Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Tradisi Nyabis Dalam Pendidikan Karakter Keluarga Madura: Resistensi Kultural Terhadap Ekstremisme Keagamaan Helyati Helyati; Mohammad Muchlis Solichin
IHSAN: Jurnal Penelitian dan Pendidikan Islam Vol. 2 No. 1: Mei 2026
Publisher : Ihsan Cahaya Pustaka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66031/ihsan.v2i1.524

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis tradisi Nyabis dalam pendidikan karakter keluarga Madura sebagai bentuk resistensi kultural terhadap berkembangnya ekstremisme keagamaan. Di tengah meningkatnya isu radikalisme dan menguatnya kecenderungan keberagamaan yang eksklusif, masyarakat Madura sebenarnya telah memiliki mekanisme budaya yang berfungsi sebagai sarana transmisi nilai-nilai sosial, moral, dan keagamaan yang moderat melalui tradisi Nyabis. Nyabis adalah budaya silaturrahim kepada tokoh agama atau tokoh yang dihormati di Madura. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain etnografi untuk memahami makna, praktik, dan nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi nyabis yang masih dilestarikan oleh keluarga Madura di kecamtan Pragaan. Data diperoleh melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan tokoh agama, tokoh masyarakat, dan anggota keluarga Madura, serta studi dokumentasi. Analisis data dilakukan secara interaktif melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Nyabis berfungsi sebagai media internalisasi nilai-nilai kemaduraan yang mencakup penghormatan kepada orang tua dan ulama, solidaritas sosial, kerendahan hati, gotong royong, toleransi, serta religiusitas yang inklusif. Nilai-nilai tersebut ditransmisikan secara turun-temurun dalam lingkungan keluarga sehingga membentuk karakter individu yang berorientasi pada harmoni sosial. Temuan penelitian juga mengungkap bahwa tradisi Nyabis menjadi alternatif model resistensi kultural yang efektif dalam membangun ketahanan keluarga terhadap penetrasi ideologi ekstremisme keagamaan dengan memperkuat karakter individu dengan melestarikan kearifan budaya lokal yang selaras dengan nilai-nilai Islam wasathiyah yang humanis. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan model pendidikan karakter berbasis kearifan lokal sebagai strategi pendidikan dan penguatan karakter keluarga dan pencegahan ekstremisme keagamaan dalam masyarakat di era disrupsi.  
Peran Kiai dalam Pendidikan Islam Madura sebagai Agen Deradikalisasi Narasi Islamisme Uswatun Hasanah; Mohammad Muchlis Solichin
Fatih: Journal of Contemporary Research Vol. 3 No. 1 (2026): January-June
Publisher : Yayasan Zia Salsabila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61253/c70hde74

Abstract

Meningkatnya penetrasi narasi Islamisme dalam ruang pendidikan Islam menjadi tantangan serius bagi upaya penguatan moderasi beragama di Indonesia. Fenomena ini tidak hanya memengaruhi wacana keagamaan, tetapi juga berpotensi membentuk cara pandang eksklusif di kalangan generasi muda Muslim. Dalam konteks tersebut, pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tradisional memiliki peran strategis dalam menjaga dan mengembangkan corak Islam moderat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran kiai sebagai aktor kultural dalam proses deradikalisasi narasi Islamisme di lingkungan pesantren. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus di Pondok Pesantren Annuqayyah Guluk-Guluk Madura. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan kiai, ustadz, santri, dan alumni, serta dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan teknik reduksi data, koding tematik, dan interpretasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kiai berperan sebagai agen utama deradikalisasi berbasis budaya melalui otoritas karismatik, transmisi nilai Ahlussunnah wal Jamā‘ah, keteladanan (uswah), serta pengendalian narasi keagamaan. Pendekatan kultural dan persuasif yang digunakan terbukti efektif dalam membentuk pemahaman Islam moderat, inklusif, dan kontekstual di kalangan santri tanpa menggunakan pendekatan koersif. Selain itu, relasi kiai–santri yang bersifat emosional dan spiritual menjadi faktor kunci dalam proses internalisasi nilai-nilai moderasi. Implikasi penelitian ini menegaskan pentingnya pengembangan model deradikalisasi non-struktural yang berbasis pada aktor lokal dan kearifan budaya pesantren sebagai alternatif strategis dalam menghadapi penyebaran ideologi Islamisme di Indonesia.
Efektivitas Kepemimpinan Profetik dalam Pembentukan Karakter Peserta Didik: Studi Lapangan di SDI Darussalam Omben Sampang Iklilullah Iklilullah; Mohammad Muchlis Solichin; Alinurhadi Alinurhadi
Populer: Jurnal Penelitian Mahasiswa Vol. 5 No. 2 (2026): Juni: Populer: Jurnal Penelitian Mahasiswa
Publisher : Universitas Maritim AMNI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58192/populer.v5i2.4435

Abstract

This study aims to analyze the effectiveness of prophetic leadership as an instrument for character formation among students at SDI Darussalam Omben Sampang. The research is motivated by the urgent need to strengthen character education amid increasing moral decline in educational settings. A qualitative approach with a field research design was employed, with data collected through participatory observation, in-depth interviews, and documentation review involving the principal, teachers, and students. Data were analyzed interactively through reduction, presentation, and conclusion verification, validated via source triangulation and member checking. Findings reveal that prophetic leadership was concretely implemented through exemplary conduct, effective communication, and comprehensive stakeholder engagement. Core prophetic values—honesty (shiddiq), trustworthiness (amanah), wisdom (fathanah), and effective communication (tabligh)—were successfully internalized through consistent habituation programs and school culture development. Consequently, measurable improvements in students' character were observed across dimensions of discipline, responsibility, and social awareness. This study contributes to strengthening the conceptual framework of prophethood-based leadership as a relevant approach to character education in Islamic educational institutions.