alumina untuk membentuk suatu bahan pengisi komposit dengan sifat mekanis dan estetis yang dapat disesuaikan dengan sifat gigi kodrat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghasilkan bahan bahan pengisi komposit alternatif di bidang kedokteran gigi yang berasal dari pasir zirkon alam untuk dijadikan bahan bahan pengisi komposit. Metode: Jenis penelitian yang dilakukan adalah eksperimental laboratoris untuk mensintesis dan mengkarakterisasi partikel ZrO2-Al2O3-SiO2 dari bahan baku alam berupa pasir zircon dengan reaksi geopolimerisasi dan proses pemanasan suhu tinggi. Aktivator yang digunakan adalah larutan NaOH 3 mol dengan temperatur pemanasan 1100° C pada lama pemanasan 4 jam, 6 jam, dan 8 jam.  Hasil: Hasil analisis uji X-Ray Diffraction (XRD) menunjukkan jumlah zirkonia berstruktur tetragonal terbesar ada pada sampel pemanasan 8 jam, yaitu 24%. Hasil analisis uji Energy Dispersive Spectroscopy (EDS) menunjukkan rasio komposisi zirkonia-alumina-silika dengan nilai zirkonia tertinggi ada pada sampel pemanasan 8 jam, yaitu 55,7 : 23,6 : 20,6. Hasil analisis mikrograf Scanning Electron Microscope (SEM) menunjukkan morfologi permukaan dan partikel yang tidak beraturan dan beraglomerasi. Simpulan: Sintesis partikel zirkonia-alumina-silika (ZrO2-Al2O3-SiO2) dari pasir zirkon alam dengan pemanasan 8 jam ditinjau dari jumlah zirkonia berstruktur tetragonal memadai digunakan sebagai bahan pengisi komposit berdasarkan uji XRD danEDS, namun pada ujiSEM partikel berbentuk tidak beraturan dan beraglomerasi. ABSTRACTIntroduction: Zircon sand (ZrSiO4) is a natural mineral that is composed of zirconia (ZrO2) and silica (SiO2) which binds stable. Zirconia is a dental dentistry material that is widely used because it has high mechanical properties and biocompatibility. Zirconia can be combined with silica and alumina to form a composite filler with mechanical and aesthetic properties that can be adapted to the nature of natural teeth. The purpose of this study was to produce alternative composite fillers in the field of dentistry derived from natural zircon sand to be used as composite fillers. Methods: This type of research was experimental laboratory to synthesize and characterize ZrO2-Al2O3-SiO2 particles from natural raw materials in the form of zircon sand with geopolymerization reaction and high temperature heating process. The activator used is a 3 mol NaOH solution with a heating temperature of 1100 ° C at a heating time of 4 hours, 6 hours, and 8 hours. Results: The results of the X-Ray Diffraction (XRD) test showed that the largest number of zirconia with a tetragonal structure was on an 8-hour heating sample, which was 24%. The results of the Energy Dispersive Spectroscopy (EDS) test analysis show the highest ratio of zirconia-alumina-silica composition with zirconia values in the 8 hour heating sample, which is 55.7: 23.6: 20.6. The results of the Scanning Electron Microscope (SEM) micrograph analysis showed that the surface morphology and particles were irregular and agglomerated. Conclusion: Synthesis of zirconia-alumina-silica particles (ZrO2-Al2O3-SiO2) from natural zircon sand with 8 hours heating in terms of sufficient tetragonal zirconia amount used as composite filler based on XRD and EDS test, but in SEM test irregularly shaped particles and agglomerated.Keywords: Zircon sand, zirconia-alumina-silica, geopolymerisation, composite filler materials
Persentase maloklusi angle kelas II divisi 1 pada anak dengan kebiasaan bernafas melalui mulutPercentage of angle class II division 1 malocclusion in children with mouth breathing habits Yuanisa, Sharina; Malik, Isnaniah; Primarti, Risti Saptarini
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 28, No 3 (2016): Desember
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (309.699 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v28i3.18701

Abstract

Pendahuluan: Maloklusi merupakan keadaan patologi oral dengan prevalensi tertinggi urutan ketiga setelah karies gigi dan penyakit periodontal.1 Keadaan maloklusi seringkali mempengaruhi kesehatan jaringan periodontal dan menyebabkan peningkatan prevalensi karies gigi dan permasalahan sendi temporomandibular. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui persentase maloklusi Angle kelas II divisi 1 pada anak dengan kebiasaan bernafas melalui mulut. Metode: Jenis penelitian yang dipakai dalam penelitian ini adalah deskriptif. Populasi penelitian adalah murid sekolah dasar di Kota Bandung. Populasi target yang dijadikan sampel adalah murid usia 9-12 tahun yang bersekolah di SDN Sekelimus 1, SDN Sekeloa 1, SDN Sukasenang dan SDN Cipaganti 4. Populasi terjangkau yang dijadikan sampel adalah murid sekolah dasar kelas 3 sampai 6.Pemilihan Sekolah Dasar diambil dengan teknik two stage cluster random sampling. Hasil:  Sebanyak 463 sampel anak yang diteliti, mayoritas anak tidak memiliki kebiasaan bernafas melalui mulut (88,6%), dan selebihnya sebanyak 11,4% memiliki kebiasaan bernafas dengan mulut. semua sampel memiliki kebiasaan bernafas melalui mulut, persentase klasifikasi maloklusi tertinggi adalah Kelas I (49,1%), dan selanjutnya secara berurutan adalah Kelas II Divisi 1 (35,8%), Kelas III (9,4%) dan persentasi klasifikasi maloklusi terendah adalah Kelas II Divisi 2 (5,7%). Simpulan: Persentase maloklusi Angle kelas II divisi 1 pada anak dengan kebiasaan bernafas melalui mulut yaitu sebesar 35,8% atau sebanyak 19 anak dari 53 anak dengan kebiasaan bernafas melalui mulut. ABSTRACTIntroduction: Malocclusion is a condition of oral pathology with the highest prevalence of third order after dental caries and periodontal disease. The state of malocclusion often affects the health of periodontal tissues and causes an increase in the prevalence of dental caries and temporomandibular joint problems. The aim of the study was to determine the percentage of Angle class II division 1 malocclusion in children with mouth breathing habits. Methods: The type of research used in this study is descriptive. The study population was elementary school students in the city of Bandung. The target population sampled were students aged 9-12 years who attended SDN Sekelimus 1, SDN Sekeloa 1, SDN Sukasenang and SDN Cipaganti 4. Affordable populations sampled were elementary school students in grades 3 to 6. The selection of elementary schools was taken with techniques two stage cluster random sampling. Results: A total of 463 samples of children studied, the majority of children did not have mouth breathing habits (88.6%), and the remaining 11.4% had mouth breathing habits. all samples had a habit of breathing through the mouth, the highest percentage of malocclusion classification was Class I (49.1%), and then sequentially was Class II Division 1 (35.8%), Class III (9.4%) and percentage classification of malocclusion the lowest was Class II Division 2 (5.7%) Conclusion: Percentage of Angle class II division 1 malocclusion in children with mouth breathing habits was 35.8% or as many as 19 children from 53 children with mouth breathing habits.Keywords: Malocclusion, bad habits, mouth breathing habits.
Manajemen instalasi forensik di rumah sakit POLRI sebagai acuan pembentukan instalasi forensik kedokteran gigi di Rumah Sakit Gigi dan MulutManagement of forensic installations at POLRI Hospital as a reference for the establishment of forensic odontology installation at the Oral Hospital Munandar, Firstady Widyarnan; Oscandar, Fahmi; Malinda, Yuti; Dardjan, Murnisari
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 28, No 3 (2016): Desember
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.328 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v28i3.18669

Abstract

Pendahuluan: Instalasi Forensik seharusnya terdapat bukan hanya di rumah sakit umum, tetapi juga di Rumah Sakit Gigi dan Mulut untuk menindaklanjuti kasus yang membutuhkan ilmu forensik kedokteran gigi. Tujuan penelitian adalah mempelajari gambaran unsur manajemen instalasi forensik di Rumah Sakit Kepolisian Pusat R.S Sukanto, Rumah Sakit Bhayangkara Sartika Asih serta Laboratorium dan Klinik Odontologi Kepolisian sebagai acuan pembentukan Instalasi Forensik Kedokteran Gigi di RSGM. Metode: Penelitian ini lakukan secara deskriptif dengan metode observasi. Lokasi penelitian di Rumah Sakit Kepolisian Pusat R.S Sukanto, Rumah Sakit Bhayangkara Sartika Asih, Laboratorium dan Klinik Odontologi Kepolisian. Hasil: Dari hasil penelitian menunjukan Instalasi Forensik Rumah Sakit Kepolisian Pusat Tk. I R.S Sukanto, Rumah Sakit Bhayangkara Sartika Asih serta Laboratorium dan Klinik Odontologi Kepolisian memiliki banyak kesamaan dari aspek unsur manajemen. Simpulan: Semua Instalasi Forensik yaitu Rumah Sakit Kepolisian Pusat R.S Sukanto, Instalasi Forensik Rumah Sakit Bhayangkara Sartika Asih serta Instalasi Forensik Odontologi Laboratorium dan Klinik Odontologi Kepolisian memiliki banyak kesamaan dari segi unsur manajemen dan dapat menjadi acuan untuk pembentukan unsur manajemen instalasi forensik kedokteran gigi di RSGM. ABSTRACTIntroduction: Forensic installations should be available not only in public hospitals, but also at the Dental and Oral Hospital to follow up on cases that require dental forensic science. The purpose of the study was to study the description of elements of forensic installation management at the Sukanto Hospital, Central Police, Bhayangkara Sartika Asih Hospital and the Police Odontology Laboratory and Clinic as a reference for the establishment of a Dentistry Forensic Installation at RSGM. Methods: This research is done descriptively by observation method. Research locations at Sukanto Hospital, Central Police Department, Bhayangkara Sartika Asih Hospital, Police Odontology Laboratory and Clinic. Results: From the results of the study showed the Forensic Installation of the Central Police Hospital. I R. Sukanto, Bhayangkara Sartika Asih Hospital and the Police Odontology Laboratory and Clinic have a lot in common with aspects of management. Conclusion: All Forensic Installations, Sukanto Hospital Central Police Hospital, Bhayangkara Sartika Asih Hospital Forensic Installation and the Odontology Laboratory Odontology Forensic Installation and Police have many similarities in terms of management elements and can be used as a reference for the management of dentistry forensic installations at RSGM .Keywords: Management elements, forensic installation, odomtology forensic installation.
Penilaian pengguna terhadap mutu pelayanan di poli gigi Puskesmas Bogor TimurDental health service user assessment of service quality at the East Bogor Community Health Center Dental Clinic Adhelina, Muthia Kirana; Zubaedah, Cucu; Suryanti, Netty
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 29, No 1 (2017): April
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (422.802 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v29i1.18598

Abstract

Pendahuluan: Mutu pelayanan merupakan tingkat baik dan buruknya suatu pelayanan yang dapat diberikan oleh pemberi pelayanan. Penilaian mutu pelayanan dapat dilakukan menggunakan dimensi ServQual yang meliputi kehandalan, daya tanggap, jaminan, rasa peduli dan bukti fisik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi dan gambaran penilaian pengguna mengenai mutu pelayanan di Poli Gigi Puskesmas Bogor Timur Kota Bogor. Metode: Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian deskriptif dengan metode survei. Penelitian dilakukan dengan observasi langsung dan pengisian kuesioner pada pengguna Poli Gigi Puskesmas Bogor Timur. Hasil: Penilaian responden dilihat dari dimensi ServQual menunjukkan 72,63% responden menyatakan baik pada dimensi kehandalan, 73,68% responden menyatakan baik pada dimensi daya tanggap, 62,11% responden menyatakan baik pada dimensi jaminan,75,79% responden menyatakan baik pada dimensi rasa peduli , dan 60% responden menyatakan baik pada dimensi bukti fisik. Simpulan: Poli Gigi Puskesmas Bogor Timur memiliki mutu pelayanan yang baik dinilai dari dimensi ServQual, namun masih terdapat beberapa hal yang perlu dievaluasi untuk meningkatkan mutu pelayanan Poli Gigi Puskesmas Bogor Timur. ABSTRACTIntroduction: Service quality is the level of good and bad service that can be provided by service providers. Assessment of service quality can be done using the ServQual dimension which includes reliability, responsiveness, assurance, a sense of caring and physical evidence. The purpose of this study was to obtain information and an overview of the user’s assessment of the quality of service at the Bogor Timur Health Center Dental Clinic, Bogor City. Methods: The type of research conducted is descriptive research with survey methods. The study was carried out by direct observation and filling out questionnaires to users of East Bogor Public Health Dental Clinic. Result: Respondent’s assessment seen from ServQual dimension shows 72.63% of respondents stated both on the dimensions of reliability, 73.68% of respondents stated that both in the dimensions of responsiveness, 62.11% of respondents stated both in the dimension of assurance, 75.79% of respondents stated good on the dimension of caring, and 60% of respondents stated both in the dimension of physical evidence. Conclusion: Dental Clinic of East Bogor Health Center has good service quality assessed from the ServQual dimension, but there are still some things that need to be evaluated to improve the quality of East Bogor Public Health Center Dental Service.Keywords: Service quality, dental clinic, community health center.
Hubungan indeks massa tubuh (IMT) dan laju aliran saliva pada mahasiswa preklinik angkatan 2014-2016 Fakultas Kedokteran Gigi Universitas PadjadjaranRelationship between body mass index (BMI) and salivary flow rate amongst pre-clinical students of Faculty of Dentistry Universitas Padjadjaran batch 2014-2016 Muttaqien, Inviolita Annissa; Kintawati, Silvi; Rizali, Ervin
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 29, No 2 (2017): Agustus
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (351.061 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v29i2.18571

Abstract

Pendahuluan: Saliva merupakan cairan yang sangat penting terkait dengan proses biologis di dalam rongga mulut. Laju aliran saliva merupakan salah satu indikator saliva yang berpengaruh terhadap pembentukan lesi karies maupun penyakit mulut. Laju aliran saliva dipengaruhi oleh berbagai macam faktor, salah satunya yaitu gizi. Salah satu parameter status gizi yaitu Indeks Massa Tubuh (IMT). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan laju aliran saliva pada mahasiswa preklinik angkatan 2014-2016 Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran. Metode: Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif analitik. Pengambilan sampel penelitian menggunakan purposive random sampling. Sampel penelitian yang didapatkan berjumlah 90 individu yang terdiri dari 71 perempuan dan 19 laki-laki. Penelitian dilakukan dengan mengukur berat badan serta tinggi badan untuk mendapatkan nilai IMT, kemudian dilanjutkan pengukuran laju aliran saliva. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Pearson. Hasil: Hasil uji statistik menunjukkan tidak adanya relasi signifikan antara Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan laju aliran saliva baik pada mahasiswa perempuan maupun laki-laki, dikarenakan adanya faktor-faktor penentu lainnya. Simpulan: Indeks Massa Tubuh (IMT) tidak memiliki pengaruh yang bermakna terhadap laju aliran saliva pada mahasiswa preklinik angkatan 2014-2016 Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran. ABSTRACTIntroduction: Saliva is a very important liquid related to biological processes in the oral cavity. Salivary flow rate is one indicator of saliva which affects the formation of caries lesions and oral diseases. Salivary flow rate is influenced by various factors, one of which is nutrition. One of the nutritional status parameters is the Body Mass Index (BMI). The purpose of this study was to determine whether there was a relationship between Body Mass Index (BMI) and salivary flow rate in 2014-2016 pre-clinical students at the Faculty of Dentistry, Padjadjaran University. Methods: The type of research used is descriptive analytic. The research sample was taken using purposive random sampling. The research sample obtained was 90 individuals consisting of 71 women and 19 men. The study was conducted by measuring body weight and height to obtain BMI values, then continued measurement of salivary flow rate. Data were analyzed using Pearson correlation test. Result: The results of statistical tests showed no significant relationship between Body Mass Index (BMI) and salivary flow rate in both male and female students, due to other determinants. Conclusion: Body Mass Index (BMI) does not have a significant effect on salivary flow rate in 2014-2016 pre-clinical students at the Faculty of Dentistry, Padjadjaran University.Keywords: Body Mass Index (BMI), salivary flow rate.
Kepuasan pengguna jasa pelayanan kesehatan di Rumah Sakit Umum Bahtera Mas KendariSatisfaction of health services users of Bahtera Mas General Hospital Kendari Rahma, Sitti; Zubaedah, Cucu; Setiawan, Asty Samiaty
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 28, No 2 (2016): Agustus
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (304.113 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v28i2.18706

Abstract

Pendahuluan: Kepuasan merupakan perbandingan harapan dengan kinerja yang dirasakan pelanggan/pengguna. Tujuan penelitian ini adalah menilai kepuasan pengguna jasa pelayanan kesehatan di Rumah Sakit. Metode: Jenis penelitian deskriptif survei. Populasi adalah pengguna Rumah Sakit Umum Bahteramas Kendari. Pengambilan sampel dilakukan secara purpoisive sampling Penelitian dilakukan  dengan memberikan kuesioner kepuasan pengguna rumah sakit. Sampel  terjaring 200 orang. Variable penelitian adalah kepuasan pengguna rumah sakit dengan 14 (empat belas) indikator. Hasil: Indikator prosedur pelayanan dan indikator persyaratan pelayanan mempunyai indeks kepuasan  yang kurang sedangkan indikator kejelasan petugas, kedisiplinan petugas, tanggung jawab petugas, kemampuan petugas,kecepatan petugas, keadilan memdapatkan pelayanan,kesopanan dan keramahan petugas, kepastian jadwal pelayanan, kenyamanan lingkungan dan keamaman lingkungan masing-masing indicator mempunyai nilai  indeks kepuasan yang baik. Secara keseluruhan indeks kepuasan Rumah sakit Umum Bahteramas Kendari mempunyai indeks kepuasan katagori B yaitu baik. Simpulan:  Pengguna jasa merasakan kepuasan jasa pelayanan kesehatan Rumah Sakit Umum Bahtera Mas Kendari. ABSTRACTIntroduction: Satisfaction is a comparison of expectations with the performance perceived by the customer / user. The purpose of this study was to assess the satisfaction of users of health services in hospitals. Methods: Type of survey descriptive research. The population is the user of Bahteramas Kendari General Hospital. Sampling was done by purpoisive sampling. The research was carried out by giving satisfaction questionnaires to hospital users. Samples netted 200 people. The research variable is the satisfaction of hospital users with 14 (fourteen) indicators. Results: Service procedure indicators and service requirements indicators have a lack of satisfaction index, while indicators of clarity of officers, discipline of officers, responsibilities of officers, ability of officers, speed of officers, fairness get service, politeness and friendliness of officers, certainty of service schedules, environmental comfort and environmental security each indicator has a good satisfaction index value. Overall satisfaction index of Bahteramas Kendari General Hospital has category B satisfaction index which is good. Conclusion: Service users feel the satisfaction of the health services of the Bahtera Mas Kendari General Hospital. Keywords: User satisfaction, service dimensions, hospital.Pendahuluan: Kepuasan merupakan perbandingan harapan dengan kinerja yang dirasakan pelanggan/pengguna. Tujuan penelitian ini adalah menilai kepuasan pengguna jasa pelayanan kesehatan di Rumah Sakit.Metode: Jenis penelitian deskriptif survei. Populasi adalah pengguna Rumah Sakit Umum Bahteramas Kendari. Pengambilan sampel dilakukan secara purpoisive sampling Penelitian dilakukan  dengan memberikan kuesioner kepuasan pengguna rumah sakit. Sampel  terjaring 200 orang. Variable penelitian adalah kepuasan pengguna rumah sakit dengan 14 (empat belas) indikator. Hasil: Indikator prosedur pelayanan dan indikator persyaratan pelayanan mempunyai indeks kepuasan  yang kurang sedangkan indikator kejelasan petugas,kedisiplinan petugas, tanggung jawab petugas, kemampuan petugas,kecepatan petugas, keadilan memdapatkan pelayanan,kesopanan dan keramahan petugas, kepastian jadwal pelayanan, kenyamanan lingkungan dan keamaman lingkungan masing-masing indicator mempunyai nilai  indeks kepuasan yang baik. Secara keseluruhan indeks kepuasan Rumah sakit Umum Bahteramas Kendari mempunyai indeks kepuasan katagori B yaitu baik.Simpulan:  Pengguna jasa merasakan kepuasan jasa pelayanan kesehatan Rumah Sakit Umum Bahtera Mas Kendari.Kata kunci: Kepuasan pengguna, dimensi pelayanan, rumah sakit.
Identifikasi usia berdasarkan metode Al Qahtani melalui radiograf panoramik di RSGM FKG UNPADAge identification based on Al Qahtani method through panoramic radiograph at the Dental Hospital of Universitas Padjadjaran Rusydiana, Fitri; Oscandar, Fahmi; Sam, Belly
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 28, No 3 (2016): Desember
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.366 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v28i3.18695

Abstract

Pendahuluan: Perkiraan usia dilakukan untuk mengetahui usia seseorang. Saat ini perkiraan usia banyak digunakan, kepentingannya adalah untuk forensik dan bidang kedokteran gigi. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui apakah Metode Al Qahtani mampu mengidentifikasi usia melalui radiograf panoramik di RSGM FKG Unpad. Metode: Penelitian ini dilakukan secara deskriptif sederhana dengan menggunakan software atlas Metode Al Qahtani, dengan melihat perkembangan gigi dan tingkat erupsi dari masing-masing radiograf panoramik. Hasil: Sebanyak 94 sampel yang diteliti, hanya 66 sampel dengan hasil usia gigi berdasarkan Metode Al Qahtani yang sama dengan usia pasien, sedangkan dari sisanya terdapat 28 sampel dengan usia gigi Metode Al Qahtani yang berbeda dengan usia pasien. Simpulan: Metode Al Qahtani dapat mengidentifikasi sebagian besar (70.21%) usia melalui radiograf panoramik di RSGM FKG Unpad dengan hasil usia yang bervariasi pada kelompok usia anak. ABSTRACTIntroduction: Estimated age is done to determine someones age. At present age estimates are widely used, its importance is for forensics and the field of dentistry. The purpose of this study was to determine whether the Al Qahtani Method was able to identify age through panoramic radiographs at RSGM FKG Unpad. Methods: This study was carried out in a simple descriptive manner using the atlas software of the Al Qahtani Method, by observing the development of teeth and the eruption rate of each panoramic radiograph. Results: A total of 94 samples were studied, only 66 samples with dental age results based on the Al Qahtani Method which were the same as the patients age, whereas of the remaining 28 samples with teeth age, the Al Qahtani Method was different from the patients age. Conclusion: Al Qahtani method can identify the majority (70.21%) of age through panoramic radiographs at RSGM FKG Unpad with varying age results in the age group of children.Keywords: Age identification, Al Qahtani method, panoramic radiograph.
Identifikasi relasi maksilomandibula rahang tidak bergigi lengkapIdentification of edentulous maxillomandibular relation classification Jessicca, Maria; Bonifacius, Setyawan; Damayanti, Lisda
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 29, No 1 (2017): April
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (301.056 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v29i1.18604

Abstract

Pendahuluan: Pasien tidak bergigi lengkap yang sudah terlalu lama, umumnya mengalami perubahan anatomi dalam rongga mulut seiring bertambahnya usia, termasuk perubahan pada relasi maksilomandibula, sehingga keadaan ini akan menambah tingkat kesulitan dalam perawatan. American College of Prosthodontic telah mengembangkan suatu sistem klasifikasi untuk membantu dalam menyusun rencana perawatan gigi tiruan lengkap yang terdiri dari beberapa kriteria diagnostik utama salah satunya adalah relasi maksilomandibula. Tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi klasifikasi relasi maksilomandibula pada rahang tidak bergigi lengkap pada pasien di Klinik Prostodonsia RSGM FKG Universitas Padjadjaran (Unpad). Metode: Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan teknik survei. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Sampel penelitian didapat dari 20 artikulator yang sudah dipasang model kerja rahang tidak bergigi lengkap atas dan bawah. Relasi maksilomandibula didapat dari pemeriksaan artikulator gigi tiruan lengkap secara langsung yang sedang dikerjakan oleh ko-ass atau residen. Hasil: Klasifikasi relasi maksilomandibula kelas I ditemukan sebanyak 12 responden (60%), kelas II sebanyak 2 responden (10%), dan kelas III sebanyak 6 responden (30%). Simpulan: Klasifikasi relasi maksilomandibula kelas I sebanyak 12 responden (60%) merupakan relasi yang paling banyak ditemukan pada pasien rahang tidak bergigi lengkap di RSGM FKG Unpad. ABSTRACTIntroduction: Patients with long period edentulous jaw, generally experience anatomic changes in the oral cavity as we get older, including changes in the maxillomandibular relation, so this condition will increase the level of difficulty in treatment. The American College of Prosthodontic has developed a classification system to assist in developing a complete denture treatment plan consisting of several main diagnostic criteria, one of which is maxillomandibular relations. The aim of the study was to identify the classification of maxillomandibular relations in edentulous patients at the RSGM FKG Prosthodontics Clinic, Padjadjaran University (Unpad). Methods: This type of research is a descriptive study with survey techniques. Sampling using purposive sampling technique. The research sample was obtained from 20 articulators that had been installed with a complete upper and lower toothless jaw working model. Maxillomandibular relation was obtained from direct complete denture articulator examination that was being done by co-ass or resident. Result: Classification of class I maxillomandibular relations was found as many as 12 respondents (60%), class II as many as 2 respondents (10%), and class III as many as 6 respondents (30%). Conclusion: Classification of class I maxillomandibular relationships as many as 12 respondents (60%) is the most common relation in incomplete toothless jaw patients at FKG Unpad RSGM.Keywords: Edentulous jaw, maxillomandibular relation classification.
Perilaku orang tua terhadap pemeliharaan kesehatan gigi anak pada Sekolah Dasar Negeri MekarjayaParents behaviour on the childrens dental health maintenance at Mekarjaya State Primary School Rizaldy, Adhya; Susilawati, Sri; Suwargiani, Anne Agustina
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 29, No 2 (2017): Agustus
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (316.163 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v29i2.18577

Abstract

Pendahuluan:Orang tua sangat mendasari terbentuknya perilaku pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut anak. Orang tua dianggap memiliki pengetahuan untuk mengajarkan anaknya berbagai hal dasar mengenai menjaga kesehatan tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran perilaku orang tua tentang pemeliharaan kesehatan gigi pada anak Sekolah Dasar Negeri Mekarjaya. Metode:Penelitian ini merupakan penelitan deskriptif dengan metode survei berupa pengisian kuisioner. Metode pengambilan menggunakan teknik sampling jenuh (total sampling). Sampel merupakan orang tua (Ibu) murid SDN Mekarjaya yang berjumlah 55 orang. Hasil:Perilaku orang tua tentang pemeliharaan kesehatan gigi pada anak yang meliputi pengetahuan adalah sebesar 55% termasuk dalam kategori kurang baik, sikap sebesar 77,37% termasuk dalam kategori baik, dan tindakan sebesar 75,38% termasuk dalam kategori baik. Simpulan: Perilaku orang tua tentang pemeliharaan kesehatan gigi pada anak Sekolah Dasar Negeri Mekarjaya yang meliputi pengetahuan pemeliharaan kesehatan gigi memperlihatkan hasil yaitu kurang baik sedangkan sikap dan tindakan dikategorikan baik.ABSTRACTIntroduction: Parents strongly underlie the formation of childrens oral health care behavior. Parents are considered to have the knowledge to teach their children various basic things about maintaining a healthy body. This study aims to determine the description of parents behavior about dental health maintenance in children of Mekarjaya State Elementary School. Methods: This research is a descriptive research with a survey method in the form of filling out a questionnaire. The retrieval method uses saturated sampling technique (total sampling). The sample is the parents (Mothers) of 55 Mekarjaya Elementary School students. Result: Parents behavior about dental health maintenance in children which includes knowledge is 55% included in the unfavorable category, attitudes of 77.37% are in the good category, and actions of 75.38% are in the good category. Conclusion: Parents behavior about dental health maintenance in children of Mekarjaya Elementary School which includes knowledge of dental health maintenance shows results that are not good while attitudes and actions are categorized as good.Keywords: Behavior, parents, maintenance of dental health.
Perbedaan kadar kalium dan natrium pada saliva pasien periodontitis kronis dan tanpa periodontitis kronisDifferences in potassium and sodium levels in the saliva of patients with and without chronic periodontitis Mahardhika, Muhammad Haikal; Hendiani, Ina; Susanto, Agus
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 28, No 3 (2016): Desember
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.059 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v28i3.18702

Abstract

Pendahuluan: Periodontitis kronis menyebabkan perbedaan kadar ion kalium dan natrium pada saliva karena terjadinya perpindahan ion- ion tersebut dari cairan intraseluler dan ekstraseluler sel dan jaringan yang mengalami peradangan menuju saliva. Tujuan penelitian ini bertujuan untuk  mengetahui perbedaan kadar kalium dan natrium pada saliva pasien periodontitis kronis dan pasien tanpa periodontitis kronis. Metode: Penelitian deskriptif analitik, subjek penelitian sebanyak 30 pasien, terdiri dari 15 pasien periodontitis kronis dan 15 pasien tanpa periodontitis kronis. Pengukuran poket periodontal dan pengambilan saliva menggunakan spitting method serta pengukuran kadar kalium dan natrium saliva dalam satuan mmol/L menggunakan spektrofotometer AAS. Data diuji secara statistik menggunakan uji t independent sample test. Hasil: rata-rata kadar kalium dan natrium pada pasien periodontitis kronis (18,22 mmol/L dan 9,92 mmol/L), sedangkan pada pasien tanpa periodontitis kronis (16,54 mmol/L dan 6,95 mmol/L). Tidak terdapat perbedaan signifikan kadar kalium saliva pasien periodontitis kronis dan pasien tanpa periodontitis kronis (p=0,351), dan terdapat perbedaan signifikan kadar natrium pada saliva pasien periodontitis kronis dan pasien tanpa periodontitis kronis (p=0,004). Simpulan: Kadar natrium pada saliva pasien periodontitis kronis lebih tinggi dibandingkan pasien tanpa periodontitis. ABSTRACTIntroduction: Chronic periodontitis causes differences in potassium and sodium ion levels in saliva due to the transfer of these ions from intracellular and extracellular fluid cells and tissues that experience inflammation into saliva. The aim of this study was to determine differences in potassium and sodium levels in the saliva of chronic periodontitis patients and patients without chronic periodontitis. Methods: A descriptive analytic study conducted towards 30 patients, consisting of 15 chronic periodontitis patients and 15 patients without chronic periodontitis. Measurement of periodontal pockets and saliva retrieval using spitting method and measurement of salivary potassium and sodium levels in mmol / L using AAS spectrophotometer. Data were statistically tested using independent sample test t test. Results: The average potassium and sodium levels in chronic periodontitis patients (18.22 mmol / L and 9.92 mmol / L), whereas in patients without chronic periodontitis (16.54 mmol / L and 6.95 mmol / L) . There were no significant differences in potassium saliva levels of chronic periodontitis patients and patients without chronic periodontitis (p = 0.351), and there were significant differences in sodium levels in the saliva of chronic periodontitis patients and patients without chronic periodontitis (p = 0.004). Conclusion: Sodium levels in the saliva of chronic periodontitis patients are higher than patients without periodontitis.Keywords: Potassium, sodium, chronic periodontitis, saliva.

Page 7 of 49 | Total Record : 483