Wijayanti, Agnes Erida
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Wira Husada

Published : 17 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU TENTANG MENYUSUI DENGAN PERILAKU: RELATIONSHIP OF MOTHER'S KNOWLEDGE ABOUT BREASTFEEDING WITH BEHAVIOR Allya Saffa; Ika Mustika Dewi; Agnes Erida Wijayanti
Jurnal Keperawatan Notokusumo Vol. 10 No. 2 (2022): Desember
Publisher : LPPM STIKES NOTOKUSUMO YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (370.25 KB)

Abstract

Air Susu Ibu (ASI) merupakan makanan yang dikonsumsi oleh bayi berupa cairan biologis berwarna putih yang dihasilkan oleh kelenjar payudara ibu yang diperoleh bayi melalui proses menyusui. Tujuan Penelitian dari penelitian ini untuk Mengidentifikasi hubungan pengetahuan ibu tentang cara menyusui dengan perilaku menyusui pada ibu post partum. Metode penelitian ini menggunakan survey analtik dengan pendekatan cross sectional dilakukan pada bulan Juni 2022. Populasi dalam penelitian adalah ibu post partum di RSU Asri Purwakarta dan teknik pengambilan sampel pada penelitian ini di lakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling. Jumlah populasi dalam penelitian ini adalah sebanyak 60 responden. Alat pengumpulan data menggunakan kuesioner yang berisi 20 butir pertanyaan tentang pengetahuan ibu menyusui, lembar  observasi perilaku menyusui yang mengacu pada 8 item tindakan menyusui dan analisa data menggunakan uji spearman rank dengan menggunakan spss versi 22. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pengetahuan menyusui dengan perilaku menyusui memperoleh nilai significancy pada hasil menunjukan (p = 0,000 < 0,05). Serta nilai koefisien korelasi 0.558 menunjukan bahwa hubungan antara pengetahuan dan perilaku termasuk dalam kategori Korelasi Kuat karena berada di interval >0,5 – 0,75 di RSU Asri Purwakarta. Kesimpulan dari penelitian ini Ada hubungan antara pengetahuan dengan perilaku Di RSU Asri Purwakarta.   Mother's milk (ASI) is food consumed by infants in the form of a white biological liquid produced by the mother's breast glands that is obtained by the baby through the breastfeeding process. The purpose of this study was to identify the relationship between mother's knowledge about how to breastfeed and breastfeeding behavior in postpartum mothers.This research method uses an analytical survey with a cross sectional approach carried out in June 2022. The population in this study is post partum mothers at Asri Purwakarta General Hospital and the sampling technique in this study was carried out using purposive sampling technique. The total population in this study were 60 respondents. The data collection tool used a questionnaire containing 20 questions about the knowledge of breastfeeding mothers, an observation sheet on breastfeeding behavior that referred to 8 items of breastfeeding action and data analysis using the Spearman rank test using SPSS version 22.The results of this study indicate that knowledge of breastfeeding with breastfeeding behavior has a significant value in the results (p = 0.000 <0.05). And the correlation coefficient value of 0.558 shows that the relationship between knowledge and behavior is included in the category of Strong Correlation because it is in the interval >0.5 – 0.75 at Asri Hospital, Purwakarta. The conclusion of this research is that there is a relationship between knowledge and behavior at RSU Asri Purwakarta.
Analysis Health Reproductive Knowledge Toward Attitude Premenstrual Syndrome In Adolescent Agnes Erida Wijayanti; Yustinus Wahyu
Jurnal Keperawatan Respati Yogyakarta Vol 7 No 2 (2020): MAY 2020
Publisher : Universitas Respati Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35842/jkry.v7i2.471

Abstract

Knowledge of adolescents in Indonesia about reproductive health is still very low. For example menstruation as the puberty of women. Boys who know menstruation are around 37% (20-24 years) and 32% (15-19 years). While girls around 78% (20-24 years) and 75% (15-19 years). The research method used was a non-experimental study with a cross-sectional design. The population in this study were junior high school students, who had menstruated as many as 46 children. The sampling technique uses purposive sampling where the researcher determines the sampling by determining the special characteristics of the randomly chosen sample selection that has been menstruating by the Guidance Counseling teacher that are class VII and VIII then analyzing the data using the Spearman Rank test. The results of the study using the Spearman rank test showed a significance of 0,000 (p = 0,000 <0.01) so that there is a relationship between reproductive health knowledge with attitudes toward premenstrual syndrome in adolescents at Prambanan junior High School.
ANALISIS FAKTOR RESIKO KOMPLIKASI DIABETES MELLITUS TIPE 2 DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH SLEMAN YOGYAKARTA Handari, Murgi; Wijayanti, Agnes Erida; Ambarwati, Eny Retna
Jurnal Kesehatan Karya Husada Vol 11 No 1 (2023): Jurnal Kesehatan Karya Husada (JKKH)
Publisher : POLITEKNIK KESEHATAN KARYA HUSDA YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36577/jkkh.v11i1.572

Abstract

Diabetes melitus tipe 2 merupakan penyakit kronik yang berhubungan dengan harapan hidup sepuluh tahun lebih pendek, yang disebabkan berbagai komplikasi seperti: dua sampai empat kali lipat risiko penyakit kardiovaskular, antara lain penyakit jantung iskemik dan stroke, 20 kali lipat kemungkinan amputasi tungkai bawah, dan meningkatnya angka perawatan rumah sakit. Diabetes melitus tipe 2 merupakan penyebab utama kebutaan non-traumatik dan gagal ginjal. Meningkatnya risiko disfungsi kognitif dan demensia melalui proses penyakit seperti penyakit Alzheimer dan demensia vaskular. DM tidak dapat disembuhkan tetapi kadar gula darah dapat dikendalikan melalui diet, olah raga, dan obat-obatan. Kontrol kadar gula darah, tekanan darah, dan tingkat lipid darah dapat mencegah atau menunda timbulnya komplikasi diabetes. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis adanya hubungan antara faktor resiko dengan terjadinya komplikasi pada penderita diabetes mellitus tipe 2 di Rumah Sakit Umum Daerah Sleman, Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan metode analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 60 pasien diabetes mellitus tipe 2 di Rumah Sakit Umum Daerah Sleman Yogyakarta. Data dianalisis dengan menggunakan uji statistik chi-square(X2) dengan derajat kepercayaan 95% (α=0,5). Hasil uji chi square antara kepatuhan diet dengan komplikasi penyakit diabetes melitus didapatkan nilai p = 0,021. Antara kepatuhan berobat dengan komplikasi penyakit diabetes mellitus, didapatkan nilai p=0,038. Antara kebiasaan merokok dengan kejadian komplikasi diabetes mellitus, didapatkan nilai p=1,00. Antara riwayat penyakit dengan kejadian komplikasi diabetes mellitus, didapatkan nilai p=1,00. Kesimpulan penelitian, ada hubungan yang signifikan antara kepatuhan diet dengan komplikasi penyakit diabetes mellitus tipe 2. Ada hubungan yang signifikan antara kepatuhan berobat dengan komplikasi penyakit diabetes mellitus tipe 2. Tidak ada hubungan yang signifikan antara kebiasaan merokok dengan komplikasi penyakit diabetes mellitus tipe 2. Tidak ada hubungan yang signifikan antara riwayat keluarga dengan komplikasi penyakit diatese mellitus tipe 2 di RSUD Sleman yogyakarta Kata Kunci : faktor resiko, diabetes mellitus, komplikasi
Edukasi Terapi Komplementer Bagi Lansia Dengan Masalah Kesehatan Di Padukuhan Gunung Pentul, Wates, Kulonprogo Wijayanti, Agnes Erida; Sekarwati, Novita; Lesmana, Tedy Candra; Saputra, Alvito Surya
DIMAS: Jurnal Pengabdian Masyarakat Volume 7 Nomor 2 Juli 2024
Publisher : STIKES Wira Husada Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47317/dmk.v7i2.633

Abstract

Peningkatan Pengetahuan tentang terapi komplementer bagi lansia dengan masalah kesehatan Padukuhan Gunung Pentul Kulonprogo. Lansia di masyarakat mengalami masalah kesehatan seperti Hipertensi, Diabetes milletus, asam urat serta penyakit tidak menular lainnya, namun belum mengetahui tatalaksana selain minum obat dari dokter. Diperlukan upaya untuk memberikan pengetahuan kepada Masyarakat lansia agar dapat memilih pengobatan diluar obat oral yang diberikan oleh dokter, sebagai pelengkap dari terapi utama. Tujuan kegiatan pengabdian masyarakat ini untuk meningkatkan pengetahuan lansia dengan masalah kesehatan mengenai terapi komplementer dan alternatif. Kegiatan pengabdian ini berupa penyuluhan. Kegiatan memerlukan seperangkat komputer, proyektor, leaflet dan kuesioner. Sasaran pengabdian adalah Lansia dengan masalah kesehatan yang tinggal di Padukuhan Gunung Pentul Kulonprogro Yogyakarta. Materi penyuluhan meliputi definisi terapi komplementer, tujuan terapi komplementer, manfaat terapi komplementer, jenis-jenis terapi komplementer. Materi disajikan dalam bentuk slide Powerpoint dan pemutaran video mengenai penerapan terapi komplementer pada lansia (video penerapan akupresur pada Lansia dengan Hipertensi). Sebelum penyuluhan dimulai diberikan prestest dan posttest setelahnya. Pretest dan Posttest diberikan untuk mengetahui perubahan Tingkat pengetahuan tentang terapi komplementer dan alternatif. Diskusi dan tanya jawab dilakukan setelah materi selesai disampaikan. Nilai rata-rata sebelum penyuluhan diketahui sebesar 56,75 dan setelahnya 77,80. Dengan demikian terjadi peningkatan pengetahuan lansia tentang terapi komplementer.
Learning Culture from the Perspective of the Successful Indonesian Nurse Competency Examination Hidayat, Syaifurrahman; Hannan, Mujib; Huzaimah, Nailiy; Suprayitno, Emdat; Mumpuningtias, Elyk Dwi; Putri, Prestasianita; Wijayanti, Agnes Erida; Manuel da Silva, Adão
IJNP (Indonesian Journal of Nursing Practices) Vol. 8 No. 2 (2024): December
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/ijnp.v8i2.22426

Abstract

Background: The Indonesian Nurse Competency Examination (INCE) is a strategic component that determines the output of nursing graduate students. The varied geographical conditions of the various islands in Indonesia can influence access and quality of education, causing students to have a more inclusive perspective. The learning culture of Indonesian nursing students is unique and generally carries over to higher education, notably nursing profession education.Objective: The purpose of the study is to explain the learning culture model from the perspective of the success of the nurse competency examination and the relationship between learning culture and the success of the nurse competency examination.Methods: A qualitative and quantitative combination research (mixed method) with a sequential-exploratory design was employed. Stage 1 used descriptive qualitative methods. While data collecting used structured interviews, the sampling technique utilized snowball with (n=9), and data analysis used Sandelowski content analysis. Stage 2 was an observational analytical design with a retrospective approach involving 74 nursing students at Wiraraja University who lived in the Indonesian student area. Data analysis then employed the Structural Equation Model (SEM) test to find variables that significantly influence the success of INCE.Results: Stage-1 produced three themes: Theme-1: background of the learning environment concerning facilities utilization and searching strategy for learning resources; Theme-2: learning activities including learning styles, learning motivation, and self-confidence and abilities; Theme-3: learning habits comprising learning methods, concentration, and repeating the learning material. In stage 2, the result revealed that learning environment background (p=0.031), learning activities (p=0.021), and study habits (p=0.028) were significantly related to the success of the INCE on students.Conclusion: The learning culture of Indonesian students from the perspective of success in the INCE is formed starting from the pre-graduate level and continuing at the higher and professional levels.
Pengetahuan Mahasiswa tentang Aktivitas Fisik terhadap Resiko Penyakit Tidak Menular Fahni Haris; Kellyana Irawati; Laili Nur Hidayati; Agnes Erida Wijayanti; Ignatius Djuniarto; Andri Purwandari; Sendhi Tristanti Puspitasari
TRIAGE Jurnal Ilmu Keperawatan Vol 12 No 1 (2025)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61902/triage.v12i1.1612

Abstract

Background: The incidence of non-communicable diseases (NCDs) is increasing globally. Physical exercise, as a preventive and management strategy for NCDs, should be introduced to students at an early stage. Assessing students' level of knowledge regarding physical activity in relation to NCDs is essential as an academic foundation for conducting health promotion in hospital or community settings. Objective: To assess students' knowledge of physical activity in mitigating the risk of NCDs. Methods: This study employs a quasi-experimental with one group pretest-posttest design. The sample consists of 20 active nursing students who will undergo a clinical practice phase. Results: The paired t-test indicate a significant difference in the mean scores before and after the material presentation (p = 0.001; p < 0.05). Statistically, students' knowledge scores regarding physical activity for individuals with NCDs increased by an average of 2.4 points compared to pre-test score. Conclusion: Providing educational material on physical activity for NCDs is highly recommended for nursing students preparing for clinical practice to enhance their knowledge
Optimalisasi pengetahuan pola hidup sehat melalui gerakan masyarakat hidup sehat (GERMAS) Ambarwati, Eny Retna; Lestari, Reni Tri; Brahmana, Ivanna Beru; Andriyani, Widyastuti; Handari, Murgi; Istichomah, Istichomah; Wijayanti, Agnes Erida; Riadinata, Riadinata; Pratiwi, Fika
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 1 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i1.2692

Abstract

Background: Non-communicable diseases (NCDs) remain a major global public health challenge. Each year, approximately 41 million deaths, or nearly three-quarters of all global deaths, are caused by NCDs. Of these, approximately 17 million occur in people under 70 years of age, with the majority of cases (86%) occurring in low- and middle-income countries. This situation demands the strengthening of sustainable promotive and preventive strategies, one of which is through the implementation of the Healthy Living Community Movement.Purpose: Health promotion to increase knowledge, awareness, and community involvement in NCD prevention through the implementation of the Healthy Living Community Movement at the community level.Method: Community service was conducted at the Volleyball Court of RT 03, Sumbergamol Hamlet, Balecatur, Gamping, Sleman, Yogyakarta, involving 97 participants consisting of adolescents, fertile couples, and the elderly. The series of activities included joint physical activities such as healthy walks and exercise, free health check-ups for early detection, and education on the importance of consuming fruits and vegetables as part of a healthy lifestyle.Results: Observations showed an increase in core strength, improved joint and body mobility, participants were able to perform movements with balance and good coordination, and improved respiratory and circulatory systems. Most participants were able to follow the exercise movements correctly. The majority understood the importance of exercise for maintaining endurance and were motivated to develop healthy lifestyle habits consistently and independently.Conclusion: The community service program, focusing on the Healthy Living Community Movement, yielded positive results in increasing community awareness and participation in efforts to consistently and independently maintain and improve health. This activity also increased community knowledge about the importance of regular physical activity and daily consumption of fruits and vegetables for health.Suggestion: Empowerment of health cadres and community leaders, as well as synergy between village governments, health care facilities, educational institutions, and community organizations are expected to be the primary drivers in educating and motivating the public about adopting a healthy lifestyle. It is also hoped that with a shared commitment and strengthened cross-sector collaboration, the implementation of the Healthy Living Community Movement will have a broader and more sustainable impact on improving public health. Keywords: Health promotion; Healthy living community movement; Non-communicable diseases; Prevention Pendahuluan: Penyakit Tidak Menular (PTM) masih menjadi tantangan utama kesehatan masyarakat di tingkat global. Setiap tahun, sekitar 41 juta kematian atau hampir tiga perempat dari total kematian dunia disebabkan oleh PTM. Dari jumlah tersebut, sekitar 17 juta kematian terjadi pada usia kurang dari 70 tahun, dengan sebagian besar kasus (86%) ditemukan di negara berpendapatan rendah dan menengah. Kondisi ini menuntut penguatan strategi promotif dan preventif yang berkesinambungan, salah satunya melalui implementasi gerakan masyarakat hidup sehat (GERMAS).Tujuan: Promosi kesehatan guna meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan keterlibatan masyarakat dalam pencegahan PTM melalui penerapan GERMAS di tingkat komunitas.Metode: Pengabdian kepada masyarakat dilaksanakan di Lapangan Voli RT 03 Dusun Sumbergamol, Balecatur, Gamping, Sleman, Yogyakarta, dengan melibatkan 97 peserta yang terdiri atas remaja, pasangan usia subur, dan lansia. Rangkaian kegiatan meliputi aktivitas fisik bersama berupa jalan sehat dan senam, pemeriksaan kesehatan gratis sebagai langkah deteksi dini, serta penyuluhan mengenai pentingnya konsumsi buah dan sayur sebagai bagian dari pola hidup sehat.Hasil: Berdasarkan pengamatan, menunjukkan terdapat peningkatan kekuatan inti tubuh, peningkatan kemampuan gerak sendi dan tubuh, peserta mampu melakukan gerakan dengan seimbang dan koordinasi yang baik, perbaikan sistem pernapasan dan peredaran darah. Sebagian besar peserta mampu mengikuti gerakan senam dengan benar. Mayoritas peserta memahami pentingnya olahraga untuk menjaga daya tahan tubuh dan termotivasi untuk membangun kebiasaan hidup sehat secara konsisten dan mandiri.Simpulan: Program pengabdian masyarakat dengan fokus pada gerakan masyarakat hidup sehat (GERMAS) memberikan hasil yang positif dalam meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat terhadap upaya menjaga dan meningkatkan kesehatan secara konsisten dan mandiri. Kegiatan ini juga meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai pentingnya aktifitas fisik yang teratur dan mengkonsumsi buah dan sayur setiap hari terhadap kesehatan.Saran: Diharapkan, pemberdayaan kader kesehatan, tokoh masyarakat, serta sinergi antara pemerintah desa, fasilitas pelayanan kesehatan, institusi pendidikan, dan organisasi kemasyarakatan sebagai penggerak utama dalam mengedukasi dan memotivasi masyarakat mengenai penerapan pola hidup sehat. Diharapkan juga dengan komitmen bersama dan penguatan kolaborasi lintas sektor, implementasi GERMAS diharapkan mampu memberikan dampak yang lebih luas dan berkelanjutan terhadap peningkatan derajat kesehatan masyarakat.