Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PENGEMBANGAN KAPASITAS KADER KESEHATAN DALAM UPAYA PENCEGAHAN HIV/AIDS PADA KELOMPOK POTENSIAL PEKERJA MIGRAN Fitri Khoiriyah Parinduri; Karta Sasmita; Nararia Hutama Putra; Puji Hadiyanti; Sri Kuswantono; Asma Syifa Nabihah; Joko Adisaputra; Khusni Mubaroq; Ananda Firly Wiyogi; Adi Susilo
Prosiding Seminar Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2025): PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT - SNPPM2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Tingginya kasus HIV/AIDS di Indramayu, dengan 4.970 kasus HIV dan 581 kasus AIDS pada tahun 2022, menunjukkan urgensi untuk upaya pencegahan dan penanganan yang efektif, terutama pada kelompok rentan seperti pekerja migran. Program pengembangan kapasitas kader kesehatan dirancang untuk meningkatkan peran kader dalam memberikan edukasi, konseling, dan pendampingan kepada pekerja migran. Tujuannya adalah membekali kader dengan keterampilan komunikasi, pemahaman kebijakan kesehatan, dan metode pencegahan HIV/AIDS, serta mendorong perubahan perilaku sehat pada kelompok sasaran. Metode yang digunakan mencakup pelatihan teknis, komunikasi interpersonal, dan praktik pembuatan media edukasi digital .Hasil pengabdian menunjukkan bahwa sebanyak 65% kader mengalami peningkatan pengetahuan melalui pre-test dan post test. Program ini membuktikan bahwa pemberdayaan kader berbasis komunitas adalah strategi efektif untuk mendukung pencapaian SDGs ke-3 yaitu Kesehatan dan Kesejahteraan. Abstract The high prevalence of HIV/AIDS in Indramayu with 4,970 HIV cases and 581 AIDS cases reported in 2022 underscores the urgent need for effective prevention and intervention strategies, particularly among vulnerable populations such as migrant workers. This community empowerment program was designed to enhance the capacity of community health cadres in delivering education, counseling, and support services to potential and current migrant workers. The program aimed to equip cadres with essential communication skills, knowledge of health policies, and evidence-based HIV/AIDS prevention methods, while also promoting healthy behavioral change among target groups. Implementation methods included technical training, interpersonal communication workshops, and hands-on practice in developing digital educational media. The community service results showed that 65% of the health cadres demonstrated improved knowledge, as measured through pre-test and post-test assessments. This initiative demonstrated that community-based cadre empowerment is an effective strategy to support the achievement of Sustainable Development Goal 3 (Good Health and Well-being).
IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN HOLISTIK DAN PENINGKATAN KOMPETENSI TUTOR PENDIDIKAN KESETARAAN UNTUK MEWUJUDKAN PEMBELAJARAN YANG INKLUSIF, BERMANFAAT, DAN BERKARAKTER Karta Sasmita; Daddy Darmawan; Adi Irvansyah; Puji Hadiyanti; Nararia Hutama Putra; Setiawan Wibowo; Retno Dwi Lestari; Fitri Khoiriyah Parinduri; Asma Syifa Nabihah; Fera Kuraysia; Sylvia Octaviani Tambunan
Prosiding Seminar Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2025): PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT - SNPPM2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan Kesetaraan memainkan peran penting dalam memberikan akses pendidikan bagi masyarakat yang tidak dapat mengikuti pendidikan formal. Kualitas tutor menjadi faktor kunci dalam keberhasilan program ini. Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk mengembangkan kemampuan tutor dalam mengimplenetasikan Model Pembelajaran Holistik yang mengintegrasikan aspek akademik, sosial-emosional, nilai-nilai karakter, dan keterampilan kehidupan nyata untuk meningkatkan kompetensi tutor di PKBM Jingga Kota Bekasi. Metode yang digunakan mencakup pelatihan intensif kepada tutor, pengenalan media pembelajaran interaktif, dan evaluasi berkala. Hasil pengabdian menunjukkan peningkatan kompetensi tutor sebesar 40%, serta motivasi belajar peserta didik yang meningkat 30%. Pembelajaran yang inklusif dan bermakna berhasil meningkatkan kualitas pendidikan di PKBM Jingga, dengan produk yang dihasilkan berupa buku panduan, modul pelatihan, dan platform e-learning yang dapat digunakan secara berkelanjutan. Kesimpulannya, penerapan model ini dapat meningkatkan kualitas pembelajaran yang inklusif, bermanfaat, dan berkarakter di Pendidikan Kesetaraan. Abstract Equivalency Education plays a pivotal role in expanding access to learning for individuals unable to participate in formal schooling. Tutor quality is a key determinant of program success. This community service program aimed to strengthen tutors’ capacity to implement a Holistic Learning Model that integrates academic content, socio-emotional development, character values, and real-life skills, thereby improving tutor competence at PKBM Jingga, Bekasi City. The methods included intensive tutor training, the introduction of interactive learning media, and regular evaluations. The program yielded a 40% increase in tutor competence and a 30% rise in learner motivation. Inclusive and meaningful learning improved the overall quality of education at PKBM Jingga, with tangible outputs including a guidebook, training modules, and a sustainable e-learning platform. In conclusion, implementing this model can enhance inclusive, impactful, and character-building learning in Equivalency Education.
Melek Huruf Saja Tidak Cukup: Kebutuhan Literasi Warga Dewasa di Permukiman Padat Jakarta Timur Fera Kuraysia; Henny Herawaty Br Dalimunthe; Adi Irvansyah; Asma Syifa Nabihah; Fitri Khoiriyah Parinduri; Setiawan Wibowo
Pragmatik : Jurnal Rumpun Ilmu Bahasa dan Pendidikan  Vol. 4 No. 4 (2026): Oktober: Pragmatik : Jurnal Rumpun Ilmu Bahasa dan Pendidikan
Publisher : Asosiasi Periset Bahasa Sastra Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61132/pragmatik.v4i4.3029

Abstract

In large cities, almost every adult can read, yet this does not guarantee that they can manage money, look after their health, or avoid online fraud. This study maps which literacies adults in a dense urban settlement actually need, who needs them most, and what keeps them from learning. A survey was conducted with 151 residents aged 18–55 in five neighbourhood units (RW) of Pulo Gebang, East Jakarta, using a Likert-scale questionnaire and open-ended questions. Data were analysed descriptively and with non-parametric tests. Only a quarter of respondents (25.2%) felt they needed to learn reading, writing, and numeracy. Most, by contrast, needed more contextual literacies: financial and entrepreneurial literacy (M = 3.97), health literacy (M = 3.97), confident oral communication (M = 3.93), and digital literacy for safe transactions and fraud awareness (M = 3.75). The gap between basic and functional literacy needs was large (p < .001; r = .80). These needs were unevenly distributed. Residents with household incomes below IDR 2 million reported lower needs for health and digital literacy, while those with primary or lower-secondary education and those over 40 felt less need to learn communication skills. The main barriers were cost, time, and low self-confidence, not a lack of mobile phones. The findings call on urban community education programmes to move from eradicating illiteracy towards literacies that address residents’ everyday problems, delivered close to home and accompanied by efforts to build learning awareness among the most vulnerable groups.
Penguatan Kapasitas Guru Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat dalam Mengelola Perilaku Maladaptif Anak Berkebutuhan Khusus Lintang Al-mar&#039;atus Sholihah; Siti Nuraini Purnamawati; Wahyu Hardiani; Asma Syifa Nabihah
Bima Abdi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 4 (2026): Bima Abdi: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Yayasan Pendidikan Bima Berilmu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53299/ba-jpm.v6i4.5478

Abstract

Penanganan perilaku maladaptif pada Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) di pendidikan non-formal sering kali bersifat reaktif dan intuitif akibat ketiadaan asesmen perilaku yang sistematis. Kondisi ini tidak hanya menghambat efektivitas pembelajaran inklusif di dalam kelas, melainkan juga secara signifikan memicu terjadinya kelelahan emosional (burnout) pada para guru di lapangan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan kapasitas pedagogik sepuluh orang guru mitra dalam mengelola perilaku maladaptif melalui penerapan Functional Behavior Assessment (FBA) berbasis model Antecedent-Behavior-Consequence (ABC). Metode yang diterapkan menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR) dengan model Training of Trainers (ToT) yang diintegrasikan dengan Experiential Learning. Tahap pelatihan meliputi berbagi pengalaman mengajar, refleksi kritis, pembentukan konsep dan simulasi bedah kasus, yang dievaluasi secara komprehensif melalui instrumen tes pengetahuan tertulis terstruktur dan observasi partisipatif. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan signifikan pemahaman konseptual guru sebesar 22%, dengan rata-rata pre-test 71 meningkat menjadi 93 pada post-test. Secara kualitaif, 100% peserta berhasil mengintegrasikan kerangka ABC dan bertransformasi dari intervensi reaktif menjadi proaktif berbasis asesmen. Implikasi strategis dari kegiatan ini adalah terciptanya budaya asesmen perilaku yang sistematis di lembaga pendidikan non-formal, penurunan tingkat stres guru, serta efisiensi alokasi waktu pembelajaran. Kondisi ini pada akhirnya akan mendukung optimalisasi kemandirian fungsional ABK dan turut mewujudkan ekosistem pendidikan inklusif yang lbih suportif dan berkelanjutan.