Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

Kiai as Local Knowledge Authority: The Genealogy of Madurese Ulama’s Role in Shaping Nusantara Islamic Studies Achmad Muzammil Alfan Nasrullah; Nor Hasan; Zainuddin Syarif; Mohammad Muchlis Solichin; Mohammad Hasan
Al Qodiri : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Keagamaan Vol. 24 No. 2 (2026): Al Qodiri: Jurnal Pendidikan, Sosial dan Keagamaan
Publisher : Universitas Islam KH. Achmad Muzakki Syah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53515/alqodiri.v24i2.88

Abstract

The role of the kiai as an epistemic authority remains central in shaping Islamic knowledge within the pesantren tradition, particularly in the context of Nusantara Islam, where religion and local culture interact dynamically. This study aims to analyze how KH. Mohammad Saleh Abdullah constructs, sustains, and disseminates epistemic authority within Pondok Pesantren Mathali’ul Anwar Putri, Sumenep. Employing a qualitative case study design integrated with a genealogical approach, data were collected through in-depth interviews, participant observation, and document analysis over a two-month fieldwork period. The findings reveal four interconnected mechanisms underlying the formation of epistemic authority. First, authority is genealogically constructed through sanad continuity and reinforced by pedagogical discipline that emphasizes foundational learning. Second, kitab kuning functions as an epistemic infrastructure that organizes knowledge transmission through structured methods such as bandongan and sorogan. Third, a hybrid epistemology emerges through the integration of Islamic teachings and local Madurese cultural practices, enabling contextual adaptation without compromising doctrinal principles. Fourth, an alumni network operates as a mechanism for disseminating and reproducing epistemic authority across regions. These findings indicate that epistemic authority in the pesantren context is dynamic, relational, and continuously reproduced through the interaction of tradition, culture, and social networks. This study contributes theoretically by positioning the kiai as an active epistemic agent and introducing hybrid epistemology as a conceptual framework, while practically offering insights into the role of pesantren in fostering contextual and moderate Islamic knowledge.
Islamic Modernism in the Perspective of Teachers and Its Implications for the Design of A Love-Based Curriculum in Madrasah Aliyah Jalaludin Faruk Azhari; Mohammad Muchlis Solichin; Nor Hasan; Mohammad Hasan
Cendekiawan : Jurnal Pendidikan dan Studi Keislaman Vol 5 No 2 (2026): June: Multiple Intelligences of Students in Formal, Informal, and Nonformal Educa
Publisher : Yayasan Zia Salsabila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61253/cendekiawan.v5i2.563

Abstract

This study aims to identify the Islamic modernism thinking of Arabic teachers at MA Miftahul Ulum Al-Islamy Bangkalan, analyzing its implications for the design of a love-based curriculum. This research uses a qualitative approach with a type of phenomenology. Data were collected through semi-structured interviews, observations, and documentation, and then analyzed using Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). The validity of the data is maintained through source triangulation, method triangulation, and member checking. The results of the study show that the Islamic modernism thinking of Arabic teachers is reflected in five main characters, namely rational orientation in understanding texts, integration of ICT in learning, acceptance of new methods without leaving the tradition of pesantren, contextualization of Arabic materials with modern life, and emphasis on developing students' communication skills. This thinking has implications for the design of a love-based curriculum in the form of strengthening learning philosophy, developing integrative and humanist teaching tools, and creating a warm, safe learning environment that supports students' academic and affective growth.
Peran Kepemimpinan Kharismatik Kiai dalam Transformasi Pesantren di Era Modern (Studi Kasus di Pondok Pesantren Nurus Salam Saba Tambak Palengaan, Pamekasan) Sukron Sukron; Mohammad Muchlis Solichin; Ach. Jalaludin; Ali Nurhadi
Cendekiawan : Jurnal Pendidikan dan Studi Keislaman Vol 5 No 2 (2026): June: Multiple Intelligences of Students in Formal, Informal, and Nonformal Educa
Publisher : Yayasan Zia Salsabila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61253/cendekiawan.v5i2.603

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran kepemimpinan kharismatik kiai dalam transformasi pesantren di era modern. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus yang dilaksanakan di Pesantren Nurus Salam Saba Tambak Palengaan, Pamekasan. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan kharismatik kiai berperan sebagai sumber legitimasi, penggerak perubahan, dan penjaga nilai-nilai tradisional pesantren. Kharisma kiai mampu membangun kepercayaan dan loyalitas santri sehingga mendukung keberhasilan transformasi, terutama dalam integrasi antara sistem pendidikan tradisional dan modern. Transformasi yang terjadi bersifat adaptif dan tidak menghilangkan identitas pesantren. Namun demikian, ditemukan adanya ketergantungan terhadap figur kiai dalam pengambilan keputusan yang menjadi tantangan dalam pengembangan manajemen yang lebih profesional. Maka dari itu, diperlukan korelasi kepemimpinan kharismatik dan sistem manajerial yang terstruktur agar transformasi pesantren dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Implementasi Manajemen Mutu dalam Mewujudkan Kelembagaan Pendis Unggul pada SD Plus Nurul Hikmah Pamekasan Nurul Fajriyah; Mohammad Muchlis Solichin; Ali Nurhadi
Cendekiawan : Jurnal Pendidikan dan Studi Keislaman Vol 5 No 2 (2026): June: Multiple Intelligences of Students in Formal, Informal, and Nonformal Educa
Publisher : Yayasan Zia Salsabila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61253/cendekiawan.v5i2.627

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis integrasi kepemimpinan dan budaya organisasi dalam meningkatkan mutu pendidikan Islam pada SD Plus Nurul Hikmah Pamekasan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan yang diterapkan bersifat partisipatif dan kolaboratif, serta mampu membentuk budaya organisasi yang religius, disiplin, dan berorientasi pada nilai-nilai Islam. Budaya organisasi tersebut diinternalisasikan melalui pembiasaan, keteladanan, dan program unggulan sekolah. Integrasi antara kepemimpinan dan budaya organisasi terbukti berkontribusi dalam meningkatkan mutu pendidikan yang bersifat holistik, mencakup aspek akademik, spiritual, dan sosial. Selain itu, meningkatnya kepercayaan masyarakat menjadi indikator keberhasilan mutu lembaga. Dengan demikian, integrasi kepemimpinan dan budaya organisasi merupakan faktor strategis dalam mewujudkan pendidikan Islam yang unggul dan berkelanjutan.
Peran Kepemimpinan Ibu Nyai dalam Membangun Karakter Santri di Pondok Pesantren Al-Azhar Azzayyadiyah Sampang Nur Hayati; Ifqotus Zahroh; Mohammad Muchlis Solichin; Ali Nurhadi
Cendekiawan : Jurnal Pendidikan dan Studi Keislaman Vol 5 No 2 (2026): June: Multiple Intelligences of Students in Formal, Informal, and Nonformal Educa
Publisher : Yayasan Zia Salsabila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61253/cendekiawan.v5i2.642

Abstract

Kepemimpinan dalam lembaga pembelajaran pesantren mempunyai kedudukan berarti dalam membentuk kepribadian santri. Salah satu figur sentral dalam area pesantren merupakan ibu nyai yang mempunyai kedudukan strategis dalam pembinaan moral, spiritual, serta sosial santri, spesialnya santri gadis. Riset ini bertujuan buat menganalisis kedudukan kepemimpinan bunda nyai dalam membangun kepribadian santri di Pondok Pesantren Al-Azhar Azzayyadiyah Sampang. Tata cara riset yang digunakan merupakan pendekatan kualitatif dengan metode pengumpulan informasi lewat observasi, wawancara, serta dokumentasi. Hasil riset menampilkan kalau kepemimpinan ibu nyai berfungsi berarti dalam pembuatan kepribadian santri lewat keteladanan, pembinaan spiritual, pengawasan ketertiban, dan pemberian motivasi serta nasihat. Tidak hanya itu, pendekatan yang bertabiat keibuan serta penuh kasih sayang sanggup menghasilkan area pembelajaran yang kondusif untuk pembuatan akhlak serta karakter santri. Dengan demikian, kepemimpinan ibu nyai jadi aspek berarti dalam membentuk santri yang berakhlak mulia, disiplin, serta bertanggung jawab.
Reproduksi dan Transformasi Gender dalam Keluarga Madura: Perspektif Pendidikan Agama Islam Suyyinah Suyyinah; Mohammad Muchlis Solichin; Nasrullah Nasrullah
Fatih: Journal of Contemporary Research Vol. 3 No. 1 (2026): January-June
Publisher : Yayasan Zia Salsabila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61253/s89zaw53

Abstract

Keluarga merupakan institusi pendidikan pertama yang berperan penting dalam pembentukan nilai, identitas, dan relasi gender. Dalam masyarakat Madura, pendidikan agama Islam tidak hanya berfungsi sebagai sarana transmisi ajaran keagamaan, tetapi juga menjadi media pewarisan nilai-nilai budaya yang membentuk pemahaman mengenai peran laki-laki dan perempuan dalam kehidupan keluarga. Artikel ini bertujuan menganalisis reproduksi dan transformasi gender dalam keluarga Madura melalui perspektif pendidikan agama Islam. Penelitian ini menggunakan metode kajian pustaka (library research) dengan mengkaji berbagai literatur yang relevan mengenai pendidikan agama Islam, gender, keluarga, dan masyarakat Madura. Analisis data dilakukan secara deskriptif-analitis dengan menggunakan teori strukturasi Anthony Giddens untuk menjelaskan hubungan antara struktur sosial dan agensi dalam pembentukan relasi gender. Hasil kajian menunjukkan bahwa pendidikan agama Islam berperan sebagai struktur sosial yang mereproduksi nilai-nilai gender melalui proses sosialisasi dan internalisasi norma mengenai kepemimpinan laki-laki, pembagian peran keluarga, serta tanggung jawab domestik dan publik. Namun demikian, pendidikan agama Islam juga menjadi ruang transformasi gender ketika anggota keluarga melakukan negosiasi dan reinterpretasi terhadap nilai-nilai tersebut seiring meningkatnya akses pendidikan, partisipasi ekonomi perempuan, dan perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat Madura. Artikel ini menyimpulkan bahwa reproduksi dan transformasi gender berlangsung secara simultan melalui interaksi antara pendidikan agama Islam, budaya lokal, dan agensi anggota keluarga dalam merespons dinamika sosial kontemporer
Child Protection in Indonesian Islamic Boarding Schools: Between Compliance and Normative Coherence. A Systematic Literature Review Achmad Muzammil Alfan Nasrullah; Mohammad Muchlis Solichin; Siswanto Siswanto
FIKROTUNA: Jurnal Pendidikan dan Manajemen Islam Vol. 15 No. 01 (2026): FIKROTUNA: Jurnal Pendidikan dan Manajemen Islam
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Institut Agama Islam Al-Khairat Pamekasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32806/jf.v15i01.1810

Abstract

Child protection in Indonesian pesantren remains structurally compromised by a normative gap between Islamic legal principles and state regulatory instruments, a gap distinct from mere enforcement failure. This systematic review synthesizes existing scholarship on this tension and proposes an integrative analytical framework grounded in maqāṣid al-sharīʻah. Following the PRISMA 2020 protocol, 51 peer-reviewed articles (2014–2025) were retrieved from Scopus, Web of Science, ERIC, and Dimensions and analyzed using a hybrid thematic-framework synthesis informed by Jasser Auda's systems approach to maqāṣid. Three disconnected literature streams were identified: empirical-structural studies documenting violence, compliance-oriented assessments of regulatory adherence, and maqāṣid-doctrinal analyses confined to family law, none of which integrates all three within the pesantren context. Applying a four-domain normative gap rubric to taʻzīr legitimacy, reporting mechanisms, kiai–santri power relations, and disciplinary boundaries, a composite gap score of 9.75/12 was obtained relative to Perdirjen 1262/2024, indicating a critical coherence deficit. The Beyond Compliance framework proposed here operates at three recursive levels, normative, institutional, and evaluative, arguing that effective child protection requires principled coherence between Islamic law and state regulation, not compliance with the latter alone. This constitutes the First PRISMA-based systematic review in internationally indexed databases that integrates maqāṣid al-sharīʻah with pesantren child protection scholarship, and the first peer-reviewed evaluation of Perdirjen 1262/2024. Findings carry direct implications for pesantren policy reform and Islamic jurisprudence on child welfare
Integrasi Global Citizenship dan Nilai Pangèsto Dalam Pendidikan Islam Moderat di Madura Achmad Firdausi; Mohammad Muchlis Solichin; Faidl Royhan
Bayani: Jurnal Studi Islam Vol 6 No 1 (2026): Bayani: Jurnal Studi Islam
Publisher : LPPAIK Universitas Muhammadiyah Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52496/bayaniV.6I.1pp61-82

Abstract

Moderate Islamic education in Madura requires a conceptual formulation that is able to connect local wisdom, Islamic values and awareness of global responsibility. However, regarding global citizenship in Islamic education, it is still relatively limited in placing Pangèsto as a local Madura ethic that reflects gratitude, reciprocity, and prosocial responsibility. The article aims to formulate an integration model between global citizenship, Pangèsto values and moderate Islamic education. This study uses a qualitative-descriptive approach with a literature study type. Data were analyzed through thematic content analysis of literature that discusses global citizenship, religious moderation, Islamic education, Madura local wisdom, and the theory of gratitude and prosocial responsibility. This study shows that Pangèsto is not only understood as a practice of repaying personal services, but also as a local form of gratitude, moral reciprocity, and prosocial responsibility. In moderate Islamic education, Pangèsto values have a slice of values with gratitude, manners, and ihsan, ukhuwah, tasamuh, and humanitarian responsibility. When integrated with global citizenship, the meaning of Pangèsto has expanded from individual reciprocity to social responsibility towards society, nation, humanity, and the environment. This article offers an integrative framework in the form of: Pangèsto as a local value of Madura – moderate Islamic values / adab and gratitude – global citizenship based on empathy, solidarity, peace, justice, and social-environmental responsibility.
Hidden Curriculum in Islamic Religious Education: Production of Values and Social Piety in Islamic Schools Mohammad Muchlis Solichin; Mohammmad Hasan; Nor Hasan; Siswanto
Aslama: Jurnal Pendidikan Islam Vol. 3 No. 1 (2026): Aslama: Jurnal Pendidikan Islam
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/ajpi.v3i1.13012

Abstract

This study examines the hidden curriculum in Islamic Religious Education (PAI/IRE) in Islamic schools and its contribution to value production and the formation of students' social piety. Employing a qualitative approach with a multiple case study design, the research was conducted in three Islamic Senior High Schools in East Java, Indonesia, over ten months. Data were collected through participant observation, in-depth interviews with IRE teachers, school principals, students, and parents, and documentary analysis. Findings reveal that the hidden curriculum operates through three primary channels: classroom climate and daily ritual routines, relational expectations between teachers and students, and the symbolic dimensions of the school's physical space. These channels collectively produce value dispositions — honesty, social care, collective responsibility, and empathy — that extend substantially beyond formal learning outcomes. This article argues that social piety, understood as a religious orientation expressed through ethical and just social action, is the primary product of an effective IRE hidden curriculum. Theoretical and practical implications for IRE curriculum development and Islamic educational policy are critically discussed.
Rekonstruksi Pendidikan Islam Berbasis Nilai Lokal Madura dalam Menghadapi Disrupsi Media Digital Sholihin; Mohammad Muchlis Solichin
IHSAN: Jurnal Penelitian dan Pendidikan Islam Vol. 2 No. 1: Mei 2026
Publisher : Ihsan Cahaya Pustaka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66031/ihsan.v2i1.496

Abstract

Era disrupsi media digital telah memicu pergeseran epistemologis yang mendasar, di mana otoritas keagamaan tradisional mulai tergerus oleh arus informasi siber yang fragmentaris dan instan. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan model rekonstruksi pendidikan Islam yang mampu mengintegrasikan spiritualitas lokal dengan rasionalitas digital guna menghadapi krisis identitas dan degradasi adab di era post-truth. Dengan menggunakan metode kualitatif melalui pendekatan studi pustaka (library research), penelitian ini mengeksplorasi falsafah masyarakat Madura, yaitu "Abantal Syahadat, Asapo’ Iman, Apajung Islam" sebagai basis etika digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa falsafah tersebut dapat ditransformasikan menjadi kerangka resiliensi digital: Abantal Syahadat sebagai filter teologis (integritas data), Asapo’ Iman sebagai kontrol afektif (moralitas siber), dan Apajung Islam sebagai pedoman aksiologis (legalitas etis). Penelitian ini menawarkan model pendidikan "Etno-Religio-Digital" yang mengedepankan hibridisasi otoritas di mana pendidik berperan sebagai kurator nilai dan penguatan kedaulatan digital lokal. Rekonstruksi ini penting untuk memastikan bahwa transformasi teknologi di lembaga pendidikan Islam tidak mencabut peserta didik dari akar budayanya, melainkan memperkuat karakter mereka sebagai subjek digital yang berintegritas dan moderat.