Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

Gulf of Tomini Cardiac Arrhythmia Research and Exploration (G-CARE): A Multicenter Hospital-Based Outpatient ECG Study Muchtar Nora Ismail Siregar; Zuhriana K. Yusuf; Dian Pratiwi Iman; M. Yusril Ihza Djakaria
Jurnal Kardiologi Indonesia Vol 47 No 1 (2026): January - March, 2026
Publisher : The Indonesian Heart Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30701/ijc.1888

Abstract

Introduction: Cardiac arrhythmias pose a significant burden on global health, especially in underserved regions with limited access to diagnostics. In Indonesia, particularly in the Gulf of Tomini, epidemiologic data on arrhythmia prevalence are scarce. Methods: The G-CARE (Gulf of Tomini Cardiac Arrhythmia Research and Exploration) study was a hospital-based, multicenter, cross-sectional study conducted from 2023–2025 across four referral centers in Gorontalo Province. Adults aged ≥18 years who underwent 12-lead ECG examination were included through purposive sampling. ECGs were interpreted by board-certified cardiologists and classified by arrhythmia type. Results: A total of 3,177 patients were included (mean age: 53.9±14.9 years; 54.6% female). Normal ECGs were found in 43.4%. The most common abnormalities were ischemic ST-T changes (18.9%, 95% CI: 17.5–20.3), QTc prolongation (15.5%, 95% CI: 14.2–16.8), and left ventricular hypertrophy (10.1%, 95% CI: 9.1–11.2). Atrial fibrillation/flutter occurred in 3.5% (95% CI: 2.8–4.3), AV block in 3.7% (95% CI: 3.0–4.5), and Brugada Pattern in 0.4% (95% CI: 0.2–0.8). Age-related increases were observed for AF, AV block, and QT prolongation. PVC morphology showed high-risk features (QRS >160 ms, coupling interval <300 ms) in young adults. Conclusion: The G-CARE study identifies a high prevalence of electrocardiographic abnormalities among adults undergoing ECG in outpatient settings within the Gulf of Tomini region. Because the study used hospital-based, purposive sampling of patients who had an ECG ordered as part of routine clinical care, these estimates may be amplified by selection bias and do not directly represent the general population. Rather than serving as definitive evidence to support mass, population-level ECG screening, our findings should be considered hypothesis-generating and supportive of conducting a properly designed population-based study (with probability sampling) to determine the true community burden and to inform screening policy.
Profile of Hearing Loss and Related Risk Factors among Geriatric Patients at RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe Najmi Rizqa Damopolii; Helen Marie Yuliana Nazaruddin; Muh Nur Syukriani Yusuf; Dian Pratiwi Iman; Sri Manovita Pateda
Biomedical Journal of Indonesia Vol. 12 No. 2 (2026): Vol 12, No 2, 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/bji.v12i2.321

Abstract

Introduction. Hearing loss is a common health problem in the geriatric population and significantly affects quality of life and independence. This condition is multifactorial, involving interactions between natural degenerative processes, comorbid conditions, environmental factors, and lifestyle factors. This study aims to describe the factors that influence hearing loss among geriatric patients at RSUD (Regional General Hospital) Prof. Dr. H. Aloei Saboe, Gorontalo City. Methods. This study employed a quantitative descriptive survey method involving 63 geriatric respondents at the Internal Medicine Polyclinic who were selected using purposive sampling. Data were collected through questionnaires and physical examinations (Rinne-Weber test at 512 Hz) and were analyzed using univariate analysis with SPSS to determine the frequency distribution of each variable. Results. The majority of respondents (57.1%) experienced sensorineural hearing loss, were aged 60-69 years (79.4%), and were female (74.6%). The dominant comorbid factors were hypertension (42.9%) and a combination of hypertension and diabetes mellitus (22.2%). Regarding environmental factors, 49.2% of respondents lived near sources of noise, while 11.1% reported occupational noise exposure. In terms of lifestyle factors, obesity was found in 25.4% of respondents, while the prevalence of smoking (27%) and alcohol consumption (9.5%) was relatively low. Conclusion. The study site’s geriatric patients experience predominantly sensorineural hearing loss, with a high proportion of vascular comorbidities among affected patients.
Healthy Lunch Box Education Based on Balanced Nutrition Principles Using Puzzle Media for Children at TK ABA Bolihuangga Dian Pratiwi Iman; Vivien Novariana Kasim; Yuniarty Antu
Jurnal Mandala Pengabdian Masyarakat Vol. 7 No. 1 (2026): Jurnal Mandala Pengabdian Masyarakat
Publisher : Progran Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpm.v7i1.964

Abstract

Gizi seimbang merupakan susunan makanan harian yang terdiri atas berbagai jenis pangan dan mengandung semua zat gizi yang dibutuhkan tubuh. Anak-anak yang mendapatkan gizi seimbang memiliki peluang tumbuh dan berkembang secara optimal, yang berdampak positif terhadap kemajuan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi. Anak usia sekolah merupakan kelompok yang rentan terhadap pola makan tidak seimbang, seperti rendahnya konsumsi buah dan sayur, tingginya kecenderungan mengonsumsi makanan jajanan yang rendah gizi dan juga jarang membawa bekal dari rumah. Salah satu upaya untuk memperbaiki kebiasaan ini adalah melalui edukasi mengenai gizi kepada anak sekolah yang akan berperan penting dalam membentuk kebiasaan makan sehat sejak dini. Pemberian edukasi bekal sehat berbasis prinsip gizi seimbang menjadi langkah strategis dalam menanamkan kesadaran gizi sejak dini. Kegiatan ini diikuti oleh 22 anak Kelas B di TK ABA Bolihuangga. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui edukasi gizi seimbang dengan media puzzle pada anak ini telah memberikan dampak positif dan meningkatkan pemahaman anak usia dini mengenai konsep makanan sehat. Dimana sebanyak 16 dari 22 anak berhasil menyusun puzzle “Isi Piringku” dengan benar sesuai kelompok zat gizinya, yaitu makanan pokok, lauk-pauk, sayur, dan buah.
Efektivitas Pemanfaatan Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) terhadap Pengetahuan Ibu Hamil Nurhaliza Salim; Maimun Ihsan; Vivien Novarina A. Kasim; ⁠Sri Andriani Ibrahim; ⁠Dian Pratiwi Iman
JUKEJ : Jurnal Kesehatan Jompa Vol 5 No 2 (2026): JUKEJ: Jurnal Kesehatan Jompa
Publisher : Yayasan Jompa Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57218/jkj.Vol5.Iss2.2422

Abstract

Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia masih tinggi, termasuk di Provinsi Gorontalo yang belum mencapai target nasional. Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) merupakan salah satu upaya pemerintah dalam menekan AKI, namun pemanfaatannya oleh ibu hamil tidak selalu diikuti oleh peningkatan pengetahuan kesehatan kehamilan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi efektivitas pemanfaatan Buku KIA terhadap pengetahuan ibu hamil di Puskesmas Kota Timur, Gorontalo. Desain analitik observasional cross-sectional dilaksanakan pada Juli–September 2025 dengan total sampling menghasilkan 50 responden (usia gestasi 16–42 minggu, memiliki buku KIA). Data dikumpulkan menggunakan kuesioner tervalidasi dari Listriani (2018) dan Purnami (2021), dianalisis dengan uji korelasi Spearman melalui SPSS 26. Hasil menunjukkan 76% responden memanfaatkan buku KIA, dengan distribusi pengetahuan baik (38%), cukup (34%), dan kurang (28%), namun tidak terdapat korelasi signifikan antara pemanfaatan buku KIA dan pengetahuan ibu hamil (p = 0,634; r = 0,069). Pemanfaatan buku KIA tergolong tinggi, tetapi tidak efektif meningkatkan pengetahuan akibat rendahnya kebiasaan membaca dan persepsi buku sebagai dokumen medis semata. Diperlukan strategi interaktif berbasis edukasi untuk mengoptimalkan fungsi buku KIA sebagai media promosi kesehatan yang berkelanjutan.
Karakteristik Klinis Pasien Bell’s Palsy di Rumah Sakit Rujukan Tersier Gorontalo: Studi Deskriptif Ritzki Ahlan John Pietra Mokoginta; Muhammad Isman Jusuf; Zuhriana K. Yusuf; Muchtar Nora Ismail Siregar; Dian Pratiwi Iman
Journal of Comprehensive Science Vol. 5 No. 1 (2026): Journal of Comprehensive Science
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59188/jcs.v5i1.3955

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan karakteristik klinis pasien Bell's palsy di RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe, Gorontalo, periode 2023 hingga 2025. Penelitian ini menggunakan desain observasional deskriptif dengan pendekatan potong lintang untuk menggambarkan profil demografis dan klinis pasien yang didiagnosis Bell’s palsy. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasien berada pada kelompok usia 20–29 tahun (38,5%) dengan prevalensi yang lebih tinggi pada perempuan (65,4%). Gejala klinis yang paling umum adalah asimetri wajah, terutama mulut mencong (31,4%) dan kesulitan menutup mata (19,6%). Kortikosteroid diberikan kepada seluruh pasien, dan sebagian besar mencapai kesembuhan total (65,4%). Penelitian ini menekankan pentingnya diagnosis dan penatalaksanaan dini, terutama pada usia muda, serta menyoroti peran signifikan faktor lingkungan dan komorbiditas seperti hipertensi dan diabetes dalam prognosis Bell’s palsy. Temuan ini memberikan pemahaman lebih baik mengenai manifestasi klinis dan hasil penyakit di Gorontalo, serta memberikan wawasan bagi penyedia layanan kesehatan dalam mengelola Bell’s palsy secara lebih efektif.
Gambaran Pasien Penyakit Ginjal Kronik yang Menjalani Hemodialisis Reguler Mulia Tegar Arira Napu; Nelyan Helma Mokoginta; Dian Pratiwi Iman; Sri Andriani Ibrahim; Ivan Virnanda Amu
Jurnal Kesehatan Republik Indonesia Vol 3 No 1 (2025): JKRI - Desember 2025
Publisher : PT. INOVASI TEKNOLOGI KOMPUTER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit Ginjal Kronik (PGK) merupakan masalah kesehatan global dengan prevalensi yang terus meningkat, hemodialisis reguler menjadi terapi pengganti ginjal tersering di Indonesia. Penelitian ini bertujuan menggambarkan karakteristik pasien PGK yang menjalani hemodialisis reguler di RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe Gorontalo, meliputi demografi, status gizi berdasarkan Indeks Massa Tubuh (IMT), penyakit penyerta, lama menjalani HD, durasi dan frekuensi hemodialisis, gejala, kepatuhan pengobatan, jenis obat, serta profil pembiayaan obat. Penelitian deskriptif cross-sectional ini melibatkan 65 pasien yang dipilih secara purposif pada Agustus–September 2025. Data dikumpulkan melalui wawancara terstruktur menggunakan kuesioner dan pengukuran antropometri, lalu dianalisis secara univariat. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas pasien adalah perempuan (55,4%) berusia 45–64 tahun (66,1%), tidak bekerja (75,4%), dan berpendidikan tinggi (44,6%). dominan memiliki status gizi normal (67,7%) dengan komorbid utama diabetes melitus (43,1%). Rata-rata pasien telah menjalani HD >1 tahun (66,2%) dengan frekuensi 2 kali/minggu (95,4%) selama 4 jam/sesi (72,3%). Keluhan tersering adalah demam/menggigil (18,7%). Kepatuhan terhadap HD (86,2%) dan pengobatan (90,8%). Obat antihipertensi paling banyak digunakan (54,0%) dengan biaya mayoritas di bawah Rp100.000/bulan (40,6%). Pasien penyakit ginjal kronik menjalani hemodialisis reguler di RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe Gorontalo umumnya berusia 45–64 tahun, perempuan, dan tidak bekerja. Mayoritas memiliki status gizi normal, diabetes melitus sebagai komorbid utama. Sebagian besar telah menjalani hemodialisis lebih dari satu tahun, dua kali per minggu, selama empat jam per sesi. Keluhan tersering demam/menggigil. Kepatuhan terapi tinggi, dengan obat antihipertensi yang paling banyak digunakan dan biaya obat bulanan relatif rendah
Senyum Sehat Sejak Kecil : Edukasi Kesehatan Gigi Bagi Siswa SDIT Lukmanul Hakim Astri Anita; Siti Fadhilla Fitrianty Lahay; Dian Pratiwi Iman
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bangsa Vol. 3 No. 11 (2026): Januari
Publisher : Amirul Bangun Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59837/jpmba.v3i11.3931

Abstract

Karies gigi masih menjadi masalah kesehatan yang sering ditemukan pada anak usia sekolah, terutama pada fase gigi campuran. Tingginya prevalensi karies pada anak usia 5–9 tahun menunjukkan bahwa pemahaman mengenai kesehatan gigi dan pemilihan makanan yang tepat masih perlu ditingkatkan. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan siswa sekolah dasar mengenai kesehatan gigi, khususnya dalam membedakan jenis makanan yang bersifat protektif dan kariogenik. Kegiatan edukasi dilaksanakan secara interaktif pada 26 siswa kelas 2 SDIT Lukmanul Hakim. Penyampaian materi dilakukan melalui presentasi visual dan pemutaran video edukatif agar mudah dipahami oleh siswa. Setelah kegiatan edukasi, dilakukan evaluasi menggunakan post-test berupa lembar kerja yang berisi tugas mengelompokkan makanan berdasarkan sifatnya terhadap kesehatan gigi. Data hasil evaluasi kemudian dianalisis secara deskriptif untuk melihat tingkat pemahaman siswa. Hasil evaluasi menunjukkan sebagian besar siswa memiliki tingkat pengetahuan yang sangat baik, diikuti kategori baik dan cukup, tanpa ditemukan kategori kurang. Hal ini menunjukkan bahwa metode edukasi interaktif efektif dalam meningkatkan pemahaman siswa mengenai kesehatan gigi. Untuk menjaga keberlanjutan hasil tersebut, diperlukan kerja sama antara sekolah, orang tua, dan tenaga kesehatan dalam membentuk kebiasaan perawatan gigi yang sehat sejak usia dini.  
Hubungan Pengetahuan Manajemen Gizi dengan Status Gizi dan Pola Makan Mahasiswa Program Studi Sarjana Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo Tahun 2025 Rendi Afriyanto Lahabu; Vivien Novarina A Kasim; Cecy Rahma Karim; Dian Pratiwi Iman; Sri Manovita Pateda
Jurnal Riset Sains dan Kesehatan Indonesia Vol. 2 No. 6 (2025): Nov-Des
Publisher : CV. Science Tech Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69930/jrski.v2i6.607

Abstract

Pengetahuan manajemen gizi berperan penting dalam membentuk status gizi dan pola makan mahasiswa kedokteran yang memiliki kebutuhan yang tinggi. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan pengetahuan manajemen gizi dengan status gizi dan pola makan mahasiswa Program Studi Sarjana Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo tahun 2025. Penelitian menggunakan desain analitik cross-sectional pada 130 mahasiswa yang dipilih melalui purposive sampling. Pengetahuan manajemen gizi diukur menggunakan kuesioner 40 item, status gizi ditentukan melalui IMT, dan pola makan dinilai menggunakan FFQ 59 item. Analisis data dilakukan menggunakan uji Spearman rank dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 50,8% mahasiswa memiliki pengetahuan manajemen gizi kurang, 53,8% memiliki status gizi normal, dan 66,2% memiliki pola makan cukup. Tidak ditemukan korelasi signifikan antara pengetahuan manajemen gizi dan status gizi (ρ = 0,444; r = 0,068). Sebaliknya, terdapat korelasi signifikan namun negatif antara pengetahuan manajemen gizi dan pola makan (ρ = 0,000; r = –0,309). Temuan ini menunjukkan bahwa pengetahuan manajemen gizi belum sepenuhnya tercermin dalam status gizi maupun pola makan mahasiswa, serta faktor lain di luar pengetahuan kemungkinan berperan lebih dominan dalam membentuk kedua kondisi tersebut.
The Use of Corn Cob and Leaf Waste (Zea mays L.) as Herbal Support for Malaria Prevention: A Social–Humanities Approach Based on Laboratory Evidence Wiwit Zuriati Uno; Dian Pratiwi Iman; Rifka Anggraini Anggai; Mahdalena Sy Pakaya; Sri Manovita Pateda
Qoumun: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 1 No 2 (2025): Qoumun: Journal of Social and Humanities
Publisher : Cv. Kayaswara, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65097/qoumun.v1i2.71

Abstract

Corn cobs and corn leaves (Zea mays L.) are abundant agricultural wastes with potential bioactive value. This study aimed to evaluate the extraction efficiency, phytochemical profile, and antioxidant activity of corn cob and corn leaf extracts obtained using solvents of different polarities, and to assess their relevance as supportive herbal resources for health promotion. Samples were extracted using ethanol, acetone, and n-hexane, followed by phytochemical screening and antioxidant evaluation using the DPPH method. The results demonstrated that ethanol extracts produced the highest yields and exhibited very strong antioxidant activity, indicated by low IC₅₀ values. These findings suggest that polar phytochemicals, particularly phenolic and flavonoid compounds, are the main contributors to the antioxidant potential of corn waste materials. Overall, this study provides scientific evidence supporting the valorization of corn agricultural waste as a sustainable source of antioxidant-rich herbal materials with potential relevance for oxidative stress management.
Edukasi Periksa Urine Sendiri (PURI) sebagai upaya Pencegahan Dehidrasi pada Lansia di Desa Leboto Kecamatan Kwandang Yuniarty Antu; Dian Pratiwi Iman; Astri Anita
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bangsa Vol. 4 No. 6 (2026): Agustus
Publisher : Amirul Bangun Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59837/jpmba.v4i6.4806

Abstract

Air merupakan nutrisi terpenting dalam tubuh untuk menjaga homeostasis dan berbagai fungsi fisiologis lainnya. Akan tetapi, seiring bertambahnya usia, total body water dalam tubuh berkurang sehingga menurunkan fungsi berbagai sistem tubuh. Pada usia 70 tahun terjadi penurunan sekitar 40% total body water, disertai penurunan respons haus dan fungsi vasopresin yang menyebabkan lansia lebih rentan mengalami dehidrasi. Dampak dehidrasi dapat menyebabkan gangguan konsentrasi, daya ingat, dan menurunkan produktivitas. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman mengenai pentingnya mencukupi kebutuhan cairan tubuh. Urine Colour Chart merupakan salah satu metode untuk menilai status hidrasi dengan mengamati warna urine. PURI (Periksa Urine Sendiri) merupakan metode yang relatif murah dan mudah dilakukan. Metode yang digunakan adalah ceramah, diskusi interaktif, serta intervensi dengan pre-test dan post-test. Kegiatan diikuti oleh 30 orang lansia yang didampingi oleh 1 orang perawat. Edukasi kesehatan mengenai penggunaan Urine Colour Chart diharapkan dapat meningkatkan pemahaman lansia dalam mengenali tanda-tanda dehidrasi dan mendorong upaya pencegahan dehidrasi secara mandiri.