Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

The Implementation of Asymmetric Fiscal Decentralization in Developing Non-Traditional Security in Papua Hendy Setiawan; Yendra Erison; Choirunnisa Choirunnisa
Jurnal Borneo Administrator Vol. 21 No. 3 (2025): Desember 2025
Publisher : Pusjar SKPP Lembaga Administrasi Negara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24258/jba.v21i3.1685

Abstract

This article aims to discuss the relevance of implementing asymmetric fiscal decentralization in building non-traditional security in Papua. For over two decades, Papua has had a special autonomy status. Under the legal basis of Law Number 21 of 2001 concerning Special Autonomy for Papua, which was followed in 2002 by the asymmetric fiscal decentralization policy of the Central Government, it provides space for Papua to improve and develop non-traditional forms of security that are more dynamic and welfare-oriented. This study uses a qualitative method with a documentary analysis approach. This study utilizes accurate document data, which is analyzed using existing techniques. The results of the study indicate that the asymmetric fiscal decentralization policy has not been fully implemented in developing non-traditional forms of security (human security). This was identified as an area where numerous human security problems persist, ranging from unfulfilled food needs to a weak social life within society, including poverty and low human development. All of which are markers that such security problems are a nontraditional threat to Papua. Therefore, the state must review the special autonomy policy that can create non-traditional security and is oriented towards the welfare of Papua
ANALISIS SEMIOTIKA STANDAR KECANTIKAN PEREMPUAN DI ERA GENERASI Z MELALUI MEDIA SOSIAL TIKTOK: AKUN TIKTOK JHARNA BHAGWANI, NANDA ARSYINTA Choirunnisa; Hendy Setiawan
JUSTICE: Journal of Social and Political Science Vol 2 No 1 (2023): JUSTICE: Journal of Social and Political Science
Publisher : JUSTICE Journal Of Social and Political Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.1029/justice.v2i1.36

Abstract

Tulisan ini akan mendiskusikan tentang standar kecantikan dengan menggunakan konsep pendekatan semiotika. Standar kecantikan perempuan menjadi objek komoditas yang dipertontonkan secara visual. Pada akhirnya perempuan menjadikan standar kecantikan sebagai bahan pertimbangan terhadap dirinya dengan perempuan lain melalui media sosial TikTok. Representasi akan standar kecantikan di era generasi z di visualisasikan melalui akun Nanda Arsyinta dan Jharman Bhagwani. Pada penelitian ini menggunakan metode analisis semiotika Roland Barthes yaitu mencari makna denotasi, konotasi dan mitos dari masing masing unggahan video. Metode analisisis semiotika dari Rolland Barthes mempelajari tanda (sign) dan mencari makna dalam sebuah objek yang akan diteliti yang bertujuan untuk mengetahui makna yang terkandung di dalamnya. Hasil dari penelitian ini adalah perempuan di generasi z memiliki kebebasan untuk menjadi cantik versi dirinya sendiri dan tidak membandingkan apa yang ada pada dirinya dengan apa yang ada pada perempuan lain. Konsep kecantikan perempuan juga tidak cukup hanya dilihat dari apa yang tampak cantik di luar namun kecantikan diri dari dalam juga menunjang konsep cantik perempuan pada generasi Z.
Strategi Pemasaran Bisnis Fremilt Dalam Menghadapi Persaingan Bisnis Minuman di Kecamatan Limpung Kabupaten Batang Tahun 2023 Reza Setiawan; Sutinnarto; Rizky Rahmanda Irawan; Choirunnisa Choirunnisa
JUSTICE: Journal of Social and Political Science Vol 4 No 1 (2025): JUSTICE: Journal of Social and Political Science
Publisher : JUSTICE Journal Of Social and Political Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51792/e54wbd12

Abstract

Perkembangan bisnis minuman di Indonesia semakin merebak di berbagai kota besar maupun di daerah, itu terlihat berbagai outlet kecil kecil di pinggir jalan bermunculan mejejakan dagangan minuman, seperti Es Teh, Boba, dan minuman yang lainya. Kondisi ini tentu saja memberikan persaingan yang sangat luar biasa terhadap berbagai produk minuman. Persaingan ini tentu saja memberikan dampak terhadap keuntungan yang beragam. Melihat berbagai macam produk minuman viral yang hadir di Kabupaten Batang khususnya Di Kecamatan Limpung serta dari hasil penjualan fremilt tertinggi di cabang kecamatan limpung, maka peneliti tertarik melakukan penelitian dengan topik “strategi pemasaran bisnis fremilt dalam menghadapi persaingan produk minuman di kecamatan limpung kab batang.” Metode deskriptif dipergunakan dalam research ini untuk menguraikan hasil-hasil yang diperoleh melalui proses pengumpulan data berupa dokumentasi, wawancara, dan observasi. Hasil penelitian tersebut yakni produk tidak menggunakan bahan lain untuk menjaga kualitas produk, penentuan harga pusat dan mitra memiliki selisih sedikit yakni 1-2 ribu, tempat yang strategis dipersimpangan jalan yang setiap hari dilalui banyak kendaraan, karyawan diwajibkan menerapkan pelayanan yang ramah kepada pelanggan, proses perizinan dilakukan owner kepada pemilik tempat tersebut dan sudah dari dulu menyewa tiga tempat dan dibayarkan satu sekaligus. Pada awalnya memiliki konsep kios saja dan seiring berjalannya waktu, memanfaatkan lahan yang masih kosong menjadi ala cafe yang menjadi point plus bagi anak muda. Strategi yang belum sesuai atau belum dilakukan adalah promosi lewat iklan berbayar, tidak menerima proposal acara atau event dan tidak mengikuti event-event acara. Kesimpulan terdapat strategi yang belum dilakukan secara maksimal dan memiliki beberapa factor penghambat dan factor pendukung sehingga diperlukannya tindakan agar strategi tersebut dapat berjalan secara optimal.
Peran Literasi Media Dalam Membentuk Etika Dan Komunikasi Digital Generasi Muda Ratna Sari; Choirunnisa Choirunnisa; M. Febiandri Satya Ananda; Ramadhani Utami Dewi
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 5 No 3: Desember (2025)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v5i3.2236

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran literasi media dalam pembentukan etika komunikasi digital generasi muda, mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat baik internal maupun eksternal dalam praktik komunikasi digital yang etis, serta merumuskan rekomendasi strategis pengembangan program literasi media di lembaga pendidikan dan komunitas digital. Penelitian ini menggunakan pendekatan campuran (mixed methods) yang mengkombinasikan metode kuantitatif dan kualitatif. Tahap kuantitatif dilakukan melalui survei terhadap 250 responden berusia 15–22 tahun untuk mengukur tingkat literasi media dan perilaku komunikasi digital, dengan analisis regresi sederhana guna mengetahui pengaruh literasi media terhadap etika komunikasi digital. Selanjutnya, tahap kualitatif dilakukan melalui wawancara mendalam dan focus group discussion (FGD) bersama guru, mahasiswa, serta praktisi literasi digital untuk menggali perspektif kontekstual dan pengalaman empiris, yang dianalisis menggunakan metode tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Berbagai temuan empiris menunjukkan bahwa kelompok usia muda mendominasi pelaku maupun korban pelanggaran etika komunikasi digital, yang mengindikasikan lemahnya literasi media sebagai kemampuan kritis dalam mengakses, memahami, mengevaluasi, dan memproduksi pesan digital secara bertanggung jawab. Kondisi ini menegaskan urgensi penguatan literasi media sebagai instrumen strategis dalam membentuk etika komunikasi digital generasi muda.
Pioneering Youth Movement : Pandawara Group and Kader Hijau Muhammadiyah in Advocating for Ecological Justice in Indonesia Hendy Setiawan; Choironnisa Choironnisa; Ahmad Sholikin; Yendra Erison
Madani: Jurnal Politik dan Sosial Kemasyarakatan Vol. 17 No. 1 (2025): MADANI : Jurnal Politik dan Sosial Kemasyarakatan
Publisher : Universitas Islam Darul Ulum Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The purpose of this article is to analyze the positioning of the pioneer youth movements, namely Pandawara and KHM in Indonesia. The study of youth and ecology is an interesting study because so far the relationship between youth and ecology has not been well connected. However, in recent years it has been seen how the younger generation has begun to migrate towards the issues they raise. As a result of this issue migration activity, there is a tendency to strengthen the younger generation's issues in the field of ecology. This fact triggered the birth of various associations, groups, communities, youth movements or organizations which began to pay attention and concern to the ecological sector. This research uses a qualitative descriptive method. The author collected data using literature study steps. All data and facts are collected from various relevant literature in accordance with the main problem formulation that has been determined previously. The research results show that the birth of KHM and the emergence of the Pandawara Group are signs of the awakening of the younger generation where they have paid attention to ecological problems. The existence of this young generation has a central role in accelerating ecological justice in the future. The trend of the younger generation like KHM and Pandawara in the dynamic arena of the younger generation is a historical milestone that we never imagined that their positioning would be able to mobilize the strength of society to work together to build ecological awareness today.
Gerakan Perilaku Sadar Lingkungan melalui Pengelolaan Sampah Domestik dalam Mendukung Green Village Berkelanjutan Hendy Setiawan; Sufrotun Khasanah; Choirunnisa Choirunnisa
Mestaka: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 5 No. 3 (2026): JUNI 2026
Publisher : Pakis Journal Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58184/mestaka.v5i3.981

Abstract

The waste issue in Batang Regency is still a serious problem that has not been resolved to this day. The problem is that the availability of final waste disposal sites is not comparable to the waste production produced. Therefore, this situation creates an imbalance where the increasing waste production is not accompanied by an adequate expansion of waste disposal areas. Most of the waste in Batang Regency comes from household waste. Therefore, in response to this reality, the most possible thing to do is to carry out household-based awareness control. The community service method used in this paper uses a household waste management education model through the village government. Meanwhile, the village targeted for this community service is Karanganom Village, where coincidentally at the time the community service was being held, a Real Work Lecture was being held. This community service involved components of the community service team starting from a team of lecturers who collaborated with students participating in the Real Work Lecture. The results of the community service show that the Karanganom Village Government agrees that the community must have knowledge of household waste management. Their existence is the first step to controlling waste. Public enthusiasm increased when several places were provided with garbage disposal bin facilities so that they were able to select and sort the garbage that had to be managed and that which had to be thrown in the trash.