Putu Lanny Kristina Putri
Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja, Indonesia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pelatihan Model Conflict Social Learning Berbasis Social Imagination dan Regulasi Emosi untuk Meningkatkan Keterampilan Mengajar dan Mereduksi Kasus Bunuh Diri Ida Bagus Putra Manik Aryana; I Wayan Sujana; I Gede Wahyu Suwela Antara; Putu Lanny Kristina Putri
JURNAL WIDYA LAKSANA Vol 14 No 2 (2025): Agustus
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jwl.v14i2.103572

Abstract

Permasalahan yang dihadapi guru sekolah dasar adalah rendahnya keterampilan dalam mengelola konflik sosial-emosional siswa dan kurangnya pemahaman tentang regulasi emosi. Kondisi ini berdampak pada rendahnya resiliensi sosial siswa yang seharusnya menjadi fondasi penting dalam proses pembelajaran. Pengabdian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas penerapan model Conflict Social Learning berbasis social imagination dan regulasi emosi dalam meningkatkan keterampilan guru serta resiliensi sosial siswa. Kegiatan ini menggunakan desain pengabdian berbasis pelatihan dan pendampingan berkelanjutan. Subjek uji coba dalam pengabdian ini adalah guru SMP dengan jumlah total 75 orang. Metode pengumpulan data dilakukan melalui observasi, pre-test, post-test, jurnal reflektif, dan survei kepuasan dengan instrumen berupa lembar observasi, angket, serta rubrik penilaian keterampilan guru. Analisis data menggunakan teknik deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Hasil Pengabdian menunjukkan peningkatan signifikan pada pemahaman dan keterampilan guru, dengan rata-rata peningkatan pengetahuan mencapai 80% setelah pelatihan. Hal ini membuktikan bahwa penerapan Conflict Social Learning berbasis regulasi emosi dan media digital sederhana efektif dalam mencapai tujuan Pengabdian. Simpulan Pengabdian menegaskan bahwa strategi pembelajaran ini mampu menjawab permasalahan rendahnya keterampilan guru dalam manajemen konflik sekaligus meningkatkan resiliensi sosial siswa. Implikasi Pengabdian ini menunjukkan bahwa penguatan kapasitas guru berbasis pendekatan sosial-emosional dan teknologi sederhana dapat menjadi solusi inovatif untuk menciptakan iklim kelas yang sehat dan kondusif.
Menumbuhkan Curiosity dan Lifelong Learning dalam Ekosistem Pendidikan Adaptif untuk Meningkatkan Literasi Kritis dan Ketahanan Masyarakat pada Disrupsi Digital Made Dharma Susena Suyasa; Kadek Yogi Parta Lesmana; Alexander Hamonangan Simamora; Putu Lanny Kristina Putri
JURNAL WIDYA LAKSANA Vol 14 No 2 (2025): Agustus
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jwl.v14i2.104332

Abstract

Kegiatan pengabdian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya literasi digital yang merupakan wilayah pinggiran dengan keterbatasan sarana teknologi, rendahnya kesiapan sosial masyarakat, serta minimnya kompetensi guru dalam mengintegrasikan teknologi ke dalam pembelajaran. Kondisi tersebut menyebabkan ketimpangan digital yang berdampak pada kualitas pembelajaran dan kemampuan berpikir kritis siswa. Tujuan utama pengabdian ini adalah meningkatkan literasi digital guru, siswa, dan orang tua melalui pelatihan terpadu, penerapan modul ajar digital, serta pembentukan forum komunikasi berbasis teknologi. Kegiatan ini menggunakan desain pengabdian berbasis pelatihan dan pendampingan berkelanjutan. Subjek yang terlibat terdiri atas guru, siswa, dan orang tua. Pengumpulan data dilakukan melalui pre-test dan post-test, observasi, wawancara, dan dokumentasi, dengan instrumen berupa tes literasi digital dan lembar observasi. Analisis data yang digunakan adalah kuantitatif dan kualitatif. Hasil utama kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan pada literasi digital siswa dengan 80% peserta mengalami kenaikan skor. Sebanyak 85% guru berhasil meningkatkan kompetensi dalam merancang dan menerapkan modul ajar digital berbasis literasi kritis. Orang tua menunjukkan keterlibatan yang lebih aktif melalui forum komunikasi digital yang dibentuk. Simpulan pengabdian ini menegaskan bahwa pendekatan kolaboratif berbasis pelatihan dan pendampingan efektif memperkuat ekosistem literasi digital. Implikasinya, model pengabdian ini dapat direplikasi pada wilayah lain dengan karakteristik serupa untuk mengurangi ketimpangan digital.
Examining the Effectiveness of the Scientific Approach in Indonesian Language Learning to Enhance Elementary Students’ Literacy and Higher-Order Thinking Skills Ni Kadek Septiari; Ni Komang Ari Rahayu; Ni Nyoman Sulandhari Dewi; Putu Lanny Kristina Putri; Putu Eka Krisnayani; Made Shinta Wesiana Dewi; Ida Bagus Putrayasa; Ni Ketut Desia Tristiantari
International Journal of Language and Literature Vol. 10 No. 2 (2026): May
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/ijll.v10i2.114917

Abstract

Learning practices remain largely focused on memorization and lower-level comprehension, limiting students' ability to analyze, evaluate, and construct ideas critically. This study aimed to analyze and evaluate the effectiveness of the scientific approach in enhancing elementary school students' literacy skills and HOTS. The study employed a quantitative approach using a quasi-experimental method with a Non-Equivalent Control Group Design. The research participants consisted of two fourth-grade classes in an elementary school, comprising 26 students in the experimental group and 26 students in the control group. Data were collected through literacy tests, HOTS tests, and teacher observation sheets. The research instruments were designed to assess students' abilities to comprehend, interpret, evaluate, and respond to texts, as well as their abilities to analyze, evaluate, and generate ideas based on the learning materials. Data were analyzed using descriptive statistics, normality tests, homogeneity tests, Analysis of Covariance (ANCOVA), and N-Gain analysis. The findings revealed that the scientific approach was more effective than conventional instruction in improving students' literacy skills and HOTS. The experimental group also demonstrated better learning improvement than the control group. The study concludes that the scientific approach effectively promotes the integrated development of literacy skills and higher-order thinking skills through active, critical, and reflective learning processes. The findings imply the importance of implementing the scientific approach as a pedagogical foundation for creating meaningful Indonesian language learning that supports the development of twenty-first-century competencies.