Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

Ketentuan Bagian Waris Perempuan pada Kelompok Adat Cireundeu Kota Cimahi Neng Eri Sofiana; Uswatul Khasanah
QAWWAM Vol. 16 No. 2 (2022): Desember
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/qawwam.v16i2.5971

Abstract

Hukum kewarisan Indonesia adalah hal yang selalu menarik diperbincangkan. Terlebih tentang bagian laki-laki dan perempuan yang dalam alquran surat An-Nisa ayat 11 yang menegaskan bahwa bagian laki-laki adalah dua kali lipat bagian perempuan. Ketentuan ini bersinergi dengan banyak hukum adat yang terdapat di Nusantara yang memiliki banyak suku dan budaya. Begitu juga pada kelompok adat yang terdapat di Kampung Adat Cireundeu Kota Cimahi Jawa Barat sebagai salah satu masyarakat adat yang masih melestarikan budaya dan adat istiadatnya, begitu juga dalam hal kewarisan. Tulisan ini ingin melihat bagaimana bagian waris perempuan pada kelompok adat ini. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan melakukan penelitian di lapangan, sehingga data didapatkan dari wawancara, observasi, dan dokumentasi, serta menggunakan metode analisis deksriptif. Hasilnya, bagian waris perempuan pada kelompok adat Cireundeu adalah sama seperti bagian laki-laki, tanpa adanya penghalang dengan mengedepankan keadilan dan kesepatakan semua pihak
URGENSITAS PENYELESAIAN SENGKETA STATUS ANAK: KAJIAN PERKARA No. 49/Pdt.P/2020/PA.Pnj Neng Eri Sofiana
Al-IHKAM: Jurnal Hukum Keluarga Jurusan Ahwal al-Syakhshiyyah Fakultas Syariah IAIN Mataram Vol. 14 No. 1 (2022): Juni
Publisher : Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/alihkam.v14i1.4751

Abstract

The status of the child is an important matter that must be resolved. In Case No. 49/Pdt.P/2020/PA.Pnj is a case of the origin of the fallen child. This paper will look at how the case can be dropped and how it affects the child whose origin is proposed. This paper will be carried out using library research methods and descriptive analysis as the analytical model used. As a result, this case was dropped due to the absence of the parties after being properly summoned for two summons. This certainly has an impact on the unclear status of the child, so that the child becomes a victim who bears the impact of the case that falls. There are many submissions for dispute resolution on the status of children because one of them is the number of sirri marriages.
Pesantren Education in Indonesia: Efforts to Create Child-Friendly Pesantren Evi Muafiah; Neng Eri Sofiana; Uswatul Khasanah
Ulumuna Vol 26 No 2 (2022): December
Publisher : Universitas Islam Negeri Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/ujis.v26i2.558

Abstract

Pondok pesantren (Islamic boarding school) has improved in many aspects, including the quality in Indonesia. However, since 2020, sexual and physical abuses have occurred in pesantren that attract public attention. This phenomenon indirectly made many parties question the existence of pesantren. Based on the government directives, pesantren was supposed to be a safe and comfortable environment for learners. This paper presents the efforts of four pesantren in Indonesia to become child-friendly places. Findings based on the qualitative study reported in this paper show that child-friendly pesantren program has been initiated and developed by main figures, such as Kyai/nyai (pesantren leader), ustadz/ustadzah (teachers), and students (santri). Each pesantren has almost the same exertions, namely optimizing three main areas; subjects, management, and infrastructure, but the characteristics of the pesantren still impact the detail stages employed. For instance, Salaf pesantren still strive traditionally, while modern and semi-modern pesantren have begun to adapt to technological advances and current needs.
Islamisasi Konsep Etika Politik Niccolo Machiavelli: Islamization of Niccolo Machiavelli's Concept of Political Ethics Abdul Wahid; Anisa Aliya; Neng Eri Sofiana; Fatimatuz Zahra
Tasfiyah: Jurnal Pemikiran Islam Vol. 7 No. 1 (2023)
Publisher : University of Darussalam Gontor, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/tasfiyah.v7i1.7853

Abstract

Politics is known as an activity that is synonymous with negative and 'evil' things, as well as in The Prince, Niccolo Machiavelli describes politics with the impression of putting aside morals, even to conquer a territory or advance to become a leader, it can be through cunning ways, vile, and evil. This paper will discuss the Islamization of Niccolo Machiavelli's political ethics by using the concept of Islamization promoted by Syed Naquib al-Attas, and the concept of political in Islam. It is carried out by library research which in collecting data relies on data from the literature. As for the result, in Islamic political ethics, religious values must color the behavior of power holders. Al-Qur'an as a source of ethical values, if applied in power will produce a government with high moral values, so as to be able to realize happiness and justice equally for the community.
Kesetaraan Gender Dalam Pembaruan Hukum Keluarga Di Syria dan Indonesia Neng Eri Sofiana
Musãwa Jurnal Studi Gender dan Islam Vol. 20 No. 1 (2021)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & The Asia Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/musawa.2021.201.83-95

Abstract

Syria dan Indonesia adalah negara yang memiliki hubungan diplomatik yang baik. Syria melakukan reformasi dan kodifikasi hukum keluarga lebih awal dibandingkan dengan Indonesia. Bahkan, Syria termasuk salah satu negara yang paling awal melakukan kodifikasi. Tulisan ini akan melihat bagaimana pembaruan hukum keluarga yang terdapat di negara Syiria dan Indonesia, kemudian melihatnya dari sisi fikih klasik dan sensitifitas gender. Hal ini dilakukan sebab regulasi pemerintah dapat menjadi salah satu sumber diskriminasi perempuan, sedangkan pembaruan hukum keluarga menjadi salah satu upaya untuk mengakomodir hak-hak perempuan, sehingga dapat mengangkat harkat, martabat, dan status perempuan. Adapun metode yang dilakukan dalam penulisan ini adalah dengan penelitian pustaka yang bertumpu kepada subjek primer berupa kodifikasi hukum keluarga kedua negara, buku dan jurnal terkait. Hasilnya, ternyata, Syiria yang lebih bercorak kepada madzhab Hanafi lebih memiliki sentifitas gender atau pemenuhan hak-hak perempuan dalam ketentuan regulasi hukum keluarganya dibandingkan Indonesia yang lebih cenderung kepada madzhab Syafi’i. Adapun jika dilihat dari karakteristik tujuan, metode dan alasan sosiologis terkait ketentuan yang dipilih di negara tersebut dalam pembentukan dan pemberlakuan pembaruan hukum keluarga Islam, maka negara Syria dapat dikategorikan sebagai negara yang memiliki pembaruan hukum keluarga yang bersifat responsif, unifikasi madzhab dan intradoktrinal reform, sedangkan negara Indonesia memiliki pembaruan hukum keluarga yang bersifat adaptif, unifikasi madzhab dan intradoktrinal reform.   [Syria and Indonesia are countries that have good diplomatic relations. Syria carried out the reform and codification of family law earlier than Indonesia. In fact, Syria was one of the earliest countries to codify. This paper will look at how family law reforms exist in Syria and Indonesia, then look at it from the side of classical fiqh and gender sensitivity. This is done because government regulations can be a source of discrimination against women, while family law reform is an effort to accommodate women's rights, so that they can elevate the dignity and status of women. The method used in this writing is library research which relies on primary subjects in the form of Islamic constitution law both Syia and Indonesia, books and related journals. The result, it turns out, is that Syria, which is more oriented to the Hanafi thought, has more gender sensitivity or the fulfillment of women's rights in the provisions of family law regulations than Indonesia, which is more inclined to the Syafi'i thought. Meanwhile, if viewed from the characteristics of the objectives, methods and sociological reasons related to the provisions chosen in the country in the formation and implementation of Islamic family law reform, the Syrian state can be categorized as a country that has responsive family law reform, unification of schools or madhzab and intradoctrinal reform, while Indonesia has an adaptive family law reform, madhzab unification and intradoctrinal reform.]
Nyinglar Sasalad Ceremony as a Local Wisdom of Cireundeu Indigenous Group in Dealing with Covid-19 Neng Eri Sofiana; Muhammad Ismail Sunni; Angga Kusuma Wijaya
Heritage of Nusantara: International Journal of Religious Literature and Heritage Vol. 11 No. 2 (2022): HERITAGE OF NUSANTARA
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (619.211 KB) | DOI: 10.31291/hn.v11i2.640

Abstract

Cireundeu village, a traditional village in South Cimahi West Java Indonesia has its own unique way of coping with Covid-19 pandemic. Despite being a traditional village, the residents of Cirendeu are in high mobility as workers in the nearby city, hence the exposure to Covid-19 was quite present. This article explores how the Cireundeu indigenous group dealt with the Covid-19 pandemic. This study employed a qualitative approach, particularly descriptive method. The data was conducted mainly by interviews with community figures. ”˜Governing the common’ by Ostrom (2000) was used as a theoretical lens in analysing the data. This study found that the traditional group in Cireundeu were able to manage their local resources (from the nearby forests) for the benefit of their community members. They performed Nyinglar Sasalad ceremony as a symbol of communal attitude towards the plague, complemented with herb and Rasi (cassava-made rice) consumption to strengthen the immune defence. This study is expected to be a reference for a mitigative action in dealing with pandemic through the use of local tradition and ways of living.
Bina Ketahanan Keluarga Ojek Online Di Kabupaten Ponorogo Pada Masa Pandemi Covid-19 Ulin Nadya Rif'atur Rohmah; Evi Muafiah; Neng Eri Sofiana; Bagus Fajar Adryanto
Musãwa Jurnal Studi Gender dan Islam Vol. 21 No. 1 (2022)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & The Asia Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/musawa.2022.211.95-107

Abstract

Dampak Covid 19 bagi ojek online sebagai salah satu pekerja informal yang terkena dampak penurunan ekonomi akibat Covid-19 yang selanjutnya berpengaruh juga pada ekonomi keluarga. Krisis ekonomi yang dirasakan tidak hanya berpengaruh secara fisik saja, namun juga secara sosial dan psikologis. Penelitian ini bertujuan menjawab bagaimana pengupayaan ketahanan keluarga terhadap berbagai problematika kehidupan keluarga ojek online di Kabupaten Ponorogo pada masa pandemi Covid-19. Jenis penelitian ini bersifat kualitatif atau penelitian lapangan dengan data yang didapatkan dari wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teori yang digunakan adalah teori ketahanan keluarga dengan metode analisa deskriptif. Penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa seluruh keluarga telah menunjukkan adaptasi yang positif terhadap berbagai problematika yang sedang dihadapi. Adapun strategi koping yang dilakukan melalui penerapan komunikasi yang efektif dan komitmen yang tinggi serta diimbangi pula oleh spiritualitas keluarga. [The impact of Covid 19 for online motorcycle taxis as one of the informal workers affected by the economic decline due to Covid-19 which in turn also affects the family economy. The perceived economic crisis does not only affect physically, but also socially and psychologically. This study aims to answer how to strive for family resilience against various problems of online motorcycle taxi family life in Ponorogo Regency during the Covid-19 pandemic. This type of research is qualitative or field research with the data conducted by interview, observation, and documentaion. The theory used is the theory of family resilience and the analysis method is analysis description. This research concludes that the whole family has shown positive adaptation to the various problems they are facing. The coping strategies are carried out through the application of effective communication and high commitment and are also balanced by family spirituality.]
Kawin Hamil dalam Pernikahan Lotre Neng Eri Sofiana
Muslim Heritage Vol 5, No 1 (2020): Muslim Heritage
Publisher : IAIN Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.472 KB) | DOI: 10.21154/muslimheritage.v5i1.2072

Abstract

Permasalahan pelik dalam kehamilan pra nikah adalah enggannya pihak laki-laki bertanggungjawab atas perbuatannya, hal ini berlaku jika sama-sama mengetahui pihak laki-laki tersebut, namun lain halnya jika pihak perempuan melakukan hubungan seksual dengan banyak lelaki. Hal semacam ini banyak terjadi di Kecamatan Parang Kabupaten Magetan, tetapi wilayah ini mempunyai jalan keluar tersendiri. Pernikahan lotre sebagai sebuah jenis penentuan calon suami di masyarakat Kecamatan Parang Kabupaten Magetan bagi wanita yang hamil di luar pernikahan yang sah dan melakukan hubungan seksual pra nikah tanpa ada laki-laki yang ingin bertanggung jawab dengan cara melotre calon suami. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, pernikahan lotre ini boleh dilakukan, walau pada dasarnya terdapat perbedaan pendapat para fuqaha terkait kebolehan wanita hamil untuk menikah. Adapun status anak hasil hubungan pra nikah dalam pernikahan lotre ini hanya mendapatkan nasab pada ibunya saja, sehingga jika ia perempuan dan hendak menikah hanya mendapat perwalian dari wali hakim saja.
Gender-Responsive Construction in Nikah-Kawin Traditions in West Java: A Qiwamah Perspective Sofiana, Neng Eri; Huda, Miftahul; Ismah, Nor; Purnomo, Agus; Aminuddin, Luthfi Hadi
El-Mashlahah Vol 14 No 1 (2024)
Publisher : Sharia Faculty of State Islamic Institute (IAIN) Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23971/el-mashlahah.v14i1.7691

Abstract

Nikah-Kawin, a deeply rooted traditional marriage in West Java, has been passed down through generations in indigenous communities. This marriage differs from conventional marriage practices in several ways. In particular, women are given greater rights of choice, with some even taking on the responsibility of reciting the marriage vows. The article aimed to explore the gender-responsive construction in the nikah-kawin tradition of West Java communities through the concept of qiwamah. Using empirical legal research methods, this study utilizes primary data obtained from interviews, observations, and documentation. The findings reveal a gender-responsive construction shaped by the principles of qiwamah embedded in the nikah-kawin tradition of West Java communities. Interestingly, this constructed gender dynamic contributes to the formation of an egalitarian household environment. The presence of traditional guidelines upheld by these communities underscores their commitment to respecting and valuing women within the societal framework. This exploration highlighted how the uniqueness of nikah-kawin not only endures but also fosters a balanced and egalitarian approach to household life.
Relasi Ijtihad NU, Muhammadiyah, dan MUI Sofiana, Neng Eri
Al-Syakhsiyyah: Journal of Law & Family Studies Vol. 4 No. 2 (2022)
Publisher : Fakultas Syariah IAIN Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/syakhsiyyah.v4i2.4759

Abstract

NU, Muhammadiyah, dan MUI memiliki lembaga fatwa tersendiri yang dinantikan fatwanya oleh masing-masing pihak. Tulisan ini melihat bagaimana metode ijtihad yang dipakai oleh ketiga lembaga fatwa ini dan bagaimana relasi yang hadir dari ketiganya. Dilakukan dengan metode studi pustaka yang datanya didapatkan dari buku, jurnal, dan kajian literatur lainnya. Metode ijtihad yang dipakai NU dan Muhammadaiyah serta MUI secara umum sama, namun berbeda pada sumber utama yang dijadikan pedoman, di mana NU lebih menekankan kepada kitab-kitab mu’tabaroh kemudian melakukan analogi yang diberi istilah ilhaq dan jika masih belum didapatkan jawaban atas persoalan, maka akan melakukan istinbat} sesuai jalan pikiran ulama terdahulu. Sedangkan Muhammadiyah atau Majelis Tarjih yang memiliki corak kembali kepada alquran sebagai sumber hukum utama, sehingga melihat permasalahan kepada alquran terlebih dahulu, kemudian melakukan analogi yang diberi istilah ta’lili atau qiyasi dan tahap akhir ialah dengan pendekatan kemaslahatan. Adapun Lembaga Fatwa MUI dapat dikatakan mengkombinasi kedua metode NU dan Muhammadiyah, dengan langkah pertama melihat kepada alquran dan hadits, kemudian melihat pendapat ulama mazdhab dan fikih dan terakhir dengan menggunakan kaidah pokok. Relasi diantara ketiganya menjadi gambaran dinamika kehidupan, berhukum, dan bermasyarakat di Indonesia yang menggambarkan persatuan dan keharmonisan.